Hana No Kusari

Disclaimer : NARUTO - Masashi Kishimoto

WARNING : OOC, TYPO BERTEBARAN, GAJE NGGAK KARUAN, HANCUR, DLL, DSB.

If You Don't Like This Story, DON'T READ!

...

...

...

"Tunggu!" seruan itu berasal dari seorang gadis cantik yang tampak tererengah-engah setelah sedaritadi berlari. Wajahnya yang memerah tertunduk menghindari tatapan datar dari pemuda di depannya. Koridor yang sepi membuat detak jantungnya bertalu-talu karena gugup yang menyerangnya.

Menatap datar gadis di depannya, pemuda bersurai dark blue tersebut tampak acuh dan lebih memilih kembali melangkahkan kaki jenjangnya guna meninggalkan gadis tersebut. Menyadari bahwa pemuda yang di sukainya pergi, gadis itu mengumpulkan keberaniannya untuk mendeklarasikan keinginannya. "Aku menyukaimu, Senpai! Kumohon jadilah kekasihku!" serunya kembali membuat langkah pemuda dengan model rambut emo tersebut terhenti.

Menoleh sekilas. "Enyah dari hadapanku." ujarnya dingin dan menusuk. Membuat gadis yang baru saja menyatakan perasaannya tersebut terdiam dengan tubuh bergetar takut menahan tangis. Tidak menyangka pernyataan cintanya mendapat penenolakan bahkan pengusiran dingin dan menusuk.

Pemuda tampan tersebut kembali melangkah, tidak peduli akan perasaan gadis di belakangnya seperti apa. Tidak menyadari ada sepasang amethyst yang menatapnya sendu dari balik tembok.

XMXMXMXMXMXMXMXMXMXMXMX

"Ne, Hinata.. Kau pulang dengan siapa hari ini?" tanya gadis bersurai pink lembut pada gadis indigo di depannya yang tampak masih sibuk memasukkan perlengkapan sekolahnya dalam tas.

Keadaan kelas memang sudah sepi sejak bel pulang sekolah berbunyi 15 menit yang lalu. Menyisakan beberapa murid yang masih betah berlama-lama berada di dalam kelas.

"Bukankah aku selalu pulang sendiri, Sakura?" jawab serta tanya gadis bersurai indigo tersebut seraya tersenyum kecil. "Kita sudah berteman hampir 2 minggu, tapi kenapa aku tidak boleh main ke rumahmu?" tanya Sakura dengan wajah masam.

"Iya, Sakura benar! Kenapa?" ujar gadis bercepol dua yang entah muncul darimana serta merta ikut dalam obrolan.

Sudah hampir 3 minggu Hinata bersekolah di St. Konoha Higschool setelah memutuskan kembali ke Jepang setelah 7 tahun lamanya menetap di Amerika. Dan hampir 2 minggu Hinata berteman dengan dua gadis di hadapannya tersebut. Berbeda dengan gadis-gadis lain yang menatapnya acuh dan tidak peduli. Kedua gadis di depannya malah tersenyum hangat kearahnya dan mengajaknya bicara sampai akhirnya kedua gadis tersebut menjadi teman pertamanya di sekolah ini.

"Maaf.. Tapi aku benar-benar tidak bisa.." ujar Hinata pelan. Kepalanya tertunduk dalam. Bukan berarti dirinya tidak benar-benar menganggap kedua gadis di depannya ini teman. Tapi dirinya punya alasan kenapa sampai sekarang penolakan harus selalu ia ucapkan disaat kedua temannya ingin berkunjung ke rumahnya.

"Haaah.. Mau bagaimana lagi, tapi kapan-kapan kau harus mengajak kami ke rumahmu!"

"Ahh, pelankan suara cemprengmu itu, Tenten!" ketus Sakura seraya memegang telinganya yang berdenging mendengar lengkingan suara cempreng Tenten. "Berisik! Suaramu juga cempreng!" sahut Tenten tak kalah ketus. Membuat Hinata tersenyum dalam diam dan berterimakasih karena memiliki teman seperti keduanya.

"Baiklah, kami pulang duluan ya Hinata.." Hinata hanya mengangguk dan tersenyum. Tangannya melambai pada Sakura dan Tenten yang telah melewati pintu kelas.

Sepeninggal Sakura dan Tenten, Hinata berdiri dari duduknya dan mulai melangkah menuju jendela kelas yang berada dilantai 3 tersebut guna menikmati hembusan angin di sore hari. Amethystnya terpejam menikmati belaian angin yang menerpa kulit wajahnya lembut.

Ingatan Hinata kembali ke saat dimana dirinya memutuskan untuk kembali ke negara kelahirannya, Jepang. Ayah dan Ibunya sempat menentang keras keinginannya, begitupun juga Kakaknya yang turut menentang dirinya. Namun tekadnya sudah bulat untuk kembali ke Jepang karena janjinya pada seseorang di masa lalunya. Bermodal keberanian yang dirinya kumpulkan, ia meyakinkan kedua orang tuanya juga Kakaknya bahwa ia akan baik-baik saja dan akan menjaga dirinya sebaik mungkin. Memang mustahil membuat Ayahnya memberi ijin untuk dirinya kembali menetap di Jepang, namun entah dapat keajaiban darimana, sang Ayah tiba-tiba menyetujui keinginannya.

Yang malah membuatnya mendapatkan kenyataan pahit disaat Hatinya belum ia persiapkan menerima kenyataan tersebut.

Amethyst indahnya terbuka perlahan. Memandang langit sore yang tampak indah sejauh mata memandang. Mulai beranjak dari posisinya, kaki mungilnya melangkah mendekati mejanya dan mengambil tas miliknya. Langkahnya yang pelan membawa dirinya melewati pintu kelasnya.

Langkahnya amat pelan melewati koridor-koridor yang berada di lantai tiga sampai seseorang melewatinya begitu saja seakan dirinya tidak ada.

-DEG-

Lagi, perasaan sesak itu muncul dalam hati Hinata. Menggigit bibir bawahnya keras, amethystnya menatap sendu punggung tegap seseorang yang baru saja melewatinya sampai sosok tersebut menghilang di belokan koridor.

Kembali melangkahkan kakinya. Keinginan Hinata sekarang hanya satu, yaitu sampai ketempat itu. Tempat dimana dirinya bisa menenangkan diri juga hatinya yang bergemuruh sesak.

XMXMXMXMXMXMXMXMXMXMXMX

"Kenapa masih belum pulang ya.." gumam seorang wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah menginjak kepala empat, tampak gelisah memikirkan sesuatu. Tangannya telaten menata perlengkapan makan di meja makan, namun tak bisa di pungkiri kalau pikirannya melayang tak tentu arah.

"Apa perlu aku jemput?" sahut pemuda tampan dengan surai raven panjangnya yg diikat rapi seraya bangkit dari kursi yang di dudukinya, bersiap meninggalkan meja makan.

"Kalau begitu tolong je-" belum selesai wanita cantik tersebut berucap. Perkataannya terpotong oleh suara datar dari arah tangga. "Dia bukan anak kecil yang perlu diantar jemput." sahut suara tersebut datar dan acuh. Merasa tidak peduli pada sosok yang di khawatirkan Kakak dan Ibunya.

Merasa perkataan sang adik sedikit kasar. Pemuda tampan dengan surai panjangnya yang di ikat rapi tersebut menatap sang adik yang berdiri di bawah tangga datar, tak lupa dirinya juga memperingati."Jaga bicaramu." ucapnya datar. Namun kelihatannya tidak berpengaruh pada pemuda bersurai dark blue dengan model emo tersebut yang tampak acuh dan lebih memilih melangkah mendekati meja makan. "Hn." sahutnya tidak peduli seraya mendudukkan dirinya di kursi samping kakaknya berada.

"Tadaima.." suara lembut tersebut membuat wanita yang sedaritadi hanya diam melihat ajang adu tatapan datar kedua putranya tersebut segera menolehkan kepala ke asal suara.

"Hinata-chan! Kenapa baru pulang?" ujar wanita cantik tersebut seraya berjalan kearah gadis indigo yang berada diambang pintu. Gadis indigo yang ternyata Hinata tersenyum kecil seraya minta maaf. "Gomen ne, Mikoto-ba-san.. Tadi-"

Ucapan Hinata mengantung karena lidahnya tiba-tiba terasa kelu untuk berucap. "- ada tugas tambahan dari Kaichou.." lanjutnya dengan senyum yang dipaksakan bertengger di bibir mungilnya. Mendengar jawaban Hinata membuat wanita bernama Mikoto tersebut mengangguk mengerti lantas menepuk kepala Hinata pelan. "Mandilah dulu, lalu segera turun untuk makan malam ne, Hinata-chan?" ucap Mikoto seraya tersenyum simpul.

Hinata hanya menurut lantas segera menaiki tangga yang akan membawanya ke lantai dua, dimana kamarnya berada. "Hinata-chan terlihat pucat.." gumaman tersebut berasal dari celah bibir Mikoto sepeninggal Hinata. Dua pemuda dengan ekspresi datar yang berada diruang makan dapat mendengarnya dengan jelas meski gumaman itu sangat kecil.

-SREEEK-

Bunyi kursi yang di geser membuat dua kepala berbeda warna rambut menoleh secara bersamaan menatap sang empunya kursi yang tampak akan beranjak meninggalkan meja makan. "Mau kemana?" tanya pemuda besurai raven pada pemuda emo yang sudah melangkahkan kakinya. "Bukan urusanmu." jawabnya datar.

"Semakin hari sikapnya semakin dingin.. Kaa-san jadi khawatir.." ungkapan itu terdengar sendu di telinga pemuda raven yang menatap kepergian adiknya datar. "Semua hal dapat berubah, Kaa-san, Semua.." sahutnya ringan mencoba menenangkan sang Ibu. Meski dirinya tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Aku akan memanggil Tou-san." ungkapnya mengalihkan perhatian sang Ibu seraya berdiri meninggalkan meja makan.

XMXMXMXMXMXMXMXMXMXMXMX

Hinata baru saja keluar dari kamarnya dengan tampilan yang lebih segar karena sudah mandi. Mengenakan kaos polos berwarna kuning pastel dengan celana jeans pendek sebatas lutut, membuatnya tampak lebih manis dengan rambut panjangnya yang di ikat longgar. Jemarinya sigap memegang kenop pintu kamarnya dan menutupnya sampai sebuah suara datar menghentikan pergerakannya.

"Menikmati jalan-jalan soremu?" ujar suara tersebut datar tanpa intonasi sedikit pun.

Menoleh ke belakang dengan cepat. Amethyst Hinata menangkap sosok pemuda emo kini tengah berdiri menyender di daun pintu kamar berwarna coklat bertuliskan 'TAKA' dibelakang tubuh tegapnya.

"M-maaf sudah membuat semua khawatir.." sergah Hinata amat pelan seraya menunduk dalam, tak berani menatap wajah tampan pemuda emo di depannya. "Kau bercanda?" sahut pemuda itu tetap datar.

Kepala dengan surai indigo tersebut terangkat, membuat Amethystnya dapat menatap wajah dingin pemuda emo di depannya yang kini melangkah pelan mendekat kearahnya berdiri mematung. "Berhenti berlagak sok kuat di hadapanku karena itu sangat memuakkan." bisik pemuda emo tersebut di telinga kanan Hinata. Suaranya yang dingin dan menusuk tepat menembus pertahanan Hinata. Membuat gadis indigo itu menggigit bibir bawahnya kuat, menahan gemuruh sesak yang kembali menyerang dadanya.

"K-kenapa?" cicit Hinata saat pemuda emo tersebut menarik wajahnya kembali. "K-kenapa kau memperlakukanku seperti ini, Sasuke-kun?" lanjut Hinata, membuat iris segelap langit di malam hari milik pemuda emo tersebut menatapnya kian dingin.

"Karena aku membenci keberadaanmu." desis Sasuke tajam dan segera pergi meninggalkan Hinata.

Hinata mati-matian menahan agar air matanya tidak tumpah. Dia sudah menyiapkan hatinya untuk jawaban apapun yang akan Sasuke katakan padanya. Namun kembali lagi bahwa hatinya tidak sekuat besi.

MXMXMX-TO BE CONTINUED-XMXMXM

NOTE : maaf karena lebay dan sampai jumpa di next chapter..?

(• ˆˆ •)v