Howdy, setelah sekian lama jadi silent reader (cuma baca dan ga pernah review) di FFn ini, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dalam dunia per-fanfiction-an (ngarang istilah sendiri -_-,). Dan fanfic yang akan kalian baca ini adalah karya pertama saya, jadi mohon maklum jika kurang bagus ya ;)

Disclaimer: Detective Conan is Aoyama Gosho's property, I only borrow the characters for this story.


Taptaptaptap . . .

Suara langkah kaki wanita itu teredam oleh hiruk pikuk suasana di London International Airport. Setelah 12 jam perjalanan Jepang-London, akhirnya ia sampai di kota yang terkenal dengan Big Ben-nya itu. Saat ia berada di luar bandara, langkahnya terhenti.

"London…" bisik wanita itu.

"Semoga tempat ini lebih membutuhkan ku…"

LONDON RUN AWAY

Chapter 1

APTX 4869 Antidote

Biip biip .. Biip biip ..

Sebuah jam digital dalam ruangan itu menunjukkan pukul 02.00 am. Ruangan itu ternyata adalah laboratorium kecil milik Prof. Agasa yang ada di ruang bawah tanah rumahnya. Laboratorium itu begitu gelap, sumber cahaya yang ada hanya berasal dari laptop yang berada di atas meja kerja di sudut ruangan itu. Suasana di rumah itu begitu sepi, hanya ada suara ketikan jemari di atas keyboard laptop dan sesekali suara kendaraan yang lewat di jalanan depan rumah itu. Sudah seminggu Ai tidak tidur. Tampak jelas lingkaran di sekitar matanya, rambut coklatnya berantakan, jas lab putih yang ia kenakan kusut di sana sini, wajahnya terlihat lelah dan pucat, itu semua karena efek kopi yang diminumnya selama seminggu kemarin agar ia tidak tertidur. Hal tersebut dilakukannya karena ia hampir menyelesaikan formula penawar APTX 4869 yang dijanjikannya kepada Shinichi. Obat penawar itu entah kenapa menjadi suatu tanggung jawab bagi seorang Shiho Miyano. Ya, karena dialah yang sudah membuat Shinichi dan dirinya berubah menjadi sosok anak-anak dengan membuat APTX 4869. Perasaan bersalah selalu menghantui dirinya, oleh karena itu ia bertekad untuk segera menyelesaikan formula penawar APTX 4869.

Biip biip .. Biip biip ..

Ai melirik jam digital berwarna silver di sebelah laptopnya.

'Sudah pukul 2 ternyata, dan aku hampir menyelesaikan formula penawar APTX 4869'

Ai meregangkan tubuhnya yang terasa begitu kaku. Sudah 7 jam ia duduk tak bergeming di depan laptop, setelah kembali dari makan malam bersama Prof. Agasa dan Conan yang memutuskan untuk menginap malam itu, ia segera kembali ke lab dan mengunci dirinya untuk melanjutkan pekerjaannya. Menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop membuat dirinya haus, dan dari tadi ia hanya meminum kopi hitam, jadi ia memutuskan untuk mengambil minum di dapur. Ai beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu ruangan itu. Pelan-pelan ia membuka pintu karena tidak ingin membangunkan Prof. Agasa yang tertidur lelap di kamarnya yang berada tepat di atas lab bawah tanah itu. Pintu lab di rumah Prof. Agasa langsung berhadapan dengan sebuah tangga yang menghubungkannya dengan dapur.

"Kenapa lab di rumah ini harus berada di basement sih? Rasanya untuk menaiki tangga-tangga ini saja aku tidak sanggup", keluhnya.

Wajar saja Ai berkata seperti itu karena terakhir kali ia merasakan empuknya kasur di kamarnya adalah seminggu yang lalu. Setelah menyalakan saklar lampu dapur yang terletak di ujung tangga, Ai segera membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Lalu ia berjalan menuju ruang TV untuk duduk sejenak di sofa dan menghabiskan minumnya. TV di ruangan itu menyala dan sedang menampilkan acara pertandingan Manchester United vs Chelsea. Conan tampak sedang tertidur di sofa, toples keripik di pangkuannya jatuh ke lantai saat Conan bergerak di sela-sela tidurnya. Ai segera membereskan keripik yang berserakan di lantai dan mematikan TV. Lalu ia duduk di samping Conan yang tertidur lelap.

'Shinichi, saat tidur wajahmu terlihat sangat tenang, tapi jika kau tidak sedang tertidur rasanya aku ingin menggaruk wajahmu yang menyebalkan itu!'

Ai tersenyum kecil setelah terlintas pikiran itu di kepalanya. Memang benar, Conan bisa sangat menyebalkan bila ia sedang dekat-dekat Ai, apalagi jika Ai sudah mulai menunjukkan tampang dinginnya, Conan akan langsung menggodanya dan mereka akan berakhir dengan saling adu mulut. Rona merah muncul di pipi Ai saat ia tersadar bahwa ia sedang memandang wajah Conan. Sudah lama sekali Ai menyembunyikan perasaannya terhadap Conan. Semenjak mereka berdua sering menghabiskan waktu memecahkan kasus bersama dengan grup detektif cilik , Ai diam-diam mulai menyukai Conan.

'Malam ini agak dingin, ia bisa masuk angin jika tidur di sini', pikir Ai.

Setelah menghabiskan minumnya, Ai beranjak ke kamarnya untuk mengambil selimut. Kamar Ai tidak terlalu besar, hanya ada sebuah tempat tidur, lemari pakaian, dan sebuah meja kecil. Diambilnya selimut dari lemari pakaian, lalu ia melirik tempat tidurnya, ingin sekali ia merebahkan badannya sejenak di tempat tidur empuk itu, tapi ia ingat bahwa pekerjaannya belum selesai. Ai kembali ke ruang TV sambil membawa selimut miliknya. Pelan-pelan ia menyelimuti badan Conan karena tidak ingin membangunkannya.

Tiba-tiba badan Conan bergerak. Mendadak sekujur tubuh Ai dingin.

'Astaga, aku membangunkannya! Bodoh sekali aku menyelimutinya, seharusnya aku biarkan saja dia kedinginan!'

Ai panik sekali, akan sangat memalukan jika bocah tengik itu—Conan —melihatnya sedang mencoba menyelimutinya. Ai terpaku di tempat, matanya tidak terlepas dari Conan. Di kepala Ai sudah terbayang bahwa sebentar lagi Conan akan terbangun dan langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan tentang selimut yang menutupi tubuhnya.

Tik… tik… tik…

Suara jarum jam dinding di ruangan itu terdengar di sela-sela ketegangan yang dirasakan Ai. Jantungnya berdebar kencang sampai-sampai debarannya terlihat di permukaan jas labnya.

Lima detik sudah berlalu. Ternyata hal itu tak terjadi, Conan malah menarik selimut itu menutupi tubuhnya yang kedinginan.

Fiuuuuh….

Ketegangan yang dirasakannya beberapa detik lalu hilang seketika, digantikan oleh perasaan lega. Ai tertawa kecil mengingat betapa ketakutannya dia tadi jika Conan benar-benar terbangun dan melihat sebuah selimut merah muda bermotif bunga sakura melingkar di tubuhnya dan Ai yang berdiri di depannya dengan wajah horror.

"Shinichi, sebentar lagi aku menyelesaikan penawarnya, jadi kau tidak akan menggangguku lagi dengan pertanyaan-pertannyanmu tentang kapan aku menemukan formula penawarnya. Hal itu sangat menyebalkan tau! Memangnya kau pikir aku tahan dengan suaramu yang jelek itu?"

Suaranya cukup jelas untuk didengar, tapi Ai tahu bahwa Conan tak akan mendegarnya berhubung Conan sedang tertidur, dan bahkan sekarang Conan terlihat tambah pulas karena selimut milik Ai membuatnya hangat.

Ai tertawa kecil, tapi terlihat jelas wajahnya menyiratkan kesedihan. Jika ia menyelesaikan penawar APTX 4869, itu artinya Conan akan kembali menjadi Shinichi, dan Shinichi akan kembali bersama Ran. Walaupun sosok Conan itu sangat menyebalkan menurut Ai, tapi ia lebih memilih Conan tak pernah kembali menjadi Shinichi sehingga Conan akan selalu menemani Ai. Jika Shinichi meninggalkannya, Ai akan merasa sangat kesepian, orang tua dan kakak perempuannya sudah meninggal, memang masih ada Prof. Agasa yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri, tapi lelaki tua itu tak akan mampu mengisi kekosongan hatinya. Tapi biar bagaimanapun, Ai harus tetap menyelesaikan penawar APTX 4869, karena tidak ada alasan yang cukup masuk akal untuk tidak menyelesaikannya, dan APTX 4869 merupakan kesalahannya yang harus ia bayar dengan menemukan penawarnya.

Ai segera kembali ke lab untuk melanjutkan menyusun formula penawar yang sebentar lagi selesai. Conan tiba-tiba terbangun. Ia merasa heran karena dirinya mengenakan selimut yang jelas-jelas sebelum ia tertidur benda itu belum ada bersamanya. Saat ia menoleh, ia hanya melihat bayangan yang berjalan ke luar dari ruangan itu. Merasa malas untuk beranjak dari sofa untuk melihat siapa yang menyelimutinya, ia kembali tidur karena hari masih begitu gelap.

~Ж~

"Penawar APTX 4869…"

Diletakkannya dengan hati-hati 2 buah pil yang berwarna putih-merah itu ke dalam sebuah kotak kecil. Setelah 2 bulan mencari formula penawar dan seminggu tidak tidur untuk menyelesaikan penawar APTX 4869, penawar itu akhirnya selesai dibuatnya.

Tok tok tok …

Terdengar seseorang mengetuk pintu lab. Ai segera memasukkan kotak berisi penawar APTX 4869 ke kantung jas labnya.

"Hey kau! Sampai kapan kau akan mengurung dirimu di sini? Cepat ke dapur untuk sarapan, jika dalam waktu 10 detik kau tidak menunjukkan wajah kusutmu itu di meja makan, maka aku akan menghabiskan jatah sarapan mu!" ucap Conan dari balik pintu.

"Jika kau sampai berani menyentuh sarapanku, maka aku akan menagih dompet Fusae yang kau janjikan" senyum licik terpasang di wajah Ai.

Ai membuka pintu lab dan langsung melihat Conan yang berdiri lemas di depannya.

"Baiklah, kau menang. Aku tak akan menyentuh sarapanmu" ucap Conan sebal.

Conan memang berjanji kepada Ai akan membelikan dompet Fusae setelah Ai mau bekerjasama membantunya berpura-pura menjadi rekan kerja detektif dan berbicara dengan Ran melalui telefon bahwa Shinichi dan dirinya sedang berada di Amerika memecahkan kasus kejahatan.

Mereka berdua beranjak menaiki tangga menuju dapur.

"Dasar nenek sihir picik" bisik Conan pelan, sebal karena niat ingin mengancam Ai malah ia yang diancam oleh Ai.

Ai menoleh dan langsung memasang tatapan mautnya saat ia mendengar dirinya disebut sebagai nenek sihir picik.

"Apa katamu tadi?" tanya Ai ketus.

"Hah tidak, aku tidak mengatakan apa-apa ko. Sepertinya sekarang pendengaranmu semakin buruk karena terlalu lama mengurung diri di lab gelap itu" ucap Conan mengelak sambil memancing adu mulut baru karena dirinya tidak terima tadi kalah adu mulut dengan wanita di depannya.

"Terserah kau sajalah Kudo" ucap Ai sebal karena Conan berani mengejeknya bahwa ia terlalu lama menghabiskan waktu di lab, padahal Ai melakukan itu untuk menyelesaikan penawar APTX 4869.

Prof. Agasa, Ai, dan Conan berkumpul di meja makan untuk sarapan. Ai sangat bimbang, apakah ia akan mengatakan sekarang bahwa ia sudah berhasil membuat penawar APTX 4869 atau menyimpannya karena dia belum siap melihat Shinichi bersama Ran. Kebimbangannya terlihat jelas di wajahnya.

"Kau sakit Ai?" tanya Prof. Agasa yang cemas melihat wajah Ai yang kusut.

"Emh aku… Aku tidak apa-apa ko" jawab Ai.

Tapi, semakin ia menunda mengatakannya kepada Conan semakin besar beban yang mengganjal yang akan ia rasakan nanti. Setelah ia berusaha melawan sikap egoisnya, ia memutuskan untuk mengatakannya. Ai berhenti makan, sendok di tangannya ia letakkan. Tangannya merogoh sebuah kotak kecil di saku jas labnya. Ia menggenggam kotak itu dalam saku jas labnya, sambil mengumpulkan keberanian untuk berbicara kepada Conan.

"Conan" ucap Ai sambil memandangi omelet di depan matanya karena ia tak berani menatap wajah Conan.

Conan dan Prof. Agasa menatap heran Ai yang hanya memandangi sarapannya. Mereka menunggu Ai melanjutkan kata-katanya.

"Aku..." ucapannya terhenti, sebuah hembusan kecil ia lepaskan saat ia yakin akan mengatakannya sekarang.

"Aku sudah berhasil membuat penawarnya"

To be continued….

Satu chapter akhirnya selesai :') Gimana menurut kalian? Tolong review yaaa