Huwaaaa~~~! Dasar author bolot, bukannya ngelanjutin Phantasm, malah bikin fic baru lagi! Oke, cukup. Mulai saat ini hanya 2 fic saja yang akan kuurus. Semoga, yah, semoga, tidak terbit fic baru lagi *depresi.

Oke, kali ini Kingi persembahkan fic romance Kingi yang pertama! *niup terompet.

Sesuai dengan kata-kata Kingi, ini beneran fic romance yang pertama dan bener bener romance tanpa OC *biasanya mau buat romance kalo ada OCnya doang tuh* :p

Warningnya.. Hmm.. OOC, Typo. Dua itu aja kali ya? *belagu

Disclaimer: Ma-sa-shi Ki-shi-mo-to! Ku ingin bertemu denganmuuu~! *nyanyi

Di samping segalanya, Kingi mau bilang, pairingnya sampe tamat tebak sendiri! *di giles truk* Oke, bukannya mau sok sok misterius atau apa, tapi menurut Kingi kalo pairingnya di kasih tau dari awal, kayaknya kurang seru deh. Makanya Kingi mau buat suasana fic yang agak beda, gitu *agak beda gimana maksudnya?*

Siplah, daripada semakin banyak cat cit cot bacot yang enggak penting, langsung aja, enjoy my fic!


Kingi Dawn, 2011

Presented,

Colours Of Love.


"Maaf, nomor yang sedang anda tuju,.."

Hinata menghela nafasnya, mematikan handphone-nya kembali. Ia membuka icon pesan, dan mengetik, lalu untuk beberapa saat, jari-jarinya yang mungil itu berhenti mengetik. Ia membaca kembali pesannya:

Sasuke-kun, telepon aku kalau kau sudah membaca ini.

Hinata menekan tombol 'send'.

.

.

.

Hinata Hyuuga, 16 tahun, tinggal di Konoha District, Uzumaki Apartment, kamar nomor 94. Putri pertama dari Hyuuga Company, perusahaan kecil milik Ayahnya. Dari namanya saja sudah bisa di tebak, bahwa Hinata adalah seorang perempuan yang berlimpahan uang dan barang barang elit lainnya. Tapi, enggak sekalipun Hinata mau memakai barang-barang elit tersebut atau meminta uang pada ayahnya. Dia cuma meminta uang bulanan seperlunya saja, untuk kebutuhan sehari hari. Ya, uang bulanan. Ia hanya remaja perempuan biasa yang ingin hidup hemat seperti orang-orang lainnya.

Balik perihal tentang apartment-nya, walaupun namanya 'kamar' nomor 94, tapi ada sekitar 4 orang yang tinggal di dalam sana. 'Kamar' itu memang cukup besar, dan yang paling deluxe tentunya. Hinata tinggal dengan adik perempuannya, Hanabi Hyuuga, dan kakak laki-laki kembarnya yang bernama Neji Hyuuga. Neji dan Hinata sama-sama bersekolah di National High Konoha, hanya beda kelas saja. Sekolah ini terdiri dari tingkat SD sampai SMU, jadi, Hanabi juga bersekolah disana—beda gedung tentunya. Hanabi masih kelas 6 SD.

Sasuke Uchiha, adalah pacar Hinata. Mereka sudah berhubungan cukup lama. Dulu Sasuke memang tinggal di Konoha dan bahkan sekelas dengan Hinata sampai kelas 1 SMU. Namun, karena alasan pekerjaan Fugaku-san, ayah dari Sasuke, akhirnya mereka sekeluarga pindah ke Kota Ame.

Perpisahan yang penuh air mata.

Hinata dan Sasuke menyanggupi untuk long distance relationship, tapi akhir-akhir ini agaknya entah kenapa Sasuke jarang menyalakan handphone-nya, dan komunikasi di antara mereka pun sedikit demi sedikit berkurang.

.

.

.

"Ottou-san, aku berangkat dulu ya!" ujar Hinata, sedikit berteriak, sambil memakai sepatunya. Ayahnya muncul di ujung koridor, dekat pintu dapur, sambil membawa piring.

"Kenapa terburu-buru sekali? Neji dan Hanabi bahkan belum pergi?" tanya ayahnya penuh selidik. Hiashi memang tak tanggung-tanggung dalam menjaga kedua putrinya.

"Aku piket hari ini. Ittekimasu..!" Hinata membungkukkan badannya, kemudian membuka pintu apartment dengan setengah berlari. Bunyi langkahnya yang menjauh masih terdengar sampai beberapa saat kemudian.

Hiashi hanya tersenyum, sambil kembali memasuki dapur. Terlihat Hanabi sedang menggoreng telur. Sedangkan Neji belum kelihatan, tapi terdengar suara air dari kamar mandi.

.

.

.

"Ohayou, Hina-chan!" Sakura menepuk pundak Hinata. Mereka berdua sama sama memasuki komplek sekolah yang sangat besar itu.

"Sakurappe, ohayou!" balas Hinata.

"Bagaimana? Sudah ada kabar dari Sasuke?" tanya Sakura.

Hinata menggeleng.

"Dari kemarin handphone-nya tidak aktif, sepertinya. Aku khawatir, takut terjadi apa-apa.."

"Benar juga, ya. Dasar Sasuke itu, masih saja sok cool! Kalau begini saja, aku yakin nanti dia akan bilang 'maaf ya, aku mau belajar untuk masuk Todai, jadi untuk sementara handphone-ku tidak akan kuaktifkan' Iih! Menyebalkan!" Sakura misuh-misuh sambil menirukan logat bicara Sasuke yang memang terkesan cool. Hinata tertawa kecil. Ia tahu sahabatnya itu berusaha menghibur dirinya, jadi ia sendiri tidak mau merusak hari Sakura dengan mencurhatinya segala hal tentang Sasuke.

"Hinataaa...! O-ha-yoouuu!" dari kejauhan, terlihat seseorang bercepol dua memanggil sambil melambai penuh semangat. Hinata balas melambai, dan mendekati orang itu.

"Ohayou, Tenten!" kata Hinata, tersenyum. Kemudian mereka bertiga berjalan menuju gedung SMU. Sekolah mulai ramai.

.

.

.

Awan putih itu selalu berubah-ubah letaknya setiap detik. Tapi sepertinya langit biru masih tetap di situ-situ saja.

Sasuke, sebenarnya ada apa denganmu?

Hinata berusaha berpikir positif, karena Neji selalu memarahinya jika Hinata sedang berpikir negatif atau bermental lemah. Walaupun Neji mengingatkannya menggunakan kata-kata yang kelewat pedas seperti, 'aku tidak pernah ingat punya adik selemah kau', tapi Hinata tahu kalau sebenarnya Neji hanya tidak ingin dia tumbuh menjadi remaja rusak.

"Hinata Hyuuga!"

Hinata tersentak. Ia baru sadar kalau sedang berada di tengah kelas Kurenai-sensei. Guru perempuan yang paling cantik seantero sekolah itu hanya memanggil namanya, lalu diam. Tapi dari sorot matanya yang mendelik, terlihat bahwa ia sedikit marah karena Hinata melamun dalam pelajarannya.

"M-maaf, Kurenai-sensei... Saya tidak fokus." Hinata menunduk.

"Jangan ulangi lagi. Jadi, cara mendapatkan hasil dari matriks perkalian ini..." Kurenai kembali menulis angka-angka di whiteboard dengan spidol hitamnya.

.

.

.

"Hinata, aku iri sekali padamu! Walaupun melamun selama pelajaran, tetap saja semua latihan latihan matematikamu pasti dapat di atas 80! Ah~ Kapan ya aku bisa pintar sepertimu?" keluh Ino.

Hinata hanya tertawa pelan. Kalau boleh jujur, malah ia yang iri dengan Ino. Ino memiliki badan yang bagus, proporsional dan terbentuk. Itu karena ia sangat jago di bidang olahraga, sama seperti Sakura dan Tenten. Nah, kalau Hinata sih, malah bisa di bilang bodoh dalam bidang itu. Lari lambat, lompat tidak begitu tinggi, apalagi kalau lompat jauh. Ujung-ujungnya dia cuma bisa terduduk lesu di bak pasir, meratapi meteran lompatannya yang tidak jauh. Di sekolah, ia ikut ekskul lukis. Ia suka berkutat dengan bermacam macam warna cat air itu, dan suara bisikan kanvas saat beradu dengan kuas. Walaupun pertamanya Hiashi-san lebih setuju jika anaknya ikut ekskul paduan suara, tapi Hinata menentangnya, dan.. Apa lagi yang bisa Hiashi lakukan selain akhirnya menyetujui keinginan putrinya yang tidak pernah menuntut banyak itu?

"Hei, pulang sekolah nanti mau Purikura atau karaoke, enggak?" tanya Sakura. Ino langsung mengangguk cepat, begitu pula dengan Tenten.

"Kita coba restoran baru di ujung jalan! Kata seniorku di klub memasak sih, takoyaki-nya di sana enak." ujar Tenten.

"Bagaimana, Hinata?" Ino menoleh ke arah Hinata. Hinata menggeleng pelan.

"Ano.. Besok kan ultah Ottou-san, jadi pulang sekolah aku mau langsung beli.. Hadiah. Sekalian kuas baru, kuas-ku kemarin hilang di sekolah." jawabnya. Memang benar, besok Hiashi-san akan berulang tahun.

"Wah, sayang sekali. Mau di temani?" tawar Sakura.

"Tidak usah. Kalian mau makan siang, bukan? Lagipula tidak mungkin terjadi apa apa denganku, kok, tenang saja!" Hinata berusaha meyakinkan ketiga sahabatnya itu. Walaupun ragu, akhirnya sahabatnya menyetujuinya.

.

.

.

Hinata menoleh ke kanan dan ke kiri. Toko kelontong berserakan di mana-mana. Jalan besar ini, yang bernama Little Konoha, memang di peruntukkan bagi orang-orang yang suka belanja secara sederhana, jadi jangan harap bisa menemukan barang bermerk dan elit di dalamnya, karena toko-toko di sini hanya menjual berbagai barang yang unik-unik, antik maupun yang imut-imut.

"Bagusnya kado apa, ya..?" Hinata berhenti sebentar di pinggir jalan besar yang penuh manusia itu, menaruh tas sekolahnya di dekat kakinya, mengeluarkan handphone dan menekan beberapa digit nomor.

"Maaf, nomor yang sedang.."

Hinata langsung mematikan handphone-nya. Biasanya kalau ia bingung begini, ia akan meminta pendapat Sasuke. Sasuke selalu mempunyai selera yang bagus. Saat sebelum ia pindah, mencari hadiah ulang tahun Hiashi, Neji dan Hanabi juga selalu bersamanya.

Hinata memasukkan handphone-nya kembali ke dalam tas, dan mulai berjalan lagi.

Tiba-tiba, matanya menemukan sesuatu yang bagus. Ia mendekat ke etalase kaca sebuah toko kelontong, dan mengagumi hal yang di temukannya. Ia masuk ke dalam toko. Bagian dalam toko itu sangat luas, beberapa orang tampak terlihat memilih-milih barang dengan seksama. Hinata berjalan menuju kasir, di kasir tampak seorang kakek tua sedang duduk sambil membaca koran. Di meja kasirnya ada secangkir kopi yang masih hangat, dan berasap.

"Emm.. Maaf. Mug yang di pajang di etalase itu, harganya berapa ya?" tanya Hinata sopan. Kakek itu menoleh ke arah Hinata, menyipitkan matanya, kemudian sepertinya menyerah, dan memakai kacamatanya yang berbentuk bulat, seperti kacamata Harry Potter.

"Ya?" ujarnya.

"Mug itu—" ulang Hinata.

"Oi, Ayame! Ambilkan mug yang di etalase!" kakek itu memotong bicara Hinata. Seorang anak perempuan berambut cokelat panjang, memakai celemek toko dan membawa kemoceng, muncul dan berjalan menuju etalase. Hinata mengikutinya.

"Yang mana?" tanya Ayame, tersenyum.

"Anoo—yang itu. Di belakang mangkuk berwarna hijau," pilih Hinata, menunjuk mug yang di maksud. Ayame mengambil mug itu, lalu melihatnya.

"Harganya 3500 yen." kata Ayame. Bagi Hinata, tentu harga tak jadi masalah. Ia mengangguk setuju, kemudian Ayame membawa mug itu ke kasir.

"Ada jasa pembungkusan? Itu untuk hadiah ulang tahun ayahku.." kata Hinata pada kakek-kakek di kasir itu. Kakek itu menggeleng.

"Tidak, nak. Tapi kalau untuk sekedar kau mau tahu, di Mall Argantia ada sebuah toko bernama Cekuilet, disana banyak pilihan kertas kado yang bagus bagus dan dia mempunyai jasa pembungkusan dengan berbagai bentuk yang unik. Semua orang pasti kesana kalau mau membungkus sesuatu. Ngomong-ngomong, matamu bagus juga ya." puji kakek itu, sambil mengamati mug pilihan Hinata. Mug itu berwarna putih dari bagian bawah sampai tengah, lalu berwarna biru langit dari bagian tengah sampai ke atas. Tak hanya itu, motif burung-burung merpati sedang beterbangan pun menghiasi hampir seluruh bagian mug. Cantik sekali.

"I-iya. Ayahku suka minum teh di pagi hari, sama seperti kakek, di temani dengan koran.. Dan roti. Cekuilet ya? Baiklah, terima kasih ya Kek, sudah memberitahu," ujar Hinata.

"Ohohoho. Harusnya aku yang berterima kasih nak, sudah membeli di tokoku ini. Silakan datang kembali." jawab kakek itu ramah. Hinata tersenyum, membungkukkan badan, menerima plastik berisi mug dari Ayame, dan berjalan menuju pintu keluar, puas dengan hadiah yang di dapatnya.

Tuh kan, tanpa Sasuke, aku juga bisa, pikirnya.

Lho? Tanpa Sasuke?

Jadi?

.

.

.

Suasana toko Cekuilet cukup ramai. Pita-pita menggantung di atap atap tokonya, berbagai macam kertas kertas kado dan kertas-kertas lainnya memenuhi dinding. Rak-raknya bertaburan manik-manik, kain flanel, kertas daur ulang dan lain-lain. Hinata suka yang begini.

"Ada yang bisa di bantu..?" tanya seorang perempuan berseragam toko, sambil tersenyum manis.

"Aku mau membungkus... Emm—" Hinata mengangsurkan plastik yang sedari tadi di pegangnya.

Pelayan toko kemudian melongok sebentar ke dalam plastik, dan mengangguk.

"Silakan di pilih dulu kertas dan pitanya. Kalau mau juga bisa di tambahkan plastik dan glitter di sebelah sana." tunjuk pelayan toko itu ke suatu arah. Sementara pembeli lain mulai memenuhi toko, Hinata memilih warna pita yang bagus. Ada pita yang berbentuk renda putih, selotip yang berkilauan, dan warna-warna kertas yang bagus lainnya. Hinata suka mengamati warna. Menurutnya, tidak ada yang membuat dunia ini lebih indah, kecuali warna.

"Oh iya, aku kan juga mau beli kuas baru.." gumam Hinata. Ia berencana akan membeli kuas setelah pulang dari toko ini.

"Maaf, yang warna biru yang mana ya..?" terdengar sebuah suara.

"...Hah? Dasar gila!" sebuah suara lainnya menyahut.

Hinata berjinjit. Rak yang cukup tinggi sejajar dengan hidungnya. Dari balik rak, ia dengan jelas bisa melihat punggung seorang laki-laki berambut merah, yang memakai kemeja berwarna senada, dengan celana jeans biru gelap dan sepatu kets putih. Laki-laki itu membawa dua buah gulungan pita besar—berwarna hijau dan kuning. Ia tampak bingung, kemudian menanyai beberapa remaja yang lewat.

"Maaf, yang warna biru yang mana ya...?" tanya-nya ulang, sambil memperlihatkan gulungan pita di kedua tangannya.

Sontak, beberapa remaja itu menatap laki-laki itu dengan tatapan aneh. Tanpa menjawab, mereka semua langsung menjauh.

"Aneh ya, apa dia seorang freak..?" bisik salah satu remaja. Walaupun berbisik, suaranya cukup keras, sehingga Hinata yang berdiri agak jauhpun bisa mendengar, dan yakin bahwa laki-laki berambut merah gelap itu juga mendengar.

Hinata kembali berdiri dengan normal, tanpa berjinjit. Ia berpikir, mau menolong orang itu atau tidak, ya? Tapi kenapa ia bertanya dengan tidak jelasnya? Mencari pita yang berwarna biru, tetapi membawa pita hijau dan kuning? Ah, kemana sih semua pelayan toko? Tampaknya masing-masing sedang sibuk membungkus pesanan orang lain.

Ayo, Hinata. Menolong orang saja pakai berpikir. Coba ingat-ingat, orang-orang yang pernah menolongmu, bahkan mereka melakukannya dengan tulus, tanpa berpikir panjang lagi. Apa salahnya sih, menolong orang?

Hinata berjalan menuju laki-laki itu, dan menepuk pundaknya pelan. Ternyata orang itu cukup tinggi, kepala Hinata sejajar dengan hidung laki-laki itu. Hinata bisa melihat dengan jelas, mata orang itu seperti memakai eyeliner hitam, tapi warna hitam itu sepertinya alami, kira-kira seperti orang kurang tidur, begitu. Ia memakai tatto dengan bertuliskan kanji 'Ai' di dahinya, yang artinya 'cinta'. Warna kulitnya ternyata agak pucat.

"A-ada yang bisa di bantu?" tanya Hinata agak takut-takut. Kalau benar ternyata laki-laki ini seorang yang freaky, bagaimana?

Laki laki itu kemudian mengulang perbuatannya beberapa waktu yang lalu. Ia menyodorkan kedua pita berwarna kuning dan hijau itu ke depan wajah Hinata.

"Aku hanya ingin bertanya.. Tolong beritahu yang mana yang berwarna biru? Aku bukan orang aneh." katanya, seolah bisa membaca raut wajah Hinata.

Jangankan orangnya, pertanyaannya saja sebenarnya sudah aneh, batin Hinata. Tapi karena sudah terlanjur terlibat, tidak enak kan kalau di tinggalkan?

Hinata mengambil pita yang berwarna kuning.

"Yang ini kuning." katanya, seperti mengajari anak TK tentang berbagai macam warna. Kali ini ia mengambil lagi gulungan pita hijau.

"Yang ini hijau." ujar Hinata mengakhiri. Laki-laki itu terlihat agak bingung.

"Padahal aku sudah yakin yang itu biru." komentarnya, sambil menunjuk pita berwarna kuning.

Eh? Padahal dia tidak terlihat buta, dan.. Oke, bicaranya normal. Kalau gila, tidak mungkin ia bisa meladeniku seperti ini, pikir Hinata lagi.

"Jadi, bisa beritahu yang mana yang biru?" ujar laki-laki itu lagi, membuyarkan segala pikiran Hinata.

"O-oh, tentu! Kesini.." Hinata berjalan menuju rak-rak yang memamerkan banyak gulungan-gulungan pita. Ia melihat-lihat dari atas sampai bawah. Banyak sekali pilihan warnanya. Mata Hinata berbinar-binar.

"Mau biru yang bagaimana? Biru langit, biru jeans atau biru tua? Ada juga biru yang kehijauan, namanya Turquoise sih. Warna Cyan juga ada." Hinata menyeloteh tentang warna. Ia suka mempelajari dan menghapal berbagai warna-warna yang istilahnya sulit di kenal orang lain.

Pemuda berambut merah gelap itu sekarang malah terlihat bingung. Padahal, Hinata sudah mengambil beberapa gulungan.

"Maaf, bicaraku terlalu cepat ya? Kalau sudah membicarakan warna, aku terlalu semangat sih, hehe. Maaf." kata Hinata, agak malu.

"Tidak. Bukan kau yang salah... Tapi aku. Kalau bisa, pilihkan saja biru mana yang bagus kira-kira, soalnya aku—"

Hinata menunggu kelanjutannya.

"Aku tidak bisa membedakan semua warna warna itu." lanjutnya, wajahnya menunjukkan ia agak susah mengakui hal itu.

"Eh?" Hinata cuma meng-eh, bingung. Penyakit yang tidak bisa membedakan warna, memangnya ada? ...Eh, ada.

Benar, ada. Buta warna.

Hinata tidak mau bertanya dengan mudahnya, "Oh, jadi apakah kau buta warna?" karena ia tahu itu hanya akan menyakiti orang yang berdiri di depannya ini. Jadi ia putuskan untuk pura-pura tidak mendengar pernyataan yang tadi, dan tersenyum.

"Yang bagus menurutku biru langit, warnanya agak muda. Memangnya pita ini buat apa?" tanya Hinata.

"Kado. Kakak perempuanku berulang tahun." jawabnya pendek, tanpa ekspresi.

Hinata tertegun.

"Ayahku juga ulang tahun. Aku belum memilih kertas, dan juga pitanya. Sama-sama saja, yuk!" kata Hinata, berjalan menuju rak kertas-kertas yang tergantung. Sulit untuk memilih kertas kertas itu, karena banyak yang motifnya bagus.

"Kakakmu suka warna apa?" tanya Hinata lagi.

"Ungu." jawab orang itu, pendek. Sepertinya ia tipikal orang yang benar-benar berbicara hanya kalau sedang perlu saja.

"Ungu, lalu kenapa memilih pita warna biru? Jadinya akan sedikit aneh, lho," komentar Hinata, sambil menarik kertas kado berwarna ungu gelap, bermotif boneka beruang cokelat berpita ungu yang sedang tidur. Imut sekali.

"Memangnya tidak bagus ya, kalau ungu di campur dengan biru?" laki-laki itu malah balik bertanya. Hinata menggeleng tanpa menoleh.

"Pitanya warna senada saja, ungu, tapi nanti pilih yang sedikit lebih muda.. Hmm.. Jadi bagaimana menurutmu?" kata Hinata, memperlihatkan kertas kado ungu gelap bergambar beruang itu ke depan wajah Gaara.

"Itu bagus juga." komentarnya.

"Kalau begitu, langsung pilih pitanya. Ungu muda, ungu muda...Ini dia!" Hinata agak berjongkok untuk melihat bagian bawah rak pita-pita, dan mengambil satu buah gulungan pita berwarna ungu muda yang lembut.

"Nah!" Hinata menaruh gulungan kertas kado dan pita itu di tangan laki-laki berambut merah itu. Senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Terima kasih, ya." katanya pelan. Hinata mengangguk.

Laki-laki itu berjalan menuju kasir, meminta salah satu orang yang ada di belakang kasir membungkuskan hadiahnya dengan kertas dan pita pilihan Hinata, sementara Hinata sendiri mulai memilih-milih kertas dan pita untuk hadiah ayahnya.

Buta warna, apa rasanya? Tidak bisa melihat warna baju, aksesoris, mungkin bagi laki-laki tidak masalah, kecuali kalau mempunyai sense fashion yang bagus, pasti menderita. Tidak bisa membedakan warna bunga, juga. Padahal warna-warna bunga cantik-cantik. Dan yang paling parah, apakah buta warna juga tidak bisa melihat warna langit? Pegunungan, pohon? Hinata merinding saat membayangkannya. Seluruh benda menjadi warna hitam putih, seperti televisi lama. Mengerikan. Padahal dunia ini indah. Tapi tanpa warna... Tidak akan ada artinya.

.

.

.

Hinata memandang puas melihat belanjaannya. Kuas baru, dan mug antik yang sudah terbungkus dengan rapi. Walaupun langit mendung, tapi hati Hinata tetap senang. Walaupun langit mendung, dan handphone Sasuke juga belum aktif.

Sasuke, sedang apa sih..?

Hinata melewati pintu toko buku yang terbuka lebar, dan berhenti dengan tiba-tiba, saat matanya melihat satu pak Crayon dengan berbagai warna. Crayon itu tampak berkilauan. Hinata menghitung setiap batangnya. Jumlahnya ada 48 batang, lengkap dengan warna-warna yang langka. Hinata sendiri hanya punya yang 24 warna, itu karena Crayon tidak terlalu penting di gunakan dalam melukis, tidak lebih penting daripada cat air. Kotak tempat Crayon itu di lilit dengan puta emas, dan kotaknya juga berwarna gold dengan glitter perak yang tertebar hampir di seluruh bagian kotaknya.

Hinata masih berdiri di depan etalase kaca itu untuk beberapa saat. Biasanya remaja berhenti dan berdiri lama seperti ini hanya untuk memandangi baju-baju yang terpampang, tapi tidak dengan Hinata. Ia sangat mengagumi satu pak Crayon itu.

Hinata membuka tas sekolahnya lagi, mengeluarkan dompet, dan menghitung jumlah uang yang ada di dalamnya. Mudah-mudahan masih cukup. Kalau tidak cukup, masih ada kartu kredit. Hinata mengecek kartu itu ke bagian terdalam dompetnya. Ada.

Tiba-tiba...

BRET!

Seorang anak laki-laki memakai topi dan jaket yang menutupi kepalanya, menyambar dompet Hinata dan berlari secepat mungkin, menyusup di antara kerumunan orang.

"Tolong, maling!" Hinata berteriak sekuat yang ia bisa, tentu tidak terlalu keras karena ia tidak terbiasa berteriak seperti ini. Beberapa orang tampak menyadari teriakannya dan mencoba mengejar anak laki-laki itu.

"Aduh.. Bagaimana ini.. Kalau tidak kembali juga... Kartu kredit, kartu pelajar dan semua uang bulananku ada di situ.." gumam Hinata, membuka tas dan mengeluarkan handphone-nya, melihat tanggalan. Masih tanggal 4. Bulan depan masih lama, dan bagaimana ia bisa bertahan sampai tanggal 30 tanpa uang sepeserpun? Ia tidak mempunyai nyali bicara dengan Neji atau Ottou-san-nya, bisa bisa mereka memarahinya habis-habisan. Hinata masih ingat dengan jelas saat temannya datang ke rumah dan mencuri jam tangan Rolex ayahnya, dan kemudian teman tersebut tidak pernah muncul-muncul lagi di sekolah, sepertinya sudah pindah. Hinata tidak mau dua kali mengecewakan ayahnya.

Hujan mulai turun, pertama rintik rintik, kemudian deras. Betapa sialnya hari ini, batin Hinata. Ia memasukkan kado yang sudah terbungkus rapi dan kuas ke dalam tas sekolahnya, kemudian berlari sambil memeluk tasnya ke bawah pinggir toko yang beratap. Ia kemudian mengeluarkan sweater abu-abunya dari dalam tas dan memakainya, membuatnya sedikit merasa lebih hangat. Syukurlah, sweater itu masih kering.

"Kalau sudah begini... Bagaimana pulangnya ya? Kartu langganan bus-ku ada di dompet itu juga.." Hinata terlihat sangat cemas. Pada saat itu, ia melihat sebuah sosok yang memakai payung berwarna putih, pemilik payung tampak berlari-lari kecil ke arahnya, mungkin ingin berteduh juga.

Pemilik payung itu sampai di sebelah Hinata, dan menurunkan payungnya. Hinata menoleh ke arah orang itu.

"Kau?" kata Hinata, agak kaget, menunjuk orang yang berdiri di depannya. Ia adalah pemuda berambut merah itu, yang bertemu dengannya di Cekuilet tadi. Ia juga tampak kaget, walaupun tidak berkata apa-apa.

"Kehujanan juga, ya? Hahaha. Aku memang sedang sial hari ini. Sudah kecopetan, kehujanan.." ujar Hinata, menatap langit.

"Kecopetan?" tanya-nya, membuka mulut.

"Ya. Baru saja." jawab Hinata, tersenyum.

"Begitu," komentarnya. Itu saja. Pembicaraan yang sangat singkat. Tiba-tiba, di kejauhan sana, datang sebuah bus. Hinata menggigit bibir bagian bawahnya, itu jelas sekali bus dengan rute menuju apartmentnya. Tapi bagaimana? Bagaimana membayar bus-nya?

Pemuda berambut merah itu membuka payungnya lagi, kemudian pergi dari tempat Hinata berdiri. Baru beberapa langkah, kemudian ia berhenti dan menoleh ke belakang lagi.

"Tidak pulang?" tanya-nya. Suaranya yang datar hampir tidak terdengar, bercampur dengan suara rintik hujan deras.

Hinata mengangkat bahu.

"Kartu langgananan bus-ku ada di dompet yang di copet." jelas Hinata. Pemuda itu tampak berpikir, kemudian kembali ke tempat Hinata berdiri, dan menarik tangan Hinata tanpa permisi. Mereka berdua berlari kecil di bawah payung.

"Ano... Maaf?" Hinata bingung.

"Anggap saja ucapan terima kasih atas memilihkan kertas dan pita di toko tadi. Sekarang aku akan membayarimu pulang," jawabnya, seolah bisa membaca pikiran Hinata. Mereka berdua menutup payung dan cepat cepat menaiki bus, lalu duduk di tempat yang kosong. Mereka tidak bicara selama bus berjalan, halte demi halte, sementara pemuda itu memang pelit bicara dan Hinata masih saja bingung karena kurang terbiasa mendapat perlakuan baik dari orang yang baru di kenalnya.

"Aku turun di sini." ujar pemuda itu pendek, saat bus berhenti di Halte Suna District.

Hinata mengangguk.

"Terima kasih banyak!" katanya. Kalau ia sedang berdiri, dapat di pastikan ia akan membungkukkan badannya ke pemuda itu. Sementara orang yang di terima kasihi tidak berkomentar, dan buru-buru turun dari bus, sambil berlari menerjang hujan, walaupun itu percuma sih, toh akan tetap basah juga.

Eh? Basah?

Hinata langsung melongok ke tempat pemuda tadi duduk. Sebuah payung berwarna putih milik pemuda itu tergeletak begitu saja.

Ketinggalan?

Atau sengaja di tinggalkan?

Apapun alasannya, Hinata tersenyum. Ia tidak menganggap harinya sial lagi. Paling tidak, sekarang ia sudah bisa pulang tanpa kebasahan. Sekarang yang jadi pikirannya hanyalah, ia harus mencari kerja sambilan, agar mendapat uang. Tapi adakah tempat kerja yang mau memberikan gaji harian?

Saat sedang berpikir, ringtone handphone Hinata berbunyi.

Nee kikoe masu ka~~?

Sora wa,.. Hate shinaku aoku sunde ite~
Umi wa,... Kagiri naku koudai de ite~

(Harumonia – Rhytem)

Hinata melihat sebuah nama di layar handphonenya.

Sasu-kun.

"Ha-halo?" jawab Hinata.

"Hinata." suara Sasuke terdengar di seberang sana.

"Ya?" Hinata malah gugup. Ia bingung harus menjawab apa, sementara ia sudah berkali kali menghubungi pacarnya ini, tapi handphone-nya selalu mati.

"Maaf, handphone-ku mati, ya? Aku sedang konsentrasi belajar, aku bertekad masuk Todai." kata Sasuke.

Astaga! Padahal Sakura kan hanya bercanda, tapi kenapa jadi benaran begini kejadiannya?

"Tidak apa-apa, kok.." Hinata akhirnya lega, ia mengira terjadi apa-apa dengan Sasuke. Ternyata, masih Sasuke yang biasanya.

"Kau marah?" tanya Sasuke, kali ini nadanya agak khawatir.

"Tidak. Tidak apa apa, kan tadi kubilang.." jawab Hinata.

"Syukurlah. Aku mengira kau akan marah. Ngomong-ngomong, besok ulang tahun Hiashi-san, kan? Kau sudah beli hadiah?" tanya-nya lagi. Mengingat kata 'hadiah', Hinata jadi teringat pemuda berambut merah tadi.

Ya ampun Hinata, fokus. Fokus!

"S-sudah. Mug antik, kau pasti suka kalau bisa lihat.." Hinata mengeluarkan bungkusan kado dari tasnya dan tersenyum saat melihatnya.

"Benarkah? Aku ingin sekali lihat.. Sayangnya—" ucapan Sasuke terhenti.

Bus Hinata berhenti di suatu halte. Hinata baru sadar kalau halte itu adalah halte Konoha District.

"Ano, Sasuke-kun, aku sekarang ada di bus dan mau turun, bisakah nanti kau telepon lagi jika aku sudah sampai... Rumah?" Hinata memasukkan kembali bungkusan kado, mengambil tasnya dan payung putih itu, kemudian berdiri saat bus berhenti.

"Ya, tentu saja. Sampai jumpa lagi—aduh, Karin, kau kenapa sih? Jangan dekat-dekat!" tiba-tiba suara Sasuke meninggi.

"...Sasuke-kun?"

'Tuut.. Tuut.. Tuut..

Telepon terputus.

Hinata melihat layar handphone-nya yang kembali seperti semula, wallpaper Neji yang sedang tersenyum, dan di depan Neji, ada Hanabi yang nyengir sambil membuat bentuk 'peace' dengan jarinya.

Ia mengingat nama yang di sebutkan Sasuke tadi.

Karin?

:: To Be Continued ::


Adoh, maap kalo chapter ini kurang greget, karena salah satu faktornya adalah, Kingi gak jago bikin Romance fic, terus Kingi mau jelasin dulu gimana sih Hinata ketemuan sama Gaara.. For the first time :D Karena menurut Kingi, first time itu selalu, gimana yah, sweet.

Oke, ada beberapa kata asing yang tersebar di fic ini, hmm...

Purikura: Nama lain Photo Box di Jepang! XD

Ottou-san: Ayah.

Ohayou: Selamat pagi.

Tolong kritik, saran, dan reviewnya? :)