Title : Complicated Chapter 1

Author : Ahn Jisook/ thaliashf

Rate : PG-16

Genre : Romance, Hurt

Cast : Park Chanyeol (EXO), Ahn Jisook (OC), Wu Yi Fan/Kris Wu (EXO), Oh Hyerin (After School)

Warning! AU, AT, Self Insert, Crack, OC, OOC, Mary-Sue!

Dan dia datang...

Tidak,

Aku tidak akan bermimpi lagi,

Tidak akan...

Seoul, Korea, 02.17

Jisook terbangun dengan keringat membanjiri seluruh tubuhnya walaupun pendingin di ruangan itu menunjukkan suhu 18˚C. Kasur queen size berwarna baby pink miliknya berderit ketika ia mencoba untuk melepaskan diri dari kenyamanan kasur mahal tersebut. Membuka laci meja belajarnya dan mengambil selembar foto –yang di dalamnya terdapat sesosok anak laki-laki dan dirinya saling tersenyum lebar.

"Park Chanyeol. Kenapa kau selalu datang dalam mimpiku, eoh?"

Setelah puas menatapi foto tersebut, Jisook kembali meletakkan foto itu di sela-sela buku tebal yang kira-kira mencapai enam ratus halaman. Berharap dia lupa meletakkan 'benda' itu dan tak pernah bisa menemukannya lagi. Langkah kaki mungilnya menuntunnya kembali ke kasur empuk yang menjadi tempatnya menghabiskan hari sekaligus tempatnya beristirahat. Menarik selimut sebatas bahu lalu menutup mata berharap bisa kembali tidur.

"Selamat malam, giant."

New York, USA, 15.17

Park Chanyeol berjalan dengan cepat di ramainya suasana bandara sambil memegangi ponsel miliknya dan berbicara dengan nada yang diketus-ketuskan. Berharap lawan bicaranya mau menuruti kata-katanya –mungkin.

"Tidurlah Hyerin. Meskipun aku bodoh tapi aku tahu di Seoul sudah malam –yah mungkin saja,"

'Aku tak bisa tidur chanyeol. Aku terlalu bosan.'

"Manusia jenis apa kau? Bahkan tidur pun kau bosan," balas Chanyeol dengan bahasa yang tak mungkin orang lain disekitarnya mengerti. "Tidurlah atau aku tak akan pulang ke Korea."

'Woa woa woa, arasseo Park Chanyeol. Aku akan tidur dasar tukang ancam.'

"Satu-satunya cara agar kau mau mendengarkanku Hyerin," Chanyeol menatap arlojinya. "Jaa, sekarang tidurlah. Jagiya."

'Hnggg~ baiklah. Bogosipda Chanyeol-ah,'

"Hng, nado." Setelah membalas singkat dia mengantongi ponsel yang sudah hampir setengah jam menempel di telinganya yang kini terasa panas. Chanyeol kembali melangkahkan kakinya dengan cepat ke dalam pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas ke Korea.

Ya. Korea kampung halamannya.

Ottawa, Kanada, 15.17

Seorang laki-laki tinggi dengan wajah tampan dan rambut keemasan sedang berkemas memasukkan segala yang ia butuhkan ke dalam koper kulit yang tampaknya sudah lusuh. Seorang wanita paruh baya membuka pintu lalu memberikan sekotak bekal makan kepada laki-laki tersebut.

"Yi Fan, apa kau yakin akan pergi ke Seoul?"

"Aku sudah yakin, abeoji mendaftarkan aku sebagai salah satu siswa di SMA terbaik se-Korea –yah walaupun hanya sebagai penerima beasiswa."

"Tapi apa sejauh itu? Kau masih bisa bersekolah disini." Ucap sang ibu sambil membelai wajah tampan anaknya.

"Itu sekolah terbaik dan aku harus kesana," Yi Fan menutup tas kopernya lalu menggeretnya keluar kamar sambil ditemani sang ibu. "Lagipula tiketnya sudah dikirim."

"Baiklah, aku akan merindukanmu," Tubuh rapuh sang ibu memeluk tubuh tegap anaknya. Yi Fan tak mampu menahan air matanya ketika ia mencium dahi sang ibu. "Pulanglah jika liburan panjang datang."

"Aku pergi," Yi Fan menggeret kopernya menuju taksi yang sudah ia pesan beberapa menit lalu. Melambaikan tangan pada ibunya yang kemungkinan –atau pasti akan ia rindukan. Merapatkan syal buatan tangan menahan dinginnya musim dingin di Kanada yang mencapai minus beberapa derajat lalu menutup matanya sebentar.

Ah, aku lupa membawa bekalnya.

Ahh~ untung upacara penerimaan murid barunya sudah selesai. Lelahnya.

Jisook berjalan-jalan di sekitar taman belakang sekolahnya yang luas. Mencari pohon yang cukup rindang untuk menghabiskan waktu istirahatnya yang terpotong karena 'insomnia' yang semalam tiba-tiba muncul. Untung saja pemulihan kantung matanya lebih cepat dari gadis-gadis lain, kalau tidak dia bisa dikira panda berjalan.

Setelah berjalan cukup lama akhirnya dia bisa menemukan pohon yang cocok untuk istirahat siangnya. Pohon sakura yang menurutnya sudah tua itu memiliki banyak daun dan juga kelopak bunga sakura tentunya. Satu kata darinya 'indah'.

"Yaa~ kau kan baru saja datang kesini masa kau tidak rindu padaku?"

Jisook sedikit mengalihkan perhatiannya pada suara gadis yang menurutnya sok imut. Nadanya yang sengaja dibuat melambai dan tingkahnya yang sekarang sedang menarik lengan kemeja seorang laki-laki tinggi dengan rambut kecoklatan.

Tunggu dulu!

Jisook sepertinya sangat mengenal figur laki-laki itu. Tubuhnya yang tinggi, rambut kecoklatan yang sedikit ikal tanpa perlu ke salon dan juga tangan besar itu. Dia kembali 'mengintip' kelanjutan dari sepasang laki-laki dan gadis yang ada di depannya.

"Tapi Hyerin-ah. Aku lelah," balas sang laki-laki sambil menyandarkan tubuhnya ke pohon yang tak berapa jauh dari tempat Jisook mengintip. "Kalau kau mau, kau saja yang mulai."

"Dasar," dengan umpatan kecil gadis itu –Hyerin menempelkan bibirnya ke bibir laki-laki yang kini memeluk tubuh kecil gadis yang menciumnya. Jisook yang tak biasa melihat pemandangan live seperti itu hanya bisa terpaku dengan pipi merona merah.

Laki-laki tinggi itu berbalik ke arah Jisook dan membuka matanya. Jisook maupun laki-laki itu kaget karena melakukan kontak mata. Jisook hanya kabur tanpa berpikir dua kali dan laki-laki itu melepaskan ciumannya dengan Hyerin.

"Ada apa Chanyeol?" tanya Hyerin dengan wajah bingung.

"A-ani. Aku melihat seseorang disana," Chanyeol dengan suara yang tercekat menjawab pertanyaan Hyerin. "Sepertinya wajahnya familiar."

"Tak usah dipikirkan," Hyerin mengalungkan lengannya ke leher tinggi Chanyeol. "Tak ada yang berani denganku. Aku tahun ketiga di sekolah ini dan semua orang mengenalku."

Chanyeol membalas memeluk pinggang Hyerin. "Ah, begitukah sunbaenim?" Chanyeol mengecup bibir merah Hyerin sekilas. "Tapi aku berani padamu, sunbaenim."

Dan mereka melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda.

Ya tuhan, maafkan aku karena mengintip orang.

Jisook berjalan cepat di koridor sekolah barunya yang lumayan besar. Dia tahu betul di koridor sekolah tidak boleh berlari –tapi dia berjalan kan?

Ya tuhan, jika aku benar mungkin saja itu Chan–

Brukk!

"Eish–"

"Maaf," suara berat seorang laki-laki mengisi pendengaran Jisook. "Aku baru disini dan aku terburu-buru." Pengelihatan Jisook terpaku pada juluran tangan besar putih yang terlihat gentleman. Jisook meraihnya dan berdiri lalu membersihkan roknya dari debu.

"Kau punya mata tidak sih!" Jisook menatap marah pada laki-laki tinggi di depannya. Ya tuhan, tampannya.

"Maaf, aku sedang terburu-buru. Kau tak apa?" laki-laki dengan rambut keemasan itu menampilkan wajah khawatir kalau-kalau gadis yang ditabraknya ini bisa terkena geger otak. Ya tuhan kemana pikiran laki-laki tampan ini? Tak mungkin geger otak kalau yang terbentur lantai adalah bokongnya.

"Tak apa," balas Jisook ringan. "Kau anak baru? Sepertinya kau bukan orang Korea." Jisook meneliti wajah laki-laki tampan yang ada di depannya dengan tatapan ingin tahu. Tak pernah ada laki-laki Korea setampan orang ini.

"Aku memang bukan asli Korea," laki-laki itu mulai menjelaskan. "Aku asli Cina bercampur Kanada dan Korea. Aku lama tinggal di Kanada sebelum ini dan –oh kenapa aku jadi banyak bicara begini." Lanjut laki-laki itu sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Hahaha–" Jisook tertawa kecil melihat tingkah lucu laki-laki di depannya. "Kau sungguh lucu tuan–"

"Yi Fan," laki-laki itu menjulurkan tangannya lagi mengajak Jisook berjabat tangan. "Namaku Wu Yi Fan, dan kau?"

Jisook menjabat tangan yang suhunya lebih rendah itu. "Jisook. Ahn Jisook." Ucapnya sambil tersenyum manis.

Yi Fan menarik tangannya. "Nah nona Ahn, sekarang aku harus buru-buru. Dah." Yi Fan segera berlari melewati Jisook tapi tak lupa memberikan lambaian selamat tinggal untuk Jisook.

Jisook menatapi tubuh atletis Yi Fan dan surainya yang keemasan sampai sosoknya menghilang di belokan koridor panjang itu. Niatnya kembali ke kelas lenyap karena sosok yang baru ditemuinya. Serta rasa penasarannya pada laki-laki jangkung bersambut coklat ikal yang tadi dilihatnya –karena Wu Yi Fan.

Karena laki-laki yang baru saja ditemuinya.

Park Chanyeol mendribel bola berwarna oranye yang kini dipegangnya dan berusaha membawa ke ring lawan di ujung lapangan. Berkat tubuhnya yang tinggi menjulang dia dengan mudah melakukan slam dunk yang biasanya hanya bisa dilihat di anime ataupun film kartun.

Teriakan-teriakan siswi yang tanpa sadar bergerumul menyaksikan seorang giant tampan yang sedangan bermain basket dengan keringat membasahi wajah, leher dan lengannya –yang tercetak otot hasil kerja kerasnya push-up selama ini.

Chanyeol tetap fokus pada permainannya mencetak gol ke ring lawan sebanyak mungkin agar timnya bisa menang karena mempertaruhkan sejumlah uang.

Three point! Chanyeol melemparkan bola basket tersebut dari luar garis three point. Tapi sepertinya tembakannya terlalu kencang sehingga bola tersebut mengarah ke gadis yang sedang membawa buku dan mendengarkan musik dengan headphone putihnya.

Dukk!

"Aw–"

"Ya tuhan, kau tak apa?"

Kenapa nasibku buruk sekali sih hari ini!

"Tak apa," Jisook yang lagi-lagi sial menatap siapa yang membuatnya jatuh terduduk seperti ini. "C-Chanyeol?!"

Chanyeol hanya bisa menaikkan sebelah alisnya. Keinginannya untuk menolong Jisook hilang sesaat setelah Jisook memanggil namanya. Darimana gadis ini tau namaku?

Jisook segera bangun lalu memeluk Chanyeol dengan erat. Kristal bening hasil pemendaman rasa rindunya selama ini keluar begitu saja tanpa seijin gadis cantik itu. "Chanyeol-ah. Aku sangat merindukanmu."

Tatapan kaget serta bisik-bisik terlihat dan terdengar oleh indra Chanyeol. Siapa gadis gila ini berani memelukku di depan umum. Kalau terlihat Hyerin aku bisa mati. Dan pilihan terakhirnya adalah mendorong bahu Jisook untuk segera melepas pelukannya. Wajah 'berantakan' Jisook yang basah dengan air mata langsung terlihat oleh indra pengelihatan Chanyeol. Astaga! Aku membuat anak orang menangis!

"Jogiyo. Apa aku mengenalmu?"

Jderr! Petir yang entah datang darimana serasa menyambar hatinya. Bagaimana mungkin Chanyeol teman masa kecilnya dan juga orang yang 'dicintainya' tak mengenalinya? Atau mungkin memang Jisook yang salah mengenali orang? Tak mungkin.

Bisik-bisik para siswi pun makin terdengar sehingga tidak bisa disebut bisik-bisik lagi. Tatapan tak suka dilayangkan oleh para siswi tersebut secara cuma-cuma untuk Jisook. Siapa sih yang tak suka idola sekolah dipeluk oleh gadis yang menurut mereka biasa?

"K-kau tak mengenalku?" Jisook mencoba menggali ingatan Chanyeol ke beberapa tahun lalu. "A-aku Ahn Jisook, teman masa kecilmu."

Chanyeol mengerenyitkan dahinya. Ahn Jisook? Sepertinya pernah–

"Chanyeol-ah. Apa yang terjadi?"

Chanyeol berbalik menatap horror pada gadis dibelakangnya. Mati aku.

"Siapa gadis itu?" tanya gadis yang ditatap Chanyeol.

"B-bukan siapa-siapa Jagi," Chanyeol berlari kecil ke arah jagi-nya. "Aku juga tak mengenalnya, ayo pergi." Lanjut Chanyeol lalu menggenggam tangan Hyerin meninggalkan lapangan yang sudah seperti teater opera.

Jisook yang shock hanya bisa terpaku ditempat. Tak mungkin, tak mungkin, tak mungkin... dia tetap mengulang kata-kata itu dihatinya. Kristal bening yang tadi sempat terhenti kembali jatuh dan membuat pola titik pada tanah dibawahnya.

"Gadis menyedihkan,"

"Memalukan,"

"Kalau aku jadi dia aku akan pindah sekolah,"

Kalimat-kalimat tersebut dapat terdengar di indra pendengaran Jisook. Ya tuhan sampai kapan kau mau menyiksaku? Yi Fan, Wu Yi Fan tolong aku...

"Jisook," panggil pelan seorang laki-laki sambil merangkul Jisook membawanya ke bangku panjang di bawah pohon dekat situ. "Jisook, kau tak apa?"

"Tidak," Jisook kembali menangis. "Aku berbohong bila aku mengatakan aku tak apa-apa." Jisook tak bisa menutupi kesedihannya dan memilih menumpahkannya di dada bidang laki-laki yang suhunya berbeda ini.

Ini Yi Fan.

"Tak apa Jisook," Yi Fan menyisir lembut rambut Jisook berusaha menenangkannya. "Menangislah jangan ditahan. Itu akan membuatmu lebih lega."

"Gomawo ne, Yi Fan." Jisook kembali terisak tanpa suara.

Dan Yi Fan kembali menyisir lembut rambut Jisook pelan.

Sangat pelan dan lembut hingga Jisook tertidur.

"Chanyeol-ah."

"Ada apa Hyerin?" Chanyeol menanggapi Hyerin dengan singkat karena dia harus fokus menyetir mobil yang baru abeojinya belikan kemarin.

"Gadis tadi itu siapa?" Hyerin bertanya tanpa basa-basi sambil memasang tampang sedih.

Chanyeol sedikit kehilangan keseimbangannya memegang stir kemudi tapi dengan cepat kembali memegangnya seperti semula seolah dia tak pernah kehilangan fokusnya. "G-gadis?"

"Iya," Hyerin memainkan ujung kemeja putihnya. "Gadis yang tadi memelukmu di lapangan."

Chanyeol meminggirkan mobilnya lalu berhenti. Menatap Hyerin dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sudah kubilang bukan? Aku tak mengenal gadis itu."

"Tapi tak mungkin dia tiba-tiba memelukmu!" bentak Hyerin dengan cepat.

"Dia teman masa kecilku dan kami pernah saling mencintai! Kau puas?!" tanpa sadar Chanyeol meninggikan suaranya. "Itukah yang ingin kau dengar?!"

Hyerin hanya bisa terisak tanpa memperdulikan pernyataan Chanyeol yang barusan itu benar atau salah. Yang ia yakin, Chanyeol tak akan pernah berbohong –yah seperti katanya walaupun dia bodoh. "Hentikan Chanyeol, aku percaya padamu." Hyerin akhirnya membuka suara. "Aku percaya kau dan gadis itu tak ada hubungan apapun."

Jangan terlalu percaya padaku, Hyerin. "Jangan pernah mencurigaiku lagi Oh Hyerin," Chanyeol membelai pipi chubby kekasihnya. "Kau yang paling tahu tentang aku, dan kau tahu aku tak suka dicurigai." Lanjutnya lalu mengecup bibir Hyerin singkat.

"Maaf," Hyerin menundukkan kepalanya. "Aku akan selalu percaya padamu, Chanyeol." Hyerin merekahkan senyumnya yang paling manis yang ia punya. Hanya untuk Chanyeol.

Hanya untuk laki-laki yang dicintainya.

"Good girl." Puji Chanyeol sambil mengacak rambut Hyerin.

"Good girl always loves bad boy, if you want to know." Balas Hyerin.

"I'm not a bad boy."

"So, I'm the bad girl." Ucap Hyerin sebelum ia menyatukan bibir mereka.

Bibir merah Hyerin dengan bibir seksi Chanyeol yang sangat disukainya.

~Kriing kriing~

Wu Yi Fan mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dari orang yang selama ini dihindarinya.

Orang yang paling tak ingin dia temui.

"Ne, abeoji."

'Kris! Kemana saja kau? Apa kau tersesat? Ini sudah lewat jam pulang sekolah.'

"Jangan khawatir abeoji," Yi Fan –atau Kris melihat sebentar arloji yang melingkar di lengan kanannya. "Aku hapal jalan dengan sekali melewatinya."

'Geurae? Syukurlah kalau begitu. Aku ada urusan di restoran sampai malam. Jika ingin makan, panaskan saja yang ada di lemari pendingin.'

"Baiklah," Kris sedikit mengecilkan suaranya begitu merasakan seseorang yang menaruh beban di pundak kirinya sedikit menggeliat. "Aku tutup ne." Kris menutup telponnya lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.

"Sunset sangat indah. Bukan begitu, Jisook?" ucap Kris pada Jisook dan Jisook pun terkesiap langsung mengangkat kepalanya dari pundak Kris. Yah laki-laki itu sudah tau kalau Jisook sudah bangun dari beberapa menit yang lalu.

"M-mian. Aku–"

"Apa pundakku begitu enak untuk tidur?" Kris menoleh ke arah Jisook yang menundukkan kepalanya menutupi rona merah yang kini menyerbu pipi putihnya. "Tak apa jika kau ingin tidur lagi."

"B-bukan begitu maksudku," Jisook mengangkat wajahnya lalu menatap wajah sempurna laki-laki bersurai keemasan dihadapannya. "A-apakah sakit? Kau jadi penopangku sudah terlalu lama –mungkin." Lengan putih Jisook terdorong untuk memijit bahu kiri Kris, berharap rasa pegal yang dirasakan laki-laki itu berkurang.

"Tak apa Jisook," Kris mengacak rambut coklat terang Jisook dan membuatnya jadi sedikit berantakan lalu merapikannya kembali. "Aku bahkan mampu menopangmu setiap saat."

Jisook yang tak biasa digombali seperti itu hanya bisa memerahkan wajahnya. Dan pewarna merah alami itu membuat pipi putihnya semakin manis –apalagi ditambah dengan pancaran sinar matahari yang sudah mau beristirahat di singgasananya. "G-gomawo." Ucap Jisook pelan.

Dan pada saat sunset itulah perlahan-lahan pikiran Jisook menjadi tenang. Perlahan tapi pasti Kris telah menduduki singgasana tertinggi di pikiran Jisook. Tapi bukan berarti dia bisa menggatikan posisi Chanyeol di hati Jisook.

Kris Wu di pikirannya.

Park Chanyeol di hatinya.

Entah yang mana lebih mendominasi.

Tapi yang jelas sekarang, Jisook akan menjauhi orang yang sudah melupakannya. Dia tak ingin dibayangi mimpi-mimpi yang menurutnya memuakkan. Semua perasaan rindu dan cintanya yang dipendam selama ini untuk Chanyeol telah sirna berganti dengan kemarahan yang amat sangat. Dengan hanya dua kata –satu kalimat.

Siapa kau?

Jisook tak ingin bermimpi lagi. Berharap Chanyeol akan mengingatnya dan bersujud memohon meminta ampunan gadis itu. Tak akan. Tak akan pernah.

TBC

Yaaaak! Chapter 1 selesai. Gimana? Membosankan? Haruskah di delete atau di continue?

RnR! =D