SUMMARY: "Kita akan berlibur ke Osaka saja. Tidak apa 'kan ? Soalnya Tou-chan besok harus bekerja ke Belanda." Ujar Minato sambil mengelus rambut blonde kedua anak kembarnya. Mendengar itu, Naruto dan Naruko tersenyum lebar./ "Mungkin kalau pohon ini berubah menjadi manusia yang cantik, aku akan meminta Tou-chan menikahkan kami." /"Kau siluman pohon Sakura, kan?"/"Rambutmu aneh, mirip pantat ayam." ?/NaruSaku/SasuFemNaru
.
.
.
Bel tanda berakhirnya pelajaran telah berakhir empat puluh menit yang lalu. Sekolah sudah lumayan sepi. Wajar saja, Taman kanak-kanak selalu cepat sepi karena murid-muridnya yang masih kecil dijemput orangtua mereka dengan cepat.
Tapi, di taman bermain belakang sekolah masih terdengar tawa anak-anak. Lebih tepatnya, disana masih ada murid yang bermain. Mungkin karena mereka belum dijemput.
"Ne, Shikamaru! Jangan tidur saja! Ayo bermain!" ajak seorang anak berambut coklat yang memiliki badan sedikit gemuk kepada temannya yang memejamkan matanya sambil bersandar di bawah pohon sekitar taman bermain.
Anak yang diajak hanya diam saja dan tetap memejamkan matanya, "Aku mengantuk. Ajak saja yang lain, Chouji."
Chouji—nama anak gendut itu—menatap kesal kepada salah satu sahabatnya itu.
"Sudahlah Chouji! Biarkan saja! Ayo bermain lagi, dattebayo!" teriak Naruto dari kejauhan.
Chouji membalikkan badannya, melihat Naruto, Naruko, Tenten, RockLee, dan Kiba (serta anjing putihnya) sedang asyik bermain kejar-kejaran di taman.
BRUK!
"Leeeeeeee!" teriak Naruko kepada temannya yang beralis tebal. Lee tidak sengaja mendorong Naruko hingga Naruko jatuh.
Lee, Naruto, dan yang lainnya termasuk Choji menghampiri Naruko yang terduduk di tanah.
Lee segera berjongkok dan memegang bahu kiri Naruko, "Gomen Naru-chan, aku tidak sengaja!"
BLETAK!
Lee merasa ubun-ubunya berdenyut setelah satu jitakan mendarat mulus di kepalanya. Lee mendongakkan kepalanya dan melihat Naruto berdiri disampingnya dengan tangan kanan terkepal.
"Sudah berapa kali kubilang kalau 'Naru-chan' itu panggilanku!" ujar Naruto.
"I-iya aku lupa! Go-gomen Naru-chan! Ah! Nako-chan tidak apa-apa, kan?"
BLETAK
"I-ittaaaii!" Lee kembali meringis.
Sekarang giliran anak kecil berambut pirang panjang yang dibiarkan tergerai menjitak kepala batok Lee.
Dahi kecil Naruko berkerut, "Uuh! Ruko-chan! RU-KO! Bukan Nako!"
Lee hanya mengiyakan, sedangkan yang lain hanya memutar kedua bola matanya bosan.
Sudah berapa kali Lee salah menyebut nama Naruko? Setidaknya itulah yang dipikirkan anak-anak imut itu.
Tiba-tiba saja Kiba ikut duduk disebelah Naruko dan mengangkat Akkamaru kepangkuannnya, "Aku diajak Kaa-san jalan-jalan, lo. Lumayan, besok kan hari libur, libur tiga hari, Sabtu-Minggu."
"Itu namanya empat hari, bodoh!" Tegur Chouji.
"Bukan. Tapi enam hari, dattebayo!" Ujar Naruto menyalahi perkataan Chouji.
"Itu namanya dua hari!" kata Tenten sambil menatap geram Kiba, Chouji, dan Naruto. Bisa-bisanya teman-temannya itu belum mengerti juga di hal seperti itu. Padahal telah diajarkan.
Naruko menepuk tanah yang kosong tepat disamping dirinya terduduk, "Hei, ayo duduk. Aku lelah bermain. Ayo cerita-cerita!"
Naruto tersenyum lebar ntah karena apa lalu ikut duduk disebelah Naruko—kembarannya—diikuti juga dengan yang lain. Sehingga mereka kini membentuk lingkaran.
"Kiba, liburan kemana?" Tanya Tenten. Melanjutkan topik perbicaraan yang tadi sempat tertunda karena pikiran bodoh Naruto, Chouji, dan Kiba sendiri.
Kiba menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Ke rumah Baa-chan di Tokyo! lebih tepatnya di pulau Okinawa!"
"Kiba, kita ini di Tokyo. Pulau Okinawa dan Tokyo berbeda." Ujar seseorang dengan nada malas.
"Shikamaru? Sejak kapan kau disini?" Tanya Chouji kepada Shikamaru yang tiba-tiba saja sudah duduk disebelahnya.
Shikamaru tidak menjawab, ia mengucek kedua matanya yang sipit itu karena terkena sedikit debu.
Naruto menatap Shikamaru, "Shikamaru, apa kau berlibur juga?"
"Sepertinya tidak. Ayahku sibuk." Jawab Shikamaru sekenanya. Walupun masih kecil, gaya bicara Shikamaru seperti sudah besar.
"Shikamaru, apa kau tidak mau berlibur? Berlibur itu asyik, lo." Kata Kiba.
"Tou-sanku sibuk."
"Haah, terserah kau, deh…" Ujar Kiba.
"Kalau kau, Tenten?" Tanya Naruko kepada anak perempuan bercepol dua bak *China Musume.
Tenten tersenyum lebar ke arah Naruko, "Ehehe, aku jalan-jalan ke pulau Okinawa juga."
Kiba sontak melihat kearah Tenten yang menyebutkan tempat liburan yang nanti akan dikunjunginya juga.
"Kau juga?"
Tenten mengangguk semangat sambil tersenyum lebar, "Tapi kalau ketemu jangan ganggu!" setelah mengucapkan itu, senyum Tenten menghilang.
Kiba menatap wajah mendominasi Tenten dengan tatapan siapa-juga-yang-mau-mengganggumu.
"Kalau aku sih liburan dirumah saja!" ujar Lee semangat. Padahal tidak ada yang bertanya kepadanya.
Naruto dan Naruko terdiam. Sekarang tinggal mereka berdua yang belum ditanya oleh teman-temannya. Lagipula, sebelumnya bocah Namikaze itu belum bertanya kepada orang tua mereka apakah minggu ini mereka akan liburan atau tidak.
"Nah, kalian berdua?" Tanya Lee.
Akhirnya pertanyaan untuk duo Namikaze itu terlontar juga.
Mata shappire Naruko yang bulat menatap kedua mata Naruto yang mirip seperti matanya.
"Kemana?" Tanya Naruko kepada kakaknya—Naruto—itu. Yah, Naruto lebih dulu lahir. Hanya beda sepuluh menit.
Naruto mengangkat bahu. Ia juga tidak tahu.
"Kenapa kalian berdua?" Tanya Lee. Sedikit heran melihat duo Namikaze itu yang saling pandang dan memasang wajah kebingungan.
"Ntahlah, kami tidak tahu." Jawab Naruto.
.
.
.
.
.
.
LOVE IN OSAKA
MASASHI KISHIMOTO|岸本 斉史
Uzumaki Naruto| Haruno Sakura
NaruSaku| SasuFemNaru
Romance|Family
Rated T
WARNING: TYPO(S), OOC, AU, ETC…
.
.
"Kalian ini, lain kali jangan berbohong kepada Kaa-chan lagi, ya." Ujar Kushina sambil memasangkan seat belt ke badan kecil Naruto yang duduk dibelakang bersama Naruko. Kursi depan disamping pengemudi diisi oleh tas samping Kushina serta tas sekolah Naruto dan Naruko.
"Iya deh Kaa-chan. Tapi kami boleh pulang setelah makan siang lagi, kan?" Tanya Naruto penuh harap. Ternyata Naruto, Naruko, Shikamaru, Chouji, Tenten, Kiba, dan Lee bekerja sama membohongi orang tuanya kalau mereka pulang jam setengah satu siang. Padahal mereka pulang jam sebelas pagi.
Mereka berbohong karena ingin bermain bersama dulu. Dasar anak kecil. Untung saja Kushina menanyakan hal ini kepada satpam karena heran melihat sekolah yang selalu sepi kalau ia menjemput Naruto dan Naruko, kalau tidak, Naruko dan Naruto akan terus membohongi dirinya.
Kushina menutup pintu mobil disamping Naruto dan segera masuk ke bagian pengemudi.
"Tentu saja. Asal kalian tidak mengulangi sikap berbohong kalian itu." Kushina segera menggas mobil dan pergi meninggalkan sekolah, menuju mansion mereka.
Naruko yang sedang duduk manis disebelah Naruto menarik-narik lengan seragam Naruto yang berwarna hitam dengan tangan kecilnya.
"Ne, ne, Naru nii-chan. Bagaimana kalau kita ajak Kaa-chan jalan-jalan?" bisik Naruko.
Naruto menatap Naruko dengan mata berbinar-binar, "Ide bagus!"
Setelah melonggarkan seat beltnya, Naruto mencondongkan tubuhnya menuju kursi pengemudi.
"Kaa-chan, Naru mau bicara…"
Mendengar itu, Kushina melirik sebentar ke anak laki-lakinya itu. Ia tidak boleh melepaskan pandangannya dari jalan raya yang berada didepannya.
"Apa, Naru-chan?"
"Apa besok kita bisa liburan?" Naruto memberi isyarat kepada Naruko agar ikut bertanya.
Naruko ikut mencondongkan tubuhnya, "Iya, Kaa-chan. Liburan tidak?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
Naruto menghela nafas kecil, "Kami…"
"Mau liburan sama Kaa-chan dan Tou-chan." Sambung Naruko.
Kushina tersenyum, "Boleh-boleh saja. Tapi itu kalau Tou-chan kalian tidak sibuk."
Naruko membanting punggung kecilnya ke jok, pipinya menggembung lucu.
"Tou-chan sibuk teruuuus!" gerutu Naruko.
Melihat tingkah adiknya, Naruto malah ikut-ikutan.
Membanting punggung kecilnya dan menggembungkan pipi.
"Iya! Tou-chan sibuk terus!" timpal Naruto.
Tak terasa mereka sudah sampai di mansion tempat tinggal keluarga kecilnya. Segera Kushina memarkirkannya di bagasi dan membukakan seat belt Naruto dan Naruko.
"Kaa-chan, jadi gimana?" tanya Naruko. Sekarang ia dan Naruto sudah turun dari mobil sedan merah Kaa-sannya.
Kushina merendahkan tubuhnya. Sekarang ia berada di antara Naruko dan Naruto yang berhadap-hadapan.
"Bagaimana kalau kalian Tanya Tou-chan? Sejujurnya, Kaa-chan juga mau berlibur. Pasti menyenangkan sekali. Cepat kalian Tanya. Tou-chan pulang cepat hari ini. Sepertinya Tou-chan didalam."
Kedua mata Naruto dan Naruko melebar.
"Ide bagus! Ayo kita Tanya Tou-chan!" Ajak Naruto sambil menarik tangan saudari kecilnya menuju pintu utama yang terbuka karena dibukakan oleh butler mereka, Iruka.
Kushina yang melihat tingkah lucu kedua anaknya tersenyum manis.
.
.
.
"Kalian mau liburan?" Tanya Minato kepada dua buah hatinya yang sedang berdiri didepannya yang sedang duduk di sofa depan tv.
Naruto dan Naruko menggangguk bersemangat.
Minato menaikan alisnya, "Bisa tidak, ya?"
Terdengar helaan nafas kecewa dari kedua buah hatinya. Naruto menunduk, sedangkan Naruko memilin-milin ujung rok seragamnya.
Membuat pria berumur 27 tahun itu menatap anaknya gemas.
"Kita akan berlibur ke Osaka saja. Tidak apa 'kan ? Soalnya Tou-san senin besok harus pekerjaan di Belanda." Ujar Minato sambil mengelus rambut blonde kedua anak kembarnya. Mendengar itu, Naruto dan Naruko tersenyum lebar.
.
.
.
.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dari Tokyo menuju Osaka, Minato langsung membawa keluarga kecilnya ke Dotonbori. Salah satu tujuan wisata utama di Osaka.
Keluarga kecil Namikaze memutuskan untuk makan siang di restoran yang terkenal di Dotonbori. Mereka memesan takoyaki dan okonomiyaki. Karena takoyaki dan okonomiyaki Dotonbori terkenal paling enak seantero Jepang.
Setelah makan siang, Mereka memutuskan untuk istirahat sejenak di hotel. Setidaknya sore nanti mereka berencana akan menuju Okawa River. Sungai yang memiliki aneka ragam keindahan.
.
.
.
Naruto dan Naruko memandang takjub pohon Sakura yang berjejer rapih di kiri dan kanan mereka. Duo Namikaze itu merasa senang sekali karena Minato membawa mereka ke Kema Sakuranomiya Park. Tempat terbaik untuk menikmati keindahan bunga Sakura. Pohon Sakura disana juga mengikuti alur sungai Okawa River.
Melihat itu Kushina dan Minato tersenyum.
Kushina menggamit lengan Minato, "Lihat mereka. Lucu sekali."
Minato mengelus-ngelus tangan Kushina yang memegang lembut lengannya. Kaus Minato dan bawahan baju terusan Kushina tertiup angin sepoi-sepoi.
"Benar. Lihat mata biru mereka." Ujar Minato.
BUK.
Satu hantaman kecil mendarat di perut Minato. Membuat Minato sedikit meringis.
"Mentang-mentang mata mereka sama denganmu!" Kushina menggembungkan pipinya.
Minato hanya tertawa.
"Kenapa tertawa?! Apa? Sekarang kau mau meyuruhku melihat rambut mereka?!"
Mendengar istrinya berkata seperti itu, Minato segera menyangkalnya, "Tidak, bukan seperti itu. Walau fisik mereka mirip denganku, tapi sifat mereka menurumi sifatmu tahu."
Kushina hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya itu.
"Ne, ne, Kaa-chan! Tou-chan! Kita kesana! Ayoo!" Ujar Naruko sambil berlari ke arah Minato dan Kushina. Baju bawahan Naruko yang berwarna putih berhiaskan bunga-bunga berwarna oranye lembut itu mengembang akibat terkena hembusan angin.
Naruko menunjuk sebuah kursi taman yang berada di bawah salah satu pohon Sakura. Namun kursi itu tidak menghadap ke arah jalan yang ramai di lewati orang-orang.
Ternyata Naruto sudah duduk duluan disana, menjaga tempat itu agar orang tidak mendudukinya.
Minato dan Kushina mengiyakan. Mereka dituntun oleh Naruko dengan kedua tangan kecilnya.
Melihat Orang tuanya telah tiba, Naruto turun dari kursi yang menurutnya agak tinggi itu dan mempersilahkan orang tuanya duduk.
"Kalau begitu, Naru dan Ruko-chan bermain, ya? Kami janji deh bakal kembali." Ujar Naruto.
Minato tersenyum, "Baiklah. Tapi jangan jauh-jauh, ya?"
"Yossshh!"
Naruto dan Naruko pun bermain. Seperti kejar-kejaran, berlomba mengumpulkan sebanyak-banyak kelopak bunga Sakura yang terjatuh dan sekarang mereka akan bermain petak umpet.
Naruko cemberut melihat tangan kecilnya mengepal, maksudnya, itu adalah Batu. Ia dan Naruto melakukan Jan-Ken-Pon untuk menentukan siapa yang kalah.
Sedangkan Naruto nyengir melihat jari kecilnya membentuk gunting.
"Naru nii-chan, kenapa aku kalah?" Tanya Naruto dengan suara parau. Kedua matanya masih melihat tangannya yang mengepal.
Naruto memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana pendeknya yang berwarna coklat muda, "Kalu gunting mencoba meggunting batu, nanti ada permukaan batu yang mengikis…"
Yah, Naruto salah. Seharusnya Naruko yang menang, namun otaknya menyimpulkan sendiri.
Naruko segera berbalik dan meletakkan kedua lengan kecilnya yang bertumpuk di batang pohon Sakura dekat mereka.
"Baiklah, aku jaga. Sepuluh detik, ya." Ujar Naruko sambil membenamkan kepalanya di lipatan lengannya.
"Yosh!"
Naruto segera berlari mencari tempat sembunyi.
"Satu…"
"Dua…"
.
.
.
.
Mata blue ocean Naruto menemukan pohon Sakura yang batangnya cukup besar. Segera ia berlari ke balik pohon itu. Merasa sedikit kelelahan, Naruto mendudukan dirinya di bawah naungan pohon itu sambil bersandar.
"Capek sekali…" Gumam Naruto.
Naruto mengenadah, melihat bunga Sakura yang berwarna merah muda. Menurutnya, bunga yang paling cantik adalah bunga Sakura.
"Mungkin kalau pohon ini berubah menjadi manusia yang cantik, aku akan meminta Tou-chan menikahkan kami." Gumam Naruto. Sebaiknya Kushina tidak memperbolehkan kedua anak-anaknya untuk ikut menonton serial film percintaan yang disukainya. Akibatnya, anaknya sudah mengerti tentang hal pernikahan. Haah…
Naruto kembali melihat sekeliling, takut-takut Naruko menemukannya. Namun tiba-tiba matanya menangkap seorang anak perempuan yang sepertinya seumuran dengannya sedang berjongkok dibawah pohon Sakura yang berada di depannya.
Memakai Yukata berwarna merah muda dengan hiasan bunga berwarna orange lembut. Rambut nya yang hanya sebahu tu berwarna…merah muda.
Naruto terkesiap. "Kami-sama, Arigatou udah dengerin doa Naru…"
Setelah mengatakan itu, Naruto berlari menghampiri anak itu dan tanpa basi-basi lagi langsung berjongkok dihadapannya.
Sakura menatap Naruto heran sedangkan Naruto nyengir lebar ke arah Sakura.
"Kau siapa?" Tanya anak itu.
"Naruto desu! Kau bisa memanggilku Naru-chan! Kau sendiri?"
"Sakura desu!" sepertinya Sakura sedikit tertarik dengan sikap Naruto.
Naruto tersenyum lebar ke arah Sakura, dilihatnya Sakura sedang menyusun kelopak bunga Sakura yang berjatuhan untuk disusun membentuk pohon.
Naruto akui susunannya berantakan, tapi Naruto menganggap anak perempuan didepannya itu kreatif.
"Nee, Sakura-chan."
Sakura menatap mata blue ocean Naruto.
"Kau siluman pohon Sakura, kan?" Tanya Naruto dengan tampang polosnya.
Sakura merasa dada kecilnya sedikit terasa panas, "Siluman?! Aku ini manusia asli, tahu!" Ujar Sakura sambil menatap jengkel Naruto.
Naruto menghilangkan senyumnya dan menatap Sakura lekat-lekat. Kedua tangan kecilnya menangkup kedua pipi Sakura.
"Kau? Manusia asli?" Tanya Naruto.
Karena masih kecil dan tidak masih banyak belum mengerti perbuatan Naruto terhadapnya, Sakura hanya diam—membiarkan kedua tangan Naruto menangkup wajahnya yang sedikit bulat. Karena faktor umur.
"Tentu saja!" Jawab Sakura.
Naruto tidak lagi menangkup wajah Sakura dan berdiri, "Kalau begitu aku bisa menikahimu, karena kau bukan siluman!" Ujar Naruto dengan wajah berbinar-binar, bahagia.
"Menikahimu? Kau bercanda!" Sakura ikut berdiri. Menatap Naruto yang kini sedang berlari berputar-putar karena bahagia. Melihat itu, Sakura merasa jengkel dan mengejar Naruto.
"Hei! Tunggu!"
.
.
.
.
"Nii-chaan! Nii-chaan!" teriak Naruko di tengah-tengah taman. Bukannya mencari, ia malah meneriaki nii-channya.
Merasa dari tadi tidak ada yang menyahut, Naruko mendudukan dirinya di tengah-tengah taman. Kakinya diluruskan dan kedua tangannya menopang berat tubuhnya dibelakang.
"Capek…" keluh Naruko. Padahal ia tidak ada berkeliling mencari Naruto.
Tiba-tiba sebuah bola mengarah dengan cepat ke arah Naruko.
DUAKH!
Bola yang bisa dibilang bola sepak yang lumayan berat menghantap wajah kecil Naruko.
Sontak Naruko…"HUAAA! Huweeeee!" menangis.
Bola tidak berdosa itu jatuh diatas tanah yang berada di antara kedua kakinya. Kedua tangan kecilnya terkepal dan berusaha menghentikan air matanya.
"Suke, tendanganmu memang bagus, tapi lihat, kau mencelakainya." Ujar Itachi sambil menatap Sasuke yang berdiri tidak jauh didepannya.
"Aku tidak tahu." Balas Sasuke dengan stoic facenya.
Itachi menghela nafas melihat adiknya yang berumur 6 tahun itu. Sasuke merasa cuek dan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Huweeeeeee!"
Tangisan Naru terdengar semakin keras. Membuat beberapa anak yang bermain disekitar Naruko memerhatikannya. Bahkan ada yang mau menghampirinya.
Takut disalahkan, Itachi segera berlari cepat menuju Naruko membuat orang yang mau mendekati Naruko membatalkan niatnya.
Ia segera berjongkok dan memegang kedua bahu kecil Naruko, "Apanya yang sakit?"
Mendengarnya, Naru membuka kedua matanya dan melihat Itachi yang lebih tua darinya. Telunjuk kecilnya menunjuk hidungnya.
Itachi melihat hidung Naruko memerah. Untung tidak mimisan.
"Aniki, dia tidak apa-apa. Ayo bermain lagi." Ujar Sasuke yang ternyata sudah berdiri di samping Itachi. Mata onyx Sasuke ikut melihat Naruko yang masih terisak-isak.
Itachi menatap tajam Sasuke, "Kau ini. Ayo berjongkok!"
Sasuke ikut jongkok seperti Itachi. Karena masih kecil, Sasuke menurut saja kalau disuruh Itachi.
"Elus hidungnya!" perintah Itachi seenaknya.
Sasuke menghela nafas lalu mengarahkan jari telunjuk dan jempolnya untuk mengelus hidung kecil Naruko. Membuat Naruko terdiam walau bibir kecilnya masih sedikit bergetar dan air mata masih sedikit keluar.
Melihat itu, Itachi menahan tawanya. Wajah stoicnya masih terpasang diwajahnya, namun dalam hati ia senang melihat adiknya melakukan hal itu. Ia merasa gemas melihat Sasuke dan Naruko. Sangat gemas.
Tiba-tiba Naruko mengarahkan tangan kecilnya untuk menyentuh rambut Sasuke yang tepat dibagian belakang. Sedangkan Sasuke masih mengelus hidungnya.
"Rambutmu aneh, mirip pantat ayam." Ujar Naruko dengan wajah polosnya.
Mendengar hal itu, Itachi tertawa, sedangkan Sasuke menekan kuat hidung kecil Naruko dengan kedua jari kecilnya.
"HUWEEEEEE!"
Naruko kembali menangis.
.
.
.
.
TBC
*China musume: perempuan China.
Eheee…aku bawa fic baruu! Dengan pairing NaruSaku dan SasuNaruko, tapi yang lebih diutamakan adalah pairing NaruSaku.
Maaf ya kalau ada yang gak suka pair SasuNaruko *membungkuk*
Aku juga sangat suka pair SasuFemNaru, jadi aku juga memasukkannya di sini
Yosh! Fic ini twoshots, kok.
Mind To Review?
