Author : Meinta
Judul : You & ME
Cast : Lee Eunhyuk, Cho Kyuhyun, yang lain menyusul (?)
Genre : Friendship, Fantasy
Rate : T
Length : 1 of 4
- Y O U & M E -
Eunhyuk berlari dengan langkah lebar-lebar menuju ke sebuah gedung yang berada di pusat kota pada tengah hari. Hari ini matahari sangat terik di atas sana. Membuat siapa saja malas keluar rumah atau hanya sekedar jalan-jalan.
Sesampainya di gedung itu, dengan cepat ia membuka pintu gedung dengan sepenuh tenaga. Maklum gedung ini gedung tua, dan memiliki pintu yang besar. Kira-kira tinggi pintu tersebut 4 meter dan memiliki berat kira-kira 25 kg.
Di dalam gedung, Eunhyuk langsung melesat ke dalam dan menuju sebuah rak yang berisi penuh dengan buku-buku kuno. Ya, sekarang Eunhyuk sedang berada di sebuah perpustakaan yang terletak di pusat kota. Perpustakaan yang sangat besar dan luas. Berbagai buku ada disini, buku mancanegara, buku sekolah, undang undang, buku pra sejarah, buku sihir, buku teknologi intinya perpustakaan ini sangat lengkap. Karena buku disini sangat lengkap, tak jarang banyak orang yang berada disini.
Eunhyuk mengambil berbagai buku kuno yang berada di rak tersebut. Buku buku itu terlihat sudah usang, tapi tampilannya masih bagus.
KYUHYUN POV
'Tidak! Aku terlambat, aku terlambat!' Umpatku dalam hati. Saat memasuki kawasan gedung perpustakaan, aku mulai berlari. Pasti bosku akan memarahiku lagi, dan mungkin aku akan dipecat.
TIDAK!
Ku buka pintu perpustakaan. Dan benar dugaanku, bosku sudah berdiri di balik meja peminjaman buku yang terletak di dekat pintu masuk. Dia menatapku dengan tatapan death glare-nya. Glek! Siap-siaplah dipecat Cho Kyuhyun.
"Kyuhyun." Dia menyebut namaku dengan suara yang dipaksakan sabar.
Aku mulai mendekat dengan perlahan. "Maafkan saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi." Sesalku dengan kepala menunduk, terlalu takut menghadapi kenyataan setelah ini.
"Huh…" bosku menghela nafas panjang. "Baiklah. Saya maafkan. Ini sudah 10 kalinya kamu terlambat dalam 3 minggu ini, Kyuhyun." Setelah mengatakan itu, dia mulai beranjak dari tempatnya dan mulai keluar dari perpustakaan.
"Huft. . . " aku menarik nafas lega. Aku tahu bosku memang baik, tapi kalau dia sudah marah dia akan menjadi sangat kejam.
Ku taruh tasku di atas meja tugasku dan mulai mengganti bajuku dengan seragam perpustakaan. Atasan seragam berwarna merah maroon, dan bawahannya kami bebas mau menggunakan apa saja.
"Terlambat lagi?" Tanya seseorang setelah aku keluar dari ruang ganti. Ah, ternyata Siwon.
"Eh, iya. Akhir-akhir ini aku terlalu banyak urusan." Jawabku sekenanya.
Sebenarnya tidak terlalu sibuk. Hari ini aku mengantar Sungmin, kekasihku ke rumah ibunya yang ada di Mokpo dan itu memakan waktu yang sangat banyak diperjalanan. Tapi hari biasanya aku ketiduran.
"Oke, aku pulang dulu ya. Selamat bekerja." Pamit Siwon.
Aku bekerja sebagai orang yang mengatur buku-buku yang diletakkan sesuai dengan tempatnya. Siwon juga sama denganku, mengatur buku. Aku ambil sift sore, dia ambil sift pagi. Jadi saat aku datang, dia pasti akan pulang. Ada 2 orang lagi yang bekerja disini, dan mereka sama denganku, mengambil sift sore. Pertama Hankyung yang menjadi partnerku mengatur buku, dan seorang perempuan yang menjadi penjaga meja peminjaman buku, Leeteuk.
Ku langkahkan kakiku menuju meja peminjaman buku untuk mengambil buku pinjaman yang sudah dikembalikan. Ku lihat Leeteuk yang sedang mengecek ulang buku-buku itu.
"Hai." Sapaku membuyarkan pikirannya yang sedang serius.
"Oh, hai Kyuhyun. Terlambat lagi?" tanyanya padaku. Oke, kenapa semua orang menanyakan pertanyaan yang sama. Ku balas pertanyaannya dengan anggukan, terlalu malas menjawabnya
"Jadi mana yang harus ku kerjakan?" tanyaku padanya berusaha profesional.
"Itu." Tunjuknya dengan menggunakan matanya. Ku ikuti arah matanya. Ku lihat disana ada 5 troli yang penuh dengan buku-buku. Apa ini? Kenapa banyak sekali?
"Tadi partner-nya Siwon tidak masuk, jadi Siwon sendirian yang mengerjakannya. Tapi dia hanya bisa menghabiskan 2 troli. Dan satu troli lagi sedang dikerjakan oleh Hankyung." Jelasnya seolah dia bisa mambaca pertanyaan didalam kepalaku.
Aku menganggukan kepalaku. Sepertinya aku harus lembur hari ini. Ku ambil alih troli pertama dan mulai menjalankannya ke rak-rak buku.
"Baiklah, aku kerja dulu ya. Sepertinya hari ini aku akan lembur." Pamitku pada Leeteuk sebelum benar-benar pergi dari meja peminjaman buku.
Terdengar suara tawa kecil dari mulut perempuan itu. "Semangat!" ucapnya menyemangatiku.
Leeteuk lebih tua setengah tahun dariku, tapi dia tidak ingin dipanggil noona. Tidak ingin terlihat tua katanya.
Kuteruskan pejalananku untuk mengembalikan buku-buku itu ketempatnya masing masing.
.
.
Setelah setengah jam lamanya aku hanya berhasil menghabiskan seperempat dari troli. Masih ada banyak buku menanti disana. Ayo semangat Cho Kyuhyun.
Ku ambil lagi satu buku yang paling tebal diantara yang lain. Buku sejarah dinasti Ming. Siapa yang peduli dengan sejarah ini. Kalau aku sih, tidak mau membuang waktuku dengan membaca buku seperti ini.
Aku berjalan menuju rak khusus sejarah dan meletakkannya dianatara buku-buku tebal lainnya. Rak ini berada di sudut ruangan dan termasuk rak yang paling jauh dari pintu masuk. Rak ini biasanya sangat jarang yang mendatangi atau hanya duduk di tempat duduk yang disediakan di sebelah rak ini. Menurutku hanya satu orang saja yang akan duduk disana.
Setelah meletakkan buku itu ke tempatnya aku berjalan kearah bangku pembaca. Dan benar saja sudah ada satu orang yang duduk disana. siapa lagi kalau bukan Eunhyuk.
Eunhyuk adalah temanku. Ya, temanku. Karena dia sering membaca disini –hampir setiap hari –, dan dialah orang yang menajadi alasanku selalu pulang larut malam. Lalu tanpa di sengaja aku berkenalan dengannya disaat aku sudah sangat jenuh menunggunya selesai membaca dan akan menendangnya keluar dari perpustakaan ini. Setiap kali datang kemari, ia pasti akan membaca buku-buku kuno itu tanpa mengenal waktu. Seperti sudah menjadi makanan sehari-harinya.
"Hey. Kenapa kau memperhatikan wanita itu terus?" tanya Hankyung yang tiba-tiba sudah ada di sebelahku. Tanpa sadar dari tadi aku memperhatikan Eunhyuk.
"Aku tidak memperhatikannya." elakku agar Hankyung tidak curiga.
"Jangan bohong. Aku melihatmu dari tadi Kyuhyun." bantah Hankyung. "Aku tahu dia memang cantik. Tapi kenapa gadis seperti dia lebih memilih berdiam diri disini daripada jalan-jalan ya?"
"Coba saja ajak dia jalan-jalan. Aku yakin dia tidak mau." tantangku pada Hankyung tapi aku sendri pun sudah tau apa jawaban gadis itu.
"Eh, kau sudah pernah mencobanya Kyuhyun?" curiga Hankyung padaku.
"Tidak. Aku tidak pernah mengajaknya. Dia itu sudah punya pacar." jelasku berdasarkan kenyataan. Eunhyuk memang punya pacar. Dia selalu mengatakan 'Aku sudah punya pangeran. Jadi jangan macam-macam.' Pangeran? Berlebihan sekali dia.
"Benarkah?" terlihat pancaran kekecewaan pada mata Hankyung. "Tapi, bagaimana kau tahu? Kau sudah berkenalan dengannya ya? Ya! Kyuhyun, kenapa kau tidak mengajakku?" rengek Hankyung.
"Hankyung berhenti bertingkah seperti anak kecil. Sekitar 4 minggu yang lalu aku berkenalan dengannya." jelasku lagi. "Tapi sudah dari jam berapa dia berada disini?" tanyaku.
"KYUHYUN JAHAT! Padahal dari pertama kali dia kesini aku sudah ingin berkenalan dengannya." rengek Hankyung sekali lagi.
"Jawab saja pertanyaanku!" kesalku padanya. Awas saja kalau dia merengek lagi, akan ku lempar dengan buku-buku yang ada disini.
"Aku berangkat dia sudah ada disini." jawabnya lalu pergi meninggalkanku. Kurasa dia marah padaku. Cih, kekanak-kanakan sekali.
Aku melanjutkan pekerjaanku yang sempat terhenti.
.
.
"Lelah sekali!" eluhku sambil merenggangkan ototku yang tegang karena sudah 4 jam lebih aku mengerjakan tugasku.
Langit sudah merubah warnanya yang tadinya berwarna orange yang dominan kuning sekarang menjadi biru tua yang dominan dengan hitam. Sudah malam ternyata, tidak terasa. Kurang setengah jam lagi perpustakaan ini akan tutup, tepatnya pukul 8 nanti. Ruangan besar ini sudah sangat sepi. Hankyung sudah pulang setengah jam yang lalu, memberikan sisa pekerjaannya padaku. Sialan orang itu. Leeteuk juga sedang bersiap-siap untuk pulang.
"Kyuhyun aku pulang dulu ya. Kuserahkan perpustakaan ini padamu." Ujar Leeteuk dengan menepuk bahuku seolah-olah dia memberikan semua kepercayaannya padaku. Padahal itu memang tugasku untuk menutup, mengunci, mengecek semua isi perpustakaan sebelum aku pulang.
"Itu memang tugasku, tidak perlu kau beri tahupun aku tahu." jawabku malas.
"Haha, iya iya. Good night Kyuhyun." dia melambaikan tangannya padaku lalu menghilang dibalik pintu.
"Saatnya pulang juga." Gumamku pada diri sendiri. Aku berjalan ke ruang ganti dan mengganti pakaianku. Setelah itu aku menuju meja tugasku untuk mengambil tas.
Kryuuuuk
Tiba-tiba perutku berbunyi. Tentu saja berbunyi dari tadi siang aku tidak sempat makan setelah dari rumah ibu Sungmin bagaimana tidak lapar. Setelah ini aku akan makan Jajangmyeon.
Aku mengecek keseluruh ruangan memastikan sudah tidak ada orang lagi. Dan disaat di pojok ruangan tepatnya di rak buku-buku kuno aku melihat seorang gadis sedang mencari-cari buku di rak itu. Eunhyuk. Kenapa aku lupa dia pasti akan ada disini.
"Kau masih disini ternyata?" tanyaku padanya yang masih sibuk memilih buku. Dia tidak menjawab. Tentu saja dia adalah orang yang paling tidak bisa diusik jika sudah ada buku didepannya. Dan ada banyak buku yang ada disini.
"Aku lelah. Kau pulang saja sana agar aku juga bisa pulang." Usirku. Aku tau setelah ini dia akan mentapku dengan death glare-nya karena telah melanggar janjiku. Dan
"YA! APA KAU TIDAK INGAT KEMARIN KAU MENGATAKAN APA?" teriaknya padaku. Benar saja pikiranku barusan.
"Iya iya! Aku akan menunggumu disini." Jawabku untuk membuatnya tenang.
Lalu aku duduk dikursi di tempat yang memang disediakan untuk para pembaca duduk. Aku melihatnya yang masih memperhatikanku. Aku menopang dagu dengan kedua tanganku lalu memperhatikannya juga. Dia mengalihkan pandangannya kepada buku-buku lagi.
Aku memang berjanji padanya akan mengijinkannya membaca buku disini sepuasnya karena kemarin dia sudah membantuku mendapatkan cinta Sungmin. Setelah 10 menit lamanya dia mencari buku, dia kembali duduk di kursi yang ada dihadapanku dan mulai tekun membaca.
"Hooam."
Aku mulai bosan memperhatikannya, setelah 15 menit aku menunggunya. Lihat betapa bosannya aku sampai memperhitungkan waktu aku menunggunya. Lebih baik aku tidur. Mungkin dia benar-benar akan berada disini sampai pagi menjelang. Ku letakkan kepalaku diatas meja dan mulai menutup mataku.
.
.
Aku membuka mataku dan pemandangan yang menyambutku adalah Eunhyuk yang sudah tidak ada dihadapanku, tapi buku-buku yang ia baca tadi masih ada di atas meja. Kemana anak itu? Apa dia sudah pulang? Kenapa buku-buku itu tidak berada di rak jika memang dia sudah pulang? Ku alihkan pandanganku ke arah jam. Jam setengah 12. Ini sudah sangat malam. Jadi apa yang harus aku lakukan? Atau aku pulang saja ya?
"Kau sudah bangun?" Tanya seseorang dari belakang yang sedikit membuatku merinding. Lalu aku menengok ke belakang dan menemukan Eunhyuk yang sedang membawa plastik berukuran sedang di tangannya.
"Kau darimana?" tanyaku yang tidak menjawab pertanyaannya.
"Dari toko sebelah. Aku kasihan melihatmu yang mengeluh kelaparan dalam mimpimu. Apalagi di dunia nyata perutmu juga berbunyi sangat keras." Jawabnya.
"Jadi tadi aku mengigau?" Yang ditanggapinya dengan anggukan.
Kuakui memang aku lapar. Sangat lapar. Tadi sebenarnya aku akan membeli jajangmyeon setelah pulang dari perpustakaan, tapi aku harus menungguinya sampai nanti pagi menjelang. Jadi, pupuslah sudah rencanaku.
"Ini makanlah. Cuma ini saja yang menurutku bisa membuat kenyang." Dia menyodorkan sebuah roti isi yang cukup besar dihadapanku, lalu duduk dihadapanku.
Aku membuka rotiku, dan menyobeknya sedikit lalu memakannya. Kuperhatikan dia melakukan hal yang sama denganku.
"Sebenarnya aku juga lapar. Jadi kuputuskan untuk membeli makanan diluar" lanjutnya tiba-tiba.
"Jadi, alasan kau keluar bukan sepenuhnya dariku." Tukasku membuat kesimpulan yang dijawabnya dengan anggukan.
Suasana menjadi hening sesaat. Aku dan dia sibuk dengan makanan masing-masing.
"Jadi bagaimana perkembangan pangeranmu? Apa dia sudah sadar?" tanyaku memecah keheningan.
Dia sedikit tersentak tapi tetap berusaha rileks.
"Belum ada perubahan sama sekali." Jawabnya lesu.
Kalian tau siapa pangeran yang aku maksudkan? Ya, dia adalah kekasih Eunhyuk. Aku sebenarnya bingung dengan kekasih Eunhyuk satu itu. Dia tidak pernah bangun, alias dia selalu tidur bagaikan seorang putri tidur. Tapi dia itu seorang pria, jadilah dia menamainya 'Pangeran Tidur'. Dia bilang pangerannya akan bangun setelah ia dewasa. Sekarang umurnya sudah menginjak 19 tahun, lebih muda 1 tahun dariku.
"Kapan kau berulang tahun?" tanyaku padanya. Seseorang dikatakan dewasa saat menginjak umur 20 tahun kalau tidak salah.
"5 Januari. Kenapa?" jawabnya setelah menelan makanannya.
"Pada saat itu kau akan menjadi dewasa. Berarti tinggal beberapa hari lagi bukan?"
"Tidak. Sepertinya bukan dewasa itu yang dimaksud oleh ayahku. Dewasa yang dimaksud, saat aku sudah bisa menerima hidupku dengan tegar dan bisa mandiri. Kurasa itu yang beliau maksud."
"Benarkah?" aku sedikit ragu. Di negara ini seseorang dikatakan dewasa saat berumur 20 tahun. "Jadi kau akan tetap berdiam diri disini sampai waktu itu datang?" lanjutku.
"Tentu tidak! Apa kau tidak lihat apa yang kulakukan disini?" bantahnya.
"Membaca buku-buku sejarah tidak penting?" jawabku ragu-ragu.
"Siapa bilang tidak penting! Ini sangat penting. Ini adalah buku sejarah peninggalan kakek moyangku." Bantahnya lagi.
"Lalu?" tanyaku.
Apa hubungannya buku dengan seorang pria yang tertidur panjang. Menurut kisah 'Sleeping Beauty' yang pernah kubaca, putri akan bangun jika dicium oleh cinta sejatinya. Bukankah begitu?
"Aku punya rencana agar pangeranku terbangun." Jawabnya dengan pasti.
"Bagaimana? Dengan menyiramnya dengan air?" bercandaku.
PLETAKKK
"SAKIT BODOH!" Teriakku kesakitan karena dia memukulku dengan buku disebelahnya yang sangat tebal itu.
"Kau tidak punya otak ya? Sudah tau pangeranku itu akan bangun disaat aku beranjak dewasa." Ejeknya padaku. "Ayahku meninggalkan sebuah mesin waktu dirumah. Mungkin aku bisa menggunakannya untuk ke masa depan di saat umurku 25. Aku yakin aku sudah dewasa saat itu." Lanjutnya panjang lebar.
"Kalau memang kau akan menggunakannya, kenapa tidak dari dulu saja kau menggunakannya?" memang benar, kenapa ia harus menghabiskan waktunya berada disini seharian sedangkan ada alat yang lebih efektif yang bisa membantunya.
"Ada bagian dari alat itu yang hilang. Dan aku sedang mencoba menciptakan bagian yang hilang itu dengan bantuan dari buku-buku ini." Dia mengangkat buku yang barusan dia pukulkan ke kepalaku.
"Kau sudah menemukan caranya?"
"Sudah. Tapi ada satu bahan yang sangat sulit dicari." Terpancar kekecewaan di matanya.
"Apa itu? tanyaku penasaran.
"Daun semanggi berdaun 4. Daun keberuntungan." Dia menundukan kepalanya sepertinya dia putus asa.
Daun itu memang sangat sulit di cari, apalagi di tengah kota seperti ini.
Suasana hening menyelimuti kami berdua. Tidak ada yang berusaha memecahkan keheningan ini. Bahkan sekarang aku lebih fokus pada makananku.
"Aku sudah berusaha mencari dari buku lain. Tapi di buku lainpun juga menyantumkan 'daun semanggi berdaun 4'." Dia menghela nafas panjang dan melanjutkan. "Dimana aku bisa menemukannya?" dia terlihat sangat putus asa sekali aku jadi tidak tega melihatnya.
"Baiklah." Keputusanku sudah bulat, walau sedikit terpaksa. "Aku akan membantumu karena kau juga sudah membantuku mendapatkan Sungmin, aku akan membantumu mendapatkan pangeranmu." Lanjutku tegas.
Dia mendongak melihat kearah mataku dengan serius. Mungkin dia mencari kebohongan dimataku.
"Aku serius. Berhenti menatapku seperti itu." Perintahku padanya karena merasa risih diperhatikan seperti itu.
"Kyuhyun baik sekali!" dia berdiri lalu mencondongkan tubuhnya kearahku dan mengmbil kedua tanganku lalu dia mengguncakannya sangat keras.
"Berhenti! Jadi apa yang harus aku lakukan untukmu?" lalu dia berhenti mengguncangkan tanganku dan kembali duduk dengan kedua tangannya menopang kepalanya.
"Aku masih bingung Kyuhyun. Apakah kau bisa membantuku mencari daun itu?" tanyanya padaku. Dimana aku bisa menemukannya? Di kota seperti ini mungkin sudah tidak ada. Kalau di desa? Mungkin masi ada karena banyak tumbuhan hijau disana.
"Bagaimana kalau kita coba cari besok di desa?" tanyaku padanya memberi solusi. "Ide bagus Kyuhyun!"
"Baiklah kalau begitu! Sekarang kita pulang lalu besok aku akan menjemputmu di rumahmu aku juga harus minta ijin dulu pada Sungmin." Ucapku terburu-buru dan langsung beranjak dari kursiku.
Aku menyambar tasku yang entah sejak kapan aku sudah meletakkannya di atas meja baca tadi. Eunhyuk juga terburu-buru mengembalikan buku-buku tebal itu ke tempatnya semula.
"Mari pulang." Ucapku yang sudah diambang pintu keluar dari perpustakaan ini.
"Ayo." Eunhyuk sedikit berlari mendekati pintu keluar.
Aku mengunci pintu perpustakaan ini setelah Eunhyuk keluar dari perpustakaan. Pintu perpustakaan ini ada dua lapis. Yang pertama terbuat dari besi yang hanya bisa terlihat jika kau ada di dalam perpustakaan dan yang kedua dari kayu jati yang sangat kuat yang terlihat dari luar perpustakaan. Dengan cekatan aku mengunci kedua pintu itu.
"Eh Kyuhyun. Apa kau tau rumahku dimana?" Tanya Eunhyuk tiba-tiba yang membuatku tersadar. Benar juga, selama ini kami hanya bertemu di perpustakaan saja, tidak sampai mampir kerumah masing-masing.
"Benar juga. Mungkin aku harus mengantarmu pulang baru aku akan mengetahui dimana letak rumahmu." Ucapku memberi solusi.
"Benar tidak merepotkanmu?" tanyanya ragu
"Kau ingin dibantu atau tidak. Ayo! Aku bawa motor, jadi tidak masalah."
"Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kau bawa motor." Umpatnya jengkel.
Tiba-tiba dia berkata "Kenapa kemarin kau tidak bawa? Kan kita tidak perlu lari-lari tidak jelas ke rumah Sungmin kemarin!" tanyanya sekaligus cibirnya padaku.
"Aku juga lupa kenapa aku tidak bawa motor." Jawabku sekenanya. Benar juga, kenapa aku tidak bawa motor kemarin.
Ku lihat dia yang hanya menurut dan mengikutiku dari belakang. Kami berdua menuju ke tempat parkiran yang berada disebelah toko yang buka 24 jam. Jalanan yang biasanya ramai oleh pejalan kaki sudah terlihat sangat sepi. Tentu saja, sekarang sudah tengah malam atau bisa disebut juga sudah dini hari, mana mungkin masih ada orang yang mau berkeliaran. Kecuali kalau memang orang-orang itu bekerja pada tengah malam.
.
.
"Ini rumahmu?" tanyaku padanya.
Di hadapanku sekarang berdiri dengan kokoh sebuah rumah yang tergolong klasik, karena rumah ini terbuat dari kayu, tapi masih tampak mewah. Tidak seperti rumah yang berada di sekelilingnya yang terbuat dari batu bata atau beton. Perumahan disini bisa dibilang cukup sepi, bahkan mungkin rumah-rumah disini bisa di hitung jari.
"Iya. Mau masuk dulu?" Ajak Eunhyuk.
"Boleh. Sebenarnya aku sangat haus karena tadi kau hanya membelikan aku makanan tidak sekalian minumannya." Jawabku sedikit menyindirnya.
"Sudah bagus dibelikan, daripada tidak sama sekali." Cibirnya. Dan aku hanya bisa terkekeh pelan.
Aku mulai turun dari motorku dan mengikuti Eunhyuk yang sudah turun dari motorku lebih dulu. Kami mulai memasuki perkarangan rumahnya. Terlihat banyak tumbuhan hijau disini dari pohon yang menjulang tinggi, dan berbagai bunga yang memamerkan mahkotanya yang berwarna-warni, dan juga ada.. Hama? Cukup banyak hama selama mata memandang. Mungkin Eunhyuk tidak pernah membersihkannya. Sudah pasti begitu. Sejak kapan dia akan ada dirumah seharian. Yang ada dia juga sibuk membaca buku-buku tidak penting di perpustakaan.
Eunhyuk mulai membuka pintu rumahnya. "Silahkan masuk." Pintanya padaku.
Aku mulai melangkahkan kakiku memasuki rumahnya tepatnya menuju ruang tamu. Ruang tamu ini dipenuhi dengan berbagai macam boneka dan robot. Aku juga bingung. Tapi aku tidak berhenti di ruang tamu aku meneruskan langkahku menuju pintu yang mempunyai 2 daun pintu yang mungkin menghubungkan antara ruang tamu dengan ruang lainnya.
Aku membuka pintu itu perlahan dan pandangan seperti toko mainan yang menyambutku. Di sekitar meja kerja, -karena di atas meja terlihat berbagai alat pertukangan kayu, beberapa kacamata pembesar, dan juga beberapa perlatan yang tidakku mengerti apa fungsinya. Jadi aku memutuskan itu adalah meja kerja- yang tepat berada di tengah ruangan ini di kelilingi oleh rangakaian kereta api beserta relnya sedang memutari meja itu. Dan ada keranjang boneka di pojok ruangan. Dan terdapat beberapa bola kaca bening berisi air. Di dalam bola kaca itu terdapat bentuk-bentuk seperti boneka salju, sebuah rumah dan lain sebagainya. Juga ada banyak lemari-lemari kecil yang aku sendiri tidak tahu apa isinya. Di dinding kayunya pun juga terdapat banyak bingkai foto. Bahkan juga ada rumah-rumahan. Pas sekali untuk dijadikan toko mainan
"Sudah puas melihat lihat?" Tanya Eunhyuk tiba-tiba membuyarkan pikiranku yang sedang meneliti baik-baik rumah ini.
Ku lihat dia membawa 2 cangkir teh panas di tangannya. Sejak kapan ia membuatnya? Apakah aku terlalu lama mengamati ruangan ini?
"Mungkin." Jawabku sekenanya sambil menerima teh panas yang ia sodorkan padaku.
Aku mulai menyesap pelan tehku dan berusaha berjalan mengelilingi ruangan ini. Ini sangat menarik menurutku, jarang-jarang aku ketempat seperti ini. Bahkan ada jerami disini. Sungguh menarik. Mataku mulai tertarik melihat suatu benda yang berputar aneh dan terlihat seperti jam pasir? Tapi tidak ada pasir melainkan 3 buah warna yang berputar ditengahnya. Aneh. Setelah melihat sekeliling lagi aku menemukan seonggok tubuh manusia sedang berbaring di atas tempat tidur yang terletak di sebelah jam pasir itu. Sedikit terkejut memang, kenapa aku baru menyadarinya.
"Dia pangeranku." Ucap Eunhuyuk yang tiba-tiba sudah ada di belakangku dan berhasil membuatku sedikit kaget karena tadi aku sedang serius.
Sekarang yang ada di hadapanku adalah seorang pria tampan yang sepertinya sangat menikmati tidurnya. Mukanya terlihat sangat damai. Seperti orang mati saja. Tapi dia terlihat hidup karena desahan nafasnya yang teratur dan dadanya yang kembang kempis. Tapi masih tampan aku jika dibandingkan dengannya.
*author: whaatt? Itu bukan fitnah kan? Kyuhyun: eh ngapain disini, thor? Lo kagak ada di naskah
Author : hyyaa, gajimu ku potong Kyuhyun-ah. Tu orang yg lagi tdur, jauh lebi tampan darimu (soalnya dia biasnya author)
Reader: berisssiiik* #abaikan #authornumpangngeksis
Back to story.
"Siapa namanya?" tanyaku penasaran.
"Aku tidak tahu. Tapi aku akan mengetahuinya segera." Jawabnya dengan pasti.
"Percaya diri sekali kau." Ejekku.
Aku melangkahkan kakiku mejauhi pria itu dan menuju ke sebuah rak buku. Kuletakkan cangkirku diatas meja yang ada didekatku dan mulai mengambil salah satu buku yang ada disitu. Aku mulai membukanya. Buku ini berisi tentang mesin waktu. Mesin waktu? Mungkin mesin waktu ini yang akan digunakan Eunhyuk. Tapi aku belum melihat mesin waktu itu. Kututup lagi buku itu dan mencari keberadaan Eunhyuk untuk menanyakan keberadaan mesin waktu itu.
"Eunhyuk." Ucapku sedikit keras karena aku belum menemukan batang hidungnya.
"Ya?" jawabnya. Aku mencari sumber suara itu yang ternyata berasal dari ruangan dimana 'pangeran' tadi bersemayam(?) maksudnya berbaring.
"Dimana mesin waktu itu?" tanyaku padanya.
"Kau ingin melihatnya?" tanyanya padaku balik.
Dia berjalan mendekatiku. Dan ternyata dia malah melewatiku. Aku mengikutinya dari belakang. Dia membuka sebuah pintu yang sebelumnya kukira itu adalah sebuah lemari. Sungguh bodoh aku ini. Ruangan tersebut sangat gelap. Tapi ada cahaya di sebuah tempat seperti telepon umum. Kalian tahukan bagaimana tempat sebuah telepon umum. Sebuah ruangan kecil yang mungkin hanya muat dua orang saja dan didalamnya terdapat sebuah telepon. Berbeda dengan telepon umum yang lainnya, bukannya terdapat telepon melainkan terdapat banyak benda lingkaran seperti yang terdapat di jam kuno. Menurutku seperti jeruji sepeda.
"Ayo kemari." Ucap Eunhyuk mempersilahkanku masuk.
"Ah, tidak usah. Yang penting aku sudah melihatnya." tolakku halus
"Baiklah kalau begitu." Lalu Eunhyuk menutup pintu ruangan itu.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Aku akan kemari besok." pamitku.
"Baiklah. Mari kuantar." Eunhyuk mengantarku keluar dari rumahnya.
Saat tiba di motorku, aku langsung memakai helmku dan berpamitan pada Eunhyuk yang berdiri di ambang pintu perkarangan rumahnya. Setelah itu aku melesat pergi pulang kerumah bersama motorku.
.
.
AUTHOR POV
Matahari besinar sangat terik diatas sana. Terlihat Eunhyuk dan Kyuhyun yang sedang turun dari motor yang mereka tumpangi dan menuju ke sebuah rumah, yang diketahui sebagai rumah Eunhyuk. Terlihat banya keringat yang bercucuran dari kedua tubuh mereka. Sepertinya mereka telah melaksanakan kerja rodi setengah hari ini.
Mereka memasuki rumah Eunhyuk. Kyuhyun yang suda sampai di ruang tamu memilih langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa dan menghela nafas panjang. Eunhyuk masuk lebih dalam sedalam rumahnya, menuju ke kamarnya dan setelah ia keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah berbeda dia menuju ke dapur dan membuat jus jeruk untuk 2 orang.
"Dimana kita akan mencarinya lagi? Apakah benar-benar tidak ada petunjuk yang mungkin ditinggalkan oleh ayahmu?" Tanya Kyuhyun dari arah belakang Eunhyuk.
"Sepertinya tidak. Aku sudah mencarinya di seluruh buku yang ada di sini. Tapi tidak ada satupun petunjuk." Ucap Eunhyuk diikuti oleh helaan nafas panjang dari kami berdua.
KYUHYUN POV
Dimana kita akan menemukan daun semanggi itu? Tadi pagi pukul 06.00 aku datang kemari untuk menjemput Eunhyuk dan kami langsung berangkat ke desa. Setelah seharian kami mencari, tapi kami tidak menemukan apa-apa. Yang membuat Eunhyuk semakin putus asa. Masa tidak ada sama sekali petunjuk?
Selagi menunggu Eunhyuk selesai membuat jus, kuputuskan membaca buku tentang mesin waktu yang kemarin tanpa sengaja aku ambil dari sebuah rak buku. Setelah mendapatkan buku itu, aku menuju ke meja kerja yang berada di tengah ruangan tersebut sebagai tempatku membaca.
Setelah beberapa menit Eunhyuk datang ke tempatku dan meletakkan segelas jus jeruk di atas meja kerja lalu dia pergi entah kemana.
Setengah jam kemudian
Aku sudah selesai membaca buku ini dan sudah sampai di halaman yang terakhir. Aku meletakkan buku itu tanpa menutupnya. Benar kata Eunhyuk, memang tidak ada petunjuk sama sekali. Sambil terus berfikir aku memperhatikan buku yang sekarang sedang ada dihadapanku ini.
Buku ini bersampul merah, dan sudah banyak yang robek disana sini, mungkin karena buku ini umurnya sudah sangat tua dan sering dibuka atau dibaca. Dan ternyata buku ini adalah buku harian milik ayah Eunhyuk kalau tidak salah.
Tanpa sadar aku meraba-raba bagian cover belakang buku ini. Apa ini? Ada sesuatu yang menonjol disini. Ku buka sampul itu dan kalian pasti tau apa yang aku temukan. Daun semanggi berdaun 4 dan ini masih hijau. Kenapa bisa masih hijau? Kenapa tidak berwarna coklat? Kenapa bisa tidak layu? Apa mungkin gara-gara ini adalah daun keberuntungan? Ah, aku terlalu banyak berfikir.
"EUNHYUK! Kau dimana?" aku meneriakkan namanya yang dari tadi memang sudah menghilang dari penglihatanku.
Aku mencarinya di ruangan dimana 'Pangeran' nya berada, tapi dia tidak ada di sebelahnya. Di dapur pun dia juga tidak ada. Kemana anak ini? Apa mungkin dia ada di kamarnya? Kuputuskan untuk mencari ke kamarnya. Aku mengetuk pintu kamar Eunhyuk yang ternyata tidak tertutup rapat alias terbuka sedikit. Tidak ada respon sama sekali. Aku membuka pintu kamarnya dengan perlahan, dan aku bisa melihat Eunhyuk yang sedang berbaring diatas tempat tidurnya. Bukan berbaring lagi, tapi dia tertidur. Aku heran, kenapa saat ada tamu seperti ini dia bisa tertidur? Apa dia tidak takut aku akan mencuri sesuatu? Aku bisa saja mengambil rumah-rumahan yang ada di ruang tengah itu lalu aku jual. *kyuhyun ngga modal. #dilempar sarung tinju sama sparkyu*
"Yasudah kalau begitu. Aku akan meninggalkan daun ini." Aku tidak tega membangunkannya, jadi kutinggalkan daun tersebut di atas meja kecil yang berada di sebelah kasur.
Aku keluar dari kamarnya dan kembali menuju meja kerja dimana tadi Eunhyuk meletakkan jus jeruk yang sama sekali belum aku sentuh dari tadi. Aku menghabiskan jus jeruk itu dengan cepat dan meletakkannya di tempat pencucian piring. Kuputuskan untuk segera pulang, pukul 3 nanti aku harus kembali bekerja. Aku mencari letak jam untuk mengetahui pukul berapa ini. Dan sekarang sudah pukul 2 lebih 15 menit
PUKUL 2 LEBIH 15 MENIT ?
Ku lihat lagi jam yang sedang menggantung indah di dinding itu. Dan ternyata penglihatanku tidak salah. Aku bisa terlambat lagi. Dari sini ke perpustakaan kurang lebih membutuhkan waktu 40 menit.
Aku langsung melesat menuju ke pintu depan, tapi ada yang seperti mengusikku. Aku berhenti di depan ruangan dimana 'Pangeran' itu berada. Ada apa ini? Aku memasuki ruangan itu, dan kulihat 'pangeran' itu sedang tertidur dengan pulas. Tidak ada yang beda menurutku, tapi aku seperti pernah melihat orang ini disuatu tempat. Dimana aku pernah bertemu dengannya? Tapi anehnya lagi, kenapa aku baru sadar? Ah sudahlah.
Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju pintu depan dan langsung menuju ke motorku. Aku memakai helmku lalu memacu motorku dengan kecepatan tinggi, agar aku tidak terlambat sampai di tempat kerja.
2 DAYS LATER
4 JANUARY 5011, 23:00 PM
"Sudah 2 hari dia tidak kemari." Ucapku pelan saat menyadari bahwa aku sudah 2 hari tidak bertemu dengan Eunhyuk.
"Tentu saja bodoh, dia sudah mendapatkan daun itu, mana mungkin dia kesini lagi." Aku memukul pelan kepalaku sendiri. Hari ini kami semua bekerja lembur, karena besok adalah hari perayaan ulangtahun bosku. Istrinya meminta kami mendekorasi perpustakaan ini sebagai kejutan suaminya –bosku. Tapi tetap saja aku yang pulang paling akhir. Saat ini aku sedang berada di perpustakaan yang akan kututup. Semua lampu sudah kumatikan, tinggal pintu besar ini saja yang akan kukunci.
Besok Eunhyuk ulangtahun ya? Ah bukan besok, tapi satu jam lagi.
EUNHYUK POV
Aku berlari dengan cepat, sedang mengejar waktu. Sudah jam 11.
Apakah masih sempat? Aku membutuhkan sesuatu. Tinggal satu ini saja dan aku bisa pergi dengan mesin waktuku. Setelah seharian penuh kemarin aku membuat benda yang hilang dan hari ini adalah puncaknya.
Aku berhenti 20 meter dari perpustakaan yang sudah gelap itu. Terlihat seseorang yang akan beranjak pergi setelah mengunci pintu perpustakaan tersebut.
"KYUHYUN!" aku meneriakkan namanya agar dia dapat mengetahui keberadaanku yang tidak begitu jauh darinya.
Dia menolehkan kepalanya kearahku. Terlihat samar samar sedikit kerutan di dahinya.
"Eunhyuk." Ucapnya sembari berjalan mendekatiku.
"Kyuhyun." Ucapku lirih karena masih berusaha mengatur nafasku yang terengah-engah.
"Aku ingin berterima kasih padamu, sangat sangat berterima kasih padamu. Karenamu malam ini aku bisa pergi." Lanjutku.
"Baguslah kalau begitu. Cepatlah ketahui nama 'pangeran'mu itu. Dan cepatlah menikah dengannya. Tapi mungkin aku sudah menikah lebih dulu dengan Sungmin." Candanya. Aku hanya bisa terkekeh pelan.
Inilah yang ingin kulakukan, berpamitan dengannya sebelum pergi. Aku mendekat kearahnya, dan memeluknya sebentar. Kyuhyun satu satunya teman yang aku punyai dan satu-satunya orang yang bisa kuandalkan.
"Oke. Aku harus pergi. Sampai jumpa Kyuhyun. Kita akan bertemu lagi di masa depan" Aku melepas pelukanku dan mulai berjalan menjauhinya.
Melambaikan tanganku sebentar lalu membalikkan badanku. Kulihat dia juga melambaikan tangannya. Lalu bis yang akan aku tumpangi sudah tiba di halte. Sedangkan aku masih 10 meter sebelum mencapai halte itu. Setelah menurunkan satu penumpangnya, bis itu menutup pintunya dan mulai melaju.
"Berhenti sebentar!" aku berteriak sambil berlari kencang mengejar bis itu. Untung saja supir itu langsung bisa melihatku yang sedang kesusahan. Ia memberhentikan bisnya, aku masuk kedalam bis. Mungkin ini terakhir kalinya aku akan menaiki bis ini.
45 minutes later
Aku membuka pintu rumahku, dan langsung saja aku mengambil bagian yang hilang itu diatas meja kerja. Aku mengalihkan pandanganku kepada 'pangeran'ku sebentar.
"Sebentar lagi kita akan bertemu." Gumamku kecil.
Aku berjalan pelan dan dengan pasti memasuki mesin waktu. Kupasang bagian yang hilang itu. Lalu semua jeruji yang ada disini berputar, yang menandakan mesin waktu ini bekerja. Aku mulai menekan tahun yang akanku tuju. Lalu semuanya tiba-tiba menjadi terang, dan aku bisa merasakan mesin waktu ini berputar. Yang tadinya lambat tiba-tiba menjadi sangat cepat. Dan setelah itu aku merasakan kegelapan menyerangku seketika.
00:00
TBC
Bagaimana dengan nasib Eunhyuk di masa depan? Apakah dia akan bertemu dengan 'pangeran'nya dan mengetahui nama pangerannya? Sebenarnya siapa 'pangeran' itu? Dan bagaimana bisa 'pangeran' itu tertidur dan tidak akan bangun sampai saat Eunhyuk telah dewasa?
hehehe, silahkan baca next chapter. Tapi aku pengen tau apakah readers pengen diterusin apa ngga nih ff baru nanti aku update next chap nya. Tau kan caranya? Hehe, tolong berikan author belum punya pengalaman ini komentar. Kritik dan saran sangat dianjurkan^^
Makasih ya yang udah mau baca^^
Dan, sebelumnya FF ini udah aku masukin ke satu kontes, tapi kagak menang. Tapi aku makaaaaaaaaasih banget sama yang punya kontes karna aku jadi tau kesalahanku dan kekurangan FF ini. Dan bakal seneng lagi kalo ada yang mau ngasih saran lagi. FF ini juga terinspirasi sama MV nya IU yang You & I
Gamsahamnida^^
