Bleach fic

"Four Seasons" by Morning Eagle

!DISCLAIMER :: Bleach belong to Kubo Tite ::


Pair: IchigoxRukia

POV: Rukia


Just to warn you :: AU, OOC, Typos, etc... for this multi-chap fic ::

Thanks for my Playlists: SNSD- All My Love Is For You, Boa-Only One, SNSD-Baby Baby, The Script-For the First Time, Tomohisa Sako-Zutto (Silahkan bagi para readers yang mau mendengar lagu-lagu ini saat membaca fic-ku, siapa tau bisa lebih dapet feelnya..hahhaha*plak*)

Cerita keduaku di fandom Bleach dan merupakan fic multichap. Mungkin fic ini akan lama untuk di-update, karena kesibukan dan waktu yang kurang untuk mengetik fic ini, jadi harap maklum ^^; Maaf kalau ceritanya gaje, aneh, membingungkan dan terutama Ichigo yang jadi OOC banget disini XD

Fic ini membahas profesi Rukia yang menjadi barista, yaitu pembuat kopi espresso yang memang butuh keahlian khusus, tapi dia masih termasuk begginer (pemula). Maaf kalau ada istilah yang salah dalam penulisan mengenai dunia barista, karena saya hanya menggunakan youtube, wiki, dan google sebagai bantuan, sama sekali tidak mengenal tentang dunia pembuatan espresso. Jadi, kalau ada kritik dan saran tentang kesalahan penulisan, silahkan review~ saya terima dengan senang hati kok..hiihihi~ XD

Dan untuk cafenya sendiri, desain interiornya terlihat seperti yang ada di film Coffee Prince drama Korea..ada yang pernah nonton? Pokoknya terkesan hangat dan homy, kebanyakan perabotnya terbuat dari kayu dan berwarna coklat tentunya.

Oc, enjoy the story, minna-san!

~000*000~

Chapter 1 : Spring Scene One

"Kau bisa istirahat sekarang, Rukia," kata seseorang di belakangku sambil menepuk bahuku lembut. Aku memalingkan wajahku kepadanya, melihat Unohana-san menatapku ramah.

"Ah ya, Unohana-san. Setelah aku menyelesaikan pesanan espresso ini, aku akan segera istirahat," kataku membalasnya, memperlihatkan senyum terbaikku. Sulit rasanya untuk tidak tersenyum dihadapan Unohana-san. Seorang wanita yang cantik sekaligus ramah, berada di dekatnya selalu membuatku nyaman.

Unohana-san melirik dari bahuku, melihat hasil latte art yang sebentar lagi akan selesai. "Kelinci, kau semakin mahir menggambarnya, Rukia," puji Unohana-san, memperlihatkan senyum ramahnya lagi yang kali ini membuatku semakin bersemangat. Mendapat pujian darinya merupakan suatu penghargaan besar untukku, disamping Unohana-san adalah guru barista ku dan sekaligus owner dari The Arc Cafe ini.

"Terima kasih, Unohana-san!" kataku semangat sambil menunduk memberi hormat padanya.

"Teruslah berusaha, Rukia," balasnya sambil berjalan pergi, memberikanku privacy khusus untuk pekerjaan yang bisa dibilang membutuhkan kemahiran dan kesabaran tingkat tinggi.

Selesai sudah bentuk kelinci yang kuhias pada cream busa kopi espresso di depanku menggunakan cream susu dan kutaburkan bubuk cocoa sebagai sentuhan akhir mempercantik penampilannya. "Pesanan 34!" teriakku memanggil pelayan yang lewat di dekatku dan kebetulan Momo yang berlari kecil menghampiriku. Dengan cekatan dia memasukkan note pesanan ke dalam celemek panjangnya dan mengambil kopi buatanku.

"Wah, lagi-lagi kelinci! Lucu sekali!" Momo menatapi kopi buatanku dengan mata berbinar-binar, terpaku di depanku untuk beberapa saat.

Aku berdeham pelan untuk menarik perhatiannya, "Momo, pesanannya.."

"Ah iya! Maaf, Rukia! Memandangi kopi buatanmu membuatku lupa sesaat, hehe..." katanya sambil tersenyum lebar. Begitulah Momo, mudah sekali terpana dengan sesuatu yang imut dan cantik, sama sepertiku.

"Akan kubuatkan setelah selesai kerja nanti, yang bergambar kelinci tentunya," kataku sambil tersenyum padanya.

"Benarkah? Wah, terima kasih Rukia! Jangan lupa, yang gambar kelinci, ya!" janjinya sambil tersenyum lebar. Momo segera mengambil baki dan membawa pesanannya pergi, meninggalkanku di counter kopi. Memberi kopi kesukaannya saat selesai kerja memang seringkali menjadi rutinitasku. Lagipula akupun tidak keberatan, justru membuatku ikut senang melihat wajah-wajah temanku yang kembali bersemangat, dikala kelelahan setelah bekerja melanda tubuh dan pikiran. Momo, Rangiku-san, Yumichika, dan Hisagi-san telah menjadi pelanggan tetapku setiap akhir jam kerja, tentu karena shift mereka yang sama denganku—dari jam 4 hingga jam 6 sore. Jam 6 merupakan jam tutup The Arc Cafe, sekaligus memberikan waktu ekstra bagi para pekerja shift untuk beres-beres dan menikmati waktu berkumpul. Unohana-san sama sekali tidak keberatan akan hal itu,bahkan dia seringkali ikut berbincang bersama kami, tanpa terasa waktu terus berjalan menjelang malam.

Kubereskan gelas-gelas dan meja yang sedikit berantakan akan hasil kerjaku, sebelum berjalan pergi ke ruangan istirahat. Aku menggeser pintu counter dan berjalan ke arah pintu belakang, namun sesuatu tertangkap oleh mataku. Aku mengarahkan pandanganku ke arah tempat duduk pelanggan, melihat Momo yang mengantar pesananku tadi. Seorang laki-laki berambut orange terang yang sedang serius melihat macbooknya, tersenyum singkat kepada Momo dan memandangi kopi espresso buatanku. Karena penasaran, aku berjalan ke arah counter cake dan bersembunyi di baliknya, memperhatikan reaksi laki-laki nyentrik itu akan pekerjaanku. Untuk beberapa saat dia terpaku pada gelas kopi di hadapannya, membuatku menerka-nerka sendiri apa yang sedang dipikirkannya. Tiba-tiba dia terseyum dan menahan tawanya, membuatku terlonjak kaget sekaligus bingung. Memangnya ada yang aneh dengan kopi buatanku? Unohana-san dan Momo saja memuji dan menyukai bentuknya, tapi laki-laki itu malah menertawakannya? Tanpa sadar aku berjinjit untuk melihatnya lebih jelas, menghindari lemari pendingin cake yang menghalangi pandanganku, dan tiba-tiba pandangan kami bertemu. Anehnya, tatapanku tidak bisa lepas darinya—terpana oleh mata hazelnya yang terang. Belum pernah aku melihat mata sejernih dan seindah miliknya, hazel bercampur orange seperti warna rambutnya. Dan dia tersenyum kepadaku, membuatku kaget setengah mati dan spontan aku berlari ke arah pintu belakang—meninggalkannya terpaku melihat kebodohanku.

(..)

(..)

(..)

"Kau kenapa Rukia?" tanya Rangiku-san dengan tatapan bingung.

Aku hanya terdiam sambil bersender ke pintu yang sudah tertutup di belakangku. Napasku naik-turun, masih tersisa rasa keterkejutanku karena tatapan dan senyuman laki-laki aneh tadi.

Di sampingnya, Yumichika terduduk sambil ikut menatapku bingung. "Kau melihat hantu?" tanyanya.

Rangiku-san langsung memukul lengan Yumichika tanpa basa-basi, yang berhasil membuat Yumichika meringis kesakitan. "Jangan bicara yang tidak-tidak!" tegur Rangiku-san sambil menatapnya sinis. Rangiku-san memang sensitif dengan hal-hal yang berbau mistis, apalagi hantu.

"Tidak perlu memukulku segala, kan?" protes Yumichika, membalas tatapannya dengan mengerutkan alisnya. "Lagipula wajah Rukia seperti habis melihat hantu, kau ini kenapa?"

Aku hanya terdiam dan menggelengkan kepalaku perlahan. Aku melangkah perlahan ke arah sofa yang diduduki Rangiku-san dan Yumichika sambil berusaha menstabilkan jantungku—terlalu cepat untuk berdetak.

"Kau menyukai seseorang, Rukia?" tebak Rangiku-san yang membuatku terlonjak kaget. Tiba-tiba saja wajah pria itu terlintas di benakku, membuatku malu setengah mati.

"Lihat! Benar kan tebakanku?!"

"Yang benar saja, kau menyukai siapa, Rukia?" tanya Yumichika sambil merangkul lenganku keras.

"Bu..Bukan! Jangan berspekulasi seperti itu, Rangiku-san!" bantahku cepat, dan bisa kurasakan wajahku memerah.

"Lalu kenapa wajahmu memerah?" Rangiku-san memperlihatkan senyum lebarnya, berusaha menebak gerak-gerikku.

"Tidak apa-apa, ceritakan saja," kata Yumichika, tidak kalah terlihat semangatnya.

Aku mendesah panjang dan bermaksud untuk menceritakannya. Tidak ada salahnya kan menceritakan hal tadi kepada mereka? Mereka sudah seperti keluarga bagiku, teman-teman terdekatku.

"Tadi,aku melihat orang yang meminum kopiku," jelasku. Aku berhenti untuk memeriksa reaksi mereka. Rangiku-san dan Yumichika menatapku antusias, seperti menunggu kisah akhir dongeng yang sedang kubacakan. "Lalu, dia menertawakan kopiku!"

Reaksinya diluar bayanganku, Yumichika tidak bisa menahan tawanya begitu pula dengan Rangiku-san. Sikap mereka ini membuatku semakin kesal, "Jangan tertawa!"

"Hahaha..maaf, Rukia. Tapi, baru kali ini ada yang mengaku—maksudku menertawai kopimu," jelas Yumichika yang masih tidak bisa berhenti tertawa.

Aku terdiam sambil memicingkan mataku—menatap sinis kedua orang menyebalkan di depanku.

"Maaf, Rukia. Kami tidak bermaksud menertawakanmu, hanya saja raut wajahmu lucu sekali," kata Rangiku sambil tersenyum lebar melihatku, tangannya ditepuk di depan wajahnya, menandakan permintaan maaf. "Lalu, bagaimana selanjutnya, hanya itu saja?"

Tiba-tiba aku kembali mengingat kejadian memalukan itu. Tatapannya yang tidak bisa lepas dari otakku, sungguh tajam dan membuat jantungku berhenti sesaat, hanya untuk mengagumi keindahannya. "Dia..melihatku..." kataku ragu, sekaligus malu. Rasanya seperti penguntit yang tertangkap basah, padahal aku tidak bermaksud menguntitnya.

Yumichika bermaksud untuk tertawa lagi, tapi segera disikut keras oleh Rangiku-san. "Dia melihatmu?" tanya Rangiku-san memastikan, berusaha terlihat antusias sekaligus tertarik dengan arah pembicaraanku.

Aku mengangguk perlahan, "Dan..dia terseyum..padaku.."

"Lalu kau membalasnya? Kau menanyakan namanya?!" teriak Yumichika antusias. Kedua orang ini memang semangat bila membahas soal hal seperti ini. Aku bukanlah orang pertama yang sempat diinterograsi oleh mereka berdua. Momo lah yang seringkali menjadi korban bulan-bulanan mereka, bahkan hingga hubungannya sekarang dengan Toushiro berhasil terungkap. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan Momo kala itu, semoga saja aku bukanlah korban mereka berikutnya—jangan sampai!

"Aku hanya memperhatikannya dari balik counter cake dan dia duduk jauh di kursi pelanggan, meja 8," jelasku singkat sambil menautkan jari-jariku, perasaan gugup terus menggelayutiku.

"Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Rangiku lagi, kali ini dia berjongkok di bawah, menaruh kedua tangannya dalam pangkuanku. Yumichika masih memperhatikan di sebelahku, namun memperdekat jarak duduknya denganku sambil memasang tampang seriusnya.

"Ehm..dia berambut orange, matanya indah. Mungkin hazel bercampur jingga terang..."

Mereka terdiam sesaat, membuat suasana menjadi tegang mendadak di dalam ruangan. Aku menelan ludahku, gugup sekaligus bingung melihat reaksi mereka yang terdiam.

"Sepertinya aku tahu orang itu," celetuk Yumichika, terlihat serius berpikir.

"Mungkinkah itu Kurosaki Ichigo?" terka Rangiku-san, tapi lebih seperti pertanyaan untuk dirinya sendiri.

"Tidak ada lagi orang yang memiliki rambut seunik dia, mungkin kau benar, Matsumoto," balas Yumichika.

"Kau benar-benar beruntung, Rukia! Orang seperti Kurosaki Ichigo tersenyum padamu," kata Rangiku-san, menggenggam kedua tangaku erat. Perubahan intonansi ucapannya sungguh membuatku bingung.

"Tunggu, bagaimana kalian yakin kalau orang itu yang bernama...Kurosaki Ichigo?" tanyaku sambil mengerutkan alisku.

"Dia seringkali berkunjung kemari, berambut orange menyala, terkenal, siapa orang yang tidak mengenalnya coba," jelas Yumichika yang semakin membuatku bingung.

"Memangnya dia siapa? Artis?" tanyaku lagi dan berhasil membuat Rangiku-san dan Yumichika terbelalak kaget.

"Kau tidak tahu Kurosaki Ichigo?" teriak Rangiku-san, membuat cengkramannya pada tanganku semakin keras.

"Dia seorang atlit terkenal! Atlit lari jarak jauh dari Sekolah Athlethic Society High-School! Wajahnya seringkali terpampang di majalah olahraga bahkan majalah fashion!" jelas Yumichika antusias, membuatku semakin mundur ke belakang, bersender pada sofa yang semakin menjerumuskan badan kecilku.

"Aku...tidak tahu.."

"Hah..." kedua orang itu mendesah berbarengan diikuti suara pintu yang terbuka, Hisagi-san memasuki ruangan istirahat.

"Waktunya gantian, loh, kalian kenapa?"

(..)

(..)

(..)

Sudah beberapa hari aku tidak melihatnya lagi, keberadaan Kurosaki Ichigo. Lima hari yang lalu, begitu waktu istirahatku selesai dia sudah pergi menghilang dari cafe. Entah apa yang membuat diriku penasaran padanya, membuatku segera membeli majalah olahraga terbaru bulan ini hanya untuk melihat identitas dirinya. Benar seperti yang dikatakan oleh Yumichika, dia adalah seorang atlit pelari jarak jauh yang sedang naik daun. Wajahnya yang tampan membuatnya mendapatkan julukan The Gorgeous-Young-Talented-Athlete of Karakura dan menjadikannya artis populer dadakan di kalangan gadis-gadis Karakura. Namun disamping kesuksesannya, dikabarkan bahwa dia seringkali terlibat dalam perkelahian antar murid SMA Karakura. Hal ini membuat para pengamat olahraga meragukan dirinya, disamping talentanya yang memang sangat memukau dan menjadikannya salah satu kandidat atlet muda berbakat se-Jepang.

Aku menutup majalah yang sudah kubuka berkali-kali ini dan meletakannya di rak bawah meja counter. Apa benar dia adalah orang yang seperti dikatakan majalah itu, seperti yang dikatakan orang-orang di kota ini? Sungguh, hal ini semakin mengusik pikiran dan membuatku penasaran akan dirinya. Lagi-lagi aku teringat akan tatapannya, mata yang terlihat teduh itu. Tidak ada hal buruk yang terpancar dari tatapannya, itulah yang kuyakini hingga saat ini.

"Rukia." Teguran Momo membuatku bangun dari lamunanku. "Kau sedang memikirkan apa?"

"Eh?"

Momo tersenyum geli melihat ekspresi bingungku, " Alismu bertaut, itu tandanya kau sedang serius memikirkan sesuatu." Dia ikut menautkan alisnya, meniruku. "Kalau kau sedang ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku, itu kalau kau mau."

Aku membalas senyumannya, menghargai tawaran baik Momo, "Tidak apa-apa, ini bukanlah masalah serius, kok."

"Benarkah? Baguslah kalau begitu! Oiya, ini pesanan berikutnya, 1 Latte Macchiato dan 1 Cappuccino untuk pesanan meja 11," jelasnya sambil menempelkan memo pesanan pada meja counter.

"Segera," kataku membalasnya. Aku mulai mengambil filter pengisi kopi dan menuju mesin pembuat bubuk kopi.

Kumulai kesibukanku lagi, berharap pikiranku bisa kembali fokus pada pekerjaanku. Hal inilah yang membuatku selama ini merasakan ketenangan sekaligus kesenangan akan apa yang kubuat. Melihat orang-orang tersenyum dengan menikmati kopi yang kubuat, membuatku pun ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan. Hari-hari tenang di musim semi, walaupun cuaca masih terasa dingin tapi kehangatan mulai terpancar sedikit-demi sedikit.

Suara decitan kursi di counter terdengar pelan, mengusik pekerjaan yang sedang serius kutekuni. Jarang sekali ada pelanggan yang mengambil tempat duduk di counter ini, dimana pandangannya hanya mengamati barista yang mondar-mandir membuat espresso sepanjang waktu. Ya, terkecuali kalau cafe sedang penuh dan meja pelanggan sudah terisi semuanya.

Aku segera membalikkan tubuhku, menyambut pelanggan yang sudah bersedia duduk di depanku, "Selamat siang, selamat datang di—"

Rambut orange, mata hazel terang, dan senyum itu terlukis di depanku. Kurosaki Ichigo duduk di depanku sambil memandangku dengan tatapan serius namun teduh. Spontan aku terlonjak dan mundur ke belakang, menabrak meja di belakangku. Mulut meja tepat mengenai punggungku, membuatnya nyeri berdenyut-denyut.

"Kau, tidak apa-apa?" suara itu terdengar tegas dan berat. Suara decitan kursi terdengar lagi, kudongakkan kepalaku yang tertunduk menghalau rasa sakit, melihat Kurosaki Ichigo bangun dari duduknya. Tatapannya terlihat khawatir melihatku dan dia berjalan ke arah...pintu counter?

"Tu...tunggu, aku tidak apa-apa! Silahkan duduk di mejamu kembali, tidak usah mengkhawatirkanku," ucapku buru-buru, sedikit merinding membayangkan dia memapahku hanya karena kebodohan yang kubuat sehingga terbentur meja counter sendiri. Tanganku masih mengusap-usap punggungku yang masih berdenyut nyeri dan mukaku terasa panas—menahan rasa malu karena perhatian yang diberikannya tiba-tiba. Kurosaki Ichigo adalah orang yang baik, aku yakin itu.

Dia mengerutkan alisnya, membuat matanya semakin terlihat tajam, namun rasa kekhawatiran terpancar kuat dari sana."Tadi punggungmu terbentur cukup keras, bahkan suaranya terdengar jelas dari sini. Kalau kau merasakan sakit—"

"Aku sungguh tidak apa-apa! Hehehe...ini bukan apa-apa, dibandingkan rasa sakit karena kepalaku yang terbentur mulut meja," kataku canggung.

"Hah? Ke..kepalamu?" Rautnya berubah ngeri, tapi ada rasa geli yang tidak bisa dia tutupi terlihat jelas di wajahnya.

Aku mengerutkan alisku kesal, sambil menaruh kedua tanganku di pinggang. "Itu tidak lucu, rasanya sakit sekali!"

"Aku kan tidak menertawakanmu," balasnya, tapi raut gelinya semakin terlihat jelas.

"Itu terlihat dari wajahmu," kataku sambil mendesah dan kembali ke dalam pekerjaan yang sempat kutunda. "Apa pesananmu, tuan?"

"Hei, jangan marah, aku tidak bermaksud menyinggungmu," katanya memohon maaf, melipat tangannya di meja counter dan memajukan tubuhnya agar bisa melihatku jelas. "Tapi, kau terlihat manis saat marah."

Mukaku langsung memanas begitu mendengar kata-katanya, jantungku berdebar kencang—seperti kepakan burung hummingbird yang terasa di dadaku. "Ja..jangan menggodaku, tawake!"

Dia hanya tertawa melihat ekspresi malu bercampur kekalutanku. "Aku bicara serius, kok."

Rasanya aku ingin segera berlari kabur dari sini, menjaga jarak sejauh mungkin darinya yang sudah membuatku malu setengah mati. Jantungku semakin berdetak kencang, membuat konsentrasi untuk membuat pesanan menjadi berkurang.

Aku berusaha menghiraukannya, kembali berkutit dengan kopi yang kubuat. Kukerjakan latte art pada kedua kopi pesanan sedetail mungkin dengan menuangkan cream susu pada gelas kopi, tanpa berusaha mengangkat wajahku hanya sekedar untuk melihat senyumannya lagi. Dan untungnya dia memahami konsentrasiku. Kurosaki Ichigo sama sekali tidak berkomentar lagi sepanjang aku membuat pesanan, hanya terdiam sambil bertopang dagu di meja counter.

"Pesanan 11!" teriakku berusaha memanggil siapapun yang melewati counter ini. Baru sekarang aku menyesali letak counter yang terbilang tidak strategis ini—terletak di pojok ruangan yang jauh dari meja pelanggan di depan pintu masuk.

"Boleh kutahu siapa namamu?" tiba-tiba dia kembali membuka pembicaraan, menyadari aku tidak lagi sibuk menyelesaikan pesanan. "Aku Kurosaki Ichigo."

Aku sudah tahu namamu, kataku dalam hati. Namanya terus terngiang-ngiang sejak lima hari yang lalu dan sulit sekali rasanya untuk menyingkirkannya sejenak. Dan sekarang aku ragu untuk memberitahukan namaku, membuat hubungan ini semakin dalam dan rumit—aku sangat tidak menyukai hal itu—terikat tiba-tiba dengan sesuatu yang membuatku tidak nyaman dalam sesaat.

"Kuchiki Rukia," ucap Rangiku-san yang muncul disebelah Kurosaki Ichigo. "Itu namanya."

Dengan segera Rangiku-san mengambil pesanan di counter dan pergi meninggalkan kami berdua sambil tersenyum puas. Tanganku terkepal kuat di sisi tubuhku, memandang sinis sosok Rangiku-san yang sudah beranjak pergi.

"Rukia ya...kau sudah lama bekerja disini?" tanyanya lagi segera, senyumnya semakin terlihat lebar.

Aku berdeham dan berusaha memperlihatkan senyum ramah kepada pelanggan keras kepala di depanku ini, "Apa pesananmu, Kurosaki-san?"

"Panggil aku Ichigo saja..dan aku pesan Cappuccino," jawabnya tanpa terusik sedikitpun dengan penolakanku. Benar-benar orang yang aneh...

"Baiklah, satu Cappuccino," ulangku, meyakinkan.

"Dan jangan bergambar kelinci."

Aku mendongakkan kepalaku lagi, melihat raut wajahnya yang terlihat aneh. "Kenapa dengan kelinci? Itu lucu, bukan?"

"Itu..terlihat seperti anak kecil," ucapnya datar.

Aku mengerutkan alisku, lagi. Apa maksud kata-katanya itu? Hasil karyaku dia bilang seperti buatan anak kecil? Dan dia mengejek hasil karyaku dengan raut wajah biasa saja? Itu bahkan membuatku lebih emosi daripada dibentak dengan suara keras.

"Kau mengejekku," kataku lirih, dengan suara kecil. Di satu sisi aku membencinya karena mengejek kelinci buatanku, tapi senyuman jahilnya membuatku tidak bisa memarahinya.

"Aku tidak mengejekmu, hanya saja melihat kelinci buatanmu itu mengingatkanku akan gambaran yang dibuat adik kecilku." Dia semakin tersenyum jahil melihatku yang membalas tatapannya sinis.

"Terserah padamu saja," kataku mengalah. Kubalikkan tubuhku untuk mulai membuat pesanan, dimulai dari mengambil bubuk kopi dan menaruhnya dalam filter, menekan filter dengan tamper sekeras mungkin—karena kekesalanku pada Ichigo yang sudah mengejek gambar kelinciku, menaruh filter pada mesin espresso dan menunggu air panas mengalirinya ke dalam gelas di bawahnya. Setelah selesai menunggu, segera kuambil gelas kopi itu dan menghiasnya dengan cream susu, sesekali kugunakan tusuk gigi untuk menyebarkan susu dan kopinya menjadi bentuk yang kuinginkan. Dalam hitungan beberapa menit, hasil karya master-pieceku sudah selesai. Kusodorkan pesanan Ichigo ke atas meja counter sambil tersenyum puas, "Satu pesanan Cappuccino dengan gambar kelinci!" Dan aku berhasil membuat wajahnya berubah pucat karena kaget.

*(((To be continued...)))*

(..)

(..)

(..)

Author's note:

Tawake = bahasa Jepang yang artinya bodoh (sering digunakan Rukia di dialog Anime nya).

Cafe nya sendiri hanya menjual cake dan minuman (minuman panas saja untuk musim dingin dan musim semi). Yang bekerja sebagai barista hanya Rukia dan Unohana saja, cake nya sendiri adalah buatan Unohana. Rangiku, Yumichika, Hisagi, dan Momo hanya bekerja sebagai pelayan cafe. Seragamnya sama, yaitu celemek panjang berwarna hitam dan menggunakan kemeja putih serta celana hitam (rok hitam untuk perempuan). Referensi :lihat drama Coffee Prince ^^;

Rukia dkk bekerja di shift sore, sedangkan shift siang akan dijelaskan di chapter-chapter berikutnya (cafenya buka dari jam 11 siang hingga jam 6 sore)...

Ini sedikit penjelasan mengenai dunia barista :

Cara pembuatan espresso yang dilakukan oleh Rukia, secara garis besar seperti ini:

First...Mengambil biji kopi yang telah disaring dengan mesin khusus dan memasukkan bubuknya ke dalam basket filter, semacam saringan kecil yang tersedia dalam beberapa jenis. Yang saya tahu itu ukuran 7 hingga 14 gram.

Second...Terus si barista menggunakan tamper, sejenis alat penakan (seperti ulekan untuk bumbu ^^;) digunakan untuk menekan bubuk kopi dalam saringan. Nah, untuk menggunakan tamper sendiri itu ada caranya tersendiri, cara memegangnya harus benar dan sudut siku tangan harus 90 derajat (pokoknya ribet deh..hehehe).

Third...Setelah ditekan menggunakan tamper, si saringan yang berisi bubuk kopi itu diletakkan pada semacam mesin khusus pembuatan espresso (isi mesin itu adalah air panas). Nantinya air akan mengalir melalui filter bubuk kopi dan menghasilkan kopi yang diinginkan. Tentunya jangan lupa dibawah si filter diletakkan cangkir kopi yang nantinya menampung cairan kopi dari atasnya.

Espresso sendiri terdiri dari bermacam-macam jenis, seperti Cappuccino, Americano, Frappuccino, Latte, Latte Macchiato, Long Black, dll. Pencampurannya sendiri bisa menggunakan susu atau hanya air panas saja. Contohnya seperti Long Black, yang hanya menggunakan air panas saja. Sedangkan Latte (artinya : susu) menggunakan susu sebagai campuran kopinya.

Latte art adalah teknik khusus penghiasaan kopi yang menggunakan cream susu atau bisa dicampurkan menggunakan coklat cair (tergantung cara pembuatan).

Bagi yang masih bingung, bisa langsung search di wikipedia, google, atau lihat di youtube..^^

Dan bagi yang tahu cara pembuatannya, bisa langsung beri kritik dan saran melalui review...hihihihi

Arigatou gozaimasu! Khususnya bagi para readers yang mau menyempatkan waktunya membaca cerita gaje nan ribet ini (authornya juga bingung sama ceritanya sendiri..hahahaha*plak*), ditunggu reviewnya XD...