Title : A Thousand Years

Main Cast : Tao,Kris,Chanyeol

Pair : Taoris, ChanTao

Genre : angst romance supernatural

A thousand years

chapter I

Hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan segera reda. Siang itu. orang-orang berpakaian hitam mulai memenuhi pemakaman itu. semuanya berpakaian rapi. Seakan ingin menghormati seseorang. Semuanya hitam. Begitupun payung yang mereka gunakan untuk melindungi tubuh mereka dari guyuran hujan.

Hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan segera reda dan tak seorangpun Nampak peduli. Isak tangis masih sesekali terdengar diantara orang-orang yang mengelilingi gundukan tanah segar itu. seketika setelah jasad yang mereka cintai itu bersemayam di dalam peti mati,ditimbun tanah yang basah, orang-orang tak sanggup lagi membendung lagi air matanya. Mereka saling memeluk,menguatkan dan mencoba merelakan kepergian orang terkasih itu.

Tetapi wajah pria itu tak menunjukkan apapun. Tak setetespun air mata tampak di matanya yang sudah bengkak. Bengkak bagaikan menangis tanpa henti. Bajunya ,yang sama hitamnya dengan rambutnya yang kini basah sebab ia tak mau repot-repot melindungi dirinya dari hujan. Tak sedikitpun ia gemetar kedinginan. Seolah telah mati rasa. Tubuhnya berdiri tegap. Kedua tangannya mengepal di kedua sisi. Ia meremas buku-buku jarinya hingga sampai memucat. Kuku-kunya yang panjang menancap di telapak tangannya. Ia tak peduli apabila hal itu bisa membuat telapak tangannya berdarah. Bibirnya yang mungil terkatup rapat. Pucat. Amat pucat. Seolah tak pernah ada darah yang mengallirinya. Matanya yang tajam menatap lurus ke bawah. Ke gundukan tanah dimana orang yang amat ia cintai,kasihi, dan sayangi berakhir.

Satu persatu orang-orang mulai meninggalkan makam setelah mengucapkan doa terakhir. Masih diiringi isak tangis. Seorang pria dengan rambut pirang madu bergerak maju kea rah pria yang basah kuyup jauh di depan makam tersebut. Seakan ragu-ragu, ia berjalan perlahan dan memayungi pria itu, berharap memperoleh perhatiannya.

Tetapi nihil.

Pria itu bergeming. Matanya kosong. Wajahnya pucat. Tak ada sedikitpun emosi yang tergambar.

"Zitao, ayo pulang" ajak pria yang membawa payung.

Tak ada balasan.

"Zitao, kau bisa sakit" ia tetap bersikeras dan pria yang bernama Zitao itu mendengus.

"Zitao ! sekali lagi –

"bagaimana mungkin aku meninggalkannya" suaranya parau.

"apa?" tanya temannya tidak mengerti.

"dia bisa sakit. dia bisa kedinginan di bawah sana. Tidakkah kau pikir begitu, Luhan?"

Luhan mengeluarkan seperti tercekat.

"ya…" lanjut Zitao. "aku akan membawa selimut atau pemanas atau apa saja agar dia tidak kedinginan"

Zitao hendak pergi tetapi Luhan menarik pergelangan tangannya. Kemudian yang Zitao tahu adalah telapak tangan Luhan yang menemui pipinya. keras. Suaranya memenuhi makam yang sunyi.

Zitao terpaku. Matanya membulat lebar. Ia menyentuh pipinya yang sekarang nyeri. Ia baru saja ditampar dan ia yakin tamparan sekeras itu akan meninggalkan bekas.

"Luhan…." Lirih Zitao.

Nafas Luhan memburu. Ia terengah-engah. Bahkan ia sendiri tak menyangka bahwa ia akan menampar adiknya sekeras itu. telapak tangannya ikut-ikutan nyeri.

"Luhan, apa yang kau lakukan pada wajahku ?! dia tidak boleh melihat ini ! apa katanya nanti ?! wajahku mengerikan dan itu salahmu !"

"CUKUP ! SUDAH CUKUP !" Teriak Luhan. Ia tak lagi menggenggam payung yang entah sejak kapan ia tanggalkan. Ia ikut basah kuyup. Tetapi dinginnya air hujan tak mampu meredam amarahnya.

"Dengarkan aku. Zitao" buka Luhan. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengatakannnya. Ia berpikir, berapa kali ia harus mengatakan nya sampai adiknya ini mau mengerti.

"Dia sudah mati" lanjutnya. Ia mengatakan ini dengan ekstra sabar. seakan mengajari anak SD membaca. "dia sudah mati. Pergi. Meninggalkan dunia ini. dia sudah dikubur yang artinya dia tak akan merangkak keluar dengan sendirinya dari tanah itu karena ia sudah mati dan tak akan kembali. Dia sudah-

Zitao tak mau mendengar kelanjutan dari semua itu. maka ia menutup kedua telinganya rapat-rapat. Ia juga memejamkan matanya. Kedua tangannya di menutup semua celah yang mampu membuat telinganya berdengung-dengung oleh perkataan Kakaknya yang kejam itu. ia tak mau mendengar kata itu. ia takut.

"Luhan, jangan katakan itu" bisik Zitao.

Zitao membuka matanya lagi. ia menggerak-gerakkan bola matanya kesana kemari, seakan takut ada yang melihatnya.

"jangan katakana itu. dia bisa marah"

"ma-marah? Apa maksudmu?"

"dia bisa marah" bisik Zitao lagi.

"dan siapa yang akan marah?" Luhan mulai tak sabar.

"Dia !"

Zitao melirik gundukan tanah itu.

"dia tak akan mau permainannya terbongkar. Dia pura-pura tidur supaya kita mengira dia sudah mati. Jadi jangan katakan itu. biar dia member kejutan nanti. Tapi rahasiakan,ya,kalau kita sudah tahu? Ya? mau,kan?"

Zitao mengatakan itu semua dengan semangat seakan menyiapkan kejutan pesta ulang tahun. Sementara Luhan mulai menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya seakan tak percaya. Dia menarik tangan Zitao dengan kasar dan menyeretnya menjauhi makam itu.

"Luhan ! Luhan ! aku tidak mau pergi ? Lepaskan aku !" Zitao meronta-ronta.

"kau bilang dia mau memberimu kejutan,kan?" Luhan memutar tubuhnya dengan tiba-tiba.

"i…ya?"

"lalu kenapa kau menungguinya disini?"

"dia bisa kedinginan !"

" . "

Luhan melirik makam itu untuk terkahir lagi dan menatap Zitao.

"Kita pulang" perintah Luhan.

Dengan itu ia menyeret Zitao yang meronta-ronta lagi.

"Luhan ! lepaskan aku ! aku tidak bisa meninggalkannya ! Luhan, kumohon lepaskan aku !"

Suara teriakan Zitao bergema memenuhi pemakaman itu. dengan susah payah akhirnya Luhan berhasil menjejalkan Zitao ke dalam mobil. Ia tahu ia akan membasahi jok mobilnya dengan dirinya dan Zitao yang basah kuyup. Ia ingin cepat-cepat pergi dari sini.

Zitao menempelkan wajahnya ke jendela mobil. Masih berusaha mendapatkan pemandangan terakhir sebelum ia pergi. Mata Zitao tak pernah meninggalkannya titik itu. ia belum mengecupnya. Ia akan memukul Luhan nanti di rumah. Ingat saja.

Zitao masih menatap makam itu sampai titik itu hilang dari pandangan.

Hujan tak juga menunjukkan tanda-tanda akan segera reda. Karangan bunga dari para pelayat sedikit demi sedikit berguguran didera hujan. Tempat itu sunyi. Hanya sesekali suara burung hantu memekik. Meremangkan bulu bunga masih tercium segar dari titik itu. tanahnya belum gembur. Bunga-bunga masih bertaburan diatasnya rumputnya yang masih baru. Berdiri di antara titik-titik lain. Sama kecilnya. Sama sendirinya. Sama kesepiannya.

RIP

PARK CHANYEOL

Lahir. 27 November 1992

Wafat. 25 Februari 2013