.

.

Chapter 1: he will be loved

.

Haikyuu © Furudate Haruichi

.

.

"Jadi… Hinata adalah teman sekelas sekaligus teman sekelompokmu di kampus."

"Sialnya, begitu."

"Dan sewaktu kalian mengobrol, selain membicarakan tugas, Hinata juga mengangkat topik tentang—" Di sini, Yamaguchi mendengus, kentara sekali pemuda itu sedang mati-matian menahan tawanya. "—percintaan."

"Hm."

"Kau diam-diam jengkel karena manusia bersel-tunggal seperti Hinata rupanya sudah pernah berpacaran, sementara kau sendiri belum pernah sekalipun berkencan seumur hidupmu. Sehingga waktu Hinata bertanya mengenai kehidupan percintaanmu, tanpa pikir panjang kau mengatakan bahwa dulu kau pernah berpacaran…" Yamaguchi menaruh jeda dramatis di antara kalimatnya, lantas menarik napas dalam-dalam. "…denganku."

Ada keheningan singkat yang mengikuti setelah itu, hingga kemudian Yamaguchi tertawa terbahak-bahak. Si pemuda memegangi perut, wajahnya memerah akibat kesulitan mengatur napas, dan hampir saja Yamaguchi terguling dari sofa di sela-sela tawanya. Sontak Kei merasakan pipinya memanas—entah apa yang membuat darah di balik wajahnya mendidih sekarang; kejengkelannya pada Yamaguchi atau rasa malu yang makin berlipat ganda seiring detik. "…diamlah, Yamaguchi."

Namun, kendati harga dirinya tengah teraniaya dengan semena-mena, ia juga tidak bisa memikirkan bantahan yang cukup kuat untuk membungkam Yamaguchi. Semua yang dikatakan pemuda itu benar.

Kei baru benar-benar mengobrol dengan Hinata Shouyou tadi siang. Mereka mahasiswa tahun pertama yang sama-sama mengambil jurusan Arsitektur, dan seolah takdirnya untuk menjadi teman satu kelompok Hinata belum cukup menguji temperamen, Hinata rupanya gemar sekali mengusik privasi Kei seolah kehidupan pribadi Kei adalah spesimen menarik di balik lensa mikroskop. Sepanjang sesi pengerjaan tugas kelompok mereka, Hinata tidak berhenti mencerocos; hanya dalam hitungan satu jam Kei sudah mendapatkan pengetahuan tak berguna tentang perilaku hiperaktif dari anjing peliharaan Hinata dan apa menu sarapan Hinata pagi itu, dan tahu-tahu saja pembicaraan mereka beranjak menuju topik yang jauh lebih pribadi: tentang percintaan.

Tentang apakah Kei pernah berpacaran atau tidak, karena Hinata tak terlalu yakin di dunia ini ada manusia yang tahan berada lama-lama di samping Kei Tsukishima, mengingat wajahnya yang selalu masam, dan Hinata bersikeras bahwa kerut permanen di kening Kei membuat Kei terlihat seolah-olah ia takkan ragu membunuh siapapun yang berada dalam jarak minimal satu meter darinya.

Dan Kei, di tengah-tengah kegusarannya atas sudut pandang tolol Hinata, jelas tak menerima fakta bahwa untuk satu hal itu saja—percintaan—Hinata rupanya lebih unggul darinya. Maka, reflek Kei menggumam, mengatakan bahwa, ya, meskipun ia sekarang sendirian, tentu saja dulu dia pernah berpacaran. Dengan sahabat masa kecilnya, orang yang ia kenal baik sejak umurnya masih sepuluh tahun, namanya Yamaguchi Tadashi.

Saat itu Hinata tertegun. Bibir pemuda itu membuka dan menutup seperti ikan mas koki, dan setelah pulih dari keterpanaannya, Hinata mengatakan bahwa sepertinya ia tahu siapa Yamaguchi Tadashi itu.

Tepat. Satu kenyataan lagi terkuak. Hinata mengatakan bahwa Yamaguchi adalah teman yang ia kenal di tempatnya bekerja sambilan. Mereka bekerja dalam shift yang sama di kafe dekat kampus, baru saja berkenalan kira-kira satu bulan lalu, persis ketika tahun ajaran baru dimulai.

Terjemahan: Tsukishima Kei berada dalam masalah besar, sekarang.

"Maaf, maaf, Tsukki!"

Setelah puas tertawa, Yamaguchi menyeka air mata di sudut matanya dengan jari telunjuk, bahunya masih berguncang geli kendati ia berhasil mengendalikan diri perlahan. Kei mendecak, tetapi ia tak mengatakan apa-apa lagi sebagai pembelaan diri. Ia tertunduk, jarinya menyingkirkan poni Yamaguchi dari kening, mulai kembali memijat pelipis si pemuda seperti yang ia lakukan sejak sepuluh menit lalu. Sementara Yamaguchi, yang semenjak tadi menyandarkan kepala di pangkuan Tsukishima, tersenyum penuh apresiasi atas gestur tersebut. Matanya lantas kembali terpejam.

Betapa dalam posisi mereka sekarang Kei bisa dengan mudah memberi sentilan keras pada dahi Yamaguchi sebagai balasan atas reaksi menjengkelkannya barusan, tetapi ada satu sisi di dalam dirinya yang, bagaimanapun, selalu melemah jika sudah berkaitan dengan Yamaguchi Tadashi. Kira-kira setengah jam lalu Yamaguchi pulang ke apartemen mereka dengan wajah letih, lantas mengeluhkan kerja sambilannya yang hari ini kelewat sibuk. Dengan seulas senyum ragu, Yamaguchi mengakui bahwa kepalanya terasa pusing sampai ke rongga mata—dan Kei pada akhirnya menawarkan untuk memijat kening si pemuda, sebab ia tak setega itu untuk membiarkan Yamaguchi kolaps di bawah rasa lelahnya.

Lagipula, bisa dibilang bahwa ini merupakan salah satu rutinitas mereka semenjak tinggal bersama.

Ya, semenjak kuliah mereka tinggal di satu apartemen demi menghemat biaya hidup, memanfaatkan fakta bahwa mereka toh sudah saling mengenal sejak kecil sehingga tinggal bersama justru akan mempermudah banyak hal. Tidak perlu lagi beradaptasi dengan teman sekamar yang punya kebiasaan buruk menaruh pakaian kotor di sembarang tempat, dan kampus mereka toh sama sehingga berbagi apartemen adalah satu-satunya pilihan paling bijak. Yamaguchi pintar memasak, sementara Kei mahir mengatur pengeluaran bulanan; di akhir pekan Yamaguchi lah yang akan menyapu seluruh ruangan, sementara Kei bisa mencuci piring dan membawa baju kotor mereka ke laundri. Tanpa perlu betul-betul berusaha mereka bisa saling melengkapi dengan mudah.

Dan karena mereka tidak ingin merepotkan orangtua, pada minggu pertama perkuliahan mereka memutuskan untuk bekerja sambilan; Yamaguchi mendapatkan pekerjaan di kafe dekat kampus dan di konbini yang letaknya lima menit jalan kaki dari apartemen mereka, sementara Kei bekerja sambilan sebagai penyiar di stasiun radio kecil yang baru mulai merintis popularitas selama beberapa bulan terakhir. Butuh banyak penyesuaian, banyak pengorbanan atas macam-macam hal, tetapi setelah satu bulan seluruh upaya ia dan Yamaguchi berangsur terbayar: roda gigi dalam kehidupan mereka mulai bisa berputar lewat cara yang benar.

Hanya saja, menurutnya Yamaguchi bekerja terlalu keras. Dua pekerjaan sambilan tergolong berlebihan untuk mahasiswa tahun pertama, bukan?

"…kau tidak perlu bekerja terlalu banyak." Ia bergumam setelah sempat mengisi keheningan dengan lamunan; tangannya telah berhenti memijat, kini hanya berdiam di kening Yamaguchi. "Bagaimana kalau nilai-nilaimu turun nanti? Aku tidak mau ikut bertanggungjawab."

Yamaguchi mendesah, keletihannya telah menciptakan garis-garis kelelahan di sekitar mata. "Menurutmu begitu, Tsukki? Tetapi hidup di Tokyo mahal dan—"

"—kau tidak mau merepotkan ibumu." Memotong perkataan Yamaguchi dengan tukasan jengah, ia mengerutkan kening. Kei tahu Yamaguchi selalu berusaha untuk memenuhi ekspektasi kedua orangtuanya, tetapi kadang ia merasa Yamaguchi juga harus mempelajari cara untuk menyayangi diri sendiri. Dalam diamnya ia memandangi garis gelap yang melingkar di bawah mata Yamaguchi, tanda bahwa lagi-lagi pemuda tersebut kesulitan tertidur kemarin malam. "Tapi kalau kau tumbang, bukankah dia akan khawatir?"

"Tidak akan." Yamaguchi bergumam, kali ini membuka mata untuk menatap Kei. "Aku janji tidak akan tumbang, Tsukki. Kerja sambilanku tidak semelelahkan yang kau pikir dan—um, aku tahu kau khawatir, tapi…"

Kei merengut. Mengapa wajahnya tidak bisa tidak memanas, semenjak tadi? "…aku tidak khawatir."

"Baiklah, baiklah." Tawa Yamaguchi membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari biasa, entah mengapa. Maka Kei menyibukkan diri dengan menyampirkan helaian rambut Yamaguchi ke belakang telinganya, lantas mulai kembali memijat sisi kening si pemuda tanpa berkata-kata lagi.

Yamaguchi beringsut, menyandarkan sisi wajahnya dengan nyaman pada perut Kei.

"…jangan tertidur di sini, Yamaguchi."

"Mm." Mengabaikan Kei, Yamaguchi memejamkan mata seakan-akan ia tinggal sedetik jauhnya dari mimpi panjang.

Sementara Kei, Kei berusaha bersikap se-biasa yang ia bisa, kendati ia menelan ludah dengan gugup saat napas hangat Yamaguchi membentur permukaan kausnya. Bukankah semua kontak fisik ini terlalu berlebihan, bahkan meski mereka sudah bersahabat baik sejak delapan tahun lalu? Kei bisa mendengar kebimbangan itu berdendang di belakang kepalanya—tetapi toh sejak beberapa bulan terakhir, Kei tahu hubungan ia dan Yamaguchi memang berada dalam titik yang sulit didefinisikan. Mereka bukan hanya sahabat, terutama jika mempertimbangkan fakta bahwa terkadang Yamaguchi menyusup ke balik tempat tidur Kei seraya beralasan bahwa ia baru saja mimpi buruk (dan Kei selalu mengizinkan, karena seiring waktu berlalu rasanya semakin sulit untuk menolak permintaan Yamaguchi), tak jarang mereka melahap makanan dari satu piring yang sama sebab terlalu malas untuk mencuci piring—selama mereka tinggal bersama, rasanya batasan yang mula-mula ada menjadi tersingkirkan pelan-pelan.

Yamaguchi membuatkan bekal untuknya hampir setiap hari, sementara ia selalu menjemput Yamaguchi di konbini tempatnya bekerja jika shift pemuda tersebut berada pada jam yang terlalu larut. Ia mendapati dirinya menembus badai besar di tengah malam dengan payung yang kawatnya membengkok akibat terpaan angin, hujan membuat kausnya basah kuyup dan udara dingin menciptakan embun di kacamatanya, dan semua itu tak mencegahnya untuk tetap menjemput Yamaguchi di konbini tempatnya bekerja, semua hanya karena ia tidak ingin Yamaguchi pulang seorang diri pada pukul satu pagi. Tahun demi tahun yang mereka lalui bersama telah menempa banyak hal; rasanya begitu mudah untuk saling mengerti, untuk saling meminjamkan bantuan jika ada salah satu di antara mereka yang membutuhkan.

Kei menunduk. Ia memandang mata Yamaguchi yang terpejam, menahan diri agar tak menekuk punggung untuk mencium kening si pemuda barang beberapa detik.

"Tsukki?"

Ia mengerjap, merasa malu atas pikirannya sendiri.

"Ya?"

"Setelah ini, kau akan mengatakan apa pada Hinata?"

"Maksudmu?"

"Kau mengatakan bahwa kita pernah berpacaran, kan?" Yamaguchi terkekeh sebentar, membuka matanya lagi. "Menurut ceritamu, kita sudah 'putus'?"

"…begitulah."

"Dan kurasa, kau pasti tidak mau Hinata mengetahui kebohonganmu."

Betapa Yamaguchi selalu punya intuisi yang bagus jika itu menyangkut Tsukishima Kei. Tanpa membantah sedikitpun, ia hanya memalingkan pandangannya. Tak tahu harus memasang ekspresi wajah seperti apa. "Biarkan saja. Mungkin besok dia sudah lupa."

"Yah. Mungkin." Yamaguchi mengangguk, tetapi masih ada pancaran rasa penasaran di matanya. "Kau tahu? Aku juga sedikit penasaran. Tentang mengapa kau tidak pernah berpacaran, selama ini."

"Karena aku tidak tertarik?" Ia bertanya balik, mengangkat satu alis sementara sebelah tangannya mulai memijat pelipis Yamaguchi kembali dengan gerakan malas; dari radio yang dinyalakan di konter dapur, sepotong lagu blink-182 berdendang, sedikit teredam oleh suara hiruk-pikuk jalan raya di balik jendela apartemen. "Kau sendiri tahu, aku… tidak punya waktu untuk semua itu."

Ia heran mengapa Yamaguchi masih saja bertanya. Kei menolak seluruh surat cinta yang dialamatkan padanya, dan cokelat Valentine yang ia dapat setiap tanggal empat belas Februari selalu ia bagi rata dengan Yamaguchi. Sekali waktu, Yamaguchi bertanya mengapa Kei tidak pernah sekalipun membaca surat cinta di lokernya, dan ia menjawab si pemuda dengan tukasan jengah, berkata bahwa ia tidak ingin membuang-buang waktu untuk meladeni seseorang yang bahkan sudah ia lupakan namanya. Bukankah lebih baik kita memikirkan cara supaya tidak dapat nilai merah untuk ujian Matematika minggu depan? Kala itu Kei melarikan diri dengan payah, dan ia beruntung Yamaguchi tak pernah bertanya lagi semenjak itu.

Lagipula ia sendiri tidak yakin ia bisa memiliki orang yang disukai. Kalaupun Kei memang harus menentukan siapa, pemuda di pangkuannya ini mungkin akan menjadi pilihan pertamanya. Mungkin. Entahlah. Persetan, Kei tidak tahu.

"Begitukah?" Yamaguchi mengulas cengiran tipis. "Kalau kau punya pacar, kau bisa dibuatkan bekal setiap hari."

Kei menyeringai, reflek. "Membuatkan bekal? Bukankah itu tugasmu?"

"Tapi bekal yang dibuatkan pacar pasti berbeda rasanya, Tsukki!"

Aku tidak ingin memakan bekal yang dibuatkan orang lain. Betapa ia mulai kesulitan menahan dirinya agar tak menggumamkan itu; terutama ketika ia melihat binar hangat dalam mata Yamaguchi, yang kini terarah penuh-penuh padanya. Kei memutuskan untuk mengambil jalan keluar yang paling pengecut, dengan memalingkan wajah dan menghindari tatapan tersebut sebisa mungkin. Ia tidak ingin Yamaguchi mendapatkan kesempatan untuk menerjemahkan makna dari ekspresinya kini.

"Dengar? Kurasa lebih baik kau tutup mulut. Kau tertular kebodohan Hinata—tak ada gunanya membicarakan hal-hal seperti ini."

"Masa? Aku hanya penasaran, Tsukki. Maaf." Yamaguchi terkekeh tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Jadi, setelah ini, kita harus berpura-pura di hadapan Hinata, atau bagaimana?"

"…entahlah."

"Mungkin kau harus… menghindari supaya tak mengobrol denganku di kampus?"

"Untuk apa?"

"Karena, itu yang terjadi pada pasangan yang sudah tidak berpacaran, kan?" Yamaguchi mengerutkan kening. "Tidak mengobrol lagi. Pura-pura tidak melihat ketika berselisih jalan. Mungkin diam-diam juga saling membenci."

Ada yang terasa bergolak tak nyaman di dasar perutnya kini.

"Jangan konyol." Kei bergumam, pelan sekali. Segala gagasan untuk mengabaikan-Yamaguchi-Tadashi itu terasa seperti logika mentah yang tidak bisa dicerna akal sehatnya sampai kapanpun. "Memangnya kau bisa melakukannya?"

Saat Yamaguchi menatapnya, Kei tidak bisa berpaling lagi. Dengan mudah ia bisa melihat rasa sayang itu di mata si pemuda—jenis emosi yang selalu terasa asing bagi Kei sehingga ia tidak tahu harus menanggapi dengan cara apa. Yamaguchi lantas tersenyum, dan Kei merasa bodoh sebab hanya bisa mempertahankan raut kosong di wajah.

"Tentu saja tidak bisa, Tsukki." Sempat terkekeh sebentar, Yamaguchi lantas terdiam. Terlihat seperti sedang merenungkan sesuatu. "Um, tapi, mungkin kalau kau tidak ingin Hinata tahu kau berbohong… kau harus sedikit berpura-pura?"

"…mungkin."

"Dan, caranya?"

"Tidak tahu." Kei menyentil pelan kening Yamaguchi, lalu tertawa sebentar ketika melihat pemuda tersebut merengut. Apa bahasan tentang Hinata memang sepenting itu untuk didiskusikan lama-lama? Ia rasa, tidak sama sekali. Belum. "Malam ini, mau makan dengan apa?"

.

.

.

"Tsukishima! Kau benar-benar pernah berpacaran dengan Yamaguchi? Yang benar? Berapa lama?"

Dugaannya salah besar.

Ia kira Hinata punya rentang ingatan yang sama seperti ikan mas koki, tiga detik yang singkat dan menyedihkan, tetapi rupanya semesta masih bersekongkol untuk membuat Kei berada dalam masalah besar. Kei bisa merasakan urat kemarahannya berdenyut samar di balik pelipis; ia berhenti menulis, mendapati dirinya entah mengapa mulai kehilangan konsentrasi.

"Kerjakan tugas bagianmu dengan benar dan berhentilah mengoceh."

"Hee…" Memperlakukan ujaran Kei bagai angin lalu, Hinata hanya menopang dagu, pena si pemuda dipuntir di satu tangan dengan gerakan malas. Tanpa perlu mengalihkan tatapan dari tugas yang sedang ia kerjakan, Kei bisa tahu Hinata sedang memberikan pandangan penuh penilaian padanya.

"Semua itu bukan urusanmu." Kei menghela napas, menyesali fakta bahwa keimpulsifannya kemarin berhasil membawa ia pada situasi penuh kerumitan ini.

"Tapi Yamaguchi temanku! Pasti kau membuat dia menangis tiap hari, sampai-sampai dia memutuskanmu karena kau terlalu brengsek. Kan?"

"Hah?"

"Malang sekali, Yamaguchi itu…" Hinata menghembuskan napas, lantas mendelik ketika menatap Kei. "Kau akan menyesal karena memperlakukan orang sebaik Yamaguchi dengan buruk, Tsukishima!"

Suara Hinata melengking berisik di antara kelengangan perpustakaan. Kejengkelan Kei sudah mencapai ke ubun-ubun, kini. "Sudah kubilang, itu sama sekali bukan—"

"Ah, Yamaguchi! Oooi!"

Atas seruan itu, ia teralihkan. Kei kontan mendongak. Ia melihat Hinata kini melambaikan tangannya dengan penuh bersemangat ke arah pintu perpustakaan fakultas, pada seseorang berpostur tinggi yang baru saja melangkah masuk.

Tentu saja. TENTU SAJA, Yamaguchi Tadashi memilih saat-saat seperti ini untuk datang.

Dan sebagai balasan untuk sapaan Hinata, Yamaguchi tersenyum lebar, wajahnya berseri-seri ketika ia melambaikan tangan. Kei menegakkan punggung, bisa mendengar alarm peringatan berdengung di sepenjuru benaknya. Ia teringat dengan kebohongannya yang bodoh, dengan delikan masam Hinata yang semenit lalu diarahkan padanya. Ya, ini situasi rumit yang ia pikir tidak akan terjadi. Semalam ia dan Yamaguchi telah berhenti membahasnya, sepakat menganggap bahwa tempurung kepala Hinata tak memiliki cukup kapasitas untuk menampung ingatan jangka panjang. Kei mendapati dirinya termenung, memutar otak dalam diam untuk mencari jalan keluar yang tepat dari situasi ini—tetapi ketika ia dan Yamaguchi tanpa sadar beradu pandang, Kei reflek mengerutkan kening. Ada keragu-raguan berkelebat di wajah Yamaguchi; ekspresinya nampak ganjil, terintimidasi, seolah keberadaan Kei semata berhasil membuatnya takut.

"…uh. Halo." Yamaguchi melambaikan tangan dengan ragu pada Kei. Kei membalas pemuda itu dengan anggukan kaku, menyadari Hinata sedang bergantian menatap mereka.

"Hei, Yamaguchi! Sedang apa di sini?" Hinata menepuk pundak Yamaguchi dengan riang, cengiran melebar di wajahnya. "Ada buku yang dicari? Memangnya di gedungmu tidak ada?"

Ada pertanyaan serupa dalam benak Kei. Apa keperluan Yamaguchi di perpustakaan jurusan Arsitektur? Gedung fakultas mereka berjarak cukup jauh, butuh lima menit jalan kaki untuk mencapai fakultas Kei yang secara teknis berada di bagian paling terpencil dalam kompleks kampus mereka. Lagipula, Kei yakin betul bahwa rak perpustakaan fakultasnya tak memuat literatur psikologi sedikit pun. Dengan tatapan menelisik ia mencoba membaca isi pikiran Yamaguchi lewat gestur-gestur kecilnya, sesuatu yang terbiasa ia lakukan sejak bertahun-tahun lalu, dan entah apakah Hinata menyadari… tetapi Kei yakin sekali Yamaguchi sedang gugup. Berusaha menyembunyikan sesuatu. Terutama ketika pemuda itu tersenyum canggung, dengan satu jari telunjuk menggaruk sisi pipi—

Oh.

Kei tertegun. Selang sekian detik, ia diserbu pemahaman yang terlambat.

"Aku—uh, aku rencananya mau bertemu teman di sini, tetapi nampaknya janjinya—batal? Yah, begitulah. Kebetulan sekali bertemu di sini denganmu, Hinata!"

"Kau pasti kaget karena melihatku di perpustakaan, kan?" Hinata menepuk dadanya seraya mendengus bangga.

Yamaguchi tertawa. "Tidak juga. Kau pernah bilang kalau kau suka menggambar, dan katamu arsitektur adalah minatmu sejak SMA, kan? Selain voli, tentu saja…"

"Dan, tim voli fakultasku bagus, Yamaguchi! Kau harus menonton kami latihan, lain kali!"

"Baiklah, baiklah."

Kei yakin dirinya tidak sedang berimajinasi, ketika ia mendapati Yamaguchi meliriknya: cepat, hati-hati, dan ada kemurungan terpancar samar di binar matanya. Perut Kei seketika mulas akibat rasa bersalah. Ia hanya bisa diam ketika Yamaguchi mengucapkan salam perpisahan pada Hinata, matanya tidak lepas dari sosok si pemuda yang perlahan menjauh, menghilang di balik pintu perpustakaan. Ada bunyi derit kayu kursi yang digeser ketika Hinata duduk lagi di hadapan Kei, tetapi saat itu Kei sudah membereskan buku dan alat-alat tulisnya dalam gerak terburu-buru.

Hinata mengangkat alis, bingung. "O-Oi, kau mau ke mana, Tsukishima? Tugas kita—"

"Baru akan dikumpulkan tiga hari lagi." Ia menyelesaikan kalimat Hinata dengan ringkas, lalu berdiri. Panggilan terakhir Hinata memudar di belakang punggungnya ketika ia melangkah keluar dari perpustakaan dalam langkah cepat.

.

.

.

"Yamaguchi!"

Ia memanggil, tetapi di luar begitu bising dan punggung Yamaguchi adalah titik kecil di kejauhan. Kei menggemeretakkan rahang dengan jengkel; ia menembus keramaian yang dibentuk para mahasiswa yang sedang bersiap makan siang dalam langkah bergegas, mencoba menyusul. Belakangan, memang seperti ini efek yang ditimbulkan Yamaguchi pada dirinya. Rasanya salah jika Kei bersikap seenaknya. Kei tidak ingin melihat Yamaguchi memasang raut muram lebih lama, karena ia lebih suka melihat Yamaguchi tersenyum, meski ia tidak tahu mengapa ia bisa-bisanya memiliki keinginan semacam itu dalam dirinya. Pun, sekarang hampir pukul dua belas siang—Kei tahu mengapa Yamaguchi datang ke perpustakaan di gedung fakultasnya, alasan mengapa Yamaguchi repot-repot menyusulnya ke sana.

Ia tahu.

Tangannya terulur, menarik tudung jaket si pemuda begitu ia bisa menjangkaunya.

Yamaguchi terhenyak, menolehkan kepala dengan agak panik akibat gestur itu. Matanya terbelalak saat ia mendapati keberadaan Kei di dekatnya. "T-Tsukki?!"

"Dari tadi, aku memanggilmu." Kei baru menyadari napasnya terengah. Apa barusan ia berlari?

"Maaf, aku tidak mendengarmu…" Belum pulih dari keterkejutan, Yamaguchi menatapnya dengan alis berkerut. Di bawah terpaan matahari musim semi yang tersaring ranting-ranting pohon, mereka kini berdiri bersisian di tengah jalan; Kei berusaha memulihkan tempo napas, sementara bisa dirasakannya tatapan Yamaguchi terarah lekat-lekat padanya. Mereka dibalut kesunyian yang terasa aneh. Setelah beberapa saat Kei berdeham, menyeka sebutir keringat yang terasa menitik di kening.

"Aku—"

Yamaguchi diam, menunggunya berbicara. Entah mengapa itu hanya membuatnya semakin gugup.

"…kau, uh. Bekal, kan?" Kei melanjutkan, dan ia bisa mendengar suaranya sedikit terbata. Karena keragu-raguan sekaligus urgensi untuk meminta maaf.

Sekarang pukul dua belas, jam makan siang. Dua jam lalu Yamaguchi mengirimkan pesan pada ponselnya, mengatakan bahwa Kei lupa membawa bekalnya sehingga ia akan mengantarkan kotak bekal itu ke jurusan Arsitektur begitu kuliahnya selesai. Akar dari rasa bersalah di perutnya adalah fakta bahwa ia tidak ingin Hinata mendapatinya berbohong, karena kebohongannya begitu payah dan Kei tidak ingin harga dirinya tercoreng jika kebohongannya terkuak, sehingga ia bersikap masa bodoh saat Yamaguchi datang. Seolah mereka benar-benar pasangan yang sudah berpisah, seolah kebohongannya harus menjadi kenyataan di hadapan Hinata Shouyou. Bodoh sekali. Kei sudah hampir sembilan belas tahun dan sisi kekanakan di dalam dirinya masih saja dipertahankan.

Sorot matanya tanpa sadar melembut ketika ia memandang mata Yamaguchi lagi—ia harap, 'maaf'-nya bisa tersampaikan sedikit dengan itu.

"Bekal makan siang. Kau membawakannya?"

Setelah tukasan itu, tangannya terulur untuk menarik pergelangan tangan Yamaguchi, menarik pelan si pemuda agar mereka tidak menghalangi jalanan.

"…mm. Aku bawa." Setelah sempat terdiam, Yamaguchi mengangguk. Tanpa berkata-kata, pemuda itu membuka risleting ranselnya, mengeluarkan kotak bekal Kei yang terbungkus rapi dalam kantung plastik. "Aku tidak tahu kau sedang mengerjakan tugas bersama Hinata." Yamaguchi bergumam pelan ketika ia menyodorkan kotak bekal tersebut pada Kei.

"Seharusnya aku tidak berbohong segala, ya?" Ia ikut bergumam, mengambil kotak bekal itu dari tangan Yamaguchi. Atmosfer di antara mereka nyaris-nyaris terasa solid, tebal dan mengungkung. Kei tidak menyukainya. "Karena situasinya sekarang jadi rumit. Maaf."

"Kenapa kau meminta maaf?"

"Karena aku bersikap menyebalkan padamu?" Kei tertunduk menatap kotak bekal di tangannya. Bibirnya merapat. "Maaf."

Namun tak berselang lama setelah itu, ia mendengar Yamaguchi tertawa.

Kei mengerutkan kening, memicingkan mata dengan heran. Ketika Yamaguchi menyadari delikan Kei, pemuda itu buru-buru meredakan tawa, satu tangannya dilambaikan.

"Maaf, Tsukki. Tapi kau meminta maaf dua kali barusan! Aku—" Terkekeh lagi, Yamaguchi mendongak untuk menatapnya, cengirannya secerah biasa seolah jejak-jejak emosi muram itu tak pernah ada. "—sungguh, aku tidak apa-apa."

"Kukira Hinata sudah lupa." Memaksakan diri untuk memalingkan tatapan (meski sulit), Kei mengangkat bahu, mencoba mendistraksi diri dengan memandang ke arah lain. "Hidupku tidak akan damai selama aku masih mengambil mata kuliah yang sama dengannya."

"Yah, mungkin karena ia penasaran dengan kisah cintamu." Yamaguchi menyimpulkan sambil menutup kembali risleting tasnya. "Jadi, aku harus ikut bermain peran juga? Sebagai mantan pacarmu?"

Kei tidak tahu harus menjawab Yamaguchi dengan apa. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk mendinginkan wajahnya yang entah mengapa memanas.

"…itu akan sangat merepotkan, kau tahu."

"Tidak masalah, sih." Yamaguchi mengangkat bahu. "Mungkin kita hanya harus berpura-pura sampai Hinata bosan sendiri."

"Kau tidak keberatan?"

"Apa boleh buat, kan." Membenarkan posisi tali tas di kedua bahunya, Yamaguchi menghela napas. Pemuda itu sempat melirik Kei selama sedetik yang singkat, lalu buru-buru menatap lurus ke jalanan di depan mereka. "Asalkan—kau tidak bersikap seperti tadi. Asalkan kita membicarakannya lebih dulu."

Kei tidak punya mesin waktu untuk memperbaiki kesalahan tololnya, dan harga dirinya mencegah ia meminta maaf untuk yang ketiga kalinya. Sedikit perubahan emosi pada wajah Yamaguchi membuat Kei berlama-lama membisu, hanya agar ia tidak salah bicara. "…kau marah?" Pada akhirnya Kei bertanya, pelan dan ragu.

"Sedikit. Mungkin. Tapi tidak apa-apa."

"Benar?"

"Kau tahu apa yang membuatku lebih kaget, sejak kemarin?" Yamaguchi menoleh, menatapnya tanpa berkedip. "Kau menyebut namaku, saat Hinata bertanya."

Itu pernyataan yang, entah mengapa, tidak bisa Kei jawab. Mengapa ia mencetuskan nama 'Yamaguchi Tadashi' ketika Hinata bertanya? Mengapa nama pemuda itu yang pertama kali terbetik di benaknya, setiap kali Kei terpaksa meladeni percakapan tentang percintaan? Ia menelan ludah, menaikkan posisi kacamata di hidungnya hanya agar ia memiliki sesuatu untuk dilakukan.

"Karena kau sahabatku?" Ia menawarkan jawaban dengan nada bicara menggantung, berusaha membuat suaranya terdengar natural. "Karena aku tahu kau bisa diajak bekerja sama dalam situasi… apapun. Entahlah."

"Begitu, ya?" Yamaguchi bergumam, terdengar seolah masih menyimpan banyak pertanyaan tetapi terlalu takut untuk melanjutkan—ya, Kei tahu Yamaguchi tak terlalu puas dengan jawabannya. Namun sedikit kelegaan menghampiri Kei ketika ia melihat Yamaguchi mengulas cengiran kecil saat mendongak. "Kau pintar sekali membuat dirimu terlibat ke dalam situasi merepotkan, Tsukki."

Saat ia mendengar Yamaguchi tertawa lagi, sulit sekali untuk tidak ikut tersenyum.

"…diamlah, Yamaguchi." Kei berujung mendengus geli; satu tangannya mengeratkan genggaman pada bekal di tangan, sementara bahunya dikedikkan ketika ia menyadari jam istirahat siang mereka tinggal empat puluh menit lagi. "Mau makan siang sekarang?"

Yamaguchi mengangguk, tersenyum tipis—dan Kei bertanya-tanya dalam hati mengapa Yamaguchi terlihat begitu senang, padahal mereka hanya akan menyantap bekal buatan sendiri yang tak seberapa, seperti yang kadang-kadang mereka lakukan semasa SMA. Apa Yamaguchi memasak menu yang sedikit spesial untuk hari ini? Apa Yamaguchi telah melupakan kemarahannya pada Kei? Secepat ini? Dan yang jauh lebih penting, mengapa barusan Kei mengejar Yamaguchi seolah-olah ia akan sangat menyesal jika Yamaguchi tidak memaafkannya?

Mereka berjalan bersisian, menyusuri komplek kampus yang dikarpeti sakura serta dipenuhi hingar-bingar percakapan, dan ia bersyukur mereka sudah saling mengenal sejak lama sehingga kekosongan dalam pembicaraan mereka tidak terasa mencanggungkan. Untuk menit-menit yang singkat mereka larut dalam lamunan masing-masing; sesekali Kei bersin ketika hidungnya disengat serbuk bunga, sementara Yamaguchi mengaduk isi tasnya dengan terburu-buru untuk mengambil tisu yang dibawanya. Ia masih ingin berbicara, bertanya apakah Yamaguchi menganggapnya egois atau tidak, tetapi menyampaikan isi hati dengan terang-terangan bukanlah keahliannya sehingga Kei membisu lebih lama.

Terlalu banyak yang terjadi selama dua hari terakhir. Dugaannya, jalan keluar itu masih jauh dari jangkauan; situasi ini akan menjadi lebih rumit alih-alih sebaliknya.

.

.

.

to be continued

.

.

a/n: Halo! Terima kasih telah membaca ya~ saya datang lagi sambil bawa fic multi-chaptered nih. Rencananya sih College AU ini mungkin bakal sepanjang 4-5 chapter, tapi mari lihat saja perkembangannya, ada kemungkinan lebih panjang, tergantung inspirasi :p /HEH/ ditunggu kritik/komentar/sarannya ya. Berhubung saya belum begitu berpengalaman bikin fic multichap, jadi saran dan kritik kalian sangat ditunggu :'3 /peluk satu-satu/