Magic
By: Kei Tsukiyomi
.
Author's Note: Terinspirasi dari komik Merupuri karya Matsuri Hino sensei :D. ingat, Cuma terinspirasi :v
Saya mendengarkan lagu "Devil" dan "Magic" pas buat nih ff. so, saya rekomen itu lagu buat di dengerin pas baca nh ff. Gak juga gak apa-apa kok.
Sebenernya ini Cuma buat konsumsi pribadi.
Warning: AU, Typo, OOC, Alur kecepetan, minim deskripsi. DLDR!
Pair: Haehyuk (Always)
^-^v
.
Malam sudah tiba. Bulan pun sudah berada di peraduannya menggantikan Matahari untuk memberikan penerangan. Biasanya di waktu ini akan digunakan untuk beristirahat, tetapi hal seperti itu sepertinya tidak berlaku bagi pemuda ini.
Jauh di atas langit sana terdapat Negeri sihir yang di tinggali para Dewa-Dewi. Tempat yang seharusnya tenang tetapi tidak berkat ulah seorang dewa muda berambut brunette ini.
"Ada apa lagi ini?" suara berat dan berwibawa yang terdengar di tengah –tengah kebisingan itu menginterupsi beberapa dewa-dewi di ruangan itu. Mereka menoleh dan terlihat gugup begitu mengetahui siapa yang berbicara barusan. Pimpinan mereka.
"Maaf tuan, dewa muda Aiden berulah lagi," jawab salah satu diantara mereka pelan. Tetua dewa itu menghela nafas lelah.
"Apalagi yang dilakukan anakku itu?"
"Dewa Aiden merusak beberapa agenda yang sudah terjadwal, menganggu tugas para dewa lain dan masih banyak lagi tuan."
Astaga, ada apa dengan anak itu sebenarnya hingga selalu membuat kekacauan, pikir tetua dewa itu yang tak lain adalah ayah dari Aiden, dewa muda yang selalu berulah. Dipandanginya dewa-dewi yang berada di hadapannya.
"Di mana Aiden sekarang?"
"Mungkin berada di kamarnya tuan."
"Baiklah, aku akan mengurus Aiden. Kalian tolong urus masalah ini."
"Baik tuan."
Ayahanda Aiden tersebut segera bergegas menemui anak 'tersayangnya'. Ia sudah memikirkan ini baik-baik, ia akan memberikan hukuman pada anaknya itu.
.
.
Aiden tengah terduduk di pinggir jendela di dalam kamarnya dengan segelas minuman di tangan kanannya. Pandangannya tertuju pada kekacauan yang dibuatnya di bawah sana. Bibirnya menyunggingkan seringai. Ia tertawa puas dalam hati. Ahh… betapa menyenangkannya menjahili dewa-dewi yang sok sibuk itu.
Hazelnya ia alihkan ke pintu kamarnya yang terbuka, menampakkan ayahandanya yang berdiri menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Aiden berdiri dan melangkah mendekati ayahnya. Ia melambaikan sebelah tangannya santai dan tersenyum kekanakkan.
"Hai ayah." Kangin-ayahanda Aiden- hanya menghela nafas melihat kelakuan anaknya itu.
"Kali ini apa yang kau perbuat? Kelakuanmu itu sunggh merugikan yang lainnya Aiden." Aiden tersenyum polos dan membalas dengan riang.
"Aku hanya sedikit bermain-main dengan mereka kok. Aku bosan dan mereka tidak mau bermain denganku, jadi aku menjahili mereka sedikit."
"Sedikit? Kau membuat banyak masalah setelahnya. Berapa umurmu sekarang, kau sudah dewasa Aiden, berhenti bersikap kekanakan seperti itu!" Aiden hanya tertawa mendengarnya.
"Baik, ayah sudah memutuskannya. Kesalahanmu kali ini sudah tidak bisa ditolerir lagi. Terpaksa ayah akan menghukummu."Kangin menatap Aiden dengan sorot mata tajam dan suara yang tegas. Aiden tersenyum meremehkan.
"Hukuman apa lagi, ayah?"
"Kau akan diturunkan ke Bumi."
"APA?!"
"Kau yang memaksa ayah mengambil keputusan ini."
"Jangan bercanda ayah!" Kangin menggeleng dan menatap langsung hazel di hadapannya.
"Kau akan di turunkan di Bumi untuk belajar menjadi lebih dewasa dan menyadari kesalahanmu itu." Aiden terbelalak tidak percaya oleh keputusan ayahnya itu. Hell, ini tidak bisa dibiarkan! Memang ia akui ia selalu menjahili dewa-dewi di sini sejak dulu. Tapi ia rasa ayahnya ini berlebihan jika menghukum dirinya hingga turun ke Bumi.
"Aku tidak mau!"
"Ayah tidak butuh jawabanmu. Besok pagi kau akan menjalani hukumanmu di Bumi dengan wujud anak laki-laki berumur 8 tahun. Kau dapat kembali ke wujud dewasamu saat malam hari tiba. Dan satu lagi, kau hanya boleh menggunakan sihirmu untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Tidak untuk main-main." Aiden makin membatu di tempatnya dengan pandangan tidak percaya yang dilayangkan untuk ayahnya yang kini tengah tersenyum penuh kemenangan.
"Apa-apaan itu, ini tidak adil bagiku!"
"Ini adil, Aiden. Hukuman itu agar kau bisa bersikap lebih dewasa lagi. Ah, kau tenang saja, begitu kau bisa bersikap lebih dewasa, kau bisa kembali ke sini."
Aiden bersedekap dan menatap ayahnya dengan pandangan yang menusuk. Ia benar-benar tidak terima akan keputusan ayahnya yang menurutnya sudah keterlaluan ini.
"Apa? Sekarang istirahatlah, besok kau akan menjalani hukumanmu."
"Terserah." Aiden berbalik dan melompat keluar jendela. Ia mengepakkan sayapnya dan terbang menembus langit malam dengan suasana hati yang kesal. Ayahnya menghela nafas dan meninggalkan kamar anaknya.
"Semoga dengan hukuman ini kau bisa lebih dewasa, nak."
.
"Huah… aku telat!"
Kamar dengan cat berwarna biru safir itu terlihat berantakan dengan sang pemilik kamar yang tengah berlarian dengan panik.
"Ke mana tugas itu? tadi malam sudah ku letakkan di meja. Aish, tamat riwayatku kalau kehilangan tugas itu, guru killer itu pasti akan memberikan hukuman yang mengerikan. Aigo, tugas~ kamu di mana hiks…" airmata sudah menggenang di pelupuk mata pemuda berambut blonde itu. Ia menggigit bibirnya yang merah alami dan terduduk di pinggiran tempat tidurnya dengan wajah sedih yang menggemaskan. Ia melihat ke sekeliling kamarnya dan pandangannya tertumpu pada buku yang tergeletak tak berdaya di lantai dekat pintu.
"Tugasku! Akhirnya ketemu!" dengan jeritan senang ia melangkah dan mendekap tugas yang sudah ia kerjakan semalaman suntuk itu dengan wajah yang berseri. Dengan cepat ia memasukan tugas itu ke dalam tasnya dan berlari ke luar.
"Aku harus cepat, kalau tidak akan ketinggalan bis."
Dengan itu, pemuda bernama –Eunhyuk- tersebut berlari sekuat tenaga. Ia memelankan laju larinya saat melewati taman yang tak begitu jauh dari ada yang mengusik penglihatannya ia memicingkan matanya dan perlahan mulai mendekat ke arah tumpukan daun kering yang berada di bawah pohon yang cukup besar. Ia membelalakan matanya kaget dan hampir menjerit begitu melihat seorang anak kecil bersurai brunette tengah terbaring di atas tumpukan daun-daun itu dengan mata terpejam. Dengan takut-takut Eunhyuk menyentuh pipi anak itu dan menepuknya pelan.
"Hei, kau tidak apa-apa? Hei?" hangat. Saat jemari Eunhyuk menyentuh pipi anak itu terasa hangat. Tanpa sadar ia menghembuskan nafas lega. Setidaknya fikiran buruknya yang mengira anak ini mati tidak terjadi.
"Hei." Ia mencoba menggoyangkan badan itu perlahan dan berhenti saat melihat kelopak mata itu sedikit bergerak. Ia tak tau kenapa, badannya terasa kaku saat bola mata anak itu terlihat. Hazel yang tengah menatapnya tepat di mata itu serasa melumpuhkannya. Membuatnya berdebar entah kenapa. Ia menggelengkan kepalanya pelan dan menatap kembali anak itu.
"Dik, kenapa kamu tidur di sini?" anak itu bangun dan terduduk di atas dedaunan itu. Ia melihat ke sekelilingnya dan mengernyit begitu tak tau ia berada di mana.
Ah, hukumannya sudah di mulai ternyata. Ia menyadari perubahan tubuhnya yang sekarang terlihat seperti anak-anak. Ia mendesah pelan.
"Dik?"
"Aku sedang menjalani hukuman, nona cantik."
Apa bocah ini bilang barusan? Nona cantik? NONA?!
Sebuah perempatan siku-siku muncul di dahi Eunhyuk.
"Aku bukan nona, Aku ini laki-laki!" ucapnya kalem dengan senyuman kelewat manis. Bocah itu terlihat menatapnya tak percaya. Ia mendekat dan menjulurkan tangannya.
Puk!
Eunhyuk memandang horor pada tangan bocah itu yang berada di tubuhnya.
"Hmm… benar, kau tidak punya dada dan jakunmu kecil sekali." Eunhyuk menjerit sejadinya saat bocah itu menyentuh dadanya dan sedikit meremasnya. Ia mundur secepat yang ia bisa dan mendekap dadanya dengan kedua tangannya.
"Dasar bocah tidak sopan!" bocah itu hanya terkekeh melihat tingkah lucu Eunhyuk. Wajah itu tampak imut dengan rona merah yang begitu kentara di kulit putih susunya.
"Maaf Hyungie~" Eunhyuk mundur begitu bocah itu maju. Ia kembali menjerit begitu melihat jam di pergelangan tangannya.
"Aku terlambat!" Eunhyuk berdiri dan secepat kilat berlari menuju halte bus yang berjarak tidak begitu jauh. Meninggalkan bocah brunette itu yang terkekeh senang melihatnya.
"Imut sekali lelaki itu, jadi ingin menggigitnya." Ia menepuk-nepuk belakangnya untuk membersihkan dedaunan yang menempel di bajunya. Ia baru sadar ia sudah mengenakan pakaian khas manusia bumi. Ia mendesah, ayahnya itu benar-benar niat 'membuangnya' ke Bumi rupanya. Ia memandang ke langit biru dan teringat ucapan ayahnya.
"Ingat Aiden, berbanyaklah berbuat kebaikan di Bumi. Dan belajarlah menjadi dewasa." Aiden hanya memutar bola matanya bosan mendengar itu. Ia dan ayahnya kini berada di ujung pembatas menuju Bumi di bawah sana. Lagi-lagi ia mendesah, ia tak habis pikir bahwa ia benar-benar akan di hukum di Bumi. Ayahnya ini sangat berlebihan menurutnya.
"Ah untuk namamu. Namamu di Bumi adalah Lee Donghae." Aiden hanya mengangguk malas. Pembatas itu sudah terbuka. Angina yang berhembus dengan cukup kencang itu membuat Aiden menutup matanya.
"Sudah waktunya, Aiden. Ingatalah selalu Aiden, Ayah menyayangimu." Dan setelahnya Aiden merasa dirinya terhempas ke bawah dan semuanya menjadi gelap dalam sekejap. Dan saat membuka matanya ia melihat sepasang manik hitam mempesona dengan paras cantik yang melihatnya dengan pandangan cemas.
"Jadi namaku Donghae ya? Cukup bagus." Donghae melihat ke arah kakinya saat merasa menginjak sesuatu. Ia berjongkok dan mengambil sebuah benda seperti kartu.
"Lee Eunhyuk." Ia membaca nama yang tertera di kartu itu. Jangan heran, sewaktu di langit sana, Donghae juga mempelajari bahasa manusia. Jadi sangat mudah baginya mempelajari tentang manusia.
Donghae membaca keseluruhan biodata yang tertera di kartu pelajar Eunhyuk.
"Jadi kau siswa SM high school? Hmm, kita akan bertemu lagi manis." Ia menyeringai dan berjalan menuju sekolah lelaki manis itu. Ia bisa dengan mudah menemukan letak sekolah itu dengan sihirnya.
.
Bel tanda istirahat telah berdentang, membuat seluruh siswa-siswi menahan jeritan senangnya setelah menempuh berjam-jam dengan pelajaran menguras otak.
Eunhyuk merenggangkan badannya yang terasa pegal. Ia menoleh begitu ada tangan yang merangkul bahunya erat.
"Yo Hyukie, kenapa kau hampir terlambat tadi pagi?" Eunhyuk mempoutkan bibirnya imut dan memandang lelaki bersurai hitam di sampingnya yang masih merangkulnya erat.
"Aku bangun kesiangan dan hampir menghilangkan tugas Kang seongsaengnim, Khunie,"ucapnya dengan nada merajuk yang sangat manis. Nickhun, lelaki yang merangkul Eunhyuk hanya tersenyum manis dan mengacak surai blonde pemuda manis ini gemas.
"Hyukie~ ayo ke kantin." Eunhyuk menoleh ke sampingnya dan menemukan pemuda berambut ikal cokelat tengah menarik tangannya lembut.
"Kyunie."
"Ayo Hyukie, aku tau kau belum makan." Kyuhyun, pemuda jangkung dengan kulit pucat itu memandang tajam pada lengan Nickhun yang masih mendarat cantik di bahu Eunhyuk. Eunhyuk berdiri dan mengikuti Kyuhyun yang membawanya keluar kelas.
"Eunhyuk, ada yang ingin bertemu denganmu, ia berada di kantor guru sekarang," ucap salah satu teman perempuannya yang baru kembali dari ruang guru.
"Siapa?"
"Entahlah, aku hanya di titipi pesan itu untukmu." Eunhyuk segera bergegas ke ruang guru. Meninggalkan Kyuhyun dan Nickhun yang saling berpandangan di belakangnya.
.
.
"Permisi." Eunhyuk mengetuk pintu ruang guru itu pelan dan membukanya. Ia menyembulkan kepalanya dan memandang sekelilingnya.
"Masuk saja Eunhyuk."
"Ye Saem." Eunhyuk masuk dan sedikit membungkuk ke arah guru-guru yang berada di sana.
"Apa di rumahmu tidak ada siapa-siapa hingga adikmu menyusul kemari?"
"Apa?" Guru Kang menunjuk ke sudut ruangan yang dipenuhi guru-guru wanita yang tengah mengerubungi sesuatu seperti lebah.
"Adikmu menyusulmu, cepat temui dia."
"Ba-baik." Dalam hati ia berfikir, sejak kapan dia punya adik? Dia anak tunggal. Ia langkahkan kakinya menuju kerumunan guru-guru perempuan itu.
"Kyaa kau manis sekali nak."
"Kau tampan juga di usia mudamu."
"Kyaa… boleh kubawa pulang?" Eunhyuk makin mengerutkan keningnya mendengar kalimat terakhir itu. Sebenarnya siapa sih?
"Permisi Saem," ucap Eunhyuk sopan pada guru-gurunya itu. Mereka langsung memberi jalan pada Eunhyuk.
"Ah Hyukie hyung~ Bogoshipeo~" Mata Eunhyuk membulat begitu melihat bocah yang tadi pagi ia temui sekarang berada di hadapannya tengah berlari dan melompat kepelukannya.
Apa-apaan ini?!
Mau tak mau Eunhyuk membalas pelukan bocah brunette itu karena banyak pasang mata yang melihat mereka.
"Hyukie hyung akhirnya aku menemukanmu hehe…" bocah itu kini tengah mendusal-dusalkan wajahnya di perpotongan leher Eunhyuk, membuatnya geli.
"Eunhyuk, dia adikmu? Setauku kau itu anak tunggal." Eunhyuk tersenyum canggung. Bagaimana menjelaskannya? Ia juga tidak tau siapa bocah menjengkelkan dipelukannya ini. Haruskah ia mengatakannya dengan jujur? Tidak! Itu sangat menggelikan.
"Err…dia ini, a-adik sepupuku. Iya, adik sepupuku hehehe…" para guru itu tersenyum dan mengangguk.
"Kenapa dia bisa ke sini? Itu berbahaya bagi anak seusianya." Benar, hal itu juga yang ada di benak Eunhyuk saat ini. Ia melepas pelukannya dan memegang bahu bocah itu.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" bocah itu terkekeh manis, membuat wajah Eunhyuk merona. Kalau dilihat-lihat bocah itu menggemaskan juga.
"Aku mencarimu hyungie~"
"Untuk apa?"
"Untuk pulang bersamamu hehe…"
Huh? Eunhyuk memiringkan kepalanya karena bingung.
Cup!
Dengan santainya bocah itu mengecup pipi kanan Eunhyuk. Membuat Eunhyuk terperangah.
"Kau imut hyungie~" para guru perempuan di sana menjerit heboh karena menganggap perbuatan bocah itu barusan sangat menggemaskan.
"Apa yang kau lakukan?" Eunhyuk berusaha menahan suaranya agar tak berteriak di hadapan gurunya itu.
"Tidak ada, ayo pulang Hyungie~"
"Aku masih harus sekolah. Pulang sendiri sana." Dan jangan menggangguku lagi, tambahnya dalam hati. Ia membuang muka, merasa sangat jengkel dengan tingkah bocah ini.
"Kalau begitu aku akan menunggumu pulang." Apa katanya? Apa Eunhyuk tak salah dengar? Ingin sekali Eunhyuk memaki bocah itu agar pulang ke rumahnya sendiri dan menyuruhnya menjauh sejauh-jauhnya dari hidup damainya.
"Sudahlah Eunhyuk, biar kami yang menjaganya sampai kau pulang nanti. Kami tak keberatan," ujar salah satu guru itu kalem.
"Ta-tapi saem-"
"Tidak apa-apa, sudah sana kalau kau mau istirahat. Tenang saja, kami akan menjaganya untukmu." Eunhyuk kehabisan kata-kata. Jadi, setelah pulang sekolah ia masih harus berurusan dengan bocah tengik ini? Tidak!
"Hyungie, kalau mau istirahat, istirahat saja tapi jangan lupa sepulang sekolah kembali ke sini untuk menjemputku. Ok?"
Tidak akan! Aku tidak sudi menjemputmu lagi! Eunhyuk berteriak dalam hati. Ia menghembuskan nafas pelan dan mau tak mau mengangguk pasrah.
"Selamat beristirahat hyungie~" bocah itu mengusap-ngusap surai blonde Eunhyuk dan terkekeh manis. Eunhyuk menggeram pelan dan berdiri.
"Kalau begitu saya permisi Saem. To-tolong titip adikku,"ucapnya dengan nada yang sangat tidak ikhlas. Guru-guru di sana mengangguk dan siswa manis itu segera berlalu dari ruangan.
Saat sampai di depan pintu ruang guru dan menutupnya, ia berjongkok dan mengusak surai blondenya gusar.
"Aish kenapa aku harus berurusan dengan bocah aneh itu?"
.
Eunhyuk menatap bocah yang saat ini tengah ia gandeng dengan pandangan yang sulit diartikan. Saat ini mereka tengah di perjalanan menuju flat Eunhyuk. Ya, setelah berperang batin antara menjemput atau meninggalkan bocah tampan itu akhirnya Eunhyuk memutuskan untuk menjemput sekalian mengantar ia pulang. Ia tidak mau dikira kakak yang jahat yang tega meninggalkan adik sepupunya di sekolah. Guru-guru juga pasti akan mengomelinya. Aish.
"Hei bocah, kenapa kamu tidak pulang ke rumahmu saja sih?" bocah itu tersenyum kekanakan dan menggoyang-goyangkan tangan mereka yang masih bertaut.
"Namaku Lee Donghae, hyungie~ bukan bocah."
"Terserah. Jawab pertanyaanku." Donghae menarik-narik tangan Eunhyuk untuk merunduk. Eunhyuk menurut dan berjongkok agar tinggi mereka sejajar.
"Hyungie cantik, rumahku sangatttttt jauhhhhh. Sekarang aku tidak bisa pulang untuk beberapa waktu."
"Huh?" Donghae yang gemas dengan wajah bingung Eunhyuk yang sangat imut mencubit pipi chubby itu dan mengelusnya. Betapa halusnya kulit yang sedang disentuhnya ini.
"Hyukie hyung~ aku menginap di rumah hyung ya sampai ada yang menjemputku?" Eunhyuk ingin langsung menolak tapi ia urungkan saat melihat puppy eyes yang diluncurkan bocah bernama Donghae ini untuknya. Kasihan juga kalau anak ini berkeliaran di jalan yang tidak aman. Akhirnya ia menghela nafas dan mengangguk pelan.
"Yeayy~ Hyukie memang baik."
Cup!
"Ya! Kenapa kau ini suka mencium orang sembarangan huh?!" Eunhyuk mengelus pipinya yang baru saja mendapat serangan itu dengan wajah merona.
"Aku terbiasa mencium saat senang," jawab Donghae kalem.
"Dan aku tidak terbiasa dicium orang asing walau anak kecil sekalipun." Eunhyuk mempoutkan bibirnya dan membuang muka. Anak ini memang aneh. Donghae tertawa dan kembali menggandeng tangan lelaki manis itu.
"Ayo cepat hyungie."
"Iya-iya."
.
.
"Duh di mana ya baju itu? Perasaan aku masih menyimpan baju anak-anak di lemari ini." Eunhyuk tampak menggerutu di depan lemari pakaian yang terbuka. Ia mengacak-acak lemari itu untuk menemukan pakaian yang pas untuk Donghae yang saat ini tengah duduk manis memperhatikannya di tempat tidur. Ia menggoyang-goyangkan kakinya dan tersenyum mendengar gerutuan yang keluar dari mulut si cantik itu.
"Nah ini dia!" Eunhyuk tampak bahagia begitu menemukan beberapa potong pakaian anak-anak kepunyaan keponakannya yang sering menginap di tempatnya. Ia berdiri dan melangkah mendekati Donghae.
"Ini bajumu, mandi sana ini sudah sore."
"Temani aku hyungie~" pintanya dengan pandangan berbinar.
"Apa?"
"Aku terbiasa mandi dengan orang lain," dustanya. Eunhyuk tampak berpikir sebentar kemudian mengangguk. Toh bocah itu anak-anak. Mungkin ia belum bisa mandi sendiri.
"Baiklah ayo."
'Yes!' batin Donghae girang. 'Baby, aku akan melihat tubuh mulus mu khukhukhu….'
.
"Kenapa daritadi kau cemberut terus?" Tanya Eunhyuk yang saat ini tengah membuatkan makan malam untuk mereka. Donghae tengah menonton anime di ruang tengah dengan wajah tertekuk.
"Tidak apa-apa." Donghae kembali memasang wajah kusut. Bagaimana tidak, sampai sebelum mandi tadi ia sangat gembira bahkan hampir melompat, tapi kebahagiannya hancur saat mereka di dalam kamar mandi.
"Hyungie kenapa masih memakai celana dan kaus dalam?" Donghae mengernyit melihat tampilan Eunhyuk saat ini. Bukankah mereka mau mandi? Kenapa masih menggunakan pakaian?
"Kenapa memangnya? Aku akan memandikanmu dulu baru setelahnya aku mandi." Donghae terngaga di tempat. Apa? Berarti ia tidak bisa melihat tubuh mulus Eunhyuk? Great!
.
"Makanan siap~ maaf aku hanya membuat ini. Aku belum belanja bahan masakan." Donghae menatap makanan yang ditata di meja makan itu dengan pandangan lapar. Baunya harum, membuat perut kosongnya makin meronta minta diisi. Ia mengambil sendok dan mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya.
"Selamat makan~"
"Apa ini? Enak sekali." Eunhyuk tersenyum mendengar pujian Donghae terhadap masakannya.
"Ini namanya nasi omelet. Lain kali akan kubuatkan yang lebih enak lagi kalau sudah berbelanja." Donghae balas tersenyum.
"Kau calon istri yang cocok untukku."
"Apa?" Eunhyuk tidak begitu jelas mendengar perkataan Donghae karena ia hanya bergumam.
"Masakanmu enak, aku jadi ingin tambah lagi."
"Sini piringmu, kebetulan tadi aku masak sedikit banyak." Ingin sekali Donghae memeluk lelaki imut di hadapannya ini karena menunjukkan senyum yang begitu mempesona.
.
.
"Aku mengantuk, kau mau tidur juga Donghae?" Donghae melihat Eunhyuk yang tengah menguap dan mengusap matanya dengan punggung tangan seperti kucing. Lelaki berambut blonde itu tampak mengenakan pakaian bercorak stoberi yang begitu cocok untuknya.
"Ini baru jam delapan kurang 15. Hyukie hyung lelah ya?" Eunhyuk mengangguk.
"Baiklah ayo tidur, aku juga lelah." Eunhyuk berjalan menuju kamarnya dan meletakkan satu bantal di samping sisi tempat tidurnya.
"Aku Cuma punya satu kamar. Kau tidak keberatan tidur denganku?" Donghae menggeleng cepat dan segera naik ke tempat tidur yang tidak terlalu tinggi itu. Ia merebahkan dirinya di samping Eunhyuk yang sudah berbaring menyamping menghadapnya. Ia mengambil selimut yang berada di kaki mereka dan menyelimuti Eunhyuk yang sudah tertidur. Tampaknya ia benar-benar lelah.
"Hyungie~"
"Hm?" jawab Eunhyuk pelan seperti gumaman.
"Terimakasih untuk hari ini, aku senang."
"Sama-sama." Eunhyuk sedikit membuka matanya dan tersenyum. Ia memeluk Donghae dan kembali ke dalam buaian mimpi.
Donghae tersenyum dan membalas pelukan hangat itu.
"Mimpi indah Hyukie sayang," bisiknya pelan sebelum menutup matanya.
.
Eunhyuk menggeliat pelan dalam tidurnya. Ia merasa sesak dan sulit bergerak.
"Nghh, sesak," lirihnya. Ia membuka matanya perlahan dan terbelalak.
Kini, dihadapannya ada tubuh seorang lelaki dewasa yang mendekapnya erat. Tangan kiri lelaki itu mendekap erat pinggang Eunhyuk dan tangan kanannya ia gunakan sebagai bantalan kepala Eunhyuk sekaligus mendekap kepala itu. Wajah Eunhyuk memerah hebat, apalagi tubuh atas pria ini tidak terbungkus pakaian. Sehingga otot-otot lengan dan dada bidang itu terlihat jelas.
Eunhyuk melepas paksa pelukan itu dan segera berlari menjauh. Lelaki itu tampak menggeliat karena terganggu pergerakan Eunhyuk. Ia mengerjap pelan sebelum terduduk di atas tempat tidur itu. Hazelnya tertuju pada Eunhyuk yang berdiri merapat di dinding dengan wajah pucat.
"Hyukie kau kenapa?" bisa Eunhyuk rasakan tubuhnya meremang begitu mendengar suara berat yang seksi itu. Ia menatap takut pada lelaki yang tengah berdiri mencoba mendekatinya. Matanya kembali membelalak begitu selimut yang menyelubungi lelaki itu terjatuh. Menampilkan tubuh polos tanpa sehelai benangpun.
"Ka-kau siapa?" Donghae mengerutkan kening mendengar pertanyaan Eunhyuk.
"Aku Donghae, memang siapa lagi?" Donghae tersentak begitu menyadari perubahan tubuhnya. Ia sudah kembali menjadi Donghae yang dewasa. Pantas saja Eunhyuk terlihat terkejut dan takut seperti itu. Ucapan ayahnya kembali menggema di telinganya.
"Kau akan kembali dewasa saat malam hari tiba. Tepatnya pada pukul 8 malam. Saat pagi tiba kau kembali menjadi anak-anak."
Donghae paham sekarang. Ia melihat Eunhyuk yang tengah meringkuk dengan pandangan takut juga merona ke arahnya. Ia menyeringai.
"Kau mana mungkin Donghae. Donghae itu anak-anak. Kau ke manakan Donghae?!" jeritnya sambil menunjuk ke arah Donghae yang mengangkat alisnya.
"Aku Donghae, Hyukie sayang."
"Ugh bi-bisakah kau memakai selimut itu dulu," pinta Eunhyuk dengan wajah merah seperti kepiting rebus. Ia memalingkan wajahnya selain ke arah lelaki itu.
"Bukankah aku seksi?" Donghae terkekeh melihat wajah Eunhyuk yang sangat menggemaskan. Merasa puas melihat wajah indah itu makin merona ia memutuskan mengambil selimut dan melilitkan di pinggangnya. Ia kembali mendekati Eunhyuk.
"Kau siapa?" tanyanya sekali lagi dengan wajah yang hampir menangis.
Ugghh… betapa imutnya Eunhyuk saat ini, membuat hasrat Donghae bergelora.
"Sudah kubilang aku ini Donghae, hyukie hyung~"
"Kalau begitu kenapa kau bisa menjadi besar seperti ini?" Donghae berdiri di hadapan Eunhyuk. Ia mengangkat dagu itu lembut dan memandang manik indah di depannya dengan intens.
"Sudah kubilang 'kan kalau aku sedang menjalani hukuman. Ini salah satu hukumanku."
"Hukuman? Kau ini sebenarnya siapa?" Donghae mendekap Eunhyuk erat dan berbisik di telinganya.
"Sebenarnya aku ini dewa. Nama asliku Aiden. Salam kenal, Eunhyukie baby~" Eunhyuk tersentak dan mendongak ke arah Donghae yang sedikit lebih tinggi darinya.
"Dewa?" Donghae mengangguk dan mengendus pipi Eunhyuk dengan gemas.
"Ne. mohon bantuannya Eunhyukie, mulai hari ini aku akan tinggal di rumahmu."
Apa?! Sebenarnya ada apa ini? Pagi tadi kehidupannya masih berjalan normal, tetapi kenapa sekarang malah kacau begini. Hiks… Eunhyuk jadi ingin menangis.
"Hey baby jangan menangis. Ayo kita tidur lagi, ini masih tengah malam."
"Tidakkkkkk!"
.
To Be Continued
.
Tadinya gak mau bikin begini tapi entah kenapa pas diketik jadi melenceng jauh dari perkiraan awal.
Okeh, ini Cuma twoshoot. Jadi chapter depan udah end.
Doakan saja Laptop yang lagi saya pake ini gak dipinta sama yang punya, jadi saya bisa cepet-cepet ngetik dipinta… entah kapan updatenya :v #dibantai
Ini aneh ya? Ide ini melintas pas saya lagi ngisi waktu senggang dengan baca macam-macam komik.
Silahkan di review. Semakin banyak review, semakin cepat saya update muahahaha~
Yang nungguin ff "Syndrome" sabar ya, lagi proses kok :3
Okeh, segini aja cuap-cuapnya.
Bye~
Jangan lupa review loh #bawagolok :v
