Rina: Ini adalah ide yang tiba-tiba muncul saat ngerjaiin "Princess, Demon, and Hero"! Jangan khawatir PDH tidak akan hiatus lama-lama, cuman gara-gara ide nemu ndadak bakalan hilang, di tulis dulu berbarengan dengan PDH
Rin: Jadi tokoh utamanya aku saja nih?
Rina: Yup, tapi jangan tanya siapa pasanganmu ntar! Lom, nentuiin soalnya. Rin baca disclaimer keras-keras!
Rin: Rina tidak memiliki semua Vocaloid maupun lagunya yang ada di fic ini. Yang dia miliki hanyalah fic ini!
A/N: If any of you want this fic to turned into English, please PM me and I gladly do so
Normal POV
Seorang gadis SMA yang memiliki rambut Honey Blond hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Disampingnya berdiri kedua temannya, mereka berdua lebih tua setahun darinya. Yang satu memiliki rambut berwarna Pink yang panjang dan diurai hingga ke bawah punggungnya, dan yang satu memiliki rambut berwarna hijau Teal yang dikuncir Twin Tail yang sangat panjang.
"Ah, Rin kau menghela nafas dalam-dalam lagi!" ucap gadis hijau Teal itu, dia bernama Hatsune Miku, cewek terpopuler dan termanis di sekolahnya.
"Akhir-akhir ini makin sering, ya?" tambah gadis Pink itu sambil menutup loker sepatunya, namanya Megurine Luka, bisa dibilang cewek terpandai dan paling disayang guru di sekolah itu.
Gadis Honey Blond itu hanya menatap mereka dengan senyuman yang dipaksakan sambil berkata, "Kalian berdua jangan khawatir, aku baik-baik saja, kok!" ucapnya sambil tersenyum. Dia tidak ingin tersenyum, dia ingin menangis, dia ingin menangis sekeras yang dia bisa, namun ditahannya.
Gadis itu bernama Kamine Rin, dia bersekolah di Vocaloid School dan sekarang duduk di kelas 1 SMA. Dia mengambil sepatunya yang ada di loker dan segera memakainya, saat sebuah suara membuyarkan lamunannya.
"Miku!" panggil suara itu. Saat itu, Rin sudah berbalik dan tidak melihat siapa yang memanggil, namun hatinya tahu betul siapa pemilik suara itu, suara itu membuat hatinya sakit.
"Len!" balas Miku yang membalas panggilan suara itu dengan sangat manis. Rin tak membalik tubuhnya, dia takut, dia takut seseorang mengetahui pikirannya sekarang. Kagamine Len adalah pacar Hatsune Miku, semua orang tahu itu. Rin hanya roda ketiga dalam hubungan mereka.
"Ah, kalau begitu aku duluan, ya!" ucap Rin sambil memalingkan wajah dengan senyum palsu yang masih ada di wajahnya. Dia tak ingin membuat kedua temannya khawatir. Dia tak ingin membuat Len khawatir.
"Baiklah, Rin-chan sampai jumpa besok!" ucap Miku yang masih sibuk berbicara dengan Len.
"Sampai jumpa besok, Rin-chan!" balas Luka dengan senyum yang lembut, pada Rin. Rin masih tersenyum pada Luka dan melambaikan tangan kanannya pada kedua sahabatnya itu.
"Rin, besok aku pinjam PR guru killer itu ya!" sahut Len dengan memasang senyum ke arah Rin. Dada Rin terasa sakit, sakit itu terasa sangat pedih. Ini merupakan percakapan biasa diantara mereka, hingga saat Len menyatakan perasaannya pada Miku, sahabat karibnya. Dan pada saat yang sama, Rin menyadari bahwa dirinya menyukai Len.
"Enak saja, kerjakan sendiri!" tolak Rin sambil menjulurkan lidahnya ke arah Len. Dia segera berlari meninggalkan gedung sekolah. Sekarang, dia harus segera pergi dari sana! Sebelum air matanya mulai mengalir membasahi wajahnya.
"Ah, pelit!" sayup-sayup terdengar suara Len yang membalas penolakan Rin.
Rin hanya bisa terus berlari, berlari meninggalkan tempat itu, air matanya yang ia tahan mulai membasahi pipinya, hingga sebuah tangan menangkap lengannya di jalan menuju rumahnya.
"Kau menangis lagi?" ucap pemilik tangan itu.
Rin menaikkan wajahnya, orang itu adalah Kaito, kakaknya yang duduk di kelas 3 SMA di sekolah yang sama dengan Rin. Meskipun mereka tidak mirip, mereka saling menyayangi saudara mereka.
Rin segera menjatuhkan dirinya pada pelukan Kaito dan menangis sejadi-jadinya. Kaito hanya tersenyum pahit, dan berpikir pada dirinya sendiri. Kenapa orang yang disukainya harus berakhir dengan orang yang disukai adiknya?
"Rin, apa kita pulang sekarang?" tawar Kaito. Kaito melepaskan Rin dari pelukannya dan hanya melihat Rin yang menunduk sambil mengangguk, mengiyakan tawarannya.
Mereka berdua berjalan beriringan sampai ke rumah mereka, untunglah kedua orang tua mereka sedang dinas ke luar kota. Sehingga kebiasaan Rin menangis setiap hari hanya diketahui oleh kakaknya.
Kaito segera memasuki dapur dan mengambil es krim, sementara Rin memasuki kamarnya. Saat dia sampai di kamarnya, dia hanya bisa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Rin memandangi seisi kamarnya, kamar itu dicat dengan warna oranye, dia bahkan memiliki tempat tidur berwarna senada. Setelah itu, Rin hanya memeluk boneka Keroro, pemberian Len, dan boneka Jeruk yang ada di dalam kamarnya dan mulai menangis terisak.
Mengapa dia harus jatuh cinta pada Len? Dia tidak masalah jika ini hanyalah perasaan sesaat, namun, dia... pada Len... perasaannya telah tersihir terlalu dalam.
"Ya tuhan, apa salahku? Apa salahku, hingga kau membuatku jatuh cinta pada pacar sahabat karibku sendiri?" gumamnya di sela-sela tangisnya.
Tiba-tiba dia mendengar lagu Kokoro yang diputar di HP miliknya, tanda bahwa ada e-mail masuk. Saat itu juga dia segera mengambil HP berwarna oranye dengan gantungan jeruk, dari atas tempat tidurnya. Saat Rin membuka flap HP-nya itu, dia melihat ada 1 e-mail masuk.
"Dari Len..." gumam Rin dalam hati.
From: Pr1nc3_B4n4n4
To: 0r4n63_L0v3r
Subject: PR
Please Rin... aku males ngerjaiin PR!
Rin menghapus air mata yang masih mengalir dimatanya dan segera menjawab e-mail Len secepat mungkin.
From: 0r4n63_L0v3r
To: Pr1nc3_B4n4n4
Subject: re;PR
Kerjain sendiri, aku males
Dan Send, Rin kemudian segera memejamkan matanya, dia tahu kalau sudah waktunya makan malam, Kaito akan membangunkannya. Rin tidak mengganti baju seragamnya dan langsung tertidur, meski HP-nya masih memutar lagu Kokoro.
Len POV
Aku hanya terduduk lemas dikursiku. Buku pelajaran Sejarahku masih terbuka lebar, buku notesku juga tak memiliki bekas coretan pulpen. Namaku Len, Len Kagamine lebih tepatnya, aku sekarang sedang merana, dikarenakan PR yang diberikan oleh guru killer disekolahku, Meiko.
"Ah, aku minta bantuan Rin saja!" pikirku seraya mengambil HP milikku yang berwarna kuning, dengan gantungan berbentuk pisang, yap, aku memang suka sekali pisang!
Aku segera menekan tombol-tombol yang ada di HP milikku, seakan-akan dunia akan berakhir jika pesan yang aku tulis tidak diterima oleh Rin. (Lebay, deh!)
From: Pr1nc3_B4n4n4
To: 0r4n63_L0v3r
Subject: PR
Please Rin... aku males ngerjaiin PR!
Segera aku menekan tombol Send, dan berdo'a agar Rin menerima permintaan seumur hidupku itu, setelah dia menolak sekali permintaanku itu, saat aku meminta Rin di sekolah.
Tapi akhir-akhir ini Rin benar-benar aneh. Terkadang dia melihatku seperti sedang melihat hantu. Terutama saat kami ada dikelas. Ah, apa aku belum bilang bahwa aku sekelas dengan Rin? Dan lebih hebatnya, kami duduk bersebelahan.
Tapi aku senang senang saja duduk disebelah Rin. Selain dia punya otak yang encer, dia juga merupakan sahabat pacarku, Miku. Aku dan Miku sudah berpacaran kurang lebih 1 bulan, dan itu juga terima kasih pada Rin.
Saat aku sibuk dengan imajinasiku sendiri, lagu Fire Flower terdengar dari HP kuning milikku itu. Segera aku membukanya, berharap Rin menerima permohonan seumur hidupku (jangan lebay gitu kali =_=;)
From: 0r4n63_L0v3r
To: Pr1nc3_B4n4n4
Subject: re;PR
Kerjain sendiri, aku males
Berakhirlah duniaku, berakhirlah hidupku. Rin menolak permintaanku, dan aku terlalu parah dengan pelajaran Sejarah. Mengapa seseorang harus mempelajari orang yang sudah mati? Aku menghela nafas panjang dan berdiri dari kursiku.
Karena aku tak akan mampu mengerjakan PR itu, lebih baik aku pergi membeli stok pisang di supermarket. Karena, stok pisangku sudah mulai menipis. Segera aku merapikan rambutku dan keluar dari apartemen tempat tinggalku. Ah, apa aku belum bilang bahwa aku tinggal di sebuah apartemen? Itu hanya karena, orang tuaku benar-benar overprotective dan itu tidak baik untuk kehidupan cintaku. Terutama jika kau punya penggemar segudang di semua angkatan.
Tapi sikap Rin, benar-benar membuatku kepikiran. Biasanya dia hanya akan bercanda dan tersenyum dengan ceria tanpa beban. Namun senyumnya tadi, terlihat sangat dipaksakan. Apa dia sedang patah hati, kalaupun iya, aku hajar siapapun itu yang membuat Rin, teman pacarku itu, menangis! (Andai saja kau tahu Len... =_=;)
Rina: Review please! Dengan Review, cerita ini akan update dengan cepat!
