A/N : Yeeeyeyeyeye fic pertama berbahasa Indonesia \m/ baca semu yah oke oke :D
Disclaimer : Naruto bukan punya sayaaaaa. Kalau seandainya punyaku ceritanya bakalan jelek dan tidak laku -,-
"Apa menurutmu dia akan membacanya?" tanya Ino, mulai was-was saat Sai membuka lokernya. Tadi pagi ia telah menyelipkan sepucuk surat pernyataan cinta kedalam loker lelaki pujaan hatinya itu.
"Tentu saja dia akan membacanya, surat itu ditujukan kepadanya kan?" aku malah balik bertanya. "Tapi kau agak aneh juga, kenapa kau tidak cantumkan namamu saja? Daripada menulis 'from Your Secret Admirer'. Klise sekali,"
"Karena..." raut wajahnya kini sedih. "Karena... Aku tidak mau menghancurkan persahabatan kita,"
Kami terus memperhatikan laki-laki berkulit pucat itu sementara ia membaca isi dari surat yang secara misterius muncul di lokernya. Ekspresinya geli.
Tapi kini aku berdiri di samping sahabatku itu di altar, manyaksikannya mengucapkan sumpah sehidup-sematinya dengan Sai. Air mata menggenangi pelupuk mataku, ikut merasakan kebahagiaan Ino saat ia bersumpah "Aku bersedia,"
Lonceng berbunyi, dan tangisku pecah. Betapa beruntungnya dia. Gadis itu mencium dan memeluk erat Sai, laki-laki yang kini telah resmi menjadi suaminya, kemudan berbalik padaku.
"Sakura! Aku sudah menikah! Bisakah kau mempercayainya?" ia tersedak air mata kebahagiannya sendiri, terhuyung-huyung menghampiriku. Aku menggeleng, tertawa dan menangis pada saat bersamaan saat kami berpelukan. Ino terus bergumam pada dirinya sendiri, "Aku sudah menikah, aku sudah menikah! Dengan Sai! Ya ampun, aku sudah menikah!"
Dari balik bahu Ino yang masih bergetar karena tangis dan tawa, aku melihat Sai merangkul sahabatnya sekaligus best-mannya. Gaara.
Gaara, Gaara, Gaara.
Gaara.
Lelaki yang telah memiliki hatiku sejak dulu hingga detik ini juga.
Aku melihat Gaara mengucapkan selamat pada Sai dengan senyum kecil. Ku dorong Ino menjauh dariku.
"Kembalilah pada suami barumu," aku menyarankannya. Pipi teman sejak kecilku itu merona, kemudian ia nyengir padaku dan berbalik menuju Sai, gaun berwarna gading lembut yang ia kenakan beriak-riak seperti ombak saat ia berjalan. Aku tersenyum melihat Sai mengulurkan tangannya pada temanku itu. Ino mengambilnya dan para tamu muliai bersorak, meminta mereka berdansa. Tepuk tangan semakin riuh terdengar saat Sai membawanya ke lantai dansa, dan musik mengalun.
Kulangkahkan kakiku keluar, menghindari kerumunan. Di taman dekorasi sama mewahnya dengan di dalam gedung. Namun segala kegiatan tepusat di dalam sekarang , meninggalkan taman ini begitu sepi dan damai. Diluar sebagai dekorasi Ino telah membuat gazebo selamat datang dengan ribuan bunga putih sebagai kanopinya, dan pita-pita putih besar dililitkan di tiang-tiangnya. Harum semerbak mawar putih dan calla lily menyambut indera penciumanku saat aku lewat di bawah gazebo itu.
Pernikahan ini persis seperti yang pernah diimpikannya dulu. Aku ingat, saat kami masih duduk di bangku SMA, Ino pernah menunjukkan padaku rancangan pesta pernikahannya. Bibirku melengkung ke atas dalam senyuman tipis saat aku mengingatnya.
"Sakura lihat ini! Sempurna bukan?" dengan mata berbinar ia menunjukkan padaku sebuah sketch. "Pernikahanku! Kalau nanti aku menikah, pestanya akan seperti ini!"
Mataku menyipit sementara aku memandangi goresan-goresan pensil yang membentuk sebuah taman dengan air mancur di tengahnya, pita dan bunga-bunga. "Ini... dekorasinya mewah sekali," ujarku. "Darimana kau akan dapat uang untuk membuat dekorasi semewah ini?"
"Biar saja. Kalau perlu aku tidak akan makan demi mendapatkan White Wedding seperti ini,"
Benar-benar perempuan yang sangat beruntung kau Ino, pikirku sambil lalu. Aku kembali ke masa kini dan melihat seseorang duduk di tepi kolam yang terdapat di taman itu. Rambut merahnya sedikit acak tertup angin, setelan jas putih yang ia kenakan cocok dengan kulitnya yang pucat sementara mata hijau-birunya memandangi air kolam dengan tatapan sendu. Aku melenggang santai ke arahnya dan berhenti di sampingnya. Laki-laki itu tidak menoleh untuk melihat siapa yang telah bergabung dengannya. Lebih banyak bunga lagi disini. Di tepian kolam tumbuh spider lily putih, kelopaknya yang panjang-panjang dan kurus melambai ditiup angin.
"Hei Gaara," aku menyapa. Ia tetap tidak menoleh.
"Hai Sakura,"
"Pernikahan yang indah bukan?" ucapku, berusaha memulai pembicaraan. Gaara mengangguk sedikit.
"Indah sekali. Sai sangat beruntung... mendapatkan wanita sebaik Ino," hatiku sedikit mencelos mendengarnya memuji sahabatku.
"Ya, dia memang sangat beruntung," aku menyetujui. Dari pojok mataku kulihat beberapa tamu mulai keluar dari aula, ingin menikmati keindahan taman.
Gaara bangkit dan mulai berjalan. Tergopoh-gopoh aku mengikutinya seraya mengangkat gaunku yang berwarna baby pink senada denan rambutku sedikit. Ugh, gaun sialan. Gaun pilihan Ino ini memang cantik, anggun dan pas dipakai olehku. Tapi kalau bisa, aku pasti akan memilih dress selutut yang warnanya agak gelap seperti abu-abu daripada gaun yang jatuh hingga ke tanah ini demi menghindari repotnya. Sementara Ino terus mengancam akan mencoretku dari daftar pendamping wanita kalau aku tidak memakainya. Benar-benar tidak adil.
"Kau mau ke mana?" tanyaku. Kuangkat gaunku sedikit lagi, untuk jaga-jaga agar tidak menginjak gaun cantik ini kemudian jatuh dan mempermalukan diriku sendiri.
"Aku... tidak suka keramaian," jawabnya pelan. Dan Gaara melangkah masuk ke dalam labirin raksasa.
Chapter 1 finish \m/
ditunggu reviewnya oke oke. yang nge-review cantik-cantik dan ganteng-ganteng :D
