AN: Sebelum dimulai, saya mau ngasih tahu aja. Bukan maksud saya pengen menggabungkan bahasa Inggris sama Jepang tapi karena Prompt dari Kido Hakujima mintanya "Kami-sama... tell me... tell me" akhirnya saya membuatnya seperti itu.


Umm... Kami-sama... tell me... tell me...

Beritahu akan kenyataan kepadaku. Akan kebenaran dalam hati ini.

Aku tidak bisa terus-menerus terusik akan gejolak perasaan tak menentu terhadap seseorang.

Umm... Kami-sama... tell me... tell me...

Salahkah jika diriku masih mencintainya, walau ia telah mengatakan janji sakral dengan orang lain?


"Kami-sama, Tell Me."

Hetalia (c) Hidekazu Himaruya

Warning : OOC, typo.


Sakit.

Bukan. Bukan tubuh ini yang merasakannya. Tapi hati ini.

Perasaan ini.

Ibarat kaca yang terkena panah yang melesat. Hancur—pecah menjadi milyaran kepingan. Kepalaku seolah dipaksa untuk berpikir ke belakang, menggali sebuah memori yang telah terkubur.

Memori akan hari itu.

Hari dimana kau—Kirana—memintaku untuk memandang hubungan kita berdua hanya sebatas teman; sahabat. Dan ketika kutanyakan alasannya, kau menjawab,

"Maaf tapi aku akan menikah, Kiku."

Cukup.

Kalimat itu cukup untuk membuatku terdiam di tempat. Membiarkan mataku hanya menatapmu berbalik dan berlari kecil menjauhi diriku. Dan membuat sebuah kotak kecil berwarna merah terjatuh dari genggamanku.

Irama pengiring—yang biasa terdengar ketika sang pengantin wanita memasuki ruangan—terdengar. Serentak, semua yang hadir sekarang berdiri. Kecuali diriku. Aku tak mampu untuk berdiri apalagi sekedar melirikmu yang kini—aku yakin—tengah berjalan perlahan ke depan, memakai gaun putih pengantin.

Pikirabku masih kacau akan penyesalan dan sakit hati akibat kebodohanku sendiri. Kenapa aku tak mengatakan kepadanya lebih cepat?

Kami-sama... tell me...

Inikah yang namanya takdir? Jika iya, bisakah aku mengatakan aku tak terima diberikan takdir yang seperti ini? Aku mencintainya! SANGAT! Aku mencintai perempuan itu dengan sepenuh hati bahkan aku sudah siap untuk melamarnya. Tak ada rekayasa atau tipuan belaka.

Tapi, kenapa?

Kenapa tidak menakdirkan dirinya untuk bersamaku tapi malah dengan orang lain? Lebih tepatnya—dengan sahabatku sendiri; Arthur Kirkland, pemuda Inggris itu?!

Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi menunduk. Aku melihatmu kini tengah dipasangi cincin oleh suamimu sebelum akhirnya kalian berciuman dan gemuruh tepuk tangan terdengar.

Dan sekali lagi, kecuali diriku.

Kini resepsi pernikahan berpindah tempat ke halaman gereja dan aku hanya menatapmu bercengkrama dengan teman-teman se-angkatan dengan mu sewaktu kuliah dan teman seperjuanganmu di redaksi Heta Times.

Gelak tawa terus terdengar dan kau benar-benar menikmatinya. Aku tak melihat adanya raut penyesalan atau kekecewaan dari raut wajah akan pilihanmu. Kembali, kuambil kotak kecil berbalut merah yang sedari tadi ada di saku celanaku. Membukanya dan menatap isinya,

Cincin perak dengan manik permata merah di atasnya.

Kututup kotak itu dan kumasukkan kembali ke saku celana. Langit seolah mendukung aura kegembiraan sekarang. Cerah dan hanya berawan sedikit. Aku menghela nafas dan aku pun mengerti.

Mungkin sudah saatnya aku melupakannya. Membiarkan dirinya menjalani kehidupan barunya. Kuberanikan melangkahkan kakiku menuju ke arahnya. Perlahan namun pasti.

"Kirana-chan." Aku melihat perempuan itu berbalik dan menatapku.

"Kiku."

Kutarik bibirku hingga tersenyum dan aku jamin ini pertama kalinya dia melihatku tersenyum lebar.

"Gokekkon—omedetō gozaimasu."

- END -