SHINGEKI no KYOJIN © Isayama Hajime
ANGELFALL © Susan Ee
Warning : T+, Alternative Universe, Semi-dystopia, Shounen-Ai, typo(s), OOC, novice writer, very first fanfiction, 'rabbit plot', and many more.
Dystopia is defined as "a society… characterized by human misery, as squalor, oppression, disease, and overcrowding
DON'T LIKE? SO PLEASE, DON'T READ.
-DYSTOPIA-
Tahun 208x, Shiganshina.
Lagi, langit Shiganshina malam ini kembali gelap. Kabut-kabut yang seabad lalu telah menghilang kini kembali menghantui masyarakat yang ikut bernapas di sana, membawa bau khas campuran asam dan asap. Gema dua kali Maria Bell Raksasa di setiap bayang-bayang gang sempit menggambarkan betapa mencekam suasana kota Shiganshina Raya saat malam, lampu sisi jalan berkedip sekali. Hening. Bulan pun menunjukkan sosoknya dari balik awan dan dengan angkuh memandang ke bawah.
Jalan-jalan berbatu sudah sepi, tidak ada embun napas manusia, tidak ada raung mesin kendaraan. Tikus-tikus bercicit damai, dan menyeberang penuh kemenangan ke salah satu pondok tak terawat.
Manusia di masa ini harusnya hanya perlu duduk di kursi goyang yang dekat dengan perapian, menjahit pakaian, dan bercerita dengan cucu mereka tentang perjuangan mereka. Tentang mereka yang telah bertemu dan melawan musuh alami manusia.
Ini adalah salah satu kedamaian yang bisa mereka raih. Diserang dan menyerang oleh mahkluk-mahkluk buatan manusia yang justru menghancurkan manusia sendiri. Mahkluk-mahkluk itu menyebut diri mereka sendiri 'Malaikat'. Mahkluk yang justru memiliki makna yang benar-benar kebalikan dari makna murninya.
Penuh hawa nafsu dan senang melanggar aturan dunia. Mereka benar-benar berkeliaran di malam hari, dan merusak norma dunia yang sudah ditancapkan kuat-kuat di akar bumi saat siang hari.
Tiga perempat dari populasi manusia di Shiganshina telah musnah, entah bagaimana di tempat lainnya di muka bumi. Kejahatan, pelecehan, pembunuhan, sudah bukan hal asing lagi di Shiganshina. Itu hanya satu contoh dari ribuan kota di dunia.
Malam ini manusia-manusia kembali merenung, bergelung ketakutan di bawah selimut, di bawah bayang-bayang atap rumah mereka sendiri. Tidak ada kursi goyang, tidak ada menjahit pakaian, tidak ada cucu mereka yang tertawa riang mengisi sunyinya malam. Mereka semua berharap dan memohon… Mengingat salah satu norma yang telah mereka rusak sendiri.
Semoga dia tidak datang ke tempat ini.
Mata hitam kebiruan meneliti tiap sudut kota dalam diam, sinar keperakan dari pantulan keangkuhan bulan dalam matanya sama sekali tidak merusak konsentrasinya. Dia berdiri di salah satu atap rumah kuno yang cukup tinggi. Mendecih risih saat bau asap itu lagi-lagi mengusik indera penciumannya.
"Kau gampang jijik seperti biasa, ya?"
Lelaki itu menggerakan bola matanya ke sisi kanan, menatap wanita berkacamata yang jauh lebih dewasa. Melihat wanita itu hanya tersenyum usil, lelaki itu memutuskan untuk kembali menatap kota yang tengah diamatinya. Merepotkan sekali.
"Suka kebersihan berbeda dengan kata seperti itu, bodoh."
"Oi, tidak sopan kau bersikap begitu itu anak muda." Rambut ekor kuda wanita itu bergoyang pelan saat dia mengalungkan lengannya ke leher dan bahu pria yang lebih kecil darinya, dan tertawa renyah membelah kesunyian.
"Shit. Kau berisik sekali, Zoe." Tangannya menepis lengan itu dari lehernya, tidak bermaksud kasar, hanya menepis. Lelaki itu jelas menghargai wanita nyentrik ini. Membetulkan cravat yang sempat berantakan karena gelungan lengan Zoe di lehernya.
Wanita itu bergumam sebal, dan mengerutkan kedua aslinya. "Sudah kubilang panggil saja aku 'Hanji'. Oh, kau jadi pemburu lagi malam ini?" suaranya yang khas kembali membelah malam.
Sial, wanita ini mengatakannya terlalu ringan.
Lelaki itu melangkah ringan ke depan dan hanya mengedikkan bahu, menjawab pertanyaan wanita yang mengaku bernama 'Hanji'. "Tidak, bukan maksudku ringan bicara. Maksudku, kau– Hei!"
"Aku pergi dulu, Zoe."
Hanji hanya membulatkan kedua matanya, melihat temannya terjun ke bawah dengan ringan dari rumah kuno berlantai lima. Tidak buang-buang waktu, wanita itu berteriak nyaring ke bawah. "Sudah kubilang panggil aku 'Hanji'! 'Hanji'! Ingat itu, Rivaille!"
Derap sepatu boots kulitnya menggema melalui gang-gang sempit di sekelilingnya. Kedua pistol di sisi tubuhnya bergerak tidak sabar seirama dengan derap langkahnya yang semakin cepat. Dia tidak boleh terlambat.
Rumah-rumah minimalis yang berdiri kokoh di kanan-kiri tubuhnya menatapnya diam. Rivaille tetap berusaha mengatur napasnya di udara yang dingin dan membuat napas menjadi sesak karena polusi. Rivaille mencium bau anyir dan besi khas darah dari kejauhan. Dia ingin muntah, kalau bukan demi kelangsungan hidup orang yang menyelamatkannya, dia lebih baik mati. Ah, tapi mati sia-sia bukan gayaku.
Suara ringkih dan meringis datang dari salah satu rumah. Rivaille memperlambat langkahnya dan berjalan dengan tenang tanpa suara. Menarik kedua pistol dari kedua sisi tubuhnya dan menyiapkan magazine yang siap digunakan. 'Silver Bullet', begitu kata Hanji.
"Ingat, arahkan tepat ke jantungnya. Jelas ini berbeda dengan kasus vampire. Silver Bullet tidak akan membuatnya mati. Silver Bullet hanya akan melelehkan jantungnya, dan mereka akan beregenerasi dalam beberapa menit. Pergerakan mereka akan melambat dalam menit-menit itu."
"Kita seharusnya membunuh mereka, Zoe. Apa harus ke jantung?"
"Ya, dan benar,lalu kau hanya harus menembakkan ini, sekali lagi ke tengkuk belakangnya agar mereka berhenti beregenerasi dan mati. Tapi alangkah baiknya jika kau bisa membawa salah satu mereka hidup-hidup untuk aku cicipi. Dan panggil aku Han–"
Pikiran-pikiran mengenai buah di dalam pistol Beretta kesayangannya, dan wajah mengerikan yang ditampilkan wanita peneliti itu di akhir kalimat terhenti. Sudah lama memang Hanji bercerita tentang itu, dan ini bukanlah pertama kali Rivaille membunuh mereka.
Kewaspadaan Rivaille meningkat, seseorang membuka pintu dari rumah yang menjadi targetnya. Rivaille mengamati pergerakan bayangan yang terlihat berjalan lunglai keluar rumah.
'Wanita?'
Memasang kuda-kuda waspada, Rivaille menggertak lantang. Jelas, bersikap meremehkan di masa seperti ini, berarti kau memberikan nyawamu penuh suka cita.
"Hentikan langkahmu. Berlututlah, dan jangan membuat kekacauan."
Bayangan itu berhenti. Tepat satu langkah melewati pintu. Rivaille meneliti sosok di hadapannya. Rambutnya berwarna pirang cerah, biarpun ditutupi oleh bayangannya sendiri, warna matanya yang biru muda cerah tetap menyala dalam gelap. Tubuhnya jatuh berlutut dengan luka-luka yang terus mengalirkan darah. Gadis itu terisak ketakutan.
"–Dia di rumahku. Dia menyerangku, dia membunuh orang tuaku. Dia –"
"Hei–"
"Jangan masuk ke dalam, Sir. Malaikat itu–"
STAB!
Rivaille tertegun di tempatnya berdiri. Beberapa detik lalu, gadis itu memberinya peringatan dengan sisa-sisa tenaganya. Namun sekarang, gadis itu sudah terbaring di tanah dengan sebuah pedang minimalis menancap menembus tubuh mungilnya. Tangan gadis itu menggapai angin hampa ke arah Rivaille. Mata biru mudanya menatap kosong ke arahnya. Lelaki itu menahan napasnya, antara jijik dan merasa iba.
"Malaikat?"
Mata hitam kebiruan itu melirik ke arah pintu. Dia mendengar dengusan sebal dari sosok yang keluar dari sana kemudian. Napasnya lagi-lagi tertahan. Sosok di hadapannya menghampiri jasad gadis yang sudah tak bernyawa.
Tubuhnya gagah dan kekar. Sangat semampai dan mulus sempurna. Sosok di hadapannya memamerkan keindahan tubuh bagian atasnya, dan menutup bagian bawahnya hanya dengan kain berwarna putih yang dililitkan ke pinggangnya yang ramping sampai ke lutut.
Kulitnya terlihat manis kecoklatan. Ada sepasang sayap berwarna tak biasa menekuk malu-malu di balik punggung tegapnya. Matanya yang kehijauan menatap jasad itu, dan menendangnya pelan.
"Ah, aku kelepasan. Sudah kubilang untuk keluar dengan tenang dan jangan mengeluarkan suara. Padahal dia cukup manis." Mata hijau itu melirik Rivaille dari sudut matanya, dan menyeringai.
Sial.
Rivaille menatap sosok di hadapannya tajam. Mengarahkan moncong Beretta-nya dan dengan cepat menarik pelatuk. Menimbulkan suara tembakan khas dari Silver Bullet, yang kemudian menggema ke seluruh penjuru. Bagian dada kiri pemuda itu mengeluarkan sedikit darah.
"Ah, selamat malam, Sir. Kau sepertinya sedang sangat marah?" Pemuda bermata hijau di hadapannya menutup kedua matanya, dan melengkungkan bibir ranumnya. Mencoba untuk terlihat tersenyum.
Angin berhembus meniup rambut eboni Rivaille dan menggerakkan awan di atas sana. Bulan purnama keperakkan lagi-lagi menunjukkan sosoknya yang angkuh. Seolah menahan tawa menatap Rivaille yang terpaku.
"Sir, kenapa Anda diam saja? Aku menyukai matamu. Tajam, dan penuh ambisi di dalamnya. Tidak perlu menahan napas seperti itu." Tawa renyah menyusul setelahnya. Membuat sekujur tubuh Rivaille bergidik.
"Kau berisik sekali, bocah."
Pemuda di hadapannya berhenti tertawa, menghela napas geli. Helaian rambut berwarna cokelat kayu lembut bergerak anggun seirama angin. "Hah, kaku sekali kau, Sir."
Rivaille menaikkan salah satu alisnya. Tidak terkejut dengan apa yang dikatakan pemuda di hadapannya. Bukan cuma satu dua orang yang bilang begitu tentangnya. Tidak, bukan salahnya dia begini, keadaan yang membuatnya begini. Lagi pula–
Bukannya aku sudah menembak jantungnya? Apa mungkin regenerasi secepat itu?
"Apa yang kau ingin lakukan? Kau sendiri tau, kalau peluru biasa tidak akan bisa membunuhku. Padahal aku tertarik padamu." Pandangan pemuda itu menilik kilatan di mata Rivaille. Menyentuh bagian dada kirinya yang mengeluarkan masih darah dan dengan cepat bekas luka itu pudar lalu menghilang tanpa bekas di detik-detik pertama.
Tipe abnormal, kah? Baru pertama kali aku melihatnya.
Mata hijau itu menatap Rivaille seduktif. Cukup menarik, ah sangat menarik menurutnya. Wangi khas sandalwood dan mint yang menguar dari sosok yang sedikit lebih pendek di depannya membuatnya nyaris gila. Ingin sekali pemuda itu menjejakkan saliva di leher pria itu dengan lidahnya. Dengan perlahan sampai pria itu menggumam angkuh. Sayang, bagian dada sebelah kiri yang bekas tembakan pria itu masih terasa perih menyengat.
Diantara kerutan alis berwarna senada rambutnya, pemuda itu menyeringai puas sambil menahan perih, menatap bulan yang berada tepat di balik punggungnya, "Ada yang tidak kau mengerti, Sir?" Memamerkan keindahan punggungnya dan tengkuk yang menjadi titik lemahnya ke arah orang yang seharusnya sudah mampu menembak dan membuatnya terkapar sejak tadi.
Sekali lagi, suara khas besi berat yang ditembakkan dari Beretta menggema. Pemuda itu menyentuh tengkuknya yang mengeluarkan darah, dan dengan cepat menguap menjadi butiran cahaya kecil.
"Jadi, ini maksudnya. Benar-benar tidak ada bedanya, eh?"
Dengan anggun, sayap di punggung pemuda bermata hijau itu terkembang. Gagah dan penuh percaya diri. Sisi satu berwarna putih dan sisi lainnya berwarna hitam kebiruan. Warna hitam yang persis dengan mata Rivaille, persis dengan langit malam Shiganshina. Bersamaan dengan luka tembakan di tengkuk belakangnya yang sudah menghilang tanpa bekas.
Dia tidak mati!
Dengan sekali kepakkan sayap, pemuda itu menerjang, menekan, dan menahan Rivaille ke dinding tepat di seberang jalan. Sayap di kanan-kiri tubuhnya menutupi kedua tubuh mereka. Seakan melindungi, atau justru…mengancam? Rivaille tidak boleh dan tidak akan lengah. Rivaille sudah memaksa dirinya sendiri untuk menutup semua celah yang terbuka darinya sejak dulu.
Dengan sangat perlahan, menyesuaikan irama jantungnya yang sudah mulai beregenerasi dibalik kulitnya, pemuda bermata hijau itu mendekatkan kepalanya ke leher Rivaille. Menghembuskan napasnya yang entah kenapa terasa hangat di perbatasan antara leher dan bahu pria yang lebih pendek darinya.
Rivaille menghela napas ringan, "Jangan besar kepala dulu, bocah." Moncong Beretta tepat diarahkan ke jantung pemuda itu. Rivaille sudah sering membunuh mereka dan ini seharusnya tidak sulit. Apa-apaan juga pemuda ini. Mau melecehkan atau membunuhku?
"Namaku bukan 'bocah', Sir," bisik pemuda itu dengan embun hangat yang menerpa telinga kanan Rivaille. Mata kehijauan itu menyala penuh kemenangan menatap Rivaille di balik bayangannya sendiri. Menghadapi pria seperti Rivaille bukanlah kali pertamanya. Namun, sepertinya ini akan berjalan dengan jalurnya sendiri.
Rivaille dengan cepat menarik pelatuk Beretta. Telinganya berdenging sesaat mendengar suara tembakan yang terlalu dekat dan keras. Pemuda itu mundur dan menghindar ke atas dengan anggun dan ringan, seolah menyatu dengan angin malam Shiganshina. Dada kirinya lagi-lagi mengerut perih, dan dengan cepat menghilang.
Rivaille mengarahkan ujung laras pendeknya ke atas, menembak tak tentu arah mengejar pergerakan sang pemuda di langit Shiganshina. Suara tembakkan terus menerus menggema. Rivaille terus berlari, terus mengganti magazine yang telah kosong, dan membuangnya sembarangan.
Percuma. Kalau hanya menembak tak tentu arah, itu percuma!
Pemuda yang tengah berdiri di dekat boks telepon umum merah, menatap kosong ke arah Rivaille yang berdiri sepuluh meter di hadapannya.
"Ah, membosankan~!" desahnya kecewa. Jelas dia mengharapkan sesuatu yang lebih dari menghindar-hindar di langit. Lebih dari raungan Beretta dan bau mesiu yang ditembakkan Rivaille. Lebih dari rasa yang masih perih menyengat dari dada kirinya yang membuat kepalanya pusing. Lebih dari tatapan dingin tanpa emosi yang terus mengejar tengkuknya dengan moncong Beretta.
Dentang lima kali Maria Bell Raksasa mengganggu pikiran-pikiran pemuda itu. Memecah ketegangan di antara mereka berdua. Pemuda itu berkata pelan pada Rivaille, suaranya yang khas tertimpa dengan gema Maria Bell Raksasa. Rivaille mengernyit heran. Menatap bibir pemuda itu mengatup dan membuka dalam waktu yang relatif singkat, sebelum menghilang di langit Shiganshina. Mengatakan sesuatu yang bahkan Rivaille tidak mengerti.
Apa yang…dikatakan pemuda itu?
Rivaille sangat–tidak. Dia bahkan bersumpah pada dirinya sendiri untuk menahan rasa penasarannya. Seharusnya dia bukan tipe orang yang mudah penasaran seperti ini. Apakah pemuda itu mengucapkan suatu mantra?
Tidak ada hal mistik di tengah peradaban seperti ini. Lihat, dia bahkan mengernyit heran dengan isi kepalanya sendiri. Rivaille berjalan menuju apartemennya yang tidak jauh dari pusat jalanan Mariabell.
Bunyi letupan-letupan khas gelembung air yang dipanaskan menyambut Rivaille saat sampai di ruangan miliknya. Matanya menyisir setiap sudut lorong menuju ke dalam, dan mendengus kesal. Semoga saja bukan Hanji yang ada di dalam apartemennya. Meskipun tidak bisa ditolak kalau perutnya meraung kelaparan mencium wangi khas roti panggang dan telur di pagi buta itu.
"Sejak kapan juga Hanji bisa masak?" Rivaille mengernyit penasaran.
"Oh, Rivaille kau telah kembali."
"Hm." Rivaille bergumam menjawab pertanyaan yang diajukan padanya. Syukurlah bukan Hanji.
"Kau mau makan?" wanita berambut hazzel itu menyiapkan sarapan di meja makan, tersenyum maklum ketika pria bermata hitam kebiruan itu melangkah menuju kamar mandi dan tidak menjawab kata-katanya. Suara berisik dari pancuran air sudah cukup untuk menjawab pertanyaannya.
Rivaille menggosok sekujur tubuhnya dengan sabun, dan rambutnya dengan shampoo. Air hangat yang memancar dari shower di atas kepalanya membersihkan tubuh dan rambutnya dari keringat dan busa. Meskipun Shiganshina bersuhu sangat dingin malam tadi, bukan berarti main kucing-kucingan dengan pemuda bermata hijau menyala itu tidak akan membuatnya kotor.
"Kau bisa makan sendiri kan, Rivaille?" wanita yang sebaya dengannya itu ingin tertawa dengan kata-katanya sendiri. Suaranya cukup keras untuk mencapai telinga Rivaille yang sedang menggosok gigi.
"Tentu aku bisa, Petra."
"Baiklah, kalau ada apa-apa jangan ragu hubungi aku. Aku tau kau bisa memasak sendiri, tapi aku tak yakin dengan hasil akhirnya." Wanita itu, yang dipanggil Petra, tengah mengenakan jubah musim dinginnya setelah sempat menyalakan perapian sebelumnya.
"Hm."
"Aku pulang dulu, Rivaille. Kalau ada apa-ap–"
"Ya, aku mengerti."
Jawaban cepat dari Rivaille memotong kata-kata Petra yang menggeleng pelan. "Aku kan belum selesai bicara. Begini-begini aku teman mainmu saat kau masih lima tahun, dan raut wajahmu tidak berubah sama sekali. Coba kau bayangkan anak sebaya kita yang botak itu menangis saat kau mau meminjam seped–"
"Kau sudah pulang, Petra?"
Wajah Petra bersemu merah. Dia memakai sepatu boots cokelatnya tergesa-gesa. "Aku pulang. Dah!"
Pria yang masih di kamar mandi itu mendengar debaman cukup keras dari pintu masuknya yang sudah tertutup. Teringat sendiri gemuruh perutnya yang tidak mau berhenti. Dengan gesit, dia melilitkan jubah mandi di tubuhnya. Dibiarkannya rambutnya yang basah meneteskan air ke sebagian jubah mandinya dan lantai. Membersihkannya bisa nanti.
Rivaille duduk di kursi meja makan dan memakan sarapan sederhana buatan Petra yang masih cukup hangat, ditemani segelas kopi hitam yang membuat sebagian kantuknya hilang. Suara langkah kaki dan deru kendaraan sudah mulai terdengar di kota. Asap yang berbau busuk itu sudah menghilang bersamaan dengan sinar matahari pagi yang hangat menyapa.
Ditemani dengan detik jam di ruang utama, Rivaille bangkit usai sarapan khidmatnya. Menikmati kopi hitam sambil menatap ke jalanan Mariabell yang ramai melalui balkon apartemennya. Seorang wanita paruh baya menyapanya dari balkon sebelah, Rivaille hanya menganggukkan kepala saat melihat di balik apron lusuh wanita itu tersembunyi benda yang berkilat tajam dan marah.
Di salah satu sisi jalan yang sempit di bawah sana, dia mendengar geraman lelaki yang menahan sakit. Bola mata hitam kebiruan melirik kejadian itu. Orang-orang yang lalu lalang di bawah sana berlaku tidak peduli. Seolah yang cabik-mencabik di sana adalah hal yang lumrah.
Ah, kalian berani melakukan hal seperti itu karena matahari masih bersinar di atas kepala kalian. Kalau bulan menyapamu lebih cepat, apa kau masih berani menghujam tubuh-tubuh itu?
"Menikmati makan pagimu, Sir?"
Rivaille tertegun. Kenapa mahkluk itu bisa ada disini!?
.
TBC
.
"Karena aku yakin, ada waktu yang tepat untuk melakukannya."
A/N :
Di sini, saya hanya menggunakan kelakuan 'malaikat' itu; penuh kekerasan dan hawa nafsu, suka melanggar peraturan demi kesenangannya sendiri. Terima kasih yang besar buat Angelfall dan Miss Susan Ee yang sukses buat saya mimpi siang-malem sampe muncul Eren dengan sayap indahnya. *ditabok*
Untuk AU saya menggunakan London keadaan zaman dulu dengan versi modern. *loh *apainimaksutnya *slap*
A-anou... G-genre-nya? TAT *nangis miris garuk tanah*
Dimohon pesan dan kesan dari para senpai dan readers semua ~ *sungkem*
Dan terima kasih sudah membaca sampai sini! *membungkuk dalam*
Sincerelly,
Shiorina
