A/N: HALOOOOOOOOOOOOOOOOO! *teriak pake toa* SugarString kembali lagi ke dunia perfanfic-an (?) setelah lama tak bersua (?). Readers ada yang kangen sama saya? *pede tingkat tinggi* kayaknya sih nggak ya... hahaha...

ehem.. kembali ke laptop. Saya sekarang kembali dengan fic Romance/Humor(dikit)/Hurt/Comfort(dikit juga) dengan karakter Australia dan Indonesia. Sebenernya ini fic udah dapet ide dari kapan tau tapi ga selese-selese gara-gara saya terlalu mager. ahahaha... akhirnya kesampean juga ya buat nge upload... *curcol*

Disclaimer: nggak usah ditulis ya... you know what i mean...

Please enjoy~


"Bagaimana kalau begini, Neth, kau akan memberikan Indische mu itu padaku. Dan aku akan membiarkanmu pulang kembali ke Eropa." Seorang lelaki beralis tebal berkata.

"Kau yakin, Arth?" Tanya lawan bicaranya, lelaki dengan rambut jabrik.

Sang lelaki beralis tebal terkekeh. "Yakin sekali.." Katanya dengan penuh percaya diri.

"Baiklah, kalau begitu ketentuannya.." Si lelaki berambut jabrik menghela napas. "Tapi suatu saat aku pasti akan kembali.." Lanjutnya sambil menandatangani perjanjian.

"Tentu temanku, tentu.." Seringai si lelaki beralis tebal. "Dengan ini kontrak selesai."

Diluar ruangan, seorang gadis tengah menguping pembicaraan. Kepalanya tertunduk. Membayangkan kekejaman apa yang akan dilakukan oleh calon penjajahnya itu. Ia berlari ke kamar. Berharap esok hari tidak pernah datang.

.

.

.

.

Chapter 1

When I met him

.

.

.

.

Indonesia's POV

Aku terbangun di atas kasur lapukku yang biasa. Haah.. Satu lagi hari yang melelahkan dengan penjajah-penjajah brengsek itu..

Aku beranjak dari tempat tidurku dan segera mandi. Setelah itu aku berganti baju menjadi kebaya sehari-hari dan mengonde sisa rambutku. Aku bergegas menyiapkan sarapan untuk Netherland. Ya, untukNYA, bukan untukku.

Begitu aku selesai, seorang prajurit menghampiri ku. "Kau dipanggil tuan Netherland di ruang kerjanya." Haah... Kerjaan apa lagi yang mau dia berikan ya...

Aku berjalan menuju ruang kerjanya yang berada di ujung koridor. Kuperhatikan ukiran khas jepara yang terukir di pintu masuknya. Membayangkan kerja keras rakyatku untuk membuat sebuah pintu ini. Aku lalu mengetuk pintu itu.

"Masuk." Seru suara di dalam. Aku segera masuk dan kulihat dua orang lelaki. Yang satunya adalah Netherland itu sendiri, dan yang satunya lagi aku tidak tahu.

"Indische, ada yang mau ku bicarakan denganmu." Aku mendelik mendengar caranya menyebut namaku.

Tanpa memedulikanku, dia melanjutkan. "Ini," katanya sambil menunjuk lelaki beralis tebal di sebelahnya, "adalah England. Mulai sekarang dia akan menjadi penanggung jawabmu."

Lelaki yang disebut England itu tersenyum. "Selamat pagi. Namaku England. Senang berkenalan denganmu Indische." Katanya sambil mengulurkan tangan.

"Namaku Indonesia, bukan Indische." Kataku sambil menjabat tangannya.

"Ah, maaf.." Katanya. "Aku hanya mengikuti apa yang Neth katakan.. Lidahnya memang agak aneh kau tahu.."

Dalam hati aku mencibir. Mereka semua sama saja. Saat pertama kali bertemu ramah sekali. Dan saat kita membuka hati pada mereka, barulah pribadi asli mereka tampakkan.

Tiba-tiba Netherland memotong pembicaraan. "Siapa yang kau panggil berlidah aneh tadi, alis tebal?"

"Harusnya aku yang tanya. Siapa yang kau panggil alis tebal tadi, kepala tulip?" Yep, aku bisa merasakan aura intimidasi dari alis teb-coret, maksudku England..

Kepala tul-coret lagi, maksudku Netherland, menghela nafas. "Memangnya kau lihat ada yang beralis ulet bulu lagi selain kamu?"

"YOU BLOODY GIT! WHAT THE F***ING HELL DID YOU JUST SAID?"

Aku bengong. Komodo bengong. Dunia bengong.

Aih, maaf, aku memang agak lebay, kau tahu (Nesia, setau author belom ada kata lebay waktu jaman penjajahan..). Oh, belom ada ya? Ya sudah, lanjut.

Tanpa banyak bicara lagi, aku langsung keluar dari ruangan itu. Sungguh, tadi itu adalah adengan paling OOC yang pernah kulihat.. (OOC juga belom ada Nes.. Nesia: bacot lo thor...)

Aku segera menuju ke dapur. Kuambil makanan sisa tadi malam yang kuletakan di lemari. Aku tidak punya waktu untuk memasak lagi karena aku masih ada pekerjaan lain.

Segera kulahap habis makanan di atas piringku itu. Setelah membereskan peralatan makan, aku berjalan keluar. Tugasku berikutnya adalah mengambil air. Mata air terdekat terletak cukup jauh dari sini. Harus melewati hutan dulu. Makanya aku harus berangkat pagi kalau mau pulang sebelum sore.

Kuambil ember dan keris untuk berjaga-jaga. Sambil berjalan melewati desa, aku menyapa setiap orang yang kutemui. Tak beberapa lama kemudian, aku sampai di perbatasan hutan. Bagi orang awam, mungkin mereka akan tersesat di sini. Tapi, aku sudah hapal hutan ini seperti belakang kepalaku sendiri. Hutan ini adalah tempat bermainku sejak kecil, saat kakek majapahit dan nenek sriwijaya masih ada.

Aku melangkah masuk hutan. Aaah... Suasana di hutan ini menyenangkan seperti biasa. Damai sekali. Aku sebenarnya agak bersyukur diberi tugas ini. Yah, diluar aku disuruh-suruh seperti ini..

Kresak.

"Siapa itu?" Seruku kaget.

Kresak.

"..." Aku melangkah mundur. Kuraih keris di balik lipatan kebayaku.

Kresak.

"HIAT!" Seruku sambil melemparkan keris.

Keris itu mendesing membelah udara. Menerobos dedaunan dan menancap pada sebatang pohon.

"OW!" Sebuah jerit kesakitan mengejutkanku. Mampus. Jelas itu bukan suara binatang. Nesia bodoh! Gimana kalo rakyatku yang kena?

Aku berlari menghampiri sumber suara. "Maaf! Kau tidak apa-apa?"

"Apa-apa sekali tau! Kamu tuh cewek apa cewek sih? Garang banget!" Di depanku sekarang ada seorang cowok yang tengah menutupi goresan di hidungnya. Dari goresan itu darah segar mengalir.

Aku menggigit bibir bawahku. Celingak-celinguk aku mencari tanaman obat. Beruntung didekat kami ada beberapa.

Kurobek daun itu menjadi bagian-bagian kecil. Kudekati cowok itu dan kusingkirkan tangannya yang menutupi luka.

"Ah, hei! Apa yang kau-" dia mulai meronta.

"Diam! Aku mau mengobati lukamu! Jangan meronta!" Perintahku.

"Memangnya kau bisa? Dan lagi, tanaman apa yang kau pegang itu?" katanya lagi sabil memandang horror tanaman yang kupegang. Aku menghela napas. Dia kira aku sedang berusaha meracuninya apa..

Tanpa peringatan, aku menutup mulutnya. Menghentikan ocehan nggak mutu yang keluar dari mulutnya.

"Aku cuma mau mengobatimu.. Nggak akan kuracuni kok! Jadi diam ya!" Kataku sambil memasang puppy eyes terbaikku.

Dia mulai diam. Aku tersenyum. Siapa sih, yang nggak luluh sama puppy eyes ku?

Aku mulai mengolesi lukanya dengan tanaman tadi. Lalu, luka itu kututup dengan sapu tanganku.

"Hei, kau siapa? Kenapa gadis sepertimu ada di tengah hutan seperti ini?" Tanyanya.

"Kau sendiri? Aku belum pernah melihatmu. Apa kau tentara England?" Aku balas bertanya.

"Tentara? Bukan, lah! Aku jajahannya.." Jawabnya.

"Jajahan? Berarti kau sama sepertiku dong?" Seruku agak semangat. Maklumlah, aku belum pernah bertemu sesama jajahan..

"Kau? England memang bilang aku akan bertemu orang baru sih.. Berarti kau itu.. In... In.." Dia berusaha mengingat-ingat namaku.

"Indonesia."

"Ohiya! Indonesia!" Serunya. "Salam kenal indonesia! Namaku Australia! Panggil saja Aussie!" Cowok itu, atau Aussie tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya.

"Panggil saja Nesia.. Kalau mau.." Kataku sambil menjabat tangannya.

"Jadi, Aussie, kenapa kau ada di tengah hutan begini?" Tanyaku.

"Oh, itu.. Aku sebenarnya senang sekali berpetualang. Jadi waktu mendengar kalau tempat ini banyak hutannya, aku jadi semangat. Langsung saja aku memasuki hutan terdekat desa dan kujelajahi. Tapi begitu mau pulang, aku tidak bisa menemukan jalannya." Jelasnya panjang lebar.

"Jadi, intinya kau... Kesasar?" Tanyaku setengah nggak percaya. Dia mengangguk malu-malu.

Aku nggak bisa menahan tawaku. Aku tertawa keras sekali sampai aku yakin burung-burung kabur mendengar suaraku.

"J-jangan ketawa seperti itu dong..!" Mukanya berubah semburat merah.

"Ma-maaf.. Habis.. Kau konyol sekali.. Mana ada petualang yang nyasar.." Aku meresapi kata-kataku dan mulai tertawa lagi.

"Ha-habisnya kan, aku nggak pernah pergi ke hutan tropis sebelumnya!" Katanya tak mau kalah. "Lagipula, ngapain kamu disini? Di tengah hutan?"

"Ooh.. Itu.. Aku sebenarnya harus mengambil a.." Aku tercekat. Sial. Aku baru ingat.

"AKU KAN HARUSNYA MENGAMBIL AIR!"


Aku berjalan mengikuti sosok Aussie di sepanjang lorong. Sesekali kupercepat langkahku untuk bisa menyusul langkahnya.

"Jadi Aussie, siapa yang mau kau pertemukan denganku?"

Dengan semangat dia menjawab, "Tentu saja bertemu dengan yang lain dong! Mulai sekarang kan kau jajahannya England juga, jadi, kau haru mengenal yang lainnya!"

Tanpa sadar kalimatnya membuatku bersemangat. "A-ada yang lain juga?"

Anak lelaki itu mengangguk kecil. "Iyap! Kau pasti senang bertemu dengan mereka. Mereka semua orang baik kok!"

Aah… betul sekali… aku merasa sangat amat bahagia. Selama ini aku hanya jajahan Nethere satu-satunya. Otomatis aku hanya sendirian menghadapi diktator yang satu ini..

Aussie tiba-tiba berhenti. Dia lalu membuka pintu yang ada di depannya, dan berhenti lagi. Bingung, aku medekatkan diri ke arahnya. Dan tidak butuh waktu lama untukku untuk menyadari bahwa itu adalah ide yang sangat buruk.

"TEMAN TEMAAANN~"

Astaga. Apakah itu tiupan sangkakala?

"AAH! Berisik kau kak!" seru seorang anak laki-laki dengan rambut ikal.

Aussie hanya nyengir. "Ehehe… jangan marah begitu dong, Newzea~ "

Sesuatu segera melayang ke arah kami, dan apakah itu seekor domba? "Kakak kenapa nggak bisa mengecilkan volume suara kakak sedikit saja? Nggak bisakah kakak tenang sedikit seperti Hong Kong?" anak laki-laki itu lanjut mengomeli Aussie.

"hmm? Siapa itu yang ada di belakang kakak?" Tanya seorang gadis kecil dengan kuciran kembang sepatu, menghentikan perdebatan yang sepertinya tidak akan pernah berakhir kalau dia tidak menyela.

"eh? Oooh.." sahut Aussie seperti mengingat sesuatu. "Ini alasanku datang kemari, untuk memperkenalkan anak ini! Namanya Indonesia, mulai sekarang dia akan menjadi bagian dari kita!" cerocosnya penuh semangat.

Sontak seisi ruangan yang tadinya sibuk dengan kegiatan masing-masing langsung memperhatikan aku. "Se-senang bertemu kalian.. namaku Indonesia. Tapi kalian bisa memanggilku Nesia.." kataku agak gugup.

Aussie lalu melanjutkan sesi perkenalan. "Oke, sekarang anak yang galak tadi itu adikku, namanya New Zealand." Katanya sambil menunjuk anak laki-laki berambut ikal tadi. "Lalu yang itu adikku juga, namanya Wy." Jarinya berpindah ke gadis berkucir kembang sepatu tadi. "Lalu yang bertampang datar itu Hong Kong. Terus itu India, dan itu Seychelles. Lalu ada si kembar America dan.. umm.. siapa ya namanya aku lupa…" Lanjutnya sambil menunjuk anak-anak yang lain.

"Daan yang terakhir itu Mal-" "Malay?" sebelum Aussie sempat menyelesaikan kalimatnya, aku memotongnya. Ya, aku nggak mungkin salah, meskipun sudah bertahun-tahun tidak bertemu, aku yakin itu pasti adikku Malaysia!

"Ka-kak Nesia?" serunya seperti tidak memercayai penglihatannya sendiri. "Brunei! Singa! Kesini! Coba tebak—" Malay berseru lagi, dan tak lama kemudian terdengarlah 2 suara lain yang sangat familiar.

"Ada apa sih, kak Malay?" muncullah 2 orang anak lelaki, yang satu berpenampilan sangat islami dan yang satunya bertampang lumayan datar. Yap, tak salah lagi.

"Brunei! Singapur!" teriakku penuh suka cita. "K-kak Nesia?" "Kak Nesia!" mereka berdua berseru dan mulai berlari kearahku, dan memelukku.

Aku tertawa. Tertawa sampai rasanya tangisku mau meledak. Aku sudah lama tidak bertemu mereka, semenjak orang-orang itu datang dan memisahkan kami. Aku bahagia sekali. Rasanya beban selama puluhan tahun terangkat sudah, karena aku bisa bertemu mereka lagi.

Tanpa sadar air mataku meleleh. Kakiku mulai limbung hingga aku terjatuh. Tawa bahagia itu berganti menjadi tangisan. Tangisan bahagia.

Dan saat itu semua orang mengerubungiku untuk menenangkan tangisanku. Semua termasuk ketiga adikku itu.


"Oooh… jadi mereka bertiga itu adikmu ya, Nesia?"

Semburat jingga metahari sore menyinari nusantara. Aku dan Aussie tengah duduk di pendopo yang terletak di taman belakang rumah. Setelah insiden tadi, dia memintaku untuk bercerita kepadanya.

"Iya.." jawabku sambil terseyum. Mataku masih sembap karena habis menangis.

"Kalau begitu, syukurlah! Kamu sekarang bisa bersama mereka lagi kan? Ayo yang semangat!" serunya sambil melompat berdiri dari pendopo.

"Ya, tentu.." jawabku tersenyum riang. Senang sekali bisa punya teman yang penyemangat seperti ini…

Tak sengaja aku menangkap raut wajah Aussie saat itu. Entah itu benar apa tidak, saat itu wajahnya tak terlalu jelas, tapi, pipinya terlihat merona sambil memandang kearahku.

"Kenapa?" Tanyaku membuyarkan lamunannya.

Dia langsung salah tingkah. "Aah.. enggak.. nggak ada apa-apa… itu… kamu… abis kamunya.." dia gelagapan, berusaha mencari kata yang sesuai. Lalu dia membuang muka. "Abis… kamu manis…"

Saat itu aku tidak mengerti, saat itu aku berpikir itu hanya pujian biasa. Saat itu aku hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih.


TBC


to be continued readers! maaf kalo romancenya ga kerasa yaa..

see you on the next chapter!

A

D

I

O

S

!