"Sabar…"
Kakumeiki Valvrave © Ichiro Oukochi
Kakumeiki Valvrave © Sunrise
au fanfiction by sugirusetsuna
.
.
.
.
"Jadi, Lieselotte itu gadis yang seperti apa..." wanita bersurai kecokelatan itu berucap dengan nada datar. Tak terdengar sedikitpun nada tanya dalam deretan kalimat yang telah ia lontarkan barusan. Manik klorofilnya menatap lurus ke arah aspal yang tengah di guyur derasnya hujan.
Payung itu sedikit goyah. Entah karena angin yang tak sengaja melaluinya, hujan yang bertamu dalam diam, atau...
"Dia itu seperti… dewi, begitu baik dan lemah lembut."
"Oh."
Oh. Bus yang seharusnya telah sampai lima menit yang lalu tak jua menampakkan eksistensinya sedikitpun. Dan, oh, kenapa harus 'oh' ?
Payung itu tampak miring. Seakan membiarkan sisi lainnya terkena rintikan hujan.
"Oh?" lavander lawan bicaranya sedikit meredup. Setitik cahaya memburam di sana. Dan menyalahkan hujan bukanlah alasan yang tepat.
"Hm?"
"Shoko..."
Payung itu semakin miring dan...goyah.
"…."
Pria bersurai silver itu mendesah.
"Dia adalah masalalu,"
"Oh."
Oh. Akhirnya bus yang ditunggupun tiba. Dan cukup sampai di sini ber-oh-oh-nya, wanita itupun lekas menapakkan kakinya menuju bus tersebut.
Payung itupun perlahan jatuh dan terkuncup.
"Shoko..."
"..."
"Shoko..."
"..."
"Shoko Karlstein..."
Langkah wanita itu terhenti.
Pria dengan payung di jemari kirinya itu meraih pergelangan tangan wanita bersurai cokelat yang berada di hadapannya dengan jemarinya kanannya yang bebas. Dan lagi, ia kembali mendesah.
"Cukup sudah cemburumu yang dulu-dulu, kenapa sekarang yang berada di dalam perutmu juga ikutan?"
"Entah, tanyakan saja pada dewimu!"
Tap.
Dan dua detik kemudian bus tersebutpun berlalu dari hadapan pria itu.
.
.
.
OMAKE
.
.
.
Ketika wanitanya menanyakan hal 'itu' lagi kepada dirinya, tubuh pemilik manik klorofil tersebut menjauhi kubah payung yang sedang ia pegang, sehingga pria tersebut memiringkan payungnya lagi dan lagi ke arah wanitanya. Lagi. Lagi. Lagi. Ia sama sekali tidak peduli pada rintik hujan yang menghantam tubuhnya sendiri. Ia hanya peduli pada wanitanya—wanita yang sebentar lagi akan membuatnya menjadi seorang ayah.
Sabar, wanita hamil memang penyemburu.
.
.
.
*THE END*
