Disclaimer: Super Junior hanya milik mereka sendiri, SMent, dan Tuhan semata. Fic ini murni milik saia

Chara: Lee Hyuk Jae, Lee Donghae, Leeteuk

Genre: Angst, Hurt/Comfort

Rated: T

Summary: Saat hujan gerimis turun, lelaki itu datang ke toko funeral milik keluargaku. Dengan kamera SLR yang tergantung di lehernya, sesekali ia mengambil gambar peti-peti mati di hadapannya.

"Peti ini sungguh indah. Rasanya aku ingin membelinya."/ "Adakah kerabatmu yang meninggal?"/ "Aah... anni. Aku ingin membelinya... untukku sendiri." HAEHYUK. Twoshot.

Warning: AU, maksa, ff ini terinspirasi dari lagu yang jadi list song saia, hujan dan toko peti mati yang tidak sengaja saia lewati beberapa waktu lalu. Ff ini MURNI milik saia.

Author's List Song: Back In Time (The Moon That Embraces The Sun OST), Euterpe – EGOIST, Kagayaku Sora no Shijima ni Wa - Kalafina

.

.

How Do You Want Your Funeral To Be Like?

.

.

Chapter 1

Lee Hyuk Jae terduduk di bawah pohon yang daun-daunnya sudah berubah oranye di senja hari. Dipangkuannya terdapat sebuah buku yang baru saja dia bubuhi beberapa paragraf sebuah kisah. Di hadapannya—walaupun sedikit jauh—terdapat bongkahan-bongkahan batu nisan yang diam terpaku. Tak bergerak sama sekali. Satu-satu dedaunan berguguran tertiup angin. Ia menengadah dan menoleh ke kanan. Aah... ia suka sekali menikmati senja di atas bukit ini, di pemakaman elit ini. Tanah pemakaman milik keluarganya, yang diwariskan turun-temurun. Senja terlihat begitu tenang dari bukit ini.

Walau gerimis mulai turun.

Lee Hyuk Jae mengerjap sesaat, seakan ingat sesuatu. Dibukanya buku bersampul cokelat di pangkuannya dan membuka lembar terakhir. Tangannya memungut sebuah foto yang disisipkan di situ. Foto yang sudah diedit menjadi hitam-putih. Lelaki berambut blonde itu menatap foto di tangannya. Foto... yang mengingatkannya pada seseorang. Sahabat baiknya... sekaligus orang yang diam-diam menempati relung hatinya.

.

.

Lee Hyuk Jae's POV

Dua tahun yang lalu...

Bunyi gemerincing bel pelanggan yang tergantung di atas pintu terdengar lagi. Aku yang sedang membereskan rak-rak dan loker di bagian dalam toko segera bangkit dan mencari kakak laki-lakiku. Sebenarnya bukan kakak kandung... dia kakak sepupuku.

"Leeteuk hyung! Ada pelanggan!" seruku. Yaa... aku mempunyai sebuah toko di depan rumah.

"Ah, ne, ne!" jawab Leeteuk hyung segera berlari ke depan. Aku memandangi kakak sepupuku itu langsung menangani pelanggan.

Kulirik jendela di sisi kananku. Aah... gerimis turun lagi. Padahal aku ingin sekali keluar. Apalagi aku juga sibuk mengingat banyak pelanggan yang datang hari ini. Haiish...

Toko milik keluargaku ini—toko yang menjual berbagai barang untuk upacara pemakaman dan orang mati. Mulai dari dupa hingga peti mati ada di sini. Untung toko bergaya tradisonal namun minimalisku ini cukup besar. Jadi, peti mati pun bisa muat dijual di sini. Huuft...

Saat aku masih kecil, aku suka protes pada ibu karena kupikir, kami menjual barang-barang yang aneh dan diperuntukkan untuk orang mati. Teman-temanku saat itu sering mengejekku karena mereka pikir aku ini mengerikan. Bukan perawakanku, tapi pekerjaan orangtuaku. Ya itu tadi, menjual barang-barang untuk orang mati. Tapi, seiring aku tumbuh dewasa, teman-temanku mulai menganggapnya maklum. Bahkan... sesekali temanku jadi pelanggan kami.

Tapi... sampai saat ini aku masih sering berpikir ini aneh. Kenapa tidak membuka toko yang menjual barang yang lebih waras sedikit? Misalnya saja barang-barang kerajinan atau makanan? Belum lagi ibuku juga membuka bisnis tanah pemakaman di atas bukit sana. Aiish... kenapa harus barang yang berbau funeral? Bergidik rasanya jika memikirkan itu.

"Eunhyuk-ah... tolong bantu aku menangani pelanggan, ya? Ahjumma belum pulang dari pertemuan dengan kliennya untuk mengurusi lahan pemakaman di atas bukit..." Leeteuk hyung memanggilku. Aku hanya bisa mendesah pasrah.

"Ne, hyung..." jawabku malas-malasan. Tapi segera kubuang wajah malas-malasanku dan mulai memasang tampang ramah. Aku mulai menemui pelanggan-pelangganku.

"Oh, Eunhyuk-ah... kudengar ibumu akan memperluas lahan pemakaman di atas bukit?" tanya seorang pelanggan. Seorang ahjumma, teman nenek dulu.

"Benar, ahjummoni, lahan pemakaman di atas bukit akan dijadikan pemakaman elite oleh ibu," jelasku.

"Uwaah... ibumu hebat sekali. Ibumu berbakat jadi pebisnis juga. Apa lagi berhubungan dengan jual-beli tanah makam. Ibumu suka sekali tampil beda, ya? Hahahaha!" Aku hanya tersenyum mendengar pujian itu.

"Tapi... keluargamu pintar juga, Hyukkie-ah. Lahan pemakaman biasanya terkenal angker. Tapi, keluargamu—berawal dari ide kakekmu dulu—lahan pemakaman diperluas dan disulap menjadi taman. Kalau begini caranya, orang-orang akan lebih berani berkunjung ke pemakaman." Terdengar gelak tawa. Aku hanya terkekeh kecil. Di belakang meja kasir, aku bisa melihat Leeteuk hyung ikut tersenyum.

Gemerincing bel pelanggan terdengar lagi. Seorang lelaki bertubuh tegap dan berambut cokelat gelap masuk. Bajunya sedikit basah karena hujan gerimis. Ia membungkuk pada Leeteuk hyung dan dibalas oleh bungkukkan serupa. Ia menyandarkan payung transparannya di sisi pintu dan mengambil kamera SLR yang tergantung di lehernya. Mulai menjepret gambar.

Aku tak sengaja melirik ke arahnya ditengah-tengah obrolanku dengan pelanggan. Mataku kini tertuju padanya—yang asyik menjepret gambar. Alisku mengernyit. Perlahan kudekati dia yang kini sedang asyik melihat-lihat hasil jepretannya.

"Annyeong..." sapaku ramah. Menyadari aku mendekatinya, ia pun berbalik. Diarahkannya lensa kameranya ke arahku dan terdengarlah bunyi 'ckreek' dari dalam kameranya. Aku tercekat.

"Annyeong..." jawabnya seraya tersenyum manis. Aku sedikit kesal karena ia mengambil gambarku tanpa permisi.

"Ada yang bisa kubantu?" tanyaku.

"Aah... tidak. Aku hanya ingin melihat-lihat," jawab lelaki itu. Ia kemudian berjalan mengitari toko sambil melihat-lihat barang-barang dagangan. Aku hanya melihatnya seraya mengikuti, siapa tahu ia ada pertanyaan. Walaupun awalnya aku sebal padanya.

Kulihat ia meraba sebuah peti mati berwarna cokelat di hadapannya. Rasa antusias terlihat jelas dari wajahnya. Tak henti-hentinya ia bergumam kagum. Ia pun menjepret beberapa gambar lagi dengan sudut angle yang berbeda.

"Peti itu terbuat dari kayu berkualitas tinggi yang diukir dan dipelitur indah," jelasku. Lelaki di sisiku ini hanya mengangguk.

"Peti ini sungguh indah. Ukirannya sungguh klasik. Aku jadi ingin membelinya."

"Aah... adakah kerabatmu yang meninggal?" tanyaku hati-hati. Lelaki berambut cokelat gelap itu mengalihkan pandangannya ke arahku. Ia tersenyum ramah padaku, membuatku tercekat.

"Aah... anni," katanya sambil terkekeh. "Aku ingin membelinya... untukku sendiri."

Dan detik kemudian, aku berhasil membatu.

.

.

Namanya Lee Donghae. Dia hobi fotografi dan jalan-jalan. Setiap ia keluar rumah, ia selalu membawa serta kamera SLRnya. Ia suka menyibukkan diri dengan kegiatan fotografinya. Menurutku, ia unik... dan sedikit misterius—dengan ketertarikannya pada funeralisasi. Foto-fotonya berkesan kelam. Begitu menyentuh hati dan mengharukan. Membuat siapa saja ingin menitikkan air mata jika melihatnya. Ia suka makam, juga lukisan tentang kematian. Selain itu, ia juga suka mengambil gambar pemadangan yang menyedihkan seperti malam dan pemakaman. Dingin dan gelap. Kesukaannya yang aneh itu sempat membuatku merinding dan mengernyit heran.

Karena musim gugur, hujan sering turun. Aku selalu mengeluh jika hujan turun. Tapi beda dengan Donghae. Ia akan tersenyum puas jika hujan turun. Suka sekali aku mengernyitkan dahiku melihat ia terlihat ceria saat hujan turun. Ia akan keluar dan sibuk menjepret gambar-gambar. Dengan berbekal payung transparannya, ia akan bela-bela keluar dan segera mengarahkan kameranya ke objek yang dikiranya menarik. Di belakangnya, aku hanya bisa mengernyit heran. Oke, satu kesimpulan muncul begitu saja di otakku.

Donghae sangat menyukai hujan.

"Eunhyuk-ah, kalau kau mati nanti, kau ingin pemakaman yang seperti apa?" tanyanya saat kami berdua duduk-duduk di atas bukit—lahan pemakaman milik keluargaku. Aku meliriknya sambil berjengit.

"He?" tanyaku heran. Tanganku berhenti menulis di atas buku bersampul cokelatku dan mulai berpikir. "Kita baru kenal, kau sudah hendak merancang upacara kematianku?" Aku terkekeh.

"Ahahaha! Bukan begitu. Orang pernah bilang, mengetahui bagaimana orang ingin dimakamkan bisa memberitahukan banyak hal tentang orang itu," katanya.

"Ho? Jinjjareo?" tanyaku, walaupun sedikit bergidik juga. "Eeum... aku ingin hari itu cerah, tapi tidak panas. Rerumputan dibasahi embun pagi. Sedikit berangin, yang membawa wangi bunga mawar. Semua orang berkeliling di sekitar makamku dengan pakaian serba putih. Mereka meletakkan bunga matahari satu per satu di pusaraku... dan satu lagi! Aku tak ingin mereka semua menangis," jawabku.

"Hahaha! Pesta akhir kehidupan yang aneh! Bagaimana mungkin mereka tak menangisi kepergianmu!" Donghae tertawa.

"Aku tak ingin mereka menangis! Itu saja! Karena..." Aku terdiam sejenak. "Karena aku benci melihat orang menangis... itu menyakitkan," lirihku. Aku pun menunduk. Donghae mengacak-acak rambutku.

"Aargh! Nanti tatanan rambutku rusak!" gerutuku. Ia malah tertawa terbahak-bahak. "Bagaimana denganmu?"

Donghae tersenyum. Ia menatap lurus ke depan—menatap deretan batu nisan di hadapan kami. Ia menekuk kedua lututnya dan bersandar di batang pohon. Aku meliriknya penasaran.

"Aku ingin kematianku nanti sederhana. Orang yang melayat tak harus banyak. Mereka menangisi kematianku juga tak apa. Hari itu mendung. Hujan gerimis turun. Daun-daun kering beterbangan ditiup angin. Orang-orang yang melayat menggunakan pakaian hitam dan meletakkan bunga lyli putih di atas pusaraku," katanya. "Dan... aku ingin mati sebagai orang yang berguna bagi orang lain."

Aku tertegun dengan ceritanya. Rasanya sedih...

"Kau..." gumamku. "Kenapa suram begitu? Rasanya menyedihkan sekali suasananya."

"Geurae? Hahaha! Tapi aku menyukainya. Rasanya tentram. Aku tidak suka hal yang terlalu meriah." Donghae tersenyum hingga matanya hampir tenggelam. Oh, oke... aku menyerah! Aku tak bisa berkata apa-apa kalau dia sudah bercerita tentang ke-addict-annya pada funeral dan sesuatu yang kelam.

Tapi, entah kenapa, semua keanehannya malah membuatku akrab dengannya.

"Hyukkie-ah."

"Ne?"

"Kau suka menulis?"

"Ne... aku berencana membuat novel." Donghae sedikit kaget.

"Ho? Jinjja?" Nada bicaranya naik satu oktaf. Aku tertawa.

"Yaa... tapi aku baru menulisnya sedikit. Kau juga kenapa bisa menyukai fotografer? Apalagi semua fotomu itu membuat hatiku mencelos, kau tahu?"

"Ahahaha! Jinjja? Hmm... kenapa ya?" Donghae sok berpose seakan sedang berpikir. Aku hanya menatapnya datar. "Entahlah. Aku menyukainya karena aku tak pandai mengekspresikan perasaan dengan tulisan ataupun kata. Jadi... aku lebih suka mengekspresikan perasaanku dengan foto." Donghae menerawang jauh. "Lagipula, memotret juga menyenangkan," statemennya padaku seraya menoleh.

"Lalu... funeralisasi dan lain-lain itu? Kenapa kau bisa menyukainya?" tanyaku penuh selidik. "Dan... kenapa ketika kita bertemu waktu itu... kau bilang ingin membeli peti mati untuk dirimu sendiri?"

"M... entahlah... aku suka saja. Rasanya... suasananya berbeda dari biasanya. Tenang, sunyi, sedih..." jelasnya. "Kalau peti mati... aku suka ukiran-ukirannya. Aku jadi ingin memilikinya, untuk koleksi mungkin? lagipula, jika aku mati nanti, peti itu bisa kugunakan."

"Eeh? Aiish... jinjja. Aku tak bisa membayangkan jalan pikiran anehmu itu, Donghae-ah!" kataku frustasi. "Lalu bagaimana dengan hujan?" tanyaku lagi.

"Hujan selalu membuatku tenang. Itu saja."

"Hanya itu? Aiish... aku heran kenapa ada orang yang bisa menyukai hujan. Menurutku, hujan itu menyusahkan!" Aku menyedekapkan tangan dan memajukan bibir. Donghae terkekeh lepas.

"Kau juga. Kenapa kau suka ke sini? Katanya kau tidak suka dengan sesuatu yang berbau kematian..."

"Entahlah. Mungkin, sejak makam ini di-make over, aku jadi suka ke sini. Karena tidak menakutkan lagi. Hahahaha!" Aku tertawa. "Apalagi... pemandangan dari atas bukit ini juga sangat bagus. Baik untukku menggali inspirasi menulisku," kataku seraya menoleh ke kanan, menikmati pemandangan kota Seoul dari atas bukit.

Tapi, sedang asyik-asyiknya bercengkerama sambil menikmati pemandangan, tiba-tiba hujan turun lagi. Kami berdua segera tercekat.

"Hyaaa! Hujan!" seruku panik seraya berdiri, membereskan bukuku, dan merebut payung yang Donghae bawa. Segera saja aku membuka payung transparan itu. Tapi, si pemilik bukannya merebutnya dariku, dia malah berlari ke tengah-tengah dan berputar-putar seperti anak kecil.

"Ya! Hae-ah! Kau ini kenapa malah hujan-hujanan!" seruku.

"Ini mengasyikkan, kau tahu?" serunya. Segera saja ia membidik suatu objek yang menurutnya bagus dan menjepret kameranya. "Eunhyukkie! Kemari!"

Aku sukses terbelalak.

"HAA?"

Donghae menarikku untuk ikut hujan-hujanan. Payungnya masih setia kubawa.

"Aah, andwae! Nanti aku basah kuyup...!"

"Ini menyenangkan! Kau juga harus ikut!"

"E-eeh? M-mwoya? H-Hae-ah!" Ooh... baiklah... aku tak bisa mengelak. Akhirnya, aku basah juga. Sepatu ketsku kemasukan air, celana jeans dan bajuku basah kuyup walaupun aku membawa payung. Donghae hanya tertawa-tawa. Ia benar-benar basah dari rambut hingga ujung kaki. Sempat aku khawatir dengan kameranya. Untung kamera itu tahan air. Walaupun awalnya aku tak suka hujan, perlahan—karena ajakan Donghae—aku mulai menikmati permainan ini. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku bermain hujan-hujanan seperti ini. Mungkin saat aku masih kecil.

"Hyukkie-ah! Kau berdiri di sana! Aku akan mengambil fotomu dengan latar belakang pemandangan kota!" pintanya sambil menunjuk pagar pembatas bukit.

"Hee? Di sini?" tanyaku sedikit berteriak. Suara hujan meredam suaraku. Donghae mengangguk.

"Aaa, tapi Hae-ah... aku tak begitu pintar mengambil pose..."

"Aiih, cukup menghadap kemari dan pegang payung itu saja. Jangan lupa tersenyum. Yang manis!" Aku sedikit malu-malu. Tapi, kuturuti saja apa maunya. Donghae segera memfokuskan lensa kameranya dan menjepret gambarku.

CKREKK!

"Oke. Satu lagi, ne?"

"Lagi?"

"Ne. Sekarang, kau pura-pura menoleh ke belakang seakan kau sedang menikmati pemandangan. Eeehh... payungnya jangan sampai menutupi wajahmu. Ah, ya! begitu!" Aku menuruti pengarahan darinya. Sedikit gugup juga karena aku tak biasa difoto. "Oke! Siaap..." Kembali kudengar suara samar kameranya menjepret gambarku.

CKREKK!

Donghae tersenyum puas setelah melihat hasilnya. Membuatku penasaran.

"Eh, perlihatkan padaku..." pintaku. Setelah kulihat... ternyata jepretannya bagus sekali. Sungguh artistik dan berseni. Ekspresiku yang saat itu biasa-biasa saja seakan jadi lebih 'wah'. Ah, dia memang berbakat menjadi fotografer.

"Bagaimana? Bagus, kan?" tanya Donghae sambil menaik-turunkan alisnya.

"Hiish! Tidak usah sombong, kau!" Kupukul lengannya bercanda. Ia meringis sambil tertawa.

"Foto ini akan kuikutkan ke ajang fotografi. Nanti, aku akan cetakkan untukmu," Donghae tersenyum. Aku tercekat.

"M-mwo?" nada bicaraku naik satu oktaf. "Andwae! Jangan ikutsertakan foto itu..." rengekku. Tanganku berusaha menggapai kamera Donghae, hendak menghapus foto-fotoku yang tadi ia ambil.

"Aaa... tidak bisa Eunhyukkie... ini foto yang bagus, kok!" Donghae tertawa-tawa sambil mejauh-jauhkan kameranya.

"Aaa, Donghae-ah! Berikaan..."

Dan kemudian, terjadilah insiden kejar-kejaran di antara kami. Hujan gerimis terus mengguyur tanah pemakaman dan meninggalkan butir-butir air yang tersangkut di helai-helai rumput hijau. Suara kecipak kaki kecil kami terdengar begitu merdu, menyipratkan tanah merah ke celana jeans kami.

Kami tertawa lepas.

.

.

Tak terasa sudah hampir setahun persahabatanku dan Donghae berjalan dengan baik. Donghae juga akrab dengan ibu dan Leeteuk hyung. Sesekali, ia akan main ke rumah dan ibu selalu memasakkan makanan kesukaannya. Ibu sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Ibu hanya memerlukan waktu yang singkat untuk bisa dekat dengan orang baru, seperti Donghae dan teman-temanku yang lain. Beliau memang orang yang sangat friendly pada siapapun, apalagi dengan anak-anak yang seumuran denganku. Atau bahkan lebih muda.

Aku dan Donghae senang pergi bersama. Kadang, jika aku ada urusan keluar, ia pasti menawarkan diri untuk menemaniku. Jika sebaliknya, ia suka mengajakku pergi bersamanya. Aku tak pernah memintanya menemaniku. Selalu saja ia duluan yang menawarkan untuk menemaniku. Ia sungguh sahabat yang baik dan perhatian. Tak hanya padaku, tapi juga pada orang lain. Ia juga suka anak kecil, hal itu baru kuketahui. Aku hanya bisa tersenyum diam-diam melihatnya asyik dengan anak-anak di taman bermain. Dia sahabat terbaik dalam hidupku.

Sesekali ia akan menjepret beberapa gambar di sana-sini. Aku juga—lagi-lagi—menjadi objek fotografi dadakannya. Dasar, dia ini. Donghae mentraktirku satu cone es krim strawberry dan es krim vanila untuknya sendiri. Kami menikmati es krim di genggaman kami sambil duduk di bangku-bangku yang tersedia di pinggir jalan.

Diam-diam, kulirik Donghae yang sedang asyik menjilati es krimnya. Sesekali badannya bergetar karena kelezatan es krim pesanannya. Gumaman 'enak sekali' tak berhenti keluar dari mulutnya. Aku tergelak. Dia benar-benar seperti anak kecil. Walaupun sering jadi bahan ejekanku bersama Leeteuk hyung, tapi sisi kedewasaannya masih tetap mendarah daging. Bahkan, sering sekali karena tubuhku kecil dan sedikit lemah, aku diperlakukan seperti perempuan! Huh!

Kulirik lagi wajah kusyuknya saat melahap kerupuk cone es krimnya. Wajahnya yang ceria, penuh tawa dan senyuman hangat. Perhatiannya padaku... itu sungguh membuatku senang. Dan entah kenapa, rasanya dadaku ini bergemuruh saat kulitnya menyentuh kulitku. Pipiku langsung merona. Ah, apakah ini yang namanya jatuh cinta?

Sunyi sejenak. Hanya terdengar gemuruh orang berbicara di depan sana dan bunyi klakson kendaraan.

"Eunhyuk-ah."

"Hm?"

"Kau tahu, kan, umat manusia di belahan bumi yang lain masih ada saja yang belum merasakan bagaimana rasanya merdeka? Perang masih saja bergejolak di mana-mana." Aku terdiam. Hanya menolehkan wajahku ke arah pemuda berambut cokelat gelap di sebelahku. Eits, tunggu. Ada apa dengan topik kali ini? Yaah... perang di belahan bumi sana sedang bergejolak. Belum lagi pemberontakan-pemberontakan juga terjadi. Sering aku lihat di televisi ketika Leeteuk hyung menyalakannya. Donghae menerawang jauh.

"Rasanya miris jika mendengar berita itu di televisi. Apalagi dengan gambaran yang nyata."

"Aku sempat berpikir, kenapa manusia itu susah untuk saling memaafkan dan malah lebih mudah membesar-besarkan masalah hingga perang meledak. Saling melukai satu sama lain..." Aku masih setia mendengarkan curahan hati sahabat di sampingku ini.

"Tak lihatkah mereka akan anak-anak yang menderita akan hal itu? Para wanita yang tak berdaya? Rumah-rumah mereka dihancurkan tanpa sisa? Berbagai penyakit mulai merajalela. Satu per satu manusia tak berdosa menemui ajal," kata Donghae yang berapi-api menggantung. Ia kini menoleh ke arahku. "Bukankah... itu miris?"

Aku menatap lekat-lekat mata gelap Donghae.

"Rasanya... aku ingin sekali membantu mereka. Tapi, apa daya aku tak tahu caranya..." Donghae membuang napas dan menunduk. Aku menengadahkan kepalaku perlahan. Aku tak menyangka, kepedulian Donghae ternyata sebesar ini pada orang lain. Walaupun aku juga punya kepedulian seperti itu, tapi langsung putus di tengah jalan. Bukannya aku langsung melupanakn dan tidak ada usaha... hanya saja... aku takut.

"Lalu... bagaimana?" tanyaku.

"Setelah kupikir-pikir, aku pun menemukan jalan keluarnya setelah aku mencari cara terbaik yang bisa kulakukan. Setelah aku pertimbangkan hal ini matang-matang..." Aku seakan penasaran dengan kalimat lanjutan yang akan dilontarkannya.

"Aku mendaftarkan diri untuk menjadi relawan dan akan dikirim ke sana seminggu lagi."

Sejenak kemudian, rasa penasaranku lenyap. Wajahku berubah kusut. Mataku terbelalak tak percaya. Senyum di bibirku memudar. Ini... terlalu tiba-tiba. Apalagi... ia tidak cerita padaku sampai akhirnya ia mendaftarkan diri menjadi relawan. Aku cukup syok. Kulihat Donghae tersenyum lepas saat berkata begitu. Hal itu serasa menembak jantungku hingga darahku seakan berhenti mengalir. Rasa kecewa tak bisa kupendam lagi.

Aku menatapnya dengan tatapan gelisah. Donghae nampak tersenyum seraya menatap jalanan. Perlahan kutundukkan kepalaku dalam. Tak kusangka keputusannya begitu memberatkanku. Dadaku terasa sesak. Aku ingat dengan perasaanku padanya—yang tadi sempat terlintas di benakku.

Akankah... ini akan menjadi cinta pada pandangan terakhir?

.

.

TBC

A/N: Hyaaa... saia balik sama fic baru... saia kok nulisnya nyesek, ya? Hehehe. Kangen bikin fic angst niih... setelah fic saia yang lalu kena hapus. Sempet hiatus karena syok dan gak ada ide. ==

Maaf kalo ada salah tulis. Ide ini mendadak muncul. Yaah... semoga kalian suka, deh. Saia lagi pingin mengangkat HAEHYUK or EUNHAE di sini. Jadi, para HAEHYUK or EUNHAE shipper, merapatlaaahhh~

Akhir kata, mind to review?

Ms. Simple :D