Have you ever feel..

.

.

.

Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media & Yamaha Corp yang punya.

Warning : Typo, may couse your mood change, or even depression.

.

If you were never born

"Ini semua gara-gara kau! Lihat anakmu terlalu kamu manja!" Kata Rinto kepada Lenka istrinya.

"Memangnya salah aku memanja dia? Dia anakku! Dia pantas mendapatkannya dan kau tidak berhak untuk memarahinya!" Kata Lenka yang tetap bersikukuh dengan pendiriannya.

"Dia salah! Dia juga harus di marahi agar bisa menjadi benar!" Kata Rinto tidak ingin kalah.

"Tetapi cara memarahi mu salah! Kau tidak tahu cara memarahi anak dengan benar!" Kata Lenka masih bersikukuh.

"Cara mu malah terlalu lembut! Bisa-bisa dia tidak mengerti dan malah semakin buruk!" Kata Rinto.

"Diamlah! Untuk sekarang biarkan aku yang membereskan ini dan mana berkas-berkasmu yang ketumpahan kopi biar aku yang membuatkannya ulang untukmu! Kau bisa menyelesaikan lainnya! Dan jangan sekali-sekali kau memarahi dia seperti itu! Kalau kau lelah jangan melampiaskannya kepada anakku!" Kata Lenka kemudian beranjak membereskan kekacauan yang terjadi pada meja kerja Rinto karena Rin.

Rin di lantai atas mendengar sayup-sayup pertengkaran kedua orangtuanya, dia tahu ayah nya sedang di buru waktu soal pekerjaannya dan dia tidak sengaja menumpahkan kopi ketika dia ikut membantu ibunya membersihkan. Dia tidak tahu kalau cangkir itu masih berisi kopi dan dia memiringkannya karena lebih mudah membawanya seperti itu dan kemudian tumpah ke berkas-berkas ayahnya.

'Jika, aku tidak pernah lahir di dunia ini. Apakah ayah dan ibu masih terus bertengkar? Kami-sama, aku tidak ingin mereka bertengkar.' Pikir Rin sendirian di dalam kamar, dia sekarang hanya bisa terduduk terdiam dan menunduk.

Ingatannya kembali dimana rasanya semua hal yang dia lakukan adalah sia-sia.

.

Flash back (on)

.

Rin dengan perasaan bangga telah menerima tugasnya, lukisannya bahkan menjadi salah satu dari 20 lukisan yang di ikut sertakan dalam pameran kota, tidak sedikit yang mengikuti pameran itu dari sekolahnya, bahkan dari 3 tingkatan sekolahnya, dan dirinya adalah salah satu dari tingkat pemula yang berhasil menembus pameran. Tidak hanya itu bahkan lukisannya di hargai cukup tinggi. 70 ribu yen, harga yang cukup fantastis untuk seorang pemula seperti dia, dia merasa bangga ketika namanya di panggil dan gurunya menyembutkan kalau lukisannya terjual dengan harga sangat tinggi itu. Pertamanya memang Rin tidak percaya.

"Kau telah membanggakan kedua orang tuamu Rin." Kata gurunya.

"Arigatou sensei!" Kata Rin dengan senang, bahkan teman sekelasnya hanya bisa bengong melihat Rin, Rin memang sedari dulu suka melukis, tetapi dia tidak tahu kalau sampai seperti ini karyanya. Ayah ibunya yang mengetahui ini pun tentu saja bangga dengan prestasi anaknya itu, bahkan ayah nya mengajak untuk makan-makan di restoran keluarga yang lumayan mahal. Rin berniat untuk membantu membayar tetapi di tolak oleh ayahnya, katanya uangnya di masukkan ke dalam rekening Rin saja untuk bila suatu saat nanti Rin ingin membeli sesuatu dengan uang itu. Tentunya Rin senang, toh dia memang tidak pernah menyentuh rekeningnya kecuali di suruh.

Lalu beberapa hari setelahnya Rin tidak sengaja membuat kekacauan saat membantu ayah nya bekerja, semua data yang dia masukkan salah semua dan ayah Rin hampir saja rugi besar karenanya. Kata-kata ayahnya itu membuat harapan Rin seketika menghilang.

"Kau memang tidak pernah membuat ayah mu ini bangga! Tidak pernah!" Kata ayah nya, Rin hanya bisa terdiam.

'Lalu yang kemarin itu apa? Kami-sama, jika aku tidak pernah lahir, aku tidak akan mendapatkan perasaan sakit ini?' Pikir Rin. Semua kebaikannya seakan terbakar begitu saja hanya dengan satu kesalahan, yah itu memang kesalahan besar tetapi setidaknya Rin berharap ayahnya tidak mengatakan 'tidak pernah' dia sudah sering berusaha membanggakan ayahnya ini dan sering kali usahanya berhasil, jadi itu bukan berarti tidak pernah kan?

.

Flash back (off)

.

Mengingat hal itu Rin kembali merenung sendirian kemudian pintu kamarnya terbuka, tetapi dia hanya bisa terdiam dan tertunduk kepalanya.

"Makanya lain kali kalau kerja hati-hati jangan ceroboh, tahu sendiri kan ayah mu suka marah-marah saat kerjaannya semakin menggila." Hanya itu kata-kata ibunya yang kemudian kembali meninggalkan Rin sendirian, ingin sekali Rin berkata dia minta maaf, tetapi mulutnya seakan terkunci, dia hanya menunduk tanpa melihat wajah ibunya.

'Apa jika aku tidak pernah lahir di dunia, ayah akan menghargai siapapun orang yang menggantikan posisiku di keluarga ini?' Pikir Rin, dia tidak tega melihat ibunya terus-terusan bertengkar dengan ayah nya, dia juga membenci saat ayah nya mengatakan kalau dirinya tidak pernah membanggakan ayah nya.

Rin melihat ke jendela kamarnya, Rin bisa merasakan ayah dan ibu nya sedang bercakap-cakap di bawah sana, dia ingin tahu apa yang di bicarakan orangtua nya, tetapi memilih untuk menulikan pendengarannya. Kemudian dia mendengar panggilan ibunya.

"Riiinn! Mau sampai kapan di kamar terus! Cepat turun saatnya makan malam!" Kata Lenka dengan ceria. Pikiran Rin kacau saat ini, dia takut menemui kedua orangtua nya saat ini. Tetapi dia bukanlah anak nakal yang tidak mematuhi orangtua nya. Dia akhirnya dengan takut melangkah ke bawah, dia masih tidak berani menatap ayah nya. Dia mulai duduk di hadapan ayah nya, tempat duduknya yang biasa.

"Tuh sudah ayah belikan jeruk kesukaanmu, setelah makan malam makan lah." Kata ayah nya, tidak ada nada marah di dalam suaranya yang membuat Rin terkejut.

"Ayo di makan Rin, jangan di pandangi terus saja, kamu tidak akan kenyang kalau cuman melihatnya." Kata Lenka dengan lembut. Rin mulai menyumpit ikan bakar dengan perasan lemon diatasnya dan mulai makan.

"Bu, besok tolong siapkan sarapan lebih pagi ya? Besok aku akan berangkat lebih pagi." Kata Rinto.

"Oki doki Ayah!" Kata Lenka dengan ceria. Rin sungguh kaget dengan situasi ini, padahal karena dirinya mereka bertengkar, sekarang sudah akrab seperti biasanya. Rin tidak mengerti, tetapi dia ingin menangis karena setelah apa yang dia perbuat, kedua orangtua nya masih sayang dengannya, dan bahkan berbaikan lagi.

'Mungkin jika aku tidak pernah lahir, aku tidak akan bisa merasakan kehangatan keluarga ini, dan itu pasti sungguh di sayangkan.' Pikir Rin sambil tersenyum, dia kemudian melanjutkan makan malamnya dengan tenang dan melihat ke mesraan orangtua nya dengan perasaan gembira.

.

.

.

END