Maaf aku repostinh ulangg, soalnya typo parah -_-"
.
.
.
.
Untuk pertama kali dalam hidupnya...
Ia menemukan sosok yang sempurna untuk ia miliki sebagai tempat bersandar yang paling nyaman dalam hidupnya, melebihi ranjang yang selalu menjadi pembaringannya dimalam hari, melebihi pelukan ibu yang terasa sangat menyakitkan dalam penderitaannya.
Ia merasa begitu dihargai oleh sosok itu, sosok yang penuh sejuta misteri didalam senyum tulusnya itu.
Entah apa yang membuatnya tak bisa menolak sosok mengagumkan itu, berapa puluh kalipun ia menolak perlakuan lembut sosok itu. Ia tak akan mampu membiarkan wajah teduh itu ternoda karena perbuatannya yang menyakiti sosok itu.
Satu hal yang ia tahu dari sosok itu...
Sosok itu berniat menyelamatkannya. Sosok itu merenggut hatinya yang membeku, menariknya hingga terlepas dari tubuhnya yang terasa dingin. Dengan suara bergetar yang begitu menyakitkan, sosok itu tidak ingin untuk yang kedua kalinya, kehilangan seseorang yang seharusnya menjadi pertanggung jawabannya selama ini.
Sosok itu tidak ingin ia mengalami keadaan yang sama dengan seseorang yang begitu ia sayangi dan bahkan begitu berharga dalam hidupnya.
Dengan cara apapun, sosok itu berkata akan menariknya kembali dari dasar jurang yang paling dalam. Dan menunjukan jalan yang seharusnya ia lewati, menuju masa depan yang paling cerah untuk kehidupannya kelak.
"Karena itu adalah tugas guru, yang menjadi tanggung jawabku untuk membimbingmu keluar dari kehidupan yang tidak semestinya kau alami... Donghae..."
.
.
.
.
Pria itu perlahan membuka kedua matanya, tatkala mendengar panggilan temannya yang baru saja tiba di tempat mereka biasa berkumpulă…ˇDi gang sempit yang tak jauh dari sekolah mereka.
Ia menatap datar teman sebayanya yang hanya menampilkan cengiran menjengkelkan yang membuatnya ingin sekali menghajar pria itu.
"Maaf aku terlambat, aku hanya menuruti kemauanmu tadi." Ucap pria bernama lengkap Kim Kibum itu. Ia melempar sebuah kotak kecil persegi kearah temannya yang sedang menunjukan ekspresi kesal karena terlambat untuk datang menemuinya.
Pria itu sontak menangkap benda kecil yang baru saja dilempar oleh Kibum, ia membuka lapisan plastik yang membungkus benda berbentuk persegi itu, dan meraih sebatang rokok, kemudian mengapitnya diantara kedua belah bibir tipisnya.
"Kau terlalu lamban tuan Kim. Membuat ku jengkel saja." Sungutnya, seraya meraih pematik api yang terdapat didalam saku kemejanya. Lalu membakar ujung rokok itu hingga menimbulkan asap memabukan yang membuat pikiran pria itu menjadi tenang.
"Saat kau menghubungiku, aku sudah sampai diperempatan jalan dekat sekolah. Tapi karena kau, aku harus kembali menuju minimarket yang jaraknya satu blok sebelum perempatan! Kau membuang waktuku tahu!"
"Ayolah! mentang-mentang berada dikelas pintar, kau tidak ingin menghabiskan waktumu dengan temanmu ini?" Ujar seseorang yang ternyata sejak tadi telah berjongkok diam di samping sebuah tempat sampah besar di dalam gang sempit itu. Kibum yang tidak menyadari keberadaan orang itu, hampir terpingkal kebelakang karena ulang sosok itu yang mengagetkannya dengan suara beratnya.
"Brengsek! Kau mengagetkanku Youngwoon! Kupikir hanya Donghae yang ada disini!"
"Awh, aku terkejut Kim Kibum! Badan sebesar ini, kau tidak bisa melihatnya? Astaga, kau terlalu serius belajar tuan berkacamata tebal!" Pria bernama Youngwoon itu tertawa mengejek, ia segera beranjak dan melangkahkan kakinya menuju Kibum yang kini sedang bersedekap, memandangnya dengan tatapan tajam. "Oke, aku bercanda. Baiklah tuan pintar, bagaimana kalau kita kesekolah bersama?"
"Tidak dengan mahkluk sepertimu!"
"Bisakah kalian hentikan ini? Kalian terlalu menggangguku dengan ocehan kalian yang tidak jelas itu..." Ujar seseorang diantara mereka yang sejak tadi terdiam seraya melakukan kegiatannya yang tengah menghisap puntung rokok yang baru saja di beli oleh Kibum. Namanya Donghae, Lee Donghae, yang saat ini sedang menatap kedua temannya dengan tatapan jengkel yang terkesan datar.
"Maaf jika seperti itu boss, ingat kau harus membayar sebungkus rokok itu untuk menggantikan uangku."
"Hm..." Sahut Donghae tak peduli. Ia mengapit putung rokok dengan jari tengah dan jari manisnya, membuangnya ketanah dan kemudian menginjaknya hingga api yang membakar tembakau itu mati tak bersisa. Ia segera beranjak dari tempatnya berdiri, dan menghampiri kedua temannya yang tengah berdiri didepan gang sempit itu. "Aku bosan, bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat yang menyenangkan?" Tanya Donghae dengan senyum miring yang begitu menyebalkan.
"Tidak terima kasih, kita sudah kelas tiga dan aku sedang serius untuk bisa menamatkan sekolahku. Aku tidak ingin tidak lulus seperti mu tuan muda Lee yang terhormat." Sahut Kibum seraya melepaskan kacamata bacanya yang sejak tadi ia kenakan. Tatapan matanya menatap datar sosok didepannya yang kini tengah tertawa tatkala mendengar ucapannya tadi.
"Ayolah, kau ini hubae yang perhatian. Membuatku terkejut." Kekeh Donghae, pria bersurai hitam kebiruan itu perlahan mendorong kedua bahu temannya yang menghalangi jalannya dan berjalan beberapa jarak di antara kedua temannnya itu."Hah, semakin membosankan saja. Mengapa harus ada ujian kelulusan segala jika pada akhirnya hanya mampu bekerja sebagai pelayan cafe? Keterlaluan sekali." Donghae tersenyum miring, ia mengusak surai belakangnya dengan pelan. Kemudian melanjutkan langkah kakinya, menuju sekolah yang kini telah berada tak jauh didepannya.
Meninggalkan Kibum dan juga Youngwoon yang tetap tak bergeming dari tempat mereka berdiri.
Kibum melirik sejenak Youngwoon yang ternyata juga sedang meliriknya dengan ekor matanya, membuatnya secara penuh melihat wajah temannya yang selalu mengajaknya berdebat itu.
"Apa yang kau lihat?!"
"Kau... Dan Donghae, tidak akan bisa seperti ini terus! Kau harus memikirkan masa depanmu dengan baik! Jangan sampai kau melepaskan masa depanmu dan hanya diam menjadi pengangguran semata! Camkan itu baik-baik!" Kata Kibum dengan suara tenang khas miliknya. Ia melihat betapa kikuknya sosok Youngwoon yang sengaja ia tegur untuk membuat pria besar itu memahami bahwa hidup seperti ini sudah seharusnya di buang dan menggantinya dengan sesuatu yang baru.
"Si Donghae itu, mau sampai kapan begini terus?! Aish, dua tahun dikelas tiga... Aku yakin dia juga menginginkan dirinya lulus sekolah... Hah..."
.
.
.
.
.
Pria bersurai hitam dengan mantel biru tua tebalnya, berlari begitu cepat menelusuri koridor rumah sakit yang cukup lengang itu. Menatap gusar sosok didepannya dengan seragam sekolah yang masih melekat ditubuh lemahnya dan kini tengah berbaring tak berdaya di kereta ranjang yang telah dipenuhi oleh darah segar yang merembes dari urat nadinya yang terkoyak.
Pria itu terus merapalkan kata-kata tak berguna, berharap sosok itu mampu bertahan di saat sosok itu tak mau lagi mengharapkan kehidupannya kembali.
Semua terasa sia-sia, apapun yang ia lakukan selama ini ternyata sia-sia.
"Bertahanlah, jangan pergi! Bertahan!" Gumamnya seakan itu adalah mantera mujarab yang mampu meyakinkan sosok itu untuk terus hidup didalam dunia fana ini.
Ia terus mengikuti langkah cepat para perawat yang terus membawa sosok itu kesuatu ruangan yang ia ketahui adalah UGD. Membawa sosok kesayangannya yang tanpa seijinnya, memilih jalan pintas yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
"Jangan pergi! Jangan lakukan itu!" Bisiknya dengan airmata yang terus membasahi pipi putihnya.
Seorang suster sontak menahan pria itu, dan memintanya untuk menunggu diluar setelah mereka sampai didepan ruang UGD.
Membawa sosok itu menjauh darinya, meninggalkannya dan memakinya hingga hanya penyesalanlah yang tersisa didalam hidupnya.
"Dasar penipu! Kau bilang kau bisa melindunginya! Kau guru tak berguna! Kembalikan anakku! Seharusnya aku tidak mempercayaimu! Dasar bajingan! Kembalikan anakku!"
.
.
.
.
"Kau yakin akan kembali mengajar? Lihat, wajahmu pucat sekali! Apa kau memimpikannya lagi?"
Eunhyuk mendengus, ia meraih handuk kecil yang baru saja di berikan oleh sosok pria disampingnya yang bermarga Kim itu. Dan mengusapkan wajahnya yang basah setelah ia membasuhnya dengan air hangat.
"Tidak ada pilihan lain, aku kan harus bekerja. Hah... Baiklah, apa menu sarapan kita hari ini koki Kim?!" Ujar Eunhyuk tenang. Ia sontak beranjak dari kamar mandi dan berjalan menuju meja makan kecil yang berada di tengah ruang sempit flat kecilnya, berusaha mengabaikan pertanyaan Kim Heechul teman satu sekolahnya dulu.
"Ya! Kau mengabaikanku eoh?! Sudah berapa kali aku bilang! Banyak pekerjaan lain yang bisa kau kerjakan Lee Eunhyuk! Apa yang tidak kau mengerti dari kata-kataku itu, hah?!" Bentak Heechul kepada sosok itu yang kini telah mendudukan tubuhnya didepan meja yang sudah dipenuhi oleh berbagai macam masakan lezat buatan Heechul itu.
Eunhyuk meraih sendok yang diletakkan disamping mangkuk nasinya, memasukan nasi itu pelan kedalam mulutnya, sebelum meraih kuah sup sapi yang masih mengepul panas di sisi lain meja makannya tersebut.
"Eunhyuk!"
"Ayolah Heechul! Ini sudah lewat satu tahun! Ini sudah menjadi panggilanku sejak dahulu! Setakut apapun aku, aku harus melakukannya! Aku mohon mengertilah.." Bentak Eunhyuk kesal, mulutnya masih dipenuhi oleh nasi. Dan pandangan matanya yang tajam, membuat sosok dihadapannya hanya mampu mendesah pasrah, sebelum mengikuti Eunhyuk untuk menyantap sarapan mereka berdua.
"Brengsek! Sialan! Bajingan! Aku hanya berniat untuk melindungimu! Aku tidak ingin kau mengalami kejadian yang sama seperti satu tahun yang lalu! Tapi kau tetap keras kepala! Dasar idiot! Terserah kau sajalah! Aku tidak peduli!" Sungut Heechul sebal, ia dengan brutal memasukan segala macam lauk buatannya kedalam mulutnya, hingga membuat kedua pipinya mengembung akibat perbuatannya itu.
Eunhyuk hanya tersenyum simpul, ketika melihat sosok temannya yang sedang melakukan hal konyol dihadapannya. Sosok yang begitu berharga dalam hidupnya selama ini. Sosok yang begitu baik untuk mau menjadi temannya sejak mereka menginjakan kakinya di sekolah menengah atas, hingga sekarang mereka telah berusia hampir 28 tahun.
Berkat sosok itu jugalah, ia dapat melewati segala penyesalan yang telah dirinya alami selama ini. Sejak kejadian itu... Tragedi pilu yang selalu menjadi bunga tidurnya dimalam hari. Segala yang ia lakukan jadi tidak termaafkan sama sekali, ia seakan tak layak untuk dapat menghirup oksigen barang sedetikpun didalam dunia ini akibat dosa yang telah ia perbuat selama sejak saat itu.
Dan sekarang sudah waktunya ia untuk bangkit kembali... Memperbaiki semuanya, dan menjalani hidup ini dengan mengajar kembali sebagai seorang guru.
"Terima kasih, kau begitu baik Kim Heechulku!"
"Cerewet! Makan saja sana!"
.
.
.
.
Kedua langkah kaki itu kian melambat ketika pada akhirnya ia telah berada tepat didepan gerbang sekolah menengah atas yang cukup tersohor di Ibukota Korea Selatan itu. Ia tersenyum simpul, memandang sekitarnya dengan angin yang berhembus membelai wajah halusnya.
"Selamat datang kembali, Lee Eunhyuk! Semangat!" Gumamnya pelan, sebelum kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kepala sekolah yang berada di dalam gedung bertingkat itu.
Memantapkan hatinya untuk memulai hari baru yang akan ia hadapi sekarang ini... Dan berharap ini akan berjalan dengan baik, tanpa adanya ketakutan yang telah menjadi momok memilukan dalam kehidupannya di sekolah barunya ini nanti.
"Eh, maaf! Bisakah kau beritahu aku dimana ruang kepala sekolah?" Tanya Eunhyuk ketika melihat sosok pria dengan blazer sekolah yang hanya disampirkan diatas bahunya, melewati Eunhyuk tanpa mempedulikan bahu pria itu yang sedikit mengenai bahu sempit pria manis yang sebentar lagi akan menjadi guru disekolah ini.
Sosok itu sontak menghentikan langkah kakinya, ia menoleh untuk menatap Eunhyuk yang kini tengah menampilkan senyum hangat diparasnya yang rupawan.
"Ho, kau bicara denganku?" Tanya pria itu memastikan. Penampilannya yang sedikit urakan membuat Eunhyuk menatap mata itu dengan senyum simpul.
"Tentu, aku berbicara denganmu. Apa kau bisa tunjukan dimana ruang kepala sekolah?" Ulang Eunhyuk kepada pria bersurai hitam kebiruan itu dengan sikap tenang. Membuat pria itu berdecak sebelum memandang sosok Eunhyuk dari ujung rambut hingga ujung kakinya yang terbalut dengan sepatu cokelat mengkilap.
"Wow, jadi apakah kau yang sejak seminggu lalu jadi perbincangan seluruh siswa di sekolah ini? Kau guru konseling yang di sebut-sebutkan itu?" Pria itu membalikkan tubuhnya dengan sempurna, langkah kakinya perlahan ia arahkan menuju Eunhyuk yang kini hanya diam seraya mengamati setiap gerak-gerik siswa bersurai kebiruan itu.
"Jika kau ingin tahu ruang kepala sekolah, berikan aku sebungkus rokok yang ada dalam kantong celanamu itu." Ujar pria itu santai, seraya mengusap bibirnya dengan lidah basahnya. Sedikit bermain-main, tidak ada salahnya kan?!
"Maaf, aku tidak merokok jika kau ingin tahu." Sahut Eunhyuk, masih dengan senyum simpul yang begitu tenang. Seakan tidak ada rasa takut sama sekali, saat. berhadapan dengan siswa yang tidak ia ketahui siapa namanya. "Jika aku boleh tahu, siapa namamu dan kelas berapa?" Lanjut Eunhyuk tenang.
Pria itu berdecak, sebelum membalikan tubuhnya kembali menuju pintu masuk gedung sekolah.
"Namaku Lee Donghae, dari kelas tiga F. Jika kau ingin mencatatku dalam buku catatan murid bermasalah. Tidak perlu terkejut, aku sudah mencatat rekorku selama dua tahun dibuku itu. Selamat datang, guru baru." Ucapnya seraya tersenyum miring, sebelum kembali berjalan untuk menuju kelasnya yang dikenal paling buruk. Meninggalnya Eunhyuk yang kini hanya diam tanpa memalingkan wajahnya untuk menatap punggung tegap yang sedikit pendek darinya.
"Hah, baiklah Lee Eunhyuk. Kau telah mendapatkan tugas baru, jika kau benar-benar berhasil diterima sebagai guru disekolah ini."
"Jangan pikirkan aku Saem, kau tetap yang terbaik selama hidupku! Semangat!
Eunhyuk mendongakkan wajahnya saat mendengar sebuah suara yang seakan ikut terbawa oleh hembusan angin yang baru saja menerpa tubuh kurusnya. Ia tersenyum seraya memejamkan matanya.
"Ya."
.
.
.
.
"Jadi anda pernah mengajar sebagai guru SMA? Sudah berapa lama anda mengajar disekolah yang terdahulu?"
"4 tahun, tuan Park... Saya sudah mengajar selama 4 tahun." Sahut Eunhyuk, dengan senyum manis yang menghiasi parasnya yang lembut. Sosok didepannya hanya mengangguk mengerti, sebelum ia meletakkan kacamatanya dan menatap penuh sosok Eunhyuk yang masih berdiri di depan meja milik kepala sekolah barunya saat ini.
"Bisa saya tahu, mengapa anda berhenti mengajar ketika anda bekerja di sekolah anda dulu?" Pertanyaan dari pria senja yang berstatus sebagai kepala sekolah itu, sontak membuat Eunhyuk tergugup. Ia memandang pria tua itu dengan senyum kikuk yang terkesan dipaksakan.
"I, itu... Sa, saya..." Eunhyuk terdiam sejenak, tenggorokannya tercekat saat pikirannya kembali mengingat tragedi menakutkan yang membuatnya terpaksa di keluarkan dari sekolah saat ia mengajar dulu. Tatapan marah dan juga kesakitan itu, teriakan mengutuk, hingga pukulan yang terasa sangat menyakitkan itu begitu mengerikan untuk ia ingat kembali.
Ia memandang gelisah sosok pria senja yang tidak bergeming dari tempatnya sama sekali, seakan menunggunya untuk mengatakan sesuatu yang membuatnya harus diperhitungkan kembali akan integritasnya sebagai seorang guru yang dinilai telah gagal dalam tugasnya.
"Eunhyuk-ssi."
"Eh? Ya?"
"Jika kau tidak ingin mengatakannya tak apa. Aku paham."
"Hah?" Eunhyuk menerjapkan matanya tak mengerti.
Kepala sekolah Park hanya tersenyum simpul ketika melihat raut kebingungan yang terpancar jelas dari wajah Eunhyuk. Ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Eunhyuk yang masih berdiri mematung ditempatnya.
"Saya sudah cukup lama mengenal berbagai macam masalah seorang pengajar pindahan sepertimu, ada kalanya semua yang kau inginkan tidak sesuai rencana karena anak-anak didikmu yang tidak semanis seperti yang kau bayangkan selama kau masih dalam pendidikan menjadi seorang guru. Tidak semua yang dilakukan pengajar itu buruk, tapi terkadang seorang muridlah yang tidak ingin menerima didikan baik gurunya untuk masa depan mereka sendiri." Tungkas pria senja itu, seraya menepuk pundak sempit Eunhyuk dengan lembut. Menyalurkan betapa hangatnya sosok berwibawa itu, hingga mampu membuat tubuh Eunhyuk yang sempat menegang, kini terasa lebih relaxs dari sebelumnya."Baiklah, mari saya antarkan keruany guru untuk memberikan salam untuk para guru yang lain. Dan meja kerja untukmu sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari." Ujar kepala sekolah Park. Ia segera beranjak menuju pintu keluar ruangannya, sebelum suara Eunhyuk membuat langkah kakinya terhenti sejenak.
"Tuan Park, anda benar. Memang tidak semua pengajar memberikan pendidikkan yang buruk untuk anak muridnya didunia ini, tidak ada yang mengajarkan muridnya untuk melakukan hal bodoh yang mampu merusak masa depan anak didiknya sendiri. Dulu memang benar, saat saya pertama kali mengajar di sekolah terdahulu saya. Saya membayangkan betapa baiknya murid-murid saya saat menyambut kedatangan pertama saya untuk mengajari mereka sesuatu yang baik, anak-anak yang manis yang selalu memperhatikan saya disaat saya mengajarkan mereka sesuatu yang baru bagi mereka. Namun siapa yang menduga? Jika nyatanya saya menemukan seorang anak yang unik untuk saya perhatikan secara penuh dengan seluruh jiwa dan raga saya. Terkadang, bukan seorang murid saja yang tidak dapat menerima didikan yang telah diajarkan oleh seorang pengajar. Tapi kebalikan dari semua itu, terkadang seorang pengajar tidak dapat menerima... Bahwa sebenarnya mereka tidak memahami apa yang sebenarnya sedang ia ajarkan kepada muridnya. Mereka hanya mengajarkan kebaikan, mengarahkannya pada jalan yang benar, berusaha meyakinkan mereka bahwa masa depan mereka akan sangat cerah, namun lebih dari itu, kita tak pernah mendengar jeritan hatinya yang sedang menderita, kita tidak mempedulikan bahwa ia sedang berteriak, mereka merintih karena yang mereka butuhkan bukan hanya itu saja... Jika kepala sekolah Park menginginkan jawabannya, maka saya akan menjawab yang sebenarnya tentang keputusan saya untuk meninggalkan tempat saya mengajar dahulu." Eunhyuk membalikkan tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan kepala sekolah Park yang diam untuk mendengarkan perkataan Eunhyuk selanjutnya.
" Saat itu, saya telah gagal menjadi seorang guru yang mampu membimbing anak muridnya dengan sangat baik demi masa depan mereka... Karena saat itu, saya telah kehilangan nyawa murid yang saya didik dengan seluruh jiwa dan raga saya. Saya membiarkannya pergi dengan perkataan omong kosong yang tidak ada artinya sama sekali. Dan sekarang, saya ingin memulai kembali intregritas saya sebagai seorang guru untuk mengajar. Saya ingin memperbaiki kebodohan saya dahulu di tempat anda kepala sekolah Park, jadi, ijinkan saya untuk kembali mengajar disekolah anda..."
.
.
.
.
.
"Jadi namamu siapa?"
Pria bersurai kecokelatan itu melirik gusar sosok didepannya yang kini tengah memberikan senyuman manis yang bisa menghangatkan hati siapa saja yang dapat melihat senyum menyenangkan itu. Pria berseragam SMP itu tersenyum kikuk, sebelum membalas sapaan sang guru yang berdiri didepannya.
"Na, nama saya... Hm... Leeă…ˇLee Taemin saem..." Cicitnya takut-takut. Ia sedikit membungkukan tubuhnya, kemudian kembali menundukan kepalanya karena malu.
"Selamat datang di sekolah barumu Taemin! Saem harap kau merasa nyaman di sekolah ini! Tenang saja, saem akan selalu membimbingmu dan melindungimu! Percayalah!" Seru pria bersurai hitam yang diketahui adalah guru dari pria bernama Lee Taemin itu dengan senyum lembut yang membuat siswa baru itu ikut tersenyum kikuk.
"Bantu aku saem. Aku ingin lulus SMP dengan tenang. Aku percaya pada saem."
.
.
.
.
.
.
Tbc
