Ini adalah fanfic bersambung saya yang pertama, dan mungkin akan sampai puluhan chapter, itu jika idenya lancar. Nantinya akan ada banyak Original Character di sini untuk melancarkan alur cerita. Meskipun demikian, saya tetap berpegang pada canon.

Penghormatan terbesar bagi yang bersedia membaca, mengomentari, mengkritik, ataupun memberi saran.

Terima kasih

- - - - -

Disclaimer : Harry Potter dan segala karakter di dalamnya adalah milik J.K. Rowling. Beberapa karakter yang dirasa tidak ada dalam novelnya berarti milik saya.

- - - - -

Another Conclusion

By : z-hard

- - - - -

Chapter 1 : Randevu

Matahari menjulang tinggi di atas kepalaku, menerangi rerumputan yang melambai dan daun-daun di puncak tinggi batang pohon yang berdiri tegak, sehingga warna kehijauan mereka bercampur dengan kuning. Air danau yang tak jauh dari tempatku berpijak memantulkan cahaya sehingga airnya terlihat berkilauan dan menari-nari, benar-benar menggodaku untuk menceburkan diri ke dalamnya, pikiran wajar yang terlintas pada awal musim semi yang pengap seperti sekarang ini. Aku bisa mencium bau matahari dari rambut anak-anak sekompaniku. Mereka mengucurkan keringat dari pelipisnya, begitu pula aku. Berlarian dengan kalap di bawah matahari dengan angin lembab yang sangat kontras memang bukanlah suatu pilihan yang bijak.

Ada tiga anak yang pontang-panting mengikutiku berlari, salah satu dari mereka kelihatannya sudah mau pingsan. Bobot tubuhnya yang dua kali lebih berat dariku rupanya menjadi faktor penghambat dalam pelarian ini. Aku harus membantunya berlari, jika tidak dia akan sering sekali tersandung, terjerat rumput hijau yang dengan angkuh enggan diinjak-injak anak-anak ingusan seperti kami. Nama anak gendut itu Peter Pettigrew. Meskipun gendut, tinggi tubuhnya kelihatannya tidak mengimbangi itu, karena kepalanya hanya sejajar dengan sikuku, sehingga mudah sekali bagiku untuk menjitaknya jika dia sudah mulai mengeluh kelelahan lagi.

Jika aku sudah mulai jengkel dengan sikapnya yang satu itu, maka anak yang lain akan gantian membantunya berlari, terutama anak yang berambut cokelat muda itu. Dengan kerendahan hati dan keikhalasan yang luar biasa, dia berusaha menolong Peter, padahal tubuhnya jauh lebih lemah dariku. Ekspresi wajahnya juga mendukung interpretasi siapapun yang menilainya sakit-sakitan, karena dia memang selalu terlihat lelah dengan warna kulitnya yang pucat. Tetapi senyumnya yang kontras dengan keadaannya membuat kelesuannya sama sekali tidak berarti, sehingga bagi kami, senyumannya adalah hal favorit. Dengan susah payah Remus Lupin menarik lengan Peter, "ayo Peter, jangan menyerah pada nasib!" mungkin itu maksud dari senyuman tipisnya.

Sementara anak yang paling tinggi kelihatan prihatin dengan pemandangan dua anak itu. Rambut hitamnya yang lurus sesekali jatuh ke wajahnya yang angkuh, seakan merendahkan segala apa yang dilihatnya. Namun bagi kami tidaklah demikian, karena dalam tatapan itulah kami melihat kepercayaan, kesetiaan yang tidak akan pernah kami ragukan. Sirius Black, anak itu, berkali-kali menyuruh Remus untuk menyerah dan melepaskan urusan Peter padanya. Sebuah gelengan kepala sebagai balasan rupanya telah mengusik harga diri Sirius yang memang kelihatan jauh lebih sehat dan kuat dari Remus.

Jubah kami berkibar-kibar diterbangkan angin. Baru kali ini aku tidak bangga dengan imej penyihir yang selalu mengenakan jubah, karena menurutku jubah ini menyulitkan untuk berlari, apalagi untuk dibawa melaju melawan arah angin. Kami tidak memiliki waktu untuk melepasnya, karena untuk melihat ke mana arah kami berlari saja sudah sulit. Setetes keringat yang meluncur turun ke mataku membuat pandanganku kabur, dan beberapa saat aku berlari tanpa melihat karena aku sibuk mengusap mataku dengan lengan jubah yang sudah lembab karena keringat itu.

"Belok kiri, James!" kudengar suara Sirius Black berseru lantang, meskipun demikian, suaranya tercekat dan putus-putus, kentara sekali dia berusaha berteriak sementara napasnya tidak kuat lagi. "Kurasa keputusan terbaik adalah menuju pondok Hagrid!"

Oh, begitu bijaksana sahabatku yang satu itu, masih bisa berpikir jernih ketika kami semua kalap. Dia benar, pondok Hagrid adalah pilihan paling baik dan paling masuk akal, di samping memang tidak ada pilihan lain. Pondok Hagrid adalah tempat favorit kami setelah pohon beech yang tertanam di pinggir danau. Masalahnya adalah, pohon beech tidak bisa menyembunyikan kami sekarang ini. Yang bisa melakukan hal itu sekarang adalah pondok Hagrid, jadi kami memutuskan untuk pergi ke sana.

Baru kali ini aku merasa bahwa pondok hagrid sangatlah jauh, entah ini hanya perasaan, sugesti, atau kenyataan dan selama ini akunya saja yang bodoh sehingga tidak sadar. Yang jelas, kami seperti pelari atletik yang sumringah karena telah berhasil menerjang pita finish saat kami akhirnya sampai di depan pintu pondok kecil yang mengepulkan asap dari cerobongnya. Dengan sedikit sekali tenaga yang tersisa, kami mengetuk pintu kayu itu.

TOK TOK!

Kami mendengar seruan dan langkah-langkah menggelegar dari dalam, kemudian pintu di depan kami menjeblak terbuka dengan sangat kencang, membuat masing-masing dari kami terlonjak saking kagetnya, bahkan Remus nyaris menjatuhkan Peter kalau dia tidak bisa menguasai diri. Jika kami memandang lurus, kami hanya akan melihat segumpalan daging besar yang dibalut jubah tikus mondok yang sangat khas. Untuk melihat siapa pemilik gumpalan daging tadi, kami harus mendongak seperti ketika memberi hormat pada bendera Inggris. Hagrid, si pemilik pondok, adalah manusia berukuran tidak biasa. Dia seperti tujuh orang normal besar yang digabung menjadi satu. Rambut dan brewok berantakan menutupi wajahnya sehingga meninggalkan kesan mengerikan. Padahal di balik rambut-rambut itu, adalah wajah Hagrid yang penuh senyum dan ramah, salah satu alasan mengapa kami menjadikan pondok Hagrid sebagai tempat favorit. Dia celingukan kanan-kiri, mencari siapa yang mengetuk pintunya, membuat aku sedikit tersinggung. Dia baru paham ketika menunduk dan menemukan kami, kemudian tertawa menggelegar.

"Hahahahaha! Ternyata kalian! Masuk, masuk! Aku baru buat makan siang. Masuk dan makan dulu sini!" Kami tidak perlu disuruh dua kali untuk masuk, tetapi kami akan pikir ulang seribu kali untuk makan masakan Hagrid. Dia memang orang yang sangat baik, tetapi masakannya mengerikan. "Tumben kemari. Biasanya sibuk bikin onar, kalian itu eh?" tebaknya ketika kami sudah duduk di tempat yang kosong.

Sebenarnya, pertanyaan Hagrid tadi itu retoris, tidak perlu dijawab, karena secara tersirat itu bukan pertanyaan, melainkan sindiran yang biasa ditujukan untuk kami. Secara tidak langsung, pertanyaan yang sebenarnya pastilah "kalian pasti buat ulah lagi lalu kabur kemari kan?" Dan tidak perlu kukatakan lagi bahwa dia benar. Nyatanya kami berlari pontang-panting, melawan arah angin dan bersedia dipanggang matahari semata-mata hanya untuk melarikan diri dari kejaran Argus Filch, penjaga sekolah bersosok orang tua mengerikan pemakan anak seperti dalam film-film horor Muggle.

Mr Filch tidak seperti penyihir dewasa kebanyakan. Dia memiliki wajah jelek menyebalkan yang selalu dilipat dan dikernyitkan, seakan memandang dunia sebagai kotoran babi. Kepalanya botak di depan dan bagian belakangnya berambut panjang mengerikan dengan uban dimana-mana. Tubuhnya kurus ringkih dan kakinya pincang sehingga kalau jalan dia mesti menyeret kakinya. Meskipun demikian, jangan sesekali berpikir dia adalah orang tua tak berdaya, sebaliknya, di balik tubuhnya yang kurus, dia akan sangat kejam dalam menghukum anak-anak yang melanggar peraturan. Mr Filch juga punya kompani yang selalu setia dalam perburuannya, yaitu kucing bernama Mrs Norris. Aku tidak tahu kucing itu jantan atau betina, yang aku tahu, karena dia dinamai Mrs, berarti dia betina. Mrs Norris punya pandangan yang tidak kalah menyebalkan dari Mr Filch, karena mata kucingnya yang bersinar selalu terlihat mengejek kami jika kami sedang dihukum membersihkan toilet.

Kami sudah menjadi incaran nomor satu Mr Filch sejak awal kami menginjakkan kaki di Sekolah Sihir Hogwarts, dan kami sungguh tak paham apa motifnya melakukan itu. Kami hanya sedikit bercanda dengan meledakkan bom kotoran di koridor, dan kami sudah menemukan dia mengejar kami sambil menyumpah-nyumpah akan menggantung terbalik kami di puncak menara Astronomi jika ia berhasil menangkap kami. Maka di sini lah kami sekarang, berada dalam pondok Hagrid dan disuguhkan makanan mengerikan sang tuan rumah.

Suasana kehangatan pondok Hagrid menyapu habis kekhawatiran kami akan kejaran Mr Filch dan membuat kami melupakan bahwa hukuman mengerikan menunggu kami jika kami kembali ke sekolah. Tetapi saat itu kami benar-benar tidak peduli, karena dengan damai dan menyenangkan kami bercengkrama, mengobrol apa saja sesuatu yang bisa diobrolkan, entah isu korupsi di Kementrian Sihir atau nilai Galleon turun terhadap Poundsterling—yang saat itu tidak kami mengerti karena kami masih sebelas tahun.

- - - - -

Seperti yang telah kami duga, kami disambut dengan seringai mengerikan Mr Filch bahkan sebelum kami sempat menginjakkan kaki di koridor depan kastil. Kami benar-benar lupa bahwa kami masih dalam pelarian, dan dengan ceroboh berjalan menju kastil tanpa ada perasaan bersalah maupun curiga. Kami hanya bisa membalas seringai itu dengan cengiran gugup, berharap cengiran bisa meluluhkan hati kejam Mr Filch yang sekuat batu kali.

"Nah, anak-anak bandel, kini saatnya keadilan berbicara!" ujar Mr Filch penuh kemenangan, Mrs Norris di sebelahnya, mengeong mencela. Kemudian tangan Mr Filch menyambar liar dan menjewer telingaku, menyeretku bersamanya seperti dia menyeret kakinya. Aku meraung-raung kesakitan. Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa di antara kami berempat, dia memilih aku untuk dijewer dan diseret! Padahal masih ada Sirius yang wajah sombongnya jauh lebih menarik untuk dibuat kesakitan, atau Peter yang pasti akan teriak lebih histeris kalau dijewer. Tetapi aku tidak bisa menyatakan keberatanku itu padanya karena mulutku sibuk mengeluarkan jerit, dijewer dan diseret oleh Mr Filch berarti sama saja merelakan daun telingamu putus.

Kami digiring hingga kantor Mr Filch yang gelap, kusam, dan berbau seperti ikan busuk. Kami baru pertama kali ke sini, jadi kami baru paham kenapa Mr Filch bisa menjadi begitu sinting, karena tempat kerjanya saja sudah dengan sukses membuat kami ingin muntah. Aku dihempaskan ke lantai oleh orang tua itu dan pantatku nyeri saat bertubrukan dengan lantai batu yang selalu dingin. Aku ambil saja nilai positifnya, yaitu aku tidak perlu lagi merasakan rasa perih diakibatkan jeweran Mr Filch.

Kami mengawasi dengan cemas saat Mr Filch dengan liar membongkar-bongkar meja kerjanya, mencari sesuatu entah apa. Kami tahu bahwa sesuatu yang ia cari tidaklah ada di situ karena Mr Filch menggeram kesal dan dengan terseok-seok keluar dari ruangannya setelah memperingati kami agar jangan berani keluar dari ruangan ini sebelum dia kembali.

Begitu pintu terbanting tertutup, aku hanya mengangkat bahu dan bangkit dari posisi memilukan tadi. Aku mengibas-ngibaskan jubahku dari debu lantai yang menempel, kotor benar ruangan ini. Remus terbatuk-batuk karena baunya yang memang tidak tertahankan dan tidak wajar. Peter menepuk-nepuk punggungnya dengan niat agar membuatnya baikan, tetapi sepertinya batuk Remus makin parah karena itu.

Mataku menjelajahi seisi ruangan kumuh itu, isinya hanya rak-rak setinggi langit-langit yang diisi dengan buku-buku tua dan perkamen-perkamen. Mr Filch benar-benar tidak mengerti estetika dan tata ruang karena kelihatan sekali dia meletakkan seluruh barang-barang itu asal-asalan. Sementara meja kerjanya tidak lebih baik, segala jenis perkamen dan tinta berhamburan di atasnya. Jelas saja Mr Filch tidak menemukan apa yang dia cari, toh meskipun ada, dia tidak akan bisa menemukannya dalam ruangan yang seperti kapal pecah ini.

Satu yang membuatku tertarik adalah suatu perkamen yang tergeletak di atas mejanya dan sebuah tulisan meliuk-liuk di situ membentuk nama-nama yang kami kenal—nama-nama kami. Aku menarik perkamen tadi agar bisa kubaca lebih jelas. Sirius dan Remus berkumpul di belakangku untuk ikut membacanya, sementara Peter berjingkat-jingkat menyedihkan, berusaha untuk membaca pula, tetapi karena aku mengangkat perkamen terlalu tinggi, matanya tidak bisa menjangkaunya.

Mataku memindai apa yang tertulis di situ, rupanya sebuah laporan mengenai tindak kriminal kecil yang kami lakukan saat hari-hari pertama kami di Hogwarts. Secarik perkamen itu mengingatkanku pada memori yang tidak akan pernah aku lupakan, suatu momen awal yang menandakan terciptanya sekelompok anak kecil yang berjanji akan membuat namanya tertera dalam sejarah kehidupan penyihir.

- - - - -

Saat itu malam kedua kami berada di Hogwarts. Malam itu tenang dan tidak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang mengejutkan, minimal sampai aku berpikir demikian. Makan malam telah dihidangkan di tiap meja asrama di Aula Besar yang megah. Langit-langit melengkung yang sangat tinggi di atas kepalaku menunjukkan pemandangan langit malam yang sangat indah, sementara lilin-lilin yang disihir melayang-layang di atas kami, menerangi selayaknya kunang-kunang. Aku, Sirius, Peter, dan Remus—yang saat itu belum aku kenal dekat, turut serta dalam ritual mengisi perut itu. Semua, termasuk aku, melahap makanannya dengan sangat antusias seperti anak kekurangan gizi, kecuali Remus yang selalu kelihatan lelah.

Makanan telah habis dan perut telah kenyang, aku mendongak menuju meja asrama Slytherin. Entah mengapa aku selalu merasa Slytherin merupakan asrama yang 'gelap', mungkin karena dulu ayahku pernah bercerita bahwa Slytherin adalah penghasil penyihir hitam terbanyak, dan aku, sebagai pembenci ilmu hitam nomor satu, otomatis menjadi pembenci Slytherin nomor satu pula.

Aku mengerling sebentar menuju meja guru, memastikan bahwa Profesor Dumbledore tidak ada, dan memang tidak ada. Aku tercipta dengan otak yang selalu memproduksi ide-ide cemerlang, dan anak yang cerdas adalah anak yang memanfaatkan kelebihannya kan? Maka diam-diam aku mencabut tongkat sihirku, menunjuk lilin-lilin yang melayang di atas kepala anak-anak Slytherin dan... memantrainya jatuh.

Lilin-lilin berjatuhan tanpa ampun menuju meja Slytherin, membuat semua yang berada di meja itu menjerit dan bangkit menjauh. Semua kepala otomatis menuju meja itu, dan suara gemuruh anak-anak langsung memenuhi ruangan. Anak-anak Hufflepuff terlihat pucat, panik, dan bingung, sementara para Ravenclaw dengan gayanya yang intelek memikirkan segala teori kemungkinan bagaimana fenomena ini bisa terjadi. Gryffindor bersorak kegirangan, karena rupanya bukan hanya aku saja yang menganggap Slytherin adalah musuh abadi Gryffindor. Slytherin sendiri, sebagai asrama korban, jauh lebih ramai. Kebanyakan menyumpah-nyumpah, dan saat aku memantrai lilin-lilin tadi untuk mengikuti mereka dan membakar jubahnya, mereka berteriak lebih heboh lagi.

Sirius tentu tahu bahwa akulah dalang segala keributan ini, dia memiliki jalan pikiran yang tidak jauh melenceng dari jalan pikiranku. Dia rupanya telah mencium bau kesenangan dari sini dan ikut-ikutan mencabut tongkatnya, menambahi jumlah lilin yang jatuh. Di sela-sela keributan, aku mencari anak Slytherin berhidung bengkok dan memiliki rambut berminyak menjijikkan, Severus Snape, musuh pertama dan abadi. Aku memantrai salah satu lilin untuk mengejarnya dan membakar jubahnya juga. Peter tertawa seperti maniak.

Para staf guru juga bangkit dan dengan putus asa menyuruh anak-anak untuk tenang. Karena Profesor Dumbledore, sebagai penyihir paling berpengaruh di sini, tidak sedang ada di tempat, maka yang berinisiatif untuk melakukan tindakan konkrit hanyalah Profesor McGonagall, kepala asrama kami yang terlampau tegas. Setelah menyuruh para guru lain membereskan keadaan yang kacau balau itu, dengan sigap dia membaca keadaan dan berjalan cepat ke arahku. "Mr Potter! Detensi! DETENSI SELAMA SATU MINGGU UNTUKMU DAN MR BL—JANGAN LARI!"

Peter menarik tanganku dan membawaku kabur dari amarah menggelegar Profesor McGonagall, sementara Remus, yang entah kenapa tiba-tiba terlibat dalam keributan ini, menggiring Sirius. Sekelebat aku melihat Profesor McGonagall memanggil-manggil prefek Gryffindor, Alphonse Claybel, yang cukup aku kenal baik karena dia juga merupakan kapten tim Quidditch asrama kami. Alphonse mengangguk sok tahu setelah menerima perintah Profesor McGonagall, kemudian dengan stamina atlet Quidditch, dia berlari menerjang kami. "Potter! Black! Lupin dan Pettigrew juga, jangan harap bisa lolos!" serunya lantang, benar-benar kharisma kapten tim Quidditch!

Tapi bukan berarti kami berniat kalah, karena kami pun berusaha menambah kecepatan berlari kami, dari Gerak Lurus Beraturan menjadi Gerak Lurus Berubah Beraturan, yang mana artinya kami konstan menambah kecepatan kami. Masalahnya adalah pada perbedaan stamina. Kini jelas terbukti bahwa olah raga akan membuatmu menjadi semakin prima, karena sangat mustahil bagi anak ingusan sebelas tahun kurang olah raga seperti kami bisa lolos dari kejaran remaja lima belas tahun kapten tim Quidditch. Jadi, dengan horor aku memerhatikan Alphonse melakukan tolakan lompat jauh dan terbang menerjang tubuh kecil kami.

DUAK!

Kami berempat terpencar ke segala jurusan. Aku terbanting ke lantai, sementara Sirius menabrak tembok koridor. Peter terseret jauh ke depan dan Remus terlempar ke arah yang sama, beruntung jatuh di atas Peter yang berfungsi sebagai peredam benturan. Melihat tangkapannya sekarat tidak berdaya, dengan riang Alphonse berteriak ke belakang, "Profesor! Profesor McGonagall! Aku berhasil menangkap Potter dan Black!"

Beberapa detik kemudian Profesor McGonagall dengan jubah hijau zamrudnya muncul dengan ekspresi singa lapar yang tidak makan satu bulan. Dia menarik napas panjang dan berteriak sangat keras, sehingga aku berani bertaruh suaranya memantul hingga dapat terdengar oleh anak-anak yang masih di Aula Besar, "POTTER, BLACK, LUPIN, DAN PETTIGREW!! DETENSI SELAMA DUA MINGGU DI KANTORKU DAN POTONG TIGA PULUH POIN GRYFFINDOR DARI TIAP ANAK!"

Jadi, meskipun kami belum mencetak nama kami dalam sejarah penyihir, minimal kami telah mengukir nama kami dalam sejarah Hogwarts, sebagai penerima detensi perdana termuda dalam seratus tahun belakangan ini.

- - - - -

TBC