Teruntukmu, yang ada di surga
Teruntukku, yang ada di dasar samudera
Teruntukmu
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
K+
Romance / Angst
Levi Ackerman x Petra Rall
("Untukmu. Untukmu. Untukmu. Segalanya untukmu, segalanya dariku.")
.
.
.
.
Apa kabar?
Bagaimana rasanya surga? Enak, tidak? Kuharap rasanya sama dengan apa yang kau bayangkan, atau semoga saja lebih.
Apa kabar?
Kali ini bukan untukmu, tapi untukku. Untuk diriku yang tengah berusaha untuk kembali ke dunia nyata dari dunia kehilangan, dan juga untuk diriku yang masih saja melihat bayangmu di dapur markas di malam hari.
Apa kabar?
Bukan untukmu, bukan juga untukku. Ini untuk kita. Untuk kita yang tak lagi bisa mengatakan cinta lewat isyarat mata, berbagi kisah melalui secangkir teh dan kopi di malam hari, dan saling menebar sayang melalui tepukan pundak sebelum misi.
Untukmu, untukku, dan untuk kita yang bahkan tak lagi bisa menatap satu sama lain,
Apa kabar?
Hai, apa kabar?
Bagaimana di sana, hm? Aku yakin itu sulit, tapi aku lebih yakin kau bisa menaklukkan semuanya.
Aku di sini, dan terus di sini. Menunggumu atau merelakanmu, aku tak tahu. Aku hanya duduk dan menyeduh teh. Kadang menunggumu pulang, kadang merelakanmu tak pernah pulang. Semua menjadi rumit saat aku sadar kalau aku telah menunggumu dua bulan.
Bocah bernama Eren itu memang berbeda sekali denganmu. Ia ceria, penuh semangat, walau kadang ia mencelakai dirinya sendiri. Kau memang pandai memilih prajurit hebat.
Hei, Levi, apa kau juga menungguku?
Aku menunggumu. Menunggumu, menungguku, dan menunggu kita yang sekarang hanya bisa dikenang tanpa tahu bisa dilanjutkan atau tidak.
Aku tak tahu apakah kau akan membaca ini atau tidak, tapi jika kau membaca ini saat aku sudah pergi ke surga lebih dulu, aku ingin kau tahu satu hal;
Aku mencintaimu."
.
.
.
.
Surat mereka tak pernah terbaca satu sama lain," Ucap Erwin. "Dan berakhir di genggaman masing-masing."
"Cukup dramatis. Aku sampai terharu." Hanji melepas kacamatanya yang berembun. "Tapi aku yakin mereka sudah mengetahui isinya di surga sana."
"Levi hanya tahu kalau Petra mati karena penyakit, dan tak datang ke pemakamannya karena … tidak kuat, mungkin. Ia sama sekali tak tahu kalau Petra menulis surat ini kepadanya."
"Levi menulis surat ini satu hari sebelum misi kedua, 'kan? Setelah menulis ini, ia memulai misinya dan terus membunuh titan tanpa henti sampai akhirnya ia … ah, aku masih tak percaya Levi pergi lebih dulu dari kita, Erwin. Aku tak bisa percaya ini semua."
"Ini kenyataannya. Ini kebenarannya. Kita bisa apa?"
Hanji hanya tersenyum kecut. Matanya kembali berair. Surat putih bersih itu kembali dibasahi dengan air matanya. Hanji menangis lagi.
Lalu diikuti langit, yang membasahi dua perak bersisian di sana.
.
.
.
.
A/N : Berapa lama saya gak publish fanfic RivEtra? Pair mutlak saya di SnK terbengkalai dengan kejamnya :'
hope you enjoy it! maaf kalau tulisan saya ada salah ya :) silahkan dikoreksi '3'/
