Warning : kata tidak baku, ooc, AU. Don't like don't read !
Disclaimer : MASASHI KISHIMOTO
I am doing this as a hobby and a challange with my beloved sista Sugar Princess71. Lol
Mungkin aku terlalu sibuk dengan kesedihanku sendiri sehingga aku tidak memikirkan perasaan orang lain. Aku masih belum mengerti mengapa aku menyukainya yang jelas-jelas sangat mustahil untuk memenuhi keinginanku. Apa setelah ini aku akan sulit jatuh cinta lagi? Lalu, apa aku memang tidak memiliki cinta?
.
Prolog
.
"Hinata, aku tidak tahu kalau kau hadir di sini."
Walaupun suara biola yang mengalun di dalam rumah ini cukup keras Hinata masih bisa mendengar suara itu, itu adalah Ino temannya. Jujur saja dia tidak mengharapkan siapapun mengenalinya di sini walau nyatanya yang hadir rata-rata orang yang dikenalnya.
"Engh…" Hinata mencoba membuka suara agak lantang agar bisa terdengar olehnya. "Gaara-sensei pasti a-akan marah jika aku enggak datang."
"Oh begitu ya, mau aku temani?"
Hinata melirik seseorang di samping Ino, padahal Ino membawa teman pria kemari mengapa dia mau menemani gadis indigo itu? "Enggak usah, Ino." Hinata menarik senyum hangat untuk meyakinkan teman seangkatannya itu. "Aku mau pulang sebentar lagi."
Ino terlihat menghela napas, "yakin?" setelah Hinata mengangguk sekali Ino kembali melanjutkan bicaranya. "Baiklah kalau begitu. Ayo Shika kita ambil minuman lagi." Ino menyeret teman prianya itu menjauh meninggalkan Hinata sendirian. Yah, gadis itu memang butuh waktu sendiri.
Saat ini Hinata sedang patah hati karena dosen yang dia suka sekarang menikah dengan orang lain. Wanita itu memang jauh unggul dibandingkannya, Hinata rasa Gaara lebih pantas bersanding dengannya ketimbang dirinya. Kalau boleh jujur dia masih belum terima.
Padahal Hinata tidak ingin kemari, tapi entah mengapa kakinya benar-benar menuntunnya kemari. Kemudian dia melirik jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan jam setengah sembilan malam.
'Aku baru saja sampai ke sini beberapa menit yang lalu setelah bertarung dengan hati nuraniku. Yah aku memang datang agak telat, dan tidak mungkin saja aku akan segera pulang. Tadi aku hanya berbohong pada Ino,' batin Hinata.
Ini adalah pertama kalinya Hinata menginjak rumah Gaara. Rumahnya begitu bagus dan besar, pantas saja dia tidak perlu lagi menyewa aula atau hotel untuk merayakan pernikahannya. Di setiap ruangan di sini sebenarnya terisi dengan orang-orang, entah mereka sedang ngobrol atau sekedar minum sake karena turut bahagia pada Dosennya itu.
"Hey Hinata! Mengapa menyendiri di sana? Ayo gabung kemari!"
Hinata mengalihkan pandangannya ke asal suara—yang ternyata adalah suara Kiba teman seangkatannya. Tidak hanya ada Kiba di sana, ada yang lain dari teman sekelasnya yang juga hadir dalam pesta malam ini. Diam-diam Hinata menghela napas pasrah, kalau sudah seperti ini tidak ada lagi yang bisa dilakukannya.
"Kau baru datang ya?" tanya Sakura saat Hinata mulai duduk bergabung dengan teman-temannya itu.
Hinata tidak banyak bicara, seperti biasa dia hanya tersenyum dan mengangguk. Kebetulan tempat duduk di meja segi empat itu masih bersisa untuk tiga orang, jadi Hinata memilih duduk di tengah di antara dua bangku yang tersisa.
Tidak ada alasan dia melakukan itu, hanya saja selama kuliah ini dia tidak memiliki teman yang benar-benar akrab padanya. Hinata tidak terlalu pandai dalam bergaul. Mungkin hanya Gaara orang yang bisa membuatnya merasa nyaman. Gaara terlalu baik padanya. Dia mahasiswa kesayangan Gaara. Tapi Gaara sekarang menikah.
Sekali lagi dada gadis itu benar-benar terasa ditusuk kalau harus mengingat itu. Sepertinya dia tidak akan kuat melihat Gaara hari ini. Mungkin lebih baik setelah dia duduk di sini dan ikut minum-minum sedikit baru akan pulang.
Hinata mengulurkan tangannya untuk mengambil sebuah botol sake beserta cangkir kecil. Dituangnya minuman berwarna putih itu kemudian diteguknya lagi. Dia merasakan ada aliran yang hangat membasahi tenggorokannya. Sepertinya ini mengasyikan.
"Sasuke! Duduk di sini!"
Hinata merasakan Sasuke duduk di sampingnya. Dia tahu itu tapi dia pura-pura tidak tahu. Lagipula gadis itu tidak terlalu mengenal Sasuke. Hinata kembali meneguk sake itu lagi. Minuman itu semakin diminum semakin susah untuk menghentikannya.
"Ku pikir kau enggak tertarik untuk datang, Sasuke."
"Kupikir kau akan senang kalau aku mengantarmu pulang."
"Aku bisa pulang sendiri!" Sakura tersenyum lebar. Kemudian pandangannya di alihkannya ke arah Hinata yang terlihat sudah agak mabuk. Berapa banyak gadis itu minum sampai-sampai wajahnya benar-benar memerah?
Melihat arah mata Sakura yang tertuju ke Hinata—membuat Sasuke menoleh ke sampingnya. "Sepertinya dia mabuk."
"Hinata? Kau enggak apa-apa kan?" Sakura tahu Hinata pergi sendiri kemari, kalau dia mabuk seperti ini mungkin gadis itu butuh sedikit bantuan.
Hinata hanya menggeleng tanpa kendali, meyakinkan diri Sakura kalau dia baik-baik saja.
Sasuke melirik jam tangannya. "Sakura, ayo kita pulang saja."
"Jangan pergi..." terdengar seperti suara frustasi dari mulut Hinata, Sasuke mengerutkan dahinya. Memang apa urusannya pada dirinya. "Jangan tinggalkan aku!"
Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika Hinata malah menariknya dan mencium bibirnya secara mendadak dan paksa. Hinata memejamkan matanya kuat-kuat sedangkan Sasuke terbelalak kaget. Bau sake dari mulut Hinata benar-benar kuat—membuat Sasuke membatu.
Semua orang yang berada di sana tentu sangat terkejut dengan aksi Hinata. Mungkin masih bisa dimaafkan karena Hinata dalam keadaan mabuk—tapi bagaimana dengan Sasuke? Pria itu terlihat begitu terkejut dan harga dirinya di runtuhkan—bahkan di depan Sakura, orang yang disukainya.
TBC
Aku benar-benar berharap challange fik kali ini gak ngecewain hikshikshiks. Agak aneh mungkin deskripnya karena udah lama gak apdet-apdet hohoho. Yap, semoga suka *lirik-lirik Agidya*
Ok thanks for reading.
Riview?
