Baekhyun mati. Tangannya terikat ke belakang dan matanya terpejam rapat. Cairan merah membuat jalur dari sudut bibirnyaーmengering termakan waktu. Kulitnya pucat seperti salju, terlalu putih untuk ukuran manusia. Kyungsoo bisa melihat dengan jelas lebam-lebam kebiruan di lengan dan kaki namja itu, membuat tubuhnya membeku dan meringis dalam sekali waktu.

"Ba-baekhyun?" ujarnya terbata. Kyungsoo menyeret langkahnya. Tangannya terulur menyentuh tengkuk Baekhyun. Dingin. Berbanding terbalik dengan matanya yang memanas.

Hening.

Lutut Kyungsoo lemas. Ia terduduk tepat di depan namja itu. Air matanya menetes mengenai kaki putih tanpa alas kaki milik Baekhyun. Isakan kecil lolos dari bibirnya.

"Seharusnya... Aku datang lebih awal. Ba-baekhyun, aku mohon bangunlah." pintanya parau. Semuanya terasa menyayat sampai gerakan tak terkira dari kaki Baekhyunーjempolnya bergerak. Kyungsoo lantas mengangkat kepalanya, dia terkejut kala Baekhyun memiringkan kepalanya. Bulu matanya bergerak-gerak dan perlahan terbuka. "Ba-baekhyun?"

Geraman membalas pertanyaan Kyungsoo. Namja itu tidak bergerak dan memandang penuh harap pada Baekhyun, bahkan air matanya masih mengalir deras. Lepas beberapa detik, kelopak mata itu terbuka. Matanya merah, bukan netra madu yang selalu memandang Kyungsoo penuh cinta. Pandangan itu bukan pandangan yang Kyungsoo kenalーseakan-akan namja itu bukan miliknya.

"Baekhyun?" tanya Kyungsoo ragu. Ia terlihat gugup saat kedua matanya terkunci pada manik merah itu. "Apa kau... baik-baik saja?"

Baekhyun menjilat bibirnya. Pandangannya tidak lepas dari Kyungsoo, lalu ia menggeram kencang bersamaan dengan keluarnya sepasang taring dari mulutnya. Suara robekan tali, dan Kyungsoo terjungkal ke belakang. Ia mundur perlahan dengan jantung yang berdebar. Baekhyun bangkit, berjalan sempoyongan dengan pandangan acak. Rambutnya jatuh menutupi kening, tampak persis seperti Baekhyun milik Kyungsoo. Tapi kali ini, Kyungsoo tidak berpendapat demikian. Ia takut. Rasa itu menyelimutinya sampai tangannya gemetar.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Fokus Baekhyun tertuju pada Kyungsoo. Gerakannya terhenti. Gemerutuk giginya terdengar amat menyeramkan di telinga Kyungsoo. Selanjutnya, namja itu melompat, menyerang Kyungsoo dan mengurungnya di bawahnya. Kedua tangan Kyungsoo ditahan di atas kepala oleh salah satu tangan Baekhyun, sedangkan tangannya yang bebas menarik kemeja putih yang Kyungsoo kenakan, memperlihatkan perpotongan leher Kyungsoo yang tampak pucat. Namja bermata bulat itu memberontak, berteriak-teriak sekadar menyadarkan namjanyaーBaekhyunnya. Tetapi yang ingin disadarkan tidak merespon sama sekali. Ia malah mendekatkan wajahnya pada perpotongan leher yang terbuka, mengendus di sana sambil berbisik serak, "Aromamu sungguh harum."

Dan pergerakan selanjutnya membuat mata Kyungsoo membelalak hendak keluar. Baekhyun menggigitnya, tepat pada nadi di leher Kyungsoo. Sangat sakit, sampai membuat Kyungsoo mengeluarkan air matanya. Suaranya tercekat di tenggorokan dan mulutnya terbuka-terutup. Gigitan Baekhyun terasa panas dan membakar leher Kyungsoo, nyawanya seakan terserap keluar. Bukanーdarahnya yang telah dihisap oleh Baekhyun. Pandangannya memburam dan tangannya melemas, tidak lagi memberontak seperti tadi. Di sela-sela kesadarannya, Kyungsoo bergumam kecil, "Ba-baekhyun... "

Dan pandangan Kyungsoo seluruhnya gelap.