Cho Ji Hyeon presents

Legend of The Water Dragons

Disclaimer : SMTown milik SMEnt. Membernya punya Tuhan

Pairing: you'll find so on

Warning : WHO'S IN THE HELL DELETE MY FAIRYTALE FROM FFN? WHEN I FIND YOU, I SWEAR I'LL HUNT YOU TILL YOUR DEATH AND I SWEAR YOU'LL DIE WITHOUT CLOTHES ON AND FEED YOUR BODY TO MY DOGS, YOU BI*CH. IF YOU DON'T LIKE THIS FIC I ALREADY TOLD YOU TO CLICK THOSE 'X' BUTTON!

.

~Happy Reading~

.

Di halaman sebuah bangunan besar yang dapat dikatakan sebagai kastil, tampak sepuluh anak kecil yang sedang asyik bermain. Saat itu memasuki musim dingin. Salju yang turun dalam semalam membuat halaman yang ditumbuhi rumput berwarna hijau menjadi putih bersih. Anak tertua di antara mereka bernama Xiumin, umurnya 11 tahun. Dia sedang membuat boneka salju bersama beberapa adiknya. Anak kedua bernama Luhan. Dia lebih muda beberapa bulan dari Xiumin. Luhan memiliki wajah seperti boneka dan memiliki watak yang halus. Anak ketiga bernama Yixing. Umurnya 10 tahun dan dia lebih sering berada di dunianya sendiri daripada di bumi. Tampak anak itu duduk melamun di tepi lapangan tanpa sekalipun mempedulikan jerit dan tawa saudaranya yang bermain-main dengan salju. Selanjutnya Baekhyun, Chanyeol, dan Chen. Ketiganya berumur sembilan tahun. Baekhyun dan Chanyeol merupakan yang paling berisik di antara yang lainnya, sementara Chen asyik membaca bukunya di samping Yixing dan sama sekali tak terusik dengan kebisingan di sekitarnya. Di sisi lain, anak selanjutnya sedang bermain rumah-rumahan bernama Kyungsoo dan di sebelahnya anak bermata panda yang memainkan boneka naganya bernama Zitao. Keduanya berumur delapan tahun. Dan yang bermain-main bersama Luhan di sana adalah si kembar Jongin dan Sehun. Mereka tujuh tahun. Mereka bersaudara dari kakek buyut yang sama. Anak-anak itu lebih suka menghabiskan tiap liburan mereka bersama di kastil yang letaknya di atas bukit dengan hutan pinus di sekelilingnya. Di tengah-tengah hutan itu terdapat danau yang berukuran sedang dengan air sejernih kaca. Mereka biasa berenang di sana tiap kali musim panas tiba karena letaknya yang berada di dalam hutan dengan pohon-pohon tinggi melindunginya membuat air di danau itu sangat sejuk. Kastil itu sendiri kepunyaan paman mereka. Paman mereka tinggal berdua saja. Mereka memiliki koki, perawat kuda, tukang kebun, dan pelayan, serta kepala pelayan. Namun seperti biasa, mereka tidak tampak karena hari itu adalah hari di mana mereka dapat pulang ke rumah keluarga mereka. Mereka mendapat libur satu dua hari dalam satu bulan.

Bukit tempat kastil itu berada dapat dicapai dengan menaiki kereta kuda selama dua jam dari stasiun kereta api di kota. Anak-anak dapat melihat hamparan bunga-bunga atau lapangan rumput sejauh mata memandang dalam perjalanan ke kastil itu. Di sekitar bukit itu juga masih terdapat hewan-hewan liar seperti bajing, kelinci, domba dan kuda-kuda poni. Tidak ada pemburu di sana. Dan yang lebih utama, di tempat itu anak-anak itu dapat melakukan apapun semau mereka tanpa ada yang meneriaki mereka untuk berhenti melakukan hal apapun yang mereka ingin lakukan.

Sebuah gerbang raksasa dengan simbol naga yang mengembangkan sayapnya dengan setetes air di sudut matanya seolah naga itu menangis menjadi ornamen yang menandakan kereta kuda yang anak-anak tumpangi telah sampai di tempat tujuan. Oh, perlu diketahui bahwa tanah sepanjang bukit kastil itu berada juga kepunyaan paman anak-anak. Dia adalah seorang duke, jadi bukan hal yang mustahil daerah seluas itu adalah miliknya.

Kembali ke anak-anak yang bermain-main. Salah satu di antara mereka yang bermata panda mengayun-ayunkan boneka naga pemberian pamannya. "Lihat, Kyungsoo. Tuan naga menyemburkan airnya. Rawrrrr!" Zitao menggerakkan bonekanya seolah naga itu sedang terbang dan menirukan suara yang menurutnya adalah suara naga.

"Naga tidak menyemburkan air, TaoTao. Mereka mengeluarkan api panas." Kyungsoo yang masih asyik dengan mainan memasaknya membantah Zitao.

"Tapi mereka juga menyemburkan air! Yeye sendiri yang bercerita padaku bahwa di lautan Cina yang luas, bersembunyi seekor naga air dan menunggu sampai malam purnama untuk muncul ke permukaan untuk meminta korban."

"Tidak yang namanya naga air, Tao." Xiumin ikut membantah. Zitao sudah ingin menangis karena saudara-saudaranya yang lain ikut membantahnya. Sebelum Zitao sempat mengeluarkan air matanya, seorang laki-laki berwajah lembut seperti malaikat menghampiri mereka. Pipinya yang putih memerah karena udara dingin. Senyum menyenangkan tak pernah lepas dari bibirnya sampai dia mencapai anak-anak yang berkerumun dengan Kyungsoo dan Zitao di tengahnya. Dia adalah duchess, istri dari duke pemilik bukit itu. Berbeda dari para duchess lainnya yang semua apa yang mereka lakukan menuruti aturan. Dia mengetahui aturan-aturan dan tata cara duduk, berdiri, berjalan, dan sebagainya itu, tapi dia memilih mengacuhkannya saat hanya ada dia dan suaminya dan anak-anak itu. Baginya semua itu sangat membosankan, karena itulah anak-anak menyukainya selain karena dia orang yang menyenangkan.

"Anak-anak, apa yang kalian lakukan? Sekarang sudah hampir senja, waktunya masuk dan makan malam."

"Zitao bilang naga menyemburkan air, tapi mereka hanya menyemburkan api kan, Miss Wu." Walaupun sang duchess adalah seorang laki-laki dan telah menikah, orang-orang suka memanggilnya dengan sebutan Miss Wu. Bahkan walaupun dia juga paman anak-anak itu.

"Tapi yeye bilang naga air itu ada!" Zitao ngotot. Wajahnya yang memerah hampir menangis semakin memerah. Miss Wu tertawa dan menggendong Zitao.

"Apa kalian pernah mendengar legenda lokal mengenai kastil ini?" anak-anak itu menggeleng bersamaan. Bahkan Yixing dan Chen yang sebelumnya memisahkan diri dari saudara-saudaranya ikut berkumpul di sekeliling Miss Wu.

"Daerah ini terkenal dengan legenda itu."

"Apa yang diceritakan legenda itu?"

Mata Miss Wu berkilat-kilat menatap anak-anak di hadapannya dan berbisik, "Legend of The Water Dragons. Menurut orang-orang tua, daerah ini adalah tempat di mana sang naga air menetas untuk pertama kalinya."

Anak-anak yang semakin mendekati Miss Wu membelalakkan mata mereka. "Ceritakan pada kami, Miss Wu."

"Tentu saja. Setelah kalian masuk dan mencuci muka dan kaki kalian lalu makan malam. Aku akan menceritakan legenda itu."

Anak-anak itu segera berlarian masuk ke dalam kastil yang hangat. Walaupun mereka kelaparan, mereka sangat penasaran dengan legenda naga air itu. Miss Wu yang melihat semangat mereka tertawa kecil dan menggendong Zitao masuk.

"Apakah Miss Wu percaya pada naga air? Yeye bilang tiap malam purnama mereka akan muncul dan mencari korban."

"Aku tidak bilang aku tidak percaya, TaoTao, terkadang mitos cukup masuk akal meskipun alasannya aneh."

Setelah mencuci muka, tangan dan kaki mereka, anak-anak dan Miss Wu duduk mengelilingi meja makan panjang yang muat untuk lebih dari sebelas orang. Mereka menunggu sang duke datang. Makan malam berupa sapi panggang lengkap dengan puding yorkshire telah terhidang di hadapan mereka. Miss Wu sendiri yang menyiapkan semua itu. Hal itu cukup mencengangkan mengingat dia yang bertubuh mungil memasak sendiri dua belas porsi makanan yang terdiri dari sarapan, makan siang, dan makan malam untuk anak-anak yang sedang tumbuh serta dirinya dan duke selama koki mereka tidak ada.

Ruang makan yang luas itu sangat ramai mengingat sepuluh anak kecil asyik bercengkrama di dalamnya. Bahkan kebisingan masih terdengar ketika seorang pria jangkung bertubuh besar berambut pirang berwajah tampan muncul dan mengecup pipi Miss Wu. Dialah sang duke. Miss Wu tersenyum menatapnya. "Menyenangkan di dalam hutan?"

"Bahkan seekor gagakpun tidak tampak." Tuan Wu menjawab dengan wajah masam. Berburu tiap awal musim dingin adalah kebiasaannya. Itu hanya salah satu kebiasaan aneh yang dimilikinya. "Mari kita makan, shall we?" dan satu deheman darinya membuat ruangan yang semula berisik menjadi tenang.

Ketika anak-anak telah membantu Miss Wu mencuci alat makan bekas mereka, mereka segera naik untuk bersiap tidur. Saat itu masih pukul delapan, tapi mereka ingin segera istirahat karena seharian bermain. Setelah mereka berganti piyama dan berada di balik selimut hangat dan tempat tidur yang sangat lembut sehingga seseorang seolah terbenam di dalamnya karena kelembutannya, Miss Wu datang untuk mengucapkan selamat malam. Kadang-kadang Tuan Wu ikut datang, kadang-kadang batang hidungnya tak tampak sama sekali.

"Miss Wu, ayo ceritakan naga air itu." Baekhyun memaksa ketika Miss Wu menyelimuti Sehun dan Jongin yang tidur di tempat yang sama. Sehun menolak melepas cengkramannya pada mantel tidur yang dikenakan Miss Wu sehingga Miss Wu terpaksa duduk di tepi ranjang si kembar dan memangku Sehun yang segera bergelung di pelukannya.

"Nah, karena semua sudah nyaman aku akan menceritakan legenda naga air. Zaman dahulu kala hidup dua bangsa yang saling bertolak belakang. Mereka adalah Barat dan Timur. Mereka memiliki kekuatan dan sihir-sihir..."

"Seperti menggerakkan sesuatu tanpa menyentuhnya dan membuat emas?" Chen menginterupsi. Di antara mereka bersepuluh, dia adalah yang paling pintar dan suka membaca buku-buku. Bahkan yang isinya tentang mitos.

"Benar. Meskipun mereka memiliki sihir yang sama, tapi elemen mereka sangat bertolak belakang."

"Apa itu elemen?" Jongin bertanya.

"Elemen adalah sesuatu yang...arggh pokoknya elemen adalah elemen. Lanjutkan saja, Miss Wu. Akan kusumpal mulut yang menginterupsi." Xiumin mulai kesal. Miss Wu tertawa kecil sementara Jongin cemberut. Diusapnya kepala Jongin dan kembali bercerita.

"Walaupun mereka hidup di bawah langit yang sama, mereka memiliki matahari dan bulan yang berbeda. Kedua bangsa itu cukup akur, tapi ada satu peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun. Peraturan itu adalah larangan mengenai jatuh cinta."

Anak-anak tertawa mendengarnya. "Kalau mereka tidak boleh jatuh cinta, bagaimana kedua bangsa itu mempunyai anak?" Luhan nyengir.

"Aku belum selesai. Kedua bangsa itu dilarang saling mencintai. Misalnya seorang gadis dari Barat, dia tidak boleh jatuh cinta dengan pria dari Timur. Kedua pemimpin bangsa itu percaya bahwa bila satu saja ada pelanggar, maka akan terjadi kehancuran di bumi. Selama ribuan tahun peraturan itu tetap ada tanpa ada seorangpun yang berani melanggar. Sampai akhirnya, pangeran dari Barat menginjak usia di mana dia diharuskan menikah. Bangsa Barat dipimpin oleh para naga yang mengubah wujud mereka menjadi laki-laki atau perempuan. Seperti yang kubilang, pangeran Barat harus memiliki pasangan sehingga dia mulai berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk menemukan pasangan hidup.

Perjalanan itu belum lama, ketika sang pangeran melintasi samudra luas yang membatasi kedua bangsa dan para perompak berlayar. Ketika matahari hampir terbenam, para perompak itu melihat sang pangeran melintas dan segera mengarahkan meriam-meriam mereka ke arahnya. Para perompak itu sangat membenci para naga."

"Sang pangeran terkena tembakan mereka?"

"Dia berhasil menghindar. Namun naas, ketika dia berusaha menghindari peluru kesekian yang ditembakkan ke tubuhnya, dia terbang mendekati matahari. Sinar matahari itu menyilaukan matanya dan tanpa sadar dia menukik tepat ke arah sebuah peluru yang baru saja ditembakkan oleh meriam itu. Peluru itu mengenai salah satu sayapnya. Sayapnya robek sehingga sang pangeran kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke lautan yang luas. Makhluk-makhluk pengubah wujud seperti sang pangeran memiliki kelemahan. Tiap kali tubuh mereka terluka, mereka akan segera berubah menjadi manusia biasa sampai luka mereka sembuh. Karena itu tiap-tiap bangsa memiliki ribuan tabib dan ratusan ribu unicorn untuk mengobati luka-luka makhluk-makhluk itu."

"Apakah pangeran itu mati?"

"Tidak. Ternyata nasib baik sedang berpihak padanya karena seorang peri air berada di tepi tebing ketika ia melihat sang pangeran terjatuh ke laut. Dia segera meloncat dari tebing dan berenang dengan kecepatan tinggi untuk mengelamatkan sang pangeran."

-JHC-

Kris membuka matanya ketika dia merasakan angin pantai yang sejuk menerpa wajahnya. Ketika kesadarannya pulih sepenuhnya, dia mendapati dirinya berada di sebuah pondok terbuka yang bagian belakangnya menghadap ke teluk. Dia menyadari hari sudah malam ketika dia sadar dan lengannya terasa nyeri. Sambil mengerang dilihatnya tangannya yang telah terbalut rapi dengan perban. Dia mengingat-ingat apa yang sebelumnya terjadi dan mendesah. Dia bersyukur paling tidak dia tidak kehilangan tangannya. Kris menurunkan kakinya dari dipan tempatnya berbaring dan berusaha berdiri.

"Lebih baik kau istirahat lagi. Lukamu itu cukup serius." Sebuah suara lembut membuat Kris menoleh ke sumber suara. Seorang gadis duduk di atas dinding kayu setinggi pinggang dengan bersandar pada salah satu tiang penyangga pondok itu.

"Kau yang menyelamatkanku?" gadis itu hanya mengangkat bahu. Rambut hitam panjangnya berkibar tertiup angin. Dengan keremangan cahaya di pondok itu, Kris dapat melihat bahwa gadis itu bertubuh mungil dan memiliki mata berwarna sebiru lautan. Bahkan mungkin lebih biru.

"Kau seekor naga, kan? Dilihat dari bentuk tubuh nagamu, kurasa kau dari Barat. Siapa namamu?"

"Kris. Kalau kau?"

"Jun Mian. Aku peri air untuk diingat, bukan duyung. Aku punya kaki."

"Nama yang bagus. Terima kasih telah menyelamatkanku, Jun Mian."

"Kau bisa memanggilku Suho."

"Suho?"

"Karena aku pelindung. Kau mau sup? Makanlah selagi masih hangat. Aku menambahkan ramuan obat di dalamnya. Tanganmu harus cepat sembuh. Aku yakin kolonimu akan mencarimu kalau terlalu lama di sini. Aku khawatir mereka beranggapan kami menculikmu."

Mengingat para peri di negaranya adalah peri-peri yang suka menjahili orang lain, Kris tidak terlalu memercayai gadis di hadapannya ini.

"Ngomong-ngomong, aku ada di mana?"

"Timur. Lautan tempat kau jatuh adalah perbatasan negara kita."

"Kau tidak takut padaku? Biasanya ketika kami bangsa Barat mengunjungi bangsa Timur, Timur selalu segan atau takut pada kami."

"Untuk apa aku takut padamu? Bagiku Barat atau Timur sama saja. well, Barat memang memiliki karakter yang menakutkan, tapi di mataku kita tidak memiliki perbedaan."

Kris memandang kagum gadis di hadapannya. Dia memperlakukan Kris seolah mereka adalah teman lama yang bertemu. Sebenarnya Kris sendiri sudah muak dengan segala perbedaan Timur dan Barat ini. Mereka membicarakan banyak hal. Bagaimana Kris bisa berada di lautan perbatasan sampai ketika sayapnya terluka. Suho bilang dilihat dari luka pada tangan Kris, dia akan segera pulih mengingat kerusakan pada sayapnya tidak begitu parah. Hanya saja luka itu pasti akan meninggalkan bekas. Kris adalah orang yang menyukai kesempurnaan, jadi ketika Suho mengatakan lukanya akan membekas, Kris berusaha menahan dirinya untuk tidak menghancurkan sesuatu. Pondok itu milik Suho. Rasanya tidak sopan menghancurkan properti orang yang telah menyelamatkannya.

Malam hampir larut ketika Kris yang memiliki indra tajam mendengar gemerisik mencurigakan dari depan pondok. Dengan matanya yang tajam dia berusaha melihat dalam kegelapan. Dia mengutuki karena saat ini dia tidak dapat menggunakan penglihatan naganya.

"Seseorang datang." Dia mendesis. Suho yang semula membereskan peralatan makannya menatap Kris dan mengikuti arah pandangnya. Seseorang yang tiba-tiba meloncat ke dalam pondok dari balik semak membuatnya terkesiap dan menciptakan gelombang air untuk menyerang orang itu.

"Hentikan! Ini aku, Jaejoong."

"Jaejoong? Sedang apa kau di sini?" Suho mengembalikan air laut yang digunakannya untuk menyerang ketika mengetahui orang yang mengejutkan mereka itu Jaejoong, sepupunya.

"Yang Mulia memintaku mencarimu. Kau harus kembali sekarang. Besok pagi Lord Yunho datang, kau ingat?"

Suho menggerutu. Suho adalah putri raja kerajaan Timur. Saat ini ia tengah dijodohkan dengan salah satu bangsawan kerajaan itu. Seperti yang dikatakan Jaejoong, calon pendampingnya, Yunho, akan datang untuk mengunjunginya. Yunho jatuh cinta pada Suho karena kecantikan peri air itu, tapi tidak dengan Suho. Baginya laki-laki seperti Yunho tidak membuatnya tertarik. Dia membenci perjodohannya, itu sudah pasti.

"Siapa dia?" Jaejoong menatap curiga pada Kris. Sebelum Kris dapat memperkenalkan dirinya, Suho mengenalkan Kris.

"Dia adalah pangeran negara Barat. Dia hampir mati karena serangan perompak, jadi aku menyelamatkannya."

"Benarkah? Kalau begitu kita harus membawanya ke istana. Tabib dapat menyembuhkannya. Kurasa Yang Mulia tidak akan keberatan membiarkannya menginap selama beberapa hari. Bukan salahnya kalau dia terdampar di sini."

"Bagaimana kita bisa membawanya? Dia tidak bisa terbang."

"Aku membawa kuda kemari. Kau bisa membonceng bersamaku sementara dia menunggangi kuda satunya."

Dan mereka bertiga segera menuju istana. Raja dan ratu terkejut melihat pangeran Barat, tapi karena sifat Suho yang suka menolong orang lain membuat mereka tidak tega untuk mengusir pangeran Barat. Kris berterima kasih pada raja dan ratu karenanya. Saat itu dia hanya ingin lukanya segera sembuh sehingga dia dapat kembali ke Barat.

Keesokan harinya Kris sempat lupa di mana dia berada, namun ketika tangannya kembali berdenyut nyeri, dia kembali ingat alasannya berada di istana kerajaan Timur. Selesai menghabiskan sarapan yang dibuat untuknya dan membersihkan diri, yang terbukti sulit karena dia menggunakan hanya satu tangan, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar istana.

Ketika dia menginjakkan kakinya di taman yang memiliki air terjun, bahkan Kris sempat terkejut melihat air terjun itu, Kris mendapati Suho bersama dengan seorang pria berbadan tegap. Dia pasti Yunho seperti yang dikatakan Jaejoong. Yunho tampak berusaha membuat Suho terkesan, sedangkan Suho sendiri meskipun memasang senyum sopannya tampak jelas tidak tertarik dengan Yunho. Kris menyeringai melihat Yunho. Sejujurnya dia kasihan dengannya. Bila dia berada di posisi Yunho saat ini, dia akan memilih menguburkan dirinya dalam tanah.

Kris memilih untuk mengelilingi taman itu tanpa diketahui oleh pasangan kerajaan itu. Saat matanya sedang asyik mengamati aliran air terjun menuju sungai kecil di sepanjang taman itu, dia mendapati Jaejoong bersembunyi di balik semak mawar, mengamati pasangan kerajaan. Kris tidak butuh seorang peramal untuk mengetahui bahwa Jaejoong tertarik dengan Yunho. Kris mengacuhkan pemandangan itu dan kembali menjauh. Dia tidak ingin tiba-tiba muncul di belakang Jaejoong dan mengejutkan gadis itu kemudian membuatnya mendarat di semak mawar yang berduri.

Taman itu sungguh penuh kejutan ketika dilihatnya seekor serigala seputih salju tiba-tiba melompat ke hadapan Kris ketika dia sedang berjongkok di tepi sungai yang jernih. Nyaris saja dia tercebur ke dalamnya. Kris memperhatikan serigala yang menceburkan diri ke dalam sungai itu dan mengibas-ngibaskan bulunya. Membuat jarum-jarum air dingin terbang ke segala arah. Mata biru jernih serigala itu menatap Kris dan Kris nyaris terjungkal ketika serigala itu tiba-tiba mengeluarkan suara.

"Jangan menatapku seperti itu, anak muda. Itu tidak sopan."

"Kau...bisa bicara?"

"Tentu saja. Memangnya dunia ini hanya dihuni makhluk-makhluk seperti kalian saja? Sayang sekali aku harus mengecewakanmu dengan eksisnya binatang yang bisa bicara seperti kami. Masa kau tidak tahu itu? Kasihan sekali orang-orang Barat. Hanya mengenal naga dan unicorn."

"Hei, kami tidak seperti itu. Aku hanya..."

"Terkejut melihat binatang sepertiku bisa bicara? Akui saja tidak ada yang seperti kami di tempatmu, kan anak muda."

"Terserahlah. Kenapa kau ada di sini?"

"Sayangnya aku adalah pengawal pribadi Putri Jun Mian. Dia tidak pernah suka dikelilingi banyak dayang, jadi Pangeran menghadiahkanku pada Putri. Aku tidak hanya bekerja sebagai pengawal, tapi juga sebagai buku harian pribadi Putri." Serigala itu tampak bangga mengatakannya. Dari suaranya, serigala itu terdengar seperti serigala jantan, tapi mengetahuinya dia banyak bicara seperti wanita, Kris meragukan serigala itu benar-benar jantan atau tidak.

"Apa kau satu-satunya binatang di sini?"

"Tidak juga. Si kuda terbang milik Pangeran penghuni lain istana ini." Serigala itu mendekati Kris dan memelankan suaranya. "Kau tidak akan pernah ingin menemuinya, naga jantan. Kuda terbang itu orang tua yang membosankan."

"Kalau yang kau maksud kuda terbang yang membosankan itu adalah aku, maka kau tidak ubahnya wanita tua penggosip, Key." Kris mengutuki segala keterkejutan yang diterimanya hari itu ketika seekor kuda putih bersayap muncul. Benar-benar seputih salju, seperti serigala di hadapannya. Mata bulat coklatnya tampak ramah dan menyipit ketika melihat sang serigala.

"Mau apa kau kemari, orang tua. Naga jantan ini milikku. Pergilah mencari orang lain yang bisa kau recoki." Key bergerak meninggalkan sungai dan membaringkan dirinya di rerumputan di dekat kaki Kris.

"Oh, terdengar seperti kau tidak memiliki teman yang ingin mendengarkan semua omong kosongmu. Namaku Taeyeon, pemuda naga. Dan tukang gosip di sana itu adalah Key." Key menggeram menanggapi si kuda terbang.

Tak lama setelah kemunculan Taeyeon, si kuda terbang, Kris dibuat sakit kepala dengan kebisingan yang dibuat Taeyeon dan Key sampai seseorang menyelematkannya. Suho yang entah bagaimana bisa kabur dari Yunho mendudukkan dirinya di samping Kris dan menggerutu. Menghentikan pertengkaran apapun yang sedang dilakukan serigala dan kuda terbang bisa bicara di hadapannya.

Suho mengeluh karena Yunho berniat menginap beberapa hari di istana itu. Dan semakin hari Yunho menjadi semakin menyebalkan. Diam-diam Suho berharap Yunho mendapat masalah dan membuatnya hengkang dari istana itu sehingga Suho dapat terbebas dari semua rayuannya.

Sebenarnya Suho merasa tertarik dengan Kris. Sudah lama dia ingin melihat naga pengubah wujud secara langsung dan kehadiran Kris membuat perasaan ingin tahu meledak-ledak di dalam dirinya. Sehari setelah kedatangan Yunho, Suho berhasil melarikan diri dari pengawasan Yunho dan pelayan-pelayan istana dan mengajak Kris jalan-jalan di sekitar luar istana.

Mereka, Kris dan Suho juga Key dan Taeyeon yang memaksa ikut dengan Suho yang memaksa Key untuk tutup mulut sepanjang perjalan menyusuri desa-desa di luar istana. Anak-anak kecil tampak tidak canggung menyapa dan mengajak Suho bermain, namun dia menolaknya dengan sangat halus karena dia harus memandu seorang tamu.

Harus Kris akui, Timur adalah negeri yang indah. Kris merasa kecacatan tidak akan ditemukan di sana. Rumah-rumah penduduk terbuat dari granit yang entah bagaimana memiliki berbagai pola dan warna. Tidak ada yang berpakaian lusuh di sini sepanjang yang Kris lihat. Meskipun rumah-rumah saling berdiri berdempetan, di bagian depannya terdapat taman kecil yang ditumbuhi bunga-bunga berbagai warna yang mengeluarkan aroma manis dan wangi. Tiap taman dibatasi oleh pagar kayu, dan hewan-hewan yang bisa bicara ada di mana berjalan bersisian dengan para penduduk. Suho bilang mereka lebih dari sekedar hewan yang bisa bicara, tapi demon, roh binatang yang menjadi belahan jiwa seseorang. Dan fakta bahwa demon Suho adalah serigala berisik bernama Key cukup mencengangkan Kris. Suho mengatakan bahwa demon tidak bisa berpisah jauh dari pemiliknya dan akan menyebabkan efek yang buruk terjadi pada pemilik dan demon itu sendiri, tapi hal itu merupakan pengecualian untuk Key dan Taeyeon, itulah sebabnya kenapa Taeyeon bisa berada jauh dari pemiliknya. Keturunan kerajaan memang istimewa.

Mereka berjalan lebih jauh lagi dan memasuki pasar. Daerah itu begitu rapi dan bersih lengkap dengan para wanita bergaun lebar dan panjang menyapu lantai lengkap dengan topi-topi menggembung mereka. Harum roti gandum yang sedang dipanggang segera menyambut Kris. Para naga tidak pernah memakan sesuatu dari tanaman, tapi aroma roti yang dipanggang ini membuat Kris ingin mencicipinya. Di sebelahnya adalah kios buah-buahan. Buah-buah itu tampak begitu segar dan matang dengan kulitnya yang mulus. Di seberang berdiri toko daging dengan pemiliknya yang merupakan pria gemuk berwajah ramah. Dia sedang menyapu halaman di depan tokonya. Di ujung pasar terdapat sebuah kedai teh, yah mulanya Kris mengira itu sebuah kedai biasa sampai seorang pria mabuk keluar dari dalamnya. Kedai teh itu memang sesuai namanya, tapi juga merangkap sebagai bar. Dan mabuk di siang hari bukan sesuatu yang aneh di Timur.

Begitu mereka keluar dari pasar, hutan yang tak begitu lebat menyambut mereka. Suho bilang tak ada hewan buas di sana, kecuali kalau masuk lebih dalam. Para naga tidak pernah berjalan dengan kaki manusia mereka untuk dicatat, jadi setelah Kris mengelilingi taman istana berair terjun yang luasnya seperti kamarnya sendiri dengan digabung kamar-kamar lain dengan ukuran yang sama, berjalan di sepanjang pasar dan tepi hutan yang rasanya tidak ada akhirnya ini membuat Kris terengah-engah dan menjadi bahan ejekan Key dan Taeyeon. Bila Kris tidak sedang terluka, mungkin napas yang dikeluarkannya adalah api. Setelah perjalanan yang rasanya dilalui selamanya, mereka tiba di sebuah teluk. Air laut begitu biru dan jernih hingga rasanya Kris ingin mencebur ke dalamnya.

"Mau mencoba bermain air?" Suho menawari dengan mata berbinar-binar. Sekali lagi untuk dicatat, para naga tidak pernah bermain air. Hal itu akan menyebabkan tenggorokan mereka basah dan mengeringkan api mereka untuk sementara waktu, jadi Kris menolak. Namun tolakan itu tidak dihiraukan Suho karena gadis itu menarik tangannya yang sehat ke arah lautan dan menyipratinya dengan air. Melihat keceriaan gadis itu, membuat Kris tanpa sadar mulai menikmati bermain-main air dan berlarian di sepanjang teluk itu. Key dan Taeyeon ikut menceburkan diri mereka dan berlomba siapa yang dapat berenang lebih cepat, semakin menambah ramai suasana.

Ketika matahari sedikit bergeser dari puncaknya, mereka menjemur diri di pasir yang lembut. Kris merasa capek, tapi dia sangat senang. Tak pernah dalam hidupnya dia sesenang dan sepuas itu. di Barat sana, semuanya terasa panas. Tidak ada rumah-rumah granit bermotif cerah dan bentuknya lucu, lingkungan bersih dan aman, serta lautan yang jernih. Di sana hanya ada para naga, unicorn yang tak sebersih dan sesehat di Timur, kerusuhan di mana-mana, dan udara panas. Bahkan lautan yang mengililinginya pun mendidih. Key benar. Tidak ada apapun di sana. Bahkan istana tempat dia tinggal begitu monoton yang terdiri dari ruangan-ruangan besar tanpa hiasan yang indah-indah. Satu atau dua lembar karpet bergambar naga atau kelelawar atau malah peta wilayah Barat menutupi dindingnya. Tidak ada hiburan. Hanya ada bangunan besar dengan tembok besar dan tebal untuk berlatih. Mereka dilahirkan sebagai petarung yang hebat dan tangguh. Bahkan mabuk dan merokok pun dibatasi hanya pada malam hari sampai matahari terbit. Bila mereka ketahuan mabuk atau menggunakan tembakau lebih daripada waktu itu, mereka akan dipenjara di tempat yang beku sehingga api naga mereka juga ikut beku selama beberapa waktu. Untuk diketahui, api naga adalah sumber kekuatan mereka. Dan para naga yang kehilangan apinya sama saja dengan naga yang sudah mati. Hal itu sama buruknya dengan kehilangan sayap atau ekor dan tidak bisa terbang. Ketika Kris melihat apa yang ada di Timur, dia menjadi bertanya-tanya bagaimana selama ini dia, mereka bangsa Barat, bisa hidup di lingkungan seperti itu.

-JHC-

"Apakah mereka akan jatuh cinta?" Kyungsoo begitu penasaran.

"Ya. Lambat laun perasaan cinta tumbuh di antara mereka. Bagi putri Jun Mian, pangeran Kris adalah orang yang menarik. Bagi pangeran Kris, putri Suho adalah gadis paling lembut dan mempesona yang ditemuinya."

"Lalu apakah raja dan para naga tahu?"

"Kelanjutannya akan kuceritakan besok, anak-anak. Sekarang sudah larut, sebaiknya kalian tidur." Mendengar jawaban Miss Wu, anak-anak itu mengerang, kecuali Sehun yang telah tertidur di tengah-tengah cerita. Dengan hati-hati Miss Wu membaringkan Sehun di samping Jongin dan menyelimuti si kembar. Dikecupnya dahi anak-anak itu satu persatu dan mematikan lampu utama setelah menyalakan lampu kecil di meja samping tempat tidur.

"Selamat malam, anak-anak."

"Selamat malam, Miss Wu." Kor anak-anak, kemudian ditutupnya pintu kamar besar itu.

Kastil yang siang hari begitu menyenangkan karena sinar matahari menerobos melalui celahnya dan menyinari dindingnya yang putih, sekarang menjadi begitu gelap. Miss Wu menggunakan sebatang lilin sebagai penerangannya. Dilaluinya lorong yang begitu sunyi menuju kamarnya, kemudian berbelok ke kiri menuju anak tangga yang membawanya ke lantai dua. Sandal beludru yang dikenakannya membuatnya hangat selagi menaiki anak-anak tangga yang terbuat dari batu seperti dinding-dinding di kastil itu. Ketika ia telah berada di puncak anak tangga, dia berbelok kanan, memasuki ruangan berbentuk setengah lingkaran dengan gambar naga di sisinya. Di tengah ruangan itu terdapat meja kecil berbentuk bulat dengan sebuah mainan yang tutupnya berbentuk tabung dan memiliki lubang-lubang berbentuk hewan atau penyihir. Letakkan lilin di dalam mainan itu dan nyalakan lilinnya, kemudian putar kunci di atas tutupnya maka tutup mainan itu akan berputar. Cahaya dari api lilin akan memantulkan bentuk lubang-lubang di permukaan tutupnya yang berputar pada dinding. Lilin dalam mainan itu habis tepat setelah memantulkan gambar naga yang mengembangkan sayapnya dengan setetes air di salah satu sudut matanya. Tutup mainan itu tetap berputar dan mengeluarkan bunyi berdecit pelan. Miss Wu memutar kuncinya dan mainan itu kembali diam. Miss Wu kembali berjalan menuju salah satu sisi ruangan itu dan menyibakkan tirai besar berwarna ungu dengan motif naga dari emas yang menutupinya. Di balik tirai itu terdapat sebuah celah tinggi membentuk lorong dengan anak tangga yang tidak sebanyak dan setingga anak tangga sebelumnya. Dinaikinya anak tangga itu dan membuka sebuah pintu kayu kokoh yang tak terlihat dari celah tadi.

Di balik pintu kayu itu terdapat sebuah kamar tidur yang sangat luas. Dengan tempat tidur besar lengkap dengan empat tiang di sudutnya dan kelambu putih gading di tengah ruangan itu. Sebuah lemari kayu yang besar dan panjang memenuhi satu sisi kamar tidur. Sebuah meja kecil samping tempat tidur dengan lampu seperti di kamar anak-anak penuh dengan buku, kaca mata, mug kosong, dan pena. Sebuah cermin bulat besar berada di dekat pintu. Meja rias bersebrangan dengan lemari yang di atasnya juga penuh, kali ini dengan berbagai produk perawatan kulit. Rak buku diletakkan di sebelahnya. Di atas tempat tidur, sang duke yang telah mengenakan piyamanya duduk bersandar pada sandaran tempat tidur dengan beberapa bantal sebagai alas punggungnya dan membaca sebuah buku. Dialihkannya tatapannya dari bukunya ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Miss Wu melepaskan mantel tidurnya dan meletakkannya di sofa yang menempel pada ujung tempat tidur dan membaringkan dirinya di samping sang duke di balik selimut tebal.

"Bagaimana anak-anak?"

"Aku menceritakan legenda itu pada mereka. Zitao hampir menangis karena saudaranya tidak memercayai cerita kakeknya mengenai naga air."

"Oh, jangan lupa ceritakan bagaimana pangeran Kris dengan berani mengorbankan dirinya untuk sang putri." Miss Wu memutar bola matanya. "Lagi-lagi mengagumi diri sendiri. Ayo tidur, Tuan naga."

Sang duke menutup bukunya dan meletakkan di atas tumpukan buku lain pada meja dan memadamkan lampu. Di tariknya lengan Miss Wu dan memeluknya erat. Bahkan kakinya juga melingkari kaki Miss Wu. "Selamat malam, putri Jun Mian."

"Selamat malam, pangeran Kris." Tuan Wu mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Miss Wu dan memejamkan matanya. Malam itu berlalu dengan tenang.

~To Be Continued~

.

segala kritik dan saran author terima dengan senang hati. Sekedar mengingatkan bahwa dengan mengisi kotak review di bawah ini akan dihitung sebagai donasi peduli keeksisan cinta KriSu, KrisHo, SuKris, leader couple. Let's spread KrisHo love!

.

~Mind to RnR?~