Hold Me, U Know!

a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae

.

.

YunJae, Jessica, Ahra, Yoonhee. [Other casts will be revealed later.]

Chaptered! 1/4

Mature's Rated for some adult contents.

Romance/Fantasy/Sci-fi(?)

[Human!Jae, Hybrid!Yun]

GENDERSWITCH! Out of Character! Typos everywhere!

I write because i want, not for amaze people.

.

.

© Remake from Iisaka Yukako's manga "Hold Me, Noir!" created at 2003 with some changes.

.

.

.

.

Suasana ramai khas pulang sekolah terlihat di setiap sudut Gyeongbuk High School. Murid-murid berhamburan saat bunyi bel pemecah kejenuhan menggema ke seluruh penjuru sekolah dan seolah memberi tanda kebebasan pada murid-murid itu.

Begitupun yang terjadi di kelas dua belas ini, hampir separuh murid sudah berserakan di luar kelas dan menyisakan sebagian kecil di dalam yang belum membereskan barang-barang maupun yang masih sibuk mengobrol.

Kim Jaejoong salah satunya.

Ia bersama tiga teman baiknya yaitu Jessica, Ahra, dan Yoonhee sedang sibuk mengagumi seekor anjing chihuahua mungil yang baru dimiliki Ahra.

Yoonhee mengangkat anjing kecil itu sambil bermain-main.

"Apa harganya mahal?" tanya Jessica penasaran, ia mengusap sayang kepala anjing yang ia beri nama Azure itu.

"Aku tidak tahu, ayah yang memberikannya karena tahu aku ingin punya chihuahua yang imut."

"Kau beruntung, Ahra.. Ayahmu begitu pengertian.." iri Yoonhee sambil memainkan kaki-kaki kecil Azure.

Ahra hanya tersenyum senang.

"Ng—Yoonhee.. Sebaiknya kau turunkan Azure.." Jaejoong berkata ragu-ragu sambil mengisyaratkan agar menjauh dari Azure dengan tangannya.

Yoonhee mengernyit bingung. "Memang kena—" belum saja gadis itu menyelesaikan kalimatnya, ia merasakan sesuatu yang dingin merembes ke seragam bagian perutnya, dan tentu saja baunya tidak enak.

"Azure bilang dia mau buang air.." Jaejoong meringis karena telat memberitahu temannya itu hingga Yoonhee terpaksa merengut sementara Jessica dan Ahra tertawa lepas.

.

.

.

"Apa kau semacam makluk asing, Joongie?"

"Ye?"

Saat ini empat sekawan itu tengah berjalan pulang, setelah sempat menunggu Yoonhee yang harus berganti baju dengan seragam olahraganya.

Mereka menatap penasaran pada si cantik Jaejoong. Pasalnya bukan kali ini saja prediksi Jaejoong tentang tingkah binatang tepat. Sebelumnya ia juga sempat mengembalikan seekor anak anjing yang tersesat dengan tepat ke rumah pemiliknya padahal saat itu mereka sedang studi wisata di Busan.

Juga bagaimana Jaejoong berhasil memberitahu petugas kebun binatang bahwa salah satu beruang mereka mengalami infeksi ringan karena tertusuk paku di kaki.

Sudah pasti kan Jaejoong aneh?

"Kau benar-benar bisa bicara pada binatang? Kau mengerti bahasa mereka?" kali ini Ahra bertanya sambil mengelus Azure yang ada di pelukannya.

"Kalian bicara apa? Mana mungkin aku bisa bicara dengan binatang kan?" gadis itu tertawa geli.

"Tapi kau selalu menebak dengan benar tentang mereka."

Jaejoong tersenyum, "Aku bukan bisa bicara pada binatang, atau mengerti bahasa mereka hanya saja kadang seperti bisa merasakan lewat gerak-gerik mereka." jelasnya.

"Ah.. Itu sebabnya hewan-hewan menyukaimu ya?" ucap Yoonhee ketika teringat tak jarang Jaejoong diikuti dua sampai empat kucing atau anjing setiap berjalan.

Jaejoong tersenyum paksa, ya hampir seperti itulah.

"Kasihan uri Jaejoongie... Justru dipuja para hewan daripada manusia.." Kali ini Jessica berbicara dengan nada prihatin yang dibuat-buat.

"Aku juga tidak mau begini, pabo.." keluh yang dibicarakan tak kalah sedih.

"Salah sendiri kau rata di banyak bagian! Jadi agak susah menarik perhatian laki-laki.." ejek Yoonhee dan Jaejoong mendelik iritasi.

"Pokoknya suatu hari aku pasti mendapatkan laki-laki yang tampan! Harus benar-benar tampan!" tekad Jaejoong membuat teman-temannya tertawa.

"Dan ma-nu-si-a.. Jangan lupa itu, Joongie.. Kami duluan ya, bye!" Ketiga temannya itu sudah berbelok sambil melambai karena hanya arah rumah Jaejoong yang berbeda.

Jaejoong merengut kesal dan mengundang tawa di kejauhan oleh teman-temannya, kemudian ia segera melanjutkan jalannya menuju rumah.

Ya, ia memang selalu menjadi sasaran empuk olok-olok ketiga sahabat baiknya, masalahnya memang Jaejoong belum pernah di dekati laki-laki manapun. Bentuk tubuhnya mungkin yang jadi alasan utama, pasalnya ia sadar bagian manapun dari tubuhnya itu rata, dan tentu saja tidak ada lelaki yang tertarik padanya.

Tapi kalau soal wajah, sebenarnya gadis itu tak kalah dari Jung Jessica, Go Ahra, dan Lee Yoonhee. Jaejoong punya sepasang mata bulat yang lucu sekaligus cantik, kulit bersihnya begitu halus, belum lagi bibir kissable yang imut.

Entah kenapa sampai di tingkat akhir sekolah ia belum menemukan pasangan.

Jaejoong melangkah sambil berpikir-pikir tentang masalahnya ini, saat ia menemukan seekor kucing tergeletak lemah di tengah jalan.

"Astaga! Apa itu bangkai kucing?" Jaejoong yang melihatnya buru-buru menghampiri sosok kucing itu.

Mata kucing itu masih terbuka dan perutnya masih bergerak naik-turun, Jaejoong bersyukur karena kucing itu masih hidup.

"Omo!" Gadis itu terkejut melihat luka di perut dan kaki-kaki kucing itu. Luka-luka ditubuhnya bukan luka ringan, dan itu membuat Jaejoong khawatir.

"Astaga.. Jangan mati dulu ya? Kita harus mengobati lukamu.. Hei.. Tetaplah sadar.." Jaejoong mengangkat kucing yang cukup berat itu dan terpana ketika melihat sepasang bola mata si kucing yang berwarna abu-abu terang.

'Cantik sekali...' pikir Jaejoong.

Ia baru tersadar dari rasa kagumnya saat kucing itu menutup mata dengan begitu lemah.

"Heii.. Tunggu! Jangan mati!" teriak Jaejoong sambil berlari menuju rumah.

.

.

.

Tangan Jaejoong dengan cekatan menempelkan perban, membalutnya lalu merekatkan kedua sisinya.

Begitu selama beberapa kali untuk menutupi luka-luka di tubuh si kucing, ia menaruh peralatannya diatas meja setelah yakin tak ada luka yang terlewatkan. "Selesai! Syukurlah aku cepat, lukamu bisa infeksi kalau terlalu lama. berbaring di tengah jalanan itu." Ucap Jaejoong yang lalu mengelus pelan dahi si kucing.

Ia membiarkan dirinya dan kucing itu berbaring diatas kasur empuknya, mata Jaejoong menatap lekat si kucing. Ia yakin kucing ini jenis ragdoll karena tubuhnya yang cukup besar dengan bulu yang halus dan panjang berwarna hitam. Ujung telinganya runcing, dan Jaejoong tak lupa pada mata abu-abu yang menghipnotisnya tadi. Kucing secantik ini kenapa bisa terlantar dan terluka? Kasihan sekali.

"Eoh?" Mata gadis itu tiba-tiba tertuju pada suatu benda yang melingkar di leher sang kucing.

"Kalung?" Ia baru menyadari ada kalung di leher kucing itu karena sebelumnya tertutup bulu-bulu panjang di leher sang kucing.

Tangan Jaejoong terulur menyentuh bandul di kalung itu yang berbentuk kubus, dan hei... Ada sesuatu tertulis disini!

"U.. Know... 206?" ia mengerutkan dahi.

"Ah! Namamu Uknow? Hai, aku Jaejoong.." Ucap Jaejoong meski tahu kucing itu terlelap.

Uknow pasti mempunyai majikan, tentu saja kan? Mana mungkin ia punya kalung ini kalau tidak punya majikan. Lagipula kucing ragdoll memang bukan jenis kucing liar yang biasa berkeliaran di tong sampah.

"Kalau lukamu sudah sembuh kita cari majikanmu ya?" Lagi, Jaejoong mengelus kepala Uknow membiarkan tangannya tergelitik bulu lembut milik kucing itu.

Entah karena lelah setelah sekolah seharian penuh atau karena suasana sepi dan angin yang menghanyutkan, Jaejoong merasa matanya mulai berat. Dan tak butuh lama sampai gadis itu tertidur lelap.

.

.

.

Jaejoong membuka mata saat jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Ia terkaget dan segera duduk apalagi mengingat bahwa ia belum mengganti seragamnya.

"Uknow—" Jaejoong berbalik untuk melihat apakah kucing itu sudah bangun atau belum tapi matanya justru membulat sempurna karena yang didapati di sisinya bukanlah seekor ragdoll hitam yang cantik melainkan seorang laki-laki tanpa pakaian apapun yang dengan lancangnya tidur diatas kasur itu.

Jaejoong bisa melihat dengan jelas bagaimana bagusnya tubuh laki-laki itu, meski bagian privatnya tertutup oleh selimut yang seingatnya ia beri pada Uknow. Rambut hitam laki-laki itu terlihat begitu halus dan membuat Jaejoong ingin menyentuhnya.

TUNGGU! Ini bukan waktunya untuk terkagum-kagum kan?

Bagaimanapun saat ini di ranjangnya ada seorang laki-laki tanpa pakaian. Catat! Tan-pa pa-kai-an!

"HUAAAAAHHHH!" Gadis itu berteriak sehisteris mungkin hingga laki-laki itu bangun.

Jaejoong bangun, berdiri dipinggir ranjang sambil menatap horor pada laki-laki asing yang saat ini terduduk.

"KYAA! NAMJA MESUM! BAGAIMANA KAU BISA DISINI! CEPAT PERGI!" Jaejoong melempar apapun yang bisa ia gapai ke arah laki-laki itu.

"Hei! Heiii!" Teriak si laki-laki lalu menarik tangan Jaejoong dan menahannya, Membekap mulut gadis itu dengan tangannya dengan ekspresi kesal.

"Bisa diam dulu? Telingaku sakit karena teriakanmu!" bentaknya.

"hhhiahfah hauhh!(Siapa kau?)" Jaejoong yang panik mencoba melepas tangannya tapi laki-laki asing ini terlalu kuat.

"Kulepas kalau kau berjanji tidak teriak lagi?" ancamnya, Jaejoong segera mengangguk.

"Fuahh.." Akhirnya laki-laki itu melepas Jaejoong. Jaejoong sendiri terpaku, ia baru ingat orang aneh—sekaligus sinting di depannya ini tidak memakai apa-apa selain selimutnya.

"Siapa kau? Bagaimana bisa kau disini?"

"Ck.. Kau sendiri yang membawaku kesini."

Jaejoong termangu dengan wajah bodoh, ia tidak mungkin segila itu membawa seorang laki-laki asing yang akhirnya naked diatas ranjangnya.

Ia mengorek telinganya sesaat, "Maaf? Kurasa aku tidak pernah membawa namja mesum sepertimu kerumahku, yang kubawa kerumah hanya seekot kucing cantik berbulu halus dan bermata abu-abu indah." jelas Jaejoong sinis.

"Aku kucing itu!"

Jaejoong kembali termangu, ingin tertawa keras-keras rasanya. "Tuan.. Apa selain mesum kau juga punya gangguan jiwa? Mengaku-ngaku seekor kucing? Kau pikir siapa yang akan percaya?"

Laki-laki itu tampaknya habis kesabaran, ia segera beranjak bangun. "Lihat baik-baik!"

"GYAHHH! APA YANG KAU LAKUKAN?! JANGAN BERDIRI DI DEPANKU!" Jaejoong refleks menutup mata namun kemudian mengintip takut.

Ia shock bukan main saat Uknow disana, berdiri diatas empat kakinya sambil mengeong.

Otak Jaejoong mendadak kosong.

Orang.. Kucing.. Orang.. Kucing.. Orang.. Kucing..

Ia mencoba mengingat lagi apa yoghurt dan sandwich-nya tadi pagi menyebabkan permasalahan pada otaknya, tapi semakin ia berpikir otaknya semakin berat dan akhirnya semua berubah gelap.

.

.

.

"Ukh..." Jaejoong siuman dari pingsannya dan merasa silau karena ia terbaring dengan cahaya matahari sore tepat menerpa wajahnya.

"Kau sudah bangun?"

Jantung Jaejoong nyaris copot saat mendemgar suara itu, ia menoleh dan ternyata laki-laki mesum yang ternyata Uknow itu ada disana. Ia nyata bukan mimpi atau halusinasi Jaejoong.

"Bisakah kau bilang kalau aku masih bermimpi ㅠ-ㅠ"

"Bisakah kau berhenti bicara hal aneh?"

Jaejoong mendelik sebal, "Satu-satunya hal aneh yang terjadi disini itu kau!"

Uknow hanya diam, malas menjawab. Ia justru sibuk membersihkan rambutnya dengan punggung tangan, gesture khas seekor kucing.

"Ck.." Jaejoong beranjak menuju lemari pakaiannya dan mengacak-acak sebentar.

"Ya sudahlah.. Yang penting sekarang kau harus pakai baju dulu.. Aku masih menyimpan pakaian appa disini.." Ia mengambil sebuah kemeja putih dan celana bahan yang semuanya adalah pakaian ayahnya saat di kantor.

"Ini.. Pakai.. Sebelum mataku ternoda lebih banyak.." sindir Jaejoong sambil memberi satu stel pakaian itu.

"Ini milikmu?"

"Tentu saja bukan, itu milik appa.."

"Appamu tidak akan marah?"

"Tenang saja, appaku sudah tidak ada.." Jawab Jaejoong yang kini membelakangi Uknow, agar laki-laki itu bisa memakai baju.

"Sudah.." panggil Uknow agar Jaejoong berbalik, gadis itu agak ragu sebenarnya tapi akhirnya ia berbalik dan ternyata benar, Uknow sudah memakai pakaian tadi. Meski kemeja putih itu terlalu pas di tubuhnya tapi itu lebih baik daripada membiarkan seorang laki-laki telanjang di kamarnya.

"Jadi, Uknow—"

"Panggil aku Yunho ketika aku sedang jadi manusia.." Laki-laki itu tersenyum tanpa dosa dengan posisi duduk bersila namun kedua tangannya ia tumpu berdampingan di pangkuannya sendiri. Lagi-lagi gesture seekor kucing.

"Oke, Yunho.. Sebenarnya kau ini siapa? Dan dari mana?"

"Aku—"

Prang!

Mereka menoleh dan mendapati kaca jendela kamar yang pecah karena sekawanan kucing yang tiba-tiba masuk.

Huh? Jaejoong makin pusing, siapa lagi sekarang yang mencoba cari gara-gara dengannya selain Uknow?

Jaejoong awalnya ingin mengusir kucing-kucing itu, tapi kemudian Yunho menghalangi. "Ikut denganku, kau tidak akan bisa melawan mereka."

"Ng? Hyahh!" tiba-tiba saja tubuh Jaejoong sudah diangkat oleh Yunho. Dengan bridal style ia membawa tubuh Jaejoong keluar, melompati atap demi atap dengan lincah. Jaejoong sendiri hanya terus memegang erat kemeja Yunho agar tak jatuh, sungguh ia takut.

Gadis berambut hitam itu baru berani membuka matanya ketika tahu Yunho sudah menginjak tanah, dengan hati-hati ia menurunkan tubuh Jaejoong dan menyuruhnya bersembunyi di balik sebuah pohon.

"Tetap disana kalau kau tidak mau terluka!" perintah laki-laki itu, Jaejoong mengangguk patuh karena takut. Kawanan kucing-kucing yang jumlahnya tidak sedikit itu mengepung Yunho, Jaejoong baru sadar mata mereka merah menyala tidak seperti kucing biasa.

"Kemari.. Hadapi aku!" Lagi-lagi Jaejoong harus melotot takjub saat kuku di tangan kanan Yunho memanjang lalu dengan begitu mudahnya ia melawan kucing-kucing mengerikan yang mencoba menyerangnya.

Satu persatu tubuh kucing-kucing itu terpental begitu saja, terluka parah pastinya karena serangan Yunho yang tidak bisa dianggap remeh.

'Sakit..'

'Tolong berhenti'

'Kami tidak ingin begini'

'Kami tidak tahu kenapa tubuh kami bergerak sendiri.'

Jaejoong menatap tubuh-tubuh kucing yang tergeletak tak berdaya. Suara apa itu? Apa mereka baru saja bicara padanya?

Jaejoong merasa ini salah, Yunho tak boleh melukai lebih banyak lagi.

"Berhenti!" Jaejoong memberanikan diri melangkah dan menghalangi Yunho namun itu berarti ia menjadi tameng penerima cakaran dari kucing-kucing itu.

"Arkhh!"

"H-hei!" Yunho berniat menarik tubuh Jaejoong yang mulai limbung karena punggungnya yang terluka, tapi kemudian gadis itu justru mengulurkan tangannya kepada salah satu kucing.

"Sudah hentikan saja.. Kalian tidak mau melakukan ini kan?" tanpa takut, Jaejoong mendekatkan tangannya pada kucing itu, Yunho yang menjaga jarak hanya menatap khawatir namun bisa ia jelas bagaimana mata merah menyala kucing itu perlahan berubah menjadi normal hanya karena sentuhan tangan Jaejoong dan sang kucing justru menjilat tangan Jaejoong dengan sangat jinak.

Ia melotot kaget dengan kejadian itu.

"Ba-bagaimana—"

Tapi Yunho sepertinya masih harus memfokuskan diri pada serangan kucing-kucing lain, kali ini tanpa menyerang atau melukai mereka, Yunho justru memilih untuk menghindar lalu segera menangkap tubuh Jaejoong. Ia kembali membawa Jaejoong melompat ke sebuah ranting lalu kembali menghindari kawanan kucing-kucing itu.

"Lebih baik kita menghindar, aku tidak mau melukai mereka lagi.." ucap Yunho tanpa melihat Jaejoong yang mengukir senyum simpul.

Sementara jauh di belakang mereka, kawanan kucing itu tak lagi mengejar setelah seorang laki-laki dengan jubah lab datang.

"Cukup.. Kita masih punya banyak waktu untuk menangkapnya, biarkan saja dia bernafas untuk satu hari." ucap laki-laki itu dan kucing-kucing tadi pun mematuhinya.

"Uknow 206... Jangan harap kau bisa lolos dariku." desisnya.

.

.

.

"Syukurlah mereka sudah tidak mengejar.." Ucap Jaejoong ketika mereka sampai di sebuah gang sempit yang sepi.

Gadis itu menoleh ke belakang, tidak mendapati satupun dari kawanan kucing-kucing itu yang mengejar. Ia sungguh bersyukur.

"Kemana mereka?" tanya gadis itu.

"Mungkin sudah kembali ke tempat mereka, daripada itu lebih baik urus lukamu dulu." ucap Yunho dingin.

Jaejoong meringis, benar.. ia hampir lupa kalau punggungnya terluka cukup parah.

"Ahaha.. Ini tidak apa-apa, setidaknya mereka tidak banyak terluka lagi.." jawab Jaejoong membuat Yunho menatap dengan tatapan yang sulit terbaca.

Laki-laki itu mendekati Jaejoong, membawanya berbalik dan secepat itu pula ia menarik kemeja Jaejoong hingga sobek. "Hyahh! Apa yang kau lakukan?!" teriaknya panik sambil menahan agar baju di bagian dadanya tidak terjatuh.

Yunho tak menjawab apa-apa, ia hanya berlutut. Itu yang terakhir kali ia tahu sesaat sebelum merasakan sebuah benda yang lembut dan basah memyentuh luka-luka di punggungnya.

"Ngh!" Jaejoong mendongak saat ada rasa aneh yang menjalar di tubuhnya ketika berasumsi bahwa kini Yunho tengah menggunakkan lidahnya di permukaan kulit lembut Jaejoong.

Dadanya bergemuruh sekaligus terasa panas, begitupun bagian yang disapu oleh lidah terampil itu. Jaejoong bahkan nyaris mengeluarkan desahan nista kalau saja ia tidak segera menutup mulutnya sendiri.

Anehnya setiap inchi luka gores di punggungnya kini tak lagi terasa perih. Sakit itu berangsur-angsur menghilang. Gadis itu terdiam takjub sampai saat Yunho membuka kemejanya dan memberinya pada Jaejoong.

Laki-laki asing itu menegakkan tubuh dan menatap Jaejoong yang memakai kemeja tadi.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya pemuda kucing bermata abu-abu itu.

Jaejoong mengangguk tanpa menatap Yunho, bola matanya terus bergerak gelisah ke segala arah asal jangan menatap pada bola mata abu-abu itu.

Namun ia bisa lihat dari ujung matanya bahwa Yunho kini tersenyum.

"Namamu?" tanyanya singkat.

Gosh... Ia bahkan lupa memberitahu namanya, "J-Jaejoong.. Kim Jaejoong.." jawabnya ragu—sekaligus malu.

"Jaejoongie ya...? Tidak kusangka akan bertemu secepat ini denganmu."

Gadis itu akhirnya menatap Yunho karena bingung. Bola matanya mengerjap polos seolah berkata 'Apa?' dengan begitu imutnya.

"Aku mencarimu.." Yunho melangkah saat Jaejoong ikut mundur selangkah.

Perasaannya mendadak jadi tidak enak.

"Aku mencari orang yang akan membantuku membuat kerajaan kucing..'

Jaejoong melotot.

Cup!

Namun belum sempat ia protes, ia justru dihadiahi sebuah ciuman kilat di bibir oleh Yunho. Meski sekedar kecupan, itu cukup membuat Jaejoong shock bukan main.

"Sudah kuputuskan kau yang akan melahirkan anak-anakku dan kita akan buat kerajaan kucing!" ucap laki-laki itu ceria.

Jaejoong hanya ingat wajah bodoh Yunho dan cengiran menyebalkannya sebelum akhirnya semua menjadi gelap.

.

Jaejoong pingsan.

.

.

.

To be Continued.

.

ff baru lagi ㅠ-ㅠ

maafin saya tapi udah lama banget pengen posting ini. Hold Me, UKnow! gak lama kok cuma 4-5 chapter aja dan udah saya ketik 3 chapter.

Sekarang saya serius kok ngelanjutin Secretive J ama Good Night yg udah masuk chapter terakhir, sabar ya... ^_^"

Minat lanjut?

Anyway, thanks ^^

seeya~!