TOMATO TO TROUBLE
A Harvest Moon Fanfiction
Disclamer: The Character is belonged to Natsume and Victory Interactive Software
Warning: Miss Typo(s), ga nyambung, jelek, membingungkan, gaje, abal, ancur, EYD amburadul dan penyakit lainnya mungkin ada di dalam fic ini
^w^Happy Reading^w^
'Dan apakah yang ku dapat?' ku tarik alat pancing kecil ini untuk melihat hasil kerja kerasku selama 5 jam. 'Ya ampun...! Ini sampah ke dua puluh yang telah ku nikmati!' Akupun meninggalkan mineral beach dengan sebuah alat pancing kecil di punggung, sebuah plastik kecil berisi 3 ekor ikan kecil berwarna hijau di tangan kiri, dan sebuah keranjang penuh sampah di tangan kananku. '23:00... masih ada satu jam sebelum waktu tidurku...' kataku dalam hati seraya membuang semua sampah yang baunya hampir membuatku muntah ke dalam tempat sampah yang ada di Rose Square. Setelah puas menganiaya sampah-sampah tadi, aku pulang melewati jalan yang jaraknya lebih jauh dari jalan yang ku lalui saat berangkat tadi. Ku lewati Inn dan Supermarket dengan tenang.
"Tolonglah... Jangan kau adakan lagi...!," terdengar suara seorang pria asing ketika aku berada 5 meter dari Rumah Walikota.
"Itu konyol! Apa masalahnya? Selama ini tak terjadi apa-apa kok!," kini terdengar suara Pak Walikota dengan nada yang belum pernah kunikmati.
"Apa kau tak melihat tanda-tandanya tahun lalu?"
"Tidak! Aku tak melihat apa-apa!," bentak Pak Walikota
Brak terdengar suara bantingan pintu.
"Ini peringatan dariku yang terakhir! Jangan kau adakan atau kau akan merasakan akibatnya! Oh! Tidak hanya kau! Semua warga di desa ini akan menerima akibatnya!," teriak pria asing itu meninggalkan Rumah Walikota dan berjalan ke arahku.
"Berhati-hatilah, Nak!," katanya saat melewatiku. Sorotan mata merahnya yang tajam membuatku tak bisa bergerak. Aku hanya bisa terdiam melihat kepergiannya. Setelah beberapa detik akhirnya aku mulai bisa menggerakkan badan ku. Tatapan matanya tadi membuatku takut. Aku berlari ke arah kebunku tanpa menoleh ke kanan maupun kiri. Begitu sampai di kebun, ku lempar plastik di tangan kiriku ke kolam ikan, ku gendong anjing kecilku masuk ke dalam rumah, ku kunci pintu rumah, meletakkan alat-alat yang kubawa, membawa anjingku ke kasur, dan memejamkan mata setelah berdo'a.
.
.
Guk guk guk terdengar suara anjing kecilku yang sedang berusaha membangunkanku. Entah mengapa, rasa kantuk masih melandaku. Mata coklatku tak mampu terbuka. Beberapa menit kemudian terasa sesuatu yang basah dan dingin berada di wajahku. Akhirnya mataku pun terbuka dan kudapati anjing mungilku dengan enaknya buang air di wajah dan kasurku.
"Heiiiiiii! Rolly! Dasar anjing nakal!," ku lempar anjing yang sedang duduk di mukaku. Kubuka kunci pintu dan ku lempar kasurku keluar, berharap sinar matahari dapat mengeringkan air seni itu.
"Waaaaaaaaaaaaah!" Betapa terkejutnya aku, ternyata bukan matahari yang menyambut kasurku keluar, akan tetapi air hujanlah yang menyambut kemalangan kasurku itu. Dengan cepat ku tarik kasur basah itu ke dalam rumah.
'Bagaimana aku tidur nanti...?' Aku duduk di depan TV, memikirkan kemalangan yang telah melandaku.
.
Tok tok tok "Permisi, Jack? Apa kau di dalam?" Terdengar suara Pak Thomas di antara suara rintikan hujan dari luar rumah. Aku berjalan ke arah pintu dan membukanya. Terlihat Walikota berpayung ungu sedang berdiri di depanku.
"Ada apa, Pak?" Tanya ku.
"Um... Aku hanya ingin memberitahumu, pada tanggal 13 musim ini, kami akan mengadakan Festival Tomat di Rose Square," jawab pria berkumis gigi kelinci itu.
"Festifal Tomat? Seperti apakah Festival itu?" Tanyaku, aku adalah warga baru di desa ini, baru satu musim aku tinggal di kebun tua Kakekku ini, jadi jangan heran jika aku tak tahu apa itu Festival Tomat.
"Kau datang saja, kau pasti senang," jawabnya "Oh ya! Untuk itu, bisakah kau membawakan ku tiga buah jagung ke rumahku sehari sebelum festival itu diadakan?"
"Apa? Sehari sebelum festival? Berarti Hari ini? Mana mungkin menanam dan memanen jagung hanya dalam sehari?"
"Apakah aku berkata kau harus menanam dan memanen? Aku hanya memintamu membawanya! Apa susahnya?"
"Tapi tak ada satu pun jagung di kebun saya! Apa anda tak bisa melihatnya?"
"Meskipun di kebunmu tidak ada, siapa tahu kau menyimpan beberapa di dalam rumahmu? Di kulkas mungkin?"
"Saya tidak punya kulkas! Jagung itu mahal! Saya tak pernah membeli bibit jagung! Lagi pula... Itu Festival Tomat, kan? Untuk apa ada jagung?"
"Untuk ku makan," jawabnya dengan senyuman di bibirnya. " Mengapa kau marah-marah? Akukan bertanya apakah kau bisa melakukannya? Jika tidak bisa, jawab 'Saya Tidak bisa' cukup, kan?"
"Maaf, Pak... Saya sedang bad mood hari ini.."
"Karena hujan ya? Ya sudah, aku pergi dulu... Oh ya... Apa kau tahu ikan bakar yang sudah busuk?" Tanyanya padaku dengan wajah serius.
"Tidak, memangnya ada apa?"
"Baunya seperi bau wajahmu dan badanmu! Hahahahah!," pria bertubuh kecil itu tertawa laknat dan lenyap dari hadapanku.
'Aku... Belum mandi!,' teriakku dalam hati. Akupun berlari membawa peralatan mandi( Handuk dan kawan-kawan) dan pakaian ganti melewati hujan yang sangat deras menuju Hot Spring, pemandian air panas yang terletak tidak jauh dari kebunku. Aneh rasanya, berrendam di kolam yang hangat dengan bertabur air hujan yang dingin, tapi mau bagaimana lagi? Setelah selesai mandi(?), atau lebih tepatnya berrendam di Hot Spring kukembalikan alat mandi dan pakaian kotorku ke dalam rumah. Kemudian kumulai pekerjaan di kebunku.
Pertama aku masuk ke kandang sapi dan domba. Dengan gaya seperti Blitzer di Shaun The Sheep, ku tiup peluit dua kali, tanda berkumpulnya hewan-hewan di kandang itu. Ku keluarkan papan absen dan ku cek satu per satu hewan yang ada, mulai dari kutu sapi ke1, kutu ke2 sapi ke1 sampai kutu ke34 dari kutu ke23 domba ke5. Setelah 3 jam mengabsen, aku menyimpan papan absen dan akan memberi makan hewan-hewan di kandang ini.
Betapa terkejutnya diriku, saat akan memberi makan, ternyata di tempat untuk makan sudah tersedia makanan.
"Siapa yang memberi kalian makan?," tanyaku.
"Kurcaci, Jack. Bold yang memberi makan," jawab Bessy, sapi kesayangan ku.
"Oh, ya sudah," akupun pergi keluar.
Di tengah perjalananku menuju kandang ayam aku berhenti sejenak dan berpikir.
'Eh.. Tunggu dulu... Sejak kapan aku bisa bicara dengan sapi? Lalu... Bessy? Bukankah dia sudah meninggal seminggu yang lalu karena diserang anjing liar?... WAAAAAAA!' dengan cepat aku masuk ke dalam rumah. 'Tak usah ke kandang ayam... Kurcaci pasti sudah mengurus mereka...,' pikirku.
Jam di dinding menunjukkan pukul 13:00. 'Masih siang... Apa yang harus kulakukan? Menonton TV?, ' ya, aku menonton TV dari jam 13:00 sampai jam 19:00. Dan saluran apakah yang kutonton selama itu? Ramalan Cuaca. Setelah puas menonton Ramalan Cuaca, ku lempar anjing kecilku keluar rumah, kemudian akupun tidur di lantai dengan kasur berbau seni di samping kananku.
.
.
"Oaaaahm...," aku terbangun dari tidurku yang cukup tidak nyenyak.
"Apaaa?," teriakku saat melihat jam dinding bulat yang sudah cukup tua yang menunjukkan pukul 09:00. "Satu jam lagi festival itu dimulai! Aku harus bergegas!," aku berlari ke Rose Square . Dalam perjalanan menuju Lapangan Mawar itu, aku sempat berpikir, 'benarkah tidurku tidak nyenyak? Bangun pukul 09:00... Jadi apa aku nanti... Ikan Bakar Busuk?' dan aku pun teringat, 'Aku belum mandi!' Aku berhenti sejenak di Yodel Ranch, berjalan mengendap-endap melewati sapi-sapi yang ada menuju aliran sungai dan membasuh muka dengan air dari aliran air sungai itu. Entah benda apa saja yang hanyut terbawa aliran itu, aku tak peduli. Setelah selesai membasuh muka. Aku berlari dan memasuki Rose Square.
Suasananya sangat meriah, banyak gentong dan juga tomat, terlihat Pak Thomas melambaikan tangan ke arah ku.
"Hei! Ikan Bakar!," teriaknya kepadaku membuatku malu. Aku berjalan pelan ke arahnya.
"Silakan bergabung dengan salah satu kelompok yang ada," katanya padaku.
" Kelompok siapa saja yang bisa ku masuki?," tanyaku.
"Kelompok Bintang milik Ann, Kelompok Ayam milik Rick, Kelompok Sapi milik Stu, dan Kelompok Anggur milik Duke," jawabnya.
"Ehm... Apa anda tahu Karen masuk tim yang mana?" bisikku kepada pria tua itu.
"Karen!," teriaknya "Sayang sekali, dia tidak ikut. Datang saja tidak..."
"Oh... " kataku kecewa. Akupun berjalan ke pinggir lapangan, berharap gadis bersuara indah itu datang.
"Hei, Jack! Maukah kau masuk tim kami? Kami kekurangan orang..," pinta seorang wanita cantik.
"Oh! Jack! Masuk lah dalam tim kami! Dengan dirimu, diriku, dan istriku, kita pasti akan menang!," kata Pak Duke penuh percaya diri.
Tanpa berpikir panjang, aku masuk dalam tim mereka, dan acarapun dimulai.
.
"Ya, acara akan segera kita mulai, masing masing ketua kelompok diharap menyiapkan barisannya," kata pembawa acara bernama Ayu Dewi(?). Semua ketua kelompok pun merapikan barisan anggotanya.
"Wah, panas sekali ya cuaca hari ini?," tanya presenter berrambut panjang itu. "Apa kalian tahu mengapa panas sekali? Ya karena ini musim Panas. Hahahahah. Summer, itulah musim kita kali ini, summer yang panas, dengan kata lain HOT SUMER! Kita saksikan! Pembuka acara kita! F(x) dengan Hot Summer!"
Segerombol gadis korea cantik pun datang dan menari sambil bernyanyi. "Hot Summer a Hot Hot Summer...~" setelah selesai menyaksikan penampilan dari GirlBand Korea itu, kami mulai pertarungan tomat kami. Ternyata tidak sulit, aku hanya harus melempar tomat ke wajah musuh yang bisa bersembunyi di belakang gentong dan aku juga harus bersembunyi di belakang gentong agar tidak terkena tomat musuh. Setelah ribuan tomat melayang di udara, pertandingan pun selesai dengan kemenangan Tim Anggur, yaitu tim kami. Dan saat upacara penobatan sebagai pemenang berlangsung, sesuatu yang aneh terjadi.
To Be Continue
Hyahahahah, gmna? jelek? buruk? garing?
Pilihan ada ditangan anda untuk me-klik tanda silang di layar pojok kanan atas atau sekedar menghapus tab ini, tpi sya akan lbih senang klo anda meklik 'REVIEW' :3
Mohon kasih kripik eh kritik, saran, masukan, pendapat, argumen, komentar, like, dislike, dumb, flame, fire, burn, cure, cura, thunder, thundaraga, aero, haste, uang, barang, perhiasan, muntahan(?), apa ajalah yg bsa diksih ke aq :3
