Galerians, in.

Yo, semuanya. Hamba balik lagi dengan cerita Naruhina. Duh, kayaknya cerita yang hamba tulis cuma Naruhina~ terus ya... ah, nggak, ada kok satu Sasusaku.

Hamba menulis ini demi menepati sebuah janji pada Rhyme A. Black, karena hamba sudah bilang akan ikut HFNH (Hari Fluffy Naruhina). Tetapi, karena dulu hamba nggak ikut HTNH (Hari Tragedi... kalo gak salah) maka hamba akan mencampur unsur angst dan romance ke dalam fic ini. Tergantung persepsi kalian, ini bisa menjadi AMAT SANGAT angsty, atau malah LUAR BIASA fluffy... oke, kok hamba bermulut besar macam ini ya? Masih amatiran juga...

Oke, hamba nggak punya Naruto, soalnya hamba tidak mau mati muda.

Silahkan membaca!!

Kapan Kau Kembali?

Awan berarak dengan santai, seakan-akan ada roda otomatis yang membawanya melewati udara yang berembus pelan, beratapkan langit biru yang luas tanpa batasan. Angin menembus rimbunnya daun pepohonan, kehangatannya membawakan nyanyian penuh kebahagiaan di tengah musim kumpulan bunga berkembang. Sesekali, akan ada warna pink terang tersebar lepas, mengingatkan dunia bahwa sekotor dan senista apapun kehidupan, akan selalu ada keindahan tak ternilai yang tersimpan.

Dua bola mata biru abu-abu bereaksi pada gerakan dan warna tertentu, tangan yang terbuka diangkat dan terkatup untuk menangkap. Pemilik mata dan tangan itu menatap sekilas pada benda yang tergenggam jari-jarinya, sehelai mahkota sakura dengan segarnya warna simbol musim semi. Dia sambut angin lalu dengan telapak tangannya, membiarkan sang mahkota merah muda untuk kembali melanjutkan perjalanannya di udara.

"...Sudah 3 tahun ya..." dia berbisik pelan, rambutnya yang panjang sepinggang berkibar tertiup angin, membuat wajahnya yang cantik dan matang dalam kedewasaan seperti dirangkul oleh tirai sutra biru. "...Naruto-kun..."

Sedih dan sakit memang masih ia rasakan, tapi apa yang bisa dilakukan? Dia tak punya kuasa atas takdir, dia tak seperti Tuhan yang punya kewenangan atas dunia, atas kehidupan dan kematian, atas kebahagiaan dan kemalangan. Dia hanyalah seorang manusia, cuma seorang wanita, hanya satu makhluk hidup di antara luasnya alam semesta. Tapi dia kemampuan untuk bersabar dan menunggu, karena itu dia akan tetap berada di sini, terus menunggu sampai saatnya mereka berkumpul lagi, sampai waktu mereka untuk bersama kembali...

Dia takkan berhenti menunggu...

(0)

Dia tak bisa percaya.

Matanya terbelalak shock, dan hatinya tiba-tiba serasa diremas-remas oleh tangan tak terlihat. Mengapa kenyataan harus begitu pahit? Mengapa takdir harus begitu kejam? Mengapa Tuhan harus mengambil kembali pria itu, padahal dia belum siap untuk melepasnya?

Seluruh tubuh kehilangan kekuatan, dan tenaga untuk berpijak juga tiba-tiba hilang. Ketidakpercayaan menguras seluruh energi dari otot-otot, sampai akhirnya suara lutut bertabrakan dengan tanah terdengar di udara.

"...Naruto...kun..."

Sang pembawa kabar, seorang pemuda bertaring, berlutut di sampingnya selagi seekor anjing putih besar melingkarkan badannya ke tubuh sang gadis, berusaha memberinya secercah rasa tenang dan kehangatan.

"Maafkan aku..." kata sang pemuda, matanya berkaca-kaca. "Aku tahu ini sangat berat... tapi..."

"Tidak, dia sudah janji, Kiba-kun..." gadis berambut biru itu berusaha menyangkal, cahaya di mata biru abu-abunya mulai berkurang dan meredup. "...Tidak, dia pasti..."

"Hinata, kau sendiri juga melihat ledakan itu kan...?"

"Tapi, Naruto-kun itu kuat...! Dia tak mungkin—"

"Hinata!!"

Bentakan itu membuatnya tersentak, tapi semua itu diperlukan agar dia bisa menerima kenyataan.

"Tak ada yang tersisa, dan tepat sebelum itu terjadi, tim pengintai sudah mengonfirmasi kalau dia masih bertarung dengan Sasuke di sana!" Kiba tak ingin melakukan ini, apalagi dia juga telah berusaha sangat keras untuk menyangkal informasi tersebut. Tapi... mereka harus tahu, dan sadar, kalau Naruto sudah tak lagi berada di antara mereka. "Hinata, dia... sudah..."

"TIDAK!!" suara itu terdengar asing bahkan bagi telinga Hinata sendiri, jeritan itu kosong akan kelembutan dan keramahan yang seharusnya selalu ada. Hanya ada penyangkalan, dan kesedihan. "Tidak, tak mungkin! Naruto-kun pasti masih hidup...!!"

Wajahnya yang cantik merona kini pucat. Uraian air mata membasahi pipinya yang seputih mayat. Kiba tak tahan melihatnya begitu hancur, dia meraih pundak Hinata dan merangkulnya pelan. Sedu sedan yang terdengar begitu menyedihkan, dengan isakan yang tak henti menguras air mata.

"Dia sudah pergi, Hinata..."

"Tidak..." penolakan yang sia-sia, dia tahu itu. "Dia sudah janji..."

Dia mendengar sorak sorai penuh kebahagiaan dari seisi desa, bunyi teriakan-teriakan penuh rasa senang tertangkap oleh telinga, tapi tak ada setetes pun rasa bahagia dalam hati Hinata. Hanya dingin dan kosong... hampa. Kehangatan yang tak pernah absen kini telah tiada, satu ruang yang harusnya selalu diduduki oleh pemuda bernama Naruto Uzumaki kini telah menjadi satu liang sepi tak berisi. Ruang yang memenuhi hampir seluruh hatinya, ruang yang mencakup sebagian besar isi rongga dadanya. Tapi bukannya ringan, Hinata malah merasa suatu beban yang sangat berat di tubuhnya.

Lututnya lemah dan kini tak mampu berdiri. Matanya lelah dan mengantuk, tapi tangisan menolak untuk berhenti. Otaknya penat, tapi satu memori terus berputar di sana, seakan-akan mesin video yang selalu di-repeat setiap kali usai bermain.

((00))

Benarkah perpisahan harus menjadi akhir dari segalanya? Jika jawabannya ya, mengapa? Bukankah pasti akan ada yang tersisa? Seperti kenangan, warisan... dan cinta. Bukankah penyair dan pujangga sepanjang masa telah berulang kali menyatakan cinta itu abadi?

Memang benar cinta tak mengenal akhir. Cinta adalah emosi tak terdefinisi, tapi tak pernah absen dari setiap detik kehidupan manusia. Cinta adalah sebuah katalis yang mampu membuat manusia melakukan hal-hal tak terduga, cinta bisa dengan mudah meluluhlantakkan sebuah negara tapi juga mampu menyemaikan kedamaian untuk selamanya. Cinta bisa dengan mudah menghancurkan sebuah jiwa, atau menempanya menjadi baja tak kokoh tak tersentuh. Cinta tak mengenal ruang, usia, jarak, kekuatan, ataupun waktu. Ada awal permulaan, tapi tak ada penghabisan. Perasaan itu akan terus bersemi di hati, selama apapun waktu bergulir, cinta akan tetap mekar layaknya bunga yang tak pernah layu.

Karena cinta tak mengenal batasan.

...Dan pertanyaannya, bagaimana cara manusia mengenali cintanya...?

•••

Setiap persiapan telah dilakukan sebaik-baiknya.

Semua shinobi sudah mengambil ancang-ancang yang diperlukan.

Tidak peduli Juubi, Madara Uchiha atau Kabuto, bahkan seorang Sasuke sekalipun, mereka tak gentar. Sewaktu pecahnya peperangan datang, mereka akan berjalan dengan dagu tegak menuju medan pertempuran.

...Lalu mengapa dia masih khawatir?

Kecemasan yang dia rasakan memang tidak menguasai apalagi menyakiti, tapi cukup untuk membuatnya selalu gemetar diserang kegelisahan. Tanpa dia sadari, langkahnya telah menjadi jauh lebih cepat dan matanya bergerak liar ke segala arah, berusaha menemukan sosok yang dia cari. Dia tak ingin terlihat paranoid, tapi rasa resah ini terlalu kuat untuk diabaikan.

Hampir seluruh desa telah dia kelilingi, tapi batang hidung orang yang dicari tak terlihat di tempat manapun. Ingin dia memakai Byakugan, tapi kegelisahannya sudah mencapai level dimana ia tak lagi bisa mengeluarkan konsentrasi yang dibutuhkan untuk mendeteksi jejak cakra unik milik sang Sennin. Apalagi karena cakra senjutsu yang dimilikinya (yang sangat susah dideteksi karena sama dengan energi alam), mencari pemuda itu sama seperti berusaha menemukan sebutir gula di antara sesendok garam.

Sekarang pencariannya telah tiba di depan gerbang besar Konohagakura, yang menjadi sangat sepi karena semua shinobi sedang bersiap menghadapi pertempuran besar yang akan segera pecah. Hanya angin yang berembus dan dingin yang menusuk mengelilinginya, tapi tetap tak ada petunjuk tentang keberadaan sang pemuda. Dia hampir saja menyerah andai saja tak merasakan sebuah tatapan tajam jatuh pada punggungnya. Terasa cukup kabur, tapi dia benar-benar yakin sedang diperhatikan oleh seseorang.

Matanya yang biru abu-abu beredar ke sekeliling, dan walaupun dia sudah berputar 360 derajat di tempat, tak ada satupun hawa kehidupan yang bisa dia temukan. Tapi perasaan itu terus menggelitik syarafnya, seakan-akan ada sebentuk tangan yang berjalan di sepanjang kulit, cukup dekat untuk membuatnya bisa merasakan tapi tidak sampai menyentuh. Selembut tirai sutra, tapi begitu meyakinkan seperti merasakan api membara. Dia bergidik pelan, dan dia sadar kalau itu bukan disebabkan oleh perasaan yang tak menyenangkan. Dan dia tahu, hanya satu orang di seluruh Konoha yang bisa membuatnya bergidik tanpa merasa takut.

Dia mendongak dan menatap ke atas. Dan di sana, dia bisa menemukan warna biru muda langit di malam hari.

•••

"Kukira kau sudah tidur," ucapan itu menjadi sambutannya. "Kenapa kau bangun semalam ini, Hinata?"

Dia tak menjawab, hanya menggunakan kakinya untuk melangkah lebih dekat pada sang pemuda. Pemandangan desa Konoha yang tertidur tenang terhampar di bawah mereka, sunyi namun tetap menyimpan kehangatan, penuh akan kesyahduan. Sungguh pemandangan yang hebat, dan ini hanya bisa didapatkan dengan berdiri di atas patung wajah Sandaime.

"Hinata, kau belum menjawab pertanyaanku…"

"A-ah, aku hanya susah tidur…"

"Oh ya?" pemuda itu berbalik untuk menghadap sang gadis, tepat ketika selembar angin malam berhembus dan membuat tubuh mungil itu menggigil kedinginan. Dia melepas jubah merah dengan api hitam di tepian bawahnya, lalu memakaikannya ke badan Hinata. "…Ini, kau terlihat kedinginan…"

Gadis itu terpekur dalam diam, wajahnya kembali mengeluarkan rona merah yang sudah menjadi ciri khasnya. Pandangan sang pemuda yang tak putus-putus atas dirinya juga sama sekali tidak membantu untuk mengurangi rona di wajah Hinata, malah sukses membuat warna itu semakin gelap dan dalam. Dengan kepercayaan diri yang sangat kurang, sang Hyuuga memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan membalas tatapan sang pemuda.

Di sana tersimpan banyak emosi yang bergolak, dan itu sudah cukup untuk membuat Hinata mengambil satu langkah mundur dalam keterkejutan.

"N-Naruto-kun…?"

Naruto bukanlah seorang pemuda ingusan yang asing dengan dunia, dia telah mengalami banyak... bahkan sangat banyak dalam usianya yang baru 16 tahun. Dia telah mengalami kesedihan, kebahagiaan, penderitaan, dendam, kemarahan dan murka… lalu penyesalan. Walau demikian, emosi yang terakhir itu adalah sesuatu yang masih sangat jarang dia alami. Dan mengapa dia harus menyesal sekarang?

Karena dia sudah tahu apa yang akan terjadi, dan apapun yang dia lakukan takdir itu tak akan pernah berubah.

Dia terkejut ketika sapuan sebuah kehangatan menyentuh wajahnya.

"Kau tak apa-apa…?" pertanyaan lembut itulah yang membawanya kembali ke kenyataan, dan dia baru sadar, betapa dekatnya jarak antara mereka berdua. "Kenapa wajahmu seram begitu…?"

"…Hinata…" dia menggenggam tangan itu, menghasilkan sebuah pekik tertahan keluar dari mulut sang gadis, lalu meremasnya pelan dan menempelkan wajahnya di permukaan kulit yang lembut itu. Matanya terpejam sambil menikmati kehangatan yang pasti akan dia rindukan, di manapun dia akan berada nantinya. "Hinata…"

"Na-Na-Naruto-kun…?!" sang gadis gelagapan, apalagi ketika sang pemuda semakin dalam menekankan wajah ke telapak tangannya. "K-kau kenapa…?!"

"Aku…" sang Sennin mengambil napas panjang dan penghirup aroma sang gadis untuk menyiapkan dirinya, sebelum melepas tangan dalam genggamannya itu. "Aku… menyukai Sakura-chan…"

Napas Hinata terhenti sejenak, tangan yang dilepaskan Naruto ia tarik lalu didekapnya di dada. Tubuhnya gemetar oleh sesuatu yang jelas-jelas bukan berasal dari dinginnya malam. Perlu beberapa tarikan napas untuk menenangkan dirinya, tapi dia belum juga berhasil mengusir pergi ketidaknyamanan dalam hati, walaupun sejujurnya dia sudah lama tahu hal ini.

"A-aku sudah tahu itu…"

"Hinata…"

"Aku sudah tahu, tapi aku tetap ingin mengatakan perasaanku…" gadis itu menunduk dalam, setetes air jatuh dari matanya dan membuat bekas basah berbentuk bulat di mana ia menabrak tanah. "M-maaf, maafkan jika aku telah mengganggu..."

Tapi sebelum langkah gadis itu sempat tertapak, sebelum tubuh itu sempat berputar untuk pergi, genggaman Naruto telah meraih pergelangannya dengan cepat. Saat Hinata mendongak dengan bingung, dia tak bisa melihat wajah sang pemuda karena dia telah kembali berbalik. Tarikan pelan di tangan membuat kaki Hinata melangkah, mengikuti Naruto sampai mereka berdiri di tepi tempat itu.

"...Bulannya indah ya?" Naruto memecah kesunyian, dengan nada suara yang menyembunyikan.

Sang gadis yang masih dibingungkan oleh tindakan sang pemuda tak bisa menemukan reaksi ataupun jawaban yang tepat, sehingga dia hanya merespon pelan, "He eh..."

"Kau tahu, Hinata? Beberapa minggu ini, bulan selalu bersinar dengan terang, dan langit malam juga selalu cerah..."

Gadis berambut biru itu mengambil beberapa langkah agar dia berdiri tepat di samping Naruto, lalu menoleh untuk melihat wajahnya. Pemuda itu sama sekali tak balas menatap, tapi wajah yang penuh kesyahduan dan ketentraman membuatnya terlihat begitu dewasa. Tanpa sadar, tangan Hinata yang bebas naik dan mencengkeram dadanya sendiri, dia bisa merasakan jantungnya berdebar-debar dan wajahnya memanas.

...Sejak kapan Naruto-kun menjadi setampan ini?

"Entah kenapa, kutemukan kalau setiap malam, aku selalu meluangkan waktu untuk melihat bulan. Sampai akhirnya kusadari, kalau kapanpun, di manapun, aku selalu ingin bisa melihat cahaya putih berbentuk bulat ini..."

"Semula, kukira itu cuma karena bulan ini indah, cantik, dan menenangkan. Tapi waktu yang semakin lama berjalan membuatku sadar, kalau aku mencari sosok seseorang dalam sinar rembulan yang terang dan jernih..."

Baru saat itulah, Naruto menelengkan wajahnya ke arah gadis yang tangannya dia genggam. Hinata tak pernah cukup berpengalaman dengan hal-hal semacam ini, tapi dia cukup tahu kalau ada sesuatu yang tertahan... terkekang di dalam dua bola mata biru langit itu. Begitu banyak, begitu besar dan dalam sampai Hinata merasa bisa terhisap sampai di dasarnya.

"...Aku sudah menyukai Sakura sejak kecil, bisa kubilang dialah cinta pertamaku," Naruto melanjutkan. "Tapi setiap kali aku melihat bagaimana dia menatap Sasuke, aku selalu disadarkan kalau dia tak pernah punya hati padaku, dan aku tahu kalau aku tak akan pernah punya kesempatan. Tapi... aku tetap suka padanya, walaupun dia hanya menganggapku teman saja..."

"Dan itu membuatku bingung, jika aku menyukai Sakura, lalu mengapa aku selalu mencari bulan? Mengapa aku tetap mencari rembulan di langit, padahal hampir tak ada satupun kemiripan antaranya dan Sakura? Sosok siapakah yang sebenarnya kucari setiap kali aku memandang langit malam?"

Jika wajah Hinata bisa menjadi lebih merah lagi, maka itulah yang akan terjadi saat dia menatap wajah Naruto yang terus mendekat. Degup kencang di hatinya adalah bukti tak terbantahkan bahwa sesuatu jelas-jelas sedang membuatnya tegang. Genggaman pada tangannya bertambah erat dan erat sampai terasa seperti sedang diperas, dan Hinata menemukan kalau dia tak bisa berpaling dari wajah sang pemuda.

"Aku sangat bodoh, sampai perlu waktu selama ini untuk menyadari, sosok siapakah yang kucari. Sosok wanita yang membekas di hatiku setiap kali bulan yang terang dan lembut menyinariku..." Naruto mengangkat tangannya yang bebas, membelai pipi Hinata yang merah dan membuat napas sang gadis tertahan. "...Mengapa aku butuh selama itu, untuk sadar kalau yang sebenarnya kucari adalah kau, Hinata?"

Diam, hanya itu yang tindakan Hinata sekarang. Tubuhnya sekaku es, dan matanya melebar dengan shock terukir jelas di setiap garis wajah cantiknya. Keterkejutan yang melahap habis kesadarannya masih cukup kuat, tapi sang gadis bisa merasakan keberadaan dua lengan yang melingkar erat, mengikat pinggangnya, dan hal berikutnya yang terdaftar di otak Hinata adalah kelembutan dan kehangatan yang disentuhkan pada bibirnya.

Butuh waktu yang tidak lama bagi Hinata untuk mulai menafsirkan apa yang terjadi, hanya saja dia butuh belasan detik untuk membuat tubuhnya mulai bereaksi. Dengan rikuh dan malu-malu, gadis berambut biru panjang itu mengalungkan tangannya dan memeluk leher Naruto, memejamkan matanya lalu tenggelam dalam kehangatan dekapan sang Sennin.

"Aku sangat bodoh, padahal kau tak pernah menyembunyikan perasaanmu padaku..." Naruto mengecup dahi Hinata, "...Tapi kau sangat sabar denganku..." bibirnya menyusuri alis dan pelipis, "...Walau aku sangat terlambat..." Hinata menggeliat pelan ketika kedua tangan Naruto meremas pinggangnya. "...Kau terus menungguku..." hembusan napas sang pemuda yang terasa panas di sisi telinga membuat Hinata menarik napas cepat. "...Bahkan setelah itupun aku masih perlu waktu yang tidak sebentar, untuk menyadari..." Naruto mengakhiri kegiatan kecup mengecupnya di kedua pipi Hinata, sebelum menatap matanya setajam dan sedalam mungkin. "...Kalau ternyata, aku juga mencintaimu..."

Naruto menyusupkan wajahnya di leher Hinata sambil menghirup aroma gadis itu dalam-dalam, mengistirahatkan kepalanya di sana. Padahal mereka baru beberapa menit bersama, tapi Naruto sudah merasakan kerinduan tak tertahankan.

"Hinata..." si pemuda merapatkan wajahnya jauh lebih dalam, pipinya menggosok kulit leher Hinata dengan mesra. "Kumohon, hanya untuk malam ini..."

Hening lama.

"...Apa, Naruto-kun...?" Hinata bertanya karena merasa laki-laki itu terlalu lama diam.

"Ku-kumohon..." suara itu gemetar, seperti suara seseorang yang sedang menahan isak tangis. Hal itu semakin meyakinkan ketika mata Hinata menangkap gerakan bahu sang pria yang menggigil pelan. "K-kumohon, tetaplah di sini. Jangan pergi... jangan tinggalkan aku..."

Tanpa sepengetahuan sang gadis, beberapa air mata sudah jatuh dari mata Naruto ketika Hinata memeluk kepalanya lebih erat, mendekap sang pemuda ke dadanya yang hangat dan menenangkan.

...

Dia ingin menikmati momen ini sebisa mungkin, mematrinya dalam ingatan dan mengukirnya dalam kenangan. Dia ingin mengecap kehangatan Hinata dengan tubuhnya sendiri sampai dia bisa mengingatnya dengan jelas, dia ingin mencium aroma tubuh sang gadis sampai keharuman itu menjadi salah satu pajangan paling berharga dalam memorinya.

...

Karena dia tahu ini tak akan bertahan lama. Karena dia tahu... ketika hari esok tiba dan dia melangkah keluar dari gerbang Konoha, dia tak akan kembali untuk bisa merasakan ini lagi... selamanya.

((00))

Kesunyian yang tersisa hampir tak tertahankan.

Seakan ikut berduka, bumi terasa lembek di pijakannya dan langit melimpahkan anugrah hujannya... bagaikan ikut menangis atas kehilangan ini.

Semua orang telah pergi dan pulang ke rumah masing-masing, tapi dia tetap tak beranjak dari tempatnya. Biarlah hujan membuat rambut birunya yang panjang basah menempel ke wajahnya, tak apa kalau dinginnya air membuat tubuhnya menggigil dan membuat bajunya melekat ke kulit dengan tak nyaman. Dia terlalu sedih dan merana untuk merasakan itu semua.

Di antara air yang mengalir di wajahnya, sebuah arus terlihat berbeda dari lainnya, karena air itu keluar dari dua matanya yang berwarna biru abu-abu. Terus keluar seakan tak memiliki jeda, air mata sang gadis tersebut terus meneriakkan pada dunia betapa dalam kesedihan dan penderitaan yang kini menusuk-nusuk dadanya seperti jarum, atau menyayat-nyayat perasaannya bagai sembilu.

Bagaimana caranya mencari kehangatan? Jika sumber kehangatan tersebut telah lenyap untuk selamanya?

Adakah cara menemukan kebahagiaan, jika satu-satunya orang yang selalu mengisi ruang spesial dalam hatinya kini telah tiada, meninggalkan dadanya terasa kosong dan hampa?

"...Kenapa, Naruto-kun...?" ucapnya setelah merasa kalau semua kesunyian suara ini akan memberi efek yang tak baik pada kewarasannya, cepat atau lambat. "...Padahal kau sudah janji..."

Padahal malam itu, dia sudah merasa jadi wanita paling bahagia di dunia. Tubuh mereka yang menyatu dalam kehangatan terasa membuatnya melayang ke surga, setiap bisikan dan geraman yang dinyanyikan ke telinga membuat Hinata menggigil dalan euforia.

Mereka tak terpisahkan oleh apapun, tidak oleh baju, kain, tidak juga selembar benang. Beralaskan jubah Naruto, pakaian mereka tergeletak terlupakan di samping, karena mereka tak lagi penting. Selama sang pemuda terus berada dekat dengannya, selama pemuda terus memayungi tubuhnya yang menggeliat tanpa henti karena kenikmatan yang mendera, maka dunia dan seisinya hanyalah sesuatu yang insignifikan.

Desahan dan erangan yang memenuhi udara malam adalah bukti pernyataan cinta mereka, sebuah perasaan yang kini terbebaskan tanpa satupun kekangan. Mereka berbicara lewat sentuhan, bertukar pikiran lewat geraman dan rintihan.

Jeritan akhir yang dia lepaskan adalah penunjuk kalau interaksi jasmani mereka telah mencapai puncaknya, suaranya begitu nyaring dan bebas sampai dia merasa seluruh desa pasti bisa mendengarnya. Dengan tubuh yang terkulai lemas tanpa tenaga, gadis itu merasakan sebuah beban menindih tubuhnya, seakan tak mengizinkan gadis itu pergi dari dekapannya. Bagaikan mencari suatu jaminan kalau sang gadis tak akan menghilang dari sisinya.

"...Naruto-kun..." suaranya terdengar serak karena terlalu banyak menjerit, walau telinganya tidak fokus dia bisa merasakan hembusan napas berat di samping kepalanya. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang ada di tubuhnya, Hinata meraih kepala pirang sang pemuda lalu mengelusnya dengan sayang. "Berjanjilah padaku..."

"...Apa?"

"Kau harus menang dalam pertempuran ini..." kata Hinata sambil menarik kepala pemuda itu ke dadanya, lalu membiarkannya beristirahat di sana. Suaranya bergetar seperti orang yang siap menangis. "Kau harus kembali... harus pulang lagi ke sini..."

"Aku akan menunggu..." sambung Hinata, mendekap kepala Naruto lebih erat. "Aku akan terus menunggu di sini, sampai kau kembali..."

Tubuh Naruto mengeras untuk sesaat, matanya melebar lalu terpejam lagi. Tangannya mengepal kuat, mengetahui kalau dia tak akan bisa menghindari ini. Sungguh, hal itu jugalah yang sangat diinginkannya. Menang, berhasil menyadarkan Sasuke, lalu kembali ke Konoha. Melanjutkan kehidupan, mungkin sekali lagi mengambil ujian Chuunin... atau menjadi Hokage sekalian.

Lalu setelah dewasa, membawa gadis yang berbaring di sampingnya ke pelaminan. Membentuk sebuah keluarga, mempunyai anak-anak yang banyak, mengakhiri takdirnya sebagai anak sebatang kara. Sebuah kehidupan bahagia.

...Tapi itu hanyalah mimpi, sesuatu yang tak akan terwujud.

Karena dia tahu takdir apa yang menunggunya besok.

Untuk itu, sekarang dia harus berbohong. Sesakit apapun, senista dan semerana apapun, dia harus berbohong. Karena dia tak mampu memberitahu yang sebenarnya pada Hinata. Dia tak akan pernah mampu.

"...Ya..." suara itu cukup pelan untuk disebut sebagai sebuah bisikan, dia mengatakannya sepelan mungkin dengan harapan sang gadis tak mendengarnya. Tentu saja, harapannya berakhir pupus. "...Aku janji..."

(0)

Kebohongan selalu menyakitkan...

Tapi tanpa kebohongan itu, maka kedamaian yang sekarang mereka miliki tak akan pernah terjadi. Hinata sadar, jika Naruto saat itu tak berbohong, maka dia tak akan tahan untuk diam. Dia mungkin saja akan mengikuti Naruto ke medan tempurnya, dan mereka akan mati bersama-sama.

Tapi itu tak boleh sampai terjadi, dan demi hal ini, sepedih apapun hati Naruto saat itu, dia berbohong... demi menjaga Hinata agar tetap hidup. Dan setelah mengerti itu, barulah Hinata bisa memaafkan dusta Naruto yang hampir membuat hatinya pecah berantakan. Dia berhenti menangis setelah beberapa waktu, dia juga berhenti berduka dan siap melanjutkan kehidupannya.

Karena Naruto mengorbankan hidupnya agar dia tetap bisa menggenggam nyawa dan melihat hari esok, lalu menuaikan kewajiban yang telah diembankan padanya oleh sang pemuda.

Tapi satu hal masih menggelayut dalam hatinya dengan keras kepala. Walaupun Naruto melanggar janjinya, Hinata tetap berniat memenuhi apa yang dia katakan malam itu. Dia akan terus menunggu, dan terus menunggu. Selama apapun, tak peduli berapa hari yang harus ia lalui, tak peduli berapa kali matahari terbit dan tenggelam. Tak peduli kalau hari telah berubah bulan, dan bulan menjadi tahun... dia pasti tetap menunggu. Menunggu kembalinya sang pemuda, orang yang menjadi tambatan hatinya, satu-satunya pria yang merupakan belahan jiwanya. Dia tak akan menyerah, harapannya akan terus hidup, dan dia tak akan pernah putus asa.

Karena dia yakin... suatu saat, pemuda itu akan kembali. Naruto akan muncul di hadapan Hinata, dengan senyumnya yang seterang matahari dan mata birunya yang secerah langit. Mereka akan berkumpul lagi, dan pada saat itu tiba, mereka tak akan terpisah lagi untuk selamanya.

•••

"Kaa-chan!!"

Suara yang terkesan cadel dan kekanakan itu membuyarkan lamunan Hinata. Sang gadis berambut biru itu berdiri dari tempatnya duduk, menepukkan tangannya yang masih lembab habis mencuci pada celemek yang melekat di tubuhnya. Pandangannya yang semula tak terfokus pada dunia, kini tertuju pada tubuh mungil yang berlari ke arahnya dengan tangan terbuka. Mata biru abu-abunya bersinar dengan segera, merentangkan tangannya sendiri dan meraup anak kecil itu ke dalam pelukannya.

Tinggi anak itu tidak lebih dari satu meter, tubuhnya yang kecil menandakan betapa muda usianya hidup di dunia. Rambut pirangnya tumbuh lebat dan kini sudah berbentuk seperti duren, dan mata birunya begitu terang sampai bisa menandingi warna langit di hari yang tercerah sekalipun. Dia seperti cerminan seseorang, seorang Sennin yang mengorbankan dirinya untuk memberi kedamaian bagi kehidupan generasi selanjutnya, hanya dengan minus 3 kumis kembar di pipinya.

Ya, inilah sebuah tugas suci yang telah diembankan Naruto padanya. Tuhan telah menganugrahkan mereka seorang anak laki-laki yang tampan dan sehat seperti ayahnya, dan demi anak ini, dia harus terus hidup. Dia akan menjaga dan merawatnya, memenuhi kewajibannya pada Naruto, sebagai seorang istri dan sebagai seorang ibu. Tapi sungguh, tak ada sebulir pun keterpaksaan dalam dirinya. Dia tak akan pernah menganggap anak ini sebagai beban, karena dia adalah darah dagingnya sendiri, seorang manusia yang lahir dari rahimnya, dan seorang anak yang kini menjadi matahari dalam kehidupannya.

"Kaa-chan, kok lama sekali sih!" seru sang bocah dengan suara manja sambil menggosokkan wajahnya ke perut sang gadis dewasa. "Aku lapar nih!"

"Ah, maaf Hayate, Kaa-chan terlalu lama melamun..." gadis berambut biru itu menjawab sambil mengacak-acak rambut anaknya yang pirang dengan sayang. "Kau mau makan apa...?"

"Ramen!!" pilihan sang anak membuat wanita itu tersenyum hangat sebelum melepaskan sebuah tawa geli. Apel memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. "Kaa-chan! Kok ketawa sih!?"

"Ah, bukan apa-apa..." dia tersenyum lebih lebar ketika melihat betapa lucu wajah sang bocah yang cemberut, membelai kepala anak itu sebelum menggenggam tangannya yang masih begitu mungil. "Hanya saja, makanan favoritmu itu..."

"Kenapa dengan ramen?" tanya sang bocah yang baru berusia 3 tahun, membiarkan sang ibu menggandengnya berjalan melewati halaman kecil itu, menuju pintu yang terbuka lebar di depan mereka.

"Itu makanan kesukaan ayahmu."

"Benarkah?!" sang anak menjerit girang, matanya yang berwarna biru langit membuat sang gadis kembali teringat pada pria yang sangat dicintainya. "Jadi Tou-chan juga suka ramen?!"

"Ya, dan kecintaannya pada ramen membuat itu jadi seperti makanan pokok baginya," sang gadis tak mampu menghalau secercah kerinduan menusuk hatinya ketika balas menatap mata biru Hayate yang berbinar. Tak ada... sama sekali tak ada perbedaan antara mata anak itu dengan mata ayahnya. "Yah, itu juga merupakan salah satu daya tarik seorang Naruto Uzumaki sih..."

Tepat sebelum mereka masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja Hayate berhenti berjalan. Wanita berambut biru panjang dan bermata biru abu-abu itu ikut menghentikan langkahnya, dan agak terkejut saat menemukan kalau senyum ceria yang tadi ada di wajah anaknya kini telah hilang, dan wajah kecil itu sedang menunduk dalam.

"Kaa-chan..." panggilnya pelan. "Apa benar Tou-chan tidak akan pernah pulang?"

"Hayate..." dia sangat terkejut mendengar perkataan itu, sehingga dia langsung berjongkok di hadapan sang anak lalu menggenggam kedua tangannya erat. "Kenapa kau bicara begitu...?"

"Habis..." mata biru langit itu mulai berair. "Teman-teman di sekolah... mereka selalu bilang kalau Tou-chan sudah mati. Lagipula, bukannya ada sebuah nisan dengan nama Tou-chan di pemakaman desa...?"

"Hayate..." gadis yang kini sudah mengubah namanya menjadi Hinata Uzumaki itu mengangkat sebelah tangannya, lalu menyapu rambut yang menutup dahi Hayate untuk mengelusnya. Belaiannya terasa lembut di pipi sang anak, dan itulah semua yang diperlukan oleh bocah itu untuk berhenti menangis. "Kaa-chan tidak akan bilang kalau mereka salah, dan Kaa-chan juga tidak akan bilang kalau nisan dengan nama ayahmu itu tidak ada..."

Sang bocah berambut pirang mengangkat kepalanya, menatap ke mata ibunya yang tegas tanpa sedikitpun keraguan.

"Ayahmu dulu berjanji dia akan kembali," Hinata melanjutkan, menyeka air mata terakhir yang mengalir dari mata anaknya dengan ibu jari. "Kaa-chan percaya pada ayahmu, dan Kaa-chan akan terus menggenggam kepercayaan ini sampai kapanpun. Karena tanpa kepercayaan, kebahagiaan tak bisa diraih, kan?"

Mereka berdua diam untuk waktu yang lama, dengan hanya kesunyian yang menjadi teman mereka, dan pengecualian beberapa suara angin berdesir dan daun berkeresak. Hayate mengepalkan tangannya yang kecil, lalu menggosok matanya dengan bersemangat. Saat dua mata itu terbuka kembali, Hinata agak kaget saat menemukan tekad yang membara, sama seperti yang dulu sering ia lihat di mata Naruto.

"Ya, aku juga percaya Tou-chan." ketegasan dan kekuatan yang tersimpan oleh suaranya membuat mata Hinata melebar tak percaya karena dia terdengar begitu dewasa, apalagi ketika bocah itu berbalik dan mendongak ke langit. Sekilas, dia seperti bisa kembali melihat sosok Naruto pada bocah yang sebenarnya baru berusia 38 bulan itu. Keterkejutan semakin hebat melandanya ketika anak itu membuka mulutnya dan berteriak ke angkasa. "Toou-chaan!! Aku dan Kaa-chan akan selalu menunggu, jadi cepat-cepat pulang ya!!"

"Anak kita benar-benar kangen padamu, Naruto-kun..." gumam Hinata dalam hati, dengan sebuah senyum yang lembut dan hangat terukir di bibirnya. "...Aku juga rindu padamu..."

"Karena itu, cepatlah kembali. Buktikan sekali lagi, kalau kau selalu bisa mengubah kebohongan menjadi kenyataan..."

Walaupun hanya ada satu, harapan tak akan kandas sekuat apapun badai yang menghadang.

Hayate, nama yang benar-benar membuat hamba pingin menghajar tembok karena sangat susah dicari. Hamba sudah mempertimbangkan Kotaro, Kojiro, Ren, Wataru, dan banyak lagi, tapi pada akhirnya pilihan hamba jatuh pada Hayate. Karena arti nama itu adalah hembusan angin.

Sungguh, cerita ini pada awalnya hanya merupakan sebuah one shot, tapi kalian tahu sendiri bagaimana seorang Galerians ini... secara tak sengaja, ide untuk lanjutannya malah muncul. Jadi, readers sekalian kembali akan memegang peranan penting bagi cerita ini, karena kelanjutan SANGAT TERGANTUNG pada review kalian. Jadi... berusahalah?

Ah, hamba ini banyak bacot ya? Baiklah, sekali lagi, mohon reviewnya!!

Sampai jumpa!!

Galerians, out.