Bleach © Tite Kubo

Sister for Karin © Mezuraven Randy

Summary : Karin sangat membenci pacar baru kakaknya. Karena, perempuan yang dia inginkan untuk menjadi pacar Ichigo adalah sosok yang selama ini diam-diam telah diakui olehnya sebagai kakak perempuan. Siapakah kedua perempuan itu?

Warning : DON'T LIKE DON'T FLAME. OOC, pov, sorry for Inoue Orihime Fans and Kuchiki Rukia Fans also Kurosaki Karin Fans–don't flame or hate me and this fanfic. Peaceful!

KARIN pov

Tok tok! Tok tok!

Terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Sudah semenit yang lalu suara berisik itu mengganggu kegiatan menonton pertandingan sepak bolaku. Aku tak mau menggubrisnya karena mataku terus memelototi teknik permainan team kesayanganku yang hebat. Sebab aku ingin mempraktikkannya besok saat bertanding melawan teman-teman laki-lakiku. Pasti dengan begitu aku akan menang mudah.

Tok tok! Tok tok!

Suara ketukan itu kembali terdengar di gendang telingaku. Volumenya pun bertambah semakin keras dari sebelumnya. Grrrh! Siapa sih orang menyebalkan yang tak bosan mengetuk pintu itu? Apa itukah hobinya? "Yuzu!" panggilku kepada saudara kembarku keras-keras. Aku berharap dia mau membukakan pintu bagi tamu sialan itu.

"Ada apa Karin? Apa kau tak tahu kalau aku sedang memasak untuk makan malam?" dia balas berteriak dari arah dapur. Suaranya terdengar cempreng menggema membuat telingaku bisa tuli seketika.

"Tolong kau bukakan pintu! Ada seseorang menunggu di luar sana yang terus mengetuk pintu! Aku bosan!" perintahku dengan suara lantang. Kupencet-pencet remote TV-ku kembali saat channel yang aku tonton sedang menampilkan siaran iklan. Namun tiba-tiba remote itu hilang dari genggamanku. Baru aku menyadari bahwa Yuzu lah yang telah merebutnya. Aku melongo tak percaya memandangi saudara kembarku yang berwajah polos itu. "Kapan kau berdiri di depanku? Sekarang minggir dari hadapanku karena aku tak bisa melihat acaranya kalau tubuhmu menghalanginya." sewotku lalu menggeser tubuhnya sedikit ke samping.

"Kau ini! Aku sedang sibuk di dapur sedangkan kau membuka pintu untuk tamu saja tidak mau. Cepat bantu aku, Karin!" ucapnya memamerkan tampang kesal. Aku memutar bola mataku lantas menghela nafas berat. Segera aku bangkit dari sofa tempatku duduk dan bergegas membukakan pintu karena malas bertengkar dengannya.

"Oke. Lanjutkan saja acara memasakmu, dan jangan lupa pesananku tadi. Spaghetti meat ball tanpa keju!" tegasku mengingatkan sekaligus melampiaskan kekesalan lewat kata-kata memerintah kebiasaanku. Kalau dipikir-pikir aku ini memang kembaran yang jahat ya.

Cklek! Kubuka pintu rumahku perlahan. Sesaat mataku membulat ketika mendapati dua orang yang berlainan jenis tampak bergandengan tangan mesra. Yang laki-laki memiliki rambut orens spike dengan mata ambernya. Tentu aku mengenalnya karena dia adalah kakak kandungku. Lalu yang perempuan? Dia jelas-jelas bukan Rukia-nee. Perempuan ini bertubuh ideal dengan tinggi semampai dan memiliki mata abu-abu samar. Rambutnya panjang dan berwarna orens kecoklatan diikat menjadi dua seperti gaya rambut anak-anak. Dan yang paling mengejutkan adalah saat pandanganku beralih pada dadanya. Besar sekali! Hampir menyamai dada Rangiku-san, sahabat Rukia-nee.

Gluk! Aku menelan ludahku secara paksa. Tak mau mempercayai pemandangan yang disuguhkan didepan mataku. Kenapa kakakku malah bermesraan dengan perempuan ini? "Ichi-nii? Tumben kau sudah pulang. Rukia-nee mana?" tanyaku mencoba mengabaikan keberadaan perempuan disamping kakakku itu. Bagaimana aku mau meladeninya kalau sikapnya itu membuat mataku pedas dan tanganku gatal untuk mengusirnya keluar? Dia bergelayut merangkul lengan kekar kakakku dengan begitu erat. Seakan-akan takut bahwa nantinya akan aku rebut paksa. Dilihat dari penampilan luar, sepertinya dia tipikal perempuan lemah lembut yang manja.

"Rukia ya. Dia masih berada di sekolah karena mengikuti club memasak, makanya aku tinggal." jawab kakakku santai tanpa peduli dengan reaksiku. Malahan dia tersenyum renyah pada perempuan yang terus menempelinya bak di lem dengan lem kayu.

"Kenapa kau tinggal? Dia itu perempuan dan bagaimana kalau nanti dia pulang malam-malam sendirian?" protesku sedikit menaikkan intonasi suaraku. Kulihat kakakku hanya menaikkan sebelah alisnya heran. Apa-apaan responnya itu? Seharusnya dia berubah panik dan khawatir, lalu cepat-cepat melenggang pergi menuju sekolah untuk menjemput Rukia-nee.

"Hahahahaha…" tawa kakakku menggelegar. Membuatku makin kebingungan dengan sikapnya barusan yang terkesan aneh. "Sebenarnya aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi Rukia yang memaksaku untuk pulang duluan." jelas kakakku dengan sebuah senyum lembut.

"Apa?" gumamku pelan.

"Yah, lagipula Inoue juga buru-buru mengajakku pulang ke rumah. Untuk dikenalkan pada keluarga kita,"

Hah? Mengenalkan Inoue kepada keluargaku? "Inoue itu siapa? Kenapa harus dikenalkan denganku dan keluarga kita? Dan apa-apaan nada bicara Ichi-nii yang seolah-olah ingin memamerkan tunangan baru kepadaku?" cerocosku kurang mampu mencerca setiap kata-kata yang terlontar dari mulut kakakku.

"Kau pasti salah satu adik kembar Kurosaki-kun. Namamu Kurosaki Karin bukan?" tanya sebuah suara perempuan yang menyambung pembicaraanku dengan kakakku. "Aku Inoue Orihime, pacar baru kakakmu (amit-amit, jangan sampai ini jadi kenyataan). Salam kenal, Karin-chan!" Inoue berkata riang dengan wajah berbinar-binar saking senangnya. Dapat pula terlihat olehku sebuah semburat merah dipipinya. Tetapi bukan itu yang membuat jantungku menggelinding entah kemana. Akan tetapi penuturannya yang menyatakan sebagai pacar kakakku itu yang mampu mengobarkan api di dalam hatiku. Kebencianku langsung hidup saat itu juga ketika melihat senyum palsu yang dibuat-buat semanis mungkin padaku. Dia pikir dapat mengelabuiku dengan senyum seperti itu?

"Ehm. Maaf, apa yang dikatakan perempuan ini benar apa adanya, Ichi-nii?" tanyaku memastikan. Kakakku mengangguk mantap menjawab pertanyaan yang aku tujukan.

Deg! Jantungku berdetak sangat cepat mengetahuinya. Aku pasti sedang bermimpi! Kutelusuri lekuk wajah kakakku, mencoba mencari kebohongan dalam mata indahnya. Namun hasilnya nihil! Aku tidak percaya kakakku yang terkenal elegan, tampan, dan keren di sekolahnya bisa jatuh cinta pada perempuan tipe seperti yang aku lihat ini?

"Aku tidak mau mengakuinya…" bisikku sepelan dan sekecil mungkin agar tidak didengar oleh kedua insan di depanku. Tubuhku merosot hingga terduduk menyentuh lantai rumah. Kakiku benar-benar tak sanggup menopang berat badanku hanya karena obrolan singkat kami bertiga yang berlangsung tak lebih dari lima belas menit.

"Kau kenapa? Hei!" kakakku berjongkok dengan punggung tangannya menempel pada dahiku, bermaksud mengecek suhu tubuhku. "Ada yang salah?" tanyanya, sebersit rasa cemas hinggap dalam tatapan mautnya. Aku hanya mampu menundukkan kepalaku gemetaran. Aku pun tak tahu sejak kapan aku merasa selemah ini. Kenapa? Otakku tak mau berpikir mencari jawabannya, bahkan mengingat pertandingan sepak bola yang baru beberapa menit aku lihat saja lupa. Ada apa?

"Karin-chan tidak apa-apa?" Inoue-nee turut berjongkok sama halnya dengan kakakku. Aku menggertakkan gigi gerahamku kesal.

"Hei nona, yang boleh memanggilku dengan embel-embel chan hanyalah Rukia-nee. Kau dengar?" gertakku marah. Berani sekali dia ikut campur dengan nama panggilan yang diberikan oleh Rukia-nee. Dia dan kakakku terjingkat kaget bersamaan.

"Jaga bicaramu, Karin! Kau ini kenapa?" terlihat mata amber kakak berkilat emosi. Namun jemari lentik Inoue-nee meraba-raba pundaknya untuk menghentikan amarah yang sedetik lagi akan meledak dari kakak. Aku yang melihatnya tersenyum pahit sembari memalingkan muka. Kenapa kau malah membela perempuan itu ketimbang adikmu sendiri? "Sudahlah Kurosaki-kun… nama itu pasti spesial baginya, jadi hanya orang-orang tertentu saja yang boleh mengatakannya."

Kakakku mengangguk membenarkan. Dia juga tahu bahwa Rukia-nee selalu memanggilku begitu. "Karin, apa ada masalah denganmu? Kau tampak…" kakakku menggantungkan kalimatnya. Raut wajahnya menggambarkan dirinya sedang berpikir keras entah apa yang berkecamuk dalam otaknya.

"Oke. Aku salah karena telah berkata kasar pada perempuan ini. Maaf saja, tapi mood-ku sedang tidak bersahabat untuk mengucapkan sepatah kata menyesal!" tegasku kemudian berbalik meninggalkan mereka dan kembali menguasi remote TV. Aku cuma tidak mau memperbesar masalah sepele ini hanya karena keegoisanku.

END pov

"Wah… ternyata Yuzu-chan pintar memasak ya. Coba aku cicipi hasil olahanmu," Inoue tampak mengambil sesendok kuah ramen yang baru matang. Dia mengecap-ecap beberapa kali sebagai tanda sedang serius menilai rasa masakan Yuzu. "Hmm aku rasa kurang beberapa bumbu, boleh aku tambahi rempah-rempah? (jujur aku nggak tahu bumbu masakan karena nggak pernah masak, goreng telor aja keasinan) " komentar Inoue. Dan Yuzu pun mengangguk senang karena dia merasa kemampuan memasaknya masih amatiran. Tangan Inoue cekatan menjumput bumbu bubuk yang ada di dalam toples lantas memasukkannya ke dalam panci yang berisi kuah ramen. Kemudian memotong-motong daun bawang lalu menaburkannya sebagai pelengkap. Yuzu sampai terpana melihatnya.

"Inoue-nee hebat!" pekik Yuzu bahagia dan memberikan tepuk tangan kecil. Mereka akrab dengan cepat dan saling berbagi kesenangan melalui hobi memasak mereka. Dan itu membuat Yuzu melupakan menu pesanan saudara kembarnya.

"Aku sudah terbiasa memasak kok! Oya, akan lebih enak kalau dimakan bersama bento (aku kurang yakin waktu ngetik bagian ini), jadi cepat kau masak bento."

Keduanya terus melakukan kegiatan bersama tanpa sadar bahwa sejak sepuluh menit yang lalu ada sepasang mata sibuk mengawasi gerak-gerik mereka penuh dengki.

Karin menyambar sweater ungu yang lalu dipakainya dan satu lagi sweater biru tua dalam genggaman. Dia mengendap-endap mengambi sepatu sneakers miliknya yang tersusun rapi di rak sepatu. Matanya sekilas melirik ke arah jam dinding, pukul lima sore lebih. Biasanya kegiatan club selesai tepat pukul setengah enam petang. Lalu dia cepat-cepat berjalan pelan membuka pintu rumah.

"Mau kemana?" tegur sebuah suara yang berhasil sukses menggagalkan rencananya. Karin menoleh sebentar untuk menatap tajam mata amber kakaknya. Dia masih sangat kesal dengan perlakuan kakaknya yang dianggap tidak adil.

"Mengembalikan barang," jawabnya singkat tanpa ingin menunda-nunda waktu dan segera membuka kenop pintu.

"Barang apa? Kulihat kau tak membawa apapun selain sweater di tanganmu." ucap Ichigo curiga. Dia yakin sekali kalau adiknya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Apalagi tingkahnya menjadi aneh sejak tadi siang, atau tepatnya sejak Inoue datang kemari bersamanya.

"Yah, apalagi kalau bukan mengembalikan sweater ini?" balas Karin sengit.

"Jangan bercanda, itu sweater milik Rukia!"

"Ichi-nii, lebih baik bantu perempuan itu di dapur sebelum dia menghancurkan masakan Yuzu." kali ini Ichigo terbelalak dengan kata-kata dingin Karin barusan. Tatapannya juga menajam tiga kali lipat dari sikap wajarnya.

Braakk! Pintu di banting kasar oleh Karin. Sementara Ichigo memandang kosong bayangan adiknya dalam benaknya. Apa yang membuat sifat Karin berubah sedrastis ini? Pertanyaan yang tak tahu dimana jawabannya berada itu berputar-putar menari di dalam otaknya. Dia sama sekali tidak tahu apa penyebab utamanya. "Anak itu mempunyai masalah apa sih?" pikir Ichigo pasrah. Namun dia tahu kemana tujuan Karin akan pergi, Hueco Mundo High School adalah targetnya. Karena dia yakin kalau adiknya akan menjemput Rukia.

RUKIA pov

Aku memasukkan kotak bekal berisi percobaan memasakku ke dalam tas selempanganku. Hari ini aku memang sengaja memasak pasta karena tahu kalau Karin sangat menyukai jenis masakan ala Eropa seperti ini. Entah mengapa aku malah merasa lebih dekat dengannya ketimbang Yuzu. Mengingat bahwa sifat anak itu sangatlah brutal dan tomboy seperti Tatsuki, sahabatku sewaktu aku masih bergabung di club karate. Dia memang dulunya sering beradu agrumen denganku, tapi kini tidak sama sekali. Dia semakin hari semakin menerima keberadaanku dalam lingkup keluarganya, dan hal itu tentu membuatku merasa senang. Aku memang bukanlah siapa-siapa di antara mereka. Walaupun tidak memiliki hubungan darah atau ikatan khusus, aku tetap menyayangi mereka seperti sebuah keluarga yang aku idamkan dari dulu.

"Kuchiki-san, hari ini aku tidak bisa menemanimu pulang bersama. Aizen-nii sudah menjemputku setengah jam yang lalu, maaf ya." sebuah suara dari sahabatku menyadarkanku dari lamunanku. Dialah Sousuke Momo. Perempuan dengan senyum manis dan rambut yang dicepol rapi. Di dalam club memasak, dia merupakan anggota yang paling pintar membuat resep sendiri. Tak heran karena keluarganya membuka sebuah kedai makanan yang cukup terkenal. Dia juga yang selama ini membantuku mengenalkan berbagai jenis bumbu masakan dan rempah-rempah.

"Tidak apa-apa kok!" ucapku tenang. Meskipun harus aku akui, aku takut pulang sendirian malam-malam begini. Apalagi sekarang sedang musim gugur, di luar sana pastilah dingin dan hebatnya aku lupa membawa sweater!

"Benar tidak apa-apa?" tanya Momo, dia kelihatan mencemaskanku.

"Sudahlah, kau tak perlu menunjukkan ekspresi jelekmu itu di depanku. Hahaha…" aku berusaha mencairkan suasana yang sempat canggung di antara kami. Momo tersenyum simpul menanggapinya, dia mengerti tentangku yang benci di khawatirkan. Tangannya perlahan menyentuh kedua pundakku sambil sedikit menekannya.

"Hati-hati diperjalanan ya. Bawalah sweater milikku ini, aku tidak mau kau pingsan ditengah jalan karena menggigil kedinginan." katanya penuh perhatian sembari menyerahkan sweater rajutan berwarna… pink? Momo sungguh baik, aku jadi iri dengan laki-laki yang berhasil mengambil hatinya. Andai saja orang itu adalah aku. Tuhan… aku berpikiran apa sih? Aku ini normal bukan penyuka sesama jenis!

"K-kau tidak perlu repot-repot. Sudah, pakai untuk dirimu sendiri saja," aku menolak halus-halus, tak mau melukai perasaan sahabatku. Sejujurnya aku menolak karena membenci warnanya. Pink! (warna yang aku benci juga, sorry for pink lovers) Itu terlalu feminine dan mencolok. Aku tidak menyukainya.

"Hahh… aku sudah tahu alasan kau menolaknya. P-I-N-K." Momo menghela pasrah. "Kalau begitu sampai jumpa ya, Kuchiki-san! Salam untuk laki-laki bermata indah itu! Daaah!" Momo berteriak sembari melenggang pergi menuju tempat kakaknya menunggu. Aku masih dapat melihat dia melambaikan tangannya kepadaku.

"Rukia-nee!" semenit setelah kepergian Momo, aku mendengar suara familiar berteriak memanggilku. Aku menoleh dan melihat Karin berlari tergesa-gesa menghampiriku. Matanya merah sembab dan berair. Apakah dia menangis? Hari memang beranjak petang, tapi aku serius melihatnya menangis dan aku tidak salah lihat! Dia langsung menghambur memelukku erat.

"Karin-chan, ada apa? Kenapa kau menangis?" tanyaku lembut dan mengelus-elus pundaknya pelan. Bahunya bergetar karena efek dari sesenggukan. Dia mendongak menatapaku. Apa-apaan pancaran sinar mata ini? Kau terlihat begitu rapuh. Ada masalah apa sebenarnya hingga mampu menitikkan air mata kesedihanmu?

"Rukia-nee…"

Continued on chapter 2

Kenapa hancur begini? Tidak sesuai dengan perkiraanku! Mana Ichigo pacaran sama Inoue lagi! Huaaaa! Mind to review? Review please…