:: edge of sky ::
©shrinkingscore105
{ disclaimer : hetalia © hidekaz himaruya }
.
.
.
"And now I must confess, that I am a sinking ship,
and I'm anchored by the weight of my heart."
—Good Charlotte, "Where Would Be Now?"
.
.
.
Saat Arthur bilang tak apa jika dia kehilangan segalanya, Francis berharap ada nada canda dalam suara yang menyatakan keputusannya. Francis tak pernah berharap, tapi sekalinya berharap, Tuhan tak pernah mengabulkan permohonannya.
Maka di awal musim panas, di hari cerah ketika Francis merasakan patah hatinya yang pertama, Arthur mempertegas impiannya.
"Di seberang samudera sana, mungkin aku akan menemukan rumah baru. Atau sesuatu yang telah menunggu untuk kurebut." Arthur menerangkan. Dia masih mengenakan pakaian bangsawan terbaiknya, berdiri dengan angkuh layaknya pangeran yang baru diserahi tahta. Matanya lebih hijau dari zamrud and padang rumput di utara istana raja.
Francis selalu menganggap bahwa dirinya adalah tempat Arthur untuk pulang. Hatinya berdenyut nyeri karena merasa dikhianati. "Kau seorang bangsawan — putera yang akan mewarisi mahkota. Kapal kotor itu bukan tempatmu. Benua miskin di seberang sana bukan rumahmu."
"Kapal itu akan kujadikan megah, dan sekali kujamah, tanah asing itu akan jadi negeri yang besar."
"Jika kau gagal, kau akan kehilangan segalanya." Francis sekali lagi mengingatkan.
Arthur menarik ujung bibirnya, pongah. "Dan seperti yang telah kubilang, akan kudapatkan harta yang jauh lebih berharga sebagai penggantinya."
Lima belas menit kemudian, kapal berangkat.
Bila Arthur benar-benar menemukan harta yang berharga di seberang laut sana, Francis tahu ia akan membencinya.
