Reflek menutup mata. Bunyi keras siraman air yang jatuh ikut menyambangi telinga. Terutama tubuhnya yang jadi objek guyuran. Secepat serangan datang, dinginpun mulai menggigiti kulit yang dirembasi air dingin tersebut. Belum lagi kecerobohannya yang hanya mengenakan sepotong kaos tipis seusai pelajaran olahraga barusan.

Entah harus menyebutnya nasib buruk atau bagaimana. Furihata Kouki meratap saja di tempatnya. Mengusap pasrah wajahnya yang kuyup. Hal seperti ini memang sudah biasa terlebih jika dua pangeran tampan‒julukan semena-mena penghuni satu sekolah walau jujur Kouki lumayan mengernyit mendengarnya‒sedang tak satu jalur jalan dengannya.

Tentu saja semua orang suka kejutan. Terutama yang menyenangkan. Macam dapat hadiah dari kekasih misalnya. Atau bisa juga sebagai wujud perayaan atas sesuatu. Tidak dengan yang berkebalikan dengannya. Macam diusili rekan dan sejenisnya. Seperti Kouki misalnya.

"Huhh… kenapa aku lagi yang kena?!" Meski bernada menjerit geram nyatanya Kouki hanya menggerutu tak lebih dari satu tarikan nafas. Bicaranya kelewat cepat sehingga beberapa yang sedang menatapnya berbagai macam makna tak jelas menangkap gumamannya.

Bising ribut baik yang meremehkan maupun kasihan atau berdesus komentar lainnya tanpa embel-embel turun tangan membantu si pemuda kurus yang jadi bulan-bulanan untuk kesekian kalinya preman sekolah itu mereda secepat cahaya merambat. Nyaris hening yang timbul jika tak diikuti derap langkah santai yang menghentak lantai koridor tempat kejadian perkara.

"Apa yang sedang terjadi disini?"

.

.

the Third Side

by Rin fuka

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

.

Rate: T

Pairing: SeijuurouxKoukixMayuzumi ‒AkaFuriMayu

.

Genre: Romance‒Hurt/Comfort.

Warning: AR, Shounen-ai/BoysxBoys, OOC, OC, kemungkinan Typos, penggunakan nama kecil, dan tolong jangan memaksakan membaca jika tidak berkenan.

.

Tidak ada keuntungan apapun dalam fic ini. Hanya sekedar kesenangan semata.

.

.

Prolog

0~o~0

.

Pertanyaan standar satu dari dua penyandang pangeran tampan sekolah merebak luwes menembus gendang telinga setiap siswa yang berdiri mematung disana. Komat-kamit kecil bisik dari beberapa yang berada paling sudut mendapati sorotan galak manik mirah.

"A‒Akashi!"

Mencicit panik meski wajah diusahakan segarang mungkin. Ketua si tukang tindas tak yakin wujud sang Emperorlah yang berdiri memandang datar kerumunan di sekitar Kouki mematung sambil melongo bingung. Setidaknya diyakini kabar terkini yang beredar si surai magenta itu sedang mengikuti olimpiade tingkat nasional hari ini.

Satu dari calon bandit itu memberikan senyuman meremehkan. Mengusai hawa dingin yang menusuk langsung dirinya lantas berseru mengejek kemudian. "Ingin berperan sebagai pelindung Chihuahua kuyup ini, eh?"

Akashi Seijuurou mendengus. Geli menghampiri. Bukan karna bentuk pertanyaan kurang ajar barusan melainkan karna wajah lucu Kouki. Visual kuyup itu manis belum lagi kerjapan bingung dan tampang polosnya itu. Sungguh, imut sekali.

Menyadari hal yang seharusnya segera ditangani Seijuurou menggeserkan pandang. Menaikan satu sudut bibir melawan gravitasi. Seringai tampan terlukis. Inilah senyum penuh pandangan remeh yang asli. Tangannya menelusup kilat. Ingin rasanya menodongkan si benda paling mujarab membungkam mulut tak berpendidikan.

Sudut bibirnya baru saja berkedut ingin membuka dan memaki dengan nada paling datar namun menusuk, satu tepukan di bahu menghampiri objek tatapan tusuk. Pundak terlonjak, nyaris terjungkal kedepan malah saking kagetnya. Seijuurou justru bersidekap tenang. Memutuskan melihat yang selanjutnya.

Helaian abu menyembul dari balik tubuh yang bergidik dengan bulu kuduk yang meremang. Merasa baru saja disentuh dingin yang seringan sentuhan halus hantu karna tak menyadari seseorang berdiri tak lebih setengah meter dibelakangnya. Menoleh lamat-lamat dengan tegukan ludah.

"Ma…Mayuzumi‒"

Satu bunyi tepuk kecil pertanda menyatunya kembali dua halaman novel yang ditutup tangan satunya serta merta mengimbangi lirikan kecil yang jatuh menyorot si calon bandit berambut jabrik. "Tidak dari TK sampai sekolah menengah pertama kau selalu saja membuat masalah yang menyusahkan."

Mayuzumi Chihiro paling mujarab menjaga yang namanya nada lurus. Karnanya tatapannya pun tak mudah lepas jika sudah mendingin. "Kami sudah peringatkan dan kau masih juga tidak mengerti dengan benar."

Lirikan dingin berubah geli sejurus hanya untuk mendapati bagaimana wajah melongo seorang Kouki jadi lebih parah dari setengah menit lalu menyadari kehadirannya. Satu hentakan kecil dan Chihiro mendekatkan diri pada calon bandit hanya untuk membisikan beberapa kata sebelum mengulas senyum begitu tipis lantas menjauh.

Wajah si bandit jabrik pucat pasi. Mengikuti gerakan lamban namun berkesan cepat pula secara bersamaan Chihiro yang menarik Kouki mengikutinya dan Seijuurou yang sudah berbalik memimpin jalan.

Mengerjap bingung sebelum rona merah menyelimuti parasnya yang sebenarnya terbilang rupawan jika tampilannya lebih normal. Mengumpat sejadi-jadinya begitu menyadari situasi. "Sialan!"

"Kalau kau sebegitu sukanya pada Kouki, kusarankan lebih baik mengatakannya ketimbang terus menarik perhatian dengan mengusilinya. Meski harus kukatakan juga itupun jika kau berminat menerima puluhan tuding gunting merah atau lemparan novel dari kami berdua."

Sederhana tapi menyusahkan juga saran Chihiro itu.

.

.

.

Hanya bunyi gesekan handuk yang terus mengusap surai basah kecoklatan milik Koukilah yang mengisi hening ruang kesehatan yang serta merta dijadikan tempat dadakan tujuan langkah Seijuurou untuk beristirahat.

Bibir Kouki mengerucut. Membiarkan saja lengan Chihiro bekerja mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang sedia dibawanya dari rumah. Seolah tahu benar ini pasti terjadi. Sementara Seijuurou duduk tenang berselonjor kaki di ranjang sebelah, membaca acak halaman novel yang dibawa Chihiro.

"Aku tidak mengerti kenapa juga terus jadi korban disini." gerutu Kouki. Rautnya kentara kesal meski kemudian tertunduk pasrah. Wujud pribadi cepat ciutnya itu sungguh tak berubah meski sudah delapan tahun berselang.

"Mungkin kalau kau berwajah sedikit lebih menakutkan seperti Seijuurou itu membantu tarafmu yang terlabeli korban jadi lebih tinggi tingkatannya." Chihiro berkata. Mengabaikan lirikan tak terima Seijuurou dibalik punggungnya. Kouki yang menangkap saja bergidik tanpa sadar.

Mengabaikan Seijuurou sebentar, Kouki mendongak. Menyiratkan raut yang seolah berpikir keras berikut karna tengkuknya sendiri pegal berkat aktivitas Chihiro yang tak selesai juga mengeringkan rambutnya.

"Maksudnya begini?"

Lagi-lagi visual déjà vu di waktu mereka bertiga masih bergerumul di taman kanak-kanak itu tampak di wajah remaja Kouki. Alisnya diusahakan menukik ke bawah dan nyaris bertaut. Matanya dibiarkan seperti melotot meski sungguh tak mungkin membantu terlebih pupil coklatnya yang mungil itu. Bibirnya dilukis seperti garis alih-alih malah terlihat melengkung ke bawah.

Spontan Chihiro menutup bibirnya dengan tangan yang diberi gerakan menggenggam. Dengus geli melontar tanpa sengaja. Tidak kuat menahan tawa rupanya. Raut Kouki jadi aneh tapi malah manis. Itu jujur dari bagaimana mata Chihiro melihat.

Seijuurou tak menunjukan tanda-tanda menyilang dari yang terjadi pada Chihiro. Malah terang-terangan terkekeh kecil. "Kuakui, Kouki. Itu tidak cocok denganmu."

Menyambit Chihiro dengan handuk yang dibiarkan mengantung dikepalanya. Kouki melemaskan bahunya yang susah payah ditegapkan tapi tak diapresiasi sama sekali. "Lihat kalian malah tertawa. Sebegitu tidak bisanya aku dilihat menakutkan oleh orang lain?"

Serentak tanpa komando kedua kepala berbeda helaian rambut itu menggeleng meyakinkan.

Kouki mengerang menghadapi kejujuran kedua pemuda itu. Sedikit saja tidak bisakah mereka menyenangkan dirinya? Entah kenapa rasanya dua orang beda model itu suka sekali menekankan betapa tak ada kesan menakutkannya Kouki.

Merengut sebal bersamaan dengan kaki jenjangnya yang terlihat karna hanya celana pendek olahraga yang membalut, Kouki turun dari pinggir ranjang yang bersebelahan dengan Seijuurou. Kentara benar betapa longgar dan besar jas sekolah Teiko milik Seijuurou yang dipakai Kouki guna menghindari Kouki sakit nantinya jika terus menggunakan kaos basah ulah si jabrik tadi.

Berjalan meninggalkan keduanya dengan cuek berikut langkahnya yang dihentak-hentak jengkel. Diliriknya sinis dua pemuda yang mengamatinya dalam diam meski rasa geli remeh menyambangi.

"Lihat saja! Aku bisa segarang preman kalau mau." sungut Kouki yakin seraya menutup pintu dengan entakan tanpa sadar.

Chihiro tersenyum tipis. Menyaut kembali novelnya dari Seijuurou kemudian duduk di tempat yang Kouki duduki sebelumnya. "Kurasa Kouki tak mungkin sepandai itu bermuka mengerikan sepertimu, ya 'kan Seijuurou?"

Yang disebut menyipit datar. "Hm. Begitu pula tak cukup tangguh bermuka sedatar papan sepertimu, Chihiro."

Keduanya adu tatap. Sama-sama menyorotkan kesan‒begitulah. Saling mengerdikan bahu dan memilih bersantai keduanya berguman dengan pola kalimat bermakna serupa.

"Karna dasarnya Kouki itu terlampau manis."


Pagi itu pukul enam lebih sedikit jika perkiraan Kouki benar. Dengan baju seadanya, kaos oblong warna coklat juga celana pendek selutut senada dengan kontras lebih gelap mematung lugu didepan pintu rumah mewah didepannya.

Mengerjap masuk hitungan keempat‒si surai abu yang menghitungnya‒ Kouki belum beranjak seinci dari geraknya yang berhenti karna tertegun. Demi apapun di dunia, Kouki tidak merasa memanjatkan doa semalam hanya untuk mendapati dirinya sudah diseret dua penjahat dalam tanda kutip itu guna merangsek masuk dalam kediaman berkelas begini. Berikut sebuah koper ukuran sedang yang diseret pesuruh keluarga agung Akashi dibelakang.

Kouki melongo tidak mengerti. Berwajah lucu bocah cilik ingin tahu. Berkedip polos macam anak ingin mainan bagus. Lantas mengernyit menyadari kondisi Kouki bergegas balik badan, nyaris bertubrukan wajah dengan Seijuurou jika saja Chihiro tak segera menariknya oleng ke belakang. "Ap‒apa yang kulakukan disini?"

"Mengunjungi rumah baru? Sebut saja begitu." Chihiro yang menjawab. Menarik kerah kaos Kouki seenaknya hingga Kouki terseret kaget berjalan terbalik.

"H‒huh?" Kouki bingung. Menepis serampangan tangan Chihiro untuk melepasnya karna berjalan begitu tak nyaman. "Kenapa harus? Aku punya rumah‒"

"Kau akan tinggal disini." Seijuurou memotong kilat tanpa menatap. Malah memberi perintah isyarat anggukan kecil pada pelaku pembawa koper terduga milik si helaian coklat yang kemudian berlalu menjauh. "Bersama kami."

Kouki tak bisa membiarkan mulutnya untuk tak terbuka lebar. Kaget dan bingung menyergapnya. Otaknya memroses lambat kejadian yang menimpanya di sabtu pagi tersebut akibat ulah kedua tetangga‒yang sebenarnya satu rumah itu‒ sudah membuat otaknya heboh bekerja pagi-pagi.

Tinggal bersama? Kenapa?

Chihiro gantian bicara. "Karna akan lebih mudah untuk kami mengawasimu jika begini."

Kening Kouki membuat lipatan halus. "Mengawasiku? Kalian sudah melakukannya sejak tinggal bersebelahan rumah denganku bahkan sejak aku belum bisa merangkak. Jadi, kenapa juga harus ada acara culik-culikan di pagi buta begini?!"

Kouki jadi frustasi atas kelakuan dua orang yang‒mungkin, punya label sebagai sahabatnya sejak entah umur berapa itu. Tiba-tiba menariknya paksa dari kasur bahkan tanpa kesempatan mengenyam air untuk membasuh muka. Kouki sudah kepalang bengong sebelum protes atas kelakuan tak punya sopan Seijuurou dan Chihiro tersebut sementara melihat satu orang berpakaian formal macam pelayan keluarga Akashi mengobrak-abrik lemari pakaian. Lalu dengan bodohnya Kouki menurut saja dibawa pergi. Tertegun konyol selama perjalanan kemudian berakhir dengan mengimitasi patung begitu sampai depan pintu.

"Banyak hal." ucap pendek Seijuurou. "Terutama soal rencanamu yang berniat memasuki sekolah yang berbeda dengan kami tahun depan. Kalau kau ingin tahu alasan spesifiknya."

Kouki membuat wajah konyol lagi. Berwajah memelas dengan visi buram berganti layaknya punya telinga anjing yang terlipat kuyu memandang sayu. Kouki menggembungkan pipi memikirkan sahutan. Pasti ulah ibunya yang mengumbar rencana kecilnya beberapa hari silam pada nyonya Akashi kemudian merembet pada Seijuurou dan Chihiro hingga bertingkah seperti ini.

Sungguh saat itu Kouki hanya asal bicara. Bermula dari kekesalannya seminggu silam saat insiden penyiraman itu terjadi saja Kouki kesal alih-alih malu dikatakan tak punya bakat berpotensi ditakuti orang-orang. Andai saja Kouki tahu yang digumamkan kedua pemuda tetangga sebelahnya itu setelahnya.

Dan tunggu‒kenapa juga mereka jadi berlebihan begini?!

"Ah‒eh, kalian berlebihan." Kouki rasanya ingin murka meski mungkin wajahnya tak bisa menjabarkannya dengan jelas. "Ja‒jangan seenaknya memutuskan begitu. Aku bahkan tidak mengatakan setuju. Dan tahu-tahu sudah diseret kemari. Aku menolak, terima kasih. Aku masih begitu nyaman tidur di kamar sendiri." serunya dalam satu tarikan nafas. Gurat wajahnya dibuat mengeras, meyakinkan kedua pemuda dihadapannya kalau Kouki sedang marah dan tak terima atas perlakuan seenaknya mereka berdua.

Dua pasang mata berpusat padanya. Satu datar tak beriak, menembusnya seakan tubuh Kouki berubah jadi timbunan angin tak terlihat. Satu tajam, mengintimidasi dengan penuh penekanan tak berkata.

Nyali Kouki langsung menciut sepenuhnya. Bahunya melemas dan turun dengan sukses. Pandangannya menggeser lamat-lamat menjauhi dua pasang manik berbeda itu. Kouki jadi ingin menghilang atau mungkin jadi tak terlihat, kalau bisa.

Sungguh, Kouki tak kuasa melihat kedua pemuda itu jika sudah dalam mode diam dan menatap tanpa kedip. Itu mengerikan! Kouki menjerit dalam hati.

"Ada tiga aturan utama dalam rumah ini." Seijuurou berkata. Total mengabaikan protes sekaligus penolakan Kouki. Seolah itu hanyalah bunyi deru bising kereta lokomotif tua yang lewat. Kouki ingin membenturkan kepala saja agar amnesia. "Satu, diberlakukan jam malam. Pukul sepuluh untuk kami berdua, pukul sembilan untukmu."

"Hey, itu curang!"

"Dua," Seijuurou tekun membiarkan. "Kemanapun kau pergi, harus setidaknya satu dari kami menemanimu terutama di sekolah. Kita bicarakan terakhir soal keinginanmu berbeda sekolah itu." Satu lirikan dingin jatuh padanya. Kouki berganti pandang berlainan arah padahal ingin mencicit kalau itu berlebihan.

"Tiga dan yang paling krusial. Tidak ada kebohongan apapun disini. Terutama diantara kita bertiga."

Kali ini Kouki tertegun. Mengerjap polos dengan garukan pipi sebagai reflek. Ada perasaan menggelitik yang tak nyaman saat Kouki mendengar bagaimana Seijuurou mengucapkan aturan terakhirnya. Sayang, Kouki tidak mengerti.

Menyadari hal penting Kouki memekik. "Tunggu! Sudah kukatakan aku belum setuju!"

"Orangtuamu sudah mengijinkan kalau itu alasanmu." Chihiro angkat bicara. "Oba-san juga setuju saja kita tinggal satu atap sebagai wujud melatih kemandirian."

"Huh?! Hanya dengan jarak tujuh blok dari rumah semula? Yang benar saja!"

Terkadang Kouki bisa jadi seorang pengamat tanpa sadar.

Seijuurou menyunggingkan senyum kecil. "Lalu?"

Kouki terpekur. Bingung harus menyahut. Timbul kerut halus di dahinya. Manik merah mengamati pergerakannya yang polos. Sudut-sudut bibirnya bergerak kecil, Seijuurou berpikir Kouki sedang menggerutu meski tak diutarakan.

Satu hembus nafas terbuang, Chihiro berkata dengan santai. "Diputuskan. Kau tinggal disini bersama kami, Kouki."

Tersentak oleh kesimpulan semena-mena, Kouki menjerit. "Eh‒hey?! Aku tidak‒"

"Bagus." Seijuurou menimpali. "Kalau begitu saatnya pembagian kamar."

Kouki memegangi kepala. "Tu‒tunggu…"

Chihiro mengangguk pendek. Mengerling sekilas lantas meninggalkan Kouki begitu saja mengikuti Seijuurou yang berlenggang santai menjadi pemandu rumah.

Si helaian coklat rasanya ingin menangis. Wujud frustasinya dilampiaskan pada tarikan surai coklat meski tak kuat. Sukses sudah terabaikan oleh dua makhluk dengan tingkat kejeniusan diluar sehat. Kouki merasa susah‒untuk yang kesekian kalinya‒ berkat ulah mereka berdua.


a/n:

Ya~ minna, saya penulis baru fandom ini. Meski bukan hal baru buat saya dalam dunia fanfiction tapi bisa dibilang saya pemula sekali untuk sebuah fandom anime XD. KnB fandom kedua saya dan yah saya terbilang punya ketertarikan overdosis pada pair unyuh ini *Q*. #saya bukan pecinta trisum #abaikan

Uh, maaf juga penggambaran karakternya ngawur sekali karna jujur saya malah berniat semena-mena pada charanya #dibuang. Terutama buat Mayuzumi, plis saya ngaco sekali untuk cowok ganteng ini X'D.

Ahh ya~ fic ini persembahan buat LeChi-tachi yang selalu butuh nutrisi. Berikut saya sendiri yang kurang sekali asupan dan main nekat bikin sendiri. Dengan hasil prolog yang menurut saya plotless ini #nangis. Terima kasih yang bersedia membaca. ^.^

Salam,
_rinfu