Summary ::
Saat impian menjadi nomor satu telah tercapai, tiba saatnya ia dihadapkan dengan kenyataan yang tak terelakan. Mengabaikan hal-hal kecil dapat menyebabkan suatu masalah yang fatal. Tidak ingin menjadi beban, itu memang sifatnya. Namun, jauh dalam lubuk hatinya, ia sangat membutuhkan orang yang dapat menghangatkan kembali hatinya yang telah hancur akibat kejadian yang menimpanya. Walau demikian, tidak mengurungkan niatnya untuk tetap menyimpan segalanya sendiri.
Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi
All Character(s) except OC are belong to Fujimaki Tadoshi
This Story n OC are belong to me..
CHAPTER I
The beginning of All
''FOKUS! JANGAN PIKIR KARENA KITA SUDAH MENANG DI WINTER CUP, KALIAN BISA BERSANTAI RIA!''.
'ceh, perempuan ini gila' pikir mereka heran.
Tim basketball Seirin lagi latihan setelah menang di Winter Cup melawan Rakuzan kemarin.
Yep, mereka berhasil mengalahkan si pemilik mata Emperor, Akashi, dengan skor 104 : 103. Awalnya mereka sendiri sama sekali tidak percaya, tapi itulah kenyataan. Kenyataan yang sangat membahagiakan.
''Ah, tunggu pelatih ini penting!'' teriak Kagami dari lapangan basket.
''Apa lagi Bakagami?!''.
''Jangan panggil aku Bakagami! Itu, Kuroko, hidungnya berdarah!'' Teriaknya panik sambil nunjuk Kuroko yang sibuk mengurus hidungnya. Orang yang di tunjuk pun langsung melihat ke arah Kagami.
''Ah, sepertinya aku mimisan'' katanya dengan nada datarnya itu.
''Bodoh! Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!'' Teriaknya marah sambil lari kearah Kuroko dan menariknya keluar lapangan.
''Maaf, Riko-san''. ''Sudahlah, kau baring di sini, dan Kogane-kun, Hyuga-kun! Cari kain bersih lalu ambil salju di luar! Kantin saat ini sudah tutup jadi kita pakai salju saja agar dia berhenti mimisan''.
Ide bagus Riko-chan.
''Lalu kau, Bakagami! Cepat ambilkan kotak obat!''.
''Iya iya! Sudah kubilang namaku bukan Bakagami!'' katanya sambil lari buat ngambil kotak obat itu.
''Ah, Hyuga tunggu! Ini, pakai saja sapu tanganku.'' kata Riko sambil mengoper sapu tangannya ke Hyuga. ''Oke!''
Riko sibuk mengurus Kuroko yang mimisannya tak kunjung berhenti. Kapas putih yang dia gunakan pun semuanya sudah menjadi merah. Seluruh anggota Seirin, termasuk Hyuga, Kogane, Riko dan Kagami sendiri merasa sedikit ada kejanggalan. Benar saja, hari itu masih musim salju sedangkan biasanya kalau seseorang mimisan itu karena kecapekan disertai dengan 'panasnya cuaca'. Namun kali ini, mereka baru saja memulai latihan. Rasa capek tidak akan berpengaruh saat ini.
''Maaf lama.. Ini saljunya!''.
''Oke, makasih.'' kata Riko yang langsung meletakkan sekantong salju tersebut di atas kepala Kuroko.
''Nah, kalau begini sudah aman!'' katanya dengan bangga. ''Semuanya! Lanjutkan pertandingan kalian!''.
''Yossh!'' teriak mereka kompak, kecuali Mitobe pastinya..
''Kuroko-kun, kau tetap di sini. Kali ini kau tidak perlu ikut. Dinginkan kepalamu agar darahnya tidak keluar lagi.'' Kata Riko sambil melangkah ke tempat penyimpanan kotak obat itu, di balas dengan anggukan kecil Kuroko.
Kuroko menaruh lengannya di atas wajahnya 'Keluar… lagi?' pikir Kuroko. Ia juga mengalami hal yang sama beberapa hari yang lalu. Namun, ia tidak terlalu memikirkan hal itu. Lagipula waktu kecil, ia juga sering mimisan seperti ini. Jadi menurutnya hal ini biasa saja dan bukan masalah yang berarti.
''Oi Kuroko, kau yakin tidak apa-apa? Kau terlihat lebih pucat dari biasanya.'' Tanya Kagami dengan tampang serius.
Kuroko mengangguk lalu menatap Kagami dengan muka datar. ''Aku tidak apa-apa, Kagami-kun. Pergilah latihan sebelum kau jadi salah satu korban kekerasan''.
''Heh'' Kagami bergidik ngeri. ''Ya sudah''.
''Hhhhhhh.. Hari ini pelatih menggila!'' Serunya pada Kuroko saat di jalan. Kuroko hanya diam menikmati minumannya. Memang, hari ini Riko bukannya membuat pesta kecil-kecilan untuk merayakan kemenangan mereka di Winter Cup, tapi malah membuat mereka berlatih sampai dua kali lipat dari biasanya.
''Oi, kau yakin kau tidak apa-apa? Baru kali ini aku melihatmu mimisan seperti itu!''
''Kagami-kun, kau sungguh menyebalkan.'' kata Kuroko sambil menatap Kagami dengan muka tripleksnya.
''Haaaaaaahh? Aku peduli padamu tau!'' katanya sambil menjitak Kuroko namun tidak kena karena Kuroko menggunakan Misdirectionnya. Kagami langsung berdecak kesal.
"Sudah ku bilang kalau aku tidak apa-apa, Kagami-kun."
"Tapi kau terlihat lebih pucat dari biasanya !"
"Kulitku dari dulu memang seperti ini, Kagami-kun."
Kagami menyilangkan kedua tangannya. "Tiiiidaaakk ! Aku bilang kau lebih pucat dari biasanya bodoh!"
"Tidak, itu hanya imajinasimu saja, Kagami-kun. Kau terlalu berlebihan."
"Kau memang pucat, tapi ini lebih pucat lagi bodoh!"
Kuroko mengangguk. ''Ya, Kagami-kun memang bodoh."
Ingin rasanya Kagami memukul Kuroko. Namun saat ini mereka sedang berada di tengah keramaian. Jadi mau atau tidak, Kagami harus mengurungkan niatnya itu.
"Ah, kita berpisah di sini Kagami-kun. Sampai jumpa."
''O-oi! Hhhh, ya sudah.'' ucap Kagami sambil melambaikan tangannya lalu mulai pergi.
Di perjalanan, Kuroko bertemu dengan si blonde.
''Ah, Kurokocchi!'' ya Kise, dengan wajah berbinar-binar Kise menghampiri Kuroko diikuti Kasamatsu, senpai setia Kise.
''Ah, domo Kise-kun, Kasamatsu-san. Anu, Kise-kun, kau berisik."
''Heeeeee, kau kejam Kurokocchi!'' katanya sambil mengusap matanya yang mengeluarkan air mata buaya andalannya.
''Maaf Kise-kun, tapi aku tidak kejam seperti Akashi-kun.'' Jawab Kuroko protes namun tetap dengan muka datar.
''Ahahaha, kalau Kurokocchi jadi seperti Akashicchi, hhh.. aku tidak mau bayangkan."
Kise langsung keringat dingin saat coba membayangkan hal tersebut.
''Ah ya, Kurokocchi! Kau mau ikut? Kami mau ke warung Okonomiyaki loh! Aku yang traktir!'' seru Kise dengan wajah yang berseri-seri seperti anak kecil yang dikasih permen.
''Ho'oh, kau ikut saja Kuroko. Lagian kalau cuma kami berdua saja tidak seru.'' Senpai kesayangan Kise akhirnya buka mulut.
''Ah, terima kasih tawarannya, tapi maaf, aku sudah makan dengan Kagami-kun tadi. Saat ini aku masih kenyang. Jadi aku min-...''
''Kurokocchi! Hidungmu mengeluarkan cairan merah!''
''Itu darah bodoh! Dia mimisan!'' Kasamatsu gemas melihat Kouhai tercintanya yang lambat loading itu.
Sampai-sampai rasanya ia ingin menyeret Kise kembali ke playgroup.
''Kurokocchi! Ini, pakai sapu tanganku!'' sontak Kise yang langsung menempelkan sapu tangannya di hidung Kuroko.
''Ak-..''
''Hueeee,, bagaimana ini? Senpai, bantu aku angkat Kurokocchi! Kita harus mela-.. ummm!'' Kuroko yang dari tadi pembicaraannya terpotong oleh teriakan heboh Kise, langsung menutup mulut Kise dengan tangan kanannya.
''Kau benar-benar berisik Kise-kun. Aku tidak apa-apa. Kise-kun dan Kasamatsu-san tidak perlu khawatir.'' kata Kuroko dengan nada datarnya.
''Ya, dia benar Kise. Mimisan itu hal yang wajar. Jadi kau tidak usah mendramatisir keadaan.''
''Heeeee'? Aku tidak mendramatisir keadaan, senpai!'' protes Kise.
''Ah, kapan aku bisa mengembalikan sapu tanganmu Kise-kun?''
''Hm? Ah, ambil saja Kurokocchi! Anggap saja kenang-kenangan dariku." seru Kise ngawur.
''Ja, kalau begitu aku pulang dulu Kise-kun, Kasamatsu-san.'' ucap Kuroko sambil nunduk beri salam.
''Hum! Istirahatlah yang cukup." Ucap Kasamatsu seperti seorang ayah yang menasehati anaknya.
"Hai, Kasamatsu-san."
''Dadahh Kurokocchi! Hati-hati di jalan."
''Ayo cepat, Kise!''
''Tu-tunggu aku Senpai!''.
(Yo minna~,, awal ceritanya mungkin masih ngegaje ria. *kayak authornya, nanodayo*
Tapi sesuai kata senpai-tachi, aku coba memperbaiki kesalahan dalam penulisanku.
*Arigatou, senpai-tachi~*
Tapi entah kenapa ceritanya bertambah beberapa kalimat, jadinya seperti ini deh.. ._.
Yang udah mau baca FFku ini, makasih ya~)
RnR please?
