IGNORANCE

Chapter 1

Masa Lalu yang Menggerit Luka


"Tuan, saya buatkan seperti yang anda minta,"

Seorang pelayan dengan yukata hijaunya melangkah maju dengan semangkuk sup di atas nampan kayu berwarna coklat. Ia membungkuk—meletakkan mangkuk tersebut ke atas meja.

Aromanya segar. Aku yakin ia menggunakan kayu manis di dalamnya.

"Terima kasih," ujarku lemah tanpa mendongakkan wajah.

Aku meraih sebuah sendok kayu yang terbaring tak jauh dari sana, lalu menyendokkan sesendok kuah sup perlahan ke arah mulutku—mencoba untuk menikmati harum rempah-rempah yang kaya mengisinya.

Dan ketika aku berhenti untuk mengencangkan yukata yang kukenakan, seorang pelayan berteriak— meneriakkan namaku dengan suara penuh getar.

"Mitsunari-sama!"

Ya, itu panggilanku dulu—sebelum perang itu pecah dan mengobarkan luka dalam dada.

Sebelum Sekigahara hangus terbakar meriam.

Sebelum Yoshitsugu tewas dalam pertempuran.

Sebelum harga diriku terinjak-injak oleh orang yang paling kubenci—

Sebelum aku mati.


Sebelum riuh terpaksa hangus di atas perpecahan

Sebelum semua terlewat di atas lembaran kehidupan,

Dan dari itu semua—

sebelum nuraniku terbangun dari tidur panjangnya


"Mitsunari-sama! Mitsunari-sama! Apa itu dirimu?"

Seorang lelaki paruh baya berumur sekitar 60 langsung berlari kecil ke arahku. Suara sandal bakiaknya terdengar nyaring berderit lantai kayu.

Aku tak bergeming—bahkan tidak membuka diri untuk menatap wajah keriputnya.

Aku bisa merasakan puluhan pasang mata menatapku saat ini, dan itu menganggu makan siangku. Pada akhirnya kumenyerah untuk mengambil nafas dan membuka caping petani yang membalut rambut kotorku.

"Oh! Benar! Itu Lord Mitsunari yang pernah menjadi pemimpin pasukan Barat!"

Pendapat kalian benar sekali, orang-orang awam tolol tak berpendidikan. Tapi itu dulu.

"Mitsunari-sama! Anda masih hidup? Ini saya, Yoshino yang pernah bekerja pada anda—tapi—"

"Berhenti. Aku bukan tuanmu lagi,"

"Apa karena anda telah kalah telak darinya?"

Suaranya perlahan mengecil sebelum aku membanting sendok yang kupegang dan menggetarkan suasana dengan sekali hantaman di permukaan meja.

Aku mengintip dari balik poni rambut kelabu panjangku, sebelum mulai membuka mulut untuk menghardik.

"DENGAR, PAK TUA SOK TAHU! Peduli setan dengan perang bodoh itu! Aku bukan Ishida Mitsunari yang selama ini kau selalu puja! Ishida Mitsunari kini sudah mati dan aku bukanlah dia! Aku bukan Ishida Mitsunari dengan hati busuk seperti yang kalian kenal—bukan malaikat maut yang seenaknya membunuh orang—tapi, aku Mitsunari yang mencari kedamaian hingga ajalku sampai di depan mata. Jadi, jangan mencampuri urusanku!"

Kelopak mata tuanya terbuka lebar mendengar caci maki yang kulontarkan.

Ia membungkuk sembilan puluh derajat mengemis maaf padaku—tanpa suara—lalu membalikkan tubuh keluar dari toko.

Ia melangkah menjauh hingga dedaunan yang tengah turun menyembunyikan bayangan lebamnya.

Tak sampai tiga menit suasana kaku terjadi diantara orang-orang, kembali mereka saling tersenyum dan membuka topik baru.

Masih dengan perasaan campur aduk—antara kesal, jengkel, bersalah dan marah—kulanjutkan acara makan sup yang sempat terinterupsi.

Aku berusaha untuk melupakan rangkaian kata yang cukup tajam untuk menusuk telinga tadi—

Tapi tak bisa.

Imej sebuah tanah lapang bermunculan di kepala—dengan lumpur sebagai alas—

Dihiasi merah amis yang pekat memandikan mayat—

Dentum meriam yang membahana—

Dan dua pemimpin negeri pembelah Jepang berdiri di dua sisinya.

"Ieyasu! Ieyasu! Aku bersumpah akan membunuhmu!"

Aku berlari dari arah matahari terbenam dengan pedang terselip di antara jemari kananku.

Tanpa keraguan yang membelenggu niat, kuhantamkan pedangku memecah medan perang.

Darah yang memancar bebas dari tubuh mereka tak mampu tuk hentikan gerakan—

Pula mampu tuk redam mekar dendam yang merekah lebar.

Rambut kelabuku yang bergoyang pun terbasahi oleh merah—

Wajahku—

Pakaianku—

Semuanya merah.

Berjam-jam kuhabiskan, membiarkan peluh memelukku seutuhnya, aku tak kuasa menahan diri untuk terus melangkah.

Dan pada akhir kusampai di hadapan orang yang selama ini kubenci—kuhina.

Ieyasu Tokugawa.

Ia berdosa—ia yang mengkhianati segala kebaikan dalam ringkihan alam semesta.

Ia yang menjadikan seluruh putih di dunia menjadi merah penuh noda.

Dan hina pun seharusnya pantas menjadi bilik kematiannya.

Bantahan demi bantahan ia lontarkan tuk balas seluruh kata dariku—pun menjaga lengannya dari mencapaiku.

"Aku membunuhnya untuk menyelamatkanmu, Mitsunari—menyelamatkanmu dari kegelapan dan kesesatan!"

Ia terus tertahan, terus tertahan—

Terus tertahan.

"Tidak ada hal yang paling menyesatkan di dunia ini kecuali jiwa busukmu,"

Ujarku perlahan dengan berat—namun pasti.

Ia berbisik pada hening—kepada debu yang ikut diterbangkan angin.

"Mitsunari, ini salah,"

"Satu-satunya kesalahanku ialah mengenalmu!"

Aku balas menggertak penuh amarah.

"Sungguh, Mitsunari, hentikan—!"

Kubungkam mulutnya dengan satu hantaman pedang yang memulai denting pertarungan antara kami berdua. Dan terus kuserang—terus—aku akan terus membencinya!

Kerutan tertempel jelas di dahinya—menunjukkan seberapa besar perasaannya untuk menghentikan segala hal yang telah terlanjur terjadi.

Tapi, sayang, nasi telah menjadi bubur.

Dan bubur tak mungkin kembali dijadikan nasi.

Dendam yang terlanjur tertanam telah menjadi bunga.

Dan bunga pun tak mungkin kembali dijadikan benih bibit.

Kecuali jika seseorang dapat mencabut bunga busuk tersebut dan membuangnya ke tengah laut—lalu menyadarkan batin putihku sebagai manusia.

Kalau saja bukan Ieyasu yang mencobanya—

Tidak, tidak akan bisa.

Kelengahan membuat pedangku terlempar—SIALAN! Aku gagal!

Hideyoshi-sama, apa kau mau memaafkanku karena tak dapat membalaskan kematianmu?

Hideyoshi-sama, apa kau mendengarku?

Karena kau telah menjadi Tuhan di hidupku.

"Mitsunari," Ieyasu meraih tanganku dan mendorong tubuh kecilku menghantam alas lumpur berbatu—membuatku merintih.

Ia menatapku dengan mata coklatnya—

Sendu.

Sesirat kesedihan sayup terlihat menggantung dalam cahaya di bola matanya—membuat benih kristal cair memaksa keluar dari pelupuk matanya yang menebal.

"Mitsunari," ia sebut namaku sekali lagi—sekonyong berubah menjadi berkali-kali.

Air matanya menetes jatuh pelan ke atas pipi pucatku, mengalir ke atas bumi.

Diselingi langit yang menggelap—hujan kelam tak beraturan.

Oh, langit, apa kau menangis?

"Bunuh aku, bunuh aku, Ieyasu,"

Namun ia tak bergeming.

"Kau tidak dengar? BUNUH AKU!"

"Aku tak ingin mengambil sebuah penyesalan besar untuk kedua kalinya, Mitsunari—tidak akan!"

Ia mengepalkan tinju dan melemparnya tepat satu inci di sebelah tempurung otakku.

Mataku terbuka tak percaya—meskipun kutahu titik rintik hujan bisa menetes di atasnya dan membuat perih.

"Kau sudah mati—aku sudah membunuhmu,"

"Bego kau! Apa maksudmu? Hanya dengan membunuhku lah masa depan Jepang dapat kau genggam!"

"Aku telah membunuh jiwa busukmu, Mitsunari. Tapi jika jiwamu itu masih membekas, aku tidak tahu,"

Awan kelam yang membasuh langit tak hanya menggantung tepat di atasku—tapi di hadapanku—wajah Ieyasu.

Ia bangkit lalu membiarkan aku tergeletak di sana, bermandikan darah dan riak air.

Wajah sendunya terlihat mengintip dari balik punggung besarnya.

Dan ketika kata itu tergelintir lepas dari sekatup bibirnya, aku terperangah—terpejam.

"IEYASUUU!"

Aku sadar.

Seluruh alam berpedar menuntut kesucian menjadi langit kehidupan.

Dan aku tahu saat itu—

Menjadikan awal dari setiap jejak langkah yang berpijar di atas bumi Jepang yang baru.