Tittle: Geudaeman Boyeoyo (I Only See You)
Author: cnboicegirl
Rating: PG-17
Genre: Romance, Family
Length: Chaptered
Cast: Jung Soo Jung [f(x)] and Kim Jong In [EXO]

Support: Ahn Jae Hyun [Model-Actor], Choi Sulli [f(x)], Oh Se Hun [EXO] and Park Ji Yeon [T-Ara]
Disclaimer: terinspirasi dari drama-drama korea dan FF lain.
Note: Ini FF pertamaku tentang Kaistal~~ Maaf ya kalo jelek: Mohon jangan menjadi silent readers ya.. Gomawo^^

Buat chapter ini soundtracknya "Bye - Taeyeon", kusaranin dengernya pas agak akhir aja biar makin ngena~ btw, sengaja judul chapternya disamaain, soalnya bingung sih mau dinamain apa~.~ehehe, yaudah deh pokoknya,
SELAMAT MEMBACA!~


"Akankah kebahagiaan berpihak pada kita? Melihat selama ini kau menyembunyikan lukamu, membuat hatiku sakit. Kau tidak tahu orang seperti apa dirimu bagiku. Kau tidak tahu seberapa berartinya dirimu. Kau tidak tahu seberharga apa hariku saat semua orang berkerumun, yang kulihat hanya dirimu. I Only See You." I Only See You, Kwon Jin Ah


안녕Bye

"Aku lolos! Aku lolos, Jung! Aku akan menjadi aktor!" Jongin memelukku ketika ia baru saja melangkahkan kakinya ke dalam cafe tempat kami menghabiskan banyak waktu bersama. "Benarkah?" tanyaku antusias. Aku balik memeluknya. Aku senang, karena impiannya menjadi aktor terpenuhi. "Chukhae, Jongin-ssi." kurasakan pelukannya terlepas. "Mwoyaaa ige?" Ia mengerucutkan bibirnya. Aku mengerutkan alis menatapnya cemberut padaku. "Kau melakukannya lagi." ujarnya, melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa? Aku melakukan apa?" tanyaku menatapnya. "Itu. Kau memanggilku -ssi. Memangnya aku siapa? Seorang ahjussi yang baru kau kenal?" Ia masih mengerucutkan bibirnya, sangat lucu. Aku tertawa lepas. "Ya. Kau ahjussi. Tapi kurasa aku sudah mengenalmu sepanjang hidupku." jawabku usil dengan mengerlingkan sebelah mataku. "Yak! Kau anggap apa hubungan kita selama ini, huh?" ia berusaha marah tetapi aku tahu, ia hanya memerankan perannya dengan baik. Memangnya dia saja yang bisa akting? Hey, aku juga akan menjadi aktris, tahu!

Aku ikut melipat tanganku di depan dada. "Oh, apakah aku lupa bilang kalau aku hanya ingin kita menjadi teman? Apa kau ingin aku menegaskan kalau kita hanyaㅡ"

"Yak! Yak! Jung ahjumma! Kau sangat pintar akting rupanya!" Ia menatapku dengan mata nakalnya, oh jangan lupakan smirknya itu. Aku tertawa anggun. "Ya tentu saja Jong ahjussi. Memangnya hanya kau yang akan menjadi seorang aktor?ㅡ"

"Apa? Kau akan menjadi aktor?" tanyanya terkejut. "Kau kan perempuanㅡ" aku memutar bola mataku malas. "Hei, yang benar saja. Aku akan menjadi aktris, tuan Jong." jawabku dengan nada sombong. "Oh, really?" tanyanya dengan aksen inggris-korea yang dilebih-lebihkan. Aku pura-pura muntah saat mendengarnya mengucapkan sepatah kata inggris yang sangat jarang digunakannya. "Kau menggunakan kata akan, nyonya Jung. Itu berarti kau belum menjadi aktris, tapi akan." Ia menatapku dengan pandangan kemenangan. Membuatku suka-tapi-tidak-suka melihat pandangannya itu. "Tapi kau juga belum menjadi aktor, tuan Jong." ucapku cemberut.

"Hahaha, tidak lagi, nyonya. Aku akan segera menandatangani kontrakku dengan SM Entertainment dan menjadi aktor. Aku bahkan sudah ditawari memainkan peran utama dalam drama romance di stasiun TV SBS. Keren bukan?"

Aku memelongok mendengar ucapannya. "Kau bercanda... Kau membohongiku kan?" Aku menatapnya tajam. "Tidak, sumpah aku serius! Aku akan main dalam drama beken!" ujarnya dengan binar mata yang terlihat jelas memancar. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan, menahan luapan kebahagiaan yang rasanya akan meledak dalam hitungan detik. "Jongin, kauㅡ"

"Ya, aku memang hebat, haha!" Ia melebarkan tangannya ke samping. "Ingin memelukku?" tanyanya dengan pandangan nakal yang sangat kusukai itu. "Tentu saja! Oh!ㅡ" aku menghambur ke dalam pelukannya. Ia memelukku dengan erat. Tawanya terdengar jelas di telingaku. "Aku sangat bahagia untukmu, Jongin-ah." ucapku tulus. "Terima kasih, Jung." ucapnya yang sama tulusnya dengan ucapanku tadi, atau lebih tulus?

"Tapi kabar buruknya." ia melepaskan pelukannya dan menatap mataku. Seketika sekelebat pikiran buruk dan juga resah hinggap di hatiku saat melihat binar matanya hilang. "Aku akan sangat sibuk. Bahkan aku akan tinggal di dorm bersama aktor-aktor baru lainnya. Kau tahu, melakukan pelatihan ini-itu." katanya dengan wajah murung.

Aku menggigit bagian bawah bibirku. Seketika merasa ragu. "Apa... kau akan baik-baik saja?" suara Jongin yang terdengar tidak yakin menambah keraguan dan kekhawatiranku. Aku menatap matanya yang menatapku dengan cemas. Aku memejamkan mata sejenak, lalu membukanya dan tersenyum. "Ya." aku menjawab dengan mantap dan berusaha agar jawabanku terdengar semenyenangkan mungkin. "Tentu saja aku akan baik-baik saja. Kau pikir aku akan meraung-raung memintamu untuk tetap tinggal dan menghancurkan impianmu sejak kau-masih-telanjangㅡ"

"Hei! Kapan aku telanjang di depanmu!" ia berteriak protes dengan wajah memerah. Hahaha, lucu sekali. "Saat kau berumur 5 tahun, bodoh." ucapku dengan suara geli. "Oh." ia menatapku malu dan segera mengalihkan pembicaraan. "Jadi kau benar-benar tidak apa-apa?" tanyanya. Aku mengangguk, dan yakin yang ini lebih terlihat mantap. "Iya, aku yakin." jawabku. Ia tersenyum lalu menarikku dalam pelukannya. Aku menerima pelukannya dan tenggelam di sela-sela lehernya. Kami berpelukan cukup lama. Sama-sama berusaha untuk menghirup apapun yang dapat kami hirup agar ingatan kami satu sama lain akan abadi atau setidaknya bertahan lama.

Aku menghirup aroma maskulinnya yang entah kapan lagi akan aku hirup aroma yang sama di masa yang akan datang.

(Silahkan putar soundtracknya!~)
"Aku akan pergi besok." ucapnya tiba-tiba. Membuatku menegang. Secepat itukah? Aku hanya diam. Kurasakan mataku mulai berair. Astaga, aku tidak boleh menangis di saat-saat seperti ini. Aku mengeratkan pelukanku pada Jongin. "Aku akan sangat merindukanmu." bisikku. Ia mengangguk, "Aku juga. Sangat-sangat."

Aku menghirup napas dalam-dalam. Mengapa sekarang bernapaspun terasa sangat sakit? Aku melepaskan pelukannya dan memandang matanya. "Kita akan bertemu lagikan?" tanyaku pelan. Jongin tersenyum menenangkan, "Tentu saja. Kita berdua masih sama-sama di Seoul, tidak susah untuk bertemu. Lagipula, apa fungsinya sebuah ponsel, huh?" Ia menyeringai, yang semakin membuatnya terlihat tampan.

"Ya, kau benar." Aku menyisir rambut hitam Jongin dan merasakan lembut rambutnya. "Aku akan pergi sekarang." ucapku, mengambil tas yang berada di sampingku. Ia mengangguk dan berdiri, mengantarku ke depan cafe.

Aku menatapnya untuk yang semoga-bukan-terakhir-kali dengan hati yang terasa teriris dengan pisau-pisau tak kasat mata. Aku tersenyum dan melambaikan tangan padanya sambil melangkah pergi.

Aku membalikkan badanku dan menghela napas berat. Kurasakan Jongin masih menatapku dari kejauhan. Entah kapan aku akan bertemu dengannya lagi. Aku mengusap air mata yang tiba-tiba menetes tanpa bisa dikendalikan. Apa-apaan ini? Tidak seharusnya aku menangis.

Sebuah tangan tiba-tiba menarik lenganku ke belakang, membuatku berputar. Kudapati Jongin menarik sisi-sisi pipiku mendekat dengan kedua tangannya dan mendaratkan bibirnya pada bibirku. Kejadiannya begitu cepat hingga aku tak tahu ini kenyataan atau tidak.

Namun, bibir Jongin yang mengulumku lembut membuatku tahu kalau ini adalah kenyataan. Jongin mengulum bibirku dengan kelembutan yang menumbuhkan bunga-bunga dalam hatiku, hingga membuatku sesak oleh kebahagiaan. Jongin menghisap bibirku seakan-akan ia mendapatkan sebuah sari-sari madu jika ia melakukannya. Aku membalas ciumannya. Aku tidak ahli dalam hal ini. Bahkan ini adalah ciuman pertamaku. Ya, Jongin tidak pernah menyentuhku, hanya sekedar pelukan atau kecupan-kecupan ringan di dahi dan pipi. Aneh bukan? Padahal kami sudah menjalin hubungan selama 2 tahun.

Tapi aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Selama kami saling mencintai, itu sudah cukup bagiku.

Aku mencengkram ujung bajunya, menahan semua gairah yang ia berikan. Tidak, aku harus menghentikan ini sebelum semuanya semakin parah. "Jongin, akuㅡ"

Aku melepaskan ciumannya dengan napas tersengal-sengal. Jongin menatapku dengan wajah memerah. "Ma-maafㅡakuㅡ"

"Jangan. Jangan meminta maaf." ucapku dengan lembut. Aku tersenyum melihatnya gugup. Semua orang tahu kalau Kim Jongin sangat pemalu menghadapi wanita. Termasuk aku, walaupun itu dulu. Jongin menggaruk tengkuknya dengan salah tingkah. "Ak-aku hanya ingin membuat kenangan yang sangat berarti buat kita. Sebelum aku pergi." ujarnya masih menunduk malu. Aku meraih tangannya yang bebas. "Tidak apa-apa. Aku mengerti. Sejujurnya... aku senang kau melakukan itu padaku." ucapku tersenyum menenangkan. Ia mengangkat kepalanya dan ikut tersenyum. "Terima kasih, Jung." Ia menatapku, dan aku senang ia menatapku seperti itu. Aku merasa sangat dicintai dengan pandangannya itu.

"Baiklah, aku akan segera pergi sebelum aku berubah pikiran dan menahanmu pergi." ujarku tersenyum jahil. Jongin menyeringai, "Aku tak keberatan sebenarnya. Kau boleh menculikku." katanya membuatku tertawa. "Oh, tidak Jongin! Jangan! Nanti aku akan benar-benar menculikmu!" Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan tawa kecil. Aku melepaskan genggamanku dan berjinjit, mencium pipinya. "Sampai jumpa lagi, Jongin ahjussi." Aku membungkuk 90 derajat di hadapannya dan melambai-lambaikan tangan. Ia membalas lambaian tanganku dan berteriak, "Jangan lupa telepon aku ketika kau sampai-dimanapun kau berada!" teriaknya. Aku tertawa, "Tentu saja kalau aku tidak sibuk!" balasku jahil dengan mengerlingkan mataku. Aku membalikkan badanku dan berlari kecil menuju halte bus.

Hari ini adalah hari tersedih dan terbahagia sekaligus yang pernah kualami.

Annyeong nae sarang, Jongin-ah.

To be continued


Heyya! Ini cerita pertamaku di sini dan ff pertamaku ttg kaistal~ kkk. Aku gatau ini bakal ada yg baca apa ngga soalnya rata2 di sini banyak yg yaoi~.~ kkk. Jangan lupa reviewnya ya:)