Namikaze Minato, seorang raja dari Kerajaan Uzumaki, salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada. Kerajaan itu pernah mengalami kemunduran berat di masa lalu akibat serangan dari kutukan Sharingan Klan Uchiha. Beruntung, dengan kekuatan dewa yang telah dianugerahkan kepada mereka, Klan Uzumaki memiliki NineTailed Beast alias Kyuubi untuk membendung kutukan Klan Uchiha. Pada pemerintahan Minato Sang Yondaime, Klan Uchiha dapat ditakhlukan dan akhirnya bersatu dengan Kerajaan Uzumaki.
Satu tahun sudah terlewati sejak saat itu. Saat ini kehidupan di Kerajaan Uzumaki telah damai dan tentram. Masyarakatnya jauh dari ancaman dari luar maupun dari dalam.
Tetapi, sepertinya keadaan di dalam istana tidak sebaik di luar istana. Saat ini, Naruto Uzumaki, putra tunggal Sang Yondaime, yang dikenal sebagai pewaris tahta tunggal dari Kerajaan Uzumaki tengah memusingkan para pelayan kerajaan. Harusnya, saat ini Naruto sedang belajar di ruang belajarnya. Akan tetapi, saat ini Ia malah kabur dari kelasnya dan membaca sastra sihir di kamarnya. Ketukan pintu para pelayan diabaikannya, tidak peduli seberapa memohon para pelayannya itu.
"Naruto-sama, hamba mohon kemba-"
"Naru tidak mau belajar lagi. Hal yang diajarkan pun itu-itu saja." Sela Naruto saat seorang pelayan mengingatkan bahwa ini adalah jam belajarnya. Meskipun memang benar apa yang dikatakannya. Karena bahkan sejak di dalam kandungan Naruto sudah 'disuapi' hal-hal seperti politik kerajaan. Akan tetapi, tetap saja Ia harus mengikuti seluruh aturan jam belajarnya.
"Naruto-sama, saya akan masuk." Ujar seorang pelayan.
Tanpa bertanya siapa, Naruto sudah tahu siapa pelayan yang dengan seenaknya masuk ke dalam kamarnya. Karena memang ada satu, hanya satu pelayan yang diberi kekuasaan oleh orang tuanya, untuk bertindak keras dan mendisiplin Naruto
"Naruto-sama, saya mohon, kembalilah ke ruang belajar." pelayan dengan surai panjang tergerai beriris lavender yang bernama Hinata itu menunjukkan muka memelas. Pasalnya, bila Naruto terjerat masalah, Ia juga akan terkena masalah yang bahkan jauh lebih berat.
Naruto yang melihatnya bukan menurut malah diam menatap Hinata. Kemudian Ia berkata,
"Antarkan aku ke Sasu-chan." Naruto berkata dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Sasu..-chan? Maksudmu Sasuke-sama?" tanya pelayannya yang bernama Hinata.
"Hnn"
Ada jeda beberapa detik, Hinata dan Naruto saling bertatapan, seakan saling mempertahankan keinginan masing-masing. Namun nampaknya Sang Putra Mahkota tidak memiliki keinginan untuk mengalah kepada pelayannya itu. Menyerah dengan dinginnya Naruto, Hinata menggandeng Naruto dan berjalan menuju ke luar kamar Naruto dan menuju ke arah barat istana. Royal Family dari Klan Uchiha memang di tempatkan di kastil barat oleh Sang Yondaime, dengan tujuan untuk mengakrabkan kerajaan dengan klan Uchiha.
Kemudian Hinata membawa Sang Putra Mahkota ke kastil Barat. Sesampainya di sana, Naruto kecil langsung berlari ke dalam kastil menuju menara teratas. Melupakan Hinata yang kesusahan mengejarnya, Ia terus berlari sambil tersenyum senang. Dalam hati Hinata berpikir, betapa cepat Naruto berubah tempramen. Setiap hari, akan ada titik puncak Naruto bersikap sangat dingin dan keras kepala seperti yang barusan terjadi. Kemudian Naruto akan meminta Hinata mengantarnya kepada Sasuke dan -blam- mood Naruto akan menjadi baik.
Sesampainya di lantai menara paling atas, Naruto langsung melangkahkan kakinya ke hadapan sebuah pintu.
"Um.." matanya mengerjap lucu saat melihat sebuah pintu besar yang terpampang di hadapannya.
"Buka pintunya." perintah Naruto kepada seorang penjaga pintu, tentu dengan raut wajah dingin yang telah dipasangnya.
"Selamat pagi, Naruto-sama, anda terlihat sehat seperti biasanya, mengunjungi Sasuke-sama kah?" tanya penjaga pintu.
Naruto dengan senyum tipis mengangguk.
Kemudian sang penjaga pintu dengan terkikik geli membukakan pintu untuk sang putra mahkota yang rutin mendatangi ruangan -yang ternyata adalah kamar putra bungsu Klan Uchiha, Sasuke.
"Sasuu.." Naruto memanggil nama anak yang lebih muda setahun darinya itu.
Merasa tidak ada sahutan, Naru kecil mulai melangkahkan kakinya lebih jauh ke dalam kamar. Menolehkan kepalanya ke kanan kiri mencari keberadaan sang raven.
"Nalu?" Mendengar sahutan dan namanya dipanggil, Naru langsung menoleh ke sumber suara dengan semangat. Rupanya Sasuke dari tadi berada di atas kasurnya terduduk dengan manis melihat kehadiran Naruto dengan antusias. Kemudian saat tatapan mereka bertemu, Sasuke kecil tersenyum senang.
"Sasu! Ayo main denganku." Ajak Naruto.
Belum sempat Sasuke menjawabnya, tiba-tiba terdengar suara Hinata yang beseru dengan nafas yang tidak teratur akibat mengejar Naruto yang berlari ke atas menara.
"Naruto-sama! Jangan pernah kabur dari pengawasan saya lagi, saya mohon. Saya harus menjaga keamanan Anda.." Pinta Hinata dengan wajah memelas.
Naruto yang awalnya ingin membalas dengan ledekan akhirnya luluh hatinya saat melihat kelelahan di wajah Hinata.
"..baiklah" bisiknya.
Hinata tersenyum lega. Taktiknya berhasil. selama ini, sikap angkuh dan keras kepala tuan kecilnya selalu luluh apabila ada Sasuke di dekatnya.
Kemudian hari itu berjalan seperti biasa, di mana sang Putera Mahkota berkeliaran di kastil barat bersama putra bungsu Uchiha. Hinata mengikuti keduanya bersama dengan pengasuh Uchiha Sasuke, yaitu Karin. Karin sendiri berasal dari klan Uzumaki. Ia diberi tugas langsung dari raja untuk menjadi pengasuh sekaligus pengawas Sasuke dan kakaknya, Itachi. Namun karena di usia Itachi yang ketujuh, Ia mendapat perhatian Karin lebih sedikit, tentunya karena Itachi harus bersekolah.
Kembali ke Naruto, kini Ia dan Sasuke sedang asyik bermain di halaman kastil barat. Terlihat Naruto yang tertawa lepas dengan rasa hangat yang menyelimutinya saat bercanda dengan Sasuke, yang sesekali terkikik geli atas ulah Naruto. Hinata dan Karin yang melihat dari kejauhan saling berbincang.
"Mereka terlihat sangat bahagia." Ujar Karin.
"Iya benar. Aku jarang melihat Naruto-sama tertawa sebahagia ini di luar waktunya bersama Sasuke." jawab Hinata yang dibuahkan ekspresi sedikit terkejut dari Karin.
"Kupikir.. Naruto-sama memang periang." Ucap Karin dengan wajah penuh tanda tanya.
Hinata menunjukkan ekspresi sendu, kemudian berkata, "Tidak, Naruto-sama lebih sering bersikap dingin saat berada di kastil utama. Entah apa yang membuatnya seperti itu."
"Apa mungkin dia mengingat peristi-"
"Shh! Kau gila! seluruh kerajaan dilarang membicarakan ataupun menyinggung masalah itu, apalagi di wilayah klan Uchiha. Kau jangan mencari masalah." Potong Hinata dengan sedikit panik.
"Iya, iya aku tahu. Tapi bukankah itu sudah lewat satu tahun? Lagipula Naruto-sama masih berusia 3 tahun saat itu, apa mungkin dia masih mengingatnya?" Tanya Karin.
"Aku tidak tahu." Jawab Hinata
Karin membalas, "Lagipula, hal itu tidak akan berhubungan dengan sikap Naruto-sama terhadap Sasuke-sama. Bukankah hal yang terjadi adalah sebaliknya? Maksudku, dengan kematia-"
"Shhh!!" Lagi-lagi perkataan Karin dipotong oleh Hinata. Nampaknya pengasuh penerus klan Uchiha ini kurang tahu tentang batasan topik yang aman untuk dibucarakan di wilayah kastil.
"Maaf." Bisik Karin.
"Hahh.. Sudahlah. Omong-omong, ini adalah waktu makan siang. Aku harus mengembalikan Naruto ke Kastil Utama. Sampai jumpa.."
Kemudian Hinata pun berjalan mendekati Naruto dan mengajaknya untuk kembali ke Kastil Utama. Beruntung, mood Naruto sudah membaik sehingga ajakan Hinata diterimanya tanpa ada perdebatan terlebih dahulu. Setelah berpamitan dengan Sasuke, Naruto pergi meninggalkan Kastil Barat.
"Sasuke-sama, ayo kembali ke dalam." ucap Karin seraya menggendong Sasuke. Memang, seharusnya di usianya sekarang Sasuke jalan sendiri. Namun nampaknya Sasuke memiliki princesyndrome sehingga bersifat lebih manja dibanding anak-anak seusianya. Sasuke juga jarang berbicara. Ia hanya perlu anggukan, gelengan, atau bahkan hanya tatapan saja, semua pelayannya sudah mengerti apa yang diinginkannya.
Saat ini, kehidupan di dalam kerajaan berjalan normal, persahabatan Naruto dan Sasuke berjalan baik, Klan Uchiha tidak ada pertikaian dengan Kerajaan, tidak ada masalah masyarakat yang begitu berat, semua berjalan lancar. Sampai 15 tahun kemudian, Naruto telah tumbuh menjadi seorang yang sangat menunjukkan ciri khas seorang pewaris tahta. Tubuhnya yang atletis, kemampuan bertarungnya, pesonanya, kecerdasannya, segala kesempurnaannya.
"Hoi Sasu! Apa kabar?" Seru Naruto dengan cengiran khasnya sambil mendobra-ehem- membuka pintu kamar Sasuke, tentunya tanpa ijin dari pemilik kamar terlebih dahulu.
"Wha-.. Naru!" Sasuke mendelik kesal. Pasalnya, Sasuke yang sedang konsentrasi belajar harus dikejutkan oleh suara pintu yang menubruk dinding kamarnya.
"Hehe, maaf." Cengir Naruto tanpa merasa bersalah. abis kamudian Naruto berjalan menghampiri Sasuke.
"Hhh.." Sasuke hanya menatap datar pemuda pirang yang ada di hadapannya dan kemudian bertanya.
"Ada perlu apa, Yang Mulia Putra Mahkota? Hmm? " Tanya Sasuke dengan seringai tipis di bibirnya.
Naruto yang mendengar Sasuke meledeknya mendelik tajam. "Hei! Berhentilah mengejekku dengan sebutan itu! abis Ck-Teme!"
"Hn, terserah saja." Sasuke yang malas verrdebat hanya mengedikan bahunya malas dan kembali menghadap ke materi belajarnya.
"Nee.. Teme.. Kau tidak seharusnya mengabaikanku, kau tahu? Aku mengalami hari yang buruk hari ini.." Ujar Naruto dengan merengut.
Oh tentu saja, itu terpampang jelas di wajahmu, idiot. Pikir Sasuke.
"Oi Teme! Kau tidak bisa mengatai orang idiot, kau tahu!? Itu menyakitiku.." Seru Naruto yang semakin merengut.
"Aku tidak mengatakan kau bodoh." Sasuke membela diri.
"Ya, tapi kau mengatakan aku idiot." Timpal Naruto.
"Aku tidak- hei, tunggu. Kau?!"
Naruto tertawa "Khk.. Hahaha Sasu-chan, bukankah sudah sering aku katakan, apapun yang ada di otakmu terpampang jelas di wajahmu, yah, meskipun sedatar apapun ekspresimu, aku tahu."
Semburat merah menghiasi pipi sang raven. "Kau-! Arghh kubunuh kau!" Kemudian dalam hitungan detik, Sasuke sudah menerjang Naruto dan 'menghajar' Naruto, meski dengan perbedaan postur tubuh, Naruto hanya merasakan pukulan kecil.
Krmudian Naruto menangkap kedua tangan Sasuke dan berkata, "Ne, Sasuke, maafkan aku. Aku hanya bercanda.."
Kemudian Sasuke hanya menatap Naruto dengan tatapan ingin-memaafkan-tapi-masih-kesal. Naruto yang mengerti arti tatapan itu tersenyum kemudian mengubah posisinya menjadi duduk, kau sehingga saat ini posisi Sasuke ada di pangkuannya.
"Dobe-" Kalimat Sasuke terpotong saat Naruto tiba-tiba memeluk Sasuke dengan erat, seakan takut pemuda raven di hadapannya akan menghilang bila tidak didekapnya.
"Naru.."Kau berlaku aneh, kau tahu.
"Maafkan kalau aku bertingkah aneh, tapi pagi ini aku benar-benar terpukul."
Belum sempat Sasuke menjawab, Naruto sudah melanjutkan perkataannya.
"Seharusnya berita ini sudah masuk Kastil Barat, kau namun, dari wajahmu.. sepertinya belum.." Ucao Naruto dengan wajah sendu.
"Naru, memang ada apa?" Tanya Sasuke. Tanpa sadar, tangannya meraih bahu Naruto dan mendekap pemuda pirang itu ke dalam dekapannya.
"Ayah dan Ibuku memintaku untuk mencari mate." Ujar Naruto.
Sasuke tahu, betapa Naruto membenci hal ini. Yang Naruto sukai adalah kebebasan. Apalagi, dalam peraturan kerajaan, seorang pewaris tahta harus mencari mate yang sesuai kriteria kerajaan, atau perjodoh-oleh-orangtua adalah jawabannya.
"Kau tidak perli sebegitu depresi, Naru. Tidak ada yang buruk dalam mencari mate."
"Tapi aku tidak yakin pilihanku akan menerimaku, Sasuu" Seru Naruto dengan wajah sedih.
Sasuke menatap Naruto dengan harapan Naruto akan memberikan nama mate pilihannya.
"Orang itu dari klan mu, Sasu."
Hal itu mengejutkan Sasuke. Selama ini, Ia tidak pernah melihat Naruto berbincang dekat dengan gadis Uchiha manapun, kecuali.. Naruto memiliki pujaan dari Klan Uchiha?
"Pftt. Memang kau menginginkan siapa? Izuna-Izuna-nee itu milik Itachi-nii. Naori-san jauh lebih tua darimu. Siapa yang kau incar? Aneh-aneh saja" Aku tidak tahu dia dekat dengan gadis Uchiha lain. Pikir Sasuke.
Naruto menatap Sasuke dengan pandangan tidak suka. Kemudian dengan tegas Ia berkata,
"Hahaha. Lucu sekali. Yang aku inginkan tentu saja kau. Uchiha Sasuke."
"...Apa?"
