Olahooooooo! Ini dia satu lagi karyaku di fandom Naruto. Tentu saja diriku hadir dengan pairing favorite-ku NaruHina. Kali ini aku hadir dengan ide yang tiba-tiba saja muncul di otakku saat aku sedang berbaring di ranjang.
Aku merasa seperti kenal atau tepatnya pernah tau dengan fic yang satu ini, jadi mungkin jika ada kesamaan ide maupun karakter #plak Aku mohon maaf karena aku tidak mengetahui hal tersebut.
Oke, daripada berlama-lama.
~Happy Reading Minna~
::
::
::
Summary: Aku hanyalah orang biasanya, kehidupanku biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dariku, aku ini hanya seorang pendiam yang selalu berada dalam kesendirian.
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
Genre: Romance & Friendship
Pairing: Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga
Aku melangkah menuju kelas yang terlebih dahulu harus melewati lorong yang kira-kira memiliki panjang 30 meter, aku selalu sendiri. Tidak ada yang peduli denganku. Aku tidak memiliki teman satu pun, bukannya aku tidak mau..
Tapi aku malu..
"Hei dengar! Katanya ada murid pindahan di kelas kita! Perempuan atau laki-laki ya? Duh~ jadi penasaran"
Ah~ itu Haruno-san, dia satu kelas denganku tapi aku tidak pernah bertegur sapa dengannya. Dan yang disebelahnya adalah Yamanaka-san, dia pun juga tidak pernah kusapa. Aku kembali melangkah menuju kelasku, setibanya aku dikelas. Aku berjalan menunduk karena malu jika tiba-tiba aku bertemu pandang dengan orang lain.
Aku berjalan menuju bangku paling ujung dan menaruh tasku setelah itu aku duduk. Aku membetulkan kacamata minusku dan menatap keluar, langit begitu indah.
Biru shaphire..
Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati. Andai saja..
Aku bisa bertemu dengan seseorang yang mau menjadi temanku tanpa peduli dengan segala kekuranganku dan dia seperti langit biru yang membuatku merasa nyaman~
-BLUE SKY-
TENG.. NONG.. NENG.. NONG..
Bel berbunyi, Hinata sudah duduk tenang menanti guru yang datang. Dia tidak peduli dengan kericuhan kelas yang selalu melanda sehingga kelas mereka dijuluki kelas paling heboh dan ribut pada angkatan saat ini.
Terdengar suara pintu yang digeser, anak-anak kelas langsung pada posisinya. Wali kelas Kakashi-sensei langsung duduk di kursinya. Perlahan ia menatap satu persatu sisi kelas, mungkin ia sedang melihat-lihat bangku yang kosong untuk murid baru di kelasnya.
"Baik, hari ini ada murid baru. Ia baru kembali dari luar negri karena lima tahun lalu ayahnya dipindah tugaskan ke Amerika"
"Sudahlah sensei, jangan membuang waktu seperti ini. Mana murid barunya, dasar merepotkan!" pria pemalas yang berambut seperti nanas memulai pembicaraan sambil menguap karena bosan.
"Baiklah..
Silahkan masuk Uzumaki-san" seru Kakashi dan perlahan muncul sosok seorang gadis berambut pirang panjang dikuncir dua dengan tiga tanda seperti kumis di setiap sisi pipi kanan dan kirinya.
Gadis ber-marga Uzumaki itu pun tiba di tengah kelas, ntah apa tetapi mata para penghuni kelas langsung membulat.
Bagaimana tidak, gadis ini memiliki paras yang cantik dan mata yang indah seperti batu saphire. Serta tubuh yang jangkung dan molek, itu membuat dirinya terlihat begitu sempurna. Uzumaki itu melihat setiap sudut kelas untuk melihat anak-anak seperti apa yang akan menemaninya belajar selama setengah tahun ini.
"Silahkan perkenalkan dirimu Uzumaki-san" ucap Kakashi mempersilahkan.
"Iya..
Ohayou gozaimasu minna, hajimemashite, watashi no nawae wa Naruko Uzumaki desu. Dozou yoroshiku onegai shimasu~" seru Naruko membungkukkan badan sembilan puluh derajat.
Setelah itu Naruko dipersilahkan untuk memilih tempat duduk yang kosong. Ada dua tempat, yang pertama di sebelah perempuan berambut soft pink. Perempuan itu memberi tanda dengan mengayun-ayunkan tangannya kepada Naruko.
'Semoga dia tidak duduk disebelahku~' Hinata berbatin ria dalam pikirannya. Ia benar, yang kedua berada di sebelah Hinata. Hinata tidak ingin ada yang mengganggunya saat ia belajar. Memang ini hanya sebuah keegoisan dirinya saja, tapi mau bagaimana lagi.
Naruko terus berjalan, ia tidak tertarik duduk di sebelah Sakura. Ia pun melewati tempat duduk yang satu itu. Dengan tegang Hinata tetap menatap keluar jendela.
BUK
Lenyap sudah harapan Hinata, sepertinya perempuan berambut pirang itu telah duduk di sampingnya. "Salam kenal, aku Uzumaki Naruko" ucapnya mengeluarkan senyumnya dan duduk di tempatnya.
Hinata hanya bisa mengangguk malu. "Baiklah anak-anak, perlajaran akan dimulai. Naruko, silahkan melihat buku bersama dengan orang yang duduk di sampingmu" perintah Kakashi dan diberikan anggukan oleh Naruko.
"Pelajaran hari ini, kita mulai dengan halaman 40" Kakashi membuka bukunya, begitu juga dengan murid-murid lainnya. Naruko hanya menatap lurus ke depan dengan wajah bingung.
"Hei, maukah kau melihatnya berdua denganku?" laki-laki dengan tato segitiga terbalik di setiap bawah matanya menawarkan diri.
"Tidak terima kasih. Aku lebih baik bila bersama dengan wanita di sampingku" saat mendengar hal itu Hinata langsung tersentak kaget. Bagaimana tidak, sebelumnya tidak ada yang menyapanya kecuali jika ada hal tertentu yang lumayan penting.
"Begitu.. Ok" Kiba langsung berada di posisinya kembali dengan tatapan melihat ke arah buku.
"Hinata-chan" seru Naruko.
"Hai!" Hinata langsung tegang di tempat.
"Bisakah kita melihatnya bersama-sama?" lanjut Naruko setelah mendengar jawaban dari wanita disampingnya.
"Si.. Silahkan" mendengar itu Naruko langsung menggeser mejanya mendekati meja Hinata.
Hinata tetap saja menunduk. Naruko menyadari hal itu, dan ia menyimpulkan Hinata adalah perempuan yang pemalu dan tidak banyak bicara.
"Sankyuu~" seru Naruko setelahnya, karena merasa canggung. Selama Kakashi menerangkan, Naruko mencoba mencairkan suasana di antara mereka berdua.
"Ne, Hinata"
"I.. Iya!" Hinata kembali menegang, keringat bercucuran dari jidat Hinata.
"Kamu tidak usah takut begitu, aku tidak akan memakanmu kok"
Setelah perkataan itu, tidak ada jawaban lagi yang keluar dari mulut Hinata. Melihat hal itu, Naruko hanya bisa menghela nafas dan menatap lurus ke depan mendengarkan perkataan yang terlontar dari Kakashi-sensei.
Jam istirahat sudah tiba, Hinata keluar dari kelas dan Naruko hanya bisa memperhatikan Hinata yang keluar kelas melalui ekor matanya. Beberapa menit setelah Hinata keluar dari kelas, beberapa murid kelas langsung menghampiri Naruko.
"Ne, kamu sudah berapa lama di Amerika Naruko?" sebuah pertanyaan terlontar dari mulut gadis bercepol dua ini.
"Lima tahun, bukannya tadi Kakashi-sensei sudah memberitahukannya?" jawab Naruko menunjukkan senyumnya.
"Begitu, aku tidak mendengarkannya. Hehe" gadis itu hanya bisa tertawa pelan.
"Jadi, namae wa?" lanjut Naruko.
"Tenten" tidak ada seorang pun yang tau nama panjang dari Tenten karena memang Tenten tidak pernah memberitahukannya.
"Berikutnya Aku!" dengan semangatnya perempuan berambut blonde mendekati Naruko dan memberikannya pertanyaan yang berikutnya. Disusul oleh perempuan berambut soft pink yang mengekor di belakang.
"Apa kau pernah pacaran Naruko?" sebut saja orang yang memberikan pertanyaan ini adalah Ino.
"A.. Belum"
"Bagaimana kau ini! Sudah sebesar ini masa belum pernah sih? Bagaimana kalau dengan Sasuke?" tawar gadis itu.
"Ino!" Sakura langsung memotong pembicaraan mereka, sudah jelas karena Sasuke adalah inceran Sakura maka dari itu ia tidak akan membiarkan siapapun mendekati Sasuke.
"Sudahlah Sakura, dia populer dan banyak gadis yang berusaha menjadi pacarnya. Tapi sayangnya Sasuke laki-laki yang dingin, belum tentu dia tertarik dengan seorang wanita" Ino mengayun-anyunkan tangannya menandakan kemustahilan.
"Tidak!"
"Ano.." diantara keributan mereka berdua, Tenten dan Naruko yang tidak dianggap pun mengangkat bicara.
Sakura dan Ino pun berhenti dari perdebatan mereka. "Ada apa?" tanya mereka secara bersamaan.
"Aku masih ada urusan, aku duluan ya" seru Tenten dari menghilang dari hadapan mereka.
Sebelum Naruko benar-benar keluar, ada sesuatu yang ingin ditanyakan oleh Naruko. "Kalian, ada yang ingin kutanyakan" Naruko yang sedari tadi duduk di bangku kini memindahkan posisinya menjadi di atas jendela.
Sakura dan Ino langsung duduk di samping jendelanya juga "Pertanyaan apa?" tanya mereka secara bersamaan sembari menengok ke arah Naruko.
"Ini soal Hyuuga"
"Gadis itu~"
"Dia orang seperti apa?" tanya Naruko singkat.
"Aku duluan, menurutku dia itu tidak banyak bicara. Anaknya pemalu, bahkan sampai saat ini saja aku tidak pernah berbicara dengannya"
"Iya! Padahal anaknya manis, tapi kenapa dia tidak mau bicara denganku ya? Apa aku aneh?" Ino dengan histerisnya mengeluarkan tangisan lebaynya.
"Sepertinya bukan begitu" lanjut Naruko.
"Lalu?" dengan sesenggukan Ino kembali bertanya.
"Kenapa kalian tidak bertegur sapa duluan dengannya? Kenapa tidak kalian yang memulainya? Aku menafsirkan sejak pertama kali aku berbicara dengannya, dia itu anak yang pemalu dan oleh sebab itu sepertinya dia sulit bersosialisasi dengan kita"
Sakura dan Ino pun tersadar, kenapa bukan mereka memulainya? Kenapa mereka baru sadar saat tersisa setengah tahun lagi berada di sekolah ini?
"Benar, aku akan menyapanya setelah ini!" seru Ino dengan semangat, begitu pula dengan Sakura.
"Dia pasti akan senang, kalau begitu aku akan keluar sebentar" Naruko melangkah dan perlahan sosoknya menghilang dari kelas.
Naruko berjalan melewati lorong-lorong dan menengok kesana-kemari. Ia sedang mencari seseorang, iya, Hinata Hyuuga. Ia berharap dia mau menemaninya memutari sekolah ini karena ia belum terlalu mengenali setiap sudut dari sekolah barunya.
Ia melewati jalan belakang yang menghubungkan dengan taman belakang sekolah dan jarang sekali yang melewati tempat itu. Tapi ntah tau kenapa Naruko tersasar sampai disana. Naruko sedikit panik, tapi ia tetap tenang karena pasti akan ada seseorang yang akan menunjukkan arah menuju kelasnya.
Ia menengok ke kanan dan kekiri sampai akhirnya dia menemukan seseorang, terdapat sesosok gadis yang ia cari. Ia seperti sedang mengelus-elus sesuatu. Karena penasaran Naruko mendekatinya tanpa gadis itu menyadarinya.
Ia semakin dekat dan dengan jelas ia dapat melihat Hinata dengan seekor hewan "Hinata, dari mana kamu menemukan rubah itu?" Hinata tersontak kaget.
Kacamatanya pun terjatuh dari wajahnya, dengan pandangan rabun Hinata mencari kacamatanya. Melihat hal itu, Naruko membantu mengambilnya dan memberikan kacamata itu pada Hinata.
Sedangkan rubah yang tadi dielusnya sudah bersembunyi di suatu tempat. "Ano.." Hinata mengeluarkan suaranya.
"Tidak masalah, aku tidak akan memberitahukannya. Tapi kamu harus menceritakan darimana kamu mendapatkan rubah itu" seru Naruko panjang lebar.
"Ba.. Baik. Beberapa hari lalu, aku menemukannya terluka, oleh sebab itu aku merawatnya. Karena disekolah ada peraturan jangan membawa hewan ke sekolah, makanya aku menyembunyikannya di taman belakang ini. Karena jarang ada siswa-siswi yang melewati tempat ini. Sebenarnya aku ingin membawanya pulang ke rumah, tapi sayangnya aku tinggal di apartemen yang melarang memelihara hewan" penjelasan dari Hinata sudah selesai, keheningan kembali melanda.
"Ah.. Begitu. Kamu ternyata gadis yang baik ya Hinata" Naruko pun duduk di samping Hinata, beberapa saat kemudian rubah tadi kembali menghampiri Hinata karena sudah tidak ada hawa mengancam di sekitarnya.
"Manis"
"Eh?"
"Rubahnya"
Memang pembicaraan yang aneh di antara sesama gadis. Setelah itu bel berbunyi, mereka berdua memasuki kelas, tapi hal aneh telah terjadi.
"Hinata~!" Ino mendekati Hinata dengan semangatnya.
"I.. Iya?"
"Jangan takut-takut gitu dong Hinata, aku jadi sedih~" dengan lebaynya lagi ia mengeluarkan pendapatnya.
"Iya" Hinata sedikit bingung, ada apa sebenarnya ini? Ia menengok ke arah Naruko dan Naruko hanya tersenyum lembut.
'Naruko, apa ini perbuatanmu?' Hinata berbatin ria, ia masih belum percaya dengan semua ini.
"Mulai hari ini, kita berteman ya Hinata" ucap Naruko, melihat hal itu, anak-anak lain yang berada di kelas itu pun tidak mau tinggal diam.
"Aku juga! Aku mau berbicara dengannya! Aku tidak akan membiarkan ada gadis yang merasa kesepian disaat terakhir berada di sekolah ini" Kiba mendekatinya dan menyapa Hinata.
"Teman" serunya.
'Terima kasih~' Hinata tidak dapat membendung air matanya, ia menangis dan yang lainnya tersenyum.
Belum pernah Hinata merasakan kehangatan seperti ini ketika berada di kelas. Ini semua berkat Naruko, sejak dia datang semuanya berubah. Kali ini ia menemukannya..
Sesosok teman yang membuatnya merasa nyaman seperti langit biru.
-Blue-
Keesokan harinya
Hinata memasuki kelas, ia menggeser pintu dengan perlahan "O.. Ohayou~" dengan malu-malu Hinata menyapa anak kelasnya disaat tubuhnya masih setengah terlihat dari ambang pintu.
"Ohayou" sapa mereka, Hinata berbunga-bunga. Rasa hangat kembali mengalir di dadanya. Perasaan yang selama ini ingin dirasakan olehnya.
Hinata berjalan memasuki kelasnya dan menaruh tasnya, Naruko belum hadir. Setelah itu, Kiba menghampiri Hinata dan menyapanya. "Ohayou Hinata" serunya dengan semangat.
"Ohayou" Hinata tersenyum.
"Aku penasaran" Kiba memegang dagunya.
"Penasaran apa?" tanya Hinata.
Dengan cepat Kiba melepaskan kacamata Hinata yang membingkai di wajahnya "Rupamu tanpa kacamata".
"Ka.. Kacamataku! Kacamataku!" Hinata kembali mencari-cari.
"Hei Kiba, sudahlah kau jangan mengganggu Hinata!" Sakura mengambil kacamata dari tangan Kiba dan melihat ekspresi Kiba.
"Loh? Kenapa wajahmu merah Kiba?"
Kiba kembali ke alam sadarnya, "Aku tidak apa-apa" ia pun meninggalkan tempat itu dan kembali ke gerumunan teman-teman lelakinya.
'Manis, gawat. Aku jadi deg-degan'
Setelah itu Sakura mengembalikan kacamata Hinata untuk Hinata gunakan kembali, "Kamu tidak apa-apa Hinata" tanya Sakura.
"Iya, terima kasih"
"Ne, kamu manis kalau tidak pakai kacamata. Kenapa kamu tidak pakai softlens saja?" tanya Sakura.
"Aku berpikir aku akan menggunakannya setelah lulus" jawab Hinata.
"Tidak boleh! Masa muda adalah dimana bagi mereka mencari couple! Maka dari itu kau harus berubah secepat mungkin sebelum semuanya terlambat. Kalau begitu aku akan menemanimu membeli softlens dan besok kau harus mengenakannya"
"Ta.. Tapi"
"Tidak ada tapi-tapi!" Sakura langsung duduk di kursinya karena bel sudah berbunyi. Tepat saat Naruko dan Ino tiba di kelas, begitu pula dengan sensei mereka.
"Baiklah anak-anak, karena sepertinya semua murid sudah lengkap. Saya akan memulai pelajaran untuk hari ini" gebrakan buku tebal dengan buku kecil berwana orange yang dengan setia terletak kokoh diatas buku tebal itu siap dibaca disaat guru bernama Kakashi itu memberikan anak muridnya tugas.
"Ya~!" seru murid-murid dengan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang bosan, semangat, malas, berapi-api dan sebagainya.
"Sip, saya akan menerangkan pelajaran bab 6 dan setelah itu kalian harus mengerjakan latihan di halaman 55. Waktu sudah tidak banyak lagi karena kalian harus menghadapi ujian, dan dari sekarang kalian harus menentukan universitas mana yang akan kalian tuju" serunya panjang lebar tanpa ada pengambilan nafas sedikitpun.
'Tersisa 5 bulan lagi, oleh sebab itu aku akan berusaha' batin Hinata dan tetap memandang ke arah awan biru yang bersinar dengan terangnya karena ditemani oleh pantulan sang raja siang(?).
Kelas sunyi senyap, setelah guru Kakashi menerangkan pelajaran bab 6, kini ia telah memberikan tugas kepada anak muridnya tersebut.
Hinata membuka lembar demi lembar untuk mencari jawaban dari pertanyaan pada bab itu. Ia melihat ke arah Naruko, seperti biasa Naruko terlihat begitu bersilau. Naruko sudah menerima buku paketnya kemarin saat pulang sekolah. Dengan sikap dewasanya ia membuka lembaran-lembaran seperti yang dilakukan oleh murid-murid lain.
Beberapa saat setelah itu Hinata kembali mengarahkan pandangannya ke arah bukunya dan tanpa ia sadari Naruko yang sekarang menengok ke arah Hinata. "Hm~".
Bel berbunyi, jam istirahat telat tiba. Para murid mengeluarkan bekal dari dalam tasnya ada pula yang berburu-buru ke kantin karena mereka harus berperang untuk mendapatkan sebuah makanan. Hinata mengeluarkan bekalnya dan siap menuju ke halaman belakang karena ia harus memberikan makan rubahnya tersebut.
Hinata bangkit dari kursinya dan bersiap pergi keluar kelas tapi ia dihalang "Hinata, makan sama-sama yuuukkk~" Ino memegang lengan Hinata dengan manja(?)nya. Disusul oleh Sakura yang berdiri di samping Ino "Iya, akan lebih menyenangkan makan bersama-sama".
"Maaf Sakura, Ino, tapi ada yang harus kutemui sekarang" ucap Hinata tersenyum, Sakura dan Ino pun saling berpandangan lalu keduanya tersenyum.
"Okesip! Silahkan Hinata. Tak kusangka kamu sudah punya C!" Ino dengan semangatnya melontarkan kata-kata tersebut.
"C?" Hinata memiringkan kepalanya tanda tak mengerti.
"Sudahlah Hinata, sana pergi sekarang. Kasian kan kalau dia menunggu terlalu lama" Ino mendorong tubuh Hinata ke ambang pintu kelas.
"Jaa~" seru Ino melambaikan tangannya semangat ke arah Hinata. Sedangkan Sakura, ia mengayungkan tangannya perlahan dengan senyumnya yang seperti biasa.
Setelah itu pun Hinata berjalan menuju ke halaman belakang sekolah, dengan membawa bekal makanannya hari ini ia akan membagikannya untuk rubah kesayangannya itu.
Hinata telah sampai dan tak disangka-sangka ternyata disana terdapat Naruko yang sedang memberikan rubahnya makan roti. "Na..Naruko-san. Apa yang kamu lakukan disini?" Hinata mendekati Naruko perlahan.
"Eh Hinata, selamat datang" Naruko tersenyum. "Aku sedang memberi dia makan" lanjutnya.
"Begitukah?" Hinata mendekati rubahnya itu dan duduk di samping Naruko. Iapun membuka kotak bekalnya yang berisi bento dan diletakannya di atas pangkuan Hinata.
"Itadakimasu.." seru Hinata dan setelah itu ia mengambil beberapa bento dan membagikannya kepada rubahnya tersebut. Tentu saja bento tersebut dilahap dengan senangnya oleh sang rubah karena rubah tersebut sedang mengalami kelaparan.
"Naruko-san" panggil Hinata.
"Iya?" Naruko yang sedari tadi melihat ke arah awan kini melihat ke arah Hinata.
"Silahkan" Hinata menyodorkan kotak bentonya ke arah Naruko dan Naruko pun tersenyum dengan lembut.
"Arigatou Hinata" Naruko mengambil beberapa bento milik Hinata dan mencicipinya. "Enak" serunya. Dan suasana kembali menjadi hening.
"Ne, Hinata"
"Hai? Ada apa Naruko-san?" Hinata yang sudah selesai dengan makan siangnya siap membereskan kotaknya tersebut langsung merespon panggilan dari Naruko.
"Ada satu hal yang belum kuketahui"
"Apa itu Naruko-san?"
"Itu.." Naruto menunjuk ke arah rubah milik Hinata yang sedang beristirahat di samping Hinata.
"Ada apa?" Hinata memiringkan kepalanya tanda ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Naruko.
"Nama"
"Nama?" Hinata kembali mengulang kata-kata Naruko tentu saja dengan nada yang berbeda.
"Iya, nama rubah itu apa?"
"Oh!" Hinata yang baru mengerti maksud dari Naruko pun langsung memberikan jawabanya "Kyuubi".
"Kyuubi ya, darimana kamu menemukan nama itu untuknya?" tanya Naruko.
"Ini" Hinata menunjuk pada ekornya, "Lihatlah bentuk ekornya. Seperti angka sembilan kan? Yah itulah asal namanya" Hinata mengelus-ngelus Kyuubi, Kyuubi yang merasa nyaman menutup matanya merasakan elusan yang diberikan oleh Hinata.
"Oh.. Begitu ya, sekarang aku mengerti. Kyuubi" Kyuubi mendengar namanya disebut langsung melompat ke arah Naruko.
Melihat tinggkah Kyuubi mereka berdua langsung tertawa, dan bertepatan dengan itu bel masuk sudah berbunyi. Mereka pun meninggalkan Kyuubi dan kembali ke kelas. Melihat Naruko dan Hinata yang masuk ke kelas bersamaan, Ino langsung melontarkan pertanyaan.
"Loh Hinata, Naruko? Kenapa kalian bedua?"
Hinata dan Naruko saling berpandangan "Kami tidak sengaja berpapasan" seru Naruko dan Ino langsung meresponnya dengan semangat dan kembali menuju ke tempat duduknya.
Hinata dan Naruko pun juga menempati kursi mereka dan tepat saat itu pula guru mereka memasuki kelas. Anak-anak yang ricuh kembali menjadi tenang dan menatap lurus ke depan. "Baik, saya akan memulainya".
Skip time-
Hal yang selalu dinantikan oleh setiap murid sekolah adalah saat pulang sekolah, dimana setelah itu mereka dapat mengerjakan tugas, jalan-jalan, dan melakukan hal yang menyenangkan. Hinata yang biasanya setelah pulang sekolah langsung kembali ke rumah, tapi tidak untuk hari ini.
Dia akan membeli softlens ditemani oleh Sakura. "Nah Hinata, kita sudah sampai di optiknya. Mamaku memiliki kenalan disini, dan sebenarnya aku mamakai softlens loh" Sakura bercerita sebelum ia menyuruh Hinata mengecek minusnya.
"Optik ya" seseorang mengatakan hal tersebut dari samping mereka.
Mendengar ada suara disamping mereka, Sakura beserta dengan Hinata pun menengok ke arah suara tersebut. Terlihat Ino dan Naruko tersenyum setelah mereka saling bertemu pandang.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
To Be Continue
(Ch. 1 end)
Setelah sekian lama akhirnya diriku berhasil menyelesaikan chapter ini. Rasanya sulit banget menyelesaikan satu chapter disaat-saat author sedang kehabisan ide. Ya tapi berkat dukungan dari diriku /plak akhirnya aku dapat menyelesaikan chapter pertama dari ff baru yang kubuat..
Chapter berikutnya sebuah rahasia akan terbongkar, rahasia apa itu? Jika kalian penasaran silahkan tetap menunggu kehadiran chapter berikutnya. Tapi kalian tidak usah menunggu terlalu lama karena chapter kedua sudah selesai dan tinggal menunggu waktu untuk dipublish.
Nah, pengakhiran kata aku minta riview bagi kalian yang sudah membacanya karena riview adalah hal yang membuat semangat para author-author dalam melanjutkan ff-nya..
Oke.. Jaa naa~
::
::
V
