A/N : Halo, minna! Jumpa lagi di fic saya!

Oh iya, fic ini merupakan request dari Aderu-san^^ /ini GouKaze, lho… GouKaze!/

Tapi maaf karena saya membuat fic ini menjadi rated T, ya… Semoga Aderu-san suka!

Dan para readers, selamat membaca!


Disclaimer : Inazuma Eleven is belong to Level-5

Warning(s) : OOC, AU, Shounen-ai, ide aneh, judul tak sesuai dengan cerita, typo bertebaran di mana-mana, bahasa yang tidak sesuai, EYD yang salah, cerita membingungkan, dan segala macam kesalahan lain yang dapat anda temukan di dalam fanfic ini.

Note : Italic bisa berarti istilah, bahasa asing, kalimat yang diucapkan dalam hati, kata yang diucapkan dengan penekanan, dan flashback.

.

.

.

"Step on your shadow"

-I always dreamed of a time when our shadow becomes one-

Chapter 1 : Our relationship? Just a friend.

.

.

.


"KYAAA! Lihat! Itu Gouenji-sama dan Kazemaru-sama!"

"Waahh… Kalian dengar hasil pertandingan kemarin? Mereka berdua mencetak point pertama dengan menggunakan alley oop[1]! Keren!"

"Mereka berdua memang benar-benar ace Raimon Basketball Team!"

Kazemaru melirik kerumunan orang yang sedang mengerubunginya dan Gouenji. Gouenji tampak tenang-tenang saja, seakan dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.

Tapi tidak dengan Kazemaru. Ia sedari tadi berjalan dengan tegang. Kerumunan orang membuatnya—sangat—tak nyaman.

Gouenji melirik sahabat sejak kecilnya itu, lalu tersenyum simpul. "Ehm, minna… Bisakah kalian tidak menghalangi jalan kami? Kami ingin latihan, dan kami tidak ingin terlambat. Jadi, bisakah kalian bubar?" pintanya—dengan nada yang dingin dan mengancam.

Murid-murid yang menjadi peserta dalam kerumunan itu terdiam sejenak, lalu mengangguk dengan kompaknya. Mereka semua berjalan meninggalkan Kazemaru dan Gouenji berdua di koridor yang sepi.

"Terima kasih," Kazemaru nyengir ke arah Gouenji.

Gouenji mengangguk. "Sama-sama. Lagipula aku juga mulai merasa tak nyaman tadi."

Kazemaru dan Gouenji terdiam.

"Aku tebak…" Kazemaru mulai membuka pembicaraan. "Kau dapat 21."

Gouenji menaikkan sebelah alisnya. "Kalau kau?"

"Seperti biasanya, pasti tidak sebanyak kau—"

"—itu yang dari perempuan. Kalau yang dari laki-laki, kau pasti dapat banyak. Bahkan lebih mungkin lebih banyak dari yang kudapatkan." potong Gouenji sebelum Kazemaru sempat menyelesaikan pendapatnya.

Kazemaru mendengus sebal. "Kau meledekku?"

"Tidak. Aku hanya menyatakan fakta, kalau kau lebih disukai laki-laki daripada perempuan." balas Gouenji dengan nada kemenangan.

Kazemaru berjalan menuju lokernya yang tak jauh dari tempatnya semula. "Jangan salahkan aku, siapa suruh mereka menganggapku sebagai perempuan."

Kazemaru membuka lokernya, dan disambut dengan setumpuk hadiah-hadiah yang memenuhi lokernya. Ia melirik ke Gouenji yang membuka pintu lokernya, dan melihat hadiah Gouenji tak sebanyak miliknya.

"Sudah kubilang, kan? Hadiahmu pasti lebih banyak dibandingkan dengan hadiahku." Gouenji tersenyum puas.

Kazemaru—lagi-lagi—hanya bisa mendengus sebal.


"Endou! Pass!"

Endou mengangguk, lalu melakukan passing[2] pada sang pemilik suara tadi, Kazemaru. Kazemaru men-dribble[3] bola dengan—sangat—cepat, melewati pemain lawan.

Kazemaru melompat, dan melakukan cross over dunk[4] dengan sempurna.

"Grande[5], Kazemaru."

Kazemaru menoleh, dan mendapati teman setimnya—Fudou Akio, sedang berjalan ke arahnya dengan smirk yang biasa ia pamerkan.

"Grazie[6], Fudou." Kazemaru menepuk bahu temannya yang satu itu. Lalu pandangannya teralih pada Gouenji, lalu tersenyum mengejek. Gouenji, dalam rangka membalas senyum sahabatnya tersebut, balas tersenyum menantang.

Mereka semua mulai kembali ke posisi asal, dan peluit dibunyikan.

Gouenji dengan agresif men-dribble bola ke arah ring lawan. Endou dan Hiroto—teman setim Kazemaru—melakukan taktik trap[7] pada Gouenji, tetapi Gouenji dengan mudahnya melewati penjagaan mereka dan mulai berlari mendekati ring.

Gouenji berhenti berlari, kemudian menembakkan bolanya ke arah ring.

Gouenji melakukan sebuah three point shoot[8].

Kazemaru berhenti di depan ring, mencoba melakukan block shoot[9] pada tembakan Gouenji—

—yang berakhir dengan masuknya sang bola basket ke dalam ring.

Gouenji tersenyum puas. Diliriknya Kazemaru yang sekarang sedang melirik ke arahnya dengan sebal.

"KYAAA! Gouenji-sama~!"

Gouenji mengalihkan perhatiannya dari Kazemaru ke arah suara-suara yang memanggil-manggil namanya.

Kerumunan anak perempuan sedang berdiri di pinggir lapangan—oh, dan ada juga yang membawa spanduk bertuliskan 'Gouenji-sama is the best' dengan dihiasi oleh segala macam hiasan berwarna pink di sekelilingnya—dan itu nyaris membuat Gouenji merasa mual.

"Gouenji memang banyak penggemarnya, ya." Hiroto membuyarkan konsentrasi semua orang—yang tadinya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Midorikawa mengangguk, "Bukankah kau juga, Hiroto?"

Hiroto mengedikkan bahunya. "Tak sebanyak dia. Dan juga tak sebanyak penggemar… Kazemaru." Mata hijau emerald-nya melirik ke arah Kazemaru, lalu beralih ke kerumunan laki-laki yang bisa dibilang adalah fans Kazemaru.

Kazemaru melotot. "Bisakah kalian tak meledekku soal itu, sehari saja?"

"Tidak akan pernah bisa," jawab Fubuki sambil tersenyum kecil ke arah Kazemaru.

Kazemaru mengerucutkan bibirnya. Ia terdiam, lalu berjalan ke arah pelatih. "Break time?"

Sang pelatih mengangguk, mempersilahkan para pemain untuk beristirahat. Kazemaru mengambil handuk yang telah disediakan para manager. Ia menghempaskan tubuhnya di bangku. Matanya mengamati teman-temannya yang sedang beristirahat, hingga—

"Aduh!"

—sebotol minuman dingin langsung menyentuh wajahnya.

Kazemaru menatap kesal sang pemberi botol. "Bisakah kau tidak langsung menempelkannya ke wajahku, Gouenji Shuuya?"

Gouenji tersenyum kecil. "Minumlah. Tak bagus jika kau terkena dehidrasi."

"Baiklah," Kazemaru menenggak minumannya. "Trims," ucapnya pada Gouenji. Gouenji hanya mengangguk kecil.

Kazemaru memperhatikan teman-temannya yanng sekarang sedang bertanding. Mata madunya terfokus pada bola basket, sebelum akhirnya ia menangkap sosok yang tak dikenalnya, sedang duduk di bangku tak jauh darinya.

"Kau siapa?" tanya Kazemaru. Jari telunjuknya terarah pada seorang gadis berambut ungu.

Sang gadis ungu itu menoleh, balas menatap Kazemaru dengan tatapan bingung. "Aku?"

"Ya, kau. Aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Kau siapa?" tanya Kazemaru ulang.

"Aku juga tak pernah melihatmu," ucap Gouenji, mendukung pernyataan Kazemaru.

"Namaku—"

"Oh, kalian berdua belum mengenalnya, ya? Dia adalah manager baru, namanya Kudou Fuyuka." potong pelatih.

Gouenji menyerngitkan dahinya. "Kenapa dia tidak memperkenalkan diri pada kita semua?"

"Sudah, kok. Tadi dia memperkenalkan dirinya sebelum kalian datang. Siapa suruh kalian datang terlambat, pakai acara saling kejar-kejaran, pula." sahut Endou yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Gouenji.

Kazemaru dan Gouenji melirik tajam ke arah Endou, yang dibalas oleh cengiran lebar dari Endou.

Kazemaru menatap Fuyuka. "Kau sudah pernah jadi manager di klub basket sebelumnya?"

Fuyuka menggeleng.

"Belum? Bagaimana dengan menjadi manager di klub lain? Atletik atau sepakbola, misalnya. Sudah pernah?" Gouenji ikut bertanya—atau lebih kelihatan seperti menginterogasi—pada Fuyuka.

Fuyuka menggeleng lagi.

"Kau sudah mengerti bagaimana cara manager bekerja?" tanya Kazemaru.

Kazemaru berharap pertanyaannya yang satu ini dijawab dengan anggukan atau kata 'ya'—tapi Fuyuka menggeleng.

Kazemaru dan Gouenji saling berpandangan.

"Jadi, kenapa kau menjadi manager di sini?" Gouenji kembali bertanya.

Fuyuka terdiam, sesekali ia menatap dua orang penginterogasi dadakan itu—Kazemaru dan Gouenji—dengan wajah memerah, entah karena apa.

"Hei, hei… Kalian tak perlu bertanya sampai seperti itu, kan? Fuyuka pasti mempunyai alasan tersendiri kenapa ia menjadi manager," Hiroto menengahi ketegangan yang terjadi antara mereka bertiga.

"Fuyuka-chan pasti akan belajar menjadi manager yang baik dengan cepat!" sahut Endou.

Kazemaru terdiam, lalu menepuk pundak Fuyuka sambil tersenyum. "Baiklah, Fuyuka. Salam kenal, dan selamat datang di klub kami!"

Fuyuka mengangguk pelan. "Terima kasih, Kazemaru-sama—"

"—Kazemaru saja. Atau Kazemaru-kun juga boleh. Asalkan jangan Kazemaru-sama." Kazemaru memotong perkataan Fuyuka.

Fuyuka mengangguk. "Terima kasih, Kazemaru-kun."

"Salam kenal, Kudou-san," ucap Gouenji dengan nada dingin. Fuyuka hanya mengangguk pelan.

Kazemaru memandangi sahabatnya yang satu itu. "Hei, jangan dingin-dingin terhadap Fuyuka dong, Gouenji!"

"Terserah."

Kazemaru menghela nafas melihat tingkah sahabatnya.

Gouenji selalu bersikap dingin pada perempuan—sejak Elementary School, malah. Dia tak pernah ingin berdekatan dengan teman perempuan yang ada di sekolah mereka, walaupun ia memiliki fans sebanyak itu, dan telah ditembak berpuluh-puluh kali.

"Kazemaru, Gouenji, Fubuki, Toramaru, dan Sakuma, berada di tim A. Endou, Kidou, Fudou, Hiroto, dan Midorikawa, berada di tim B. Semua, ke posisi masing-masing!" perintah pelatih.

Mereka semua segera berdiri di posisi masing-masing, dengan posisi Gouenji dan Endou berhadapan di center circle[10] sebagai kapten.

Bola dilemparkan oleh pelatih, dan Endou dengan mudah merebut bola basket itu dan mulai men-dribble bola itu ke teritori lawan. Fubuki melakukan steal[11] dan akhirnya mendapatkan bola dari Endou. Fudou kemudian berlari ke arahnya, mencoba untuk merebut bola.

"Fubuki!" Kazemaru melambaikan tangannya, berusaha untuk memberikan isyarat pada Fubuki. Fubuki mengangguk, lalu melemparkan bola itu ke arah Kazemaru yang sekarang sedang dijaga ketat oleh Kidou.

"Gouenji!" teriak Fubuki. Gouenji segera mengambil bola yang tadinya mengarah ke Kazemaru, lalu men-dribble dengan cepat ke arah ring lawan.

"Kazemaru!" Gouenji melakukan passing ke arah Kazemaru yang sudah terlepas dari penjagaan Kidou. Kazemaru menerima bola, dan membawanya mendekati ring lawan.

Kazemaru tersenyum kecil. Bukan, bukan karena sekarang timnya tengah berpotensi menang.

Bukan. Sama sekali bukan karena alasan itu.

Tapi, itu semua karena Gouenji. Ya, Gouenji.

Entah kenapa, bermain bersama Gouenji membuatnya merasa bernostalgia akan masa lalu.

Dulu, mereka pertama kali bertemu saat masih sangat kecil, sekitar umur 3 tahun. Wajar saja, karena mereka berdua tinggal dalam apartemen yang sama.

Sejak kecil, mereka selalu bermain basket bersama.

Mereka berdua juga bersama-sama masuk klub basket di elementary school, dan juga bersama-sama menjadi ace dari klub basket.

Hanya saja, hubungan mereka hanya sebatas itu. Gouenji selalu berada di depan, dan Kazemaru akan selalu berada di belakangnya. Selalu seperti itu. Tak pernah berubah.

Padahal, Kazemaru ingin merubah posisi itu. Ingin, ingin sekali. Ia ingin merubah posisinya agar berada di samping Gouenji. Berada di sisinya, berada di dekatnya—sangat dekat dengannya, bukan hanya berada di belakangnya.

Walaupun ialah orang yang paling dekat dengan Gouenji, ia tak pernah bisa merubah fakta itu. Ia tak pernah bisa memposisikan diri sedekat itu dengan Gouenji.

Ia takut, jika berada sedekat itu, Gouenji akan kesal padanya. Marah padanya.

Ia takut, kalau Gouenji akan semakin menjauhinya, bila ia semakin mendekatinya.

Menurutnya, posisinya yang sekarang akan terus menjaga hubungannya dengan Gouenji, untuk selama-lamanya. Dan ia sudah merasa cukup dalam posisi ini. Sangat cukup.

Ia sudah menerima banyak pelajaran bahwa…

memaksakan posisinya seperti yang ia kehendaki hanya akan membuat hubungannya dengan Gouenji hancur.

To be Continue^^


Notes :

[1] alley oop : shoot ini dilakukan hanya dengan pemain-pemain yang handal dengan cara melakukan passing yang langsung ditangkap dan melakukan shoot/dunk.

[2] passing : mengoper bola ke rekan satu tim.

[3] dribble : membawa bola dengan cara memantulkan ke tanah.

[4] cross over dunk : suatu jenis dunk aksi, tangan yang satu mengoper bola ke tangan yang lain melewati selangkang kaki dan kemudian melakukan dunk.

[5] grande : bahasa Italia, yang berarti 'hebat'.

[6] grazie : bahasa Italia, yang berarti 'terima kasih'.

[7] trap : (atau double team) adalah posisi ketika 2 pemain bertahan menjaga 1 pemain menyerang lawan yang memegang bola untuk memaksa lawan memberikan passing salah, maupun out of bounds.

[8] three point shoot : tembakan yang dilakukan dari luar garis tembak. Untuk jenis tembakan yang masuk ke jaring maka nilai yang diberikan adalah tiga angka.

[9] block shoot : melakukan blok terhadap tembakan lawan.

[10] center circle : lingkaran berdiameter 12 kaki yang terletak di tengah lapangan. Digunakan untuk memulai permainan dan situasi jump ball lainnya.

[11] steal : mencuri bola dari lawan saat dribble.


A/N : Huwaaahhh! Akhirnya chapter ini selesai! Padahal rencananya saya mau bikin fic ini jadi one shoot, entah kenapa bisa berevolusi (?) menjadi multi chap… Bener-bener deh -,-

Oh iya, kira-kira genre-nya sudah benar atau belum, ya?

Mohon kritik dan sarannya, ya…

Salam,

Ika Fittr.