Copyright © 2017 by Happyeolyoo

All rights reserved

.

.

Chance(s)

Genre : Romance, Drama

Rate : T+

Pairing : HunHan as Maincast.

Chapter : 1/5

Warning : Genderswitch. Miss typo(s).

Disclaimers : The cast is belonged to God, their parents, and their company. All text here is mine. Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari cerita ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin dari penulis.

Summary : Ciuman pertama Luhan dicuri oleh si pemuda berferomon tinggi saat dirinya tengah bekerja! Pintu takdir mereka terbuka, mengikat keduanya dalam sebuah hubungan yang dikendalikan sepenuhnya oleh Sehun. Hubungan mereka memang indah, tapi perbedaan pendapat terkadang menjadi batu sandungan.

BGM : Really Hate U by IU

Luhan dilahirkan sebagai seorang gadis remaja yang menyukai romansa. Dia tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta; dari kedua orangtuanya, kakaknya, dan juga teman-temannya. Sebagai seorang remaja, pikirannya dipenuhi oleh imajinasi dan banyak rasa ingin tahu.

Selama tiga tahun belakangan, Luhan pamit kepada keluarganya untuk melanjutkan studi di negara tetangga, Korea Selatan. Dia menemukan kondisi baru untuk hidup, yang mana itu membuatnya nyaman sebab teman-temannya bisa diandalkan. Kehidupan masa kuliahnya sudah nyaris sempurna, namun sayangnya dia belum diberi kesempatan untuk mencicipi dunia percintaan.

Mungkin bukan sekarang.

Luhan tahu itu. Dia cuman berharap jika kisah romansa miliknya masih disimpan oleh Tuhan. Ketika saat yang tepat sudah datang, dia akan dipertemukan dengan kisah romansanya sendiri.

.

"Kali ini, bukan pernikahan orang biasa. Ini pernikahan salah satu putri chaebol di Korea."

Siang itu, Luhan dan salah seorang teman baiknya, Byun Baekhyun, sedang membicarakan sesuatu mengenai pesta pernikahan. Pesta pernikahan itu akan dihandle oleh perusahaan wedding organizer milik kerabat Baekhyun. Dengan sedikit rayuan dan nada penuh harap, Baekhyun mendapatkan kesempatan untuk hadir di sana.

Bukan karena Baekhyun benar-benar ingin hadir sebagai tamu, itu semua karena Luhan. Baekhyun lahir dari keluarga yang cukup berada. Dia bisa mendapatkan apa pun yang dia mau, tapi untuk kali ini dia ingin membantu sahabatnya. Luhan mendapatkan masalah keuangan setelah dipecat dari pekerjaan paruh waktunya.

Luhan membutuhkan bantuan sehingga Baekhyun menawarinya untuk jadi seorang pelayan di acara pernikahan.

"Gajinya bisa sangat besar!" Baekhyun menduga-duga lagi, tidak pernah kelihatan sangat senang seperti ini. "Aku bisa dapat uang tambahan untuk beli beberapa kosmetik wine yang banyak dibicarakan orang."

Mereka berdua tidak bisa berhenti membicarakan pernikahan itu. Apalagi setelah Baekhyun memberi kabar jika para artis papan atas juga diundang. Baekhyun mau pun Luhan nyaris tidak bisa tidur dengan nyenyak menanti hari esok. Mereka berdua mengantisipasi kehadiran para laki-laki tampan yang sering muncul di televisi.

Ballroom besar yang sudah disewa pun didekor sedemikian rupa. Dinding-dindingnya ditempeli oleh beribu-ribu bunga mawar berwarna ungu muda. Balon yang diisi nitrogen dibiarkan bergerombol memenuhi langit-langit, sedangkan lantainya ditaburi kelopak bunga mawar berwarna merah. Meja-meja bundar yang berada di kanan-kiri panggung dilapisi kain linen, di atasnya terdapat serangkai bunga cantik yang ditaruh di vas.

Ini adalah pernikahan agung yang membuat Luhan takjub.

"Sesuai prediksi. Tamu-tamu itu kelihatan hebat!" Baekhyun berbisik saat dia baru bertemu dengan Luhan di dapur. Baik Luhan dan Baekhyun punya tugas untuk membawa makanan baru ke ballroom. "Aku pernah bertemu Jaejoong di sebuah acara perusahaan papaku. Tapi kalau dilihat dari dekat, dia kelihatan seperti boneka hidup. Dia bahkan punya proporsi wajah yang sempurna."

"Heol," Luhan cemberut ketika dia menata ulang piring-piring di atas troli. "Aku belum bertemu siapa pun. Mereka menyuruhku tanpa henti."

"Kau tidak boleh memulai kontak mata dengan siapa pun. Itu adalah cara terbaik untuk menghindari perintah."

"Wow. Benarkah?"

"Aku sudah membuktikannya," Baekhyun tersenyum lebar-lebar. "Kita harus berpisah. Manager yang cerewet itu sudah datang!" katanya, hendak segera pergi namun dia kembali memandangi sahabatnya. "Lu, jangan sampai tergoda oleh bajingan-bajingan yang datang ke acara ini. Kau hanya boleh tergoda oleh idol-idol itu, oke?"

Para bajingan yang dimaksud Baekhyun barusan adalah para petinggi-petinggi perusahaan yang hadir di acara ini—baik yang tua mau pun muda. Seakan tidak mengenal umur, mereka yang bergelimang harta pun tak segan untuk merayu wanita muda dengan uang. Baekhyun tidak pernah ingin sahabatnya menjadi salah satu korban dari bajingan-bajingan itu.

"Apa kau tidak punya anggur putih?"

Konsentrasi Luhan saat tengah menuang anggur ke sebuah gelas kosong milik seorang tamu, hancur ketika suara serak menembus gendang telinga. Seorang laki-laki berambut gelap, bermata tajam, berkulit putih, dan kelihatan seperti dewa memandanginya. Dia adalah satu-satunya orang yang bertanya tentang anggur putih pada Luhan.

"A-ada," bibir Luhan tergigit kala menyadari dirinya mulai tergagap karena gugup. "Ada, Tuan."

"Tolong bawakan untukku."

Luhan meluncur ke dapur sembari bertanya-tanya dalam benak. Apakah pesona laki-laki muda itu memang benar-benar nyata? Ketampanan dan karismanya setara dengan para idol yang hadir, begitu pula suara seraknya yang kedengaran seksi. Sekali lagi dipikirkan, Luhan makin dibuat penasaran.

Oh. Luhan yang naif pun akhirnya memutuskan untuk mengintip sosok mempesona itu dari balik dapur. Dia memang menarik. Kehidupan yang baik membuatnya tumbuh jadi lelaki yang sempurna. Bibirnya tergigit begitu batinnya kembali berbisik.

Ah, dia memang kelihatan sangat tampan.

Tampan dan tidak terduga. Luhan kembali terkejut ketika secara tiba-tiba laki-laki itu malah menjatuhkan pandangan padanya. Apakah dia baru saja ketahuan?

"Astaga. Aku bisa gila," gumaman itu sampai di ujung lidah kala Luhan menyadari jika dirinya pun tengah diperhatikan oleh si manager. Dengan amat berat hati, Luhan keluar dari dapur dan menghampiri si laki-laki berferomon tinggi.

"Anggur putih sesuai permintaan Anda, Pak," anggur putih yang memenuhi botol hijau di genggaman Luhan segera dituang ke gelas.

Luhan sudah cukup dibuat gila hanya karena menghirup harum parfumnya yang memabukkan. Dia berharap agar laki-laki itu tidak menembaki wajahnya dengan tatapan penuh selidik. Firasat buruk pun membumbung memenuhi kepala.

"Apakah kau mengintipku dari dapur?"

Botol anggur itu buru-buru ditarik dan digenggam erat-erat oleh Luhan. Keterkejutan itu datang terlalu cepat, membuatnya nyaris menumpahkan anggur sialan ini ke pakaian yang harganya tidak bisa dibayangkan olehnya.

Rona merah yang merambat pada bibir pun makin membuatnya gelagapan.

"Ti-tidak."

"Kupikir, kau tidak boleh berbohong kepada tamu ketika sedang bekerja," nada suara laki-laki itu menunjukkan rasa tersinggung. "Siapa namamu?"

Kerutan dalam muncul di dahi Luhan dan rasa takut itu membumbung dalam benak. Gajinya mungkin akan dipotong sekitar 40% jika dia diadukan oleh tamu karena sikapnya yang kurang ajar.

"Tidak mau menjawab?"

"Luhan," tatapan Luhan dan laki-laki itu bertemu. Rasa terkejut sekaligus takut itu memaksa Luhan untuk menghanyutkan diri dalam tatapan laki-laki itu. "Luhan."

Entah mengapa, laki-laki itu malah kelihatan setengah puas. "Aku akan mengingatnya. Luhan, 'kan?"

"Ya."

Luhan mengalihkan perhatian dan hendak pergi menawarkan anggur putih ke tamu yang lain. Laki-laki itu sudah mendapatkan anggur putihnya, jadi, pikirnya dia harus segera pergi sebelum benar-benar tenggelam dalam pesonanya.

"Hei, Luhan."

Wow. Otot Luhan ternyata bisa dikendalikan oleh suara seksi yang memanggil namanya. Secara spontan, Luhan menoleh—dan lagi-lagi terpesona.

Laki-laki itu mengangkat kedua sudut bibirnya, melempar senyuman menarik. "Kau itu sangat cantik."

Seperti baru merasakan efek dari sebuah bom nuklir yang meledak tepat di dadanya, Luhan sempat menjadi ling-lung. Luhan tidak pernah menyangka jika pujian itu akan terlempar dari mulut seorang laki-laki setampan dewa. Wajahnya sudah kelihatan seperti ceri tomat yang lezat.

"Te-terimakasih," kata Luhan, mencoba bersikap setenang dan sesopan mungkin. "Apakah Anda memerlukan yang lain?"

Senyuman yang lebih lebar dan ramah terlukis pada bibir. "Sayangnya tidak," ujarnya ramah. "Tapi aku berharap kau bisa menemaniku ngobrol."

Luhan jadi semakin salah tingkah. "Kalau tidak ada lagi yang Anda butuhkan, saya akan pergi."

"Kita akan bicara lagi. Nanti."

Luhan meninggalkan laki-laki bermulut manis itu dengan senyuman malu-malu. Para tamu yang sedang menikmati kudapan meminta ini-itu, mendorong Luhan untuk pergi mengelilingi ruangan. Saat dia hendak pergi ke dapur mengambil kudapan yang lain, tangannya tiba-tiba ditarik.

"Aku butuh salmon."

Kelopak mata Luhan membulat—karena dia mendengar tamu itu meminta salmon, dan karena laki-laki bermulut manis itulah tamunya. Menyadari jika dia bisa ketahuan oleh kepala pelayan, Luhan segera menarik lengannya.

"Sa-saya pikir, salmon tidak ada di dalam menu, Pak."

"Ya. Aku tahu. Tapi aku ingin makan salmon."

Apakah dia sudah gila? Luhan menggigit bibir, kebingungan setengah mati. "A-akan coba saya tanyakan pada—"

"Tidak perlu," interupsinya. Sebelah tangannya merogoh saku kemejanya dan menyodorkan ponselnya pada Luhan. "Beri aku nomormu."

"Maaf?"

"Berikan aku nomor teleponmu."

"Untuk apa, Pak?"

"Cepat tulis saja nomormu. Kau tidak punya banyak waktu."

Waktu yang dimiliki Luhan memang tidak begitu banyak. Dia bisa saja dituduh merayu salah seorang tamu kalau si kepala pelayan memergokinya. Sedangkan kalau dia menolak, laki-laki ini pasti tidak akan menyerah dengan mudah. Secara aneh, Luhan bisa merasakan desakan yang dirasakan oleh pemuda itu pada detik ini.

"Cepat."

Bisikan pemuda itu menghipnotis Luhan, menggiringnya untuk segera memencet beberapa angka pada layar ponsel tersebut dan menggembalikannya pada si pemilik. Pemuda itu tersenyum puas, menyimpan nomor Luhan pada kontaknya.

"Namaku Oh Sehun. Aku akan menghubungimu saat aku sudah menemukan restoran salmon yang tepat," sebelah tangannya secara kurang ajar mendarat pada sisi pipi Luhan dan memberi tepuk lembut memabukkan. "Sampai jumpa lagi, Cantik."

Kejutan itu tidak berakhir sampai di situ. Sebuah kecupan singkat di bibir Luhan menjadi akhir dari pertemuan mereka. Kasus pencurian ciuman pertama itu melunakkan tulang-tulang Luhan. Semua alat geraknya kaku, sehingga yang bisa dilakukannya cuman mengerjap-ngerjap memandangi kepergian Oh Sehun.

Apakah apa yang terjadi di malam hari ini akan jadi awal mula kisah romansa milik Luhan?

Luhan berharap jawabannya adalah iya.

oOo

"Baekhyun, ayo kita pergi ke klub dan minum sampai pagi. Malam ini, aku yang akan traktir!"

Kala gadis semurni dan sepolos Luhan punya keinginan untuk pergi ke klub malam, maka sudah pasti dia sedang menyimpan masalahnya. Baekhyun yang sudah hidup selama tiga tahun terakhir bersama Luhan, bisa mengetahui hal itu dengan mudah. Ajakan Luhan terdengar aneh, tapi dia harus menurutinya.

Saat mereka berdua belum sepenuhnya dikendalikan oleh alkohol, Baekhyun mulai mempertanyakan apa yang sekiranya mengganggu pikiran Luhan.

"Apakah ada sesuatu yang terjadi?"

Luhan menoleh dari gelas birnya, menatap wajah sahabatnya dengan tatapan sayu. "Tidak."

"Ayolah. Kau bisa cerita apa saja. Bahkan aku memberitahumu tentang seks pertamaku secara detail."

Luhan terdiam sebentar sebelum mengucap sesuatu. "Bukan masalah serius."

"Tapi aku ingin tahu."

Luhan menghela napas panjang. Kalau dipikirkan sekali lagi, mungkin berat di dadanya bisa segera hilang jika dia membagi masalah konyol ini dengan sahabatnya. Sebelum dia mengawalinya, terlebih dahulu dia menenggak bir dalam gelasnya.

"Kau ingat saat kita jadi pekerja paruh waktu di acara pernikahan?"

Baekhyun cuman mengangguk-angguk. "Hm. Kenapa?"

"Seseorang mencoba menggodaku," ujarnya. Tatapan matanya menyiratkan akan kenangan yang menyakitkan. "Aku tidak begitu memerdulikannya, tapi dia terlalu mempesona. Kau tahu, dia bahkan melakukan hal yang tidak terduga padaku."

"Apa? Apa yang dia lakukan padamu?"

"Awalnya, dia minta anggur putih, lalu salmon, lalu nomor teleponku," sebelah alis Luhan pun naik kala dia mendapati gurat terkejut di wajah Baekhyun. "Yang paling gila, dia mencuri ciuman pertamaku."

"Fuck." Baekhyun tiba-tiba mengumpat. Kemarahan meletup dalam benak dan dilampiaskan pada birnya. "Itu namanya pelecehan seksual. Heol. Kenapa kau tidak menceritakannya padaku? Kita bisa melaporkan orang itu!"

"Menurutmu begitu?"

"Siapa? Siapa si bajingan gila itu? Aku pasti akan menemukan dan membawanya ke polisi!"

"Kupikir, dia bukan orang yang bisa dibawa dengan mudah ke kantor polisi," Luhan makin kelihatan murung.

"Apa maksudmu?"

"Dia itu salah seorang tamu di acara pernikahan itu."

"Fuck. Bangsat. Dia pasti bedebah kaya raya yang suka main-main dengan perempuan muda. Yaampun, aku tidak bisa percaya kalau hal semenyedihkan itu terjadi padamu, Lu."

"Aku pun begitu," Luhan kembali meneguk birnya. "Sudahlah. Kau bisa melupakannya karena aku pun akan melupakannya, karena dia pun sudah melupakanku."

Baekhyun kelihatan tidak begitu setuju dengan apa yang baru dikatakan Luhan barusan. Namun, demi kebaikan hati sahabatnya, Baekhyun pun akhirnya mengalah. Dia kembali menuang bir ke gelas dan meneguknya cepat.

"Baiklah. Mari lupakan bajingan gila itu. Lebih baik kita bersenang-senang!" Baekhyun memesan lebih banyak bir. "Apakah aku boleh memanggil Chanyeol dan Kris kemari?"

"Tentu."

.

Luhan mendapatkan pukulan pada sisi kepala saat tubuhnya berputar ke samping. Kehangatan yang lebih nyata kembali membuatnya lupa akan rasa nyeri di kepala. Beberapa saat terdiam dan mencoba kembali tidur, tiba-tiba rasa nyeri itu kembali datang. Dengan amat terpaksa, kelopak matanya terbuka.

Sinar matahari yang menyilaukan menembus kornea mata. Dekorasi asing yang didapatinya seperti memberi tamparan keras. Kamar yang ditempatinya didominasi warna silver dengan beberapa perabotan elegan. Luhan tahu jika ini bukanlah motel biasa.

Ingatan-ingatan tentang malam kemarin kembali coba direka. Dia ada di bar, bersama Baekhyun, Chanyeol, dan Kris. Oh. Kris. Barangkali, Kris yang membawanya kemari saat dirinya terlalu mabuk. Luhan juga ingat kalau mereka juga sempat berciuman di suatu sudut klub.

Yaampun. Alkohol benar-benar sudah membuatnya gila. Apakah kemarin malam dia sempat melakukan hal-hal panas dengan laki-laki itu?

Sebelum Luhan mendapatkan konklusi yang tepat, gendang telinganya mendengar suara percikan air shower dari arah sebuah pintu.

"Kris? Kau ada di dalam?"

Langkah kaki Luhan semakin melambat kala dia hendak mencapai pintu kamar mandi. Bagaimana pun, dia masih merasa gelisah karena ciuman mereka. Pernyataan cinta Kris pernah ditolak olehnya, lalu kenapa pula kemarin malam mereka berciuman?

"Kris, kalau kau sudah selesai mandi, tolong cepatlah keluar. Aku ingin bertanya tentang ..."

Pintu disentak terbuka sehingga Luhan buru-buru mengatupkan bibir. Seseorang muncul dari sela pintu dan menyebarkan bau mint menyegarkan. Wajahnya kelihatan murung, sepertinya dia merasa terganggu akibat ketukan pintu itu. Dia mengambil langkah mendekati Luhan, tapi Luhan malah mundur menjauh.

"Sayangnya, aku bukan Kris."

Suara laki-laki itu terdengar rendah dan penuh penekanan. Sebelah tangannya menyugar rambutnya yang masih basah dan meneteskan banyak air, lantas dia mendesis. Asal tahu saja, baju handuk berwarna abu-abu tua yang tersingkap di bagian dada nyaris memporak porandakan akal sehat Luhan. Apalagi saat senyuman manis dan berbahaya itu terlukis pada bibir tipisnya.

Luhan seketika dilanda dejavu.

"Halo, Cantik. Menikmati waktu tidurmu di sini?"

TBC

Slice of life, guys ..

Happy Eid Mubarak!