Gumi ingin hari ulang tahunnya yang ke-17 menjadi hari yang spesial dan berkesan.
ooo
Present to Gumi
Part 1
A Vocaloid Fanfiction
Desclaimer : Vocaloid bukan milik saya
Rated : T
Genre : Friendship
Characters : Gumi dan teman segenknya (Len, Rin, Miku, Luka, Gakupo, Kaito, Meiko, Lily, IA, Mayu).
Warning : bahasa non baku, typo(s), sedikit hint LenGumi dan KaiMiku.
Special fic for Gumi's birthday
*Happy Reading!*
ooo
Hari sudah larut. Gumi merebahkan dirinya di atas kasur. Ia baru saja menyelesaikan pr dan ingin segera pergi tidur. Tubuhnya sudah sangat lelah dan matanya juga mengantuk.
Saat ingin mematikan lampu kamar, Gumi tak sengaja melihat kalendar yang digantung di dinding. Ia menatap lingkaran merah besar yang di buatnya di tanggal besok. Besok tanggal 26 Juni. Hari yang spesial untuknya.
Kalau saja Gumi tidak melihat kalendar, ia pasti lupa kalau besok adalah hari ulang tahunnya. Tepatnya, besok ulang tahunnya yang ke-17. Banyak orang bilang, ulang tahun ke-17 adalah ulang tahun yang spesial dan harus dirayakan. Gumi ingin merayakan hari ulang tahunnya yang spesial ini bersama sahabat dan keluarganya.
Entah kemana rasa kantuk yang sejak tadi mengganggunya. Gumi sudah tidak mengantuk lagi. Setelah mengambil buku diary yang disimpannya di laci meja, ia melompat ke atas kasur. Gumi akan menulis list apa saja yang akan dibutuhkannya di pesta ulang tahunnya besok malam. Mungkin akan repot jika Gumi harus menyiapkannya sendirian. Tapi, mau bagaimana lagi. Toh, Gumi memang tinggal sendirian di apartemen kecilnya ini. Kedua orang tuanya tinggal di Hokkaido. Kakaknya, Gumiya, tinggal di Kyoto. Hanya Gumi yang tinggal di Tokyo. Gumi juga tidak mau membuat teman-temannya repot saat membantunya menyiapkan pesta. Gumi ingin menyiapkan semuanya sendirian.
Gumi mulai membuat list. Ia membutuhkan balon, pita untuk hiasan ruangan, lilin, dan juga kue ulang tahun. Gumi ingin kue ultah rasa wortel, tapi ia tidak yakin teman-temannya yang diundangnya akan suka rasa itu. Mungkin, Gumi harus mengganti kue ultahnya dengan rasa yang lain.
Setelah semua yang dibutukannya sudah dicatat di dalam diary-nya, Gumi menyimpan diary tersebut di laci meja dan segera tidur. Ia tidak sabar menanti hari esok.
ooo
Keesokkan harinya…
"Selamat pagi, Mas Gaku," sapa Gumi pada seorang pemuda berambut ungu panjang. Namanya Kamui Gakupo, tetangganya yang tinggal di apartemen yang sama dengan Gumi, hanya beda lantai. Gumi tinggal di lantai 3, sedangkan Gakupo di lantain 2. Gakupo juga masih SMA seperti Gumi, bedanya dia setingkat lebih tua dari Gumi.
"Oh, pagi Gumi," Gakupo menyapa balik.
"Kira-kira, Mas Gaku inget gak ya kalau hari ini ulang tahunku?" batin Gumi. Saat ulang tahunnya yang ke-16, Gakupo adalah orang keempat yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya setelah kedua orang tua Gumi dan Kak Gumiya. Tapi, sejak tadi Gakupo hanya diam saja seakan-akan ia tidak tau kalau hari ini adalah hari ultah Gumi.
Gumi berinisiatif untuk mengkode Gakupo.
"Mas, tau gak ini hari apa?" tanya Gumi.
Gakupo memandang Gumi heran. "Hari Senin. Kenapa emang?"
"Iya, aku tau ini hari Senin. Tapi, Mas ingat gak ini hari spesial apa?"
"Hari spesial apa memangnya?" Gakupo mencoba mengingat-ingat ini hari spesial apa. Tiba-tiba, Gakupo menepuk dahinya, gestur bahwa ia teringat sesuatu. Gumi langsung memasang wajah berbinar penuh harap.
"Oh ya, aku lupa. Hari ini aku jadi petugas upacara. Gak boleh telat. Nanti aku bisa kena hukuman. Aku duluan ya Gum. Bye~"
Setelah itu, Gakupo kabur dari Gumi.
Gumi mulai bete. Ia kesal karena Mas Gaku-nya ternyata tidak ingat ini hari ultahnya.
ooo
Gumi berangkat sekolah dengan wajah lesuh. Biasanya, ia berangkat bersama Gakupo. Tapi, Gakupo malah kabur duluan dengan alasan ia ditunjuk sebagai petugas upacara. Memang sih, hari Senin ini giliran kelas Gakupo yang ditugaskan menjadi petugas upacara. Tapi gak usah ninggalin Gumi juga kali, dia jadi makin tambah bete deh.
KRING! KRING!
Suara bel sepeda membuyarkan lamunan Gumi. Dua orang bocah pirang seumuran Gumi—namun lebih pendek dari Gumi—menghampirinya dengan sepeda mereka. Kedua bocah itu bernama Kagamine Rin dan Len, si kembar teman sekelas Gumi.
"Hai, Gumi. Met pagi," sapa Len.
"Gum, kamu kenapa? Kok mukanya lesuh gitu?" tanya Rin.
"Gak papa kok. Cuma lagi bete aja," jawab Gumi.
"Mas Gaku mana? Biasanya kamu berangkat bareng dia," tanya Len.
"Mas Gaku udah berangkat duluan. Katanya dia mau jadi petugas upacara, jadi gak mau telat deh. Padahal ini masih pagi banget."
"Ya udah, kamu berangkat bareng kami aja yuk," ajak Rin. Gumi mengangguk. Ia naik sepeda dibonceng Rin.
Selama perjalanan menuju sekolah, Gumi hanya diam. Ia penasaran, apa kedua teman pirangnya ini juga lupa sama hari ultahnya. Padahal dulu, mereka yang paling heboh menyambut Gumi di kelas saat ultah Gumi yang ke-16.
Gumi pun mencoba mengkode mereka. Semoga saja mereka ingat, tidak seperti Gakupo.
"Rin, Len, kalian ingat gak ini hari apa?" tanya Gumi.
"Ingat kok. Hari Senin kan?" jawab Rin.
"Tanggal berapa?"
"26 Juni. Kenapa memang?" tanya Len.
"Itu artinya ini hari?"
"Hari Senin, Gum. Aduh, kamu ini ya. Tadi kan aku udah jawab. Masa' nanya lagi sih," jawab Rin bete.
Gumi mengerti. Intinya, kedua sahabat kembarnya itu tidak mengingat hari ulang tahunnya.
ooo
"Eh, Gumi. Kok kamu datangnya agak siang ya? Tumben banget," ujar Hatsune Miku, teman sekelas Gumi, ketika Gumi sampai di kelas. Gumi yang sedang bete hanya diam tidak menyahuti Miku.
"Gumi, kamu kenapa? Kok cemberut gitu?" tanya Miku.
"Aku lagi kesel," jawab Gumi ketus.
"Kesel kenapa?" pertanyaan ini bukan dari Miku, melainkan dari Megurine Luka, teman sekelas Gumi juga.
"Bete aja. Gak ada yang ingat ini hari apa," jawab Gumi dengan sedikit kode, mungkin saja kedua teman gadisnya itu mengingat hari ulang tahunnya.
"Loh memangnya ini hari apa?" tanya Miku.
"Ini hari Senin kan?" jawab Luka.
"Oh ya, aku baru ingat," ujar Miku. Seketika Gumi langsung berbinar senang.
"Hari ini tugas kamu piket kan Gum? Nih sapunya. Aku udah sapuin bagian situ. Kamu bagian sana ya," titah Miku sambil menyerahkan sapu yang sejak tadi di genggamnya. Alhasil, Gumi makin bete.
Sementara Gumi sibuk menyapu kelas, Luka diam-diam mencuri sesuatu di dalam tas Gumi.
ooo
"Gumi, Gumi!" seseorang berambut pirang panjang berlari menghampiri Gumi dengan wajah panik. Gumi menatap balik gadis itu.
"Mbak Lily, ada apa?" tanya Gumi. Yap, gadis di depannya ini bernama asli Kagamine Lily, kakak dari si kembar Rin dan Len, teman sekelasnya Gakupo. Populer di sekolah karena kecantikan dan kebohayan tubuhnya.
"Gum, kamu punya peniti gak? Kancing kemeja putihku hilang satu nih," ujar Lily sambil menunjung kancing bajunya yang bolong di bagian dada, hingga sedikit menampakkan belahan dadanya.
Gumi sweetdrop melihatnya.
"Bentar, aku cariin," jawab Gumi. Gumi merogoh saku roknya dan menemukan sebuah peniti kecil disana.
"Nih, ada satu," ujar Gumi sambil menyerahkan peniti tersebut kepada Lily.
"Wah, makasih ya Gumi. Kamu benar-benar menolongku. Kalo gak ada peniti ini, bisa malu aku nanti," ujar Lily girang.
"Makanya, Mbak. Kalo punya tubuh tuh jangan kebohayan. Kalo bajunya udah gak muat, beli baju lagi sana," ujar Gumi sarkas dan pedas. Lily hanya tersenyum maklum. Ia sudah biasa menerima perkataan tajam dan pedas dari mulut Gumi.
"Li, gimana? Kamu udah ketemu penitinya belom?" seorang gadis berambut coklat pendek menghampiri Lily. Namanya Sakine Meiko, teman sekelas Lily.
"Udah kok, nih dari Gumi."
"Gum, masih ada satu lagi gak penitinya? Kancing rokku lepas nih," tanya Meiko sambil memperlihatkan kancing roknya yang terlepas.
Gumi kembali speechless.
"Bentar deh Mbak Mei, aku cariin dulu," jawab Gumi. Gumi masuk ke UKS. Tak lama kemudian, ia keluar dengan membawa sebuah peniti di tangannya.
"Nih, punya Mayu. Nanti balikin ke dia ya," ujar Gumi.
"Makasih banyak, Gumi," jawab Meiko.
"Oh ya, Gum. Hari ini hari yang spesial buat kamu ya?" tanya Lily.
"Hah? Maksud Mbak Lily?" tanya Gumi. "Apa jangan-jangan dia ingat ini hari ultahku?" batin Gumi.
"Iya. Katanya Kaito mau ngajak kamu jalan sore ini. Kapan lagi kamu bisa jalan sama dia," jawab Meiko.
Gumi memandang Meiko datar.
"Ogah ah. Daripada aku jalan sama si maniak es krim terus uang jajanku habis cuma buat traktri dia, mending aku jalan sama Len. Aku ikhlas kalo uang jajanku habis buat traktir Banana Parfait kesukaan Len," jawab Gumi. Meiko dan Lily tertawa mendengar jawabannya.
"Tapi kalo Len gak peka-peka sama kamu gimana? Selama masih ada orang yang mau ngajak kamu jalan jangan ditolak dong," Meiko kembali meledek Gumi.
"Udahlah, kalian berdua cepat ke lapangan upacara. Bentar lagi mau dimulai tuh. Kalian jadi petugas kan?" Gumi mengalihkan pembicaraan.
Meiko dan Lily pun segera berlari ke lapangan upacara setelah mereka berdua mendengar teriakan amarah dari wali kelas mereka.
Yah, ternyata mereka berdua juga tidak ingat ultah Gumi.
ooo
Hari ini, Gumi tugas piket di ruang UKS. Sebagai anggota PMR yang baik, Gumi harus melaksanakan tugasnya. Saat ini, Gumi sedang menata obat-obatan di kotak obat.
"Gum, kalo udah selesai, tolong bersihin kaca jendela ya," titah IA. Hari ini, Gumi memang bertugas dengan dua adik-kakak Ichinose itu, Ichinose Aria dan Ichinose Mayu. Ichinose Aria atau yang biasa dipanggil IA adalah teman sekelas Gumi saat kelas 10 dulu. Sedangkan Mayu adalah adik IA, adik kelas Gumi. Ketiganya ikut satu kegiatan eskul yang sama yaitu PMR.
"Ok, IA," jawab Gumi. "Oh ya, IA. Nanti malam kamu ada acara gak?"
"Hm, memangnya kenapa Gumi?"
"Rencananya nanti malam aku mau adain pesta di rumahku. Aku mau undang kamu sama Mayu," jawab Gumi.
IA dan Mayu saling pandang. Kemudian, mereka kembali menatap Gumi dengan tatapan seperti merasa bersalah.
"Maaf ya Gum, aku udah ada janji sama Luka, mau pergi ke toko buku," ujar IA.
"Iya, aku juga Kak Gumi. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di rumah," jawab Mayu.
"Pekerjaan apa?"
"Merajut boneka."
"Oh, ya udah deh gak papa," jawab Gumi sambil tersenyum. Dalam hati, ia merasa kecewa karena dua sahabat dekatnya tidak bisa datang ke pesta ulang tahunnya.
ooo
"Teman-teman, malam ini aku mau buat pesta. Kalian bisa datang gak?" tanya Gumi. Sekarang jam istirahat, Gumi dan sahabat-sahabatnya sedang berkumpul di kantin. Gumi sangat berharap semua sahabat yang diundangnya ini bisa datang ke acaranya.
"Pesta apaan? Tumben banget kamu ngadain pesta," tanya Len sambil melahap mie ayamnya.
"Ada deh. Rahasia," jawab Gumi. Bukannya dia yang mendapatkan kejutan di hari ultahnya, malah dia yang memberi kejutan untuk teman-temannya.
"Gak janji deh, Gum. Nanti sore aku udah janji sama temenku. Kalo pulangnya gak kemaleman, aku datang deh," ujar Len.
"Iya, Gum. Aku juga udah janji ama temanku mau ke toko baju," timpal Miku.
"Aku juga udah janji sama IA mau ke toko buku. Sekalian mau ke toko kue, beli bahan buat bikin kue," sahut Luka.
"Mbak juga harus ikut Luka. Sekalian mampir mau ambil pesenan kacamata," jawab Meiko.
"Kacamata? Emangnya Mbak Meiko minus?" tanya Gumi.
"Iya, baru sih. Masih kecil minusnya," jawab Meiko.
"Nanti sore, aku mau nemenin Mbak Lily. Jadi, aku juga gak janji ya Gum," ujar Rin.
"Mas juga gak janji ya, Gum. Mas ada urusan nanti malam," tambah Gakupo.
Untuk kesekian kalinya, Gumi menghela nafas. Ia kecewa. Baru kali ini teman-temannya tidak bisa meluangkan sedikit waktu hanya untuk datang ke pesta ulang tahunnya. Padahal setiap tahun, mereka selalu semangat setiap kali diadakan pesta ulang tahun. Tapi, Gumi memakluminya. Mungkin mereka semua memang sibuk dan punya kegiatan seperti yang dikatakan oleh mereka.
Gumi berusaha untuk tersenyum.
"Ya udah, gak papa. Tapi, kalo sempet datang ya," ujar Gumi.
"Siap, Gum," jawab teman-temannya serempak.
ooo
Sepulang sekolah…
Harusnya, hari ini menjadi hari yang spesial untuk Gumi. Ini hari ultahnya, harusnya Gumi senang. Tapi, dia malah jadi galau begini.
Gumi lelah. Ia kecewa. Teman-temannya tidak ada yang ingat hari ultahnya. Keluarganya juga. Belum ada satupun panggilan atau pesan yang masuk ke hp Gumi sebagai ucapan selamat ultah. Orang tuanya tidak memberi ucapan selamat ulang tahun. Kakaknya juga. Gumi jadi merasa semakin dilupakan.
Gumi teringat sesuatu. Teman-temannya memang bilang kalau mereka tidak janji untuk datang ke pestanya. Namun, bukan berarti mereka benar-benar tidak datang, bukan? Masih ada kemungkinan untuk mereka datang. Jadi, Gumi masih harus membeli barang-barang yang ia butuhkan untuk pesta.
Gumi membuka tasnya. Ia mencari diary-nya yang ia simpan di dalam tas. Namun, setelah cukup lama mencari, diary-nya tidak ditemukannya. Diary-nya menghilang.
"Loh, buku diary-ku kemana? Perasaan tadi aku simpan di tas," ujar Gumi panik. Gumi menuang semua isi tasnya ke atas meja, namun tidak ditemukannya juga diary miliknya.
Oh, habislah. Berakhirlah semua ini. Ucapkan selamat tinggal pada pesta ultah Gumi yang tidak jadi diadakan. Pasalnya, Gumi menyimpan semua uang tabungannya di dalam buku diary itu. Kalau sudah hilang begini, habislah sudah.
"GUMIIII!" ditengah-tengah galaunya Gumi, seseorang meneriaki namanya dengan kurang ajar. Ingin sekali Gumi menghajar orang itu hingga babak belur.
BRAK!
Seorang pemuda berambut biru membanting keras pintu kelas Gumi. Dia Kaito Shion, teman Gumi dari kelas sebelah.
"Apa?" tanya Gumi judes.
"Ih, kenapa lo? Galak banget," tanya Kaito yang sedikit merinding melihat wajah bete Gumi yang menyeramkan.
"Kamu mau apa? Teriak-teriak namaku kayak gitu."
"Kamu harus ikut aku," ujar Kaito sambil menarik paksa tangan Gumi.
"E-eh? Kemana?"
"Ke mall. Belanja."
"Sejak kapan kamu punya hobi kayak cewek begitu?"
"Aku bukan mau shopping segala macem kayak cewek, tau. Aku harus beli barang-barang ini. Kalau tidak mereka akan membunuhku!" teriak Kaito dramatis.
"Barang apa? Siapa yang mau membunuhmu?"
"Gak penting. Sekarang kamu ikut aku dan berhenti nanya atau kelinci di rumahmu aku panggang malam ini," ancam Kaito.
"Eh, jangan dong! Itu kan kelincinya Mayu. Nanti dia marah sama aku kalau kelincinya dipanggang."
"Makanya sekarang cepat ikut aku!"
Akhirnya, Gumi pun menurut. Setelah membereskan kembali semua isi tasnya, Gumi ditarik paksa oleh Kaito seenak jidatnya.
ooo
"Emangnya kamu mau belanja apa sih, Kai?" tanya Gumi ketika mereka sudah sampai di mall pusat kota.
"Nih, lihat aja!" ujar Kaito sambil menyerahkan daftar barang belanjaannya.
List yang harus dibeli :
Es krim rasa vanilla 5, rasa coklat 3, rasa stoberi 1, rasa pisang 2, rasa terong 1, rasa negi 4, jeruk 3.
Parfait pisang 7
Sake kalengan 8
Soda kaleng 15
Jus kotak 15
Takoyaki 15 kotak
Bahan untuk okonomiyaki
Gumi sweetdrop membaca list barang yang harus dibeli Kaito.
"Kai, kalo kamu mau belanja beginian, kenapa kamu ajak aku ke mall? Harusnya kamu ajak aku ke mini market atau swalayan gitu," omel Gumi.
"Denger ya Gum, mall ini adalah mall yang paling lengkap. Disini ada toko es krim yang jual berbagai rasa es krim dari yang normal sampai yang aneh. Kamu lihat kan disitu list es krimnya aneh-aneh," ujar Kaito.
"Bener juga sih," gumam Gumi.
ooo
Gumi sudah selesai menemani Kaito berbelanja. Cukup banyak barang bawaan yang dibawa Kaito, mau tidak mau membuat Gumi harus membantunya.
Saat melewati sebuah toko pakaian, Gumi tidak sengaja melihat siluet seseorang. Seorang bocah pendek berambut pirang, itu Len!
"Len ngapain ke toko baju ya? Itu kan toko baju cewek," batin Gumi. Karena penasaran, Gumi pun menghampiri toko tersebut, meninggalkan Kaito yang ngoceh sendirian.
Gumi mengendap-endap sambil memperhatikan Len. Len terlihat sedang serius memilihkan pakaian perempuan. Entah imajinasi liar mana yang tiba-tiba terlintas di otak Gumi. Gumi membayangkan dirinya sedang kencan bersama Len. Len lalu mengajaknya ke toko pakaian dan membelikannya baju untuk Gumi. Gumi pasti akan sangat senang sekali. Ya, sudah lama Gumi naksir si cowok shota itu. Namun, Len tidak pernah peka. Selama ini Len hanya menganggap Gumi sebagai teman saja. Gumi jadi galau. Apalagi dengar-dengar, Len sedang dekat dengan Miku. Gumi jadi makin tambah galau saja.
Siluet seseorang lain muncul menghampiri Len. Dilihat dari rambut toska mencolok yang dikuncir dua itu, Gumi sudah tau pasti siapa orang itu. Itu Miku. Terlihat Miku memamerkan sebuah mini dress berwarna hijau daun bermotif bunga mawar berwarna orange dan merah yang digenggamnya. Miku membicarakan sesuatu dengan Len yang entah apa itu karena Gumi tidak bisa mendengarnya akibat jarak yang terlampau jauh. Setelah mengobrol singkat, terlihat Miku menarik tangan Len dan membawanya pergi. Len juga balas menggandeng tangan Miku.
Gumi berdiri mematung melihat pemandangan tersebut. Sepertinya, apa yang dikatakan orang akhir-akhir ini ada benarnya. Miku dan Len saling menyukai dan keduanya pasti sudah resmi jadian. Mereka kencan dan Len membelikan Miku dress yang sangat manis dan imut untuknya. Walaupun Gumi tidak mau mengakuinya, namun menurut Gumi mereka berdua memang pasangan yang cocok, walaupun Len lebih pendek dari Miku. Entah kenapa, Gumi merasa sangat bodoh karena terlalu berharap bahwa suatu saat nanti Len akan membalas perasaannya. Cinta yang bertepuk sebelah tangan membuat hatinya sangat sakit. Ia terluka. Gumi hanya bisa menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang dibanjiri air mata.
"Gum, aku kira kamu ngilang kemana, ternyata kamu disini," ujar Kaito. Ia belum menyadari Gumi sedang menangis.
"Gum, kamu kenapa?" tanya Kaito khawatir.
Gumi mengangkat kepalanya sedikit, memperlihatkan wajahnya basah dengan air mata. Ia menangis.
"K-Kaito… Huwaaaa!" tangisan Gumi semakin menjadi-jadi. Kaito langsung gelagapan. Ia belum pernah menangani cewek SMA seperti Gumi yang menangis. Menangani adiknya—Kaiko—yang masih kelas 3 SD saja dia tidak bisa, apalagi menangani Gumi.
"Gum, kamu kenapa sih? Aduh, jangan nangis gitu dong. Malu dilihatin banyak orang," Kaito panik.
"Hiks… Kai… Len Kai…" Gumi menunjuk ke arah toko pakaian.
Kaito melihat Miku dan Len di dalam toko tersebut. Mengerti maksud Gumi, Kaito segera membawa Gumi pergi.
ooo
"Ternyata begini ya rasanya patah hati."
Saat ini, Gumi sedang bergalau ria. Kaito yang menjadi satu-satunya teman yang ada di dekat Gumi saat ini mau tidak mau harus mendengarkan curhatan Gumi. Kaito mengajak Gumi ke toko es krim dan mentraktir Gumi es krim rasa wortel.
"Padahal aku kan suka banget sama dia. Tapi, mungkin aku emang gak ditakdirkan dengan Len. Hanya Miku yang cocok dengannya," Gumi mulai beralay ria. Kaito mulai bete menghadapi cewek yang sedang dalam kondisi seperti ini.
"Padahal ini hari ultah gue. Kenapa gue malah sial begini sih? Uang tabungan gue hilang. Cowok yang gue suka jadian sama temen sendiri. Sakit," ujar Gumi miris. Gaya bicara Gumi mulai berubah dengan aura hitam menguar dari tubuhnya. Kaito mulai merasakan hal yang tidak enak.
"Oh, lu ultah hari ini Gum?" Kaito mengalihkan pembicaraan, tentunya dengan gaya bicara yang ikutan berbeda.
"Iya, kenapa?"
"HBD Gum," ucap Kaito sambil nyengir lebar. Sejenak Gumi terhibur.
"Makasih, Kai. Lo orang pertama yang ngucapin ke gue."
"Eh? Seriusan? Kasian banget sih lo," ledek Kaito.
"Lo itu sebenernya mau ngehibur gue atau bikin gue tambah bete?"
"Hehehe… Sorry."
Kemudian, hening. Tak ada yang membuka pembicaraan. Kaito asyik melahap habis es krim bluberinya, sedangkan Gumi sibuk dengan acara melamunnya.
"Gum, pulang yuk. Yang lain udah nunggu kita tuh," ajak Kaito.
"Yang lain? Siapa?"
"Ada deh. Oh ya, soal Len, gak usah dipikirin ya. Kamu itu cuma salah paham. Len gak jadian sama Miku," ujar Kaito.
"Bohong. Tadi kan lo lihat sendiri mereka jalan bareng."
"Jalan bareng bukan berarti mereka jadian. Lagian, Miku itu kan cewek gue. Gak mungkin Len sejahat itu ngambil pacar temennya sendiri."
Gumi terkejut mendengarnya.
"Apa? Sejak kapan lo pacaran ama Miku?" teriak Gumi.
"Seminggu yang lalu. Lo kan gue ajak makan-makan pas hari pertama gue jadian. Lo-nya aja yang sok sibuk nolak ajakan gue."
"Oh, bener juga sih."
Setidaknya, sekarang Gumi merasa lega mengingat fakta bahwa Miku adalah pacarnya Kaito. Walaupun masih belum pasti Len itu menyukai Miku atau tidak. Yang jelas, Gumi sekarang bisa pulang dengan perasaan tenang.
ooo
"Kai, kenapa kamu bawa barang belanjaannya ke apartemenku?" tanya Gumi.
"Udahlah, cepet masuk dan jangan banyak tanya. Ini berat tau," jawab Kaito.
"Oh, ok. Maaf."
Gumi menunduk untuk mengambil kunci apartemen yang ia simpan di pot bunga di sebelah pintu apartemennya. Namun, kunci itu tidak ada disana.
"Kenapa Gum?"
"Kuncinya hilang."
"Kamu lupa kunci pintunya kali. Coba buka."
Gumi menurut saja apa yang dikatakan Kaito. Benar saja, saat Gumi memutar kenop pintu, pintunya tidak terkunci.
"Aneh, padahal tadi pagi aku mengunci pintunya," batin Gumi bingung.
Gumi melangkah masuk ke apartemennya bersama dengan Kaito. Apartemen sangat gelap karena lampunya dipadamkan. Gumi meraba-raba dinding, mencari saklar lampu. Namun, tidak ditemukannya juga.
GREP!
"Hwaaa!'
Seseorang menepuk bahu Gumi dari belakang. Gumi berteriak kaget.
Lampu di apartemen Gumi tiba-tiba menyala semua. Suasana yang awalnya sunyi dan gelap berubah menjadi terang dan ramai.
Di hadapannya ada Len yang membawa kue ulang tahun, beserta teman-temannya yang lain sedang bernyanyi.
"Happy birthday Gumi… Happy birthday Gumi… Happy birthday… Happy birthday… Happy birthday Gumi!"
Tepuk tangan meriah dan sorakan gembira dari semua teman Gumi memenuhi ruangan.
"A-apa ini?"
"Kejutan untukmu, Gumi," jawab Rin.
"Selamat ulang tahun yang ke-17, Nakajima Megumi!" kesepuluh temannya berujar kompak megucapkan selamat ulang tahun untuk Gumi. Bahkan Kaito yang tadi berdiri di belakangnya sudah ikut bergabung dengan barisan teman-temannya.
Gumi tidak bisa menahan rasa harunya. Ia tersenyum sambil menangis haru. Teman-temannya langsung mengerubunginya untuk menghiburnya.
"Gum, jangan nangis dong. Ini kan hari ultahmu. Harusnya kamu senang," ujar Len.
"Aku nangis karena terharu tau," jawab Gumi.
"Daripada kamu nangis, mending kamu tiup lilinnya," ujar Len.
Gumi menatap kue ulang tahun berwarna orange-hijau rasa wortel dengan lilin berbentuk angka 17 dihadapannya. Ia memejamkan doa kemudian meniup lilinnya. Tepuk tangan pun kembali terdengar.
"Selamat ulang tahun ya, Gumi," di depan pintu apartemen, keluarga Nakajima: Papa, Mama, dan Kak Gumiya berdiri sambil tersenyum lembut. Gumi tidak menyangka mereka juga akan datang. Gumi berlari menghampiri mereka dan memeluk mereka.
"Kalian kenapa gak bilang-bilang mau kesini?"
"Kalau kami bilang kamu, itu namanya bukan kejutan," jawab Mama.
"Ini semua ide temen kamu lho. Berterimakasihlah pada mereka," ujar Papa.
Gumi mengangguk. Setelah menghapus air matanya, Gumi berbalik menghadap semua temannya.
"Minna, terima kasih banyak untuk semuanya!"
Gumi tidak akan melupakan hari ulang tahunnya yang ke-17 yang sangat indah dan berkesan ini.
Part 1 Selesai
Author's note :
Halo, semua! Yuuki balik lagi nih. Yuuki persembahkan spesial fic buat ultahnya Gumi. Maaf ya telat. Telat beberapa hari doang gak papa kan. Disini ada sedikit hint LenGumi. Selain Rin, menurutku Len cocok dipasangkan dengan Gumi.
Part 2 nya akan lebih banyak LenGumi-nya.
Ucapan spesial :
Selamat ulang tahun untuk si wortel hijauku yang imut dan cantik! Semoga makin banyak lagu-lagu yang kamu nyanyikan ya!
