Everytime You Kissed Me: Extra Drabble © Park Hyesung
The Artist Characters not mine but this Fict and OCs is mine
Enjoy Reading! ^^
.
.
.
Extra Drabble
Somehow
.
.
.
Sore itu, KA grup baru saja pulang dari kegiatan klub musik. Yukari bergegas ngacir menerjang kulkas di dapur sedangkan Song Brothers lebih memilih berlalu ke lantai dua.
Raut wajah Yukari tak ada bedanya dengan seseorang yang baru menemukan sesuatu yang menjijikkan. Lecek. Didorongnya pintu kulkas tersebut kemudian menuang air dingin ke dalam gelas.
Lantas ia berteriak nyaring, "Kyu, Franca, Sungmin-ah! Kenapa kulkasnya kosong?" Lalu Yukari berinisiatif membedah isi lemari-lemari yang menggantung menempel di dinding.
Balas berteriak dari ruang tamu, Franca merespons, "Yesung oppa dan Ryeowook oppa baru saja pergi ke supermarket! Kau tunggu saja sebentar!"
Yukari tertohok. "Mereka pergi berdua? Hidoii! Harusnya mereka menungguku." Umpat Yukari, menghempaskan diri ke atas kursi.
Helaan napas terdengar. Karena hawa musim panas masih saja menggila, Yukari melepas beberapa kancing kemejanya, mulai mengipas-ngipas menggunakan tangan.
"Panasnya..."
Tak sampai lima menit, pintu utama tempatnya tinggal terbuka lebar.
"Aku pulang." Suara baritone dan tenor berpadu menjadi sesuatu. Bunyi gesekan riuh kantung menjadikan tanda bahwa mereka berjalan menuju dapur.
Tanpa menoleh, Yukai menyahut. "Okaeri, minna-san."
Namun reaksi pertama Yesung yang berhasil dilihatnya adalah api berkobar—marah besar. Dengan cepat ia berjalan mendekat dan melempar kantung belanjaan ke tubuhnya.
"Dasar bodoh! Kancing bajumu! Di sini banyak namja, gila! Kau punya harga diri atau tidak, idiot?!"
Jleb. Tombak imajiner menusuk ke tempat yang benar. Tepat ke jantungnya.
Beruntung Ryeowook cepat-cepat masuk dan memunggut barang-barang yang berserakan. Mencegah terjadinya pelemparan barang. Lantas membela Yukari, "Astaga, Yesung. Perhatikan cara bicaramu. Yukari kan—"
"Ini semua karena kalian gay! Gay! Perlu ku eja? G-a-y. Gay! Buat apa aku takut berseksi ria kalau semua namja di rumah ini orientasi seksualnya gay semua?" Potong Yukari, menyerocos seraya bersedekap tak mau kalah.
Emosi Yesung mentok seketika. "Oke, terserah kau saja. Tapi Hikari masih berorientasi biseksual! Aku masih peduli padamu jadi camkan kata-kata ku ini."
"Huh. Biar saja dia biseksual. Setidaknya aku yakin dia lebih mencintai Kage daripada aku. Kau puas?"
"Otakmu di mana hah? Itu 'kan masih setidaknya, wanita idiot!"
"Apa? Kenyataanya memang begitu 'kan? Kenapa kau menyangkal terus? Aku tahu kau peduli tapi kau tidak berhak mengaturku!"
"BERISIK!" Ryeowook muncul di tengah, melerai mereka sejauh mungkin. "Kalian pikir kalian umur berapa? Malu sama diri sendiri! Terserah Yukari—dia mau apa, kau juga. Cukup jangan campuri urusan masing-masing. Mudah 'kan?"
Omelan Ryeowook berhasil menyurutkan atmosfir tegang tadi. Yukari memilih kembali duduk, meraih sebungkus roti di atas meja sedangkan Yesung menempatkan diri jauh dari kursi gadis itu.
Ryeowook akhirnya bisa bernapas lega. Ia berpikir segelas jus dan kopi bisa menenangkan jiwa mereka sehingga ia bergegas membuatnya.
Sementara suasana sunyi menggelayuti dapur—tentu saja terkecuali bunyi balikkan halaman buku yang Yesung dapatkan dari Sterben, denting beradunya sendok dan gelas, juga decit bungkus roti Yukari, tiba-tiba satu gagasan masuk ke otak gadis tersebut.
"Yesung," Yukari berdiri, menyodorkan sobekan roti di tangannya.
Alis namja itu bertaut. "Apa?"
"Kusuapi. Habis itu bagi ke Ryeowook dari mulut ke mulut." Jelas Yukari polos.
Ryeowook maupun Yesung bingung mau bereaksi apa.
"Kurasa telingaku sudah kotor." Yesung pura-pura mengorek telinganya. Yukari langsing cemburut dan mengulangi kata-katanya.
"Sini, kusuapi. Habis itu bagi ke Ryeo-kun dari mulut ke mulut. Mudah 'kan?"
Cengkraman Ryeowook pada cangkir mengerat. "Y-Yukari-san, itu berlebihan untuk ukuran berbagi."
"Hee?" Sahutnya kecewa. Manik Yukari berputar haluan pada Yesung—yang tampak tenang. "Yesung-kun, kau tak mau? Ha! Sudah kuduga! Dasar penakut. Inikah sikap penyihir tertangguh saat menerima permintaan? Cih, murahan."
"Kau yang meminta."
Sret! Tiba-tiba saja Yesung bangkit, meraup ujung potongan roti di jari Yukari dan mempertahankannya di mulut sampai berhadapan dengan Ryeowook.
"Whoa, pesonamu, Yesung." Takjub Yukari. Berbalik secepat kilat dan mengatur jarak dari pasangan itu.
Lihat bagaimana Yesung bertindak. Sangat mempesona—pandangan sendu, dua tangan yang disembunyikan dalam saku kemudian kepalanya yang menunduk dalam agar dapat melihat ekspresi Ryeowook...
Sungguh, jantung Ryeowook sudah berdebar gila semenjak tadi. Dengan pipi memerah, Ryeowook mencicit, "Yesungie, kau tidak serius 'kan?"
Ryeowook mundur selangkah, Yesung maju selangkah. Tubuh sang namja mungil meremang, "Y-Yesung?"
Mereka terus berbuat begitu hingga Ryeowook tak dapat bergerak kemana-mana lagi. Yesung sukses menghimpitnya ke pintu kulkas.
"Y-Yesung... H-Halo? Kau masih sadarkan—" Pertanyaan Ryeowook termakan oleh raupan bibir Yesung. Sensai lembut roti segera memenuhi rongga mulutnya kala lidah Yesung mendorongnya.
Tak menunggu lama, lidah dan gigi Yesung menghancurkan potongan roti coklat itu menjadi beberapa bagian dan menyalurkannya pada Ryeowook.
Lelehan coklat memenuhi lidahnya, bercampur bersama saliva hingga lengket. Wajahnya semakin memerah padam. Dari lirikannya yang lemah, ia bisa melihat Yesung mengaitkan jari mereka, kemudian meletakkannya di samping kepala.
Di sisi kanan, Yukari tampak serius merekam gerak-gerik penuh gairah mereka. Ia bahkan berusaha kuat agar tak memekik bahagia. Bayangkan, live perfomance ada di depan matanya! Semua fujoshi juga bakal gembira kalau ada kejadian seperti ini!
Menyadari itu, Ryeowook mengerang lemah. Berusaha mendorong Yesung agar dapat berbicara namun seperti yang semua orang tahu, kekuatan fisik Yesung lumayan kuat. Itu sia-sia saja.
Lagipula, Yesung salah mengira erangan itu sebagai permintaan. Tak salah kalau mulutkan semakin gemas memainkan dua belah bibir itu.
Ekspresi Ryeowook sudah tak terkatakan lagi. Dia pasrah, turut membalas permainan Yesung sebisanya.
Pria bersurai hitam itu diam-diam membuka kelopaknya, mengintip raut wajah Ryeowook. Sejenak Yesung menghentikan ciumannya, memberi kesempatan agar dapat mengambil napas meski tak menjauhkan bibirnya.
Iris Ryeowook yang sayu terbuka perlahan. Seolah menyiratkan sorot permohonan agar berhenti. Tapi itu justru membangkitkan hasrat Yesung.
Pelan-pelan, tangan Yesung merambat ke tengkuknya. Menekannya dan kembali menghisap mulutnya dengan gerakan lebih lembut. Sesekali menggigit bibirnya sebagai suatu keisengan lalu Ryeowook akan mengeluarkan erangan lemah.
Yesung tak tahu kenapa namun yang pasti, ia merasa semakin senang memperlakukan Ryeowook seperti. Ia senang mendengar Ryeowook mengerang dan melenguh karena dirinya. Ia senang perhatian Ryeowook tertuju padanya.
Ia senang telah mendapatkan cinta Ryeowook dan telah mencintai namja itu sepenuh hatinya.
Detik berganti menit, Yesung menjauhkan wajahnya ketika benar-benar merasa puas. Tak terhitung berapa banyak benang saliva yang terjalin. Yesung memejamkan mata, menjilatnya sedemikian rupa hingga cecerannya di dagu.
Tak bisa dijelaskan lagi semerah apa dan setegang apa Ryeowook sekarang. Bahkan kakinya kini gemetar hebat, membuatnya terhuyung ke depan, jatuh ke dalam pelukan Yesung.
Pria itu menangkapnya dengan baik, langsung menempatkan muka namja itu ke dadanya.
Satu lirikan, seulas senyum seringai terbentuk. "Kau puas, Yukari? Kau puas mengganggu privasiku?"
"Dan aku menang banyak, Ye-kun." Yukari yang duduk di atas meja dengan pose seksi menggoyangkan ponselnya, menjukurkan lidah lantas kembali mengipasi badan. "Ah, mungkin selanjutnya pakai es krim saja biar seru!"
"Oh, hajima!" Erang Ryeowook, menenggelamkan wajahnya malu.
"Muri dayo, Ryeo-kun. Aku masih ingin melihat OTP-ku berakhir. Ah, apakah harus kupanggil Song Brothers?"
"Yukari, kubilang tidak!"
"Hikari-kun, Kage-kun~ Ayo, kita main!"
"Yukari!"
.
.
.
A/N:
Lol, saya nggak nyangka bakal buat beginian. Terima kasih atas teman-teman saya yang mau aja meladeni saya di dunia nyata. Special thanks for SoraKazu a.k.a LangitKeju! Kkk
Dan... Ini sebenernya drabble iseng aja. Cuma extra story yang gak ada kaitan langsung sama inti cerita www Yah, semoga aja ada ide lain menyusul buat drabble ini, atau, ya sampai di sini saja :3
Last, mind to review? ^^
