Beatrice-sama disini membawa fanfic baru. Pairing utamanya Mangaquest, tapi nanti ada hint pairing lain kok uwu

...Jangan salahin saya, saya habis galau nonton ano hana, terus malah dapet ide begini ;w;

based from Ano hi mita hana no namae wo bokutachi wa mada shiranai a.k.a ano hana, i guess?

maafkan mistypo ataupun kesalahan lain, maklum ngetiknya pas tengah malem sambil bergalau ria

I don't own Pokespe! RnR! :3

Cover source: Pixiv Illust 13632514
Artist: [hk] Pixiv ID 1171103
check her arts out! she drew many cute GoKuri arts! :3


7 Days

-Chapter 0: The End of That Day-

.

I don't want us to have this kind of ending because of me

I don't want all of you to be sad because of me

That's why I prayed,

7 Days, to be with all of you

.

.

"Gold! Gold!"

Crystal memanggil nama laki-laki berambut hitam itu. Nada suaranya begitu putus asa seolah seluruh hidupnya bergantung pada laki-laki itu. Namun laki-laki yang terus saja dipanggil tidak membuka matanya. Dia terus tertidur di atas kasur yang di dorong oleh beberapa dokter dan suster. Dia bahkan tidak berhenti memanggil namanya ketika beberapa dokter menahannya, ketika mereka mendorong kasur Gold hingga memasuki ruang gawat darurat.


Beep. Beep.

Suara mesin pendeteksi denyut jantung menggema di ruangan itu

Tick.

Tack.

Suara jarum jam yang bergerak berbunyi begitu keras di telinga Crystal, mengingatkannya akan perasaan sesak yang terus menggerogoti hatinya seiring waktu berlalu.

Drip.

Suara tetesan cairan di kantung IV yang menggantung di sampingnya, terhubung ke lengan Gold yang kini tidak sadarkan diri. Suaranya terdengar begitu jelas, seolah mengejek harapan Crystal supaya laki-laki itu cepat bangun.

Serta suara-suara tangisan dan kata-kata tidak jelas yang berbunyi dari luar ruangan.

Crystal ingin menutup telinganya dari empat suara yang menyebalkan itu. Andai saja suara itu hanya berasal dari sebuah radio, mungkin dia akan menghancurkan benda sialan tersebut dan membakar semua sisanya hingga tidak ada secuil debu yang tersisa.

Perempuan berambut biru tua itu menopangkan keningnya dengan tangannya, berusaha menahan air mata yang hendak tumpah dengan menutup matanya dengan keras dan menggigit bibir bawahnya.

Sudah lima jam Crystal berada di sini, menunggu Gold untuk membuka mata dan tertawa dengannya lagi. Namun entah mengapa harapan akan hal itu terjadi begitu jauh hingga dia sendiri tidak bisa menggapainya.

Dokter sudah bilang begitu. Dia bilang dia harus siap jika Gold tidak membuka matanya lagi.

Tentu saja Crystal sudah siap. Dia sudah sering melewatkan hari tanpa Gold. Bagi Crystal, Gold hanya seorang pengganggu yang suka mengganggunya ketika dia sibuk. Lagipula, sebelum dia bertemu dengan Gold dia bisa menjalankan kehidupannya dengan baik. Tentu saja dia akan baik-baik saja tanpa Gold.

...Ya kan?

'Mana mungkin.' Crystal meraih tangan Gold yang dingin, kemudian menimbun wajahnya ke tangannya, seolah berusaha mencari kehangatan yang telah hilang.

Masih banyak yang belum ia katakan. Masih banyak yang belum ia sampaikan pada Gold.

Dia harus meminta maaf padanya. Dia terus saja mendorong laki-laki itu menjauh. Dia selalu menolak kehangatan darinya. Dan sekarang, dia begitu merindukan kehangatan itu. Dia merindukan Gold.

'Aku menyukaimu. Bangunlah, supaya aku bisa mengatakannya padamu...'

...Beeeeep...

Suara yang menandai akhir hidup Gold berbunyi nyaring, menjawab bisikan Crystal dengan sinis.


Sudah berapa lama dia seperti ini?

Crystal mendesah pelan. Dia memperhatikan setiap baris dan kata yang ada di dalam tumpukan kertas di tangan kirinya sambil menyesap kopi hitam dari sebuah mug putih di tangan kanannya.

Jujur saja, gadis itu paling benci dengan shift malam. Tambahkan lembur, kau bisa dapatkan tendangan gratis di wajah yang sakitnya tidak akan hilang hingga seminggu kemudian.

Di malam hari, Crystal sama sekali tidak bisa fokus. Pikirannya selalu melayang entah kemana, bahkan setelah ia ditemani dengan kopi yang selalu mengusir kantuknya. Akhir-akhir dia mulai berpikir kalau kopi sialan itulah yang membuat otaknya makin kacau dan tidak bisa berpikir.

Tidak. Jauh dalam hatinya, Crystal tahu itu bukan salah Profesor Oak sialan (ya, Crystal terlalu lelah hingga dia memanggil Profesor Oak 'sialan') yang dengan sembarangan memberinya tugas maupun kopi brengsek yang membuatnya mengantuk. Ini semua salah dirinya sendiri. Salahnya yang terus saja menangis di malam hari ketika mengingat-

Crystal menggeleng cepat, membuang semua pikiran tidak bergunanya ke lubang buaya.

Dia tidak perlu mengingat orang itu. Orang itu sudah tidak ada. Orang itu hanya ingatan, ilusi yang menghantuinya setiap malam setiap dia menutup matanya.

Namun ilusi itulah yang membuatnya mampu menjalani setiap hari yang begitu berat. Ilusi itu selalu memberinya semangat dengan senyum bodohnya, membuatnya tersenyum dengan leluconnya yang tidak begitu lucu, bahkan jorok hingga kadang-kadang membuatnya ilfil-

Crystal meletakkan tumpukan kertas di tangannya di atas tumpukkan kertas lain, kemudian meletakkan mug yang bergambar Arcanine di sebuah meja kecil yang terpisah dengan meja kerjanya. Gadis itu kemudian menyembunyikan wajahnya di tangannya yang terlipat, membiarkan air matanya mengalir dengan deras dari mata birunya yang indah. Isak tangisnya yang sendu memecahkan keheningan di laboratorium Profesor Oak yang kosong.

"Gold..." Nama itu terucap dari bibirnya. Nama yang enggan ia sebutkan setelah lima tahun belakangan ini.

Demi melupakan pemilik dari nama itu, Crystal terus bekerja tanpa henti, seolah menghukum dirinya sendiri. Namun usahanya malah berbalik; dia semakin mengingat suara menggoda Gold, bahkan semakin hari semakin keras di telinganya.

'Cih, cewek serius! Profesor Oak itu pasti memberikan tugas menyebalkan buatmu!'

Sebuah senyum tertempel di wajah Crystal. Dia membayangkan Gold berdiri di sisinya, menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut sambil tersenyum lebar.

Kali ini dia tidak mengelak ataupun meneriakinya, entah karena kantuk yang mulai menggerogoti kepalanya atau rasa rindu yang melanda hatinya. Seolah Gold benar-benar di sisinya, menghibur dirinya yang tertekan dan kelelahan.

'Kau tidak akan meninggalkanku, kan?'

'Well, kalau kau memaksa, aku akan berada disini sementara waktu.'

'Tinggallah sebentar. Ada yang ingin kukatakan padamu.'

'Hn? Baiklah. Aku mendengarkanmu.'

Crystal membuka mulutnya, namun tidak bisa mengatakan apapun karena rasa kantuk mulai memakan pikirannya.

Bahkan setelah Crystal merasa di tarik ke alam mimpi, dia masih bisa merasakan keberadaan Gold di sisinya.

'Kau sudah bekerja dengan baik, Crys. Aku akan menunggumu mengatakan apa yang akan kau katakan.'