Beda sebenarnya sama, sama tapi berbeda. Ketika keduanya melebur, maka jadilah ia monokrom.

Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto

.

.

MONOKROM

.

.

PROLOG

Diceritakan sebuah pulau yang jauh dari peradaban. Pulau yang dipenuhi pepohonan di setiap sisinya. Anggap saja jika pulau itu adalah hutan tak berpenghuni, sebuah hutan kematian, yang jika kau mencoba memasukinya maka dipastikan kau tak akan kembali pulang.

Tapi itu semua hanyalah sebuah cerita, cerita yang terbawa angin, memasuki telinga, terucap dari mulut ke mulut. Hingga tak ada bukti jelas jika pulau itu benar adanya.

Hingga suatu hari...

"Larilah ke ujung selatan pulau! Kau akan menemukan kastil! Cepat!"

Kalimat itu terus terngiang, menjadikannya sumber tenanga untuk terus memacu melawan lumpur, kerikil, ranting, hingga akar pohon yang setiap saat menghalangi laju larinya. Entah dia tengah dikejar atau mengejar sesuatu, yang pasti dia harus terus berlari. Berlari meninggalkan jejak dengan sumpah tak akan menginjak bekas piajaknnya kembali.

"Hahhh! Haahh! Haaaahhhh!"

Namun, menusia tetaplah manusia. Tubuhnya memiliki batas, dia perlu istirahat, tapi berhenti sebentar saja akan menghentikan segalanya. Dan dia memilih berhenti.

Menunduk memegang lutut yang terasa ngilu. Sudah tiga hari pulau yang berisi hutan ini diguyur hujan lebat. Lumpur telah menutupi sebagaian besar tubuhnya, kulit pucatnyapun tak terlihat lagi. Lumpur itu ikut menyamarkan sobekan baju dan goresan di tubuhnya.

Ia menengadah, menatap langit legam yang seolah mengutuk nasibnya. Masih terasa nyanyian ombak pengantar tidurnya, masih terasa kecupan ibu di keningnya, masih terasa rengekan saudaranya yang meminta bermain. Tapi semua hilang dengan kengerian satu malam yang ia saksikan sendiri. Dan hangatnya pelukan bibi adalah penutup dari segalanya.

"Larilah ke ujung selatan pulau! Kau akan menemukan kastil! Cepat!"

Kembali kalimat itu terngiang, kalimat terakhir bibinya, yang memaksanya untuk terus berlari ke arah selatan. Menyibak semak, membuka jalan yang tak pernah dilalui. Tubuh kecilnya memberi sedikit kemudahan untuk menyelinap memaksa keluar dari alam rimba ini, namun nyatanya ia tidak keluar, tapi terus masuk ke dalam.

"Hahh haahh.. HAHAHAHAHAHAAA.."

Dia tertawa seiring semak terakhir yang berhasil ia lalui. Dan...

BRUK'

Jika kengerian terhebat adalah kematian, maka kutukan takdir adalah penghianatan. Dan jika keduanya ada padamu, buatlah pembalasan dendam!

MONOKROM