Stage I

Sour

"Argh..."

Hanbin mengerang. Tenggorokannya serak, perih luar biasa. Suatu keajaiban dia masih bisa mengeluarkan suara dari sana.

"Bobby, please... let me cum." Dia bahkan memohon, bibir bergetar, serta nafas tercekat.

Gigi seri kelinci yang menggeseki di sepanjang kulit kesejatiannya bergerak menjauh. Seringai lebar terlukis nyata pada wajah tampan yang selalu Hanbin kagumi secara diam-diam. God has create such a perfect creature. Maybe Kim Hanbin just being so lucky to witnessed one.

"Why should I?" Bobby menyahut cheeky. Tangannya bergerak turun-naik, mengurut kesejatian memerah, keras, dan membengkak milik Hanbin. Sesekali cincin platinum—cock ring—yang mencengkeram kuat bagian leher dari kepala kesejatian tersebut akan bergeser, tertarik keras oleh buku jarinya hingga mengakibatkan Sang Pemilik berteriak kesakitan.

"Ple – AH! Please!"

Bobby semakin mencengkeram erat kesejatian di tangannya, "I asked you, Hanbinie. Why. Should. I?" Ia mengulang, dengan sengaja menjilat pelan cairan pre-cum yang melingkupi kepala kesejatian tersebut.

Isakan Hanbin semakin keras. Belt yang membelenggu kedua pergelangan tangannya di kepala tempat tidur mulai menyengat kulitnya dengan menyakitkan. Namun bukan itu yang membuatnya frustasi saat ini. Nafas hangat yang menyapu kesejatiannya lah, penyebabnya.

"I'll let you fuck me senseless!" Hanbin berteriak, mengakibatkan tenggorokannya seketika serasa dihujami seribu jarum es.

"Kkkk, dengan senang hati~" Bobby berdendang, menarik kasar cock ring hingga terlepas dan tanpa aba-aba menelan penuh organ keras dan panas dalam genggaman, hingga kepala dari kesejatian tersebut menghantam bagian belakang tenggorokannya. Dia menghisapnya kuat, dan menjilat penuh bagian bawahnya dengan lapar.

"Ah! Hnnnhh... Ahh!"

Membuat Hanbin tenggelam dalam desah-erang panjang, berpijak di antara ujung curam dari ke-frustasi-an, namun membuatnya melayang. Tidak butuh waktu lama bagi Bobby untuk membuatnya menyerah dalam teriakan tinggi kenikmatan; klimaks. Cairan hangatnya disambut oleh hisapan keras dan antusias. Bobby menelannya hingga tak bersisa.

Hanbin hanya berbaring di sana. Lemas.

Tidak begitu lama. Karena Bobby serta senyuman penuh artinya datang, di atasnya, menaunginya. "Don't sleep on me, Hanbinie. You know how bad it is ignoring Your Master~"

Dan begitulah. Malam terus berlanjut dengan Hanbin yang tiada henti berteriak, memohon, serta memanggil terisak nama Sang Master. Ini akan menjadi malam yang panjang. Selalu.

Since he becomes Bobby's Lil' Slave.

~~~~~~~\(=^ ᵜ ^)/\(^ω^=)/~~~~~~~

"Ada apa dengan matamu, Binie? Kau terlihat seperti panda."

Hanbin mengambil duduk di seberang Jinhwan, senior sekaligus sahabatnya, meletakkan tray makananan di atas meja kantin sebelum menjawab, "Insomnia. Aku mengalami gangguan tidur, Hyung." Ia melemparkan senyum riang itu, mata melengkung—membentuk bulan sabit, dimple, dan segala macamnya.

"Kau sudah memeriksanya? Temui dokter, Binie. Ini bisa saja menjadi masalah serius, kau tahu?"

"Kkkk, jangan khawatir, Hyung. Aku hanya sedikit stress. Banyak makalah yang harus kuurus. Tugasku menumpuk. Setelah semua kekacauan ini berakhir, hidupku yang aman dan damai akan kembali."

Huh.

Hidup aman dan damai?

Itu hanyalah harapan kosong.

Jauh di dalam hatinya, Hanbin tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi seperti dulu. Sekarang dia hanyalah satu jiwa dari banyaknya para pendosa di dunia. Dia kacau. Swimming in a mud pool of the sour taste.

Sour.

Itulah yang dirasakannya ketika tidak menemukan Bobby di sampingnya pagi ini. Namja itu meninggalkannya. Lagi.

"Menjijikkan."

Deg!

Hanbin terkesiap, matanya terbelalak menatap Jinhwan yang baru saja menga – oh, dia salah. Jinhwan tidak sedang mengatainya. Kata itu namja mungil tersebut tujukan pada... siapapun itu yang berada di belakang Hanbin. Ia berbalik.

DEG.

Dan Hanbin menyesal telah melakukannya. Bobby di sana. Lengan kekar namja tampan itu tersampir, memeluk mesra bahu seorang yeoja cantik berambut pirang dan berbibir penuh. Dia Lisa, kekasih Bobby. Mereka berciuman tanpa mempedulikan keramaian kantin.

"Mereka menyebut kita kaum gay menjijikkan. Tapi lihatlah apa yang mereka lakukan di depan umum. Karena 'konsep ini' wajar, semua orang menganggapnya biasa, begitu?!" Jinhwan mendengus jijik, menancapkan garpu dengan sadis ke daging steak di depannya, dan memakan daging berpotongan cukup besar tersebut ke dalam mulut dalam sekali raup—menggigit penuh emosi daging itu seolah dia tengah mengunyah daging siapapun itu orang yang tengah dijengkeli. Untuk saat ini, mungkin orang itu Bobby dan Lisa.

Bukan rahasia lagi di Hanlim yang tenar ini, kaum gay tidak perah diterima dengan baik. Err, salah. Hampir keseluruhan manusia di muka bumi ini tidak menyetujui mereka. Hanbin dan Jinhwan adalah dua insan yang menjadi contoh penolakan tersebut. Nyaris semua makhluk hidup di Hanlim seolah memiliki izin khusus untuk merendahkan mereka. Para guru pun seolah menyerah. Mereka angkat tangan dan berpaling, memberikan punggung setiap kali hal yang tidak mengenakkan menimpa mereka. Hanbin dan Jinhwan mulai berpikir, mungkin mem-bully sudah jadi trend tersendiri di Korea. Seperti di Amerika sana, saat seorang pem-bully malah menjadi populer dan dipuja-puja.

Bumi adalah tempat yang aneh.

"Sudahlah, Hyung, jangan membuat dirimu sendiri pusing. They are trash. And hopeless." Hanbin berkata, tersenyum puas di akhir kata karena mulutnya baru saja mengucapkan hal paling 'menyenangkan' untuk dunia. It's lunch time, anyway. Foul mouth completely allowed.

Jinhwan terkikik—dan terbatuk karena daging steak yang ia makan jelas terlalu besar untuk ukuran mulutnya yang kecil—sembari meraih kaleng soda namun,

Sret.

... seseorang mendahuluinya.

"Kau seharusnya mempertimbangkan ukuran apapun itu benda yang memasuki mulutmu, Jinhwanie. You might choked by it~"

Oh, here they comes; one of the jerk, biggest bully.

Jinhwan mendengus, mengabaikan kaleng sodanya yang direbut, lalu beralih menenggak jus milik Hanbin yang namja itu sendiri sodorkan padanya. "Go away, Koo Junhoe. Dan panggil aku 'Hyung'."

"You're so tiny. Aku tidak akan memanggilmu 'Hyung', Jinhwanie~ It wasn't fair."

"You're hopeless. Go away and I might give your sorry ass a mercy."

Percayalah, Jinhwan tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Tubuh yang kecil hanyalah kedok. Jinhwan tidak selemah yang orang-orang kira. Malah, kebalikannya. Dia pemegang sabuk hitam taekwondo. Koo Junhoe bertubuh tinggi? Bukan masalah. Jinhwan bahkan pernah menghantam keras rahangnya dengan lutut. Seolah terbang. Semua orang tidak akan percaya kalau tidak melihatnya langsung.

"And my sorry ass don't scare."

Yang paling tidak masuk akal, Koo Junhoe seolah tidak pernah jera. Apa dia masochist?

"I pitied your sorry ass then." Jinhwan mendesis tajam, bersiap bangkit hendak menjawab tantangan Junhoe namun Hanbin dari seberang meraih lengan atasnya.

"Hyung, sudahlah. He's not worth it."

"And who do you think you are, Fag?! I'm talkin to this tiny Jinhwanie. Not you," salak Junhoe. Kemungkinan tersinggung oleh ucapan Hanbin. Well, bukankah itu belum seberapa, dibanding semua kata-kata tidak pantas yang mulut besarnya muntahkan selama ini!?

"Hahahaha..." Hanbin terbahak, memegangi perutnya seolah ia baru saja mendengar lelucon terlucu di dunia. "Kau sangat lucu, Koo Junhoe. Aku tidak mengerti, kau tahu? Apa alasanmu sebenarnya selalu mengganggu Jinie Hyung? Are you tryin to hit on him or something? You got me curious, ya know?"

"Kau—"

"Sudahlah, Junhoe."

Tangan Junhoe yang terkepal hendak memukul Hanbin, digenggam kuat oleh seseorang. Bobby. Sejak kapan namja itu berhenti ber-pda dengan kekasihnya dan berada di meja mereka? Oh, Lisa beserta 'geng populer'nya juga berdiri di belakang namja itu.

Bobby melirik Hanbin lama, lalu beralih menatap Jinhwan sekilas, "They are not worth it," ucapnya tajam.

Oh. Oh.

Not worth it, huh?

Ingin rasanya Hanbin juga tertawa terbahak di hadapan wajah Bobby. Segala kepura-puraan namja ini, seringkali membuatnya muak. Kau tentu tidak akan berteriak puas saat mencapai orgasme bersama seseorang yang kau anggap not-worth-it, 'kan?

Yah, inilah dunia dan panggung sandiwara. Semua orang memakai berlapis-lapis kulit untuk menyembunyikan jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka bahkan sampai lupa siapa, dan apa rupa mereka sebenarnya.

Sour.

Berhadapan dengan Bobby selalu membuatnya tidak nyaman. Ibarat mengulum sebuah irisan lemon. Kau akan langsung mengerinyit, tidak suka, namun tidak kuasa untuk membuangnya. Karena terkadang, rasa asam tersebutlah yang membangkitkan seluruh indera, membuatmu lebih mawas. Lebih bergairah.

Dalam rangkuman singkat, Hanbin tidak berdaya. Rasa muak tidak cukup membuatnya membalas kata-kata Bobby dan hanya menggigit bibir bawah dengan keras saat namja itu bersama gerombolan populernya beranjak pergi. Hanbin tidak geram, tidak pula terganggu. Dia hanya... turned on.

Nice.

Semua serasa semakin buruk saat Lisa dan gengnya menatap Hanbin tajam sembari berlalu. Seolah mereka tahu, membaca nyata keseluruhan diri Hanbin, dan mengulitinya. What the...

"Yeoja itu seperti penyihir. Pacarnya tidak kalah buruk. He look like an ugly big-tooth monster." Jinhwan berkomentar jijik. Tentu saja, dia juga menyaksikan 'aksi' Lisa dan gengnya.

Menyingkirkan pikiran buruk yang baru saja terngiang di otaknya, Hanbin mengangkat bahu acuh, kembali menatap tray makanan miliknya di meja. "They are trash anyway," gumamnya, menyuap bubur yang entah kenapa mendadak kecut.

Sour.

TBC