BoBoiBoy © Animonsta.

Star Trek Starship name © Paramount

!Warning!: Typo, OC, OOC, Ceritanya mereka sudah dewasa, I don't care.

Written by UnnamedHexo a.k.a Windows 7 Ultimate a.k.a Kent Lavis.

Enjoy.


STARBASE 01.

"Ya, bagaimana? Bagus kan pesawatku ini?"

"Ya bagus. Hanya saja tidak ada Ciciko tidak menyenangkan."

Semua menoleh, kearah sosok yang telah kita kenal selama ini.

"Sudahlah BoBoiBoy. Ikhlaskan kepergian Ciciko, kan masih ada Fang dan Kaizo." ucap Yaya.

"Betul BoBoiBoy. Kita juga bisa beraksi tanpanya." sahut Ying.

"Kalian tidak ingat ya? Siapa yang membawa kita masuk ke TAPOPS? Siapa yang membuat kita bisa berjalan sejauh ini? Ciciko bukan. Dan jangan lupakan kita berada di tahun yang berbeda di dimensi yang sama."

Ucapan Boboiboy membuat semua tersentak, ucapan Boboiboy memang benar, jika bukan Ciciko siapa lagi yang akan membuat mereka bisa berjalan di Galaxy?

Suasana berubah hening. Fang berusaha mencairkan suasana. "Eh,kalian lihat diluar tuh. Sudah malam, yuk tidur." Ucapan Fang membuat semua orang menatap kearah Fang dengan ekspresi tatapan kesal.

"Hey, luar angkasa memang seperti ini lah! Kau kira ini Bumi?" teriak Ying. Ucapan Ying langsung disahut oleh BoBoiBoy, "Sudah, sudah. Benar kata Fang. Kita harus tidur agar tidak kecapaian."

Ucapan Boboiboy tidak direspond seorangpun. Semua teman-teman BoBoiBoy hanya menuruti perintah BoBoiBoy, kembali ke kamar masing-masing.

Boboiboy berjalan ke kamarnya, melepas topinya dan rebahan. Setiap kali Boboiboy hendak tidur, ia selalu terbayang tragedy 4 bulan lalu.

Flashback, Boboiboy POV.

Semua terlihat biasa, hanya ada kegelapan dan kesunyian disini, pikirku. Aku memutuskan ke Anjungan kapal. Tidak ada siapa-siapa. Hanya kapal yang dikendalikan dengan Autopilot menuju planet selanjutnya. Aku melamun sangat lama, hingga akhirnya ada yang mengagetkanku, ternyata itu Yaya.

"Boboiboy, kau belum tidur?" tanyanya.

"Belum, aku tidak bisa tidur." jawabku singkat.

"Hahahaha, aku juga."

Yaya merapat disamping kiriku, memegang tanganku dan menaruh kepalanya dibahu kiriku. Membuat hatiku yang gundah ini menjadi tenang, meski tidak sepenuhnya.

"Ying sudah tidur ya?" tanyaku. Yang hanya dijawab Ya oleh Yaya.

"Gopal juga sudah tidur?" tanya Yaya.

"Ya." jawabku singkat.

"Oh ya, bagaimana keadaan Fang dan Kaizo?" peranyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulutku.

"Mereka baik-baik saja. Tadi aku sempat menghubunginya, kata Fang ia menuju ke planet yang ia beri nama 'KEPLER-9082'. Katanya sih ada Sfera Kuasa disana. Aku lupa namanya."

"Heh." aku tertawa kecil tanpa tersenyum. Yaya makin mengeratkan pegangan tangannya.

"Kau kenapa Boboiboy? Kau tidak seperti biasanya." tanyanya polos.

Sejujurnya aku bingung saat ia menanyakan hal itu, aku harus berbohong atau jujur. Jika Berbohong dosa, Jujur akan membuat suasana menjadi tidak enak. Tapi akhirnya aku memilih jujur saja.

"Aku sebenarnya ingin berbohong. Tapia pa boleh buat, daripada membuat diriku sendiri sakit dengan hal ini lebih baik aku jujur saja, dengarkan baik-baik." ucapku padanya. Aku menarik nafas panjang, membuangnya lagi. Aku membuat posisiku dan Yaya Face to Face sebelum berbicara.

"Kuharap kau jangan terlalu mencemaskanku setelah mendengar ini."

"Entah mengapa, aku merasa hidupku tidak akan lama lagi, juga Ciciko dan pesawatnya. Setiap kali aku hendak tidur hatiku dibuat gundah oleh perasaan ini. Aku juga tidak tahu kapan dan darimana perasaan ini datang, tapi itu terasa nyata. Aku…. tidak tahu apa yang harus kulakukan. Jika aku mati, jangan terlalu menangisi aku, oke?" Ucapku, dan setelah menjelaskan semuanya, air mata keluar dari mataku. Aku menatap Yaya, ia juga mulai menangis, dengan cepat ia memelukku, sangat erat.

"Kumohon Boboiboy, jangan pergi.. Hiks.. Aku tidak bisa hidup tanpamu."

"Aku juga Yaya, tapi aku tidak tahu kapan aku mati. Ingat baik-baik, jika aku mati, jangan terlalu menangisi aku Yaya." balasku.

Aku melepas pelukanku, Yaya mengikuti. "Aku tidak tahu kapan aku mati, tapi aku rasa Ciciko beserta pesawat ini tidak akan lama lagi. Kau percaya perasaanku ini Yaya?" aku bertanya dengan penuh harap.

"Aku selalu percaya padamu, Boboiboy. Kau belum pernah berbohong padaku." balasnya dengan tatapan percaya.

Aku hanya tersenyum tipis mendengar jawabannya. Tapi senyumku hilang ketika radar kapal menunjukkan sesuatu. Sebuah titik hijau yang sangat cepat, dan arahnya menuju kapal Ciciko.

"Apa itu Boboiboy?" tanya Yaya.

Aku hanya mengangkat bahu. "Berapa lama benda itu akan sampai disini?" tanyaku pada Autopilot.

"Lima detik, tuan." ucap Autopilot.

"Pesawat apa itu?"

"Unknown ship. Spaceship speed: Warp 4." ucap Autopilot.

"Warp 4?" tanyaku Heran.

Sebelum pertanyaanku terjawab, sebuah pesawat yang besarnya 3 kali pesawat ciciko sudah ada di depan pesawat Ciciko. Aku hanya melihat pesawat yang familiar bagiku, dan tulisan "USS Reliant, NCC-1864".

"Hey, itukan pesawat Reliant dari Star Trek: Wrath of Khan? Apakah Dia mengalami perpindahan waktu?" tanyaku pada Yaya.

"Kurasa, tapi ini tahun 2058." balas Yaya.

"Cepat bangunkan semuanya, kita ada masalah." perintahku.

Yaya hanya mengangguk dan hendak berlari, tapi sebelum ia berlari aku memegang lengannya. Dia berbalik menatapku, aku hanya berkata "Kurasa ini akhir dari Ciciko dan pesawatnya. Jangan beritahu siapa-siapa, oke?"

Yaya hanya mengangguk, dan ekspresi sedih yang terpampang diwajahnya. "Oke." balasnya sebelum kembali berlari.

Aku hanya diam, dan kembali melihat kearah Reliant.

Yaya POV.

'Aku harus cepat, aku harus cepat.'

Akhirnya aku sampai dikamarku, dan segera membangunkan Ying.

"Ying, bangun. Kita ada masalah." Aku berusaha membangunkan temanku.

"Hmmh… Masalah apa? Musuh lagi?" tanyanya sambil mneggeliat dikasur.

"Ish, bukanlah! Cepat bangunkan Ciciko, aku akan membangunkan Gopal."

Ying yang kaget akan teriakanku sampai terjatuh dari tempat tidurnya.

"Adudududuh… Santai kalau membangunkan orang! Sialan kamu, sakit tahu!" crocos Ying.

"Lagian kau tidak cepat bangun! Udah-udah, kau cepat bangunkan Ciciko, Papa Zola, Ochobot dan Motobot, aku akan membangunkan Gopal. Jangan ada pertanyaan lagi!." perintahku. Ying langsung berlari tanpa bertanya lagi.

Aku sendiri langsung berlari kekamar Gopal. Tapi kata-kata Boboiboy masih terngiang-ngiang dikepalaku. Benarkah ini akhir dari Ciciko dan pesawatnya?

Aku sampai di kamar tempa Gopal, aku melangkah mendekat, berusaha membangunkan si gajah.

"Gopal, bangun."

"Apaan?" tanyanya malas.

"Kita dalam bahaya, cepat ke anjungan kapal."

"Ya, ya." balasnya. Ia berjalan sambil terkantuk-kantuk.

'Untunglah kali ini tidak susah dibangunkan.' pikirku.

Ya, kamilah yang terakhir sampaike anjungan kapal. Dan saat itu semuanya berubah.

IoI


Next or Not?

Review please ._. . Ini rewrite dari serial Undiscovered Space yang sebelumnya banyak dapat kritikan pedas dari orang-orang. Akhirnya saya memutuskan untuk re-build cerita dan membuat alurnya gampang dicerna meski EYD nya ga ada.

Oh ya, author menyisipkan bumbu Romance kalau mau membaca.