"Aku mencintaimu, Kim Jongin. Maukah kau menjadi kekasihku?"

Aku masih ingat―sangat ingat bagaimana pria itu mengungkapkan perasaannya setelah kami saling mengenal selama sekitar setahun lebih. Aku masih ingat―sangat ingat bagaimana wajah tampannya yang selalu terlihat sempurna itu berubah menjadi wajah yang terlihat kikuk berhiaskan semburat merah tipis di pipinya. Aku masih ingat―sangat ingat bagaimana tubuhnya yang terlihat bergetar pelan saat ia berdiri tepat di hadapanku dan disaksikan oleh hampir seluruh teman sekelasku.

Aku masih ingat dengan jelas setiap detailnya. Semuanya kusimpan dengan sangat rapi dalam ingatanku, kubungkus dengan perasaan cinta yang aku yakini akan terus tumbuh dari waktu ke waktu.

"Ada apa denganmu, Yifan ge?!" Aku bertanya padanya―setengah memekik heboh, sambil meremas pelan lengannya. Bagaimanapun juga, aku terkejut dengan pernyataan cintanya yang terkesan mendadak ini. Selama ini, kami hanya berhubungan sebatas senior-junior atau teman ngobrol―tak ada yang lebih dari itu. Yah, meski harus kuakui bahwa aku memang selalu mengagumi pria itu. Dan kuakui pula bahwa lama-lama, rasa kagum itu menjelma menjadi rasa cinta. Aku benar-benar terkejut―pasalnya, ia tak pernah terlihat seperti memilik perasaan yang sama padaku.

Seperti kata pepatah. Dalamnya lautan bisa diukur, dalamnya hati, siapa yang tahu?

Aku juga sama sekali tidak tahu sedalam apa perasaannya padaku waktu itu.

Saat itu, Yifan semakin gugup―ditambah dengan sorakan teman-temanku yang membuatnya makin gemetaran. Padahal, ia adalah sosok populer di sekolah kami dulu. Bintang lapangan basket yang memiliki nilai-nilai sekolah yang bersinar. Seharusnya, ia bisa menghadapi semua ini bukan? Tapi kenapa ia menjadi gugup begini? "A-aku serius, Kim Jongin. Aku mencintaimu dan a-aku berharap kau bersedia menjadi k-kekasihku." Sungguh, ia kedengaran seperti orang gagap saat mengucapkannya―terbata.

Mataku membulat saat mendengarnya. Ia serius? Ini masih terasa seperti mimpi.

Yifan sepertinya menyadari keterkejutanku dan segera kembali berkata, "I-itupun kalau kau juga mencintaiku, Jongin." Pemuda jangkung itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Aku berteriak-teriak senang dalam hati. Oh, astaga. Apa yang lebih baik daripada mendapati orang yang kau cintai selama ini ternyata memiliki perasaan yang sama denganmu dan kini memintamu untuk menjadi kekasihnya? Aku ingin sekali menjerit sambil menghambur ke dalam pelukannya dan mengatakan, "Tentu saja, aku bersedia!" Tapi tidak―aku tidak mungkin bersikap konyol seperti itu dan mempermalukan diriku sendiri di hadapan teman-temanku dan―tentu saja―Yifan. Sebagai gantinya, aku menundukkan kepalaku sambil berusaha menyembunyikan warna pipiku yang pastinya sudah berubah. Aku mengangguk pelan atas pertanyaannya.

Aku tak tahu bagaimana ekspresi Yifan saat itu, tapi yang aku tahu, dia langsung memelukku dengan erat dan aku bisa merasakan kehangatan yang sangat dalam pelukannya―pelukan yang penuh cinta. Katakan saja aku naif atau bodoh. Saat itu aku masih remaja, masih terlalu muda untuk mengerti tentang cinta. Yang aku tahu saat itu adalah bahwa aku mencintai Yifan―begitu pula dengannya―dan kami bisa bersatu sebagai sepasang kekasih.

Aku tidak tahu apa yang sudah menungguku dan Yifan suatu saat nanti.

"Berjanjilah untuk selalu berada di sampingku dan mencintaiku." Yifan bersisik pelan di telingaku.

Aku mengangguk pelan. "Aku berjanji."

rappicasso

presents

an alternate universe fanfiction

SCANDAL

.: chapter one :.

starring

Kim Jongin

Wu Yifan

Park Chanyeol

Oh Sehun

Zhang Yixing

etc.

WARNING:

GS!Jongin

inspired by:

Choi Dongwook and Park Hanbyul's love story

Tahun-tahun berikutnya, kami jalani sesuai dengan janji yang sudah kami ucap sejak hari pertama kami menjadi sepasang kekasih. Aku selalu berada di sampingnya dan tetap mencintainya―begitu juga dengannya. Jujur saja, hubungan kami tidak semulus yang kalian bayangkan. Ada banyak batu kerikil yang menjadi sandungan dalam hubungan kami. Kami mungkin terjatuh, namun pada akhirnya kami selalu berhasil bangkit kembali dengan tautan tangan dan jalinan cinta yang tak pernah terpisah. Aku percaya, itu semua terjadi untuk menguatkan cintaku dan Yifan.

Sejak masa sekolah, kami sering sekali berkencan atau sekedar menghabiskan waktu bersama. Kami bersekolah di sekolah yang sama, sehingga kami lebih mudah untuk saling bertemu. Kami juga biasanya pergi bersama di akhir pekan atau ia akan berkunjung ke rumahku jika sangat rindu padaku. Keluargaku sudah mengenal Yifan dengan baik dan sepertinya kedua orang tuaku memberika sinyal positif atas hubungan kami berdua. Aku pernah beberapa kali mampir ke rumah Yifan dan hanya sekali bertemu dengan orang tuanya karena mereka adalah orang yang sibuk dengan perjalanan bisnis ke luar negeri yang hampir memakan waktu sekitar sebulan lebih. Meski begitu, ibunya nampak sangat menyukai keberadaanku di samping Yifan. Aku benar-benar berharap semesta mendukung hubungaku dengan Yifan. Tinggal aku dan dia saja yang berusaha mempertahankannya.

Dan itu semua terbukti hingga kami bahkan sudah lulus dari sekolah. Yifan pergi ke universitas, memenuhi tuntutan keluarganya yang mengharuskan ia menjadi penerus perusahaan keluarganya. Sementara aku memutuskan untuk mengejar cita-citaku sebagai seorang seniman. Semuanya sudah kuawali sejak aku masih sangat belia―sekitar pada usia 4 tahun―dengan bergabung dengan sebuah kelompok tari. Aku masih menekuni kegiatan tariku hingga detik ini, karena bagiku, menari adalah nafasku―setelah mengetahui banyak hal, aku tahu bahwa seluruh gerakan tari adalah setiap aspek yang ketemui dalam hidup ini. Karena bakatku, aku sering tergabung dalam berbagai pertunjukan tari atau musikal. Semuanya kulakukan dengan tulus hingga aku beranjak dewasa. Kini aku bergabung di salah satu kelompok tari nomor 1 di Korea Selatan. Kami sering melakukan perjalanan tour ke luar negeri bersama dengan kelompok tari lainnya dari berbagai belahan dunia berbeda.

Aku sibuk dengan kegiatanku menari, sementara Yifan disibukkan dengan kegiatan belajarnya dan mengurus bisnis keluarganya. Salah satu sepupunya yang ikut andil dalam mengurus perusahaan keluarga baru saja menikah dan sedang menikmati bulan muda kala itu. Jadi Yifan terpaksa harus ditarik ke dalam perusahaan―menggantikan sepupunya yang cuti sementara itu. Lagipula, meski masih cukup muda, namun Yifan angat berkompeten menangani suatu bisnis besar.

Kami sama-sama sibuk saat itu. Meski begitu, kami masih selalu berusaha untuk merekatkan hubungan kami. Kami memang jarang bertemu―bahkan frekuensi pertemuan kami selama sebulan hanya sekitar 1-2 kali, padahal sebelum itu, kami bisa bertemu setiap hari―namun Yifan selalu berusaha menghubungiku di tengah kesibukannya, atau sekedar mengirimkan pesan. Yifan adalah pria yang sangat perhatian dan manis, meski fisiknya membuat perangainya terlihat seperti sosok yang dingin. Jauh di dalam hatinya, Yifan adalah sosok yang lembut, hangat dan penyayang. Aku benar-benar merasa beruntung memiliki kekasih seperti Yifan. Kadang, ia sudah mencoba meluangkan waktu untuk bertemu denganku, tapi terkadang aku mendapat jadwal latihan dadakan, sehingga kencan kami terpaksa dibatalkan.

"Tak apa. Masa depanmu jauh lebih penting. Aku menerimamu apa adanya, Jongin. Tapi aku akan sangat bangga jika suatu saat nanti aku bisa berdiri sebagai seorang pengusaha sukses yang didampingi oleh seorang istri cantik yang pandai menari sepertimu. Aku pasti akan sangat bangga. Jadi gapailah keinginan tertinggimu. Aku akan selalu mendukungmu sebisaku. Aku mencintaimu."

Begitulah Yifan. Jika aku membatalkan kencan kami―yang sangat langka―atau aku sangat sulit dihubungi saat sedang sibuk mempersiapkan pertunjukan atau sedang berada di luar negeri, maka ia hanya akan menuturkan kalimat itu dengan lembut. Jika aku berada di hadapannya, pria jangkung itu akan membawaku dalam tubuhnya yang jauh lebih besar dari milikku, mendekapku lembut―tidak terlalu erat―berbagi cinta dan kasih, dan ia juga akan mengusap punggungku. Dalam keadaan yang seperti itu, aku bisa merasakan betapa besarnya cinta yang dimilikinya untukku.

Aku benar-benar beruntung memiliki Wu Yifan sebagai kekasihku.

Tahun-tahun sudah berlalu. Aku sama sekali tak menduga bahwa saat ini hubunganku dan Yifan sudah menginjak tahun ke-6. Sungguh rekor yang cukup mengagumkan, mengingat bagaimana 3 tahun ini kami lalui dengan sangat berat. Tak banyak pasangan yang bisa bertahan dengan hubungan yang seperti ini―jarang berkomunikasi dan jarang bertemu. Bahkan, kadang saat kami saling berhadapan, lidahku terasa sangat kelu, tubuhku rasanya kaku, sangat sulit digerakkan.

Seperti saat ini.

Ini adalah perayaan hari jadi kami yang ke-6. Aku memang tidak mendapat kejutan seperti saat awal-awal kami menjadi sepasang kekasih dulu. Dulu, Yifan senang sekali muncul di rumahku atau studio tari untuk mengirim seikat bunga mawar merah yang masih segar dan wangi, boneka-boneka yang lucu, sekotak coklat yang lezat atau hadiah-hadiah lainnya. Sekarang tidak. Tapi aku tak mempermasalahkannya. Kami saja sangat sulit bertemu―kadang kami harus membuat janji sejak lama agar bisa memiliki waktu bersama yang lumayan lama. Sebelum perayaan ini pun, aku harus jauh-jauh hari meminta ijin kepada ketua kelompok tariku. Yifan juga mengambil cuti dari kantornya agar ia bisa bertemu denganku.

Ngomong-ngomong, saat ini Yifan sudah menjabat sebagai seorang Kepala Departemen Keuangan di perusahaan keluarganya. Aku benar-benar bangga memiliki kekasih sepertinya.

"Kau tak merindukanku eh?" Yifan memasang wajah sedih yang terkesan terlalu dibuat-buat―dan jujur saja, itu sangat menggelikan. Aku sudah terbiasa melihat wajahnya yang penuh ketegasan dan dingin. Disuguhi pemandangan seperti itu membuatku geli bukan main.

Aku hanya bisa tertawa kecil melihat tingkahnya. Beberapa detik sebelumnya hanya bisa kulalui dengan menatap sosok kekasih yang sangat kurindukan itu. Yifan tak banyak berubah―menurutku. Ia terlihat jauh lebih tampan dibanding foto terakhir yang dikirimkannya padaku sekitar dua bulan yang lalu. Rambutnya terlihat lebih panjang dan warnanya menjadi keemasan―sejujurnya, aku lebih suka melihat Yifan dengan potongan rambut pendek dan berwarna hitam atau coklat gelap. Pipinya terlihat sedikit lebih berisi―sebelum ini, pipinya terlihat sangat tirus dan aku tidak menyukainya. Menurut dugaanku, gaji seorang Kepala Departemen Keuangan cukuplah banyak, sehingga ia bisa mengurus dirinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Dagunya juga nampak bersih, sepertinya ia sudah bercukur sebelum bertemu denganku. Tampilannya juga terlihat sangat menawan―khas seorang eksekutif muda yang dibalut jas kerja resmi. Dan oh ya, ia semakin lebih tinggi saja! Berapa tingginya sekarang? Apa hormon tubuhnya itu tidak bisa berhenti membuatnya tumbuh tinggi menjulang seperti itu? Tidak bisakan sekali saja ia mentrasfer hormonnya agar aku bisa sedikit lebih tinggi dan layak berdampingan dengannya?

Aku sedikit memberegut kesal menyadari fakta itu. Tapi rasa rinduku lebih besar. Aku terlalu merindukannya, sampai-sampai aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Seluruh syarafku seolah mati dan aku hanya bisa berdiri kikuk di hadapan pria yang terlihat sangat sempurna itu.

"Jongin? Kau baik-baik saja kan? Kenapa diam saja?" Yifan terlihat mulai mengkhawatirkanku. Kakinya melangkah maju mendekat ke arahku. Tangannya yang besar dan lembut itu terarah ke pundakku, memberinya remasan pelan.

Aku benar-benar merindukan pria ini―setiap detailnya, garis-garis wajahnya yang tegas, mata elangnya yang selalu memancarkan kelembutan dan kasih sayang saat menatapku, suaranya yang berat dan dalam, serta dekapan hangatnya yang selalu menenangkanku. Aku tersenyum kecil, tanpa menyadari bahwa air mataku sudah menggenang. Aku langsung menghambur ke dalam pelukannya, saat kurasa syarafku sudah berfungsi kembali. Aku menumbuk tubuhnya, kepalaku langsung tenggelam pada dadanya yang kokoh itu.

"Hei, hei, kau kenapa, Sayang? Kau sakit ya? Kita bisa pulang kalau―"

"Tidak."

"Apa?" Pasti Yifan mendengar suaraku samar-samar. Ia membalas pelukanku yang mendadak dan memberikan usapan-usapan kecil di punggungku yang sempit.

Aku masih terdiam sejenak―mencoba menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang menguar dari tubuh Yifan, merekamnya baik-baik agar suatu saat nanti jika kami kembali terpisahkan jarak dan waktu yang besar, aku tetap bisa mengingatnya. Akhirnya, aku pun mendongakkan kepalaku. Mataku sudah sangat basah―dan aku yakin, kemeja Yifan juga pasti basah karena ulahku. "Aku tidak apa-apa, Yifan. Aku baik-baik saja. Aku hanya―" Aku tidak melanjutkan ucapanku.

Sementara raut yang penuh tanya sudah tercetak jelas di wajah Yifan. Pria itu pasti masih sedikit khawatir sekaligus penasaran.

Aku tetap terdiam. Dan justru kembali menundukkan kepalaku, menenggelamkannya dalam dada bidang itu. Aku hanya bisa bergumam pelan, "Aku terlalu merindukanmu."

Yifan masih terdiam, hingga detik berikutnya, terdengar suara tawa lepas yang mengalun dari bibirnya. "Astaga, kupikir kau kenapa." Yifan mempererat pelukannya pada tubuh mungilku ini. Kepalanya terbenam di antara helaian rambutku yang hitam legam dan panjang. Deru nafasnya bisa kurasakan menyapu telingaku yang sensitif. Ia berbisik pelan disana, "Aku juga merindukanmu. Sangat."

Aku tak tahu harus membalas seperti apa. Yang kulakukan selanjutnya hanyalah mendekap Yifan semakin erat. Aku berjanji untuk mengingat setiap detail lekukan tubuh pria ini.

Kami berpelukan cukup lama, hingga akhirnya, Yifan melonggarkan pelukannya―tetapi tidak melepaskan tautan di antara kami. Tubuhnya sedikit merendah, hingga matanya sejajar dengan mataku. Dahinya sudah menempel dengan dahiku. Dengan jarak yang sedekat ini, aku bisa merasakan kelembutan yang terpancar dari sepasang mata di hadapanku ini.

"Kau tahu, sudah sejak lama aku menantikan saat ini, Jongin." Yifan bersuara dengan nada yang rendah―terkesan begitu sensual. "Aku tak bisa berhenti memikirkan hari ini akan datang sejak kau menghubungiku malam itu―mengatakan bahwa kau bisa datang untuk merayakan hari jadi kita. Dan setelah sebulan lamanya, akhirnya hari ini datang juga, Jongin." Tangan besar Yifan menyapu lembut pipiku. "Aku sangat mencintaimu dan merindukanmu. Dan semua penantianku rasanya terbayar dengan manis." Pria itu tersenyum dengan sangat lembut ke arahku.

Aku tak tahu harus menjawab apa, sehingga satu-satunya kalimat yang meluncur dari mulutku hanyalah, "Aku juga." Aku tak pernah merasa sekikuk ini. Aku sudah lama bergelut di dunia seni―dimana aku harus pandai mengekspresikan banyak hal. Setahun belakangan ini, aku terjun dalam dunia akting dan hasilnya sangatlah bagus. Respons masyarakat terhadap gaya peranku sangat tinggi dan itu sangat membantu pendongkrakan karirku. Aku seharusnya bisa berbicara lebih dari sekedar itu. Aku seharusnya bisa melakukan sesuatu yang lebih dari ini―aku bisa saja memeluknya lebih erat, mencium bibirnya, atau bahkan sesuatu yang lebih. Namun yang kulakukan hanyalah terdiam menatap matanya yang mampu membawaku larut dalam pusaran tak berujung.

"Kau menjadi semakin kurus." Yifan mengelus pipiku beberapa kali. "Pipimu semakin tirus. Aku kurang suka dengan hal itu. Aku lebih suka melihat Jongin-ku yang manis dengan pipi tembamnya yang menggemaskan."

Aku memberengut kesal. Aku sudah menjadi seorang aktris sekarang. Tentu saja, aku diharuskan menjaga proporsi tubuhku demi profesionalitas dan tuntutan kerja―termasuk dengan mengurangi lemak-lemak di bagian yang tak seharusnya secara bertahap. "Semua pria selalu mengidamkan memiliki pasangan bertubuh ramping."

Yifan tersenyum. "Ya, semua pria―kecuali aku." Tangan besar Yifan bergerak ke arah anak rambutku yang mulai memanjang sehingga menutupi dahiku. "Aku menyukai Jongin yang apa adanya―meski ia bertubuh gendut dan wajahnya ditumbuhi jerawat sekalipun, aku tidak akan peduli. Karena aku mencintaimu apa adanya," tuturnya.

"Dan inilah aku sekarang, ge. Kau harus mencoba menerima kondisiku sekarang."

"Tentu." Yifan mengacak pelan rambutku. "Aku akan menerimamu bagaimanapun dirimu. Aku tidak seperti bos atau managermu yang menuntutmu untuk memiliki tubuh yang indah dan paras yang cantik. Ingat itu."

Aku tersenyum geli mendengarnya. Dan aku hanya bisa mengangguk pelan sebagai tanggapan.

"Baiklah, apa kau mau tetap berdiri begini sepanjang malam?" Yifan menegakkan tubuhnya.

"Tentu tidak."

"Kalau begitu, ayo nikmati makan malam yang sudah kusiapkan untuk kita berdua."

Aku tahu, ucapan Yifan tidak serius. Ia tidak benar-benar menyiapkan makan malam sendiri. Ia menyewa beberapa orang untuk menyiapkan malam ini agar menjadi malam yang indah bagi kami berdua. Tadi Yifan menjemputku di apartemen―setelah menjadi seorang aktris dan memiliki tabungan yang cukup, aku pun membeli apartemen di pusat kota―dan membawaku pergi menikmati jalanan kota Seoul di malam hari hingga tiba ke pinggiran kota yang tenang.

Kami memang harus bertemu secara sembunyi-sembunyi seperti ini. Tak banyak orang yang mengetahui hubungan yang sudah kami jalin selama 6 tahun ini―mungkin hanya keluarga, sahabat terdekatku dan Yifan, pihak-pihak penting di agensiku dan managerku tentunya. Agensiku sesungguhnya melarang artis binaannya untuk menjalin hubungan cinta dengan siapapun―khususnya untuk yang masih berusia di bawah 30 tahun. Namun aku dan keluargaku sudah mencoba membicarakan hal ini baik-baik dengan agensi, hingga akhirnya mereka setuju―dengan catatan, aku tak boleh terang-terangan berkencan dengan Yifan di muka umum. Yifan juga sangat mendukung hal ini. Ia tahu tentang industri seni―bagaimana para artis harus tetap single demi menjaga hati para fans. Menurutnya, jalan yang kutempuh masih sangat panjang. Jadi dia tak ingin menjadi orang yang merusak kebahagiaanku di masa depan. Aku tahu, dia terkadang merasa cemburu jika mulai beredar gossip kedekatanku dengan beberapa lawan mainku di film maupun drama serial, namun aku selalu berusaha meyakinkannya bahwa selama ini, yang terlihat di mataku hanyalah sosoknya. Yifan memang pencemburu, tapi dia merasa sudah dewasa dan dia seharusnya mengerti bagaimana posisiku sekarang. Ia bukanlah remaja tanggung yang akan ngambek dan meminta putus hanya karena kekasihnya bergandengan tangan dengan pria lain.

"Kemarilah." Yifan melepaskan tautan tangan kami, saat ia menarik sebuah kursi untukku.

Aku tersenyum kecil melihat sikapnya yang tak pernah berubah―selalu menghargaiku seperti ini. Aku pun mendudukkan tubuhku di atas kursi tersebut dengan anggun. Pandanganku mengedar ke sekeliling. Ini seperti candle light dinner yang diadakan di sebuah tempat terbuka. Untung saja, sekarang bukanlah musim dingin. Meskipun aku mengenakan pakaian yang tidak terlalu tertutup di bagian atasnya, aku tidak merasa terlalu kedinginan. Aku bisa melihat pepohonan yang tidak terlalu tinggi tumbuh mengelilingi tempat aku dan Yifan berada.

Yifan sudah duduk di kursinya yang tepat berhadapan denganku. Pria itu memasang wajah tampannya yang dihiasi senyuman menawan yang tercetak di bibir tipisnya yang menggoda. "Kau tahu, kau terlihat makin cantik saja." Matanya terfokus hanya kepadaku, seolah aku ini adalah dunianya. Tatapannya seperti tatapan seorang pemuja sejati.

Aku tersipu. "Tadi kau bilang, kau tak suka melihatku kurus," balasku sedikit bergurau.

Yifan tertawa pelan. "Yah, sayangnya aku harus mengakui, kalau kau akan tetap terlihat cantik di mataku, Sayang."

"Gombal."

"Aku sungguhan. Tapi ngomong-ngomong, aku sebenarnya lebih suka melihatmu memakai kaus berlengan panjang seperti saat masa sekolah dulu."

"Astaga, ge. Aku ini sudah berusia 22 tahun―bukan anak sekolah lagi. Kau mau dicap sebagai seorang pedofilia jika ketahuan mengencani anak gadis berwajah manis dan polos sepertiku?"

Yifan kembali tertawa. "Kau tidak sepolos yang orang bayangkan." Mata pria itu mengerling nakal.

Dan akibat kerlingannya, aku percaya, kini timbul semburat merah di pipiku. Aku benar-benar merindukan momen-momen seperti ini―saat aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Yifan, berbincang, bergurau dan tertawa bersama. Jika Tuhan mengijinkan, aku ingin menjadi sosok yang sedikit egois, memonopoli Yifan untuk diriku sendiri. Sayangnya, aku tak bisa egois seperti itu. Yifan memiliki kepentingannya sendiri yang harus diaturnya.

"Aku melihat kau bisa terlihat sangat nakal saat beradu peran dengan artis China itu."

Okay, Yifan yang pencemburu, sepertinya sudah mulai nampak. "Nakal bagaimana?" tanyaku dengan ekspresi wajah yang kubuat sepolos mungkin.

Yifan menggertakkan giginya pelan―gemas akan tingkahku. "Kau bergelayut manja di lengannya dan mengecup pipinya sangat mesra. Kekasihku ini ternyata sudah sangat dewasa ya." Ia mencubit pelan pipiku. Ia sepertinya sedang cemburu, tapi tidak tahan juga dengan sikapku.

Aku terkekeh pelan. "Kau cemburu ya? Kau juga ingin kuperlakukan seperti itu?" tebakku dengan nada menggoda.

Yifan mengedarkan pandangannya ke sekeliling sambil mengusap dagunya. Pandangannya sedikit terarah ke atas―ke arah langit malam yang ditaburi bintang-bintang. "Yah, bisa jadi." Pandangan Yifan kembali turun ke arahku. "Tapi sayangnya, aku harus mengajakmu berjalan-jalan di gang-gang sempit agar kau mau bergelayut manja di lenganku."

Aku tertawa mendengar leluconnya. "Aku janji. Suatu saat nanti, kalau aku sudah mendapat ijin dari agensiku untuk mempublikasikan hubungan kita, aku akan―"

"Sstt." Yifan mendekatkan tubuhnya―meja makan itu tidak menjadi halangan bagi kami―dan meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibirku. "Masa depan memang penting. Namun yang lebih penting sekarang adalah jalani semua yang ada di depan matamu dengan sebaik mungkin, Sayang. Aku tak ingin menjadi penghalang bagimu untuk menjadi seorang aktris terkenal seperti cita-citamu dulu."

Tatapanku melembut ke arah Yifan. Pria ini benar-benar tidak pernah berubah sejak dulu―masih lembut dan sangat pengertian padaku. Aku menyentuh pergelangan tangannya dan meremasnya pelan. "Terima kasih. Aku sangat mencintaimu." Aku tersenyum tulus padanya.

"Aku juga."

Sesaat sesudahnya, para pelayan datang untuk menghidangkan makanan yang sudah dipesan Yifan.

Semuanya berjalan sangat mulus hingga tahun ke-6 kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Dan aku percaya bahwa aku dan Yifan bisa menjalani tahun-tahun selanjutnya dengan mudah. Kunci hubungan kami yang bertahan cukup lama ini adalah karena saling percaya satu sama lain. Aku percaya bahwa Yifan tak akan tergoda dengan wanita lain di luar sana, sementara Yifan tahu bahwa aku tak mungkin tergoda dan terlibat skandal dengan pria manapun―meski banyak gossip bertebaran setiap kali aku bermain peran dengan berbagai aktor tampan terkenal di Korea Selatan. Namun, baik aku dan Yifan sama sekali tak menduga bahwa masalah yang memicu kerenggangan hubungan kami justru bukan karena kurang kepercayaan atau adanya orang ketiga. Semua ini justru disebabkan oleh suatu hal yang sama-sama kami utamakan selama ini―cita-cita kami sendiri.

Yifan selalu memiliki keinginan untuk mendirikan perusahaannya sendiri dan menjadi pengusaha yang sukses seperti Ayahnya atau saudara-saudaranya. Beberapa hari setelah kami merayakan hari jadi kami yang ke-6, Yifan mengabarkan padaku bahwa ia akan berusaha membangun perusahaan yang bergerak di bidang industri dan perdagangan di Amerika Serikat. Tentu saja, hal itu mengharuskan Yifan untuk menetap dalam jangka waktu yang tak dapat ditentukan hingga perusahaannya benar-benar bisa menjadi perusahaan yang besar. Sebagai seorang kekasih yang paham betul tentang obsesi Yifan selama ini, aku hanya bisa melepasnya pergi dan selalu mendoakan yang terbaik untuknya―walau rasanya sangatlah berat. Yifan memang sangat sibuk sebelum ini, tapi membayangkan harus terpisah jarak sejauh itu dalam waktu yang lama itu membuat batinku tersiksa. Selama ini, kami masih tinggal di negara yang sama―atau kadang, Yifan harus melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, toh itu pun tidak memakan waktu hingga bertahun-tahun. Tapi, sekali lagi, aku harus rela melepasnya. Toh ini demi masa depan kami juga.

"Aku berjanji akan selalu menghubungimu setiap hari, Jongin. Rasanya saja sangat tersiksa tak bisa melihat wajahmu walau sehari saja. Kini aku justru harus terpisah sekian lama. Aku janji aku akan selalu menghubungimu atau kita bisa berkomunikasi lewat skype agar aku bisa melepas kerinduanku." Begitulah pesannya sebelum ia pergi berangkat.

"Jangan terlalu memaksakan dirimu, ge. Aku tahu kau pasti akan sangat sibuk disana. Fokuslah pada bisnismu terlebih dahulu. Jagalah kesehatanmu dengan baik. Makan yang teratur. Jangan sampai kau sakit. Awas saja, kalau aku mendengar kabar kalau kau sakit."

Aku sedikit menyesal atas ucapanku waktu itu. Kenapa saat itu aku tidak bersikap sedikit egois saja? Kenapa aku tidak memaksanya untuk selalu menghubungiku setiap saat atau malah menahannya disini dan bukannya merelakan dia pergi untuk fokus bekerja? Aku menyesal sekarang. Aku seperti kehilangan Yifan sepenuhnya. Ia benar-benar sulit dihubungi. Sekalipun aku berhasil menghubunginya, kami selalu saja terlibat dalam perbincangan yang tak menyehatkan―kami berargumen dan beradu mulut.

"Kau tahu, aku sangat sibuk disini, Jongin. Kondisi perekonomian sangat tidak stabil sehingga aku harus sering lembur di kantor untuk mengurus ulang berbagai kesepakatan dan laporan. Aku harap kau mengerti itu, Jongin."

"Aku sudah selalu berusaha mengerti keadaanmu, Wu Yifan. Aku mencoba memahami, tapi kau bahkan tak memiliki sedikitpun waktu untuk berbincang denganku selama 6 bulan terakhir. Tidak sadarkah kau bahwa setiap waktu kita berbincang selalu berakhir dengan pertengkaran?"

Yifan tidak langsung menjawab. Yang ada hanya kesunyian selama sekitar 3 detik.

"Kau menyadarinya kan?" desakku.

Terdengar Yifan yang menghela nafas di seberang sana. "Apa kau tak ingat semua pengorbananku dulu, Jongin? Dulu kau selalu sibuk dengan latihan-latihanmu, kau sering membatalkan kencan kita secara mendadak, tapi aku selalu mengalah, padahal aku sangat merindukanmu. Tidak bisakah kau melaku―"

"Oh, jadi ini seperti balas dendam? Begitu?" potongku cepat. Aku sudah bisa menangkap apa yang dipikirkan pria itu disana. Dulu ia sudah mengorbankan waktu dan perasaannya dan sekarang dia juga ingin aku merasakan hal yang sama seperti yang pernah dia rasakan dahulu. Dasar lelaki munafik. Kupikir, dulu dia melakukannya karena ketulusannya dalam mencintaiku. Tapi ternyata semuanya hanyalah palsu. Wu Yifan jauh lebih pandai berakting di hadapanku. Rasanya aku ingin tertawa.

"Astaga!" Yifan memekik frustasi. "Kau salah paham, Kim Jongin! Salah paham!" Nada bicaranya meninggi―sepenuhnya membentak. Kurasa, Yifan kini benar-benar sudah berubah. Sebelumnya, dia tak pernah membentakku―meninggikan suaranya saja tidak. Bahkan akhir-akhir ini, aku sudah jarang mendengarnya memanggilku 'sayang'―atau justru tidak pernah lagi?

Seluruh harapanku untuk membangun kehidupan yang sempurna bersama Yifan perlahan mulai luntur. Aku tak yakin kami akan bisa bertahan dengan kondisi yang seperti ini―yah, kecuali kami memutuskan untuk bertemu dan membicarakan hal ini dengan baik-baik. Hanya mengandalkan perbincangan melalui telepon sangatlah kurang. "Bagian mana yang membuatku terlihat salah paham?" Nada bicaraku penuh penekanan.

Yifan mengerang pelan. "Okay, maafkan aku. Mungkin aku terlalu lelah akhir-akhir ini, begitu juga denganmu, Jongin. Kita selalu berkomunikasi saat kita sama-sama berada di posisi terendah kita―lelah secara batin dan fisik." Aku mendengar dia berbicara dengan sedikit lebih lembut. "Aku menawarkan satu opsi. Dan perlu kau ketahui, ini mungkin bukan pemikiran terbaikku dan ini juga bukan kemauanku, tapi inilah hal pertama yang terlintas di pikiranku."

Aku terdiam―mencoba fokus dan tetap mendengarkan.

"Kurasa kita harus berhenti berkomunikasi untuk sementara waktu sampai kita benar-benar bisa mencari waktu untuk bertemu."

Aku sama sekali tidak tahu dengan apa yang dirasakan hatiku saat ini atau dipikirkan otakku sekarang. Hatiku seperti sudah ditusuk ribuan pedang, hingga aku tak tahu perasaan macam apa yang sedang kurasakan. Otakku seolah sudah berhenti bekerja, hingga aku tak lagi mampu memikirkan apa-apa. Semua terjadi begitu cepat saat Yifan mengatakan opininya tentang hubungan kami ke depannya. Dan saat itu, dengan bodohnya aku mengiyakan ucapannya.

Saat ini kami berada dalam masa dimana kami tidak akan saling berbincang―atau bahkan bertatap muka―hanya untuk memikirkan ulang tentang perasaan kami dan hubungan yang sudah terjalin selama sekian tahun. Mungkin Yifan memang benar, kami hanya mempunyai kesempatan untuk menelepon di saat senggang kami dan saat itulah kami sama-sama sedang merasa lelah dengan pekerjaan. Sehingga yang terjadi pada akhirnya hanyalah pertengkaran yang tak kunjung berakhir. Aku yakin jika semua keadaan membaik, hubunganku dengannya juga bisa lebih baik dan kembali seperti sedia kala.

Sejujurnya, aku bisa saja memutuskan untuk benar-benar berpisah dengannya dan mencari pengganti Yifan. Aku mendengar dan sempat membaca di beberapa majalah dan surat kabar bahwa popularitasku di kalangan kaum hawa sangatlah baik. Aku yakin, banyak pria yang bersedia bertekuk lutut di hadapanku. Sayangnya, masalah hati tidaklah semudah itu. 6 tahun lebih aku mengenal dan mencintai pria itu. Sangat sulit rasanya menggantikan posisi Yifan di hatinya.

Begitu pula dengan Yifan. Pria itu seharusnya bisa saja mengucapkan salam perpisahan dan mencari wanita lain yang jauh lebih baik dariku dan mampu mengerti kondisinya, tapi dia tidak melakukannya dan memutuskan untuk memberi waktu bagi kami untuk mendinginkan pikiran masing-masing. Aku tahu, Yifan sudah terbiasa di hadapkan dalam masalah-masalah berat yang harus segera mendapat sebuah keputusan darinya. Ia adalah seorang pemimpin dan pebisnis yang sangat kompeten. Aku yakin tawarannya kemarin sudah dipikirkannya, meski hanya dalam waktu yang terbilang sangat singkat.

Aku dan Yifan benar-benar menjalani semuanya sesuai dengan kesepakatan yang telah kami buat. Yifan sama sekali tidak menghubungiku, aku juga sama sekali tidak berusaha melirik kontak Yifan di ponselku―meski rasanya sangat ingin melakukannya.

"Kau terlihat sering melamun akhir-akhir ini. Kau sakit ya?" Suara lembut Tiffany menyapa gendang telingaku―menyadarkanku dari lamunan panjangku.

"T-tidak, Unnie." Aku memang tidak sakit secara fisik, namun hati dan batinku sudah sangat sakit dan tersiksa. Mati kadang kedengaran jauh lebih baik daripada menjalani hidup yang rumit seperti ini.

Tiffany meletakkan minuman yang dibawanya di atas meja rias, kemudian duduk di sampingku. "Ada apa denganmu, Dear? Kau banyak melamun akhir-akhir ini. Kau tahu, kau bisa menceritakan masalahmu padaku," ucapnya lembut. "Aku tahu sekali kalau memiliki manajer pria akan membuatmu kesulitan untuk membagi masalahmu dengannya. Apalagi model pria seperti Yixing." Miyoung memutar bola matanya malas.

Aku tertawa kecil mendengar sindiran halusnya pada manajerku―Zhang Yixing―yang memang jarang sekali memahami masalah-masalah pribadiku dan hanya fokus pada pekerjaannya untuk mengatur kegiatan keartisanku selama ini. "Kau bisa dihadiahi samurai untuk natal nanti, Unnie."

Mata Tiffany mengerjap takjub. "Wah, baik sekali rupanya. Lumayan, aku bisa menyimpannya jika saja Nickhun berkhianat atau menyakitiku suatu saat nanti," balasnya asal.

"Nickhun Oppa adalah sosok yang setia, Unnie. Percayalah." Aku benar-benar iri pada pasangan yang satu ini. Tiffany dan Nickhun sudah menikah sejak 3 tahun yang lalu. Nickhun sangat ingin Tiffany mengandung darah dagingnya, namun karena Tiffany masih ingin menekuni profesinya sebagai seorang perias handal yang nantinya akan mendirikan usaha tata rias, Nickhun mencoba memahami dan mengalah. Bahkan pasangan itu tetap saja terlihat romantis hampir di segala kesempatan.

Mata Tiffany melengkung indah―menyajikan eyes smile yang menawan. "Ya, aku sangat percaya." Tiffany mengambil minumannya dan menyesapnya sebentar. "Jadi, kau mau berbagi sesuatu, Dear?"

Aku menghela nafas sejenak sebelum menganggukkan kepalaku. "Ini tentang Yifan."

Mata Tiffany membulat lucu. Ia segera meletakkan minumannya ke atas meja rias kembali dan mencari posisi duduk yang pas untuk mendengar ceritaku kali ini. "Ada apa dengannya?"

"Aku putus―ah tidak, tidak, kami hanya sedang dalam masa rehat."

"Masa rehat?"

"Yah, tidak berkomunikasi. Seperti itulah."

Tiffany terdiam sejenak, kemudian terlihat mengangguk paham. "Kau ada masalah dengannya?"

"Absolutely yes."

"Jadi?"

Aku kembali menghela nafas. "Kau tahu kan Unnie, kalau beberapa bulan terakhir ini aku sibuk dan film terbaruku, undangan variety show dimana-mana, menjadi bintang iklan dan mengikuti photoshoot untuk beberapa brand―" Aku menarik nafas dalam-dalam. "―dan Yifan juga sedang sangat sibuk disana. Kami sudah jarang berkomunikasi. Sementara setiap kali ada kesempatan, kami selalu berakhir dengan pertengkaran."

"Oh, astaga." Tiffany menggumam pelan. "Lalu?"

"Seminggu yang lalu, aku kembali menghubunginya. Aku baru saja selesai melakukan photoshoot saat itu dan merasa sangat lelah. Aku berusaha menghubungi Yifan dan dia mengangkat panggilanku. Kupikir setelah mendengar suaranya, kondisiku akan jauh lebih baik, tapi ternyata tidak. Kami kembali bertengkar, hingga akhirnya Yifan memberi tawaran untuk rehat sejenak."

Tiffany mengangguk paham. "Dan kau menyetujuinya?"

Aku mengangguk pelan sambil memejamkan mata.

"Dan apakah kau sekarang menyesalinya?"

"Ya. Tidak. Ya―ah entahlah." Aku mengerang frustasi.

Kulihat Tiffany hanya tersenyum lembut ke arahku. Matanya seolah-olah berbicara padaku. "Kurasa, jalan yang diambil Yifan adalah jalan terbaik bagi kondisi kalian saat ini. Kalian sedang sama-sama sibuk. Kau sedang merintis kariermu, sementara Yifan sedang merintis usahanya. Aku yakin, kalian ingin mencapai hasil yang terbaik demi cinta kalian di masa depan―terutama Yifan yang ingin menjadi pria mandiri yang benar-benar mapan tanpa perlu bergantung pada orang tuanya." Wanita bernama asli Hwang Miyoung itu mengambil jeda sejenak. "Seharusnya, kau bisa mengikuti apa yang dipikirkan Yifan saat ini. Dia ingin mengembangkan bisnisnya, sekaligus ingin melihat kau menjadi wanita yang sukses. Gapailah cita-citamu, Jongin. Suatu saat nanti, seluruh penantian kalian akan terbayar lunas. Kau sukses, Yifan sukses dan kalian akan menjadi pasangan yang sempurna―aku yakin, seluruh pasangan akan iri pada kalian."

"Iri padaku? Oh, yang benar saja. Aku malah iri padamu dan Nickhun Oppa."

"Aku?" Tiffany tertawa keras. "Apa yang membuatmu iri pada kami?"

"Kalian terlihat sangat romantis, hubungan kalian juga terlihat baik-baik saja."

Tiffany kembali tertawa. "Itu semua terjadi karena dulu kami sudah sangat sering bertengkar. Dari semua pertengkaran-pertengkaran itu, kami bisa mempelajari banyak hal. Bahkan sekarang pun kami masih sering bertengkar―mempermasalahkan hal-hal kecil yang sebenarnya sangat tidak penting." Wanita itu tertawa kecil dengan anggun.

CKLEK!

Pintu ruang rias terbuka―menampilkan sosok Yixing dari balik pintu. "Jongin harus siap 10 menit lagi, okay?" Kemudian menghilang lagi di balik pintu.

Tiffany mendesah kecil melihat tingkah Yixing. Wanita itu kemudian berdiri dan bersiap untuk memoles sedikit wajah Jongin. "Jangan terlalu memikirkan hubunganmu dengan Yifan. Aku yakin, kau masih sangat mencintainya dan Yifan pun juga begitu. Kau hanya perlu mengejar impianmu selama ini dan membuatnya bangga. Suatu saat nanti, jika saatnya sudah tepat, dia akan kembali padamu. Kerjakan saja apa yang ada di depan matamu, Jongin."

Benar-benar persis seperti apa yang pernah dikatakan Yifan dulu.

"Nah, sudah selesai, Dear. Sekarang tersenyumlah."

Aku benar-benar menuruti saran Tiffany waktu itu. Aku bekerja keras agar seluruh impianku tercapai dan entah mengapa, kadang hatiku juga merasa bahwa Yifan sedang melakukan hal yang sama. Aku berharap ucapan Tiffany itu memang benar adanya―bahwa Yifan pun masih menyimpan cinta padaku dan memiliki keinginan agar kami bisa bersatu.

Aku sudah bertahan selama 3 bulan sejak kami memutuskan untuk saling kehilangan kontak. Dan hidupku sudah berjalan seperti sedia kala. Aku tidak sering murung dan melamun seperti dulu. Aku sering menghabiskan waktuku untuk bekerja dan kadang bersenang-senang bersama rekan-rekan kerjaku. Kini aku disibukkan dengan pembuatan sebuah film bersama dengan aktor muda berbakat seusiaku yang bernama Oh Sehun. Aku pernah sesekali bertemu dengannya di beberapa acara resmi maupun tidak, namun kami sama sekali belum memiliki kesempatan untuk saling mengenal secara langsung. Dan kini kami dipertemukan dalam suatu kerja sama.

Banyak yang menganggap bahwa kami adalah pasangan yang sangat serasi. Beberapa foto di lokasi syuting diunggah oleh beberapa staff ke jejaring sosial. Tanggapan fans tentang kedekatanku dan Sehun cukup positif. Kini aku sudah menjadi aktris yang keraguannya tak diragukan lagi. Jadi orang-orang di luar sana tidak menganggapku sebelah mata―hanya sebagai inang parasit terhadap induknya. Gosip tentang aku dan Sehun yang menjalin hubungan pun berhembus kencang. Kuakui bahwa Sehun adalah pria yang tampan dan baik hati, namun pesona Yifan masih tak bisa tergantikan―entah kenapa. Beberapa staff juga sempat menggoda Sehun. Berdasar apa yang kudengar dari para staff selama ini, sepertinya Sehun juga memendam perasaan khusus padaku. Terkadang ia memberikan tawaran makan malam―mungkin dia ingin mengajakku berkencan―namun selalu kutolak dengan halus. Aku tak bisa hanya pergi berdua dengan seorang pria, saat aku masih terikat hubungan dengan seseorang di luar sana.

Malam itu, setelah aku pulang dari lokasi syuting, ponselku berdering. Nama Yifan tertulis di atas layar ponselku dan aku buru-buru mengangkatnya. "Halo?"

"Halo, Jongin." Itu benar-benar Yifan. Suaranya yang berat itu sama sekali tak berubah.

"Ada apa kau menelepon semalam ini?"

"Perlu kau ketahui bahwa New York belum malam." Yifan terkekeh di ujung telepon.

Aku menepuk pelan kepalaku saat menyadari kebodohanku.

"Aku hanya ingin mengatakan bahwa sepertinya aku memiliki waktu untuk kembali ke Seoul. Aku harus mengurus visaku. Jadi yah, kurasa kita bisa bertemu."

"Kapan?" Aku merespons terlalu cepat―benar-benar sangat cepat. Aku tidak sabar untuk segera bertemu dengan Yifan dan melepas kerinduan agar aku bisa mengatakan betapa aku mencintainya.

"Minggu depan."

"Baiklah. Aku akan mengosongkan jadwalku untuk minggu depan."

"Baguslah, kalau begitu. Sekarang sudah malam kan? Aku yakin, kau pasti sangat lelah sekarang. Tidurlah dan kuharap kau bisa mendapat istirahat yang baik malam ini."

"Okay."

"Selamat malam, Jongin."

"Selamat malam, Yi―"

"Oh ya, Jongin."

"Ya?"

"Aku mencintaimu. Sangat."

Hari yang kutunggu-tunggu itu akhirnya tiba juga. Seminggu rasanya jauh lebih lama dibanding saat aku harus menunggu selama sekitar 3 bulan lebih tanpa kabar dari Yifan sedkitpun. Aku benar-benar menepati janjiku pada Yifan―mengosongkan seluruh jadwalku. Yixing sampai harus kewalahan mengurusnya―apalagi mengurus Sehun. Pria itu terkejut tak bisa bertemu denganku dan hampir setiap waktu menguntit Yixing untuk menanyakan keberadaanku.

"Jongin sedang berada di rumah neneknya. Puas kau? Dan jangan ganggu aku lagi, Tuan Oh. Kau benar-benar menghambat pekerjaanku."

Aku hanya bisa tertawa mendengar ucapan Yixing di telepon. Mendengara balasannya yang seketus itu, aku yakin bahwa ia jengkel bukan main. Yixing tidak mengeluarkan kata-kata seperti itu, jika ia tidak sedang dalam keadaan yang sangat buruk.

Aku tidak mau urusan pekerjaan, Yixing, atau bayang-bayang Sehun menghantui pertemuanku dengan Yifan setelah sekian lama tak berjumpa. Siangnya, sebelum bertemu dengan Yifan, aku sudah pergi ke salon untuk mendapatkan perawatan terbaik bagi tubuhku. Sejak sore, aku sudah berdandan cantik―tidak terlalu berlebihan dan aku sengaja membuatnya senatural mungkin. Aku lebih suka dandanan yang natural, lagipula Yifan lebih menyukai aku yang apa adanya. Dan malam harinya, aku hanya perlu mennggu kedatangan Yifan di apartemenku.

Yifan sendiri yang memutuskan agar kami bertemu dan berbincang di apartemenku―untuk mengurangi resiko tertangkap netizen, katanya. Ya, dia memang benar. Setelah hubungan kami yang belum membaik sebelumnya, ia masih saja menaruh simpati yang besar dalam karirku. Aku berjanji, suatu saat nanti―bahkan jika dia bukan kekasihku lagi―aku akan selalu mengatakan pada orang-orang bahwa dia adalah salah satu orang yang mendukungku selama ini.

Pukul 7. Yifan datang tepat waktu sesuai dengan janji yang sudah dibuatnya. Aku menyambutnya dengan sebuah senyuman dan Yifan merentangkan tangannya―membiarkanku untuk masuk ke dalam rengkuhannya. Kami berpelukan selama beberapa detik―tak ada yang lain, hanya saling berpelukan.

"Aku merindukanmu." Itulah kalimat pertama yang meluncur dari mulut Yifan setelah ia melepas pelukannya.

Aku tersenyum canggung. "Aku juga." Baik aku maupun Yifan pasti tak bisa memungkiri bahwa kami masih sama-sama saling mencintai. Namun kadang tekanan yang kami alami membuat segalanya menjadi jauh lebih sulit. "Duduklah." Aku menarik lembut tangan pria itu agar terduduk di sebuah sofa panjang.

Yifan mengikutiku dan duduk tepat di sampingku.

Hening beberapa detik.

"Bagaimana dengan visamu?" Hanya pertanyaan itu yang bisa keluar dari mulutku. Tak ada hal lain yang bisa terpikirkan olehku malam itu. Pikiranku berkecamuk―tapi aku pun tak tahu apa saja yang sedang kupikirkan.

Yifan menoleh ke arahku. "Aku sudah mulai mengurusnya tadi pagi. Mungkin akan tuntas beberapa hari ke depan."

"Jadi―kau akan tinggal cukup lama?" tanyaku setengah meliriknya takut-takut.

Yifan mengusap dagunya―berpikir. "Entahlah. Mungkin tiga hari, atau mungkin seminggu. Semuanya tergantung prosedur yang harus kujalani nanti."

Aku mengangguk mengerti. "Kau akan langsung kembali jika urusanmu sudah selesai?"

Yifan menatapku cukup lama sebelum ia akhirnya menjawab, "Ya. Tentu saja."

Aku memandangnya dengan tatapan terluka.

"Kenapa?"

"Kau tak ingin meluangkan waktu untukku?"

Yifan mengernyit. "Jadi maksudmu, ini bukan bentuk meluangkan waktu?"

"Bukan begitu. Aku―"

"Aku harus meninggalkan setumpuk pekerjaan di New York saat aku harus terbang kesini. Seharusnya aku hanya mengurus visa dan segera kembali kesana. Masih untung, aku mau menemuimu―"

"Oh, jadi sebenarnya kau tak ikhlas untuk menemuiku disini?"

Yifan terdiam.

"Kau sudah punya kekasih yang lain disana? Kau ingin segera kembali karena kau pasti akan sangat merindukan kekasihmu kan?" Air mataku mulai keluar dan menggenangi pelupuk mataku.

"Tidak, Jongin!"

"Lalu apa? Kau sudah tidak mencintaiku lagi ya? Kau sudah lelah dengan semua yang kita jalani selama 6 tahun ini kan? Kau bosan?"

"Tidak seperti itu." Suara Yifan melemah.

Aku tertawa pilu sambil beranjak dari sofa. "Aku tahu, kau sudah ingin memutuskanku sejak lama, tapi kau tak bisa. Jadi kau mencari-cari cara agar akulah yang akan memutuskan hubungan kita. Benar begitu kan?"

"Astaga, kau sudah gila, Kim Jongin!" Yifan ikut bangkit dari sofa. "Kau mabuk?"

"Ya, Wu Yifan. Aku memang sudah gila." Aku mendesis pelan. Air mataku jatuh sudah.

Yifan mengacak rambutnya frustasi sambil mengerang tertahan. "Lalu, sekarang apa maumu?!"

"Aku mau kita putus."

Yifan sudah pulang sejak 30 menit yang lalu. Tidak ada kata-kata perpisahan yang kudengar dari mulutnya. Ia hanya mengiyakan permintaanku, berpamitan, kemudian melangkah pergi meninggalkan apartemenku. Sepertinya, semua tuduhanku tadi memang benar adanya. Buktinya dia sama sekali tidak berusaha mempertahankanku. Dia juga tidak mengucapkan apa-apa dan hanya pergi begitu saja.

Aku memang tidak pernah memikirkan kemungkinan bahwa ia akan selingkuh, tapi opini bahwa dia sudah tidak mencintaiku mungkin adalah opini yang paling tepat dalam kondisi kami saat ini. Mungkin ia sudah lelah menjalani hubungan cinta dengan orang yang sama selama 6 tahun, apalagi hubungan kami tidak bertambah menjadi lebih baik, justru semakin memburuk.

Kini aku hanya bisa terduduk di atas ranjang. Punggung sempitku bersandar pada kepala ranjang, sementara aku memeluk kedua kakiku yang kutekuk. Aku tidak tahu dengan apa yang kupikirkan saat ini. Semuanya kosong. Hatiku juga terasa hampa seolah mati rasa. Aku tidak merasakan sakit hati atau apapun itu. Air mataku sudah berhenti turun sejak Yifan pergi.

Atau jangan-jangan aku juga sudah berhenti mencintai pria itu?

Oh, astaga.

Jadi aku sama saja dengan Yifan?

Ah sudahlah. Yang jelas, jalinan cinta diantara kami benar-benar sudah berakhir. Aku tidak ingin terlalu banyak memikirkan masalah ini, sehingga mengganggu pekerjaanku. Aku harus fokus pada karirku dan menjadi seorang aktris terkenal dan sukses. Masalah pria bisa kupikirkan belakangan saja. Aku tak membutuhkan pria saat ini jika itu hanya akan menghambat diriku untuk menggapai anganku.

Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang dan memutuskan untuk tidur. Aku masih memiliki jatah waktu libur selama 3 hari ke depan dan aku akan menggunakannya untuk bersenang-senang.

Mari kita lupakan masalah pria dan patah hati.

Pagi itu aku terbangun karena suara ponselku yang berdering sangat nyaring. Aku segera membuka mata walau rasa kantuk masih menyergapku. Kuambil ponselku yang kugeletakkan di atas meja nakas. "Halo?"

"Jongin!"

"Yixing Oppa?" Aku memijat pelan pelipisku. Aku sama sekali tidak menduga aku akan mendapat panggilan darinya sepagi ini. "Ada apa, Oppa?" Ponselku kuapit di sebelah kanan, sementara tanganku berusaha mengikat rambut panjangku yang tergerai.

"Maafkan aku sudah mengganggumu di waktu liburmu. Tapi masalah ini sangat gawat."

Aku mengernyit. "Gawat? Apa yang terjadi?" Ketakutan mulai menyergapku.

Yixing berucap dalam nada yang sangat tenang di seberang sana. Namun itu justru kedengaran seperti melodi yang mengerikan.

Satu kalimat yang diucapkan Yixing benar-benar menghantamku. Aku segera mematikan sambungan telepon tanpa izin dan segera mengecek salah satu portal berita dunia hiburan. Dan aku terkejut saat mendapati headline besar yang terpasang dalam portal berita tersebut. Belum lagi, ada sebuah foto yang amat sangat kukenali.

Oh Tuhan. Bunuh aku sekarang.

to be continued...

dee's note:

hey-yo. I'm back with another fic

iseng bikin gs!kai dan voila! jadilah fic ini. seperti yang sudah tertulis di atas, fic ini terinspirasi dari kisahnya Choi Dongwook aka SE7EN dan pacarnya―Park Hanbyul hehe. saya harap banyak yang suka. kalaupun nggak ada yang berminat untuk baca lanjutannya, saya akan tetep bikin kok muehehe

buat yang nunggu fic yang lain, harap sabar ya. saya benar-benar harus mendapat ilham buat ngetik fic yang lain.

okay

review dear?