Suki Daisuki
Rambut lembutnya yang terurai panjang. Wajahnya yang terlihat bersinar di tengah kerumunan orang. Senyum khasnya yang manis. Entah kenapa sahabat sedari kecilku itu dapat merebut hatiku. Aku tak tahu apa yang kuinginkan darinya sehingga membuatku jatuh cinta padanya. Kuharap dia juga mempunyai perasaan yang sama padaku.
Namaku Uchiha Sasuke. Usiaku 14 tahun. Dulu, menurutku aku adalah cowok terganteng disekolah karena popular. Tapi sekarang, pikiran super positif atau bisa dibilang amat teramat PD itu hilang ditelan sahabatku sendiri. Dia cewek. Yaa, sahabatku seorang cewek yang manis. Rambutnya lucu, warna pink. Sudah lama aku tertarik padanya. Bahkan aku sudah jatuh cinta padanya. Namun sampai sekarang aku belum tahu perasaannya terhadapku. Ya ampun!
Naruto© Masashi Kishimoto
Suki Daisuki © Sheii-chan!
Di Hari Senin yang mendung ini aku berharap tak ada upacara bendera. Tapi kalau curhat ke temen-temen mereka pasti jawab..
"Hee?! Gak mau upacara?! Dasar gak menghargai jasa pahlawan!"
Apalagi sama temenku yang paling norak dikelas. Deidara. Udah ngomong gitu, pake acara nangis bombay segala lagi. Dasar alay, aku jadi kayak penjahat. Hiks hiks..~ Aku pernah dituduh buat nangis si Deidara beberapa minggu lalu. Ingat oi, fitnah lebih kejam dari pembunuhan!
Akhirnya tak ada upacara di pagi ini. Yeah! Doaku terkabul! Saat menaiki tangga untuk masuk ke kelas, aku melihatnya sedang bergurau bersama teman-temannya. Saat ini pun ia tampak sangat manis. Aargh! Aku jadi ingin mencubit pipinya. Tapi karakterku yang sudah lama terkesan pendiam ini tak sanggup melakukan hal seperti itu didepan umum. Bisa-bisa image pendiamku nanti hilang juga. Tapi mata hatiku sudah hampir gak kuat melihat kemanisannya.
Sepulang sekolah. Seperti biasa, di loker sepatuku banyak gadis yang memberiku surat cinta yang menurutku terkesan jadul. Kenapa gak ngomong langsung coba? Tujuannya biar hemat kertas! Kuturuni beberapa anak tangga dan sampailah aku ditempat tujuan dengan selamat. JEENG! JEENG!
Hmmpph.. Rupanya sudah ada yang menungguku digerbang sekolah. Mata hijau cerah dan senyumnya membuatku hampir sesak nafas. Wajahku memerah hebat. Sungguh! Dia jadi tak seperti biasanya. Tambah manis aja. Aku berjalan mendekatinya dan memberinya senyumanku yang paling manis.
"Sasuke-kun? Kenapa wajahmu aneh seperti itu? Tak seperti biasanya." BLUSH! Wajahku memerah parah. Aku salah tingkah dibuatnya! Ia hanya memandang heran. Mungkin imageku sebagai cowok cool yang pendiam akan berakhir hari ini, mungkin juga tidak.
"E-Eh? A-Aneh!? Sakura-chan, aku ini aku yang biasanya, kok!" jawabku memalingkan pandangan darinya. O ya, yang daritadi kupanggil 'Ia', 'Dia', 'Nya' atau apalah ya Sakura itu.
"Sasuke-kun benar-benar aneh. Kayak cumi-cumi yang digoreng kaa-san ku tadi pagi. Sudahlah, ayo pulang!" ia menggandeng tangan dinginku keluar sekolah. Aku tak berani menatap wajahnya karena aku tahu pipiku memerah. Aku merasa mendapat pujian darinya walau harus dikatai cumi-cumi.
Kami sudah hampir tiba di rumah kami yang berdekatan. Ia masih menggandeng tanganku. Ah senangnya... Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, aku juga ikut berhenti berjalan.
"Sasuke-kun.." ucapnya sambil menunduk. Kemudian ia melepaskan tanganku.
"Ada apa?" tanyaku.
"Maukah kau membantuku?" tanyanya lalu menatap wajahku. Secara spontan, tentu saja aku kaget.
"Asal itu hal yang baik, aku akan selalu membantumu." jawabku seadanya. Ia tersenyum senang saat aku mengatakannya. Sungguh aku sangat senang saat ia tersenyum karenaku.
"Jangan beritahu siapa-siapa, ya!"
"Hn."
"Kau tahu, kan, siswa kelas A yang bernama Sasori?"
"Ya."
"Aku menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya." Ia menutup wajahnya karena malu. Jujur saja aku sangat kecewa mendengar hal ini. Namun aku menutupinya dengan senyum tanpa rasa kecewa. Sasori itu.. sahabatku waktu TK!
"Ciieee... " aku tertawa paksa kepada Sakura. Mungkin ia tak menyadarinya.
"Kau kan sudah akrab dengannya, bagaimana kalau kau memperkenalkan aku padanya. Maaf aku merepotkanmu." Sakura memegang kedua tanganku dan terus menatapku. Aku tahu ia berharap aku mengatakan 'ya'. Wajahnya yang memelas membuatku ingin membantunya walau berat.
Aku pun mengangguk dengan berat hati. Semata-mata hanya untuk membuatnya bahagia. Seperti yang kuduga, ia bersorak senang ketika aku mengangguk. Hatiku sudah hampir meledak karena api cemburu. Tapi ya sudahlah, asal ia bahagia aku sudah senang. Walau begitu, aku tak tahu kenapa hal itu sangat mengganjal dihatiku. Aku jadi berpikir kalau hidupku nista. Aku benar-benar merasa seperti orang bodoh yang bersama putri kerajaan. Gyaaa!
Aku pulang dengan perasaan campur aduk. Sampai-sampai saat aku makan siang, aku menuangkan saus sambal ke jus melonku. Nugget hangat yang hendak kumakan pun kucelupkan kedalam selai yang seharusnya untuk roti. Nii-san ku yang melihatku malah ngelus dada sambil istighfar. Aku yakin dibalik tampang sok alimnya itu, dia pasti mengejekku. Apa ini adalah permulaan dari masuknya aku ke rumah sakit jiwa? Ah, jangan berpikir negatif! Jelas-jelas aku ini masih normal!
Karena merasa pikiranku yang mulai kacau, aku tidur siang aja dikamarku. Dilantai 2. Kubuka jendelaku agar ada AC (angin cendela) yang masuk. Selain itu bisa diartikan juga sebagai angin sawah, loh.. Karena kamarku memang mepet dengan sawah. Enak, kan, hidup serba berkecukupan angin sepertiku. Pokoknya sejuk sekali~
"SASUKEEE!" teriak seorang makhluk dari luar jendelaku, tepatnya di sawah. Suaranya ngeri banget membuat gigiku ngilu. Setelah suara itu terulang selama beberapa kali aku bergegas menuju jendelaku. Aku sudah membawa koleksi batu sawahku. Jika saja yang meneriakiku itu setan, aku akan langsung melemparinya.
"SIAPA, OII!? ORANG ENAK-ENAK TIDUR MALAH DIGANGGU!" aku sudah siap melempari setan itu dengan batu. Tapi alangkah mengejutkannya. Seseorang berambut kuning nge-jreng muncul dari balik tebu-tebu dengan slowmotion. Heh, ternyata Deidara. Anak cengeng itu mau apa.. juga kerumah pangeran yang begitu megah *preett* ini?!
"Ada perlu apa? Aku sedang sibuk mandiin ayam!" kataku asal.
"APAAN?! TADI KAU BILANG LAGI ENAK-ENAKAN TIDUR!? AKU MAU BICARA DENGANMU! BOLEHKAH AKU KERUMAHMU SEKARANG?" tanya Deidara memohon. Aku hanya menjawabnya dengan 'Hn' saja, seperti biasa. Huh, merepotkan.
Gak ada 1 menit Deidara sudah nongol di pintu kamarku. What?! Nih anak nyampenya cepet bener.
"Wah, Sasuke tampak ganteng hari ini.. Aku juga ganteng, kan?" pujinya padaku dengan nada gak niat. Aku yakin ada maksud lain dari semua ini.
"Gak. Cepat katakan apa yang ingin kau katakan." Kataku sok judes. Padahal aslinya aku baik.
"Hee.. jahat! Gak disuruh duduk dulu kek."
"Gak. Rumah-rumah siapa?"
"Ng.., peace! Eh, ya, kau kayaknya deket banget ya, sama Sakura?"
"Ya."
"Buat aku deket dengannya dong!"
#DIIIAAAARRRRRRRRRR *Suara hati Sasuke*
TBC
.
.
Reviewmu semangatku^^)/
#PLAK
-Sheii (FB: Sheii-chan Himeru)
