Disclaimer : I don't own Naruto
Apa itu cinta?
Aku tidak pernah merasanya
Aku tidak pernah menerimanya
Jadi aku tidak tau apa wujudnya
Kata orang cinta itu menyakitkan
Sebagian lagi mengatakan cinta itu membutakan
Tapi yang paling sering aku dengar cinta itu adalah tentang pengorbanan..
Dan aku hanya bisa menduganya
- - - - - o o o - - - - -
Jakarta, 30 Juni 2016
"Sudah selesai."
"Ah, nona Hinata. Anda sangat cantik sekali..!" seru Toru, pelayan kesayanganku. Matanya terlihat berkaca-kaca. Sesekali Toru menyeka kedua matanya dengan saputangan. Sekarang hidung dan matanya terlihat memerah.
Aneh sekali, padahal yang akan menikah adalah aku. Tetapi yang menangis justru Toru.
Aku tersenyum singkat. "Hinata Hyuuga memang selalu cantik Toru. Laki-laki mana yang dapat mendustai kecantikan seorang Hinata?"
"Sudahlah, jangan menangis. Nanti hiasanmu luntur." lanjutku sambil menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. "Hentikan itu. Oke?"
Aku membalikkan tubuh ku ke arah cermin lebar yang kini menampilkan sesosok gadis yang begitu cantik jelita.
Gaun pengantin putih gading itu terlihat begitu pas membalut tubuh ku, seakan gaun itu memang hanya tercipta untuk ku.
Aku melirik bibirku yang memerah dengan begitu sempurna dan wajah ku yang dihiasi sejumput helaian rambut, jatuh dengan alami di kedua pipi ku. Dengan rambut yang disanggul penuh ke atas, leher jenjang ku semakin terekspos. Membuat kaum hawa manapun akan iri setengah mati dengan kecantikan ku.
Namun aku kemudian tersenyum pedih.
"Apakah takdir memang selucu ini?"
- - - - - o o o - - - - -
Mulai hari ini nama gadis itu bukan lagi Hinata Hyuuga, melainkan Hinata Uzumaki.
Hinata melirik laki-laki yang beberapa jam lalu akhirnya resmi menjadi suaminya.
Dalam sekali lihat saja, Hinata tahu bahwa Naruto bukanlah laki-laki sembarangan. Mata birunya seakan menjadi candu bagi Hinata. Ketika mengucapkan janji suci, ia seakan meleleh oleh tatapan tajam yang diberikannya.
Entahlah. Ada begitu banyak laki-laki tampan yang memuja Hinata, namun entah mengapa Hinata merasa ada yang berbeda dengan Naruto.
"Turun." Adalah ucapan pertama yang diucapkan suaminya itu kepada dirinya.
Hinata sedikit terkesiap. Tidak tahu bahwa mobil Naruto sudah sampai di depan rumah Naruto. Hinata menjadi sedikit malu. Laki-laki itu tidak tahu kan bahwa sedari tadi Hinata memperhatikannya?
Hinata dapat mendengar suaminya itu mendesah, lelah.
"Dengar. Kamu tahu bahwa aku tidak menginginkan pernikahan ini. Hanya karena hutang budi keluarga ku kepada keluarga mu saja yang membuat aku menerima pernikahan ini. Aku tidak mengenalmu, apalagi mencintaimu. Jadi aku tidak yakin aku bisa menjadi suami yang baik untukmu, karena aku mencintai perempuan lain."
Untuk pertama kalinya, Naruto mengejutkan Hinata dengan pernyataan panjangnya.
Sial! Apakah laki-laki ini berpikir Hinata menerima pernikahan ini karena cinta? Kalau bukan karena permohonan ayahnya, Hinata juga tidak sudi!
Mata Hinata sedikit berkaca-kaca. Namun ia masih bisa menahan perasaannya yang kini mulai bergejolak.
"Kau pikir siapa dirimu? Aku Hinata Hyuuga! Laki-laki manapun bisa aku dapatkan! Aku cantik, aku pintar, bahkan aku lulusan terbaik di unvitersitas terbaik di negeri ini. Ayahku adalah orang nomor 3 terkaya di sini. Siapapun bahkan bisa aku beli dengan uangnya! Kalau bukan karena ayah ku yang memaksakan pernikahan ini, aku juga tidak berharap akan menjadi istri dari laki-laki brengsek sepertimu!" sembur Hinata marah.
Oh tidak. Hinata tidak pernah berpikir bahwa pernikahannya akan sekacau ini. Bukankah seharusnya pernikahan itu adalah impian setiap wanita? Untuk bisa selamanya mengikat pernjanjian sehidup semati dengan laki-laki yang dicintainya?
Naruto hanya tersenyum tipis. "Aku mungkin laki-laki yang brengsek. Tapi aku akan berusaha menjadi suami yang baik selama 1 tahun pernikahan kita. Dan sesudah itu kita dapat mengucapkan ucapan perpisahan tanpa penyesalan dan tanpa saling menyakiti di sana."
Detik itu juga Hinata merasa bahwa ia mulai sedikit gila dengan takdir yang harus dijalaninya.
- - - - - o o o - - - - -
Hal pertama yang suaminya lakukan ketika membuka pintu rumah adalah bertanya kepada salah satu ART nya.
"Bibi, dimana Sakura? Apakah ia hari ini memakan makanannya sampai habis?"
Seorang pelayan yang Hinata pikir sekitar berumur 50an tahun, menjawab pertanyaan Naruto dengan lembut.
"Tuan, nona Sakura sedang tertidur. Walaupun tadi nona Sakura tidak mau memakan makanannya, tetapi ia akhirnya mau makan saat bibi mengatakan bahwa tuan Naruto yang membuatkannya." terang bibi itu.
Raut wajah Naruto yang terlihat sedikit cemas perlahan mulai memudar.
"Baiklah, terimakasih bi. Aku akan mencoba mengecek ke kamarnya dulu kalau begitu."
Laki-laki itu kemudian berbalik ke arah Hinata dan menatap Hinata dengan tajam.
"Kamu tunggu di sini. Jangan bergerak kemana pun. Jangan sentuh apapun. Dan jangan lakukan apapun. Aku akan kembali dalam waktu sesingkat mungkin."
Hinata hanya mengangguk tak acuh, namun mau tak mau dirinya merasa penasaran juga. Siapakah Sakura itu, sampai-sampai mampu membuat wajah tampan bermata biru itu terlihat begitu khawatir?
Jadinya Hinata mengabaikan ucapan Naruto dan melangkah mengikuti laki-laki itu dari belakang. Tentu saja dengan sangat hati-hati agar laki-laki itu tidak menyadarinya.
Naruto tidak terlalu rapat menutup pintu kamar berwarna cokelat itu sehingga sekarang Hinata dapat melihat Naruto yang sedang duduk berlutut di lantai, sambil menatap ke arah tempat tidur, di mana ada seorang gadis yang tertidur di sana.
Tatapan Naruto terhadap gadis itu terlihat begitu lembut. Seolah-olah gadis itu adalah nyawanya sendiri.
Hinata sempat melihat tangan Naruto yang terjulur ke atas kepala gadis itu, namun laki-laki itu mengurungkannya. Mungkin takut membangunkan gadis itu.
"Na.. Naruto?" ucap perempuan itu lemah.
"Hn? Apakah aku mengganggu tidurmu, Sakura?" tanya laki-laki itu sambil mengusap rambut gadis itu perlahan. Seolah gadis itu adalah barang berharga yang dapat pecah jika ia tidak berhati-hati dengannya.
Hinata menahan napasnya. Apakah laki-laki ini adalah orang yang sama dengan laki-laki yang barusan mengantarnya di dalam mobil? Mengapa ia begitu galak kepada Hinata, namun.. Begitu lembut kepada perempuan itu..?
Hinata merasa tidak kuat lagi. Ia merasa dadanya sedikit sesak.
What the hell! Siapa sebenarnya yang menjadi istri laki-laki itu? Hinata atau perempuan jalang itu? Mengapa perlakuan Naruto kepada dirinya sangat berbeda? Harga diri Hinata terluka. Baru kali ini ada laki-laki yang memperlakukannya seperti ini!
Dengan kesal Hinata kembali ke tempat semula, dan memutuskan untuk menunggu Naruto. Ia harus meminta penjelasan, siapa sebenarnya gadis itu?
Lima menit kemudian, Hinata dapat melihat siluet Naruto yang berjalan mendekat ke arahnya. Kekesalan kembali menyeruak di dalam dada Hinata, membuat gadis itu memilih untuk menumpahkannya saja.
"Siapa perempuan jalang itu?! Aku tahu pernikahan ini memang tidak dilandaskan atas cinta. Namun aku juga berharap tidak akan ada orang ketiga di dalam pernikahan kita yang hanya berjalan satu tahun ini!" ucapnya dengan penuh emosi. Hinata tidak sadar, perkataannya kini membuat Naruto menjadi sangat marah.
Laki-laki itu mencekal tangan kanan Hinata dengan erat, membuat Hinata meringis kesakitan. "Aw, sakit brengsek!" rintih Hinata. Laki-laki itu bisa mematahkan tangannya!
Namun Naruto tidak mempedulikannya dan malah menatap Hinata dengan begitu tajam. Andaikan tatapan Naruto adalah sebuah pisau tajam, dapat dipastikan Hinata akan mati saat itu juga karenanya!
"Dengarkan aku, nona Hinata Hyuuga yang terhormat. Bukankah tadi aku bilang untuk diam saja di sini? Tapi lihat apa yang kau lakukan? Kau malah mengikuti aku? Baiklah, jika kau bertanya siapa gadis itu, dia adalah wanita yang kucintai. Yang seharusnya akan aku nikahi jika saja bukan karena ada kau yang menghacurkan semuanya ini! Dan tadi aku sudah mengatakan. Aku tidak menginginkan pernikahan ini sama sekali, walaupun aku akan berusaha melakukan yang terbaik sebagai suami kamu. Tapi sekali saja. Sekali saja aku mendengarkan kamu memanggil Sakura dengan "perempuan jalang" itu lagi, aku akan membuatmu menyesal telah menyutujui rencana konyol ini. Aku akan membuatmu menyesal telah menikah dengan aku!"
- - - - - o o o - - - - -
To be continue..
