Sekitar sebelas tahun lalu, pernah ada satu kejadian yang telah terlupakan.
.
.
"Oi, Reisi. Di sini kau rupanya."
Sepasang manik sewarna kopi mengalihkan pandangan dari naskah putih di genggamannya. Di hadapannya kini berdiri sosok yang cukup ia kenal.
"Suoh-senpai? Upacara kelulusannya di lapangan. Kenapa malah kesini?" pemuda yang berkacamata itu melipat lembar naskahnya. Sudahlah, toh ia sudah hapal semua pada isinya.
"Sudah berapa kali dibilang jangan memanggilku seperti itu." Orang yang dipanggil 'Suoh-senpai' tadi mendengus dan berjalan mendekat. "Kau sendiri sedang apa, masa ketua osis malah kabur dari persiapan upacara kelulusan?"
Yang berambut biru gelap itu menghela napas. "Membaca ulang naskah pidato. Aku tidak sedang bolos atau apa, Suoh—kun."
Yang sekarang berganti panggilan menjadi 'Suoh-kun' itu mengangkat sebelah alisnya. Kok yang diganti cuma embel-embel namanya saja?
"Kau kaku, Reisi. Paling tidak panggil aku 'Mikoto' atau apa." Yang berambut merah itu menghempaskan diri unutk duduk merapat pada adik kelas di sebelahnya. Yang dirajuki hanya memasang wajah datar.
"Kita sudah bukan anak SD." Bahkan setelah ini kau lulus dari bangku SMP. "Dan caramu berpakaian sangatlah tidak rapi, Suoh-kun." Pemuda berkacamata itu menunjuk lurus ke arah dasi yang menggantung asal pada kerah kemeja seorang Suoh Mikoto tersebut.
"Aku malas merapikan dasi. Repot." Kemudian ditanggapi oleh tawa kecil.
"Bilang saja kau memang tidak bisa."
Skak mat. Percuma kalau mau berkilah di hadapan teman sejak kecilnya itu.
Mikoto tidak menjawab pancingan Reisi barusan. Kedua bola matanya yang menyala bagai percikan api itu hanya menatap lurus—masuk ke dalam manik Reisi yang mengkilat bagai karamel.
Mendadak Mikoto mulai lapar—dalam berbagai artian.
Tanpa bertukar kata, sang pemuda berkacamata itu meraih dasi Mikoto dan merapikannya. Bukan diperintah, tidak karena terpaksa, melainkan karena memang terbiasa. Apa mau dikata, seorang Suoh Mikoto memang biang masalah. Ia bagai api yang menjilati benda sekitar dan meminta semuanya menjadi abu. Kalau begitu, mungkin seorang Munakata Reisi adalah air jernih tak beriak yang begitu tenang dan mengalir dalam harmoni.
Sungguh pasangan teman yang aneh, namun terlihat saling mengisi satu sama lain.
"Kau tahu, aku tidak bisa selamanya merapikan dasimu yang berantakan ini, tahu. Suatu saat nanti kau harus melakukannya sendiri."
Reisi tersenyum tipis tatkala melihat hasil kerjanya. Seragam Mikoto jauh terlihat lebih baik sekarang.
"Paling tidak kau harus terlihat rapi saat upacara kelulusanmu sendiri." gumam pemuda cermat tersebut sambil memeriksa kembali seragam dan jas Mikto. Sempurna.
"Ngomong-ngomong, SMA nanti melanjutkan ke sekolah mana?" jeda sejenak. Pertanyaan yang sengaja dihindari selama setahun—akhirnya terucap juga.
"Untuk apa bertanya, mau menyusulku ke sekolah yang sama tahun depan?"
Samar sekali, ada semu merah di kedua sisi pipi Reisi.
"Jangan bercanda, Suoh-kun. Aku tidak akan melakukan hal seperti itu."
Yang berambut api menatap kilas pada bingkai kacamata pemuda di hadapannya. Tsk, ia ingin melepaskan penjara mata yang terbuat dari kaca itu.
"Lagipula mana mungkin orang yang tahun depannya akan berangkat ke luar negeri melakukan itu." Skak mat. Kini ganti Reisi yang terkena sindir.
"Maaf…" Pemuda biru itu sudah habis kata-kata. Tinggal sisa kata maaf yang enggan turun dari pangkal lidahnya.
"Kau membuatku patah hati, Reisi." Pemuda serupa merahnya darah itu menatap kelopak sakura yang menari di antara mereka. Ia harap cerita mereka tidak akan jadi seperti komik tragis yang seenaknya mematenkan rumus kalau kecepatan jatuhnya kelopak sakura itu lima sentimeter per sekon. Padahal ada percepatan gravitasi, gaya gesek udara terhadap permukaan benda, dansebagainya. Rumus tadi itu cuma rumus roman, bakal gagal kalau digunakan untuk mengerjakan ujian Fisika.
Sudahlah, makin lama pikiran Mikoto makin ambigu.
Munakata Reisi yang kala itu masih berusia tiga belas tahun hanya memandang ragu pada punggung kawannya. Suoh Mikoto adalah teman baiknya, tak ada satu pun dari mereka yang menyangkal hal itu. Namun dari lubuk hatinya yang paling dalam, kadang Reisi merasa kalau ia dan Mikoto tidaklah sedekat itu. Karena, selalu saja—
—Mikoto selalu saja terlihat jauh, entah karena apa.
"Hei, Reisi."
"Ya?"
"Ada satu hal yang sejak dulu ingin kukatakan padamu."
Bola mata yang sewarna cappucino itu melebar penuh rasa ingin tahu.
"Apa itu?"
Sang pemuda yang menyandang gelar senior bagi Reisi itu membalikkan tubuhnya. Sekarang atau tidak sama sekali, kesempatannya tinggal satu ini—
"Aku menyukaimu."
Hari itu, akhirnya Reisi tahu alasan mengapa seorang Suoh Mikoto tidak pernah bisa menjadi sahabatnya.
.
.
.
Project K © GoRa & GoHands
Chrono Factor
By Bakso Puyuh Kuriitama
.
Warnings: Shonen-ai, AU, OOC. Tidak ada satu pun karakter yang mati. Bapak-anak Miko-Misa, kakak-adik Reisi-Saru.
.
.
.
"Masalahnya niisan itu kan jomblo, bisa bahaya nanti kalau ada om-om mesum yang maksa ngajakin one night stand di love hotel terus niisan-nya mau saja."
(Dari seorang adik paling nista Sedunia.)
.
.
.
(semacam) Sepuluh tahun kemudian…
Dengan wajah yang stoik namun berbinar, Munakata Reisi menggoreng dua porsi telur mata sapi. Sekitar dua menit kemudian, ia meletakkan telur-telur itu di atas dua buah piring—menemani sosis goreng dan sayuran segar yang telah menunggu. Telur yang matang sempurna untuk dirinya, sedang yang setengah matang untuk seorang lagi penghuni apartemen yang lain.
Sebelum membawa sarapannya ke meja makan, Reisi menyempatkan diri untuk menatap langit di luar jendela. Hari ini cuacanya cerah, pikirnya. Sebuah hari yang baik untuk mengawali segala sesuatu.
…kalau adiknya mendengar suara batin itu, ia pasti bakal dikatai seperti orang tua. Reisi sendiri tidak yakin kalau seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun dan jomblo seperti dirinya itu bisa disebut tua.
Ngomong-ngomong, tolong berhenti membicarakan soal jomblo.
Lagipula bukannya tak laku atau apa, Reisi memang belum mau mencari teman kencan. Alasannya?
"Niisan, sarapannya mana?"
Adalah ini. Sang adik kecil nan unyu yang usianya masih sepuluh tahun. Saat ini, Reisi hanya tinggal berdua saja dengan adiknya. Jadi tentu saja berpacaran bukanlah pilihan yang tepat untuk hidupnya saat ini. Mana bisa ia asyik pacaran dan meninggalkan adik kecilnya ini sendirian? Nanti kalau ia lapar bagaimana? Kalau ia sendirian? Diculik?
…brother complex.
"Maaf lama, Saruhiko-kun." Reisi meletakkan piring-piring itu di atas meja makan kecil. Di salah satu kursi, sang adik duduk dengan ekspresi luar biasa bosan. Entah ia menunggunya baru sepuluh menit atau sudah satu abad.
"Lama," protes Saruhiko—sang adik kecil yang rupanya mirip sekali dengan Reisi.
"Maaf, tadi niisan melamun. Ayo, dimakan dulu sarapannya."
Bocah yang kelaparan itu pun mengangguk menurut. Dengan datar tapi lahap, ia memakan jatah sarapannya. Maunya sih menyisakan sayur yang memang ia benci, sialnya dari tadi Reisi terus meliriki. Lebih baik dimakan daripada ia harus melihat kakaknya yang menceramahinya dengan segala histeria. Reisi yang sedang mengomel itu—ugh, pokoknya lebih malesin dari ibu-ibu rumah tangga.
"Bagaimana, Saruhiko-kun? Sudah merasa nyaman di tempat tinggal baru kita?" Sang bocah kecil itu menggeleng pelan.
"Tempatnya terlalu terang. Cahaya matahari masuk dari segala arah." Kemudian Reisi pun bagai tertohok. Ini kenapa makin lama adiknya makin hikikomori begini?
"Cahaya matahari itu bagus. Saruhiko-kun juga harus sering-sering keluar rumah, jangan mendekam di dalam apartemen terus." Mendengar nasihat sang kakak, Saruhiko hanya mencibir sambil terus memakan sosisnya. Keluar? Malas. Mending main game di rumah kali.
"Lagipula kenapa sih kita harus pulang ke Jepang." Bukan pertanyaan melainkan protesan. Reisi menghela napas melihat kelakuan adiknya. Rasanya jahat bila ia mengatakan hal seperti ini tentang adiknya sendiri—namun entah kenapa rasanya ia punya bayangan kalau di masa depan nanti Saruhiko akan tumbuh jadi pemuda pemalas model-model sampah masyarakat begitu.
Yah, pokoknya jangan sampai bayangannya jadi kenyataan.
"Niisan mendapat tawaran bekerja di K academy, apalagi yang menawari itu kepala sekolahnya sendiri. Kita tidak bisa menolaknya. Kurasa aku juga akan menyekolahkanmu di tempat itu, di sana kurikulum pendidikan dan lingkungannya sangatlah bagus." Dan tentu saja menolak pekerjaan di sekolah terbaik se-Jepang itu sungguh tindakan yang bodoh.
"Kau terlalu sayang dengan pekerjaanmu itu," protes sang adik sembari menyeruput teh paginya. Wanginya sungguh menenangkan.
Mendengar rajukan sang adik, Reisi hanya menghe napas sambil memberekan piring-piring sisa sarapan mereka. Dengan gerakan cepat ia mencuci alat-alat makan itu. Dua menit kemudian ia sudah bersiap untuk pergi ke K academy. Cepat sekali geraknya.
"Nah Saruhiko-kun, niisan berangkat dulu ya." ujarnya sembari menepuk singkat kepala sang bocah kecil bermata biru itu.
"Hati-hati di jalan, niisan. Jangan mau ikut kalau diajak pergi sama orang yang tak dikenal ya?"
Munakata Reisi, 23 tahun. Dinasihati begitu oleh adik kecilnya yang baru berusia sepuluh tahun. Yah, dia kan sudah dewasa. Masa iya sih ada orang asing panggil-panggil dengan iming-iming permen lolipop terus culik dia?
"…mana mungkin bisa begitu. Aku kan sudah dewasa, Saruhiko-kun." Senyum geli.
"Bukan begitu juga sih. Masalahnya niisan itu kan jomblo, bisa bahaya nanti kalau ada om-om mesum yang maksa ngajakin one night stand di love hotel terus niisan-nya mau saja."
Segala kata-kata yang tak pantas diucap oleh bocah SD berusia sepuluh tahun terlontar sudah. Mana wajahnya datar plus banget pula.
Seketika itu pula, kacamata Reisi serasa retak tak berbentuk. Darimana coba adiknya yang baru berumur sepuluh tahun itu mengerti bahasa-bahasa macam begitu? masa' karena mereka lama tinggal di luar negeri? Atau jangan-jangan selama ini Saruhiko telah salah pergaulan—
"…niisan, jangan mangap di depan pintu begitu. kau hampir terlambat." Terlanjur dirajai refleks, yang dilakukan Reisi malah melenggang lari tanpa pikir panjang. Adik kecilnya hanya mendengus sambil menutup pintu apartemen mereka. Tak lupa menguncinya pula sesuai yang diajarkan sang kakak.
Nah, lihat siapa yang anak kecil di sini.
Dan di sinilah Munakata Reisi. Di pintu menuju kantor kepala K academy yang manthab membahana seantero Jepang. Gugup? Tentu saja, sedikit. Senang? Lumayan lah. Parno? Mungkin saja.
Dengan kata lain, perasaan Reisi sedang campur aduk saat ini.
Di depannya, berdiri seorang guru senior di sekolah ini—alau mungkin tidak bisa dibilang senior karena sekolahnya sendiri masih tergolong baru. Kusanagi Izumo namanya—kenalan Reisi semasa smp dulu.
"Santai saja, Munakata—walau wajahmu masih terlihat datar-datar saja, sih." Pria dengan kacamata ambigu itu tersenyum garing. 'Sekian tahun tak bertemu, masih kaku saja anak ini.'
Tanpa menunggu reaksi Reisi—yang bersangkutan sudah terlarut dalam pemikirannya sendiri—, Kusanagi membuka pintu ruangan dengan tenaga penuh—
—tidak bergeming.
Sialan, pintunya berat.
Reisi yang tadinya sempat sweatdrop sendiri saat melihat seorang Kusanagi berusaha membuka pintu dengan lebaynya (ini pintunya seberat apa coba?) kini kembali dibuat berdebar saat pintu takdir itu terbuka perlahan. Kira-kira, seperti apakah sang kepala sekolah yang berhasil membangun sekolah terbaik se-Jepang ini? Seorang yang bijak kah? Berilmu kah? Ganteng(?) kah?
Sungguh, ia ingin—
"Hosh… hosh… mampus, ga kuat dorong gue…"
—membantu Kusanagi untuk membuka pintu.
"…butuh bantuan, Kusanagi-san?"
Kelelahan, yang bersangkutan hanya mengangguk pasrah. Reisi pun mulai sok-sokan menggulung lengan bajunya—padahal kalau tidak digulung juga bukan masalah.
Dan sialnya, itu pintu berat sungguhan.
Maka dengan usaha penuh, Reisi dan Kusanagi pun memaksakan diri untuk membuka pintu yang dari-luar-kayaknya-dari-mahoni-tapi-kok-bisa-berat-gini itu.
Ketika dua orang tertindas itu memasuki ruangan, yang menyambut mereka adalah sebuah kekehan geli.
Eh semprul, siapa itu yang ketawa?
Dengan senyum kaku, Reisi mendongakkan kepala. Niatnya sih ingin mencari sang pelaku penghinaan nama baiknya itu lalu—
—helai pirang yang familiar menyambut indera pengelihatannya.
"…Totsuka…kun?"
Walau panggilan Reisi terdengar ragu, yang bersangkutan masih tersenyum cerah.
"Waah, kau masih ingat padaku!"
Reisi tersenyum miris. Tentu saja, pemuda ini adalah teman sekelasnya semasa SMP. Itu, Totsuka Tatara yang hobi merekam video amatir sampai pasang kamera di mana-mana. Dari di kelas sampai toilet. Entah karena murni terkena adiksi hobinya atau dia memang mesum.
Tapi bisa dibilang, pemuda murah senyum itu adalah satu dari sedikit teman baiknya.
"Lama tak jumpa, Totsuka-kun—tunggu, kenapa kau duduk di kursi untuk kepala sekolah?"
Yang bersurai pirang pucat itu memiringkan kepala.
"Eh? Tentu saja karena aku adalah kepala sekolah di sini."
"Oh, begitu. pantas rasanya ada yang janggal ketika sekolah ini memintaku untuk mengajar."
Hening.
Kusanagi menyuguhkan teh merah pada Totsuka dan Reisi.
Totsuka meneguk tehnya dengan bahagia, Reisi menyeruput sedikit.
Reisi tersenyum puas—aroma tehnya wangi sekali.
Hening lagi.
"…sebentar, Totsuka-kun. Kau bilang kau kepala sekolah di sini?"
"Yup, tentu saja!"
Reisi kaget seketika, Totsuka masih tersenyum bahagia, sementara Kusanagi hanya geleng-geleng kepala('Ini pinter-pinter kok loading-nya rada lama, ya?'). Sang pemuda berambut biru mangap sedikit, berusaha untuk tetap bersikap tenang tapi sepertinya kurang sukses.
"B-bagaimana bisa—"
Sang kepala sekolah tertuduh itu tertawa ringan.
"Tentu saja bisa, Reisi-kun. Yang bikin lebih kaget itu sebenarnya bukan aku malah, tapi orang 'itu'."
Disusul oleh dengusan dari Kusanagi dan tawa geli dari Totsuka. Tunggu, Reisi makin tidak paham dengan situasi ambigu ini.
"Kau akan tahu setelah melihatnya nanti." Ucapan Totsuka berimplikasi pada sebuah kata bernama 'kejutan'. "Intinya, mulai sekarang kau akan jadi guru di sekolah ini. Bagaimana, Reisi-kun? Kau bersedi—"
"Totsuka, yang rasa pisang habis—"
Seorang pria melenggang masuk, dengan santainya menggebrak pintu maut yang beratnya tak terkira itu. Empat pandangan saling bertemu. Tiga pasang mata tertuju padanya, dan tentu saja ia balas menatap dengan santainya. Dilihat dari penilaian singkat Reisi, gaya bicara dan berpakaian dari orang ini terlihat seperti preman jalanan—atau parahnya lagi, tukang becak. Singkat kata, berantakan. Lalu apa urusan orang ini dengan kantor kepala sekolah yang sakral ini?
"—oh."
Reisi serasa dipukul mundur saat sepasang manik amber menatap lekat pada bola karamelnya. Ah, tunggu dulu. Mata yang menusuk tajam bagai panah, surai yang bagaikan kobar api, lalu ekspresi aneh yang membuatnya jauh dari kata nyante itu. Rasanya—familiar?
"…hei, Totsuka," Sebuah bungkusan plastik ia letakkan tepat di atas meja sang kepala sekolah. "Untuk apa kau bawa Reisi ke sini?"
Eh.
Orang itu tahu namanya. Tunggu dulu. Orang ini…
"Kau—"
Sepasang manik merah itu kembali melahap warna cokelat teduhnya.
Kala itu, Reisi seolah dapat merasakan gerigi waktu yang kembali bergerak setelah terhenti sekian lamanya…
.
.
.
To be Continued
.
.
.
A/N: …hai lagi? #gundhulmu Jadi, inilah kedok asli saya. Makhluk banyol serupa garing #sujud Ini mana ga tahu lagi kok saya berani bikin fic MC di sini hahahaha kill me plz.
Tentang konsep cerita sendiri, saya beneran ga tahu mau komentar apa. Ini mainstream. Garing. Udah gitu nggak jelas pisan orz. Seperti yang saya implikasikan, pairingnya bakal jadi MikoRei, SaruMi, dan pair-pair lain yang dirahasiakan dulu biar greget. #dikemplang
Ini semua gara-gara relasi Mikoto sama Reisi yang ambigu abis. Di anime, Reisi bilang mereka 'teman lama'. Terus kenalnya kapaaan? Flashbacknya manaaaa? 8"D #kayang #penasaran
Terus di sini Reisi kok OOC banget gitu ya? #maafkansaya Tapi jujur saya lebih mangap lagi pas baca manga Days of Blue—di situ dia terlihat, err… berbeda dari yang saya bayangkan. #plak
Okelah, sekian dulu dari saya. Mohon maaf karena malah nyampah lagi di fandom ini #sujud
Makannya Bakso Puyuh, minumnya Soda Gembira, camilannya Nastar Keju~
Bakso Puyuh Kuriitama
.
.
.
Next chapter:
"…siapa ya?"
Hanzer, dia dilupakan.
.
"Kau mau juga?"
"Apa itu?"
"Ini? Pico ice cup! Masa kau tidak tahu?"
Sweatdrop. Entah kenapa nama itu terdengar familiar.
.
"Ada yang ingin kau katakan setelah menghilang sekian tahun ini?"
"Itu… kenapa rambutmu jadi begitu?"
.
"…oh, anakmu. Eh—apa? Kaubilang anak!?"
.
(Entah kenapa terdengar seperti banyolan.)
