—Aku pernah menganggapmu aneh.

Seorang yang lebih memilih untuk melindung orang yang terlihat seperti sahabatmu—memang, karena kami kembar—ketimbang keselamatanmu sendiri. Padahal kau sendiri sudah terlihat ketakutan setengah mati. Kemudian kau datang padaku, penuh luka, namun sambil tersenyum, menanyakan keadaanku tanpa memikirkan keadaanmu sendiri.

—Aku pernah menganggapmu sebagai seorang pengecut.

Kau lebih suka menggumam ragu ketika dihadapkan dengan sebuah pertanyaan sulit, kemudian memilih pilihan yang sulit karena pilihan mudah telah diambil oleh orang lain. Tidak pernah berusaha untuk merebut kesempatan itu untuk dirimu sendiri.

(Aku hanya tidak pernah menyadari—penyesalan datang terlambat, kata mereka—kalau engkaulah yang akan memberikan diriku keberanian selama ini.)

—Aku selalu mengidolakan perhatianmu.

Ketika kau menyentuh dan mengelus kepalaku dengan lembut, memberikan senyuman hangat yang selalu membuat sesuatu dalam dadaku berdebar. Aku yang tidak menyukai ketika kau memanggilku dengan nama palsu—sekaligus nama asliku—Mion. Kau yang lebih memperhatikan adikmu ketimbang aku, hanya karena aku adalah seorang Sonozaki, dan yang telah membuatmu dan adikmu menderita.

—Aku yang selalu ingin berada di sisimu di saat yang sulit.

Ketika kau menghadapi masalahmu seorang diri, menolak semua bantuan yang ingin kuberikan dengan wajah lelah dan mata yang meneriakkan kalau kau kekurangan istirahat.

—Aku yang selalu merindukan suara lembutmu.

"Terima kasih," Kau berkata padaku sambil tersenyum lembut, kemudian mengelus kepalaku. Mungkin bagimu ini bukanlah apa-apa. Tapi bagiku, ini sudah seperti oksigen kedua yang kubutuhkan setiap hari.

—Aku yang selalu menantimu.

Waktu seolah tidak menunggumu; dengan detik terus berganti menjadi menit, dan menjadi jam, dan menjadi hari, dan tanpa kusadari, sudah hampir satu tahun aku menantimu datang padaku. Tersenyum dan mengelus kepalaku seperti sebelumnya.

—Aku yang selalu merasakan keberadaanmu di sampingku.

Kau tersenyum sekali lagi. Kulitku mungkin tidak merasakannya, tetapi seluruh saraf dalam tubuhku dapat merasakan jari-jarimu yang cocok di sela tanganku yang bertaut dengan milikmu. Karena kau selalu berada di sisiku, bahkan sampai sekarang, walaupun mataku tidak dapat melihatmu.

—Aku yang rela mengorbankan apapun demi dirimu.

(Semua darah di tubuhku ketika aku bercermin, tidak peduli jika aku sudah membersihkan seluruh tubuhku atau tidak, menjerit balik padaku, mengatakan kalau ini adalah sebuah kenyataan dan bukanlah omong kosong yang dibuat oleh setan yang ada dalam tubuhku.)

—Aku yang tidak sempat mengatakan maaf padamu.

Langit hitam mengingatkanku akan janji yang terlupa olehku, seolah mengejekku dengan semua kekejian yang kulakukan selama ini—yang bisa dimanfaatkan olehku untuk menepati janjiku padamu—dengan bintang-bintang yang bertaburan. Mengatakan padaku kalau kau tidak akan pernah memaafkanku dan menyentuhku seperti dulu lagi.

(Bahkan sakit di kepalaku tidak dapat menyaingi rasa sakit dalam dadaku sekarang.)

—Aku yang selalu berharap bisa mengatakan perasaanku padamu.

Karena—sekali saja, aku ingin melihat sebuah mimpi indah tentang dirimu dan aku. Walaupun aku hanya bisa melihatmu dari balik kaca tebal, terbaring dalam sebuah kubus putih dan terhubung dalam berbagai kabel, tertidur, terus mengharapkan kalau kau akan bangun dan kembali tersenyum padaku dan adikmu, yang selalu berada di sisimu.

—Aku mencintaimu.

Aku tidak mengatakan pernah, karena sampai sekarangpun aku masih merasakan perasaan itu.


oke apa ini saya nggak ngerti oneshot gejes ini, SatoShion terlalu moe gdkfjhnvdkfg

btw, di akhir itu shion (mion?) bilang 大好きです (daisuki desu), bukan 大好きでした (daisuki deshita, alias kata lampau), maaf buat yang agak bingung, karena saya sendiri bingung mau nulisnya gimana _(:'3/

i don't own higurashi no naku koro ni c: