"Beri tahu aku, apa impianmu untuk saat ini." ucap seorang gadis berambut bubble gum kepada kekasihnya yang sekarang sedang memberi bahunya untuk kepala gadis tersebut.
Sang kekasih hanya terdiam dan menatap lurus lautan yang tenang di depannya dan perlahan-lahan akan menarik matahari turun dari langit. "Sasuke... apa impianmu?" tanya Sakura sekali lagi sambil menatap mata onyx dari lelaki yang dipanggil Sasuke.
Sasuke mengalihkan pandangannya ke Sakura dan menggenggam tangannya erat. "Aku ingin bersamamu untuk waktu yang lama."
Sakura tersenyum senang dan terharu mendengar ucapan tersebut dari mulut kekasihnya. Dan pada saat yang bersamaan, bibir mereka bertemu untuk mengalirkan rasa hangat dan rasa sayang satu sama lain.
"Aku mencintaimu, Sasuke..."
Masashi Kishimoto
Created by Nana Yumiko
Sakura – Sasuke
Romance
Warning : OOC, AU, Abal, Lemon.
~ My last word~
"Dari mana saja kau, Teme?" tanya Naruto saat Sasuke memasuki mansion Uchiha dan terlihat beberapa teman-temannya sudah berkumpul untuk melakukan 'sesuatu'.
"Ini kan malam minggu, Naruto. Tentu saja ia berkencan dengan Sakura. Kau kira dia habis dari mana?" balas Shikamaru sambil melempar-lemparkan bola baseball.
Sasuke hanya diam dan langsung duduk di mejanya yang terdapat beberapa tumpukann kertas berbentuk sketsa dan lain sebagainya. "Kali ini apa?" tanya Sasuke sambil mengambil satu diantara kertas-kertas tadi.
Gaara berdiri dari duduknya dan menghampiri Sasuke untuk menjelaskan. "Detektif Kakashi mengatakan bahwa ada kasus pencurian di bank sentral Konoha. Ada seorang pegawai bank tewas dengan luka berbentuk lubang di bagian kanan-kiri leher. Kemungkinan pegawai tersebut tertusuk atau tertembak."
"Ia menginginkan kita untuk menghabisi dan melempar pelakunya ke penjara. Ia juga berkata akan mengirimkan pasukan lebih untuk kita. Menurut polisi-polisi, tidak ada barang bukti yang tertinggal bahkan senjata saja tidak ada." sambung Naruto.
Sasuke mengangguk-angguk mengerti. Dari semua pernyataan yang dikatakan rekan-rekannya itu, ia sudah dapat menggambarkan sesuatu dan mencerna kejadian ini. Sepertinya pelaku yang melakukan ini sudah ahli. Namun, seahli-ahlinya seorang penjahat kebenaran akan selalu ada di atas.
"Lalu, apa lagi?" tanya Sasuke.
Shikamaru membuka iPadnya dan membacakan sesuatu kepada Sasuke. "Kata Kakashi begini, setelah diperiksa tidak ada sepeserpun uang yang hilang. Bahkan, uang yang berada di mesin tidak mereka sentuh sedikitpun." katanya sambil menatap ketiga temannya yang mulai berfikir keras.
"Jadi kita harus bagaimana, Sasuke?" tanya Gaara.
Sasuke terdiam sejenak dan mulai berfikir. Ini adalah sebuah kasus dari ratusan kasus yang ia pernah kerjakan selama ia menjadi dekektif bersama ketiga temannya ini. Dan kasus seperti ini sudah tidak asing baginya, terlalu banyak teka-teki yang harus ia pecahkan.
"Besok pagi, kalian bertiga pergi ke bank dan cek semua pelosok-pelosok bank. Jika memang bukan uang yang mereka cari, berarti ada sesuatu yang sangat-sangat ingin mereka cari." kata Sasuke.
"Berarti jika mereka bukan merampok bank, lalu mereka merampok apa?" tanya Naruto.
"Itu masih tanda tanya besar. Kemungkinan sesuatu yang leih penting dari uang." jawab Gaara.
"Besok kalian bertiga yang duluan di TKP. Jika ada sesuatu yang terjadi sebelum aku datang, telfon saja. Kemungkinan aku tidak bisa on time." ucap Sasuke dengan muka tenang sedangkan ketiga temannya sedang melongo menatapnya.
"Memang kenapa tidak bisa?" tanya Shikamaru.
Sasuke hanya menaikan bahu dan beranjak pergi untuk mengambil minum, tak lama teman-temannya berseru. "Ah, kami tahu..."
"Kau akan pergi kemana bersama Sakura?" tanya Shikamaru sambil berkacak pinggang.
"Aku sudah janji akan sarapan bersama sebelum ia kerja. Tidak akan lama," jawab Sasuke.
Naruto yang daritadi hanya duduk, kali ini malah selonjoran di lantai sambil memainkan cincin berwarna perak miliknya. "Hah... Seketika aku merindukan Hinata. Lihat saja jika dia sudah pulang dari Amerika akan aku bawa dia ke hotel dan..."
Kalimat Naruto pun menggantung, seketika yang membuat teman-temannya melirik nakal ke arah lelaki tersebut. "Dan... aku akan... memberinya makan malam paling romantis sepanjang hidupku." lanjutnya polos.
"Jaah!" Pikiran nakal dari ketiga temannya tandas begitu saja saat Naruto melanjutkan perkataannya tersebut. "Tidak asik kau Naruto! Ku kira kau pergi ke hotel akan... hahaha!" tawa Shikamaru sambil memukul jidat Naruto memakai gulungan kertas.
"Pikiran kalian terlalu mesum, dasar!" protes Naruto.
Sasuke hanya menggeleng-gelengkan kepala dan segera meninggalkan ruangan pertemuan tersebut. "Bersiaplah untuk besok. Aku tidur," ucap Sasuke sebelum pergi.
~Last Word~
BUG!
Suara pukulan menggema keras diruangan seperti gudang itu. Terlihat seorang lelaki tergeletak lemah akibat pukulan bertubi-tubi dari atasannya. Sakit.
"BAKA! BODOH! Kalian semua bodoh! Kenapa bisa seceroboh itu, hah?!" tanya seorang lelaki berperawakan besar dengan rambut pirang yang dikucir satu. Tangannya sudah menggenggam sebuah pistol yang berlumuran darah akibat memukul seseorag di depannya.
Lalu, ia menodongkan pistol tersebut ke arah leher seorang lelaki berambut abu-abu yang sudah tampak kelelahan. Terlihat sebuah kecemasan dari anggota yang lainnya saat lelaki pirang itu menodongkan pistol ke leher Hidan – lelaki berambut abu-abu tadi.
"Kau pikir... misi ini main-main, HAH?!" bentak Deidara – nama lelaki berambut pirang itu.
Hidan hanya terdiam dengan keringat dingin menyelubungi tubuhnya. Tangannya mengepal melawan ketakutan. "Aku... Aku minta maaf..."
"Maaf? Kau bilang MAAF?! AKATSUKI TIDAK PERNAH GAGAL DAN KALI INI GAGAL GARA-GARA KAU?! Brengsek!" DUG! Pukulan melayang ke arah pipi Hidan. Lelaki itu meringis sambil memegang pipinya yang sudah terlihat lebam. Itu adalah pukulan ke sepuluh yang sudah diterima oleh Hidan dari Deidara. Hukuman dari sang atasan akibat kecerobohannya.
"Kau pikir dengan kata maaf aku bisa memaafkanmu? HAH?!" tanya Deidara dengan nada yang benar-benar ditinggikan sehingga menimbulkan gema di ruangan tersebut.
"Aku minta maaf. Tak akan ku ulangi lagi. Biar aku perbaiki semuanya." ucap Hidan penuh penyesalan.
Tiba-tiba semua kecemasan berubah menjadi sebuah ketegangan saat seseorang masuk ke dalam kerubunan anggota Akatsuki. Deidara yang tadi menodongkan pistol kali ini ia masukan pistolnya dan berdiri sambil menunduk. Ia sama tegangnya dengan anggota lain. Ini buruk. Tidak seharusnya orang itu turun untuk melihat apa yang terjadi.
Lelaki tersebut benar-benar memiliki aura kegelapan hingga siapapun yang menatapnya akan terdiam tanpa berkutik. Ia menghampiri Hidan yang tergeletak lemah dengan muka penuh darah. Ia memperhatikan lelaki lemah tersebut dengan tatapan jijik. "Ada apa ini?" tanyanya.
"Sasori, jelaskan!" perintah Deidara.
Sasori dengan tegang maju menghadap orang – yang – sudah – diketuakan olehnya. "Sa-saat akan mengebom tempat di mana 'barang' tersebut berada, ada seorang pertugas datang. Karena petugas tersebut memberontak, Hidan tanpa sengaja membunuhnya dengan menembak leher petugas sebelum waktunya. Seketika petugas tersebut mati dan beberapa pertugas lain datang sehingga rencana pemboman gagal."
Lelaki itu mengangguk mengerti. Lalu, ia tersenyum licik ke arah Hidan dan menghampirinya. Ia berjongkok agar sepantaran dengan Hidan yang sedang tergeletak itu. "Kau tahu peraturan untuk misi kali ini, bukan?" tanyanya kepada Hidan.
Glek..
Tegukan ludah Hidan sangat susah. Ia benar-benar tegang sekarang. Aku akan mati , pikirnya. Orochimaru mendekatkan wajahnya kepada telinga Hidan. "Kau tahukan... orang bersalah patut untuk mendapatkan... hukuman."
JEDER!
Hidan melotot terkejut saat merasakan perih dan sakit yang luar biasa di perutnya. Ia bisa merasakan bagaimana jantungya berdegup sangat lambat dan melambat. Nafasnya tiba-tiba tersumbat. Dan pandangannya mulai gelap.
Saat itulah Hidan tewas. "Ada lagi yang ingin melanggar?" tanyanya sambil memperhatikan bawahan-bawahannya yang tampak menunduk semua. "Bagus, ku harap besok kalian sudah bisa membawa apa yang aku mau. Lanjutkan Deidara..." ucapnya sambil meninggalkan tempat tersebut.
Deidara memperhatikan jasad Hidan yang malang tersebut. "Kubur dia."
~Last Word~
Sakura membereskan beberapa pakaian kerjanya untuk dipakai besok. Sejujurnya ia agak malas untuk kerja besok karena besok adalah hari pertamanya setelah mendapat cuti bersama dari tempat ia bekerja.
Saat membereskan pakaian, seketika ingatannya kembali pada kejadian di pantai tadi. Benar-benar romantis. Ia tidak tahu apa yang telah merasuki diri kekasihnya sehingga bisa mengatakan kata-kata seperti itu. Kata-kata sederhana namun berkesan bagi Sakura.
"Kau telah membuatku jatuh cinta padamu, Sasuke-kun." gumam Sakura sambil cekikikan sendiri.
"Benarkah?" sahut seseorang yang membuat Sakura menoleh cepat ke arah pintu. Matanya terbelalak kaget saat menyadari seseorang yang tadi ia bicarakan berdiri di depan pintu dengan wajah datar dan tangan dilipat di dada. Oh Kami-Sama, baru saja tadi sore ia mencium bibir kekasihnya ia merasa ingin mencium lebih dalam bibir tipis kekasihnya itu.
"Sa..Sasuke? Sejak kapan kau disini?" tanya Sakura sambil mempersilahkan kekasihnya masuk ke dalam kamar yang bernuansa pinky itu.
"Sejak kau membereskan baju, kenapa? Tidak suka aku datang?" tanya Sasuke yang saat ini sudah duduk di kasur bersama Sakura.
Sakura tersenyum lalu menggeleng pelan. "Tidak, aku hanya terkejut. Kau memang penuh kejutan, Sasuke." ucap Sakura sambil tertawa kecil.
Sasuke tersenyum tipis dan memperhatikan wajah kekasihnya yang segar meskipun sudah malam. "Ada apa kau kesini?" tanya Sakura, kali ini ia kembali membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Ia membereskan barang-barang dengan cepat antara ingin cepat beres dan malu oleh Sasuke karena kamarnya berantakan.
"Tidak apa-apa. Hanya ingin kesini."
"Tadi ibu tidak menyanyakan apa-apa saat kau sampai dan ingin pergi ke kamar?" tanya Sakura. Jika tidak, tumben sekali ibunya tidak menanyakan apa-apa. Biasanya ibunya akan banyak tanya jika ada tamu yang mengunjungi Sakura.
"Tidak. Ia hanya berkata kalau aku Sasuke kekasih Sakura, lalu ia berkata kau berada di atas." jawab Sasuke tenang tanpa memperhatikan Sakura yang sedang melongo parah. Tck! Bisa-bisanya ibunya seperti itu. Biasanya jika ada tamu yang ingin bertemu dengan Sakura akan di introgasi terlebih dahulu.
Sakura memperhatikan Sasuke yang banyak diam. Diam memang sifatnya, namun kelewat diam terhadap Sakura bukanlah seperti Sasuke. "Apa ada kasus baru?" tanya Sakura.
Sasuke mengangguk. "Ada. Tapi masih kasus baru dan sudah ada yang tewas. Entahlah, malam ini tidak ingin aku pikirkan."
Sakura mengerti. Sasuke pasti lelah dan itu wajar. Terkadang dirinya juga lelah saat melakukan pekerjaannya dan jika dipaksakan itu tidak akan benar. "Ku harap, kasusnya cepat selesai." ucap Sakura sambil mengelus-elus punggung dari Sasuke.
Sasuke melirik ke arah Sakura. Onyxnya menatap tajam emerald hijau. Betapa ia jatuh hati pada emerald tersebut, entahlah. Ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya sekarang. Sentuhan Sakura selalu menjadi obat saat ia sedang lelah. Ia benar-benar mencintai gadis itu.
"One in a million. I choice you..." saat itulah Sasuke kembali mengecup bibir Sakura. Ia mengecup bibir Sakura dengan lembut, seakan-akan tidak ingin menyakiti gadis yang saat ini ia kecup.
Sakura menyambut kecupan Sasuke dengan senang hati. Ia pejamkan matanya dan merasakan bibir Sasuke lebih dalam. Ia rasakan benda lunak milik Sasuke mulai memasuki mulutnya dan mengabsen tiap benda yang ada dimulut Sakura.
Benda lunak itu kini berpindah ke leher dan menciumi serta memberi kissmark pada daerah sensitif tersebut. "Engh~" desahan pertama Sakura terdengar. Nafsu Sasuke semakin memburu dan terus memberikan service pada Sakura.
Bibir Sasuke mulai menjalari ke dagu, hidung, mata, kening, dan bibir. Tangannya sudah menahan nahan untuk tidak melakukan sesuatu. Namun, ia tidak tahan lagi, tidak bisa menahan nafsunya.
Perlahan, Sasuke turunkan baju terusan milik Sakura. Namun pada saat yang sama, Sakura melepaskan ciumannya dan menahan tangan Sasuke. Ia menatap onyx yang sedang diburu amarah dan nafsu, namun onyx tersebut kemudian melemah dan menarik tubuh Sakura dalam pelukannya.
"Maaf. Aku tidak bermaksud," ucap Sasuke sambil mengecup pundak Sakura dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa." jawab Sakura sambil memeluk erat lelaki yang ia sayang ini. Ia meneteskan air mata pada bahu lelaki itu, benar-benar terharu.
"Tidurlah, sudah malam." bisik Sasuke tepat ditelinga Sakura.
"Kau boleh disini dulu jika kau mau," balas Sakura.
Sasuke melepaskan pelukannya dan membelai pipi mulus Sakura. "Baiklah, aku disini dulu kalau begitu."
Sakura tersenyum dan mulai masuk ke dalam selimutnya. Sasuke juga ikut tiduran tepat disebelah Sakura. Lengannya yang kekar kini dijadikan sandaran untuk kepala Sakura.
Uchiha junior itu mengelus-elus rambut Sakura dengan hati-hati. Matanya tertuju mata kelopak mata yang menutup emerald indah dari Sakura. Tangan Sakura kini memeluk badan Sasuke sedangkan Sasuke sendiri hanya diam membiarkan gadis itu melakukan apa saja. Ia hanya diam sambil mengeleus-elus rambut pink milik Sakura.
Sambil mengelus-elus, sesekali ia mengecup puncak kepala gadis tersebut. Ia begitu sayang dan mencintai gadis ini, entah apa itu alasannya. Sakura seolah-olah menjadi alasan ia hidup.
"Sasuke..."
"Hn..."
"Aku ingin dengar kau bernyanyi. Bisa nyanyikan satu lagu untukku?" tanya Sakura sambil memandang sang onyx.
Sasuke terdiam sejenak. Menyanyi? Berbicara saja bahkan ia jarang, apalagi bernyanyi. "Jika tidak mau, tidak apa." lanjut Sakura sambil memejamkan matanya kembali.
Sasuke melanjutkan mengelus-elus rambut Sakura. Ia menatap langit-langit, dan tanpa sadar ia mengeluarkan suaranya...
"Girl I swear kimi no koto wo... ichibyou demo...Kanashimasenai yakusoku.."
Sakura terbelalak mendengar suara bariton keluar dari mulut Sasuke. Ia kira ia tidak akan pernah mendengar Sasuke bernyanyi sesuai dengan keinginannya, namun ternyata... lelaki dengan julukan Prince Ice itu bernyanyi. Meleset jauh dari perkiraannya.
Gadis itu mempeerat pelukannya dan mulai menitikkan air mata. "Mamoru tame ni wa mo moukoreshika...Erabu michi wa nai kara..."
~ To Be Continued~
Kya~! Semlekum, Nana sang penulis amatir datang lagi ^^v
Ini adalah fict kedua dari tiga fict yang berseri (?) Yang kemarin Nana belum sempat teruskan karena tiba-tiba mendapat kesibukan yang sangat dahsyaaatt~ jadi nanti akan Nana lanjutkan setelah ini selesai.
Tapi untuk fict yang ini, Nana bener-bener niat (?) dan memang sudah ada planning buat chap selanjutnya. Ini baru awal loh! baru AWAL! jadi kalau masih ga ngerti maksud fict ini nanti akan ketahuan di chap selanjutnya.
Nanti Nana usahain buat update cepet! Yah, buat lemot eh lemon maksud saya di chap ini belum ada #penontonkecewa #jeder. Tapi ke depannya bakal ada tenang aja ;;) #plak
REVIEW PLEASE ^^ arigatou~
