RISE UP THE PHANTOM
THE STORY BY ICHA REN
UPLOAD BY MERCE-SAN
GENRE: Mystery, Horror, Sci-Fi
Rate: T
Naruto By Masashi Kishimoto
Warning: Abal-abal, Gajeness, Anehness, and many more
.
.
Enjoy it
Chapter 1: Tetranium
"Sekian dari saya, selamat siang."
"Siang sir,"
Uzumaki Naruto dengan cepat meninggalkan kelas mengajarnya dan melangkahkan kakinya menuju lorong utama Tokyo University. Dosen muda berumur 25 tahun tersebut membetulkan kacamata yang terletak di depan iris birunya. Naruto memegang erat empat tumpuk buku di antara apitan lengan dan rusuk kanannya sambil memandang cepat aula utama universitas bergengsi tersebut. Beberapa mahasiswa menyapanya dengan sapaan selamat siang dan disertai senyuman. Naruto membalas seperlunya dan sesekali menganggukkan kepala.
Naruto berjalan keluar dari gedung utama dan berjalan menuju gedung khusus rektorat dari Tokyo University yang berada 100 meter di depan gedung utama dan dipisahkan oleh halaman yang memiliki kolam dengan air mancur yang elegan. Beberapa teman dosen sang Uzumaki menyapa dengan ramah, Naruto tersenyum membalas sapaan itu. Tak terasa kakinya kini berdiri di depan gedung rektorat dari Universitas besar tersebut.
"Pagi sir,"
"Pagi," Naruto membalas sapaan sang penjaga gedung rektorat dengan senyuman semangatnya. Beberapa dosen menganggukkan kepala kepada Naruto dengan hormat, Naruto mengikuti anggukan kepala tersebut dan membalas tersenyum ke arah mereka. Sang Uzumaki kini berdiri di depan pintu berwarna coklat terang dengan ukiran mewah di tepi pintu. Pintu sang rektorat, Nona Senju Tsunade pasti sudah menunggunya.
"Permisi," Naruto mengetuk perlahan pintu tersebut.
"Silahkan masuk."
Suara sang rektorat yang begitu halus namun tajam membuat Naruto dengan cepat membuka pintu dan menutupnya dengan sigap. Nona Tsunade sedang duduk di mejanya sambil menandatangani tumpukan kertas yang membuat kepala Naruto sedikit sakit. Di sampingnya sedang berdiri asistennya, Nona Shizune sambil menerima file-file kertas yang sudah ditandatangani. Di depan Tsunade duduk seorang mahasiswa dengan gaya rambut yang agak sedikit mencolok, chicken butt style. Uchiha Sasuke, mahasiswa tahap akhir S2 yang akan menjadi sejarah hebat Tokyo University.
"Lama Dobe,"
Naruto memasang wajah sweatdrop.
"Bisa tidak kau sopan kepada dosenmu Teme, lagipula aku sedang ada jam mengajar."
"Umur kita hanya terpaut 3 bulan dan aku sedang menuju titel Magister tahap akhir, jangan membuatku tertawa dengan gelar dosenmu itu,"
"Pfft, yang penting aku lebih cepat lulus daripadamu!"
"Itu karena Tesismu begitu menggelikan,"
"Coba saja katakan itu lagi Teme, tanganmu akan kuputuskan!"
"Tanganmu dulu yang akan kuputuskan Dobe,"
"Hentikan ocehan tidak berpendidikan kalian Sasuke, Naruto..." Tsunade menaruh pulpennya di atas meja dan merenggangkan badannya sejenak. "Kalian pasti sudah tahu kan tentang masalah ini? Lagipula kau akan membuatkan Tesis tentang hal ini kan, Sasuke?"
Uchiha Sasuke menopang dagunya di atas meja dan menatap tajam Tsunade. Onyx kelamnya yang begitu tajam sanggup membuat orang-orang lemah bergetar ketakutan.
"Hn, dan juga tentang Itachi..."
Tsunade menganggukkan kepalanya. Matanya memandang Naruto dengan serius.
"Kau paham akan hal ini Naruto? Sebagai salah seorang dosen terbaik di Tokyo University dan sahabat Uchiha Sasuke, kalian berdua akan dihadapkan pada masalah yang cukup serius."
Naruto menganggukkan kepalanya. Dia membuka tas kerjanya dan membuka sebuah gulungan peta berukuran sedang.
"Pulau Okizawa, terletak 100 Km dari Tokyo dan sebuah pulau terpencil yang menjadi pusat penelitian tentang Unsur Radian baru bernama Tetranium." Kata Naruto dengan wajah serius.
"Unsur yang berasal dari Laut Kaizeka. Titik didihnya hanya -14 derajat celcius dan di Laut tercampur bersama NaCl kristal sebagai gas hijau." Sasuke menambahkan perkataan Naruto sambil onyx kelamnya memandang peta yang telah dibuka Naruto. Ada sebuah tanda silang merah di dekat Kepulauan Jepang dan itu adalah Pulau Okizawa.
"Bisa dikatakan Tetranium adalah sebuah prospek besar untuk negara kita, dan sebuah terobosan baru untuk Tenaga Nuklir kita. Tidak seperti Uranium yang dapat menyebabkan kanker karena radian karsinogenik berbahayanya, Tetranium dikatakan tidak mempengaruhi penduduk di sana," Tsunade tersenyum puas "Universitas kita mendapat penghormatan untuk terjun langsung dalam penelitian yang sedang berkembang ini."
"Tapi, bagaimana dengan laporan Itachi?" tanya Sasuke dengan tajam. "Dia adalah salah seorang mahasiswa hebat di sini, dan kau mengirimnya saat pusat penelitian Tetratnium pertama kali dibangun. Aku pernah membaca kiriman arsipnya di ruang penyimpanan khusus Universitas ini. Kau seperti tidak menggubrisnya Tsunade?"
Tsunade terdiam.
"Itachi melaporkan sebanyak 14 laporan, dan laporan terakhir yang kubaca adalah bahwa Itachi mengatakan ada sedikit perubahan pada sikap penduduk dan para pekerja di pusat penelitian Tetranium. Lalu juga ada beberapa perubahan aneh pada fisik para penduduk di Pulau Okizawa. Itachi pada saat itu membuat hipotesis pada laporan keempat belasnya," nada Sasuke sedikit lebih meninggi. Naruto menahan napasnya.
"Hipotesisnya adalah bahwa Tetranium sebagai Unsur Radian ternyata memiliki sifat yang berbahaya bila digunakan. Dan setelah itu dia tidak mengirim laporan dan dilaporkan sebagai orang hilang,"
"Anehnya..." Naruto menggaruk belakang kepalanya "...Kenapa pemerintahan Jepang seperti mengisolisir pulau tersebut. Bahkan dari pihak Universitas seperti angkat tangan-"
"BUKAN BEGITU!" Tsunade berdiri dari kursinya dengan wajah sedikit memerah karena menahan amarah.
"Inilah kenapa kalian berdua akan ke sana. Pemerintah Jepang langsung meminta tolong kepada kita, sebagai Universitas terbaik di Jepang untuk menyelidiki hal aneh di Pulau Okizawa. Mereka memintaku untuk mengirim para orang terbaik dan jenius dari Universitas ini dan akan dibentuk tim khusus di sana,"
"Kenapa tidak satu lusin tentara saja yang dikirim di sana? Lebih mudah?" kata Naruto dengan nada sedikit bertanya. Uchiha Sasuke mengangkat alisnya perlahan.
"Dua tahun yang lalu, atau empat tahun setelah hilangnya laporan Itachi dan Itachi sendiri, pemerintah Jepang mengirim 4 peneliti dan 12 tentara elit yang ditugaskan sebagai koordinir di pulau tersebut. Mereka melaporkan bahwa tidak ada yanga aneh di Pulau Okizawa. Laporan biasa itu terus terkirim hingga 14 bulan, di mana batas tugas mereka selesai. Mereka pun mengirim laporan bahwa keadaan biasa saja dan siap untuk pulang, tetapi...setelah kiriman itu," Tsunade menahan napasnya. Bulu leher Naruto terasa merinding.
"Mereka tidak pernah terlihat, dan tidak ada tanda-tanda bahwa mereka kembali ke Tokyo dan keluarga mereka. Namun dua bulan kemudian ada laporan dari tim tersebut,"
"Isinya?" tanya Sasuke dengan nada serius.
"Isi laporan itu cukup mengejutkan," Tsunade menahan napasnya "Laporan itu berkata "Keadaan di Pulau Okizawa biasa saja," dan aku selalu merinding membayangkannya..." Tsunade menahan napasnya yang mulai tidak teratur.
"Bagaimana mungkin mereka tidak kembali ke kota dan dua bulan kemudian mereka kembali mengirim laporan yang mengatakan bahwa Pulau Okizawa baik-baik saja. Dan laporan itu terus mengalir tiap bulan untuk pusat penelitian pemerintahan kita,"
Naruto meneguk ludahnya. Dia mungkin terbawa suasana menegangkan ini.
"Tiga bulan yang lalu dikirim satuan unit tentara Negara untuk menyelidiki kembali Pulau Okizawa, dan hingga saat ini mereka tidak kembali. Namun dari satuan unit tentara tersebut mengirim sebuah laporan yang sama dengan laporan dari tim koordinir dua tahun yang lalu, "Keadaan Pulau Okizawa baik-baik saja." Itu benar-benar mengejutkan pemerintahan Jepang." Tsunade memegang keningnya dan nampak raut wajahnya begitu letih "Jepang tidak mau dunia luar tahu, karena ini bisa dikatakan rahasia utama Negara yang tidak boleh diketahui siapapun. Apalagi meminta Amerika, mereka selalu mempunyai maksud tersembunyi jika ingin membantu."
"Yang jadi pikiranmu?" tanya Sasuke dengan nada sedikit penasaran.
"Ya, yang jadi pikiranku adalah pemerintahan Jepang terus menekan Universitas kita untuk menyelesaikan masalah ini, dan sekaligus menyelidiki Pulau Okizawa, orang-orang di dalamnya beserta para tim dan satuan unit yang hilang serta menyelidiki..." Tsunade menatap tajam Sasuke dan Naruto.
"Tetranium," kata Naruto dan Sasuke bersamaan. Keduanya saling berpandangan.
"Kau kenapa mengikutiku?" tanya Sasuke dengan wajah datar. Naruto mendengus.
"Itu yang ada dipikiranku Teme."
"Ehem," Tsunade berdehem pelan untuk menghentikan percekcokan itu sebelum kembali menjadi lebih ribut. Naruto dan Sasuke secara serempak memandang Rektor Tokyo University tersebut.
"Jadi, kuharap kalian menerima penelitian ini, kalian pun akan dikirim sebagai koordinator lapangan di Pulau Okizawa dalam proyek penelitian unsur Tetranium. Aku harap kalian meng-iya-kannya."
"Tentu saja," kata Sasuke dengan nada dingin "Demi Tesisku agar lebih bagus daripada si Dobe dan juga demi," onyx Sasuke menajam "Itachi..."
"Kau Naruto?"
Naruto menganggukkan kepalanya perlahan. Safirnya sedikit bergetar.
"Demi Ilmu Pengetahuan dan penguakkan misteri sialan ini!" kata Naruto dengan nada mantap.
.
.
.
"Aku tak menyangka kau menerima penelitian ini," Sasuke memandang tajam sahabat sekaligus rivalnya tersebut. Naruto menghela napasnya perlahan.
"Aku punya motivasi tersendiri..."
"Hn,"
Mereka kembali terdiam. Keduanya kini sedang berjalan menuju gerbang raksasa Universitas Tokyo. Terdiri atas dua pintu gerbang dengan arsitektur menawan moderen, dan diberi cat hitam elegan yang mengkilat. Sasuke membuka pintu mobilnya ketika mereka sudah sampai di parkir yang berada tepat di samping gerbang Universitas Tokyo. Uchiha muda itu tersenyum tipis ke arah Naruto.
"Apapun alasannya, kuharap kau membantu Tesisku teman," kata Sasuke dengan nada datar, namun wajahnya tersenyum tulus. Dia menutup pintu mobilnya dan langsung menghidupkan mesin mobil. Sasuke memakai kacamata hitam dan memandang Naruto sekali lagi.
"Kau tidak apa-apa Dobe, ada yang kau pikirkan?"
Naruto sedikit tersentak. Tampaknya Sasuke melihatnya sedang melamun. Naruto menggelengkan kepalanya dan memberikan cengiran terbaik yang dia punya.
"Ti-tidak. Tidak apa-apa Teme,"
"Kau yakin?" tanya Sasuke dengan alis kanan yang terangkat.
"Seratus persen," kata Naruto tersenyum kikuk. Sasuke menganggukkan kepalanya dan menutup kaca jendela mobilnya. Mobil berwarna biru silver itu melaju menuju jalan raya Tokyo. Sasuke menghidupkan klaksonnya sebagai tanda selamat tinggal untuk Naruto. Naruto memandang mobil biru silver itu menghilang dari gerbang dan mata safirnya memandang ke langit.
"Motivasiku..." gumam Naruto perlahan.
.
.
.
Malam sebelum keberangkatan ke Pulau Okizawa membuat Naruto tidak bisa tidur. Tubuhnya bergerak gelisah di atas tempat tidurnya dengan mata cemas dan penuh harapan. Dia membalikkan badannya ke arah meja kerjanya dan melihat jam wekernya yang menunjukkan angka 00:00, pukul 12 malam. Benar-benar malam yang amat sangat buruk bagi sang Uzumaki. Naruto bangkit dari ranjang tidurnya dan mengacak perlahan surai kuningnya. Matanya memandang lantai kamar tidurnya dengan tatapan menerawang.
"Oh shit, apa aku bisa menemukannya..." gumamnya pelan. Pikirannya pun penuh sekelebat sebuah kenangan indah dan penuh harap. Naruto mengambil sesuatu dari bawah bantalnya. Sebuah foto. Foto gadis cantik bersurai indigo dengan mata bagai bulan yang beriris Amethyst.
"Aku berasal dari Pulau Okizawa..." kata gadis itu.
Dan mungkin itu adalah salah satu tujuan Naruto menuju Pulau tersebut!
TBC
ATTENTION FROM ICHA:
Maaf minna, Icha sudah lama meninggalkan dunia ini *dunia FFN maksudnya*, Icha sibuk dengan kegiatan ini itu di sma Icha hingga lupa password akun Icha dan guling2 minta sama temen yang ahli sama IT untuk menolong Icha, hueeee*plak*
Untuk MSB sudah Icha ketik, tapi Icha masih belum siap untuk publish karena rasanya belum lucu seperti season 1. Rasanya kepedean Icha untuk update sebuah fic menurun. Icha bahkan lupa jalan cerita untuk Love The Enemy dan Blacklist 10, ihh, ini semua gara-gara pak guru pembina OSIS yang selalu menugaskan Icha ini-itu dengan ketua. Icha sebel*kepala berasap*
Well, Rise Up The Phantom mungkin akan mengisi progress sementara Icha sementara menunggu Doni-san pulang. Hahahaha...
Ada yang mau tahu Doni-san di mana?
Hihi, dia sedang berada di Austria katanya untuk suatu pertemuan negoisasi yang Icha lupa apa namanya. Si Doni-san udah naik pangkat lho teman-teman, dulu kan dia yang suruh ke sana ke mari untuk mengurus pekerjaannya, sekarang dia katanya adalah tukang koordinir dari perusahaannya.
Jadi dia semakin sibuk, hahahahaha.
TBT sih ada Doni-san beri chapter selanjutnya ke Icha lewat email, Icha sudah baca, tetapi Icha belum sempat untuk mengoreksi seluruhnya. Jadi mohon tunggu ya, sudah lama akun ini terdiam dalam keheningan malam*bahasa apa ini?*
Yap, itu saja dari Icha dan terima kasih kepada Merce-san yang mau menguploadnya*jika diuploadnya, ngambek* yap...sayonaraaaa
Ttd
Icha Ren^_^
